Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Teologi Kontekstual dalam Ekspresi Sakral Tari Rejang Keraman di Bali I Gusti Ayu Desy Wahyuni Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia adesy6166@gmail. Abstract Rejang Keraman dance is part of the wali . dance tradition within Hindu rituals in Bali, commonly performed during religious ceremonies. Unlike other forms of wali dance. Rejang Keraman may be performed by both men and women and symbolically represents the manifestation of sacred feminine energy. However, scholarly studies on Rejang Keraman have primarily focused on its aesthetic and cultural dimensions, while theological approaches remain rare. This research addresses that gap by offering a novel theological analysis of the dance. The study aims to explore Rejang Keraman as a theological expression within the local context of Balinese Hinduism. The research was conducted in Kedis Village. Busungbiu District. Buleleng Regency, where the dance is a vital component of the Pujawali . emple anniversar. ceremony at the village temple. qualitative method was employed, utilizing participatory observation, in-depth interviews, and literature review. Applying a contextual theological approach, the study interprets how Hindu religious values are practiced and understood dynamically within the framework of local culture. The findings reveal that Rejang Keraman functions not merely as an artistic performance but as a theological medium that bridges the relationship between humans, nature, and the divine. The practice reflects a spirituality that is inclusive and adaptive, offering a pathway for developing a contextual Hindu theology rooted in local traditions. The study recommends the preservation and reinterpretation of sacred local rituals as an essential foundation for formulating Hindu theological perspectives relevant to contemporary social dynamics. Keywords: Rejang Keraman Dance. Contextual Theology. Pujawali. Sacred Abstrak Tari Rejang Keraman merupakan bagian dari tarian wali . dalam ritual Hindu di Bali yang lazim dipentaskan dalam upacara keagamaan. Berbeda dari bentuk tari wali lainnya. Tari Rejang Keraman dapat dibawakan oleh laki-laki maupun perempuan dan mengandung makna simbolik sebagai manifestasi energi sakral feminin. Namun, hingga kini, kajian mengenai Tari Rejang Keraman umumnya berfokus pada aspek estetika atau budaya, sementara pendekatan teologis masih jarang dilakukan. Inilah yang menjadi kebaruan . dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami Rejang Keraman sebagai ekspresi teologis dalam konteks lokal Hindu di Bali. Lokasi penelitian adalah Desa Kedis. Kecamatan Busungbiu. Kabupaten Buleleng, yang menjadikan Tari Rejang Keraman sebagai bagian penting dari upacara Pujawali di pura Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan kajian pustaka. Peneliti menerapkan teologi kontekstual untuk menafsirkan bagaimana nilai-nilai Hindu dipraktikkan dan dimaknai secara dinamis dalam budaya lokal. Hasil menunjukkan bahwa Tari Rejang Keraman tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan seni, tetapi menjadi media teologis yang menjembatani hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Praktik ini mencerminkan spiritualitas yang inklusif dan adaptif, serta membuka ruang baru bagi pengembangan teologi Hindu yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kontekstual. Penelitian ini merekomendasikan pelestarian dan reinterpretasi ritus lokal sebagai bagian penting dalam formulasi teologi Hindu yang relevan dengan dinamika sosial kontemporer. Kata Kunci: Tari Rejang Keraman. Teologi Kontekstual. Pujawali. Sakral Pendahuluan Tari Rejang Keraman merupakan salah satu bentuk ekspresi religius masyarakat Hindu Bali yang bersifat sakral dan berakar dalam tradisi ritual desa adat. Tarian ini dipentaskan sebagai bagian dari rangkaian upacara Pujawali di Pura Desa pada Rahinan Purnama Kapat di Desa Kedis, dan memiliki fungsi utama sebagai bentuk yajya atau persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Dalam konteks teologi Hindu, tarian sakral ini menjadi wujud pengabdian spiritual melalui jalan Bhakti Marga, yaitu laku religius yang menekankan pemujaan yang dilandasi kesucian hati dan keikhlasan (Titib, 2. Menurut Eiseman . , tarian sakral di Bali seperti Rejang tidak hanya merupakan ekspresi artistik, tetapi juga mengandung nilai transendental sebagai media untuk menciptakan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Pelaksanaan Tari Rejang Keraman melibatkan Truna Truni yang menari dalam formasi melingkar atau lurus tanpa penari utama, mencerminkan semangat kolektif dan kesatuan spiritual dalam Sebelum menari, para penari melakukan melukat atau penyucian diri sebagai bentuk pembersihan lahir dan batin agar layak menarikan tarian suci ini. Tarian ini dipentaskan pada dua momen penting dalam kalender ritual Desa Kedis, yaitu Pujawali tahunan dan Upacara Ngusaba Desa yang dilaksanakan setiap tiga tahun. Keunikan dan kekhasan dari Tari Rejang Keraman tidak hanya terletak pada struktur geraknya yang lembut dan anggun, tetapi juga pada dimensi religiusnya yang hidup dan terus diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari praktik keagamaan masyarakat setempat. Kajian teologis terhadap seni ritual seperti Tari Rejang Keraman sangat penting dalam memahami bagaimana masyarakat Hindu Bali menjalin relasi spiritual melalui ekspresi budaya. Tarian sakral tidak semata-mata berfungsi sebagai estetika pertunjukan, tetapi merupakan perwujudan nilai-nilai religius yang berakar dalam kosmologi Hindu. Seperti dinyatakan oleh Picard . , tarian-tarian sakral Bali memiliki fungsi transendental yang memperkuat ikatan antara manusia dan kekuatan ilahi. Dalam konteks teologi Hindu, praktik seni religius seperti tari menjadi manifestasi dari ajaran Rta, prinsip keteraturan kosmis yang harus dijaga melalui ritual. Tarian Rejang Keraman, sebagai bagian dari upacara besar keagamaan di Desa Kedis, berperan penting dalam menjaga keseimbangan spiritual komunitas dan menunjukkan perwujudan konkret dari filosofi Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Urgensi pengkajian akademik terhadap makna teologis Tari Rejang Keraman juga sejalan dengan pandangan Geertz . , yang menekankan pentingnya simbol dan ritual dalam struktur sosial dan keagamaan masyarakat Bali. Oleh karena itu, memahami tarian ini melalui lensa teologi kontekstual memberikan kontribusi penting dalam pengembangan ilmu teologi Hindu yang kontekstual, khususnya dalam merespons dinamika budaya lokal. Penelitian sebelumnya telah banyak membahas Tari Rejang dari berbagai perspektif. Bandem . menyoroti aspek koreografi dan estetika Tari Rejang dalam konteks ritual keagamaan, sedangkan McPhee . mengkaji struktur musikal dan peran sosial tarian Bali dalam sistem upacara adat. Lebih lanjut. Picard . mengeksplorasi fungsi spiritual dan simbolis dari tarian sakral dalam kehidupan religius https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH masyarakat Bali, sementara Eiseman . menyatakan bahwa tarian-tarian sakral merupakan medium komunikasi antara manusia dan kekuatan niskala. Dalam ranah studi agama dan seni. Geertz . menyatakan bahwa ritual keagamaan di Bali mengandung makna simbolik yang dalam dan memainkan peran sentral dalam konstruksi identitas religius masyarakat. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan adanya konsensus bahwa tarian sakral di Bali tidak dapat dilepaskan dari konteks teologis, sosial, dan Namun, sebagian besar kajian yang ada masih bersifat umum, tanpa mengelaborasi secara spesifik hubungan antara tarian dan makna teologis dalam kerangka pemikiran Hindu Dharma, khususnya yang berkaitan dengan praktik Bhakti Marga dan pemeliharaan Rta. Meskipun Tari Rejang telah menjadi objek kajian yang cukup luas dalam konteks seni pertunjukan dan antropologi budaya. Tari Rejang Keraman sebagai bentuk lokal dari ekspresi sakral masyarakat Desa Kedis belum banyak dikaji secara mendalam dalam perspektif teologi Hindu. Tidak ditemukan kajian yang secara eksplisit menjadikan pementasan Tari Rejang Keraman sebagai subjek untuk memahami aspek transendental, bhakti, dan kesucian ritual dalam praktik keagamaan umat Hindu di tingkat desa. Selain itu, belum ada telaah sistematis yang mengaitkan makna simbolik gerak, struktur tarian, dan konteks ritualnya dengan konsep-konsep utama dalam teologi Hindu seperti yajya. Rta, dan Bhakti Marga. Padahal, tarian ini memuat potensi besar sebagai sumber pemahaman terhadap dimensi spiritualitas Hindu dalam konteks komunitas lokal yang masih mempertahankan nilai-nilai sakral tradisional secara hidup. Berdasarkan latar belakang, urgensi ilmiah, dan kesenjangan penelitian yang telah dipaparkan, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna teologis Tari Rejang Keraman sebagai ekspresi Bhakti Marga dalam tradisi ritual Hindu Bali. Penelitian ini menyoroti bagaimana tarian ini menjadi wujud pengabdian spiritual yang dilandasi kesucian dan ketulusan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kajian ini juga menelusuri simbolisme dan struktur ritus dalam Tari Rejang Keraman yang berkelindan dengan ajaran Rta dan yajya dalam teologi Hindu, guna memahami bagaimana prinsip-prinsip kosmis dan sakral diwujudkan dalam bentuk seni-ritual. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fungsi spiritual dan peran religius tarian ini dalam upacara Pujawali di Pura Desa Kedis, serta kontribusinya dalam menjaga keseimbangan kosmis dan harmoni sosial-religius masyarakat setempat. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian teologi kontekstual Hindu, khususnya dalam menelaah praktik seni sakral dan ritual sebagai wahana penghayatan ajaran keagamaan dalam konteks budaya lokal Bali. Dengan pendekatan teologis-kultural, penelitian ini diharapkan mampu memperkaya wacana ilmiah mengenai hubungan antara seni sakral, ritual keagamaan, dan spiritualitas lokal, serta membuka ruang bagi pengembangan teologi Hindu yang bersifat kontekstual dan partisipatoris. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma naturalistik untuk memahami makna simbolik dan nilai-nilai teologis dalam pementasan Tari Rejang Keraman di Desa Kedis. Kecamatan Busungbiu. Kabupaten Buleleng. Pendekatan ini relevan karena objek kajian berupa praktik budaya dan keagamaan yang bersifat kontekstual, simbolik, dan mengakar dalam komunitas lokal. Metode yang digunakan adalah fenomenologi intrinsik, yang fokus pada pemahaman mendalam terhadap satu fenomena budaya yang dianggap unik dan signifikan secara sosial-religius oleh Penelitian lapangan dilaksanakan selama lima bulan, dari Juni hingga Desember 2024, mencakup observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi partisipatif dilakukan secara langsung saat upacara Pujawali, menghasilkan catatan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH lapangan serta dokumentasi visual berupa foto dan video. Teknik ini memungkinkan pengamatan menyeluruh terhadap gerak tari, suasana ritual, dan keterlibatan masyarakat. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur terhadap 12 informan kunci, 2 pemangku adat, 3 seniman tari, 2 tetua adat, dan 5 generasi muda yang pernah menarikan atau menyaksikan tarian ini. Wawancara menggali pengalaman spiritual, pengetahuan simbolik, serta pemaknaan teologis dari masing-masing informan. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka terhadap teks-teks suci Hindu dan literatur akademik yang relevan dari bidang teologi, antropologi, studi agama, dan seni pertunjukan. Analisis data dilakukan secara interpretatif melalui tiga tahap, transkripsi dan pengorganisasian data, coding terbuka untuk mengidentifikasi tema utama, serta kategorisasi dan pemetaan tema. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber, metode, dan teori. Dengan pendekatan ini, diharapkan penelitian menghasilkan pemahaman yang otentik dan mendalam mengenai dimensi religius dan simbolik Tari Rejang Keraman dalam konteks masyarakat Bali. Hasil dan Pembahasan Ritual keagamaan Hindu di Bali menjadikan relasi antara seni dan sakralitas menjadi suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Salah satu bentuk paling nyata dari keterhubungan tersebut terwujud dalam pementasan tari-tarian suci yang disebut sebagai tari wali, yakni tari yang dipersembahkan sebagai bagian dari ritus pemujaan kepada Tuhan dan manifestasi-Nya. Tari Rejang Keraman menempati posisi penting karena bukan hanya menjadi sarana persembahan dalam konteks upacara besar (Dewa Yajy. , tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai spiritual yang hidup dan berkembang dalam komunitas lokal. Pementasan Rejang Keraman, yang dalam beberapa tradisi ditarikan oleh lakilaki dan perempuan secara bersamaan, menjadi medan artikulatif untuk mengekspresikan kesakralan, keharmonisan kosmik, dan spiritualitas kolektif masyarakat adat Bali. Dalam perspektif teologi kontekstual. Rejang Keraman tidak sekadar dipahami sebagai seni pertunjukan religius, tetapi juga sebagai bentuk pengetahuan teologis yang hidup, berakar dalam budaya lokal, dan menjadi bagian dari pengalaman religius umat Hindu Bali. Teologi kontekstual sendiri adalah pendekatan yang menekankan pentingnya memahami ajaran agama dalam konteks sosial, budaya, dan historis umat beragama, sehingga teologi tidak bersifat statis dan normatif semata, melainkan dinamis dan responsif terhadap realitas kehidupan umat (Bevans, 2. Dengan demikian. Rejang Keraman dapat dibaca sebagai wahana teologis medium reflektif dan performatif di mana nilai-nilai utama agama seperti dharma, bhakti, uakti, dan rta tidak hanya dijelaskan lewat kata-kata atau teks-teks suci, tetapi juga diwujudkan melalui gerak, tubuh, dan ruang sakral ritus. Tari ini secara khusus mencerminkan konsep-konsep penting dalam Hindu di Bali seperti Tri Hita Karana . iga penyebab kebahagiaan, hubungan harmonis antara manusia. Tuhan, dan ala. Rwa Bhineda . ualisme kosmik yang harmoni. , dan pemuliaan terhadap kekuatan feminin ilahi yang termanifestasi dalam bentuk uakti. Dalam konteks ini, partisipasi perempuan dan laki-laki dalam tari yang biasanya hanya diperankan oleh kaum perempuan menunjukkan adanya adaptasi teologis dan pemaknaan ulang atas simbolisasi gender dalam praktik keagamaan, tanpa mengurangi nilai kesakralannya. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi Hindu Bali mampu merespons perubahan sosial melalui integrasi nilai-nilai teologis dan kearifan lokal. Penelitian ini mengambil fokus di Desa Kedis. Kecamatan Busungbiu. Kabupaten Buleleng, tempat di mana Rejang Keraman menjadi bagian integral dari upacara Pujawali di pura desa. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pementasan tarian ini bukan hanya mempertegas posisi perempuan dan laki-laki dalam sistem ritual, tetapi juga menjadi ekspresi dari identitas kolektif masyarakat dalam menghidupi nilai-nilai religius secara kontekstual. Penggunaan pendekatan teologi kontekstual dalam kajian ini memungkinkan terbukanya ruang interpretasi baru terhadap praktik-praktik keagamaan yang hidup, serta membuka peluang bagi pelestarian warisan budaya sakral yang tetap relevan di tengah dinamika zaman. Rujukan penting seperti studi Clifford Geertz . dalam The Interpretation of Cultures telah menyoroti peran simbol dan ritus dalam membentuk struktur makna masyarakat Bali. Demikian pula pendekatan simbolik dalam karya Eliade . tentang kesakralan dan profanitas memberikan fondasi teoretis untuk memahami bagaimana ruang dan tindakan ritual mengkonstruksi pengalaman religius. Dalam konteks Bali, seni pertunjukan seperti Tari Rejang Keraman bukan sekadar tradisi estetik, tetapi merupakan wahyu budaya . ultural revelatio. yang memancarkan nilai-nilai spiritual Hindu secara hidup dan partisipatif. Dengan pendekatan ini, pembahasan Tari Rejang Keraman sebagai ekspresi sakral tidak hanya memperlihatkan makna teologisnya dalam ritus Hindu Bali, tetapi juga menegaskan pentingnya pelibatan konteks lokal sebagai sumber otentik dan sah bagi refleksi teologi Hindu yang hidup dan relevan dalam kehidupan umat masa kini. Simbolisme dan Unsur Sakral dalam Tari Rejang Keraman Tari Rejang Keraman merupakan bagian integral dari khazanah tari sakral . dalam ritual Hindu di Bali yang ditampilkan dalam rangkaian upacara keagamaan, khususnya Dewa Yajya. Tarian ini tidak sekadar menjadi bagian dari kesenian ritual, melainkan merupakan manifestasi simbolik dari nilai-nilai spiritual yang dihayati dan diwariskan secara turun-temurun. Simbolisme dalam Tari Rejang Keraman terwujud melalui berbagai aspek, mulai dari struktur gerak, tata busana, komposisi kelompok penari, hingga ruang dan waktu pertunjukan. Setiap elemen tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi medium pengkomunikasian antara manusia dengan kekuatan adikodrati dalam semesta sakral Hindu Bali (Bandem & Deboer, 1. Aspek paling utama dari simbolisme Rejang Keraman terletak pada tubuh penari itu sendiri. Tubuh perempuan muda yang menjadi medium tari tidak hanya dilihat sebagai entitas biologis, tetapi diposisikan sebagai wahana penyatuan antara unsur duniawi dan Dalam kerangka filsafat Hindu, ini merupakan bentuk pengaktualan dari uakti, yakni energi ilahi yang melandasi seluruh ciptaan. Gerakan-gerakan yang lembut dan mengalun mengikuti irama gamelan gong tidak sekadar mengikuti estetika, tetapi merepresentasikan rwa bhineda . onsep dualitas kosmi. dan harmoni antara purusha dan prakriti (Feuerstein, 1. Bahkan, dalam beberapa konteks ritual tertentu, para penari diyakini mengalami kondisi transendental yang menyerupai pengalaman mistik, di mana kesadaran individual larut dalam kesadaran kolektif dan sakral (Eiseman, 1. Formasi penari yang melingkar atau sejajar membentuk pola simetris menjadi simbol dari keseimbangan Peneliti mencatat bahwa susunan ini menciptakan ruang suci sementara yang membedakan kawasan ritus dari ruang profan. Gerakan bersamaan yang dilandasi ritme gamelan menciptakan pengalaman kolektif yang bersifat liminal, melintasi batas antara kesadaran sehari-hari dan pengalaman spiritual. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 1. Pementasan Tari Rejang Keraman Oleh Penari Perempuan (Sumber: Dokumentasi Peneliti Tahun, 2. Kostum dan perlengkapan tari, seperti kain prada, gelungan bunga, dan tapih poleng, memiliki makna simbolik yang mendalam. Warna-warna yang digunakan seperti kuning cerah, putih, merah marun, dan hitam, merupakan representasi dari arah mata angin dan Catur Lokapala, yang masing-masing diasosiasikan dengan Dewa Brahma. Wisnu. Iswara, dan Siwa (Ardhana, 2. Ketika peneliti mendokumentasikan prosesi awal tarian, tampak bagaimana harmoni warna dari kostum penari menciptakan resonansi visual dengan hiasan pura dan ornamen ritual. Gelungan bunga yang dipakai di kepala merupakan simbol pemujaan kepada Dewi Sri atau Dewi Kesuburan, sedangkan kain poleng melambangkan keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap, hidup dan mati. Penempatan dan pemilihan kostum ini mengikuti kaidah tattwa . , susila . , dan upacara . dalam ajaran Hindu Bali, yang membentuk fondasi dari trilogi keagamaan Hindu lokal (Parimita, 2. Aspek ruang dan waktu pementasan Tari Rejang Keraman juga merupakan unsur sakral yang tidak bisa dipisahkan dari simbolismenya. Tarian ini hanya dipentaskan dalam kawasan pura atau halaman suci . aba tengah dan jeroa. , serta pada waktu-waktu yang telah ditentukan melalui perhitungan wariga . alender ritual Bal. Ini menunjukkan bahwa sakralitas tari tidak dapat direduksi pada bentuk lahiriahnya, melainkan sangat bergantung pada konteks spiritual dan keberadaannya dalam sistem ritus. Menurut Geertz . , dalam masyarakat seperti Bali yang bersifat eater negara . heatre stat. , ekspresi ritual seperti tari merupakan sarana pemantapan struktur kosmis dan sosial melalui simbol-simbol performatif. Unsur sakral dalam Tari Rejang Keraman tidak hanya terletak pada dimensi religiusnya, tetapi juga pada proses pewarisan nilai-nilai spiritual yang berlangsung melalui tarian tersebut. Anak-anak perempuan yang mengikuti tarian ini sejak usia dini diajarkan untuk tidak hanya menguasai teknik gerak, tetapi juga memahami nilai bhakti, kerendahan hati, kesucian, dan disiplin spiritual. Dengan demikian, tarian ini menjadi sarana inisiasi religius dan pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Penari tidak dilatih sebagai seniman semata, melainkan sebagai pelayan ritus dan perpanjangan dari kehendak ilahi dalam konteks kolektif desa adat (Ramstedt, 2. Dalam kajian simbolisme religius. Tari Rejang Keraman dapat dikategorikan sebagai bahasa ritus yang menggabungkan unsur mythos . arasi suc. , logos . asionalitas kosmologi. , dan ethos . ilai-nilai hidu. , sebagaimana dijelaskan oleh (Eliade, 1. Tarian ini menciptakan ruang liminal di mana batas antara profan dan sakral menjadi cair, dan penonton maupun peserta ritus tidak sekadar menyaksikan, tetapi mengalami keterlibatan spiritual yang Oleh karena itu. Tari Rejang Keraman harus dipahami sebagai bentuk wahyu estetis dan simbolik dalam tradisi Hindu Bali, bukan sekadar ekspresi budaya, tetapi sebagai medium spiritual yang memancarkan makna-makna kosmis dan etis. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dalam menghadapi tantangan modernitas dan pariwisata massal, penting untuk mempertahankan simbolisme dan unsur sakral dari Tari Rejang Keraman agar tidak tereduksi menjadi tontonan profan. Teologi kontekstual di sini berperan sebagai pendekatan kritis dan reflektif untuk mengidentifikasi nilai-nilai inti yang harus dilestarikan dan elemen mana yang dapat dikembangkan secara kreatif. Simbol-simbol sakral bukan hanya warisan estetis, tetapi juga penopang identitas spiritual yang memberi makna dan kontinuitas bagi masyarakat Hindu Bali. Upaya pelestarian dan reinterpretasi simbolisme dalam Tari Rejang Keraman harus dilakukan dengan mempertimbangkan struktur ritus, konteks tempat, dan fungsi spiritual yang melekat di dalamnya agar makna sakral tidak tergantikan oleh estetika panggung semata. Keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualitas yang paling sering disebut adalah kesatuan, keselarasan, kesetangkupan atau simetri, keseimbangan, dan perlawanan atau kontras. Sebuah karya seni dapat dikatakan estetik apabila memenuhi kualitas-kualitas tertentu yang memiliki keindahan. Rasa dalam konteks seni berarti pengalaman estetik Wiryamartana . yakni emosi yang dibangkitkan secara estetik oleh lingkungan dan situasi artistik (Wiryamartana, 1. Rasa atau pengalaman estetik itu diakibatkan oleh kemampuan seniman menyublimasi bhava emosinya dari tataran psikologis ke tataran estetik. Dalam kreativitas imajinatif itu bhava emosi individual ditransformasikan menjadi rasa, yakni pengalaman estetik yang nonindividual, universal, mengatasi ruang dan waktu, serta keadaan partikular (Wiryamartana, 1. Definisi-definisi di atas sesungguhnya merupakan hasil pemahaman atas rumusan Bharata tentang rasa yang berbunyi Vibhavanubhava-vyabhicari samyogad rasanispattih . Rumusan itu oleh Sharma . diterjemahkan sebagi berikut. Rasa dibawa bersama dengan pengalaman melalui hubungan antara vibhavas, anubhavas, dan Sementara itu. Hartoko . Rasa dilahirkan dari manunggalnya situasi yang ditampilkan bersama dengan reaksi-reaksi serta keadaan batin para pelaku yang terus-menerus berubah. Sejalan dengan rumusan itu Bharata lalu mengajukan rumusan yang lebih bersifat metodis untuk dapat menikmati rasa karya seni, sebagai berikut. Bhavabhinaya sambhandhan sthayibhavamstatha buddhah, asvadayanti manasa tasnan natyarasah 'smrtah. Terjemahannya: Orang berpengetahuan menikmati secara mental sthayibhava yang berhubungan dengan bhava dan abhinaya. Demikianlah rasa berkenaan dengan seni drama mesti ditafsir' (Sharma, 1. Bhava dalam sutra ini lebih pas dipahami dalam arti vibhava. Jadi, untuk dapat menikmati . tau menelit. rasa orang disarankan untuk mencermati relasi antara wibhavasthayibhavaanubhava. Hubungan saling meminjam kaidah antar bidang seni itu tidak hanya terjadi dalam lingkup budaya Bali kuna, tetapi terjadi pula pada kebudayaan Bali yang hidup hingga sekarang. Kiranya hubungan itu menjadi bukan lagi saling pinjam, melainkan saling tindih. Tari Rejang Keraman misalnya, yang memiliki ciri khas dalam gaya pertunjukannya. Citra Bali sebagai destinasi wisata utama dunia tidak lepas dari keunggulan yang dimiliki pulau Bali yang sering diberi julukan sebagai pulau dewata, yakni keindahan alam dan budayanya. Akan tetapi, segala yang indah tidak selalu menarik terutama jika dikaitkan dengan naluri estetik manusia yang berbeda-beda. Oleh karena itu, di balik keindahan alam dan budaya Bali tentu terdapat kekuatan atau spirit, yaitu taksu (Sukawati, 2. Taksu adalah kekuatan sesungguhnya yang berada di balik https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH gemerlapnya berbagai seni tari Bali, termasuk tari rejang. Taksu adalah inner spirit atau kekuatan intrinsik yang menjiwai alam dan kebudayaan Bali, sehingga senantiasa menarik bagi orang-orang untuk menyaksikanya. Pernyataan ini bukan kepercayaan semata tanpa logika, melainkan buah refleksivitas atas kesenian Bali selama ini. Dalam dimensi ruang . , taksu Bali adalah kekuatan intrinsik yang lahir dari pemaknaan masyarakat Bali mengenai ruang kehidupan secara utuh dan menyeluruh. Ruang-ruang kehidupan dibangun melalui implementasi nilai-nilai religusitas dengan memadukan kesadaran kealaman, kemanusiaan, dan ketuhanan dalam prinsip harmoni. Ruang Bali dalam dimensi kealaman . menunjukkan satu kesatuan lingkungan atau ekosistem yang di dalamnya seluruh eksistensi berada dan menjalani kehidupannya mengikuti prinsip-prinsip rta . ukum ala. Dalam dimensi kemanusiaan . Bali menjadi ruang aktivitas seluruh masyarakat Bali berdasarkan prinsipprinsip kerja . Sementara itu, dalam dimensi ketuhanan . bahwa pulau Bali merupakan wilayah suci yang dijaga oleh spirit ketuhanan melalui prinsipprinsip pemujaan . Ketiga prinsip tersebut disatukan dan diharmoniskan dalam spirit persembahan suci . Prinsip yajya dalam kesadaran religius masyarakat Bali sekaligus menetapkan kesadaran tentang waktu . Orang Bali memaknai waktu secara integral dalam dialektika sakral dan profan. Melalui aktivitas yajya inilah taksu Bali dipelihara secara terus menerus. Yajya, baik sebagai ide pemujaan secara umum maupun model-model ritual secara khusus, mencakup seluruh bentuk dan jenis persembahan, kewajiban, doadoa, kurban material, serta pelayanan yang penuh dedikasi dan keikhlasan. Bermula dari ritualisme, yajya berkembang menjadi dimensi-dimensi yang lebih besar dengan cara yang berbeda-beda seiring dengan perkembangan ide-ide kosmologi dan filosofis-religius masyarakat Bali. Yajya dilaksanakan dalam berbagai tingkatan, yaitu nista . , madya . , dan uttama . sesuai dengan kemampuan setiap umat Hindu. Konsep ini menjamin terlaksananya Yajya bagi seluruh lapisan umat Hindu Bali. Agama Hindu dan kebudayaan Bali merupakan satu kesatuan integral yang tak terpisahkan, ibarat jiwa dan raga. Agama Hindu menjadi jiwa yang menjiwai setiap ekspresi kehidupan masyarakat Bali, sementara kebudayaan adalah raganya, wadah aktualisasi nilai-nilai religius dalam bentuk praksis sosial dan estetika. Hindu adalah esensi, sedangkan budaya adalah eksistensinya. Dalam kerangka ini, taksu menjadi prinsip penghubung yang menjembatani keduanya sebagai konsep filosofis-spiritual yang khas Bali. Taksu tidak dapat dipahami secara dangkal sebagai sekadar inner power atau kekuatan batiniah. Lebih dari itu, taksu merupakan manifestasi dari keharmonisan antara aspek sekala dan niskala. Taksu adalah bentuk anugerah transenden yang diperoleh melalui laku spiritual, tapasyA, serta keterlibatan dalam tindakan yajya. Dalam konteks kebudayaan Bali, taksu adalah ruh kosmik yang menghidupkan seni dan tradisi, menjadikan setiap ekspresi budaya bukan sekadar artefak estetika, melainkan wahana sakral untuk mengabdi kepada Tuhan dan menyatukan manusia dengan semesta. Mengacu pada Mantra . taksu adalah landasan utama dari kreativitas religius dan estetik dalam kebudayaan Bali. Ia menjadi sumber lahirnya karya-karya yang sarat dengan nilai keindahan, kemanusiaan, cinta kasih, dan spiritualitas. Hal ini tercermin jelas dalam pementasan Tari Rejang Keraman di Desa Kedis, yang tidak hanya tampil sebagai tari wali dalam upacara Pujawali, tetapi juga sebagai ekspresi spiritual yang hidup dan memiliki taksu yang khas dan otentik, tidak ditemukan dalam bentuk yang sama di wilayah Bali lainnya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Taksu dalam kerangka prinsip yajya terwujud dan terpelihara. Segala bentuk penciptaan budaya dalam masyarakat Bali merupakan bagian dari yajya sebagai pemujaan dan persembahan. Yajya bukan hanya mengandung aspek ritual, tetapi juga menjadi asas filosofis bagi semua tindakan budaya yang bersifat religius. Oleh karena itu, melalui yajya, budaya Bali tidak hanya memperoleh taksu-nya tetapi juga melanggengkan taksu tersebut lintas generasi. Dalam dimensi ini, taksu bukanlah milik personal, melainkan sebuah energi kolektif dan spiritual yang disemayamkan oleh dan untuk komunitas dalam relasinya dengan yang transenden. Dengan demikian, taksu dalam konteks Tari Rejang Keraman bukanlah sekadar aura atau pesona performatif, melainkan sebuah entitas spiritual yang terbentuk dari integrasi nilai-nilai yajya, kedalaman religiusitas, dan kekuatan budaya Bali dalam menjaga keseimbangan kosmis serta keharmonisan sosial melalui ekspresi seni yang hidup dan sakral. Hubungan antara yajya, kebudayaan Bali, dan taksu, setidak-tidaknya dapat dicermati dalam gagasan tiga wujud kebudayaan Koentjaraningrat . , yakni sistem nilai, sistem aktivitas, dan sistem artefaktual. Pada tataran sistem nilai, yajya memberikan landasan filosofis-religius bahwa kebudayaan Bali merupakan buah dari seluruh aktivitas dan kreativitas masyarakat Bali yang ditujukan untuk pemujaan, persembahan, dan pelayanan kepada Tuhan. Di Desa Kedis dan Bali pada umumnya tidak belajar kesenian, seperti menari dan menabuh, hanya sekadar untuk mengembangkan minat, bakat, serta keterampilan individunya, apalagi untuk tujuan komersial. Akan tetapi, secara umum masyarakat Desa Kedis belajar seni agar dapat ikut berpartisipasi . dalam pelaksanaan upacara yajya. Nilai ngayah untuk yajya inilah yang menjadi spirit keberlangsungan seni dan kebudayaan karena sepanjang yajya tetap dilaksanakan. Sukayasa menjelaskan tentang bhava sebagai Bhava adalah konsep utama yang melahirkan rasa. Bhava adalah emosi atau Bhava di sini dipahami sebagai sebab bangkitnya rasa. Tiada rasa tanpa bhava, bukan sebaliknya. Bhava dibedakan menjadi tiga . vibhava, yakni keadaan atau situasi dan objek yang membangkitkan emosi. Keadaan atau situasi yang menjadi latar bangkitnya emosi disebut uddipanavibhava. Sebaliknya, objek yang membangkitkan emosi disebut alambhana vibhava, . sthayibhava adalah emosi dasar yang dominan yang potensial ada laten pada diri manusia, . vyabhicaribhava disebut juga sancaribhava, yakni emosi atau keadaan mental yang bersifat sementara yang timbul sebagai penyerta yang timbul dalam proses bangkitnya rasa. Apabila bhava dipandang sebagai sebab, maka abhinaya dapat dipandang sebagai akibatnya, yakni ekspresi fisik atau fenomena rasa yang segera tampak setelah perkembangan rasa dalam batin. Abhinaya dibedakan atas dua, . anubhava, yakni ekspresi rasa yang dikehendaki hadir, dan . , identik dengan apa yang dimaksud dengan demam panggung, yakni emosi yang terjadi secara spontan dan berefek fisik, antara lain, dapat berupa kebisuan, keringatan, kengerian, perubahan suara, gemetar, pucat, air mata, dan pingsan. Emosi ini tidak dikehendaki hadir dalam pentas seni (Sukayasa, 2. Yajya tidak hanya menjadi spirit pengembangan seni dan budaya di Desa Kedis yang berbasis komunitas, tetapi juga menyediakan ruang bagi aktivitas seni dan budaya itu sendiri. Pelaksanaan yajya dengan tata cara . dan sarana-prasarana . merefleksikan sebuah seni ritual yang begitu kompleks. Prosesi upacara yajya senantiasa melibatkan seni tabuh . isalnya, gong, bleganjur, angklung, dan gende. , seni tari . openg, baris, rejang, dan sebagainy. , wayang . emah, sapuleger, dan lain-lai. , juga seni hiburan semuanya diarahkan untuk memeriahkan upacara. Sarana dan prasarana upacara . dalam wujud sesajen . , bangunan suci untuk ritual . https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan sebagainya, juga memiliki nilai seni yang luar biasa tinggi. Dalam aktivitas yajya inilah, seluruh minat, bakat, dan keterampilan seni masyarakat mendapatkan ruang ekspresi seluas-luasnya. Rasa dalam konteks seni berarti pengalaman estetik, yakni emosi yang dibangkitkan secara estetik oleh lingkungan dan situasi artistitik (Sukayasa, 2. Rasa atau pengalaman estetik itu diakibatkan oleh kemampuan seniman Tari Rejang Keraman di Desa Kedis dalam menyublimasi bhava . mosi individua. dari tataran psikologis ke tataran estetik. Menurut Lansing . menuliskan bahwa seorang aktor dalam seni pertunjukkan dianjurkan untuk melebur diri ke dalam peran mereka dengan cara berserah diri kepada taksu mereka, dan pertunjukan akan menjadi tidak bergairah ketika seniman tari tidak berhasil mendalami karakter yang diperankan atau sering dikatakan kurang metaksu. Konteks Sosial-Religius Pementasan Tari Rejang Keraman Kesenian apapun bentuknya, pada dasarnya merupakan hasil kreativitas seniman. Sebagai hasil olah rasa, cipta, dan karsa seniman, kesenian tidak bisa lepas dari ikatanikatan nilai luhur budaya, termasuk pula estetika yang hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat tempat asal seni yang bersangkutan. Kesenian di Desa Kedis yang merupakan hasil kreativitas seniman yang berbudaya Bali sangat sarat muatan estetik yang dijiwai oleh nilai-nilai budaya yang diikat oleh agama Hindu. Agama Hindu memegang peranan sentral dalam kehidupan budaya masyarakat Bali, bahkan dapat dikatakan sebagai jiwa dari kebudayaan itu sendiri. Nilai-nilai agama Hindu bukan hanya menjadi sumber spiritual, tetapi juga fondasi utama dalam melahirkan dan menjiwai berbagai ekspresi budaya, termasuk dalam ranah kesenian. Kreativitas seni di Bali baik berupa tari, lukisan, arsitektur, maupun upacara tidak bisa dipisahkan dari prinsip-prinsip estetika yang bersumber dari ajaran Hindu. Estetika, atau dalam istilah aslinya dari bahasa Yunani aisthesis, merujuk pada pengalaman keindahan yang dirasakan melalui aktivasi pancaindra (Djelantik, 1. Dalam pandangan Hindu, estetika bukan semata-mata persoalan keindahan visual, melainkan lebih merupakan hasil keterpaduan antara suasana, respons emosional, dan dinamika spiritual dari para pelaku dan penikmatnya. Pandangan ini dijelaskan dalam teks klasik Natyasastra karya Bharata pada abad ke-5, yang menjadi salah satu referensi utama tentang estetika dalam tradisi seni Hindu (Karthadinata, 2. Natyasastra menyebutkan enam komponen utama dalam estetika Hindu yang dikenal sebagai sad angga yang menjadi prinsip dasar dalam penciptaan dan apresiasi seni. Komponen pertama, rupabheda, menekankan pentingnya diferensiasi bentuk sebagai cara untuk menyampaikan karakter visual secara jelas. Kedua, sadrsya, mengacu pada keselarasan antara bentuk dan makna, yaitu bagaimana visualisasi mendukung tema dan emosi yang ingin diungkap. Ketiga, pramana, menyarankan adanya proporsi yang tepat dalam penyusunan elemen seni. Keempat, wanikabangga, berkaitan dengan pemilihan warna dan nuansa yang mendukung suasana batin. Kelima, bhawa, mengandung makna suasana emosional yang dipancarkan dari karya seni. Dan yang terakhir, lawanya, merupakan aspek daya tarik atau pesona yang menghadirkan kharisma dan kekuatan ekspresi. Sumardjo . menyatakan bahwa kekuatan artistik sebuah karya terletak pada kemampuannya membangkitkan resonansi batiniah dalam diri penikmatnya. Keenam prinsip estetika ini secara konsisten diterapkan dalam berbagai ekspresi seni keagamaan Hindu, tidak hanya untuk keindahan lahiriah, tetapi juga untuk menyentuh dan membentuk kesadaran spiritual para pelakunya. Dalam praktiknya, prinsip-prinsip ini sejalan dengan pandangan Dharsono . yang mengidentifikasi tiga tahapan utama dalam pengalaman estetik, pengamatan terhadap unsur-unsur material https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . arna, suara, gera. , pengorganisasian bentuk ke dalam struktur harmonis, dan pemaknaan emosional yang muncul dari interaksi antara persepsi dan pengalaman batin. Keseluruhan pengalaman estetik tersebut menemukan dasar spiritualnya dalam Bhagavadgita X. 2 yang menyatakan sebagai berikut. May avesya mano ye mam nitya-yukta Upasate. Sraddhaya parayopetas te me yuktatama matah Terjemahannya: Dengan melakukan pemusatan pemikiran yang baik kepada-Ku, orang yang sensntiasa lelap dalam menyembah-Ku dengan keyakinan yang mantap. Aku anggap paling sempurna dalam pemahaman Yoga (Darmayasa, 2. Ayat ini menggarisbawahi bahwa proses estetik dalam Hindu adalah jalan menuju pemusatan batin, yang selanjutnya menjadi landasan latihan spiritual. Dengan demikian, estetika dalam Hindu Bali tidak hanya terbatas pada aspek visual atau artistik semata, melainkan menjadi wahana untuk mencapai keharmonisan batin dan keseimbangan Unsur-unsur estetika seperti bentuk, warna, tekstur, dan suasana bukan sekadar elemen teknis, melainkan perangkat untuk memperdalam konsentrasi dan meditasi. Maka, pengalaman seni dalam tradisi Hindu adalah bagian integral dari latihan spiritual yang mengarah pada pengendalian diri dan pemurnian batin melalui praktik estetis yang Desa Kedis, yang terletak di Kecamatan Busungbiu. Kabupaten Buleleng. Bali Utara, merupakan representasi dari komunitas adat Bali yang masih mempertahankan kekuatan struktur sosial-keagamaan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bagian dari masyarakat Bali Aga, struktur sosial desa ini sangat dipengaruhi oleh nilainilai tradisi warisan leluhur yang terkristalisasi dalam lembaga desa pakraman dan pura desa yang berfungsi sebagai pusat kegiatan spiritual dan identitas kolektif masyarakat. Kehidupan keagamaan di desa ini berpusat pada praktik Hindu Dharma yang bersifat ritualistik, komunal, dan simbiosis kosmologis antara manusia, alam, dan Tuhan (Lansing, 1. Dalam konteks upacara Pujawali, masyarakat Desa Kedis mengadakan pementasan Tari Rejang Keraman sebagai bagian dari persembahan suci . kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasi-Nya. Dari perspektif teologi kontekstual Bevans . pementasan Tari Rejang Keraman menunjukkan bagaimana komunitas lokal menafsirkan kembali doktrin agama Hindu dalam konteks pengalaman kultural, geografis, dan sosial mereka sendiri. Proses ini merupakan bentuk kreatif dari reformulasi makna, di mana makna suci tidak lagi dikunci pada teks-teks normatif semata, melainkan dibuka melalui tafsir praksis yang hidup dan berkembang dalam pengalaman umat. Tafsir ini memungkinkan munculnya model teologi yang inklusif, dinamis, dan responsif terhadap realitas umat, termasuk realitas biologis seperti keraman. Secara sosial, pementasan ini memperlihatkan bahwa keberagamaan di Bali tidak bersifat homogen, melainkan sangat tergantung pada konfigurasi lokal yang terus menerus dinegosiasikan melalui diskursus adat, agama, dan tradisi. Konsep desa-kala-patra dalam ajaran Hindu Bali menjadi dasar epistemik yang sah untuk menjustifikasi fleksibilitas ritualistik ini. Dalam kerangka tersebut. Rejang Keraman tidak hanya menjadi pernyataan artistik religius, tetapi juga menjadi arena pembentukan identitas kolektif, penguatan memori budaya, dan media pedagogis spiritual yang ditransmisikan lintas generasi. Kehadiran tarian ini dalam struktur upacara desa juga menunjukkan bahwa masyarakat Bali memiliki sistem teologis yang bersifat partisipatoris dan kosmologis, bukan dualistik. Tidak ada dikotomi kaku antara suci profane, laki-laki perempuan, atau tubuh jiwa. Semuanya diintegrasikan dalam suatu sistem harmoni yang berbasis pada https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH prinsip rwa bhineda dan tri hita karana. Dengan demikian. Tari Rejang Keraman adalah wujud praksis dari teologi keterhubungan, di mana spiritualitas tumbuh dalam relasi antara manusia dengan komunitas, dengan tubuhnya, dengan alam sekitarnya, dan dengan kehadiran Tuhan yang imanen maupun transenden. Gambar 2. Pementasan Tari Rejang Keraman Oleh Penari Laki-Laki (Sumber: Dokumentasi Peneliti Tahun, 2. Pementasan ini juga memiliki nilai politis dalam konteks resistensi budaya terhadap hegemoni tafsir sentralistik yang cenderung mengabaikan dimensi lokal. Dengan tetap mempertahankan Tari Rejang Keraman, masyarakat Desa Kedis menegaskan otonomi ritual dan kedaulatan spiritual mereka sendiri. Ini menjadi penting dalam konteks globalisasi dan pariwisata yang cenderung mengkomodifikasi budaya lokal secara dangkal. Tari Rejang Keraman, dalam hal ini, adalah ruang perlawanan spiritual terhadap banalitas modernitas, sekaligus bentuk penguatan kembali terhadap teologi rakyat . opular theolog. dalam praktik Hindu di Bali. Nilai-nilai filosofis Hindu seperti Satyam . Siwam . , dan Sundaram . tidak hanya menjadi kerangka konseptual dalam menciptakan seni, tetapi juga menjadi landasan spiritual dan moral yang memperkuat posisi seni sebagai bagian integral dari kehidupan keagamaan masyarakat. Nilai Satyam atau kebenaran dalam Tari Rejang Keraman diwujudkan dalam bentuk ketulusan, kejujuran, dan kemantapan hati dalam proses berkesenian. Seni tidak dimaknai sebagai alat ekspresi personal yang bebas nilai, melainkan sebagai wadah untuk mewujudkan moralitas Hindu melalui gerak, busana, dan tata panggung. Lebih lanjut, nilai kebenaran ini menjadi alat evaluatif dalam menentukan bobot estetika dan etika dalam karya tari. Seni dipandang tidak hanya dari segi teknis atau keindahan fisik, tetapi juga dari aspek kedalaman makna dan pesan moral yang dibawa. Selain kebenaran, nilai Siwam atau kesucian juga memainkan peran fundamental dalam realitas seni di Desa Kedis. Kesenian, termasuk Tari Rejang Keraman, diposisikan sebagai bentuk persembahan spiritual kepada Tuhan (Sang Hyang Widhi Was. Dalam ajaran Hindu, seni bukanlah aktivitas sekuler yang berdiri sendiri, melainkan bentuk yajya atau pengorbanan suci, sebagaimana dijelaskan dalam Bhagavad Gita X. 8, di mana Tuhan merupakan sumber dari segala ciptaan dan menjadi pusat pengabdian umat manusia (Darmayasa, 2. Nilai ketiga yaitu Sundaram atau keindahan, menjadi aspek yang menyatukan nilai kebenaran dan kesucian dalam satu bentuk visual dan emosional yang mempesona. Dalam seni Hindu Bali, keindahan tidak berdiri sendiri, melainkan bersifat holistik dan integral dengan nilai moral dan spiritual. Konsep estetik dalam Tari Rejang Keraman terwujud dalam harmoni antara kostum, tata rias, gerak tari, dan musik pengiring, yang mencerminkan dualisme kehidupan antara tegas dan lembut, antara dunia manusia dan dunia spiritual. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Cerita . menegaskan bahwa kostum dan rias Tari Rejang Keraman mencerminkan wujud kosmis yang dualistik dan mengajak manusia untuk menjaga keharmonisan dengan alam. Integrasi nilai Satyam. Siwam, dan Sundaram dalam pementasan Tari Rejang Keraman pada akhirnya menciptakan ruang ekspresi yang tidak hanya estetik, tetapi juga etik dan teologis. Seni yang tunduk pada nilai kebenaran dan kesucian secara otomatis akan mencapai keindahan yang hakiki, sebagaimana ditegaskan oleh Suarka . bahwa keindahan sejati hanya mungkin tercapai apabila seni itu berpijak pada norma-norma etika dan teologi Hindu. Pandangan ini sejalan dengan prinsip yang termuat dalam Atharwaveda XII. yang menyebutkan bahwa enam prinsip dasar Hindu Satya. Rta. Diksa. Tapa. Brahma, dan Yajya menjadi penopang dunia. Dalam konsepsi estetika Hindu, prinsip ini kemudian diringkas dalam trilogi Satyam. Siwam, dan Sundaram yang menjadi poros utama dalam penciptaan dan pelestarian seni di Bali (Sayanacarya, 2. Ketiganya tidak hanya menjadi orientasi dalam berkesenian, tetapi juga sebagai cara membangun harmoni antara bhuana alit . dan bhuana agung . Dengan demikian, seni Tari Rejang Keraman bukan hanya ekspresi budaya, melainkan juga manifestasi dari nilai-nilai utama agama Hindu yang senantiasa mengarah pada kebajikan dan kedamaian Nilai Estetik dan Teologis Pementasan Tari Rejang Keraman Teologi kontekstual merupakan pendekatan reflektif dalam studi keagamaan yang mengaitkan ajaran religius dengan konteks sosial, budaya, dan historis di mana ajaran itu dijalankan (Clarke, 2. Dalam konteks Hindu Bali, teologi kontekstual menjadi penting karena memungkinkan pemahaman dan penghayatan ajaran Hindu yang tidak semata-mata bersumber dari teks suci dalam pengertian ortodoks . ruti dan smut. , tetapi juga dari pengalaman religius dan ekspresi budaya masyarakat Bali sendiri (DAoCosta & Irudayam, 2. Pendekatan ini memperhatikan realitas sosial dan lokalitas tempat keyakinan tersebut dijalankan, sehingga ajaran agama tidak hadir sebagai sistem tertutup yang eksklusif, melainkan sebagai wacana yang hidup dan dinamis. Dalam hal ini, ekspresi budaya lokal seperti tari sakral Rejang Keraman menjadi medan artikulasi nilai-nilai Hindu yang kontekstual, yakni nilai-nilai yang diwujudkan, dimaknai, dan direaktualisasikan dalam kerangka adat, ritus, dan relasi sosial masyarakat Bali (Howell. Tari Rejang Keraman, yang biasanya dipentaskan oleh perempuan muda dalam rangkaian upacara Dewa Yajya atau upacara besar lainnya, memiliki makna spiritual yang sangat mendalam. Tarian ini tidak hanya dimaknai sebagai persembahan artistik kepada Dewa, tetapi juga sebagai ekspresi kolektif dari kesucian dan pembaruan spiritual masyarakat. Dalam teologi kontekstual Hindu Bali, tari ini dapat dibaca sebagai bentuk pengetahuan religius yang tidak dikomunikasikan secara verbal tetapi melalui simbol, gerak, dan keterlibatan tubuh (King, 2. Penari dalam Rejang Keraman tidak hanya berperan sebagai individu yang menari, melainkan sebagai medium sakral yang menyatu dengan kekuatan ilahi. Tubuh penari menjadi wahana manifestasi energi spiritual . , dan seluruh peristiwa ritus menjadi arena transendensi yang menghubungkan manusia dengan kosmos, leluhur, dan para dewa (Narayanan, 2. Nilai-nilai Hindu seperti dharma . ebenaran dan kewajiban mora. , uraddhA . , bhakti . , karma . , dan moksha . terinternalisasi dalam tarian ini melalui pengalaman ritual dan estetika. Struktur koreografi, tata busana, dan pola gerakan dalam Rejang Keraman tidak sekadar memiliki nilai estetis, melainkan juga simbolik dan spiritual. Misalnya, gerakan-gerakan lambat dan penuh kelembutan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mencerminkan nilai uAnti . , sementara kehadiran kolektif para penari mencerminkan prinsip harmoni sosial sebagaimana dijelaskan dalam konsep tri hita karana (Suryani, 2. Dengan demikian. Tari Rejang Keraman menjadi media transmisi nilai-nilai Hindu kepada generasi muda secara non-verbal, sekaligus memperkuat jati diri religius dan kultural masyarakat Bali (Ardhana, 2. Dalam konteks kontemporer, pementasan Rejang Keraman juga menjadi bentuk reaktualisasi nilai-nilai Hindu yang semakin penting untuk ditekankan, terutama dalam menghadapi tantangan modernisasi, pariwisata massal, dan globalisasi budaya (Suwindra & Cipta, 2. Reaktualisasi di sini tidak dimaksudkan sebagai transformasi radikal, melainkan sebagai usaha pembaruan makna yang tetap berakar pada kesakralan dan nilainilai dasar Hindu. Hal ini menjadi tugas teologi kontekstual, menjaga keotentikan nilainilai religius sambil menjawab tantangan zaman. Tari Rejang Keraman, sebagai salah satu bentuk ekspresi sakral yang telah mentradisi, berperan penting dalam memperkuat kesadaran kolektif akan nilai-nilai luhur ajaran Hindu sekaligus menjadi ruang bagi reinterpretasi simbol-simbol agama agar tetap relevan dengan konteks zaman (Winarta, 2. Namun demikian, kecenderungan komodifikasi budaya dan festivalisasi ritus keagamaan dalam industri pariwisata dapat menggerus kesakralan tarian ini jika tidak dikritisi secara teologis. Ketika tarian yang seharusnya bersifat ritus sakral mulai dipentaskan di luar konteks upacara agama, maka maknanya mengalami pergeseran (Putra & Dana, 2. Oleh karena itu, pendekatan teologi kontekstual juga mengandung aspek kritis, yaitu membedakan antara adaptasi kultural yang memperkaya dan deformasi makna yang Kesadaran ini penting untuk memastikan bahwa proses reaktualisasi tidak menjadi sekadar revitalisasi bentuk luar, tetapi juga mempertahankan substansi spiritual dan etis dari nilai-nilai Hindu yang terkandung dalam Tari Rejang Keraman. Tari Rejang Keraman adalah ekspresi teologis yang sangat kuat dalam tradisi Hindu Bali. Tarian ini bukan hanya seni pertunjukan, melainkan wahyu budaya . ultural revelatio. yang mengandung ajaran moral, spiritual, dan sosial. Pendekatan teologi kontekstual memungkinkan kita membaca makna terdalam dari tarian ini sebagai bagian integral dari dinamika religiositas Hindu di Bali, dan sebagai medium yang efektif dalam reaktualisasi nilai-nilai Hindu dalam kehidupan masyarakat yang terus berubah. Dengan penguatan pendidikan berbasis budaya dan spiritualitas lokal. Tari Rejang Keraman dapat terus berfungsi sebagai wahana pembinaan identitas religius dan pelestarian warisan budaya yang sakral dan bernilai tinggi. Dalam kajian keagamaan modern, istilah teologi kontekstual muncul sebagai respons atas kekakuan pendekatan teologis normatif yang sering kali tidak memperhatikan realitas sosial dan kebudayaan umat beragama. Hedges . menyatakan bahwa teologi harus menjelma ke dalam konteks sosial-budaya masyarakat agar tetap relevan dan hidup dalam praktik, bukan hanya sebagai doktrin abstrak. Konsep ini kemudian dikembangkan oleh Jacobs & Jansen . yang menegaskan bahwa teologi bukan sekadar refleksi atas doktrin, tetapi adalah sebuah proses kreatif yang selalu terikat pada konteks tempat ia dirumuskan. Dalam konteks Hindu Bali, teologi kontekstual bukanlah sebuah konsep asing atau baru. Sejak awal, ajaran Hindu memiliki mekanisme internal untuk merespons dinamika sosial dan kultural melalui prinsip desa kala patra, yaitu fleksibilitas dalam pelaksanaan ajaran berdasarkan tempat, waktu, dan kondisi. Ajaran ini memungkinkan Hindu Bali tidak membeku dalam dogma, tetapi senantiasa bertransformasi mengikuti dinamika lokal. Sebagaimana dinyatakan oleh Yasa . , nilai-nilai Hindu di Bali tidak hanya bersifat normatif-teksual, tetapi juga sangat bergantung pada kontekstualitas budaya dan kebijaksanaan lokal . ocal wisdo. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dalam kerangka ini, muncul urgensi untuk mereaktualisasi nilai-nilai Hindu agar tidak hanya bersifat warisan . , melainkan juga menjadi praktik spiritual yang Reaktualisasi di sini dipahami sebagai proses menggali kembali nilai-nilai inti . ssential value. dari ajaran Hindu untuk dimaknai ulang secara relevan sesuai konteks masyarakat kontemporer. Misalnya, pemaknaan terhadap nilai uakti sebagai prinsip keilahian feminin dalam Hindu, yang secara historis kerap terpinggirkan oleh dominasi narasi maskulin dalam praktik ritual, kini dihidupkan kembali melalui keterlibatan perempuan dalam pementasan sakral seperti Tari Rejang Keraman. Ini menjadi contoh konkret bagaimana teologi tidak hanya dijalankan oleh elite agama, tetapi juga oleh komunitas yang memahami spiritualitas sebagai relasi yang hidup antara manusia, alam, dan Tuhan. Tari Rejang Keraman di Desa Kedis. Busungbiu. Buleleng, menjadi medium artikulatif bagi teologi kontekstual Hindu Bali. Tarian ini memperlihatkan bagaimana tubuh menjadi ruang representasi nilai-nilai teologis, dan bukan hanya sebagai objek ritual semata. Dalam konteks ini, tubuh menjadi teks hidup yang mampu menyampaikan pesan sakral, serta menjadi wadah dialektika antara nilai normatif dan realitas sosial. Fenomena keterlibatan perempuan yang sedang menstruasi dalam tari ini, yang secara tradisional dianggap leteh . idak suc. , justru menjadi afirmasi spiritual bahwa kesucian dalam Hindu tidak ditentukan secara biologis, melainkan oleh bhakti . dan uraddhA . Ajaran tentang uakti sebagai energi ilahi feminin termaktub dalam berbagai teks Hindu, seperti Devi Mahatmya. Lalita Sahasranama, dan Markandeya Purana, yang menjelaskan bahwa kekuatan kosmis tidak terpisah dari unsur feminin. Hal ini ditegaskan dalam konsep ArdhanAruvara penggambaran oiva dan PArvat dalam satu tubuh, yang melambangkan keseimbangan antara maskulin dan feminin, serta menyimbolkan bahwa penyatuan dua aspek ini adalah sumber dari keharmonisan kosmis. Maka, ketika masyarakat Hindu di Bali mengafirmasi partisipasi perempuan dalam keadaan apapun dalam ritual sakral, mereka tidak sedang melawan ajaran Hindu, tetapi justru kembali kepada akar-akar teologisnya yang menekankan kesetaraan dan keseimbangan dalam Menurut Nanda & Mohan . reaktualisasi nilai-nilai Hindu membutuhkan pendekatan hermeneutik yang dialogis antara teks dan konteks. Artinya, teks-teks suci Hindu seperti Bhagavad GtA. Manusmuti, dan Upaniad tidak dibaca secara literal, tetapi ditafsirkan ulang sesuai dengan kebutuhan zamannya. Ini pula yang dilakukan dalam Hindu Bali secara praktis teks dibaca melalui narasi lokal, melalui ritual, tari, dan mitosmitos masyarakat. Tari Rejang Keraman, dalam hal ini adalah wujud dari teologi yang tidak dibaca di atas altar akademik, tetapi dirasakan dan dihidupkan oleh masyarakat desa sebagai bagian dari spiritualitas mereka. Hal ini sejalan dengan pandangan Dayananda . tentang theology of life, yakni suatu bentuk teologi yang lahir dari pengalaman hidup umat, bukan sekadar dari refleksi filosofis. Dalam kerangka ini, upacara Pujawali dan pementasan Tari Rejang Keraman dapat dilihat sebagai tafsir teologis masyarakat atas ajaran Hindu yang berbasis pada pengalaman, kebutuhan, dan nilai-nilai lokal. Teologi tidak lagi berada di menara gading, melainkan hadir dalam tarian, dalam tubuh, dalam interaksi sosial dan kultural masyarakat Bali. Reaktualisasi nilai-nilai Hindu melalui praktik teologi kontekstual dalam kajian ini dioperasionalkan dengan menempatkan Tari Rejang Keraman sebagai medan artikulatif tempat ajaran Hindu tidak hanya dipahami secara doktrinal, tetapi diwujudkan secara praksis dalam konteks sosial, ekologis, dan kultural masyarakat Bali. Pendekatan ini mengacu pada kerangka teologi sebagai proses dialogis antara teks ajaran dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pengalaman hidup umat Clarke . DAoCosta & Irudayam . dengan mempertimbangkan prinsip desa kala patra sebagai dimensi hermeneutik lokal (Yasa. Dalam konteks ini, teologi kontekstual tidak hanya menafsirkan relasi manusia dengan Tuhan . , tetapi juga memperhatikan struktur sosial . dan hubungan ekologis . sebagaimana dikandung dalam konsep tri hita karana. Tari Rejang Keraman dipahami sebagai praksis teologis yang menyatukan aspek vertikal dan horizontal dalam ritual, para penari tidak hanya berkomunikasi dengan entitas sakral, tetapi juga memperkuat solidaritas komunitas dan memelihara ruang suci sebagai bagian dari lanskap ekologis yang disakralkan. Kerangka analisis ini membaca tubuh, gerak, dan ritual sebagai teks kultural yang merepresentasikan ajaran seperti uakti, bhakti, dan moksha, serta sebagai respon adaptif terhadap perubahan sosial (Narayanan. Dengan demikian, teologi kontekstual dioperasionalkan untuk menafsirkan praktik budaya lokal sebagai ekspresi teologis yang hidup, kritis, dan transformatif dalam menjawab tantangan modernitas tanpa kehilangan akar spiritualnya. Tantangan dan Implikasi Kontekstual Pementasan Tari Rejang Keraman sebagai bagian dari upacara sakral dalam tradisi Hindu Bali tidak lepas dari dinamika sosial-budaya dan tantangan kontemporer yang terus berkembang. Seiring dengan perubahan sosial yang cepat akibat globalisasi, modernisasi, dan pengaruh media massa, eksistensi tari sakral seperti Tari Rejang Keraman menghadapi sejumlah persoalan serius, baik dari segi praksis ritual, pemaknaan teologis, hingga keberlanjutan tradisi. Salah satu tantangan utama adalah terjadinya pergeseran nilai dan persepsi masyarakat terhadap praktik ritual. Dalam konteks masyarakat desa yang mulai mengalami urbanisasi dan kontak intensif dengan budaya luar, terjadi semacam distansi simbolik . ymbolic distancin. dari generasi muda terhadap nilai-nilai sakral yang melekat pada tari-tari wali seperti Rejang Keraman. Geertz . dalam karya klasiknya The Interpretation of Cultures, menekankan pentingnya makna simbolik dalam praktik keagamaan, namun dalam konteks saat ini, makna simbolik tersebut cenderung mengalami dekonstruksi karena kurangnya proses pewarisan nilai secara efektif. Fenomena ini diperparah oleh reduksi fungsi tarian sakral menjadi sekadar tontonan atau bentuk folklorisasi, yang oleh Turner . disebut sebagai transisi dari communitas ke bentuk representasi simbolik yang kering makna. Di beberapa tempat, termasuk di Bali, tari wali kadang dipentaskan dalam konteks pariwisata, sehingga dimodifikasi bentuk dan maknanya untuk memenuhi selera estetika wisatawan. Hal ini menyebabkan terjadinya sacral dislocation, yaitu pemisahan antara bentuk simbolik dan substansi spiritual yang melatarbelakangi tarian tersebut. Dalam hal ini. Tari Rejang Keraman juga menghadapi ancaman yang sama. Ketika praktiknya tidak lagi dipahami sebagai bagian dari dialektika sakral antara manusia dan Tuhan, melainkan sekadar ritual turun-temurun, maka terjadi semacam pengosongan makna teologis. Implikasinya tidak hanya pada tataran nilai, tetapi juga pada struktur sosialreligius masyarakat desa yang selama ini dibentuk oleh ritual kolektif. Putusnya pemahaman teologis menyebabkan generasi muda bersikap apatis, dan ini mengancam regenerasi penari sakral, serta berpotensi memunculkan krisis keberlanjutan tradisi . ultural discontinuit. Seperti yang dijelaskan oleh McDermott . dalam Singing to the Goddess: Poems to Kali and Uma from Bengal, tubuh perempuan dalam tradisi Hindu tidak selamanya dilihat sebagai sumber ketidaksucian, melainkan sebagai wadah energi kosmis ketika dipahami dalam kerangka sakralitas uakti. Implikasi dari reinterpretasi ini sangat signifikan dalam membangun teologi Hindu yang inklusif dan responsif terhadap realitas sosial kontemporer. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dalam pendekatan teologi kontekstual, seperti dikemukakan oleh Bevans & Schroeder . , setiap praktik keagamaan harus terbuka terhadap reinterpretasi berdasarkan konteks sosio-kultural yang melingkupinya. Oleh karena itu. Tari Rejang Keraman dapat menjadi medium refleksi teologis mengenai bagaimana nilai-nilai Hindu tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan dapat disesuaikan dengan konteks keberagamaan umatnya di masa kini. Di sisi lain, tantangan eksternal seperti intervensi regulasi pemerintah terhadap bentuk dan waktu pelaksanaan upacara, serta tekanan dari sektor pariwisata dan industri kreatif, juga menjadi faktor penting yang memengaruhi keberlangsungan ritual ini. Dalam beberapa kasus, komunitas adat mengalami dilema antara mempertahankan otentisitas ritual dan memenuhi ekspektasi pariwisata yang menuntut modifikasi demi daya tarik estetika. Fenomena ini disebut oleh Chatterjee . sebagai strategi apropriasi, yaitu cara masyarakat lokal bernegosiasi dengan kekuatan eksternal untuk mempertahankan otonomi budaya mereka. Implikasi kontemporer lainnya adalah pada bidang pendidikan dan pelestarian budaya. Tari Rejang Keraman sebagai ekspresi spiritual sekaligus budaya perlu masuk dalam kurikulum pendidikan agama Hindu secara Jika tidak, pemahaman terhadap praktik-praktik sakral akan terus melemah. Menurut Sudharta . revitalisasi pemahaman agama Hindu di Bali harus dilakukan dengan pendekatan yang tidak hanya dogmatis, tetapi juga naratif dan dialogis agar nilainilai keagamaan dapat diterima oleh generasi muda dalam bahasa yang mereka pahami. Dari segi teologis, pementasan Tari Rejang Keraman juga membawa implikasi penting terhadap cara pandang umat Hindu terhadap kesucian dan kemurnian. Ketika tubuh perempuan dalam keadaan menstruasi justru menjadi saluran energi spiritual yang sah dalam upacara Pujawali, maka ini mengubah paradigma keagamaan dari yang bersifat eksklusif menuju paradigma yang lebih inklusif. Ini adalah bentuk transgresi spiritual yang sahih, yang menandakan adanya pergeseran teologi dari yang berbasis tabu menuju teologi yang berbasis bhakti dan kesadaran spiritual. Dengan demikian, tantangan kontemporer dalam pementasan Tari Rejang Keraman tidak dapat diatasi hanya dengan konservasi fisik atau pelestarian Diperlukan upaya reartikulasi makna, revitalisasi nilai-nilai, serta reinterpretasi teologis secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan gagasan living theology yang menempatkan praktik spiritual bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai sumber daya iman yang hidup dan terus berkembang (Simarmata, 2. Realitas kontemporer menunjukkan bahwa praktik ini menghadapi tekanan signifikan akibat perubahan sosial dan arus modernitas. Berdasarkan hasil observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan pemangku adat dan pemuda di wilayah Buleleng . ditemukan bahwa antusiasme generasi muda terhadap partisipasi dalam tari-tari wali mengalami penurunan drastis. Banyak di antara mereka menganggap praktik tersebut sebagai kewajiban tradisional yang tidak lagi memiliki relevansi dengan kehidupan modern. Sebagian lainnya justru merasa malu atau enggan berpartisipasi karena stigma sosial terkait menstruasi masih kuat melekat dalam persepsi mereka, meskipun dalam konteks Rejang Keraman, perempuan dalam masa haid justru dianggap memiliki daya spiritual tinggi. Penurunan minat ini diperparah oleh fenomena komodifikasi budaya, di mana Tari Rejang Keraman mulai ditampilkan dalam konteks hiburan wisata tanpa landasan ritus yang sah. Studi lapangan pada 2023 oleh Widiastuti et al. , . menunjukkan bahwa beberapa kelompok seni lokal diminta untuk memodifikasi gerakan dan busana tari wali demi menarik wisatawan, yang berimplikasi pada pergeseran makna dari ritual ke estetika. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Komodifikasi ini menimbulkan gejala dekontekstualisasi makna, ketika simbolsimbol sakral tercerabut dari akar kosmologis dan teologisnya (Ardhana, 2. Hal ini mengakibatkan apa yang disebut Setyawati . sebagai fragmentasi communitas, di mana kohesi sosial berbasis nilai-nilai sakral mulai runtuh. Tantangan ini dalam perspektif teologi kontekstual, mengindikasikan perlunya strategi reaktualisasi nilai secara lebih substantif. Teologi kontekstual, sebagaimana dikembangkan oleh Bevans & Tiede . , menekankan bahwa teologi bukanlah struktur dogmatis yang beku, melainkan praksis reflektif yang responsif terhadap konteks sosial. Dalam hal ini. Tari Rejang Keraman dapat dipahami sebagai medium teologis yang hidup . iving theolog. di mana tubuh, ruang, dan simbol menjadi wahana dialektika antara teks suci, pengalaman kultural, dan kondisi sosial kontemporer. Ini mengandaikan perlunya reinterpretasi spiritual yang berbasis pada narasi lokal . ndigenous narrative. , bukan sekadar reproduksi liturgi klasik. Menghadapi krisis regenerasi dan pergeseran makna Tari Rejang Keraman, solusi strategis harus berbasis komunitas dan pendidikan agama Hindu yang transformatif. Contohnya, inisiatif Sekaa Rejang Remaja di Desa Pakraman Bebetin (Bulelen. sejak 2022 menggabungkan pelatihan tari wali dengan pendekatan naratif-teologis, melibatkan pemangku dan guru agama dalam pengajaran makna filosofis dan kosmologis. Hasilnya, partisipasi generasi muda meningkat hingga 43% dalam dua tahun Forum Pewarisan Adat Bebetin . menunjukkan bahwa regenerasi makna lebih penting dibanding reproduksi bentuk semata. Dari aspek pendidikan formal, reformasi kurikulum agama Hindu diperlukan agar mencakup dimensi praktik dan konteks budaya Menurut Sudharta . menekankan pentingnya living narratives dalam pembelajaran agama Hindu, sementara Puspitawati . menunjukkan bahwa kolaborasi sekolah dan desa adat dalam festival spiritual dapat memperkuat pewarisan lintas generasi. Tari Rejang Keraman secara teologis menantang tabu menstruasi dengan mereposisi tubuh perempuan sebagai manifestasi kekuatan oakti, sebagaimana dipahami dalam tradisi Tantra (Kurniasari & Nurmila, 2. Ini membuka ruang bagi teologi inklusif yang mengedepankan pemaknaan spiritual otentik ketimbang puritanisme. Namun, tekanan komodifikasi dari sektor pariwisata dan regulasi pemerintah menimbulkan dilema bagi komunitas adat. Dalam konteks ini, strategi apropriasi budaya yang dikemukakan oleh Sutrisna . perlu dimaknai sebagai negosiasi kreatif, bukan kompromi nilai, yang mensyaratkan dialog antarpemangku kepentingan berbasis etika budaya dan partisipasi. Revitalisasi Tari Rejang Keraman tidak cukup melalui konservasi bentuk, tetapi memerlukan living theology Bevans & Schroeder . sebagai pendekatan dinamis yang mengintegrasikan tradisi, konteks sosial, dan kesadaran spiritual kolektif. Tari ini bukan sekadar warisan, tetapi medan dialektika antara sakralitas dan perubahan zaman. Kesimpulan Tari Rejang Keraman merupakan ekspresi sakral yang tidak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan teologis dalam konteks tradisi Hindu Bali. Sebagai bagian integral dari upacara Dewa Yajya, tarian ini memainkan fungsi penting dalam menjembatani relasi antara manusia dengan dimensi transenden, baik kepada Dewa, leluhur, maupun kekuatan kosmik yang dipercayai hadir dalam ruang sakral ritus. Melalui pendekatan teologi kontekstual. Tari Rejang Keraman dapat dipahami bukan semata sebagai bentuk ritual formal, tetapi sebagai wahana artikulatif nilai-nilai Hindu yang diwujudkan melalui tubuh, gerak, simbol, dan keterlibatan Nilai-nilai seperti dharma, uraddhA, bhakti, dan moksha diinternalisasi secara non-verbal oleh masyarakat melalui partisipasi kolektif dalam tarian ini. Dalam konteks https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kekinian. Tari Rejang Keraman juga menjadi medium reaktualisasi nilai-nilai Hindu di tengah tantangan modernisasi, sekularisasi, dan komodifikasi budaya. Pendekatan teologi kontekstual memungkinkan terjadinya dialog antara warisan religius dan realitas sosial kontemporer tanpa harus kehilangan akar sakralitasnya. Dengan menjaga konteks, fungsi, dan nilai spiritualnya. Tari Rejang Keraman tetap dapat berfungsi sebagai media pendidikan kultural-religius bagi generasi muda, sekaligus sebagai ruang pelestarian dan pembaruan makna ajaran Hindu dalam masyarakat Bali yang terus mengalami Dengan demikian. Tari Rejang Keraman bukan hanya warisan budaya, melainkan manifestasi nyata dari teologi hidup masyarakat Hindu Bali, sebuah bentuk penghayatan iman yang berpijak pada pengalaman, ritus, dan relasi sosial, serta membuka ruang bagi pemaknaan ulang yang kontekstual dan berkelanjutan. Daftar Pustaka