Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 PEMBELAJARAN AKTIF INOVATIF KREATIF EFEKTIF MENYENANGKAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII SMP BHINA KARYA RONGKOP Oleh: Suparta Universitas Cokroaminoto Yogyakarta Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk peningkatan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Bhina Karya Rongkop dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Subjek penelitian siswa kelas VII SMP Bhina Karya Rongkop. Dengan metode penelitian menggunakan diskriptif kwantitatif dengan persentase digambarkan menurut kriteria yang dilaksanakan dengan 2 siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus pertama dengan metode ceramah dari hasil evaluasi belajar diperoleh 60% siswa yang dinyatakan sukses dengan nilai rata-rata 54. Pada siklus ke-2 menggunakan pendekatan PAIKEM dari 20 siswa mendapat nilai diatas 75 dan yang mendapat nilai 45 ada 2 siswa dan belum memenui ketuntasan belajar, dikarenakan siswa bersangkutan mengalami gangguan pendengaran. Kata kunci : Metode PAIKEM meningkatkan prestasi belajar siswa. Pendahuluan Di era globalisasi sekarang ini perkembangan yang sangat pesat di segala segi kehidupan, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan itu telah membawa perubahan manusia di semua aspek kehidupan. Untuk mengimbangi perkembangan zaman itu maka perlu peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membawa dampak positif dan negatif. Di satu sisi manusia dituntut untuk bisa bersaing secara global, di sisi lain banyak keterbatasan-keterbatasan yang masih dimiliki. Untuk itu perlu sumber daya manusia yang berkualitas dan handal serta profesional dan harus diimbangi dengan sikap tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Peran guru sangat penting dan strategis untuk membentuk sumber daya manusia yang siap pakai di segala lini kehidupan. Dalam hal ini guru dituntut untuk bisa merencanakan dan menerapkan pola pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa berhasil dan prestasi belajar siswa Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 dapat meningkat. Guru harus selalu dapat memilih dan menerapkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, sehingga siswa tidak bosan dalam menerima materi pembelajaran. Pada saat melaksanakan pembelajaran, guru dihadapkan pada suatu realita bahwa siswa yang dihadapi memiliki perbedaan satu sama lain, baik keterampilan, fisik, tingkah laku dan kemampuan dalam menangkap dan melakukan kegiatan dengan keunikan masing-masing. sehingga berpengaruh pada hasil evaluasi. Ada siswa yang cepat menguasai materi pelajaran, tetapi ada pula yang lambat. Demikian tujuan pembelajaran tidak tercapai. Rendahnya prestasi belajar siswa SMP menjadi keprihatinan kita semua khususnya guru. Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya prestasi belajar siswa antara lain kemampuan guru dalam menyampaikan materi terlalu abstrak sehingga siswa sukar memahami. Kemampuan siswa juga menjadi penyebab tidak berhasilnya suatu proses pembelajaran. Seorang guru dituntut untuk bisa membuat suasana kelas menjadi rumah bagi siswasiswanya. Guru dituntut untuk merencanakan dan menerapkan pembelajaran yang efektif dan Pembelajaran PAIKEM sangat cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama siswa SMP. Tujuan umum dan sederhana dari Pendidikan Kewarganegaraan atau civic education adalah membentuk warga negara yang baik . ood citize. Hampir semua orang sepakat bahwa tujuan pendidikan kewarganegaraan adalah membentuk warga negara yang baik (Sapriya & Azis Wahab, 2. Pendidikan Kewarganegaraan (PK. sering dianggap pelajaran yang sepele dan membosankan, sehingga banyak siswa yang kurang antusias sapai dengan dalam menerima pelajaran itu yang mengakibatkan prestasi belajar siswa menurun. Padahal PKn diajarkan di sekolah bertujuan untuk mengembangkan pendidikan moral, tingkah laku, bersikap kepahlawanan dalam berpikir. Pendidikan Kewarganegaraan mengemban tiga fungsi pokok yakni mengembangkan kecerdasan warga negara . ivic intellegenc. , membina tanggung jawab warga negara . ivic responsibilit. dan mendorong partisipasi warga negara . ivic participatio. Suryadi & Somardi . mengemukakan bahwa untuk mengonsepsikan kembali pendidikan kewarganegaraan di sekolah dibangun 3 komponen dasar sistem tata kehidupan bermasyarakat antara lain: Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 Komponen keterampilan bermasyarakat. Komponen intelektual. Komponen disposisi kewarganegaraan. Kecerdasan warga di kembangkan bukan hanya dalam dimensi rasional melainkan dalam dimensi spiritual, emosional dan sosial sehingga PKn bercirikan multidimensional. Mengingat, tugas kita sebagai guru tidak hanya menjadikan siswa-siswa kita pandai dalam mengerjakan materi melainkan juga mengarahkan siswa. agar sikap dan tingkah laku menjadi sesuai dengan norma, maka usaha yang paling cocok untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada diri siswa di dalam kelas adalah dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Karena melalui pembelajaran bertahap, maka akan ditemukan strategi pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan prestasi belajar. Sehingga akan tercapailah tujuan pembelajaran dan akan meningkatlah hasil yang di capai anak didiknya. Penulis akan melakukan penelitian melalui PTK dalam pembelajaran dan perbaikan pembelajaran ini menciptakan pendekatan PAIKEM dengan dua siklus pelaksanaan. Ciri-ciri karakteristik PAIKEM adalah: Pembelajarannya mengaktifkan peserta didik. Mendorong kreativitas peserta didik dan guru. Pembelajarannya efektif. Pembelajarannya menyenangkan utamanya bagi peserta didik. (Drs. Anwar Fuady. Tujuan yang akan dicapai peneliti dalam kegiatan perbaikan pembelajaran yang merupakan pengalaman peneliti dan ingin mengetahui Aubagaimana penjelasan guru dalam pembelajaran PAIKEM materi PKn di kelas VII SMP Bhina Karya Rongkop dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Ay Secara teoritis manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam kaitannya dengan teori, strategi belajar mengajar dan evaluasi pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, diharapkan juga dapat meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran dan dapat memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan prestasi pendidikan di sekolah dan guru yang mampu melaksanakan PTK sekolahnya paling tidak sudah selangkah lebih maju dan yang sebelumnya. Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 Metode Penelitian Penelitian ini melibatkan siswa SMP Bhina Karya Rongkop kelas VII pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan semester I. Dalam penelitian ini pengambilan data dengan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti tentang pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah disusun oleh guru. Peneliti langsung melakukan wawancara kepada siswa dengan memberikan Tanya jawab mengenai pembelajaran PAIKEM. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pada pelaksanaan perbaikan siklus I tingkat pengusaan materi oleh siswa mencapai 70 % atau rata-rata kelas 77. Dari sini terlihat perbaikan pembelajaran yang dilakukan belum berhasil maksimal. Pada siklus ini ada 6 siswa dari 20 siswa yang belum tuntas belajar, oleh karena itu perbaikan pembelajaran dilanjutkan ke siklus II. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus I Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada Kamis tanggal 28 Januari 2015 dengan obyek tetap yaitu kelas VII SMP Bhinakarya. Kecamatan Rongkop. Kabupaten Gunungkidul dengan materi yang diambil adalah Norma dalam kehidupan bersama dengan dibantu oleh teman sejawat yang bertindak sebagai observer, peneliti melaksanakan sesuai dengan rencana. Skenario pembelajaran berlangsung dengan baik terlihat ada peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Hal ini sedikit berbeda dengan keadaan sebelum diadakan perbaikan pembelajaran (Pembelajaran Awa. Tingkat ketuntasan : 12/20 x 100% = 60 % Belum tuntas : 8/20 x 100% = 40 % Berdasarkan persentase ini, masih terdapat kegagalan yang signifikan terhadap keberhasilan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan, walau sudah. ada peningkatan dalam evaluasi, tetapi masih belum maksimal hasilnya. Hal ini dapat dilihat dari indikator hasil evaluasi secara umum pada tabel 1. Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 Tabel 1. Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus I Mata Pelajaran PKn Nilai Terendah Indikator Keterangan Nilai tertinggi Jumlah nilai Nilai Rata-rata Banyaknya siswa dengan nilai > 75 Prosentase siswa dengan nilai > 75 Banyaknya siswa dengan nilai < 75 Prosentase siswa dengan nilai < 75 Pada tabel 1 terlihat bahwa dari 20 siswa yang mendapat nilai di atas 75 ada 12 siswa dan yang mendapat nilai di bawah 75 ada 8 siswa. Jika diperinci hasil evaluasi pada perbaikan pembelajaran siklus I seperti pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Evaluasi perbaikan Pembelajaran Siklus I Mata Pelajaran PKn. No. Rentang Nilai Jumlah Siswa 41 Ae 50 51 Ae 60 61 Ae 70 71 Ae 80 81 Ae 90 91 Ae 100 Jumlah Dari tabel terlihat hasil evaluasi perbaikan pembelajaran siklus I, bahwa dari 20 siswa tidak ada yang mendapat nilai 31 sampai 40, nilai 41 sampai 50 sebanyak 4 siswa, nilai 51 sampai 60 sebanyak 2 siswa, nilai 61 sampai 70 sebanyak 3 siswa, nilai 71 sampai 80 sebanyak 7 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 2 siswa dan nilai 91-100 ada 2 siswa. Terlihat bahwa sudah ada peningkatan hasil belajar siswa diadakan perbaikan pembelajaran siklus I. Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 Siklus II Perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 Februari 2015 dengan obyek tetap kelas VII semester I Sekolah SMP Bhinakarya Kecamatan Rongkop Kabupaten Gunungkidul dibantu oleh teman sejawat yang bertindak sebagai observer, peneliti melaksanakan sesuai dengan rencana. Skenario pembelajaran berlangsung dengan baik. Pada akhir pembelajaran, peneliti mengadakan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui tingkat Tingkat ketuntasan : 18/20 x 100% = 90 % Belum tuntas : 2/20 x 100% = 40 % Berdasarkan persentase yang ditunjukkan, masih terdapat kegagalan yang signifikan terhadap keberhasilan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan, walau sudah ada peningkatan dalam evaluasi, tetapi masih belum maksimal hasilnya. Hal ini dapat dilihat dari indikator hasil evaluasi secara umum pada tabel 3. Tabel 3 Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus II Mata Pelajaran PKn No. Indikator Keterangan Nilai Terendali Nilai tertiggi Jumlah Nilai Nilai Rata-rata Banyaknya siswa dengan nilat > 75 Prosentase siswa dengan nulai > 75 Banyaknya siswa dengan nr. lai < 75 Prosentase siswa dengan nilai < 75 Pada tabel 3 terlihat bahwa dari 20 siswa yang mendapat nilai di atas 75 ada 18 siswa dan yang mendapat nilai di bawah 75 ada 2 siswa. Jika diperinci hasil evaluasi pada, perbaikan pembelajaran siklus 11 seperti pada tabel 4. Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 Tabel 4 Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus II Mata Pelajaran PKn. No. Rentang Nilai Jumlah Siswa 31 Ae 40 41- 50 51 Ae 60 61 Ae 70 71 Ae 80 81 Ae 90 Jumlah Dari tabel terlihat hasil evaluasi perbaikan pembelajaran siklus II, bahwa dari 20 siswa tidak ada yang mendapat nilai 31 sampai 40, nilai 41 sampai 50 juga tidak ada, nilai 5l sampai 60 sebanyak 2 siswa, nilai 61 sampai 70 juga tidak ada nilai 71 sampai 80 sebanyak 7 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 7 siswa dan nilai 91 - 100 ada 4 siswa. Terlihat bahwa banyak sekali peningkatan hasil belajar siswa setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus II ini. Tetapi masih ada siswa yang nilainya di bawah Standar Ketuntasan Minimal, peneliti sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi masih saja siswa tersebut tidak paham, akhirnya siswa tersebut dibimbing sendiri oleh peneliti. Apabila data tersebut disajikan dalam bentuk diagram batang maka akan terlihat seperti gambar berikut ini: Tabel 5. Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar dan Peningkatan Nilai rata-rata. Pembelajaran No. Siklus II Awal Ketuntasan Jumlah Jumlah Jumlah Tuntas Belum Tuntas Nilai rata-rata Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa siswa yang nilainya 75 ke atas pada evaluasi perbaikan pembelajaran ada 7 siswa dari 20 siswa atau 35%. Pada perbaikan pembelajaran siklus I meningkat, terbukti siswa yang nilainya 75 ke atas menjadi 12 siswa atau 60% dan pada perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 18 siswa atau 90%. Pada nilai rata-rata juga mengalami peningkatan yang signifikan, terbukti nilai rata-rata pada pembelajaran awal yaitu 54, nilai rata-rata pada siklus I yaitu 70, sedangkan pada siklus II yaitu 85,5. Perbaikan pembelajaran tidak dilanjutkan siklus i, sebab telah dianggap tuntas pada siklus II. Sebelum perbaikan pembelajaran dari 20 siswa yang mengalami ketuntasan dalam belajar 7 siswa atau hanya 35% dan 13 siswa atau 65% belum tuntas. Hal ini menunjukkan kegagalan dalam pembelajaran. Setelah penulis merefleksikan diri, maka kegagalan itu disebabkan oleh beberapa hal antara lain: Kurang bervariasinya penggunaan alat peraga Pembelajaran masih didominasi guru Guru dalam menjelaskan metode yang digunakan Suara guru kurang keras, sehingga siswa sukar memahami konsep Dalam mengajar, guru tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa. Karena kegagalan dalam pembelajaran PKn dengan materi Proklamasi kemerdekaan dalam Kehidupan Bernegara di kelas VII maka Peneliti perlu melakukan perbaikan siklus I. Pada perbaikan pembelajaran siklus I menggunakan metode ceramah, maka hasil evaluasi yang diperoleh dari 20 siswa ada 12 siswa atau 60% siswa yang tuntas dalam belajar. Sedangkan 8 siswa atau 40% siswa belum tuntas dalam belajar. Nilai rata-rata yang diperoleh pada perbaikan pembelajaran siklus I dibandingkan sebelum perbaikan pembelajaran ada peningkatan menjadi 77 dari sebelum perbaikan pembelajaran, nilai rata-rata hanya 54. Penulis merefleksi sebab-sebab kegagalan dalam perbaikan pembelajaran siklus I, ternyata pada perbaikan pembelajaran siklus I antara lain: Siswa kurang dilibatkan dalam pembelajaran, sehingga siswa kurang termotivasi. Guru lebih aktif sendiri dalam pembelajaran, sehingga anak kurang memahami materi dan pasif tidak peduli akan pembelajaran. Pada metode Paikem, siswa yang pasif dalam berdiskusi pada saat pembelajaran berlangsung, yang berakibat materi yang disampaikan guru tidak bisa diterima siswa dengan baik Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 maka berakibat kegagalan dalam pembelajaran. Dengan masih adanya siswa yang gagal dalam pembelajaran siklus I, maka penulis perlu mengadakan perbaikan pembelajaran siklus II. Pada perbaikan pembelajaran siklus II, menggunakan Pendekatan Paikem. Dalam pendekatan Paikem yang mengacu pada belajar kontekstual, guru melibatkan seluruh siswa dalam pembelajaran, sehingga materi pelajaran akan lebih jelas dan paham. Karena pada pendekatan kontekstual siswa mengalami sendiri yang disesuaikan dengan lingkungan sekitar. Peneliti memperoleh hasil pada perbaikan pembelajaran siklus II dari 20 siswa semuanya sudah tuntas belajar dengan nilai 75 ke atas atau rata-rata 90%. Dengan hasil yang seperti itu maka penulis tidak melakukan perbaikan pembelajaran siklus i pada mata pelajaran PKn dengan materi pokok AuOrganisasiAy di kelas VII semester I SMP Bhinakarya Kecamatan Rongkop Kabupaten Gunungkidul. Pada siklus ini, ada dua siswa yang belum mengalami ketuntasan belajar karena siswa yang bersangkutan mengalami gangguan dalam pendengaran dan gangguan bicara . Kesimpulan Setelah melakukan pembelajaran dengan metode pendekatan PAIKEM secara nyata telah membuktikan adanya peningkatan yang lebih dari sebelumnya. Berdasarkan pengamatan pelaksanaan pembelajaran PKn dengan materi AuProklamasi KemerdekaanAy yang dilakukan selama dua siklus, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: Dalam kegiatan pembelajaran guru harus mempertimbangkan pengalaman siswa yang dimiliki sebelumnya. Pembelajaran dimulai bila siswa dalam keadaan siap untuk belajar. Bahan pelajaran harus menarik minat siswa. Pendekatan Paikem sangat cocok dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, karena dengan pendekatan Paikem siswa dapat terlibat langsung dengan lingkungan di mana tempat siswa Dengan Pendekatan Kontekstual akan membuat siswa selalu ingat , sehingga ilmu yang didapat tidak cepat hilang. Persentase ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan. Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 Juli 2014 Pemanfaatan alat peraga yang sesuai dan bervariasi akan dapat meningkatkan pemahaman Berdasarkan pengamatan penulis selama melaksanakan PTK di kelas VII SMP, penulis kemukakan saran sebagai berikut: Guru perlu melakukan langkah pemusatan perhatian siswa di awal pembelajaran dengan cara memberi motivasi tentang pentingnya materi yang akan dipelajari. Guru seharusnya tampil sebagai sosok idola di hadapan para siswanya, supaya siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran dengan bersemangat dan mendengarkan materi dengan Gunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami siswa. Guru sebaiknya lebih memberdayakan media dan sumber belajar yang berada di lingkungan siswa, agar pembelajaran tidak verbalisme dan membosankan tetapi mudah dipahami dan menyenangkan bagi siswa. Laporan ini dapat dijadikan bahan kajian untuk meningkatkan pengetahuannya melalui forum KKG, dan penataran atau seminar. Daftar Pustaka