Faizin, dkk / Tropical Animal Science 7. :271-276 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 Tropical Animal Science. November 2025, 7. :271-276 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PENGARUH SUPLEMENTASI MADU KLANCENG DAN TEPUNG MAGGOT TERHADAP PRODUKTIVITAS PUYUH THE EFFECT OF SUPPLEMENTATION OF STONE HONEY AND MAGGOT FLOUR ON QUAIL PRODUCTIVITY Wahid Nur Faizin1. Eudia Christina Wulandari2. Purwadi2 Mahasiswa Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia 2Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia E-mail: eudia19990. christina@gmail. ABSTRAK Pemanfaatan pakan alami seperti imunostimulan dan sumber protein alternatif telah terbukti meningkatkan performa unggas secara efisien. Penelitian ini mengkaji pengaruh madu klanceng pada fase starter dan tepung maggot Black Soldier Fly (BSF) dalam pakan terhadap produktivitas puyuh lokal (Coturnix coturnix japonic. Penelitian dilakukan di Boyolali pada 24 Desember 2024 Ae 9 Februari 2025 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, melibatkan 100 ekor puyuh betina. Perlakuan terdiri dari kontrol (T. dan penambahan tepung maggot 5% (T. , 10% (T. , dan 15% (T. , serta madu klanceng 1% melalui air minum pada fase starter. Pemeliharaan dilakukan sejak umur 1 hari hingga 48 hari. Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan. PBB. FCR. SGR, umur bertelur, dan mortalitas. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Duncan ( = 5%). Hasil menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata terhadap hampir seluruh parameter, kecuali Perlakuan T3 memberikan hasil terbaik. Disimpulkan bahwa madu klanceng dan tepung maggot efektif digunakan sebagai pakan fungsional dalam meningkatkan produktivitas puyuh. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pada perlakuan P2 memberikan pengaruh nyata terhadap produktivitas puyuh. Disimpulkan bahwa kombinasi madu klanceng dan tepung maggot efektif digunakan sebagai pakan fungsional untuk meningkatkan performa dan efisiensi pemeliharaan puyuh secara berkelanjutan. Kata Kunci: Puyuh. Madu klanceng. Tepung maggot. Produktivitas ABSTRACT The use of natural feed such as immunostimulants and alternative protein sources has been proven to efficiently improve poultry performance. This study examined the effect of Klanceng honey in the starter phase and Black Soldier Fly (BSF) maggot meal in feed on the productivity of local quail (Coturnix coturnix japonic. The study was conducted in Boyolali on December 24, 2024AeFebruary 9, 2025, using a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, involving 100 female quail. The treatments consisted of control (T. and the addition of 5% (T. , 10% (T. , and 15% (T. maggot meal, as well as 1% klanceng honey through drinking water in the starter phase. Maintenance was carried out from 1 day to 48 days of age. The parameters observed included feed consumption. PBB. FCR. SGR, egg-laying age, and mortality. Data were Faizin, dkk / Tropical Animal Science 7. :271-276 analyzed using ANOVA and Duncan's test ( = 5%). The results showed that the treatments significantly affected almost all parameters, except mortality. Treatment T3 gave the best results. It was concluded that klanceng honey and maggot meal were effective as functional feed to increase quail productivity. The results showed that administration in the P2 treatment significantly impacted quail productivity. The combination of klanceng honey and maggot meal was effective as a functional feed to improve the performance and efficiency of quail farming sustainably. Keywords: Quail. Stingless bee honey. Maggot meal. Productivity PENDAHULUAN Burung puyuh (Coturnix coturnix japonic. merupakan salah satu jenis unggas kecil yang banyak dibudidayakan karena memiliki potensi tinggi dalam menghasilkan telur dan daging. Keunggulan budidaya puyuh terletak pada ukuran tubuhnya yang kecil, masa pertumbuhan yang relatif singkat, serta kemampuan produksi telur yang tinggi, yaitu sekitar 250 hingga 300 butir per ekor per tahun dengan rata-rata berat telur 10 gram (El-Katcha et al. , 2. Selain itu, kebutuhan lahan yang tidak terlalu luas menjadikan puyuh sebagai pilihan ternak yang efisien dan cocok dikembangkan pada lahan terbatas. Namun, dalam praktiknya, budidaya puyuh tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama pada fase starter. Pada masa awal pemeliharaan ini, puyuh sangat rentan terhadap infeksi penyakit dan stres lingkungan. Tingkat kematian pada fase starter bahkan dapat mencapai 80% akibat infeksi bakteri seperti Salmonella pullorum (Poernomo, 2. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kekebalan tubuh puyuh sejak dini guna menekan angka mortalitas. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah madu klanceng (Trigona spp. ), yaitu jenis madu alami yang kaya akan antioksidan, flavonoid, dan senyawa bioaktif lain yang terbukti memiliki efek imunostimulan (Astawa et al. , 2019. Saifulhaq. Di samping peningkatan imunitas, aspek pakan juga menjadi faktor penting dalam Pakan menyumbang sekitar 60Ae70% dari total biaya produksi (Anggitasari et al. , 2. , sehingga pemilihan bahan pakan yang efektif dan ekonomis sangat diperlukan. Salah satu bahan pakan alternatif yang saat ini banyak dikembangkan adalah tepung maggot dari larva lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucen. , yang memiliki kandungan protein kasar tinggi, sekitar 35%, serta sumber lemak dan energi yang baik (Widjastuti et al. , 2. Maggot juga dikenal sebagai bahan pakan ramah lingkungan karena mampu menguraikan limbah organik dibudidayakan (Van Huis, 2. Pemberian madu klanceng melalui air minum pada fase starter dan penambahan tepung maggot dalam pakan diharapkan dapat memberikan efek sinergis dalam meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas puyuh pada fase berikutnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kombinasi madu klanceng dan tepung maggot terhadap performa produksi puyuh lokal hingga mencapai fase bertelur secara optimal. MATERI DAN METODE Penelitian peternakan puyuh petelur milik warga di Desa Kaligentong. Kecamatan Gladagsari. Kabupaten Boyolali, mulai tanggal 24 Desember 2024 hingga 9 Februari 2025. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faizin, dkk / Tropical Animal Science 7. :271-276 yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Setiap unit diisi oleh 5 ekor puyuh betina lokal, sehingga total puyuh yang digunakan sebanyak 100 ekor. Perlakuan penelitian menggunakan pakan komersial produksi PT. SARI ROSA, yang diformulasikan secara iso protein dengan penambahan tepung maggot Black Soldier Fly (BSF) pada berbagai level, yaitu 5% (T. , 10% (T. , dan 15% (T. , sedangkan T0 digunakan sebagai kontrol tanpa maggot. Tabel 1. Kandungan nutrisi pakan komersial Kandungan Presentase (%) Kadar air Energi metabolisme Protein kasar Lemak kasar Serat kasar Abu Kalsium 0,9-1,1% Foskor 0,8% Sumber: PT. SARI ROSA Seluruh kelompok perlakuan diberikan madu klanceng 1% melalui air minum selama fase starter untuk meningkatkan daya tahan tubuh puyuh. Pakan komersial yang digunakan memiliki kandungan protein sebesar 22% dan diberikan sekali sehari sesuai dengan kebutuhan pakan harian puyuh berdasarkan fase Tabel 2. Kandungan nutrisi tepung maggot BSF Air Presentase (%) Abu 11,30% Lemak kasar 12,07% Serat kasar 3,41% Protein Kasar Keterangan: Berdasarkan analisis proksimat di UNDIP. Pencatatan beberapa parameter yaitu konsumsi pakan harian, pertambahan bobot badan mingguan, (FCR), pertumbuhan spesifik (SGR), umur pertama kali puyuh bertelur, dan angka mortalitas. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA), dan jika terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan, dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf signifikansi 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasakan hasil penelitian pengaruh madu klanceng dan tepung produktivitas puyuh didapatkan hasil sebagai Tabel 1 menyajikan data rata-rata konsumsi pakan harian puyuh selama masa Konsumsi pakan merupakan salah satu aspek penting yang memengaruhi proses pertumbuhan, di mana pakan yang dikonsumsi secara optimal akan mendukung performa dan produktivitas puyuh. Tabel 3. Data Konsumsi Pakan. Pertumbuhan Berat Badan (PBB). Konversi Pakan. Sustainable Growth Rate (SGR). Umur Prtama Kali Bertelur. Mortalitas Parameter Perlakuan Konsumsi pakan 11,954 12,090 12,196 12,290a PBB 163,808c 171,483b 181,974a 183,373a Konversi pakan 3,380 3,269 3,117 3,115a Umur pertama kali bertelur 43,6a 42,4b 42,6b 42,4b Mortalitas 0,08 0,04 0,08 0,04 Keterangan: Superskrip huruf kecil berbeda dalam garis yang sama merupakan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,. Faizin, dkk / Tropical Animal Science 7. :271-276 Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, penambahan tepung maggot dalam pakan memberikan pengaruh yang signifikan (P < 0,. terhadap tingkat konsumsi pakan harian puyuh. Rataan konsumsi tertinggi ditemukan pada perlakuan T3 sebesar 12,290 g/ekor/hari dan yang terendah adalah T0 sebesar 11,954 g/ekor/hari. Menurut ullere et al. menyatakan bahwa pemberian tepung maggot BSF tidak menurunkan konsumsi pakan. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa konsumsi pakan pada perlakuan T3 berbeda nyata dibandingkan T2. T1, dan T0. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh rendahnya energi metabolisme tepung maggot, yang mendorong puyuh mengonsumsi pakan dalam jumlah lebih besar untuk memenuhi kebutuhan energinya. Selain itu, aroma khas dari tepung maggot . pakan sehingga mendorong peningkatan konsumsi. Tabel 1 menyajikan rata-rata pertambahan bobot badan (PBB) puyuh selama masa PBB merupakan indikator penting untuk menilai keberhasilan dalam pemeliharaan puyuh, karena peningkatan bobot badan yang optimal menunjukkan bahwa proses pemeliharaan berlangsung dengan baik. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa suplementasi tepung maggot dalam ransum berpengaruh nyata (P < 0,. terhadap PBB Rataan tertinggi dicapai oleh T3 dan yang terendah adalah T0 . ,808 . silva et al. menyatakan bahwa pemberian maggot BSF dalam ransum puyuh secara signifikan meningkatkan pertambahan bobot. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa PBB pada T3 dan T2 tidak berbeda nyata, namun keduanya lebih tinggi secara signifikan dibandingkan T1 dan T0. Hal ini kemungkinan besar berkaitan dengan kandungan protein hewani dan asam amino dalam maggot yang sangat berperan dalam pembentukan jaringan Sejalan dengan Barragyn-Fonseca et al. Hermetia illucens merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mendukung pertumbuhan optimal unggas. Tabel 1 menyajikan data rata-rata konversi pakan FCR puyuh selama masa Konversi pakan merupakan parameter penting yang menunjukkan efisiensi penggunaan pakan dalam menghasilkan pertambahan bobot badan. Nilai FCR yang lebih rendah menandakan efisiensi pakan yang lebih baik dalam proses pertumbuhan puyuh. Berdasarkan hasil analisis ragam, terdapat pengaruh nyata (P < 0,. dari perlakuan terhadap nilai FCR. Nilai FCR terbaik . erendah dan paling efisie. diperoleh pada T3 sebesar 3,115 dan nilai tertinggi terdapat pada T0 sebesar 3,380. Menurut Schiavone et al. menyatakan bahwa pemberian maggot BSF dapat memperbaiki FCR tanpa menganggu kesehatan atau performa puyuh. Menurut hasil uji Duncan. FCR pada T3 dan T2 tidak berbeda nyata satu sama lain, namun keduanya secara signifikan lebih baik daripada T1 dan T0. Hal ini sejalan dengan hasil konsumsi dan pertambahan bobot badan yang tinggi pada kelompok tersebut. Widjastuti et al. melaporkan bahwa tepung maggot dapat digunakan sebagai pengganti sumber protein lain dalam ransum unggas untuk meningkatkan efisiensi pakan. Tabel 1 menyajikan data rata-rata laju pertumbuhan SGR puyuh pada fase grower selama masa penelitian. SGR merupakan indikator yang menggambarkan kecepatan pertumbuhan harian secara relatif terhadap bobot awal. Nilai SGR yang tinggi mencerminkan performa pertumbuhan yang optimal selama fase pemeliharaan. Analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P < 0,. terhadap nilai laju pertumbuhan spesifik (SGR). Perlakuan T3 menghasilkan SGR tertinggi . ,856%) dan terendah T0 . ,311%). Menurut Elahi et al. menyatakan bahwa penambahan tepung maggot pada ransum unggas dapat meningkatkan laju pertumbuhan harian secara signifikan di banding kelompok Dari hasil uji Duncan, diketahui bahwa nilai SGR pada T3 dan T2 tidak berbeda nyata, namun keduanya lebih tinggi dibandingkan T1 dan T0 secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa pemberian maggot berperan dalam mempercepat pertumbuhan puyuh. Temuan ini Faizin, dkk / Tropical Animal Science 7. :271-276 diperkuat oleh Elahi et al. yang melaporkan bahwa tepung maggot efektif dalam meningkatkan pertumbuhan harian unggas secara nyata. Tabel 1 menyajikan data rata-rata umur pertama kali puyuh mulai bertelur selama masa Umur awal bertelur merupakan indikator penting dalam menilai kematangan reproduksi puyuh, di mana semakin cepat puyuh mencapai fase produksi, maka efisiensi budidaya dinilai semakin baik. Analisis ragam memperlihatkan adanya pengaruh signifikan (P < 0,. terhadap umur pertama kali puyuh bertelur. Puyuh pada perlakuan T3 dan T1 mulai bertelur paling cepat pada usia 42,4 hari dan T0 paling lambat pada usia 43,6 hari. Menurut Mwaniki et al. menyatakan bahwa pemberian tepung maggot dalam pakan ayam petelur tidak mengganggu mempercepat onset produksi telur dibanding Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa umur bertelur pada T3. T2, dan T1 tidak berbeda nyata satu sama lain, namun semuanya lebih cepat dibandingkan dengan T0. Percepatan ini diduga akibat asupan nutrisi yang lebih baik, khususnya protein hewani dan asam amino esensial dari maggot. Sesuai dengan temuan Mwaniki et al. , pemberian maggot hingga level tertentu dapat mempercepat onset produksi telur. Tabel 1 menyajikan data rata-rata mortalitas puyuh selama masa penelitian. Mortalitas merupakan salah satu parameter pemeliharaan, karena tingkat kematian yang rendah mencerminkan kondisi lingkungan, manajemen, dan pakan yang mendukung kelangsungan hidup puyuh secara optimal Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan (P > 0,. terhadap tingkat mortalitas Rataan mortalitas tertinggi ditemukan pada T0 dan T2 sebesar 0,08%, sementara T1 dan T3 hanya sebesar 0,04%. Menurut Wirawan . menyatakan bahwa tingkat kematian ayam dianggap wajar apabila tidak melebihi 5%, sehingga pemeliharaan dalam penelitian ini dapat dikategorikan berhasil. Tingkat kematian yang sangat rendah ini Rendahnya mortalitas juga diduga karena adanya efek imunostimulan dari madu klanceng pada fase starter dan senyawa antimikroba dalam tepung maggot. Menurut Mobius Farms . , larva BSF mengandung chitin, asam laurat, dan peptida antimikroba yang membantu menjaga keseimbangan mikroflora usus dan menekan pertumbuhan bakteri patogen. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian madu klanceng pada fase starter dan pemeliharaan secara signifikan meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas puyuh. Kombinasi ini efektif, berkelanjutan, dan layak diterapkan dalam budidaya puyuh. Level terbaik diperoleh pada penambahan maggot 15%, yang menghasilkan performa produksi DAFTAR PUSTAKA