KESKOM. : 97-105 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal. Pengaruh Health Coaching terhadap Peningkatan Perilaku Pencegahan Tuberkulosis di Kabupaten Tegal Health Coaching Implementation on Improving Tuberculosis Prevention Behaviors in Tegal Regency Evi Supriatun1. Uswatun Insani2 STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi ABSTRACT ABSTRAK Tuberculosis is the deadliest infec ous disease in the world. The most prevalence is in Asia and Africa. The study aimed to And out the eAect of health coaching on tuberculosis preven on behaviors for pa ents diagnosed with the disease. The research used Quasy Experiment pre-pos est with control group on 68 respondents consisted of treatment and control group. It was started by having validity and reliability test of research ques onnaires, providing health coaching as one of the health promo on strategies in nursing divided into 4 sessions, performing univariate test to describe the research variables and bivariate test. independent t-test and pair t-test. The results independent t test showed that mean of tuberculosis behavior of interven on group is higher more than 8,88 control group. The eAect of health coaching was a signiAcant diAerence in tuberculosis preven on behaviors with p value = 0,000. The coaching presented to pa ents with tuberculosis included physical preven on behaviors and improving body endurance by ge ng stress management. To sum up, health coaching can increase tuberculosis preven on behaviors signiAcantly for pa ents with tuberculosis who are being treated. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi nomor satu yang menyebabkan kema an ter nggi di dunia. Prevalensi penyakit tuberkulosis terbanyak berada di wilayah Asia dan Afrika. Peneli an ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari health coaching terhadap perilaku pencegahan tuberkulosis dari pasien yang terdiagnosa tuberkulosis. Peneli an ini menggunakan desain Quasy Experiment pre-post test with control grup pada 68 responden yang terdiri dari kelompok perlakuan dan kontrol. Tahapan metode peneli an ini dimulai dari uji validitas dan realiabilitas kuesioner peneli an. Selanjutnya, kelompok intervensi akan diberikan health coaching sebagai salah satu strategi promosi kesehatan dalam keperawatan yang terbagi menjadi 4 sesi. Selanjutnya dilakukan uji univariat untuk mendeskripsikan variabel peneli an. Selain itu juga dilakukan uji bivariat yang terdiri dari independen t-test dan pair t-test. Hasil independent t test menunjukkan rerata perilaku post inteven on pencegahan tuberkulosis pada kelompok perlakuan lebih nggi 8,88 dibandingkan dengan kelompok kontrol. Adanya pengaruh health coaching menunjukkan pengaruh yang bermakna untuk meningkatkan perilaku pencegahan tuberkulosis sesuai dari hasil pair t test dengan p value 0,000. Proses health coaching yang diberikan pada pasien tuberkulosis melipu perilaku pencegahan secara Asik dan peningkatan daya tahan tubuh dengan menggunakan manajemen stress karena proses penerimaan pasien dalam menerima perubahan kondisi Asiknya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa health coaching dapat meningkatkan perilaku pencegahan tuberkulosis secara bermakna pada pasien tuberkulosis yang sedang mengalami Keywords : tuberculosis preven on behaviors, health coaching. Kata Kunci :perilaku pencegahan tuberkulosis, health coaching. Correspondence : Evi Supriatun Email : evisupriatun@gmail. com, 085647749676 A Received 10 Maret 2021 A Accepted 20 Maret 2021 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: h ps://doi. org/10. 25311/keskom. Vol7. Iss1. Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 Interna onal License . p://crea vecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium Keskom. Vol. No. 98 April 2021 PENDAHULUAN Peningkatan kesehatan masyarakat menjadi salah satu fokus utama untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Pengendalian kesehatan masyarakat dilakukan melalui beberapa upaya diantaranya pencegahan, deteksi, dan respon terhadap permasalahan kesehatan yang terjadi masyarakat (Kandel et al. Peningkatan sistem pelayanan keperawatan yang komprehensif selaras dengan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDG. pada masyarakat. Implementasi pencapai tersebut memperha kan elemen yang mempengaruhi kesehatan manusia baik nutrisi dan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Beberapa penyakit menular masih menjadi kasus yang masih banyak terjadi di masyarakat dan membutuhkan penanganan yang fokus dan berkelanjutan (Morton et al. , 2. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi nomor satu yang menyebabkan kema an ter ggi di dunia (Floyd et al. , 2. Prevalensi penyakit tuberkulosis terbanyak berada di wilayah Asia dan Afrika. Angka kejadian penyakit tuberkulosis di dunia pada tahun 2018 mencapai 10 juta orang atau 132/100. penduduk, dimana angka kejadian tersebut telah mengalami penurunan 2% dari angka kejadian 2017 (MacNeil et al. , 2. Indonesia menempa urutan ke 3 negara yang paling banyak penduduknya yang mengalami tuberkulosis sebesar 8%, setelah negara India . %) dan Cina . %) (WHO, 2. Jumlah penduduk Kabupaten Tegal yang terdiagnosis BTA posi f sebesar 160,9 per 000 penduduk (Kementrian Kesehatan RI, 2. Kejadian tuberkulosis di Kabupaten Tegal mengalami peningkatan 15,24%, dimana kasus tuberkulosis pada tahun 2018 sebanyak 161,4/100. 000 penduduk meningkat pada tahun 2019 sebanyak 186/100. 000 penduduk (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2. Namun berdasarkan Laporan Program Tuberkulosis beberapa puskesmas di Kabupaten Tegal, penemuan kasus tuberkulosis pada tahun 2019 Ae 2020 mengalami penurunan karena adanya kebijakan penanganan Pandemi Corona Virus Disease. Kasus total tuberkulosis di Puskesmas Kaladawa menunjukkan adanya penurunan dimana pada tahun 2019 terdapat 61 kasus dan pada tahun 2020 terdapat 43 kasus. Penemuan kasus di Puskesmas Dukuhturi juga mengalami penurunan dimana pada tahun 2019 terdapat 50 kasus dan pada tahun 2020 menurun menjadi 35 kasus. Pendidikan kesehatan diperlukan oleh pasien tuberkulosis untuk membantu dalam meningkatkan informasi penyakit tuberkulosis agar dapat memahami keluhan yang dialaminya dan upaya pencegahan agar dak menular pada orang di sekitarnya (Ato & Sis, 2. Kurangnya informasi masyarakat tentang penularan tuberkulosis, menyebabkan masyarakat memerlukan bimbingan dalam pelaksanaan upaya pencegahan penularan penyakit tuberkulosis (Waheed et al. , 2. Pemberian coaching h p://jurnal. atau bimbingan untuk meningkatkan perilaku pasien dalam pencegahan penyakit tuberkulosis belum pernah dilakukan dalam promosi kesehatan. Sebagian besar coaching lebih banyak dilakukan pada pengobatan tuberkulosis. Sementara itu, pasien tuberkulosis dan keluarganya membutuhkan arahan agar penyakit yang dialami pasien dak menimbulkan penularan pada anggota keluarganya maupun orang lain di sekitarnya (Liu et al. Upaya penanganan permasalahan kesehatan yang terjadi masyarakat harus di ngkatkan dengan merubah perilaku dari suatu populasi tertentu di masyarakat yang berisiko. Sebagian besar intervensi yang dilakukan berfokus melalui edukasi kesehatan Namun, diperlukan intervensi yang dapat meningkatkan keyakinan dan pandangan kesehatan sehingga mampu merubah perilaku kesehatan yang dak sesuai atau berisiko membahayakan kesehatan (Gu macher et al. , 2. Hal tersebut berkaitan erat dengan berbagai upaya pengendalian tuberkulosis yang sudah diterapkan di Indonesia sebagian besar masih mengimplementasikan pendidikan kesehatan dengan upaya peningkatan pengetahuan diantaranya menggunakan edukasi terstruktur dan terapi personal tentang pengobatan Intervensi penanganan tuberkulosis lainnya menggunakan terapi konseling. Pemilihan terapi coaching dibandingkan dengan konseling dikarenakan terapi coaching memberikan kesempatan kepada pasien tuberkulosis untuk menentukan perubahan perilaku yang diharapkan sesuai dengan kesadaran dan target pencegahan tuberkulosis yang diinginkan. Adapun terapi konseling, target perubahan perilaku pasien ditentukan oleh perawat sehingga pasien tuberkulosis memiliki beban untuk mematuhinya. Adanya kesadaran yang alami dari pasien dalam menentukan target perubahan perilaku untuk mencegah menjadi tanggung jawab yang lebih ringan dilakukan dengan kesadaran bahwa keinginan untuk berubah berawal dan bersumber dari diri sendiri dan keluarga sehingga perawat hanya membantu mencapai perubahan perilaku tersebut. Berdasarkan hasil peneli an menjelaskan health coaching yang diberikan pada pasien tuberkulosis mempengaruhi eAkasi diri pasien tuberkulosis dalam menjalani pengobatan Dengan peningkatan eAkasi diri pada pasien memberikan keyakinan untuk pasien dalam menyelesaikan regimen terapeu k pengobatan tuberkulosis dalam jangka waktu yang cukup lama (Zharfan Hanif et al. , 2. Health coaching merupakan bentuk edukasi kesehatan dalam upaya meningkatkan kesehatan pada pasien dalam mencapai kesembuhan sesuai dengan target yang disampaikan, melalui proses pendampingan yang terstruktur (Lin et al. , 2. Penerapan health coaching dalam pengobatan tuberkulosis diharapkan membantu pasien tuberkulosis menerapkan perilaku pencegahan tuberkulosis di lingkungan tempat nggalnya Evi Supriatun, et al EAect of Health Coaching on Tuberculosis Preven on Behavior Pengaruh Health Coaching terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis sehingga mengurangi adanya penularan tuberkulosis. METODE Jenis peneli an ini adalah Quasy Eksperimen dengan desain pre-post test with control grup. Peneli an ini dilakukan pada pasien tuberkulosis yang sedang dalam masa pengobatan tuberkulosis, yang berada di wilayah kerja Puskesmas Dukuhturi. Kaladawa dan Talang Kabupaten Tegal. Jumlah sampel sebanyak 68 respon dengan kriteria inklusi yaitu pasien berusia 17 sampai 59 tahun, pasien tuberkulosis paru yang terdiagnosis BTA Posi f, menjalani pengobatan Tuberkulosis kurang dari 5 bulan, dak mengalami gangguan dalam berbicara atau pendengaran, nggal di wilayah Kabupaten Tegal. Adapun kriteria eksklusinya yaitu pasien dengan komplikasi penyakit HIV/AIDS atau terklasiAkasi pada TB-MDR. Instrumen peneli an yang digunakan pada peneli an ini berupa Kuesioner tentang Perilaku Pencegahan Tuberkulosis yang telah melalui hasil uji validitas dan reliabilitas yang dilakukan pada 40 responden di Puskesmas Pagiyanten Kabupaten Tegal. Hasil uji validitas kuesioner perilaku pencegahan tuberkulosis menunjukkan 15 item pertanyaan valid dengan nilai r terendah 0,341 dan nilai r ter nggi 0,497. Adapun hasil uji reliabilitas pada kuesioner perilaku, ditunjukkan dengan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,843 yang berar reliabel. Skor perilaku disajikan dalam bentuk mean dan Standar Deviasi. Intervensi health coaching diberikan selama 4 sesi dengan waktu sekitar 30 sampai 60 menit, sedangkan pada kelompok kontrol hanya diberikan penyuluhan. Pelaksanaan health coaching ini dibimbing oleh peneli dengan kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan pasien, dengan kualiAkasi pendidikan Magister Keperawatan dan memiliki konsentrasi dalam penyakit tuberkulosis sehingga dapat membantu pasien ke ka terdapat hambatan selama melaksanakan health Peneli memiliki ketrampilan melakukan proses coaching dimana selama proses pemberian coaching, peneli selalu menggunakan metode yang diinovasi dengan varia f sehingga ke ka pasien merasa mengalami penurunan mo vasi, peneli dapat membantu pasien berpikir kembali tentang manfaat pengobatan dan perawatan terhadap kesehatannya. Peneli juga memahami dengan keadaan emosional pasien dan meminimalisir adanya depresi pada pasien yang dapat berdampak pada keluarga, sehingga peneli harus mampu menunjukkan sikap dengan baik selama pemberian coaching. Selain itu, peneli berupaya memahami perkembangan yang ditunjukkan pasien baik secara Asik atau psikologis, memahami apa yang dimaknai oleh pasien dengan kondisinya, dan harapan pasien tentang kesehatannya. Peneli melakukan health coaching melalui 4 . Peneli memiliki ketrampilan melakukan coaching pada pasien dengan basic kelimuan terapi komplementer yang dipelajari selama 6 bulan. Peneli mempelajari teknik dan ketrampilan yang dipahami dengan baik dalam memberikan coaching pada pasien dengan penyakit kronis. Pada sesi pertama pemberian health coaching, peneli memberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan tuberkulosis. Selanjutnya pada pertemuan berikutnya, sesuai dengan kesepatan dengan pasien dan keluarga, peneli melanjutkan sesi kedua dengan mengajarkan ketrampilan untuk mencegah tuberkulosis. Setelah diberikan edukasi secara psikomotor pada sesi kedua dan ke ga tentang ketrampilan pencegahan tuberkulosis, pada sesi ke empat, peneli melakukan evaluasi raport perilaku pencegahan penularan penyakit tuberkulosis berdasarkan ndakan yang dilakukan oleh pasien tuberkulosis dan keluarga. Selanjutnya hasil peneli an ini dilakukan uji univariat untuk menganalisis data karakteris k respon. Hasil peneli an ini juga dilakukan uji bivariate berupa independent t test untuk mengetahui perbedaan antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol, dan pair t test untuk membandingkan rata-rata nilai pre test dengan post test. HASIL Peneli an ini menganalisis beberapa aspek diantaranya karakteris k responden dan variabel perilaku pencegahan tuberkulosis dari pasien tuberkulosis yang masih dalam masa pengobatan tuberkulosis. Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Tabel 1 menjelaskan karakteris k responden pada kelompok perlakuan dan kontrol yang didominasi usia yang berada pada tahapan dewasa. Usia terendah pada masing-masing kelompok berada pada tahapan remaja. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis dapat menular pada usia yang lebih muda. Adapun usia tertua pada kedua kelompok termasuk dalam tahapan lansia dimana lansia berisiko mengalami penularan tuberkulosis karena daya tahan tubuh yang rendah. Penularan penyakit tuberkulosis dapat menular karena kurangnya upaya pencegahan yang diterapkan oleh individu yang mengalami Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Riwayat Penyakit Tuberkulosis di Lingkungan Rumah dan Tingkat Pendapatan Responden j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. 100 April Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki riwayat kontak penularan dari pasien tuberkulosis di sekitar daerah tempat nggalnya. Paparan penularan tuberkulosis berasal dari kontak dengan anggota keluarga yang mengalami tuberkulosis, tetangga dan teman dalam lingkup pekerjaan. Hal tersebut disebabkan pasien tuberkulosis yang menularkan dak pernah menggunakan masker dalam berak vitas sehingga penularan dengan orangorang di sekitarnya dapat terjadi. Hampir keseluruhan dari responden peneli an berada pada ngkat perekonomian menengah ke bawah, dimana pendapatannya di bawah rata-rata Upah Minimum Pekerja (UMR) di wilayah Kabupaten Tegal. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan responden sebagai penjual makanan keliling, pedagang kecil di Pasar, petani, buruh dan dak Kondisi perekonomian keluarga responden yang sangat minim dalam memenuhi kebutuhan menjadi kendala dalam meningkatkan upaya pencarian informasi dan modiAkasi perilaku kesehatan yang tepat dengan menyesuaikan kondisi responden. Analisis Bivariat Tabel 3. Distribusi Rerata Perilaku Responden tentang Pencegahan Penularan Tuberkulosis . Tabel 3 menunjukkan rerata perilaku responden tentang pencegahan penyakit tuberkulosis pada kelompok perlakuan lebih nggi dibandingkan dengan rerata pada kelompok kontrol. Faktor yang mempengaruhinya diantaranya pengalaman memberikan perawatan pada anggota keluarga yang pernah mengalami tuberkulosis sehingga lebih memahami hal-hal yang harus dilakukan dan yang dak dianjurkan untuk kesehatan pasien tuberkulosis. Sebagian responden yang lainnya, anggota keluarga yang berperan sebagai care giver pasien tuberkulosis memiliki pengetahuan yang baik tentang tuberkulosis karena perannya di masyarakat sehingga pernah mendapatkan informasi cara pencegahan tuberkulosis. Tabel 4 Distribusi Rerata Perilaku Responden tentang Pencegahan Penularan Tuberkulosis . Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa setelah dilakukan analisis dengan pair t test perilaku pencegahan tuberkulosis pada kelompok perlakuan mengalami meningkat secara bermakna, dibandingkan dengan rerata perilaku sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku responden setelah diberikan health coaching pencegahan tuberkulosis selama 4 h p://jurnal. Perilaku pencegahan tuberkulosis pada kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan sedikit jika dibandingkan dengan rerata perilaku pada kelompok perlakuan. Pengaruh pemberian health coaching pada kelompok perlakuan meningkatkan perilaku responden secara bertahap sehingga responden dapat memahami dan mengaplikasikan dalam ak Atas sehari-harinya untuk menerapakan upaya pencegahan PEMBAHASAN Penyakit tuberkulosis dapat dialami oleh se ap individu yang berisiko tertular, baik remaja, dewasa atau lansia. Hasil peneli an ini mendeskripsikan bahwa kelompok usia remaja dapat mengalami penyakit tuberkulosis. Kelompok remaja yang berisiko mengalami penularan tuberkulosis dikarenakan rendahnya pengetahuan yang dimiliki remaja tentang bahaya penyakit tuberkulosis. Selain itu, faktor lain yang memberikan kontribusi adanya penularan penyakit tuberkulosis pada kelompok remaja karena faktor lingkungan yang berada di daerah pedesaan dengan akses informasi yang dak berdekatan dengan pusat pelayanan Kesehatan (Marquez et al. , 2. Akibat yang dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan yaitu dak mengenali manifestasi klinis dari penyakit tuberkulosis sehingga dak segera mendapatkan penanganan dan upaya pencegahan tuberkulosis agar dak menular pada keluarga atau orang lain (Chiang et al. , 2. Kelompok usia dewasa dan lansia juga berisiko mengalami penularan penyakit tuberkulosis. Sebagian besar kelompok usia dewasa mengalami penularan dari lingkungan pekerjaan. Holden et al. , . menjelaskan bahwa faktor yang paling sering mempengaruhi terjadinya penularan disebabkan karena banyak pekerja yang dak menggunakan alat perlindungan diri masker saat bekerja, sehingga adanya mikroba yang berada di sekitar lingkungan tempat kerjanya dapat menginfeksi individu tersebut. Rodriguez et al. , . menambahkan pada kelompok pekerja memiliki resiko tertular penyakit tuberkulosis karena adanya paparan dari pekerja lainnya yang mengalami tuberkulosis namun dak menggunakan masker dan ndakan pencegahan Sedangkan pada kelompok usia lansia banyak tertular tuberkulosis karena adanya kontak langsung dengan penderita tuberkulosis di rumahnya. Apabila terdapat anggota keluarga yang mengalami tuberkulosis, dan dak menerapkan prinsipprinsip dari pencegahan tuberkulosis, maka penularan dapat terjadi pada anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien tuberkulosis (Siagian, 2. Keluarga perlu memperha kan pecegahan tuberkulosis pada lansia karena termasuk dalam kelompok yang rentan mengalami tuberkulosis karena penurunan daya tahan tubuh dan penurunan fungsi tubuh (Di Gennaro et al. , 2. Evi Supriatun, et al EAect of Health Coaching on Tuberculosis Preven on Behavior Pengaruh Health Coaching terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis Tingginya penularan tuberkulosis yang diakibatkan oleh kontak yang terjadi dengan anggota keluarga terdiagnosis tuberkulosis, disebabkan karena sebagian besar dak memahami adanya tanda dan gejala penyakit tuberkulosis yang Penularan penyakit tuberkulosis di dalam se ng keluarga lebih banyak ditularkan dari orang tua pada anaknya (Alshukairi et al. , 2. Adanya riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya penularan pada orang lain di sekitarnya (Suharmadji et al. , 2. Hal tersebut juga didukukung dengan keadaan lingkungan responden dengan ven lasi dan pencahayaan yang kurang sehingga dapat menjadi tempat berkembangbiaknya mycobacterium tuberculosis. Kondisi rumah yang sehat se daknya memiliki 15% pencahayaan sehingga sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah. Hal tersebut perlu diperha kan agar kuman penyebab tuberkulosis dak hidup di dalam rumah (Monintja et al. , 2. Faktor perekonomian juga mempengaruhi resiko penularan penyakit tuberkulosis. Berdasarkan hasil peneli an ini, sebagian besar termasuk dalam kelompok menengah ke atas dengan pendapatan sesuai dengan UMR dan di bawah UMR. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan yang dimiliki responden terbatas untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Dengan pendapatan yang minimal, responden sangat membutuhkan arahan dari perawat untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang ada sehingga dapat memenuhi kebutuhan tubuh untuk meningkatkan kesehatannya. Dukungan keluarga sangat diperlukan karena kondisi Asik pasien yang mengalami tuberkulosis sangat mempengaruhi pekerjaannya. Sebagian besar pasien yang menurun produk Atasnya atau dak bekerja, memiliki rasa enggan untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatannya akibat penurunan kemampuan Anansial yang dimilikinya (Dorji et al. , 2. Perilaku responden tuberkulosis dalam melakukan pencegahan agar dak menular kepada orang lain sangat dipengaruhi oleh dukungan yang ditunjukkan oleh keluarganya. Pasien tuberkulosis yang menujukkan perilaku yang baik dalam pencegahan tuberkulosis mendapatkan perha an keluarga dalam pelaksanaan manajemen terapeu k tuberkulosis. Dengan pengetahuan yang dimiliki oleh keluarganya, pasien tuberkulosis diberikan dukungan untuk tetap mematuhi pengobatan Hal tersebut sesuai dengan yang dijelaskan oleh Sunaryo et al . bahwa perha an keluarga untuk mengingatkan pasien tuberkulosis untuk menggunakan masker, mengingatkan dalam mematuhi pengobatan dan perilaku yang dak sehat seper menghindari merokok, mempengaruhi kebiasaan pasien tuberkulosis untuk menerapakan pola hidup yang lebih sehat. Peneli an ini menerapkan intervensi health coaching untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku pencegahan tuberkulosis agar menjadi komitmen pasien tuberkulosis agar membantu pencegahan penularan tuberkulosis pada orang lain. Namun, beberapa faktor dalam masa pengobatan tuberkulosis memerlukan pendampingan dan bimbingan sehingga perilaku pencegahan tuberkulosis dapat dipertahakan dalam kebiasaan sehari-hari pasien. Beberapa pasien tuberkulosis mengalami efek samping pengobatan seper mual dan penurunan nafsu makan. Gejala tersebut menurunkan kepatuhan pasien dalam pengobatan yang ru n dan berkelanjutan sesuai dengan ketentuan dari pelayanan kesehatan. Mo vasi diri pasien tuberkulosis membutuhkan bimbingan dan arahan dari petugas pelayanan kesehatan karena manifestasi klinis yang dirasakannya (MaAoRuA et al. , 2. Health coaching merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan dalam peningkatan kesehatan dengan tujuan sesuai dengan target yang diharapkan pasien dan pemberi perawatan atau care giver pada keluarga pasien. Pencapaian tujuan tersebut harus bersama-sama dirumuskan dengan care giver keluarga agar pencapaian target yang disepaka dapat dimonitor oleh Dengan adanya kerja sama dengan keluarga diharapkan dapat meningkatkan status kesehatan pasien (Lin et al. , 2. Health coaching yang dilakukan pada peneli an ini membantu pasien tuberkulosis dan keluarga mencapai perilaku pencegahan tuberkulosis agar dak menular kepada orang lain. Pelaksanaan health coaching ini dilaksanakan sebanyak 4 sesi dengan waktu kurang lebih 30 sampai 60 menit disesuaikan dengan hal-hal yang diperlukan pada keluarga. Perilaku pencegahan tuberkulosis yang diharapkan diantaranya penerapan e ka batuk yang baik, penggunaan masker, kebiasaan mencuci tangan yang benar, menjaga kebersihan lingkungan dan modiAkasi lingkungan dengan pencahayaan dan ven lasi yang Zharfan Hanif et al . menjelaskan bahwa health coaching dapat mempengaruhi mo vasi pasien tuberkulosis dengan cara mengukur kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang diharapkan, sehingga metode yang akan digunakan dalam proses health coaching tersebut juga disepaka antara perawat dengan pasien tuberkulosis. Untuk mencapai perilaku pasien yang mampu mencegah tuberkulosis, pasien tuberkulosis dila h untuk membuat keputusan dalam menyelesaikan masalah kesehatah yang dialaminya dengan memper mbangkan keuntungan dari menerapkan perilaku pencegahan tuberkulosis diantaranya menutup mulut dan hidung ke ka batuk dan bersin dan menggunakan masker dengan benar. Dalam proses health coaching, pasien tuberkulosis dapat menyampaikan hal-hal yang merasa menjadi hambatan dalam pengobatan tuberkulosis melipu perasaan yang bosan dalam mengkonsumsi obat-obatan, kebingungan dalam pemakaian obat-obatan lain yang digunakan, dan meningkatkan keyakinan untuk kesembuhan dalam pengobatan j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. 102 April Peran perawat sebagai pemberi terapi coach berupaya merubah cara pandang anggota keluarga dari pasien menjadi bagian yang pen ng dalam pemberian terapi. Hal tersebut memberikan dampak besar bagi pasien, dimana anggota keluarga hanya memberi dukungan saja dalam masa pengobatan pasien menjadi salah satu peran utama dalam keterlibatan perubahan Asik dan psikologis yang dialami pasien. Proses coaching yang melibatkan peran anggota keluarga sebagai monitoring perilaku pasien dan care giver utama pasien, secara dak langsung membantu pasien dapat mengungkapkan aspek Se ap perilaku yang dak maksimal dilakukan oleh pasien, akan difeed back langsung oleh anggota keluarga terkait dengan penyebab dan kendalanya sehingga anggota keluarga dapat langsung memahami yang dirasakan oleh pasien baik perasaan sedih, ke dakberdayaan dan marah dengan perubahan keadaan yang dialaminya (Herbert-Goldenberg et al. Adanya peningkatan hubungan yang lebih kuat antara pasien dan anggota keluarga membantu peningkatan mo vasi pasien dalam pengobatan karena pola fungsi keluarga yang berubah secara Ceksibel berkaitan dengan perubahan peran dan kemampuan yang dialami oleh pasien. Perawat membantu anggota keluarga dalam mengeksplore kemampuan yang dapat dilakukan oleh pasien agar dalam melakukan peran dalam keluarga sesuai dengan kondisi kesehatannya. Anggota keluarga dapat menggali apa yang menjadi interest pasien dalam melakukan ak Atas yang dilakukannya di rumah, diantaranya berolahraga ringan dengan anak-anaknya dan meluangkan waktu dengan keluarganya untuk berkomunikasi. Hal tersebut dapat mengurangi adanya konCik yang terjadi pada keluarga akibat perubahan peran dan anggota keluarga dapat memberikan mo vasi secara perlahan pada pasien untuk merubah perilaku yang diharapkan pada tahapan proses coaching (McGoldrick & Hardy, 2. Melalui pendekatan tersebut, keluarga juga meningkatkan mo vasi pasien tuberkulosis dengan memberikan reinforcement maupun reward dari perubahan perilaku yang dilakukan oleh pasien diantaranya kepatuhan dalam pengobatan dan melakukan perilaku yang sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah penularan pada anggota keluarga yang lain. Penggunaan health coaching dalam peneli an ini diaplikasikan juga dalam pencapaian tujuan untuk menurunkan stress yang dialami oleh pasien tuberkulosis. Hal tersebut terjadi pada pasien-pasien tuberkulosis yang masih belum menerima bahwa dirinya terdiagnosis tuberkulosis. Selain itu penggunaan manajemen stress juga digunakan dalam proses health coaching pada pasien tuberkulosis yang mengalami tanda dan gejala yang berat seper batuk darah sehingga memiliki keyakinan dirinya dak dapat disembuhkan. Mohammedhussein et al . menjelaskan bahwa sebagian besar pasien tuberkulosis mengalami masalah psikologi berupa kecemasan dan depresi. Hal tersebut disebabkan karena adanya s gma nega f dari orang di sekitarnya. Perawat perlu melakukan manajemen stress agar dak mempengaruhi adanya penurunan daya tahan tubuh Intervensi health coacing pada pasien tuberkulosis dimulai dengan pemberian edukasi kesehatan untuk memberikan pemahaman pada pasien tuberkulosis tentang pemahaman yang jelas dari keluhan dan masalah kesehatan yang dialami oleh Dengan memfasilitasi pasien dalam melakukan perilaku hidup yang sehat, pasien tuberkulosis dapat melakukan selfmanagement dengan baik. Adanya pengelolaan manajemen diri yang baik pada pasien dapat tercapai dengan adanya pembekalan yang diberikan oleh perawat dengan dilengkapi fasilitas yang diperlukan oleh pasien untuk dipraktekkan secara mandiri (Early et al. , 2. Pada peneli an ini, perawat mempraktekkan ketrampilan pencegahan tuberkulosis yang dapat dilakukan di rumah dengan memberikan beberapa perlengkapan yang diperlukan. Proses health coaching melalui beberapa tahapan yaitu Goal . Reality . Op on . dan Will ( ndaka. Proses penahapan yang jelas memberikan pemahaman bagi pasien dalam mengiku proses coaching sampai dengan melakukan dengan kesadaran sendiri perilaku sehat yang Pada tahap awal pasien menentukan tujuan dari mengiku health coaching dimana tujuan pasien mengharapkan adanya kesembuhan dengan penerapan perilaku sehat. Tahap kedua, pasien menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi kesehatannya dalam mencapai target kesembuhan dan perilaku sehat yang diterapkan. Tahap selanjutnya, pasien menentukan hal-hal yang posi f yang harus diterapkan dan menghindari perilaku yang kurang sesuai dengan kesehatan. Tahap yang terakhir, pasien dengan kesadaran sendiri menerapkan perilaku yang mendukung kesehatannya (Sadik, 2. Dalam mencapai tahap pengelolaan diri yang baik pada pasien tuberkulosis perawat juga menekankan beberapa hal pen ng agar pasien selalu fokus dengan ak Atas yang dilakukannya dengan disesuaikan dengan kemampuannya. Sakakibara et al . menjelaskan bahwa prinsip focusing on pa ent ac va on membantu pasien dalam meningkatkan kesehatannya dengan memiliki keinginan untuk melakukan ak Atas yang dilakukannya tanpa memaksakan kemampuan Asiknya. Pasien juga diajarkan terkait dengan pengetahuan fungsi organ tubuh yang berpengaruh terhadap ak Atas yang dilakukannya sehingga dapat menerapkan perilaku sehat. Dengan berfokus pada ak Atas, pasien juga diajarkan untuk mempertahakan mood yang baik sehingga dapat mengelola perasaan yang dialaminya dengan lebih memiliki keyakinan mencapai kesembuhan. Selain itu, pasien juga dianjurkan untuk j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Evi Supriatun, et al EAect of Health Coaching on Tuberculosis Preven on Behavior Pengaruh Health Coaching terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis menyampaikan hambatan psikologis yang dirasakannya baik berupa kecemasan maupun kebingungan pada anggota keluarga atau perawat. Pasien juga dapat menyampaikan keluhan secara Asik yang dirasakan mengganggu seper batuk, terasa le h, dan kemampuan ak Atas yang kurang. Hal tersebut membantu perawat dalam memberikan informasi yang dibutuhkan oleh Langkah yang segera diberikan pasien meningkatkan sikap posi f pada pasien untuk selalu menentukan ndakan yang lebih bermanfaat untuk kesehatannya. Proses evaluasi dari health coaching dapat dilakukan secara bertahap untuk mengetahui pencapaian tujuan pasien dan menguatkan kembali perilaku pencegahan tuberkulosis yang sudah dilakukan oleh pasien tuberkulosis dan keluarganya. Proses evaluasi dilakukan secara subyek f dengan tanya jawab dan meminta pasien tuberkulosis mempraktekkan kembali ketrampilan yang telah diajarkan perawat. Secara observasi, health coaching juga dilakukan berdasarkan pengamatan dari lingkungan di sekitar tempat nggal pasien. Dengan adanya proses health coaching dan evaluasi pencapaian target pasien secara terstruktur, dapat meningkatkan mo vasi pasien karena semakin mengetahui kemampuan yang dimilikinya dengan mereCeksikan dengan pencapaian tujuan yang telah tercapai (Jones et al. , 2. KESIMPULAN Karakteris k responden yang diteli pada peneli ini mendeskripsikan bahwa sebagian besar usia responden termasuk dalam tahap perkembangan dewasa dan ngkat pendapatan yang berada pada kelompok menengah ke bawah. Berdasarkan uji bivariat diketahui bahwa terdapat perubahan perilaku responden antara sebelum dan sesudah diberikan health coaching tentang pencegahan tuberkulosis. Selain itu, juga didapatkan hasil bahwa adanya perbedaan rerata yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol pasien tuberkulosis. Perawat pemegang tuberkulosis dapat meningkatkan ketrampilan dalam mengatasi stress yang dialami oleh pasien tuberkulosis sehingga dapat menggunakan manajemen stress yang tepat pada pasien tuberkulosis sesuai dengan karakteris k masalah emosional yang dialami pasien tuberkulosis. Selain itu, keluarga juga perlu memberikan dukungan pada pasien tuberkulosis agar pasien tuberkulosis memliki mo vasi yang nggi dalam melakukan pengobatan tuberkulosis. KonCik Kepen ngan Tidak ada konCik kepen ngan dalam peneli an ini. Ucapan Terima Kasih Peneli an ini didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi RI melalui Program Hibah Peneli an Dosen Pemula (PDP) tahun 2020. Peneli juga mengucapkan terima kasih kepada STIKes Bhak Mandala Husada Slawi yang telah memfasilitasi pelaksanaan peneli an ini khususnya dalam proses administrasi dan perizinan pelaksanaan peneli an ini. Peneli mengucapkan terima kasih atas izin dan kerja sama yang terjalin dengan Puskesmas Pagiyanten. Dukuhturi. Kaladawa dan Talang Kabupaten Tegal yang menjadi mitra dalam proses peneli an ini. ETHICAL CLEARANCE Dalam pelaksanaan peneli an ini, peneli memper mbangkan e ka dengan memper mbangkan berbagai hal dari sebelum pelaksanaan peneli an sampai dengan akhir dari kegiatan intervensi dan pengumpulan data. Peneli melakukan uji e k pada Komite E k Peneli an Kesehatan Rumah Sakit Islam Kendal dengan nomor surat 24/KEPK/RSI/i/2020. DAFTAR PUSTAKA