Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 E-ISSN . : 2828-9374. P-ISSN . : 2828-9366. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Available Online at: https://prin. id/index. php/JURRIKES Social Support and Resilience among Street Children: A Cross-Sectional Study in Semarang. Indonesia Dayat Trihadi1. Siti Yuliana2. Sri Hartini3* Bachelor of Nursing Program. Universitas Telogorejo Semarang. Indonesia Professional Nurse Program. Universitas Telogorejo Semarang. Indonesia *Corresponding author: dayat@universitastelogorejo. Abstract. Street children constitute a highly vulnerable population who spend most of their time in public spaces working in the informal sector and are at increased risk of engaging in deviant behaviours. Social support and resilience are recognised as key protective factors that may enable street children to adapt to adversity. This quantitative study employed a cross-sectional correlational design to examine the association between social support and resilience among street children in Semarang City. Indonesia. A total of 42 street children were recruited using accidental sampling. Data were collected using modified Likert-type questionnaires measuring social support . ocial embeddedness, enacted support, and perceived suppor. and resilience . motion regulation, impulse control, causal analysis, self-efficacy, realistic optimism, empathy, and reaching ou. Data were analysed using univariate statistics and SpearmanAos rank correlation test. Most respondents reported moderate levels of social support . 48%) and resilience . 67%). SpearmanAos test indicated a significant, positive, yet low correlation between social support and resilience . = 0. r = 0. These findings suggest that higher social support is associated with greater resilience, although other internal and external factors are likely to contribute to resilience among street children. Keywords: Resilience. Semarang. Social Support. Street Children. Youth Abstrak. Anak jalanan merupakan kelompok masyarakat yang sangat rentan karena menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang publik dengan melakukan berbagai pekerjaan sektor informal sehingga berisiko tinggi terlibat dalam perilaku negatif. Dukungan sosial dan resiliensi dipandang sebagai faktor protektif penting yang dapat membantu anak jalanan beradaptasi terhadap tekanan hidup. Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional korelasional ini bertujuan menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi pada anak jalanan di Kota Semarang. Sebanyak 42 anak jalanan direkrut menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner skala Likert yang dimodifikasi untuk mengukur dukungan sosial . ocial embeddedness, enacted support, perceived suppor. dan resiliensi . egulasi emosi, kontrol impuls, analisis kausal, efikasi diri, optimisme realistis, empati, dan kemampuan menjangkau lingkunga. Analisis data dilakukan dengan statistik univariat dan uji korelasi Spearman. Sebagian besar responden memiliki dukungan sosial kategori sedang . ,48%) dan resiliensi kategori sedang . ,67%). Uji Spearman menunjukkan hubungan positif yang bermakna namun berkekuatan rendah antara dukungan sosial dan resiliensi . = 0,014. r = 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, cenderung semakin tinggi pula resiliensi anak jalanan, meskipun berbagai faktor internal dan eksternal lain juga turut memengaruhi. Kata kunci: Anak Jalanan. Dukungan Sosial. Kota Semarang. Resiliensi. Remaja LATAR BELAKANG Anak merupakan generasi penerus bangsa yang seharusnya memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal di lingkungan keluarga dan masyarakat yang suportif. Dalam kenyataannya, anak jalanan mengalami kondisi tumbuh kembang yang jauh dari ideal karena hidup dan bekerja di jalan, terlepas dari pengasuhan yang memadai, serta seringkali menghadapi stigma, kekerasan, dan eksklusi sosial. Secara nasional, anak jalanan dikategorikan sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang mengalami hambatan pemenuhan kebutuhan dasar baik fisik, psikologis, maupun sosial. Naskah Masuk: 12 September 2024. Direvisi: 28 September 2024. Diterima: 18 Oktober 2024. Terbit: Oktober 30 2024 Social Support and Resilience among Street Children: A Cross-Sectional Study in Semarang. Indonesia Di Provinsi Jawa Tengah, jumlah anak jalanan termasuk tinggi, dan Kota Semarang merupakan salah satu wilayah dengan konsentrasi anak jalanan yang cukup besar. Anak jalanan tersebar di berbagai titik, seperti persimpangan jalan, kawasan perdagangan, tempat ibadah, dan ruang-ruang publik lain. Mereka umumnya bekerja sebagai pedagang asongan, pengamen, pengemis, penyemir sepatu, penjual koran, hingga ojek payung. Berbagai faktor mendorong anak untuk turun ke jalan, di antaranya kemiskinan dan tekanan ekonomi keluarga, disfungsi keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, praktik eksploitasi ekonomi terhadap anak, serta rendahnya akses terhadap pendidikan formal. Kondisi ini menempatkan anak jalanan pada risiko gangguan kesehatan fisik dan mental, putus sekolah, serta keterlibatan dalam perilaku menyimpang. Stigma masyarakat yang memandang anak jalanan sebagai Ausampah masyarakatAy memperkuat eksklusi sosial dan menghambat mereka memperoleh dukungan yang konstruktif. Dukungan sosial dipandang sebagai salah satu faktor protektif penting untuk mencegah perilaku negatif dan memfasilitasi penyesuaian diri anak jalanan. Dukungan ini dapat berupa dukungan emosional, penghargaan, informasi, bantuan instrumental, maupun dukungan jaringan sosial yang berasal dari keluarga, teman sebaya, masyarakat, dan lembaga sosial. Dukungan sosial yang memadai diyakini berkontribusi terhadap pembentukan resiliensi, yaitu kemampuan individu untuk bangkit dan beradaptasi secara positif ketika menghadapi kesulitan Resiliensi memungkinkan anak jalanan memaknai pengalaman negatif sebagai tantangan dan sumber pembelajaran, bukan sekadar pemicu keputusasaan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berkaitan dengan optimisme masa depan, penyesuaian diri, dan kesejahteraan psikologis anak dan remaja dalam berbagai konteks kerentanan. Namun demikian, kajian yang secara spesifik menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi pada kelompok anak jalanan di tingkat lokal, khususnya di Kota Semarang, masih Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi pada anak jalanan di Kota Semarang. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi keperawatan jiwa komunitas dan program sosial yang lebih terarah dalam memperkuat resiliensi anak jalanan serta mendukung kebijakan perlindungan anak yang lebih komprehensif. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan- Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 E-ISSN . : 2828-9374. P-ISSN . : 2828-9366. Hal. KAJIAN TEORITIS Anak Jalanan Departemen Sosial Republik Indonesia mendefinisikan anak jalanan sebagai anak berusia di bawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan atau tempat umum lainnya untuk bekerja atau berkeliaran, baik masih memiliki hubungan dengan keluarga maupun tidak. Berdasarkan tingkat keterikatan dengan keluarga dan intensitas kehidupan di jalan, anak jalanan dapat diklasifikasikan menjadi children of the street, children on the street, dan vulnerable to be street. Faktor pendorong munculnya fenomena anak jalanan meliputi kemiskinan dan tekanan ekonomi keluarga, disfungsi keluarga, pengalaman kekerasan, terbatasnya kesempatan pendidikan, serta lingkungan sosial yang tidak kondusif. Anak jalanan rentan mengalami kekerasan fisik, emosional, maupun seksual, serta terpapar perilaku menyimpang dan kriminalitas di ruang publik, yang secara kumulatif dapat menghambat perkembangan psikososial mereka. Dukungan Sosial Dukungan sosial dipahami sebagai informasi verbal maupun nonverbal, bantuan nyata, atau bentuk perilaku lain yang membuat individu merasa diperhatikan, dihargai, dan menjadi bagian dari suatu jaringan sosial. House dan Kahn . alam Multasih & Suryadi, 2. mengemukakan bahwa dukungan sosial mencakup dukungan emosional, dukungan penghargaan . steem suppor. , dukungan instrumental, dukungan informasi, dan dukungan jaringan sosial . etwork suppor. Barrera membagi dukungan sosial menjadi tiga aspek utama, yaitu: Social embeddedness, yaitu keterikatan individu dalam jaringan sosial. Perceived social support, yaitu persepsi individu terhadap ketersediaan dukungan. Enacted social support, yaitu dukungan yang benar-benar diterima individu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berhubungan dengan optimisme masa depan, kemampuan penyesuaian diri, serta kesejahteraan psikologis pada anak jalanan maupun remaja rentan lainnya (Multasih & Suryadi, 2013. Hasanuddin & Khairuddin. Wulandari & Mawardah, 2. Resiliensi Resiliensi merupakan kapasitas individu untuk beradaptasi secara positif ketika menghadapi tekanan, trauma, atau kesulitan, serta kemampuan untuk bangkit kembali dari pengalaman negatif tanpa kehilangan fungsi psikososialnya. Dalam konteks anak jalanan. Social Support and Resilience among Street Children: A Cross-Sectional Study in Semarang. Indonesia resiliensi menjadi kunci untuk mempertahankan keberfungsian sosial di tengah situasi hidup yang penuh risiko. Aspek-aspek resiliensi antara lain regulasi emosi, kontrol impuls, analisis kausal, efikasi diri, optimisme yang realistis, empati, serta kemampuan menjangkau lingkungan . eaching ou. Individu yang resilien umumnya mampu mengelola emosi, mengendalikan perilaku impulsif, menyusun strategi pemecahan masalah yang realistis, dan mempertahankan pandangan positif terhadap masa depan. Resiliensi dipengaruhi oleh faktor internalAiseperti self-esteem, efikasi diri, dan spiritualitasAiserta faktor eksternal, yaitu dukungan sosial, pola asuh, dan lingkungan yang Interaksi dinamis antara kekuatan pribadi dan lingkungan yang suportif berkontribusi terhadap kemampuan individu menghadapi dan mengelola situasi sulit secara adaptif. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional cross sectional untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi pada anak jalanan di Kota Semarang. Desain ini memungkinkan peneliti menggambarkan kondisi dukungan sosial dan resiliensi pada satu waktu pengukuran serta menguji hubungan di antara keduanya. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak jalanan di Kota Semarang. Sampel penelitian berjumlah 42 anak jalanan yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling, yaitu anak jalanan yang kebetulan ditemui di lokasi pengumpulan data dan memenuhi kriteria Bersedia menjadi responden. Mampu berkomunikasi dengan baik. Berada dalam rentang usia yang ditetapkan peneliti. Lokasi pengambilan data meliputi Jalan Kartini. Masjid Kauman, kawasan Simpang Lima, dan kawasan Kota Lama Semarang yang dikenal sebagai titik konsentrasi aktivitas anak Instrumen Penelitian Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert yang dimodifikasi, terdiri atas: Kuesioner dukungan sosial Mengukur aspek social embeddedness, enacted support, dan perceived support Skor total berkisar 0Ae78 Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan- Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 E-ISSN . : 2828-9374. P-ISSN . : 2828-9366. Hal. Kategori: tinggi . Ae. , sedang . Ae. , dan rendah . Ae. Kuesioner resiliensi Mengukur tujuh aspek resiliensi: regulasi emosi, kontrol impuls, analisis kausal, efikasi diri, optimisme realistis, empati, dan reaching out Skor total berkisar 0Ae105 Kategori: tinggi . Ae. , sedang . Ae. , dan rendah . Ae. Instrumen telah melalui uji validitas dan reliabilitas pada penelitian sebelumnya dan kembali diuji pada konteks anak jalanan di Semarang untuk memastikan kesesuaian penggunaan pada populasi ini. Prosedur Pengumpulan Data Peneliti terlebih dahulu memperoleh izin dari institusi pendidikan dan Dinas Sosial setempat, serta persetujuan etik dari komite etik penelitian. Responden diberikan penjelasan mengenai tujuan, prosedur, manfaat penelitian, serta hak-hak mereka sebagai partisipan, termasuk hak untuk menolak atau menghentikan partisipasi kapan saja. Setelah menyatakan persetujuan, responden mengisi kuesioner dengan pendampingan peneliti bila diperlukan, misalnya untuk membantu memahami butir pertanyaan. Analisis Data Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden, tingkat dukungan sosial, dan tingkat resiliensi dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank untuk menilai hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Sebagian besar responden berada pada rentang usia 18Ae21 tahun . emaja akhi. , berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama (SMP). Temuan ini menggambarkan bahwa fase remaja akhir, sebagai masa transisi menuju dewasa, seringkali diwarnai tuntutan ekonomi sehingga sebagian remaja memilih bekerja di jalan untuk membantu perekonomian keluarga. Dominasi responden laki-laki sejalan dengan konstruksi sosial yang menempatkan peran pencari nafkah lebih banyak pada anak laki-laki, terutama dalam keluarga berpenghasilan rendah. Tingkat pendidikan terakhir SMP mengindikasikan kecenderungan putus sekolah pada jenjang menengah, yang berimplikasi pada terbatasnya peluang kerja formal dan menguatkan risiko keberlanjutan sebagai anak jalanan. Social Support and Resilience among Street Children: A Cross-Sectional Study in Semarang. Indonesia Dukungan Sosial pada Anak Jalanan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak jalanan memiliki dukungan sosial pada kategori sedang . ,48%), sedangkan kategori tinggi hanya dialami sebagian kecil responden dan kategori rendah ditemukan pada proporsi yang sangat kecil. Hal ini menggambarkan bahwa anak jalanan masih menerima dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, masyarakat, dan lembaga sosial, namun intensitas dan kualitas dukungan tersebut belum optimal. Relasi keluarga yang rentan konflik, mobilitas anak jalanan yang tinggi, serta stigma negatif masyarakat dapat membatasi akses mereka terhadap sumber dukungan yang bersifat Penelitian Anandar et al. menegaskan pentingnya peran rumah singgah dan lembaga pembinaan sebagai penyedia dukungan sosial komprehensif bagi anak jalanan, yang mencakup dukungan emosional, informasi, dan bantuan instrumental. Resiliensi Anak Jalanan Distribusi resiliensi menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori resiliensi sedang . ,67%), dengan proporsi resiliensi tinggi dan rendah yang relatif lebih kecil. Temuan ini mengindikasikan bahwa anak jalanan memiliki kapasitas tertentu untuk mempertahankan harapan terhadap masa depan meskipun hidup dalam keterbatasan. Belum dominannya kategori resiliensi tinggi menunjukkan perlunya penguatan faktor internal, seperti self-esteem, efikasi diri, dan spiritualitas, serta faktor eksternal seperti dukungan keluarga, teman sebaya, komunitas, dan lembaga pelayanan sosial. Hal ini sejalan dengan kajian Missasi & Izzati . dan Rachminim . yang menekankan bahwa resiliensi merupakan hasil interaksi dinamis antara kekuatan pribadi dan lingkungan yang Hubungan Dukungan Sosial dengan Resiliensi Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan resiliensi anak jalanan di Kota Semarang, dengan nilai p = 0,014 . < 0,. dan koefisien korelasi r = 0,228. Nilai korelasi tersebut menunjukkan kekuatan hubungan yang rendah, namun bermakna secara statistik. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima anak jalanan, cenderung semakin tinggi pula tingkat resiliensi mereka. Tabulasi silang memperlihatkan bahwa anak jalanan dengan dukungan sosial kategori sedang umumnya memiliki resiliensi pada kategori sedang, dan responden dengan dukungan sosial tinggi cenderung menunjukkan resiliensi tinggi. Temuan ini mendukung konsep bahwa Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan- Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 E-ISSN . : 2828-9374. P-ISSN . : 2828-9366. Hal. dukungan sosial berperan sebagai buffer terhadap stres dan membantu individu mempertahankan adaptasi positif. Meskipun demikian, kekuatan korelasi yang rendah mengindikasikan bahwa dukungan sosial bukan satu-satunya faktor penentu resiliensi. Faktor-faktor lain, seperti karakteristik kepribadian, pengalaman hidup sebelumnya, strategi koping, serta konteks sosial budaya, kemungkinan turut memberikan kontribusi terhadap variasi resiliensi pada anak jalanan. Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Multasih & Suryadi . yang melaporkan bahwa dukungan sosial dan self-esteem berkontribusi terhadap optimisme masa depan anak jalanan di rumah singgah. Penelitian Hasanuddin & Khairuddin . juga menunjukkan bahwa dukungan sosial berhubungan positif dengan penyesuaian diri dan kesejahteraan psikologis pada siswa, sementara Wulandari & Mawardah . menemukan adanya hubungan antara penerimaan diri dan resiliensi pada remaja di panti asuhan. Secara teoritis, temuan ini memperkuat pandangan bahwa resiliensi terbentuk melalui sinergi antara kekuatan internal dan dukungan eksternal yang memadai (Nashori & Saputro, 2021 dalam Rachminim, 2. Dalam konteks anak jalanan, dukungan sosial yang stabil dan konsistenAibaik dari keluarga, teman sebaya, komunitas, maupun lembaga sosialAimembantu mereka memaknai pengalaman hidup yang sulit, membangun harapan terhadap masa depan, dan mempertahankan keberfungsian sosial. Implikasi Keperawatan Dari perspektif keperawatan jiwa komunitas, temuan ini menegaskan pentingnya intervensi yang berfokus pada penguatan dukungan sosial bagi anak jalanan. Perawat komunitas dapat berperan dalam: Edukasi keluarga untuk meningkatkan pemahaman tentang kebutuhan psikososial anak dan pentingnya komunikasi yang suportif. Pengembangan kelompok dukungan sebaya bagi anak jalanan, yang dapat menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman, membangun coping skills, dan memperkuat rasa Kolaborasi lintas sektor dengan pekerja sosial. LSM, rumah singgah, dan pemangku kebijakan untuk merancang program pembinaan yang partisipatif dan berkelanjutan. Advokasi kebijakan untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap anak jalanan, serta memperluas akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial. Dengan demikian, intervensi keperawatan jiwa komunitas tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada sistem sosial yang mengelilingi anak jalanan sehingga dukungan Social Support and Resilience among Street Children: A Cross-Sectional Study in Semarang. Indonesia sosial yang diterima menjadi lebih terstruktur dan berkelanjutan, yang pada akhirnya dapat memperkuat resiliensi mereka. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, faktor sosial budaya yang berpotensi memengaruhi bentuk dan kualitas dukungan sosial belum dieksplorasi secara Kedua, keterbatasan data resmi mengenai jumlah dan persebaran anak jalanan di Kota Semarang menyebabkan peneliti mengandalkan teknik accidental sampling, sehingga generalisasi temuan perlu dilakukan dengan kehati-hatian. Ketiga, penelitian ini belum memasukkan variabel durasi hidup di jalan dan pola asuh keluarga sebelumnya yang kemungkinan berpengaruh terhadap resiliensi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak jalanan di Kota Semarang adalah remaja akhir, berjenis kelamin laki-laki, dan berpendidikan terakhir SMP. Mayoritas responden memiliki tingkat dukungan sosial dan resiliensi pada kategori sedang. Terdapat hubungan positif yang signifikan namun berkekuatan rendah antara dukungan sosial dan resiliensi . = 0,014. r = 0,. , yang mengindikasikan bahwa peningkatan dukungan sosial cenderung diikuti peningkatan resiliensi pada anak jalanan. Saran Bagi institusi pendidikan keperawatan: Mengintegrasikan topik dukungan sosial dan resiliensi anak jalanan dalam kurikulum keperawatan jiwa komunitas, serta mendorong penelitian lanjutan dengan variabel yang lebih beragam. Bagi tenaga kesehatan dan pekerja social: Mengembangkan program intervensi yang berfokus pada penguatan dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, masyarakat, dan lembaga sosial, misalnya melalui kelompok dukungan sebaya, edukasi keluarga, dan kerja sama lintas sektor. Bagi masyarakat dan pemangku kebijakan: Mengurangi stigma negatif terhadap anak jalanan, memperluas program pembinaan yang partisipatif, serta menyediakan ruang aman bagi anak jalanan untuk belajar, bekerja secara lebih layak, dan merencanakan masa depan. Bagi peneliti selanjutnya: Disarankan untuk memasukkan variabel lain seperti selfesteem, pola asuh, durasi hidup di jalan, serta faktor sosial budaya, menggunakan desain longitudinal untuk memotret dinamika resiliensi anak jalanan dari waktu ke waktu. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan- Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 E-ISSN . : 2828-9374. P-ISSN . : 2828-9366. Hal. UCAPAN TERIMA KASIH