Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 9. Nomor 2. Desembe This is an open access article under the CCBYSA Naskah masuk 02-Juni-2025 Direvisi 03-Juli-2025 Diterima 01-Agustus-2025 Diterbitkan 30-Desember2025 DOI : https://doi. org/10. 58518/alamtara. Sosio Religius dalam Internalisasi Nilai Tasamuh dan Syura pada Kehidupan di Kampus IAI Tarbiyatut Tholabah Nur Hakim Institut Agama Islam Tariyatut Tholabah Lamongan. Indnesia E-mail: nurhakim@iai-tabah. SaAoadi Universitas Islam Negeri Salatiga. Indonesia E-mail: saadi@uinsalatiga. Miftahuddin Universitas Islam Negeri Salatiga. Indonesia E-mail: miftahuddin@iainsalatiga. ABSTRAK: Internalisasi nilai tasamuh . dan syura . merupakan bagian integral dari budaya akademik yang ingin dibangun oleh institusi pendidikan tinggi Islam. Namun demikian, masih ditemukan kesenjangan antara idealitas visi kelembagaan dan realitas praksis sosial mahasiswa dalam kehidupan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan sosio religius dalam internalisasi nilai tasamuh . dan syura . di lingkungan kampus IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya internalisasi nilai tasamuh dan syura telah dilakukan melalui kurikulum pendidikan, kegiatan organisasi kemahasiswaan, dan pembinaan karakter. Meskipun demikian, masih terdapat kendala dalam penerapan nilai-nilai tersebut, seperti polarisasi kelompok, resistensi terhadap dialog, serta keterlibatan yang belum merata dari sivitas Temuan ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung menekankan aspek formal kurikulum tanpa mengelaborasi dinamika sosial mahasiswa secara mendalam. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritik dan praktis bagi pengembangan strategi internalisasi nilai-nilai keislaman yang lebih Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 kontekstual, serta merekomendasikan penguatan budaya musyawarah dan pelatihan kolaboratif lintas elemen kampus. Kata Kunci : Sosio Religius. Tasamuh. Syura. Internalisasi Nilai. Kampus Islam. ABSTRACT: The internalization of the values of tasamuh . and syura . is an integral part of the academic culture that Islamic higher education institutions seek to build. However, there is still a gap between the idealism of the institutional vision and the reality of student social practices in campus life. This study aims to analyze the implementation of a socio-religious approach in the internalization of the values of tasamuh . and syura . within the campus environment of IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan. This study employs a descriptive qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The results of the study indicate that efforts to internalize the values of tasamuh and syura have been carried out through the educational curriculum, student organization activities, and character development. However, there are still challenges in applying these values, such as group polarization, resistance to dialogue, and uneven involvement from the academic community. These findings differ from previous studies, which tended to emphasize the formal aspects of the curriculum without delving deeply into the social dynamics of students. This study contributes theoretically and practically to the development of more contextual strategies for internalizing Islamic values, and recommends strengthening the culture of consultation and collaborative training across campus Keywords: Socio-Religious. Tasamuh. Syura. Internalization of Values. Islamic Campus. PENDAHULUAN Lingkungan akademik merupakan ruang yang plural, baik dari segi pemikiran, latar belakang budaya, maupun ekspresi keagamaan. Toleransi menjadi fondasi bagi terciptanya suasana belajar yang damai, inklusif, dan saling Kampus yang menjunjung tinggi nilai tasamuh akan mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami perbedaan, tetapi juga mampu hidup berdampingan secara konstruktif di tengah keragaman tersebut (Nasri, 2. Dalam konteks pendidikan tinggi Islam, internalisasi tasamuh sekaligus menjadi cermin dari akhlak Islami yang menghargai kemanusiaan dan menjauhkan diri dari sikap fanatisme maupun eksklusivisme ideologis (Ismail & Sulaiman, 2. Sementara itu, nilai syura penting untuk ditanamkan sebagai etika deliberatif dalam proses pengambilan keputusan, baik dalam konteks kelembagaan maupun dinamika organisasi kemahasiswaan. Musyawarah tidak hanya berfungsi sebagai metode penyelesaian konflik, tetapi juga sebagai bentuk partisipasi aktif seluruh Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 elemen kampus dalam membangun budaya demokratis yang bernuansa islami (Majid, 2. Dengan menginternalisasi nilai syura, mahasiswa belajar menjadi pemimpin yang mendengar, adil, dan bijak dalam merespon perbedaan Kehadiran syura dalam kehidupan kampus akan memperkuat rasa kepemilikan bersama terhadap institusi serta membentuk karakter kepemimpinan kolektif yang berlandaskan pada nilai keadaban (Masamah, 2. Perguruan tinggi keagamaan Islam, seperti Institut Agama Islam (IAI) Tarbiyatut Tholabah Lamongan, memiliki mandat ganda dalam mencetak lulusan: sebagai insan akademis dan sekaligus insan religius. Hal ini berarti, lulusan yang dihasilkan diharapkan tidak hanya memiliki kecakapan intelektual, tetapi juga menunjukkan karakter dan integritas moral yang mencerminkan nilai-nilai Islam secara kaffah. Dalam konteks ini, penguatan nilai-nilai tasamuh . dan syura . menjadi bagian integral dari proses pendidikan karakter di lingkungan kampus. Kedua nilai ini merupakan refleksi dari dimensi sosial Islam yang berakar kuat dalam Al-QurAoan dan Sunnah, serta menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa (Shihab, 1. Wakil rektor tiga menuturkan AuSecara normatif, nilai-nilai tasamuh dan syura telah tercantum dalam berbagai dokumen kelembagaan IAI Tarbiyatut Tholabah, baik dalam visi-misi, kurikulum pendidikan, maupun dalam kebijakan pembinaan mahasiswa (Fitrotin, 2. Salah satu dosen mengatakan AuDalam perkuliahan misalnya, mahasiswa kami dikenalkan dengan konsep-konsep etika sosial Islam, resolusi konflik, serta prinsip-prinsip musyawarah dalam kehidupan kolektif (Suheri, 2. Selain itu, dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan, mahasiswa menyampaikan bahwa AuInternalisasi nilai-nilai tasamuh dan syuro diterapkan melalui latihan kepemimpinan, diskusi ilmiah, dan forum dialog antar unit kegiatan mahasiswa seperti UKM. BEM dan HMP (Hanafi, 2. Namun demikian, terdapat jarak yang cukup lebar antara idealitas normatif tersebut dengan realitas kehidupan kampus, sebagaimana yang diungkapkan ketuan BEM IAI Tarbiyatut Tholabah bahwa Aurealitas interaksi sosial di kampus selama ini masih sering dijumpai ketegangan sosial antar kelompok mahasiswa Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 karena perbedaan kelompok organisasi dan prodi, latar belakang sosial, maupun Bahkan kemahasiswaan pun, prinsip shura kerap kali diabaikan dan digantikan dengan dominasi satu pihak tertentuAo (Azka 2. Gejala ini menunjukkan bahwa nilainilai sosio-religius belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kesadaran kolektif sivitas akademika. Hasil observasi menunjukkan bahwa internalisasi nilai tasamuh dan syura telah diterapkan dalam berbagai aktivitas kampus di IAI Tarbiyatut Tholabah, misalnya seperti rapat pimpinan lembaga, rapat dosen, forum ilmiah dosen, prosees perkuliahan dan musyawarah mahasiswa baik di tingkat kampus maupun prodi namun penerapannya belum merata dan masih menghadapi tantangan struktural dan kultural. Kegiatan pimpinan dan dosen cenderung lebih stabil dalam mengadopsi nilai-nilai tersebut, sementara di tingkat mahasiswa masih perlu pembinaan yang lebih intensif dan berkelanjutan . Realitas ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang efektivitas pendekatan yang selama ini digunakan dalam mentransformasikan nilai-nilai Islam ke dalam praksis sosial kampus. Apakah pendekatan yang bersifat top-down dan normatif masih relevan untuk generasi mahasiswa yang hidup dalam era digital dan berpikir kritis? Ataukah diperlukan pendekatan baru yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berbasis pengalaman sosial mahasiswa itu sendiri? Pendekatan sosio-religius, dalam konteks ini, perlu dilihat sebagai jembatan antara dimensi keislaman dan kemanusiaan mahasiswa (Pratama et al. , 2. Pendekatan sosio religius menempatkan agama tidak hanya sebagai doktrin normatif, tetapi juga sebagai sistem nilai yang hidup dan menyatu dalam realitas Artinya, internalisasi nilai tasamuh dan shura harus dibangun melalui interaksi sosial yang reflektif, bukan sekadar penyampaian materi di ruang kelas. Hal ini sejalan dengan pendekatan pendidikan nilai berbasis pengalaman . xperiential learnin. , di mana nilai dipahami, dihidupi, dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari (Lickona, 1. Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Dalam konteks kampus, pendekatan ini dapat diterapkan melalui dialog antar kelompok mahasiswa lintas organisasi, kegiatan bakti sosial yang melibatkan berbagai unsur sivitas, atau forum musyawarah yang menghadirkan beragam Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kohesi sosial, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi, empati, dan pengambilan keputusan kolektif nilai-nilai yang sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan masyarakat majemuk (Sahlan, 2. Lebih lanjut, internalisasi nilai tasamuh dan shura juga harus melibatkan unsur kelembagaan kampus, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun pimpinan Peran model . ole mode. dari tokoh kampus dalam menerapkan nilainilai ini dalam keseharian sangat berpengaruh terhadap mahasiswa. Keteladanan sikap toleransi dan kemampuan bermusyawarah dari para dosen dan pimpinan akan menjadi cerminan nilai-nilai yang diharapkan dari mahasiswa (Azra, 2. Berdasarkan uraian di atas, maka penting dilakukan kajian yang mendalam mengenai efektivitas pendekatan sosio-religius dalam menginternalisasi nilai tasamuh dan shura dalam kehidupan kampus. Kajian ini akan memberi kontribusi terhadap pengembangan strategi pendidikan nilai yang lebih kontekstual, serta membantu perguruan tinggi Islam dalam memperkuat perannya sebagai agen transformasi sosial yang inklusif dan dialogis, sebagaimana semangat Islam rahmatan lil Aoalamin. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami fenomena sosial secara mendalam dan holistik melalui perspektif partisipan serta konteks sosial tempat nilai-nilai tersebut diinternalisasikan. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam bagaimana pendekatan sosio-religius digunakan dalam proses internalisasi nilai tasamuh dan shura di lingkungan kampus IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan, serta sejauh mana efektivitasnya dalam membentuk budaya kampus yang inklusif dan dialogis. Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Teknik penggalian data dilakukan melalui metode Wawancara mendalam dengan kemahasiswaan, dan mahasiswa aktif. Observasi partisipatif terhadap aktivitas pimpinan lembaga, dosen dan kemahasiswaan, forum diskusi, musyawarah organisasi, dan kegiatan keagamaan kampus. Studi dokumentasi terhadap kurikulum, kebijakan lembaga, serta laporan kegiatan yang relevan dengan internalisasi nilai-nilai keislaman. Data dianalisis dengan menggunakan analisis tematik, yaitu dengan mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Proses ini melibatkan tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan secara reflektif dan interpretatif, sebagaimana yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendekatan sosio-religius merupakan pendekatan multidimensional yang memadukan dimensi keagamaan dan sosial dalam kerangka pendidikan nilai. Dalam konteks Islam, pendekatan ini bertolak dari keyakinan bahwa agama bukan hanya kumpulan doktrin spiritual, tetapi juga sistem sosial yang memiliki peran Pendidikan mengintegrasikan aspek sosial dan religius akan lebih efektif dalam membentuk sekaligus(Ramadhan, 2. Pendekatan sosio-religius merupakan suatu pendekatan yang memandang bahwa nilai-nilai agama tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan struktur dan dinamika sosial masyarakat. Dalam perspektif ini, agama berfungsi bukan hanya sebagai sistem kepercayaan transendental, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang membentuk pola interaksi, etika kolektif, dan norma dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Emile Durkheim, agama adalah ekspresi solidaritas sosial yang memperkuat keterikatan individu dengan komunitasnya melalui simbol dan ritus bersama yang sarat makna kolektif (Durkheim, 2. Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Pendekatan ini memiliki landasan epistemologis yang kuat dari dua domain: normatif-teologis dan sosiologis-empiris. Pada sisi normatif. Islam mengajarkan nilai-nilai universal seperti tasamuh . , syura . Aoadl . , dan ukhuwwah . , yang merupakan fondasi kehidupan sosial yang Sementara itu, pendekatan sosiologis menekankan pentingnya proses interaksi sosial dalam membentuk perilaku dan identitas (Mawardi Kholid, 2. Oleh karena itu, pendekatan sosio-religius berupaya menghubungkan ajaran tekstual Islam dengan konteks nyata kehidupan sosial, termasuk dalam ruang pendidikan tinggi. Dalam konteks kehidupan kampus, pendekatan sosio-religius menjadi penting karena kampus adalah ruang yang plural secara intelektual, ideologis, dan Di sinilah nilai tasamuh dan shura harus dibumikan tidak hanya melalui kurikulum formal, tetapi juga melalui interaksi sosial mahasiswa, diskusi akademik, organisasi kemahasiswaan, dan budaya institusi. Sebagaimana dikemukakan oleh Waghid, pendidikan Islam yang berorientasi pada keadaban publik harus mendorong diskursus inklusif dan partisipatif di ruang-ruang sosial kampus . Pendekatan sosio-religius relevan diterapkan untuk membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial. Abuddin Nata menyatakan bahwa pendidikan Islam yang ideal nilai-nilai nilai-nilai kemanusiaan dan sosial, sehingga menghasilkan lulusan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mampu berkontribusi bagi kehidupan bermasyarakat secara arif dan toleran(Munir, 2. Prinsip dasar dari pendekatan ini mencakup: . integrasi nilai keislaman dengan pengalaman sosial mahasiswa, . pelibatan aktif dalam proses . pembentukan kesadaran kritis melalui dialog. Proses ini sejalan dengan teori pendidikan humanistik dan konstruktivistik yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran (Kraince, 2. Dalam perspektif Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 ini, nilai-nilai Islam tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan melalui praktik sosial kolektif. Pendekatan sosio-religius juga selaras dengan pendekatan prophetic education yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo dan kontemporer seperti Abuddin Nata, yang menekankan bahwa transformasi sosial harus berlandaskan nilai kenabian: humanisasi, liberasi, dan transendensi (Nata, 2. Internalisasi nilai tasamuh dan shura melalui pendekatan ini tidak hanya menciptakan mahasiswa yang religius secara ritual, tetapi juga inklusif, kritis, dan komunikatif dalam membangun relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam studi-studi sosio-religius diimplementasikan dalam berbagai konteks pendidikan Islam, terutama dalam penguatan karakter dan moderasi beragama. Misalnya, hasil penelitian Hasan menunjukkan bahwa pendidikan berbasis sosio-religius efektif dalam membentuk budaya kampus yang harmonis dan bebas dari intoleransi (Musyafak N. Munawar I, 2. Pendekatan ini memungkinkan adanya ruang dialog lintas kelompok dan penyelesaian konflik melalui musyawarah, bukan konfrontasi. Lebih lanjut, pendekatan sosio-religius memberikan kerangka kerja untuk memahami bahwa agama bukan sekadar entitas normatif, tetapi juga praksis yang berkembang melalui interaksi sosial dalam berbagai ruang kehidupan, termasuk institusi pendidikan. Sebagaimana dikemukakan oleh Zainal Abidin Bagir, dalam masyarakat multikultural, pendekatan ini memungkinkan agama untuk berperan sebagai kekuatan dialogis yang mendorong harmoni sosial tanpa kehilangan substansi teologisnya(Munir, 2. Internalisasi Nilai Tasamuh & Syura Pada Kehidupan Kampus di IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan Pendekatan sosio religius dalam pendidikan Islam lahir dari kesadaran akan pentingnya menyatukan nilai-nilai transendental agama dengan konteks sosial kehidupan peserta didik. Dalam pandangan ini, pendidikan agama tidak cukup hanya mentransmisikan doktrin normatif, melainkan harus mampu membentuk Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 kepribadian sosial yang inklusif, partisipatif, dan beretika(Ramadhan, 2. Nilainilai Islam seperti tasamuh . dan shura . dipandang sebagai dua prinsip fundamental yang tidak hanya bersumber dari wahyu, tetapi juga sangat kontekstual dengan kebutuhan masyarakat multikultural dan demokratis dewasa ini (Aulia & Arifin, 2. Secara konseptual, tasamuh dalam Islam memiliki akar yang kuat dalam AlQurAoan dan sunnah, keduanya jika dikembangkan melalui pendekatan sosioreligius akan membentuk identitas keislaman yang terbuka terhadap dialog, mampu menyelesaikan konflik secara deliberatif, dan menghargai pluralitas pandangan dalam kerangka etika Islam (Kraince, 2. Dalam konteks kampus, pendekatan sosio religius dapat menjadi strategi untuk menanamkan nilai-nilai tersebut secara sistematis dan berkelanjutan. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di ruang interaksi sosial, organisasi mahasiswa, forum akademik, dan dinamika kehidupan kampus. IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan, sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam, telah berupaya mengintegrasikan nilai tasamuh dan shura dalam berbagai aspek kelembagaan, seperti melalui visi misi kampus, mata kuliah pendidikan karakter, dan kegiatan kemahasiswaan bernuansa keislaman (Fitrotin. Hasil observasi dalam pembukaan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaa. , rapat senat terbuka, dialog kebangsaan, forum evaluasi pimmpinan dan dosen, pimpinan kampus aktif menyampaikan pesan-pesan toleransi dan pentingnya musyawarah dalam pidato resmi. Dalam forum senat terbuka, pimpinan membuka ruang musyawarah bagi dosen dan perwakilan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan akademik, gaya komunikasi pimpinan cenderung terbuka, egaliter, dan menghargai perbedaan pendapat. Internalisasi nilai shura tampak melalui praktik kepemimpinan partisipatif serta menunjukkan sikap tasamuh terhadap perbedaan aspirasi dan latar belakang mahasiswa. Leih lanjut rapat pimpinan institusi menunjukkan adanya internalisasi nilai shura melalui mekanisme pengambilan keputusan yang kolektif dan deliberatif. Setiap Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 pimpinan unit diberi ruang menyampaikan pandangan. Toleransi terhadap perbedaan pendapat cukup kuat, meskipun masih didominasi oleh figur tertentu. Diskusi berlangsung terbuka, dan hasil keputusan diambil berdasarkan mufakat, bukan dominasi suara mayoritas . Temuan peneliti dalam proses pembelajaran di kelas dan seminar, dosen memberi ruang diskusi terbuka dan mendorong mahasiswa menyampaikan pendapat tanpa diskriminasi. Begitu juga dalam seminar, dosen menunjukkan keterbukaan terhadap kritik dan membimbing mahasiswa memahami perbedaan Selain itu terdapat beberapa dosen mengintegrasikan tema-tema moderasi beragama serta pentingnya dialog dalam perkuliahan. Nilai tasamuh dan shuro dalam praktik pembelajaran tercermin dalam pengelolaan kelas yang inklusif dan metode pengambilan keputusan dalam kelompok berlajar . Pada kegiatan organisasi intra kampus, dialog lintas organisasi, forum ilmiah mahasiswa, diikuti oleh berbagai elemen organisasi mahasiswa, namun masih terlihat dominasi kelompok tertentu dalam forum. Begitu juga dalam dialog lintas organisasi berlangsung dengan semangat saling menghargai, meski sesekali terjadi ketegangan sosial. Dalam forum keagamaan seperti kajian rutin dan diskusi tafsir sudah mengangkat tema moderasi dan etika sosial Islam dan dalam kegiatan PBAK, mahasiswa baru diajak memahami budaya kampus yang toleran dan menjunjung musyawarah. Dalam kontek kemahasiswaan, internalisasi nilai tasamuh mulai tmbuh daam interaksi litas kelompok mahasiswa, sedangkan nilai shuro secara struktural dilakukan dalam pengambilan keputusan organisasi . Dalam rapat dan forum ilmiah dosen, nilai tasamuh mulai tampak dari keterbukaan antar dosen dalam menyampaikan masukan, terutama terkait pengembangan kurikulum dan strategi pembelajaran. Namun, suasana shura belum sepenuhnya tercipta. Terkadang, keputusan penting lebih ditentukan oleh pimpinan fakultas tanpa musyawarah yang substansial. Sebagian dosen muda cenderung pasif, menunjukkan perlunya pembiasaan budaya partisipatif. Namun dalam forum ilmiah rutin dosen memperlihatkan internalisasi nilai tasamuh yang cukup baik. Perbedaan perspektif keilmuan dalam diskusi dipandang sebagai Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 kekayaan wacana, bukan sebagai Moderator forum biasanya menekankan etika berdiskusi dan saling menghargai . Hal ini selaras dengan pendapat Yusef Waghid yang menyatakan bahwa pendidikan Islam harus beranjak dari transmisi dogma ke arah dialog praksis, di mana nilai-nilai agama dipraktikkan dalam situasi sosial nyata dan direspons secara reflektif oleh peserta didik (Waghid, 2. Dengan kata lain, pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif tidak cukup dalam membentuk karakter tasamuh dan shura. Perlu ada pendekatan yang lebih partisipatoris, kontekstual, dan bersentuhan langsung dengan realitas sosial mahasiswa. Dalam implementasinya, pendekatan sosio-religius perlu didesain sebagai proses bertahap yang melibatkan tiga dimensi utama: . pemahaman nilai melalui kajian ilmiah, . pengalaman nilai melalui interaksi sosial yang positif, dan . internalisasi nilai melalui keteladanan dan kebiasaan (Nata, 2. Strategi ini hanya bisa berjalan efektif jika didukung oleh semua unsur kampus, mulai dari dosen, pengelola, hingga mahasiswa itu sendiri. Kegiatan seperti forum musyawarah terbuka antar organisasi, pelatihan kepemimpinan moderat, serta dialog antar kelompok keagamaan internal perlu digalakkan sebagai laboratorium hidup pendidikan sosio-religius. Namun demikian, realitas implementasi di lapangan menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya terinternalisasi secara merata dalam perilaku sivitas akademika. Masih terlihat adanya eksklusivitas kelompok dalam organisasi intra kampus, ketegangan karena perbedaan ideologi mahasiswa, hingga praktik musyawarah yang hanya bersifat formalitas. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pendekatan sosio-religius yang diterapkan selama ini cenderung bersifat normatif instruksional, belum cukup kuat dalam membangun pengalaman dialogis dan pembiasaan partisipatif yang otentik. Dengan membumikan nilai-nilai tasamuh dan shura melalui pendekatan sosio-religius yang lebih aplikatif, kampus akan menjadi ekosistem yang tidak hanya religius dalam ritual, tetapi juga sosial dalam etika interaksi. Internalisasi ini akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk berkiprah di tengah masyarakat Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan, dengan karakternya sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam berbasis pesantren, memiliki modal kuat untuk memimpin transformasi pendidikan yang tidak hanya religius, tetapi juga sosialprophetik KESIMPULAN Pendekatan sosio-religius dalam internalisasi nilai tasamuh . dan syura . di IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan telah diakomodasi secara normatif dalam dokumen kelembagaan dan aktivitas akademik. Namun demikian, nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya diterapkan dalam budaya sosial kampus secara menyeluruh. Kesenjangan antara idealitas dan kenyataan mencerminkan bahwa strategi internalisasi masih bersifat instruksional dan belum optimal dalam mengembangkan aspek partisipatif, dialogis, serta praksis sosial yang kontekstual. Temuan ini tampak berbeda dengan penelitian terdahulu yang cenderung menekankan pada efektivitas pendekatan normatif. sosio-religius transformatif dengan mengarusutamakan interaksi sosial yang inklusif serta pelibatan mahasiswa aktif dalam praktik deliberatif sebagai strategi pembentukan karakter moderat dan demokratis di lingkungan kampus. Diperlukan upaya penguatan budaya akademik berbasis nilai melalui lintas elemen pelatihan kampus, dialog antarorganisasi mahasiswa, serta pembiasaan musyawarah dalam pengambilan keputusan kolektif. Mengintegrasikan nilai tasamuh dan syura ke dalam kebijakan kelembagaan secara aplikatif, serta menjadikannya indikator evaluasi dalam pengembangan karakter mahasiswa, keterlibatan dosen dan tenaga kependidikan dalam memodelkan nilai-nilai ini menjadi elemen penting untuk memastikan internalisasi berjalan secara holistik. Penulis menyadari bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan, terutama dalam hal mencakup waktu dan ruang pengumpulan data yang belum menjangkau seluruh dinamika sosial kampus secara utuh. Penelitian lanjutan dengan pendekatan etnografis atau Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 partisipatoris sangat disarankan agar dapat menggali lebih lanjut dalam praktik sosial keseharian dan hubungan antar kelompok dalam komunitas kampus. Penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan atas keterbukaan, partisipasi, dan dukungannya selama proses penelitian ini Semoga pengembangan strategi pendidikan karakter berbasis nilai Islam yang responsif terhadap tantangan zaman. BIBLIOGRAFI Aulia. , & Arifin. Moderasi Beragama Dalam Ruang Digital : Studi Harmonisasi Moderasi Beragama Di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama, 3. , https://doi. org/10. 32332/moderatio. Azra. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Melenium i. Durkheim. The elementary forms of religious life. In Social theory re-wired . 52Ae. Routledge. Hanafi. Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi Agama Islam. Islamuna: Jurnal Studi Islam, 1. https://doi. org/10. 19105/islamuna. Ismail. , & Sulaiman. Implementasi Kurikulum Pendidikan Islam Inklusif di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 11. , 1Ae19. https://doi. org/10. 30868/ei. Kraince. Islamic higher education and social cohesion in Indonesia. Prospects, 37. , 345Ae356. https://doi. org/10. 1007/s11125-008-9038-1 Lickona. Educating for character: How our schools can teach respect and Bantam. Majid. Islam, doktrin dan peradaban: sebuah telaah kritis tentang keimanan, kemanusiaan, dan kemodernan. (No Titl. Masamah. Pendidikan Islam. Pendidikan Politik, dan Dialog Antar Umat Beragama di Indonesia. Fikrah, 4. , 1Ae19. Mawardi Kholid. Pendekatan Sosio-kultural Pembelajaran Islam dalam Pesantren dan Masyarakat NU. Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 11. , 1Ae9. Munir. PENDIDIKAN ISLAM DAN TANTANGAN MODERNITAS Jurnal Al-Makrifat Vol 5 . No 1 . April 2020. 58Ae78. Musyafak N. Munawar I. Dissimilarity Implementasi Konsep Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Moderasi Beragama di PTKIN. Prosisidng Muktamar Dosen PMII. September, 453Ae464. Nasri. Rethinking Religious Moderation: Revitalisasi Konsep Manusia Perspektif Filsafat Pendidikan Islam dalam Konteks Multikultural. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 9. , 213Ae220. https://doi. org/10. 29303/jipp. Nata. Pendidikan dalam perspektif Al-QurAoan. Prenada Media. Pratama. Rawati. Fajri. Oktaviany. , & Messy. Dinamika Organisasi Mahasiswa: Pengembangan. Komitmen, dan Transformasi di Zaman Modern. Jurnal Manajemen Dan Budaya, 4. , 28Ae38. https://doi. org/10. 51700/manajemen. Ramadhan. Integrasi Nilai Islam Moderat dalam Pendidikan Islam untuk Menguatkan Harmoni Sosial Keagamaan pada Masyarakat Plural. Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars, 3. , 701Ae709. Sahlan. Pembelajaran pendidikan agama Islam dengan pendekatan El-Hikmah. Shihab. Wawasan Al-Quran Tafsir MaudhuAoi atas Pelbagai Perseolan Umat. Bandung: Mizan. Cet Ke7. Waghid. Pedagogy out of bounds: Untamed variations of democratic education (Vol. Springer Science & Business Media. Nur Hakim. Sa'adi. Miftahuddin Sosio Religius dalam Internalisasi