Setyawati dan Dermawan: Kaitan Profitabilitas. Likuiditas. Pertumbuhan Aset, dan. KAITAN PROFITABILITAS. LIKUIDITAS. PERTUMBUHAN ASET DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP STRUKTUR MODAL Silvi Setyawati* dan Elizabeth Sugiarto Dermawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara Jakarta *Email: silvi. setyawati@gmail. Abstract: This research was conducted with the aim of knowing the relationship between profitability, liquidity, asset growth, and company size on the capital structure of property and real estate companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) from 2020 to 2022. This study used a sample of 176 data. The sample selection technique in this study was purposive sampling using SPSS version 26 and Microsoft Office Excel. The results showed that profitability has a weak, negative, and significant correlation to capital structure, liquidity has a moderate, negative, and significant correlation to capital structure, asset growth has a weak, positive, and insignificant correlation to capital structure, and firm size has a moderate, positive correlation. and significant to the capital structure. Keywords: capital structure, profitability, liquidity Abstrak: Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kaitan dari profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan aset, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2020 s. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 176 data. Teknik pemilihan sampel dalam penelitian adalah purposive sampling dengan menggunakan SPSS versi 26 dan Microsoft Office Excel. Hasil penelitian menunjukkan profitabilitas berkorelasi lemah, negatif, dan signifikan terhadap struktur modal, likuiditas berkorelasi cukup, negatif, dan signifikan terhadap struktur modal, pertumbuhan aset berkorelasi lemah, positif, dan tidak signifikan terhadap struktur modal, dan ukuran perusahaan berkorelasi cukup, positif, dan signifikan terhadap struktur modal. Kata kunci : struktur modal, profitabilitas, likuiditas Pendahuluan Perusahaan pada umumnya memiliki akun harta, kewajiban, dan ekuitas selama menjalankan usahanya. Laporan keuangan dari perspektif masyarakat yang awam dengan hal tersebut mungkin akan mengkategorikan dan mengganggap perusahaan yang tidak mempunyai utang sebagai perusahaan yang sukses. Hal ini belum tentu berlaku di mata praktisi dan akademisi yang memahami laporan keuangan, khususnya konsep struktur modal, perusahaan yang demikian belum tentu termasuk kategori perusahaan yang sukses. Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1275-1284 Setyawati dan Dermawan: Kaitan Profitabilitas. Likuiditas. Pertumbuhan Aset, dan. Struktur modal berkaitan dengan keputusan komposisi sumber pendanaan . aik eksternal atau interna. yang akan digunakan perusahaan agar dana untuk perusahaan terpenuhi (Dewiningrat dan Mustanda, 2. Dalam hal ini maksud dari pendanaan internal adalah modal yang berasal dari dalam perusahaan, didapatkan dari laba ditahan dan kepemilikan perusahaan . aik saham biasa ataupun saham prefere. Sedangkan maksud dari pendanaan eksternal adalah modal yang didapatkan dari utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Keputusan struktur modal adalah salah satu keputusan yang sangat penting karena dapat memaksimalkan nilai pengembalian investasi perusahaan sekaligus dapat memampukan perusahaan untuk bersaing dengan para kompetitor perusahaan (Christopher, 2. Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang tepat saat menentukan keputusan struktur modal. Perusahaan umumnya dapat memilih satu diantara berbagai macam struktur modal alternatif. Pada umumnya, struktur modal berkaitan dengan beberapa variabel. Profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan aset, dan ukuran perusahaan adalah beberapa contoh diantaranya. Kajian Teori Pecking Order Theory. Penamaan istilah pecking order pertama kali oleh Myers . pada penelitiannya The Capital Structure Puzzle. Dalam penelitian tersebut, teori pecking order dijabarkan sebagai teori dengan urutan kekuasaan pembiayaan dimana perusahaan lebih mengutamakan atau memilih untuk pendanaan internal . aba ditaha. daripada pendanaan eksternal. Dalam teori ini, jika pengeluaran investasi perusahaan memiliki nilai lebih besar dari arus kas yang dihasilkan oleh internalnya, perusahaan akan menarik saldo kas atau surat berharga terlebih dahulu. Sebaliknya, jika pengeluaran investasi perusahaan memiliki nilai lebih kecil dari arus kas yang dihasilkan oleh internalnya, perusahaan dapat terlebih dahulu melunasi utang atau berinvestasi dalam bentuk tunai atau surat berharga. Menurut Myers . , setelah mengetahui pendanaan secara internal tidak mencukupi dan perlunya pendanaan secara eksternal, perusahaan diharuskan untuk menerbitkan sekuritas yang paling aman atau sekuritas dengan tingkat risiko yang lebih rendah terlebih dahulu. Perusahaan memulai dari efek bersifat utang . ebt securitie. , lalu convertible bonds, dan ekuitas . enerbitan saham bar. yang menjadi opsi terakhirnya. Dapat dikatakan, opsi ekuitas atau penerbitan saham baru tidak dilarang, hanya saja tidak dijadikan sebagai opsi pertama. Menurut Myers . , alasan urutan kekuasaan pembiayaan dalam pecking order karena adanya anggapan asimetri informasi yaitu manajer memiliki lebih banyak informasi daripada investor. Ketika manajer memiliki informasi yang superior dan saham baru diterbitkan untuk membiayai investasi, maka akan dianggap sebagai kabar buruk oleh investor sehingga harga saham akan turun. Sebaliknya, jika perusahaan menerbitkan utang . ang risikonya lebih ama. untuk membiayai investasi, akan dianggap sebagai kabar baik oleh investor sehingga harga saham tidak akan turun. Teori pecking order memang menyediakan kerangka kerja yang membantu memahami beberapa pola signifikan dalam data. Frank, et al. melakukan pengurutan perusahaan ke dalam tiga kelompok defisit: perusahaan yang menghasilkan surplus, perusahaan yang berada dalam keseimbangan, dan perusahaan dengan defisit. Hasilnya adalah perusahaan yang defisit di tingkat sedang lebih menyukai penerbitan efek bersifat utang, sedangkan perusahaan Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1275-1284 Setyawati dan Dermawan: Kaitan Profitabilitas. Likuiditas. Pertumbuhan Aset, dan. dengan defisit yang tinggi lebih mengandalkan efek bersifat ekuitas daripada efek bersifat utang. Pola pembiayaan ini masuk akal dalam teori pecking order. Signaling Theory. Teori ini dikembangkan oleh Ross . pada penelitiannya The Determination of Financial Structure: The Incentive-Signalling Approach. Dalam penelitian tersebut, meskipun investor memiliki informasi lengkap tentang aktivitas perusahaan, namun jika manajer memiliki informasi yang lebih banyak daripada investor . simetri informas. , maka peran manajer yaitu perlu memberi sinyal informasi ke pasar modal, dan dalam ekuilibrium kompetitif, sinyal tersebut kemudian akan diterima oleh calon investor . enerima sinya. Dalam tingkat ekuilibrium kompetitif, perusahaan yang memberikan sinyal informasi yang baik akan dapat dibedakan dengan perusahaan yang tidak memberikan sinyal informasi yang baik. Manajer dari perusahaan yang mempunyai nilai perusahaan tinggi akan meningkatkan utang yang membawa risiko yang lebih besar, agar dapat dianggap sebagai sinyal yang valid dari perusahaan yang lebih produktif. Sedangkan manajer dari perusahaan yang mempunyai nilai perusahaan rendah, tidak dapat melakukan hal yang sama karena rentan dengan kebangkrutan. Menurut Komara, et al. , signaling theory mempunyai risiko untuk pemegang saham . tau penanam moda. dan manajer. Pemegang saham atau penanam modal harus skeptis dengan kemungkinan sinyal yang manajer berikan sehingga perlunya mempunyai pemahaman yang baik. Pemegang saham atau penanam modal tidak dapat mengambil keuntungan jika informasi terkait sinyal tersebut tidak berusaha untuk Jadi, sinyal apa pun yang menunjukkan nilai perusahaan harus diperhatikan dengan baik. Dalam teori ini, perlunya aturan aturan keterbukaan informasi . dalam pasar modal juga berfungsi untuk mengklarifikasi kegiatan yang dilakukan manajer perusahaan dan memudahkan penanam modal untuk "membaca" sinyal Kaitan Antar Variabel Profitabilitas Terhadap Struktur Modal. Perusahaan yang memakai pendanaan internal . aba ditaha. dapat menjelaskan bahwa tingkat profitabilitas perusahaan tersebut tinggi. Tingkat profitabilitas yang meningkat akan mengurangi utang karena kegiatan operasional perseroan dibiayai oleh pendanaan internal seperti laba ditahan, sehingga dapat dikatakan peningkatan profitabilitas perusahaan dapat mengubah struktur modal. Selain itu, penggunaan dana internal juga memiliki tingkat risiko yang Likuiditas Terhadap Struktur Modal. Perusahaan akan lebih mengutamakan penggunaan pendanaan internal sebagai sumber pendanaannya maka dapat menjelaskan bahwa penggunaan utang akan sering digunakan dengan risiko rendah jika tingkat likuiditas perusahaan tersebut tinggi, dikarenakan kebutuhan dana perusahaan yang mampu ditutupi oleh aset lancar. Pertumbuhan Aset Terhadap Struktur Modal. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, maka opsi menggunakan utang akan lebih banyak digunakan daripada perusahaan dengan pertumbuhan yang rendah. Dengan demikian sinyal positif dapat diberikan kepada investor agar kemudian menanamkan modalnya. Ukuran Perusahaan Terhadap Struktur Modal. Sinyal positif dapat diberikan oleh perusahaan besar kepada investor untuk menanamkan modal pada perusahaan Semakin banyak investor yang tertarik untuk mendapatkan saham perusahaan. Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1275-1284 Setyawati dan Dermawan: Kaitan Profitabilitas. Likuiditas. Pertumbuhan Aset, dan. maka dapat meningkatkan penawaran saham perusahaan, dan sekaligus dapat meningkatkan nilai perusahaan. Pengembangan Hipotesis Dalam penelitian Hasanatina, et al. , disebutkan bahwa profitabilitas berkaitan signifikan negatif terhadap struktur modal. Dalam penelitian Sadewo, et al. disebutkan bahwa profitabilitas berkaitan tidak signifikan terhadap struktur modal. Ha1: Profitabilitas memiliki kaitan negatif dan signifikan terhadap struktur modal. Dalam penelitian Bako & Marsoem . , disebutkan bahwa likuiditas berkaitan signifikan negatif terhadap struktur modal. Dalam penelitian Rahmiyanti & Nugroho . , disebutkan bahwa likuiditas berkaitan signifikan positif terhadap struktur modal. Ha2: Likuiditas memiliki kaitan negatif dan signifikan terhadap struktur modal. Dalam penelitian Cipto, et al. , disebutkan bahwa pertumbuhan aset . sset growt. berkaitan signifikan positif terhadap struktur modal. Dalam penelitian Ariyani, et al. , disebutkan bahwa pertumbuhan aset berkaitan signifikan negatif terhadap struktur modal. Ha3: Pertumbuhan aset memiliki kaitan positif dan signifikan terhadap struktur modal. Dalam penelitian Chakrabarti . , disebutkan bahwa ukuran perusahaan . irm siz. berkaitan signifikan positif terhadap struktur modal. Dalam penelitian Windijarto dan Andiya . , disebutkan bahwa ukuran perusahaan . irm siz. tidak berkaitan signifikan terhadap struktur modal. Ha4: Ukuran perusahaan memiliki kaitan yang positif dan signifikan terhadap struktur Kerangka pemikiran dalam penelitian ini seperti digambarkan dibawah ini Gambar 1. Kerangka Pemikiran Metodologi Terdapat 5 . variabel yang menjadi objek dalam penelitian ini yang mencakup variabel profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan aset, ukuran perusahaan, dan struktur Data dalam penelitian ini berupa data sekunder yang bersumber dari laporan keuangan yang telah diaudit . udited financial statemen. dari perusahaan property & real estate yang terdaftar . di BEI selama tahun 2020-2022. Data laporan keuangan tersebut dapat diakses dan didapatkan dari situs Bursa Efek Indonesia (BEI) Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1275-1284 Setyawati dan Dermawan: Kaitan Profitabilitas. Likuiditas. Pertumbuhan Aset, dan. yaitu w. Purposive sampling adalah teknik pemilihan sampel yang memiliki pertimbangan atau kriteria tertentu dari peneliti tersendiri. Kriteria-kriteria dalam pemilihan sampel penelitian ini mencakup . Perusahaan property & real estate yang terdaftar di BEI secara berturut-turut selama tahun 2020-2022. Perusahaan property & real estate yang memiliki saldo modal negatif . efisiensi moda. selama tahun 2020-2022. Dalam penelitian ini didapatkan 195 perusahaan property & real estate yang memenuhi kriteria tersebut. Data kemudian dioutlier dengan z-score sebanyak 19 perusahaan sehingga total data pengamatan sebanyak 176 perusahaan. Tabel operasionalisasi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Variabel Tabel 1. Ringkasan Operasionalisasi Variabel Indikator Skala Struktur Modal Debt to Equity Ratio = Rasio Profitabilitas Return on Assets = Rasio Likuiditas Current Ratio = Rasio Pertumbuhan Aset Ukuran Perusahaan Asset Growth = Rasio Firm Size = Ln(Net Sale. Rasio Hasil Uji Statistik dan Kesimpulan Pengujian deskriptif perlu untuk terlebih dahulu dilakukan sebelum pengujian hipotesis dilakukan. Hasil dari uji statistik deskriptif dengan 176 data dan tahun penelitian dari 2020 s. 2022 akan dijabarkan sebagai berikut. Variabel pertamanya adalah profitabilitas yang diproksikan dengan ROA. Nilai mean variabel pertama sebesar 0,00592. nilai minimum -0,18581. nilai maximum 0,19972. dan nilai standar deviasi 0,04695. Nilai minimum-nya merupakan data Lippo Karawaci Tbk (LPKR) pada Sedangkan nilai maximum-nya merupakan data Puradelta Lestari Tbk (DMAS) pada tahun 2020. Selain itu, ditemukan juga nilai standar deviasi dari variabel profitabilitas > nilai mean-nya maka kesimpulan yang didapat yaitu terdapat variansi data yang lebih besar. Variabel keduanya adalah likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio atau rasio lancar. Nilai mean 5,13410. nilai minimum 0,10074. nilai maximum 84,52568. nilai standar deviasi 10,83091. Nilai minimum-nya merupakan data Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) pada tahun 2022. Sedangkan nilai maximum-nya merupakan data Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) pada tahun 2021. Selain itu, ditemukan juga nilai standar deviasi dari variabel likuiditas > nilai mean-nya maka kesimpulan yang didapat yaitu terdapat variansi data yang lebih besar. Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1275-1284 Setyawati dan Dermawan: Kaitan Profitabilitas. Likuiditas. Pertumbuhan Aset, dan. Variabel ketiganya adalah pertumbuhan aset yang diproksikan dengan Growth. Nilai mean 0,01976. nilai minimum -0,29735. nilai maximum 0,60861. dan nilai standar deviasi 0,09696. Nilai minimum-nya merupakan data Pollux Properties Indonesia Tbk (POLL) pada tahun 2022. Sedangkan nilai maximum-nya merupakan data Grand House Mulia Tbk (HOMI) pada tahun 2020. Selain itu, ditemukan juga nilai standar deviasi dari variabel pertumbuhan aset > nilai mean-nya maka kesimpulan yang didapat yaitu terdapat variansi data yang lebih besar. Variabel keempatnya adalah ukuran perusahaan yang diproksikan dengan Size. Nilai mean 26,11526. nilai minimum 19,99345. nilai maximum 30,43619. dan nilai standar deviasi 2,08686. Nilai minimum-nya merupakan data Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk (BBSS) pada tahun 2022. Sedangkan nilai maximum-nya merupakan data Lippo Karawaci Tbk (LPKR) pada tahun 2021. Selain itu, ditemukan juga nilai standar deviasi dari variabel ukuran perusahaan < dari nilai mean-nya maka kesimpulan yang didapat yaitu terdapat variansi data yang lebih kecil. Variabel kelimanya adalah adalah struktur modal perusahaan yang diproksikan dengan DER. Nilai mean 0,66677. nilai minimum 0,00710. nilai maximum 2,89391. nilai standar deviasi 0,58831. Nilai minimum-nya merupakan data Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) pada tahun 2021. Sedangkan nilai maximum-nya merupakan data Kota Satu Properti Tbk (SATU) pada tahun 2022. Selain itu, ditemukan juga nilai standar deviasi dari variabel struktur modal < dari nilai mean-nya maka kesimpulan yang didapat yaitu terdapat variansi data yang lebih kecil. Setelah melakukan uji statistik deskriptif, perlu adanya uji asumsi klasik terlebih Uji asumsi klasik ini mencakup uji normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa Current Ratio atau rasio lancar yang adalah proxy likuiditas. Growth yang adalah proxy pertumbuhan aset, dan Debt to Equity Ratio (DER) yang adalah proxy struktur modal mempunyai nilai signifikansi asymptotic 0,000 < 0,05. Sedangkan profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Assets (ROA) mempunyai nilai signifikansi asymptotic sebesar 0,004 < 0,05 dan ukuran perusahaan yang diproksikan dengan Size mempunyai nilai signifikansi asymptotic 0,005 < 0,05. Maka kesimpulannya kelima variabel tersebut didapati tidak normal dengan menggunakan persamaan asymptotic. Kemudian dilihat dengan persamaan monte carlo apakah data dari sampel acak atau data dengan nilai terlalu ekstrim memiliki distribusi yang normal. Return on Assets (ROA) yang adalah proxy profitabilitas dan Size yang adalah proxy ukuran perusahaan mempunyai nilai signifikansi monte carlo 0,131 > 0,05. Maka kedua variabel tersebut . ariabel profitabilitas dan ukuran perusahaa. didapati normal dengan menggunakan persamaan monte carlo. Sedangkan pertumbuhan aset yang diproksikan dengan Growth dan struktur modal yang diproksikan dengan Debt to Equity Ratio (DER) mempunyai nilai signifikansi monte carlo sebesar 0,006 dimana angka tersebut lebih kecil dari 0,05 dan likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio atau rasio lancar mempunyai nilai signifikansi monte carlo 0,000 < 0,05. Maka ketiga variabel tersebut . ariabel pertumbuhan aset, struktur modal, dan likuidita. didapati tidak normal dengan menggunakan persamaan monte carlo. Uji multikolinearitas kemudian dilakukan dimana jika nilai tolerance variabel profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan aset, dan ukuran perusahaan berada di atas 0,10 dan nilai VIF (Variance Inflation Facto. variabel profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan aset, dan ukuran perusahaan berada di bawah 10, maka penelitian dinyatakan terbebas Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1275-1284 Setyawati dan Dermawan: Kaitan Profitabilitas. Likuiditas. Pertumbuhan Aset, dan. dari masalah multikolineraritas. Kemudian ditemukan hasil penelitiannya adalah keempat variabel yang ada dalam penelitian ini tidak menimbulkan masalah multikolineraritas karena nilai tolerance keempat variabel berada di atas 0,10 dan nilai VIF (Variance Inflation Facto. berada di bawah 10. Uji heteroskedastisitas memiliki tujuan untuk menguji mengenai apakah terdapat situasi heteroskedastisitas dimana jika variabel profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan aset, dan ukuran perusahaan lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas. Kemudian ditemukan hasil penelitiannya adalah terdapat 1 . variabel dalam penelitian ini menimbulkan masalah heteroskedastisitas yaitu variabel profitabilitas. Uji autokorelasi dengan durbin-watson dimana jika diperoleh angka DW di bawah angka -2 menunjukkan terjadi autokorelasi positif, apabila diperoleh angka DW diantara angka -2 sampai 2 menunjukkan tidak adanya autokorelasi, apabila diperoleh angka DW diantara angka di atas 2 menunjukkan terjadi autokorelasi negatif. Kemudian ditemukan hasil penelitiannya adalah angka DW atau Durbin-Watson sebesar 1,950 berada di antara angka -2 sampai 2. Maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah keempat variabel yang ada dalam penelitian ini tidak menimbulkan masalah Tabel 1. Hasil Korelasi Rank Spearman Current ROA Ratio Growth Size DER Current Correlation Coefficient Ratio Sig. -taile. Spearman' ROA Correlation Coefficient s rho Sig. -taile. Growth Size DER Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. (Sumber : Hasil olahan melalui SPSS . Hasil dari uji korelasi Rank Spearman dapat dilihat pada tabel 4. 8 di atas. Mengetahui hal itu, maka dapat dijabarkan hipotesis penelitiannya seperti dibawah ini. Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan bahwa profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Assets (ROA) terhadap struktur modal yang diproksikan dengan DER Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1275-1284 Setyawati dan Dermawan: Kaitan Profitabilitas. Likuiditas. Pertumbuhan Aset, dan. mempunyai angka nilai signifikannya 0,037 < 0,05 maka variabel yang ada dianggap Selain itu nilai Correlation Coefficient -0,157 berada di batas interval nilai 0,00 Ae 0,25 menunjukkan adanya korelasi lemah dan negatif. Maka Ha1 diterima. Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan bahwa likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio atau rasio lancar mempunyai angka nilai signifikannya 0,000 < 0,05 maka variabel yang ada dianggap signifikan. Selain itu nilai Correlation Coefficient -0,428 berada di batas interval nilai 0,25 Ae 0,50 menunjukkan adanya korelasi cukup. Maka Ha2 diterima. Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan bahwa pertumbuhan aset yang dihitung dengan Growth mempunyai angka nilai signifikannya 0,430 > 0,05 maka variabel yang ada dianggap tidak signifikan. Selain itu nilai Correlation Coefficient 0,06 berada di batas interval nilai 0,00 Ae 0,25 menunjukkan adanya korelasi lemah. Maka Ha3 ditolak. Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan bahwa ukuran perusahaan yang dihitung dengan Size mempunyai angka nilai signifikannya 0,000 < 0,05 maka variabel yang ada dianggap signifikan. Selain itu nilai Correlation Coefficient 0,345 berada di batas interval nilai 0,25 Ae 0,50 menunjukkan adanya korelasi cukup. Maka Ha4 dapat dinyatakan diterima karena ukuran perusahaan berkorelasi cukup, positif, dan signifikan terhadap struktur modal. Maka Ha4 diterima. Diskusi