Ganesha Civic Education Journal Volume 7. Number 2. Oktober 2025, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index HARMONI DALAM KEBERAGAMAN: INTERNALISASI NILAI MEMENJOR DAN NGELAWAR DALAM PERAYAAN NATAL SEBAGAI PEREKAT IDENTITAS MASYARAKAT MULTIKULTUR DI DESA BLIMBINGSARI. JEMBRANA Dewa Ketut Satria Anggita 1 * . I Putu Windu Mertha Sujana 2. I Wayan Budiarta 3 Universitas Pendidikan Ganesha. Indonesia 1,2,3 ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 02 Mei 2025 Accepted 04 Oktober 2025 Available online 30 Oktober Penelitian ini bertujuan untuk menggali proses internalisasi nilai-nilai budaya lokal Bali melalui tradisi Memenjor dan Ngelawar dalam perayaan Natal di komunitas Kristen Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi deskriptif kualitatif untuk memahami dinamika sosial dan budaya yang muncul dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Data dikumpulkan melalui Kata Kunci: observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Internalisasi Nilai. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang Memenjor. Ngelawar. Pancasila. Multikultur meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan Keywords: pemeriksaan anggota . ember chec. Hasil penelitian menunjukkan Internalization of Values. bahwa tradisi Memenjor dan Ngelawar tidak hanya menjadi bentuk Memenjor. Ngelawar. pelestarian budaya, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran nilaiPancasila. Multicultural nilai Pancasila, penguatan persatuan, serta pengokohan identitas budaya dalam masyarakat multikultural. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai budaya lokal dalam pendidikan karakter dan nasionalisme, serta merekomendasikan studi lanjutan terhadap praktik serupa di komunitas lain yang memiliki latar budaya beragam. ABSTRACT This study aimed to explore the internalization of Balinese local cultural values through the Memenjor and Ngelawar traditions during the Christmas celebration among the Balinese Christian community. A qualitative descriptive ethnographic approach was employed to capture the social and cultural dynamics embodied in these practices. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and document The data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman, which involved data reduction, data display, and conclusion drawing with verification. Data validity was ensured through source triangulation and member checking. The findings reveal that the Memenjor and Ngelawar traditions serve not only as forms of cultural preservation but also as practical means of instilling Pancasila values, fostering unity, and strengthening cultural identity within a multicultural society. This study highlights the importance of integrating local cultural heritage into character and civic education and suggests further research on similar cultural integration practices in other diverse communities. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: satria. anggita@student. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. Pendahuluan Indonesia sebagai negara kepulauan dikenal luas karena kekayaan dan keragaman budaya, etnis, serta agama yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Di tengah pluralitas ini. Bali sering dianggap sebagai miniatur Indonesia dalam hal keragaman sosial dan budaya yang harmonis. Meskipun dikenal secara global sebagai pusat spiritualitas Hindu. Bali juga menjadi tempat bertemunya berbagai identitas keagamaan yang hidup berdampingan. Salah satu representasi paling menarik dari akulturasi dan inklusivitas budaya tersebut dapat ditemukan di Desa Blimbingsari, yang terletak di Kecamatan Melaya. Kabupaten Jembrana. Desa Blimbingsari merupakan pemukiman umat Kristen Protestan pertama di Bali yang dibentuk pada tahun 1939, sebagai bagian dari strategi transmigrasi religius masa kolonial (Affandy, 2. Meskipun berbasis keimanan Kristen, masyarakat di desa ini tetap mempertahankan akar budaya Bali secara utuh. Hal ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan spiritual, termasuk dalam bentuk arsitektur gereja, pola komunikasi masyarakat, serta perayaan hari raya keagamaan. Gereja Pniel, misalnya, dirancang dengan mengadopsi elemen arsitektur pura Bali seperti atap bertingkat atau meru, ukiran tradisional, dan tata letak halaman yang disakralkan (Fatlolona et al. , 2. Lebih jauh lagi, praktik-praktik budaya seperti membuat penjor atau tiang bambu melengkung yang dihiasi dengan janur dan berbagai hasil bumi menjelang Natal, mengenakan pakaian adat Bali, menyajikan lawar atau makanan khas umat Hindu Bali yang terbuat dari olahan daging cincang, serta memainkan gamelan dalam liturgi dan perayaan Natal menunjukkan keterbukaan komunitas terhadap warisan budaya lokal (Turker et , 2023. Viana et al. , 2. Penjor yang biasanya diasosiasikan dengan upacara Hindu Galungan, dalam konteks masyarakat Kristen di Desa Blimbingsari, direinterpretasi sebagai simbol pengorbanan, syukur, dan pengharapan dalam iman Kristen, tanpa kehilangan nilai estetik dan spiritual lokalnya. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptif masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai religius universal ke dalam wadah lokal yang akrab dan bermakna secara kultural. Tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ekspresi iman dan budaya, integrasi ini juga berperan penting dalam memperkuat identitas kolektif masyarakat Blimbingsari sebagai "komunitas enclaved" yang memiliki daya lentur dalam menghadapi arus modernisasi dan homogenisasi Blimbingsari bahkan telah berkembang menjadi desa wisata berbasis komunitas, yang menarik perhatian wisatawan maupun peneliti karena keberhasilannya dalam mengharmoniskan agama dan budaya lokal tanpa menciptakan polarisasi identitas (Rahayu, 2. Dengan demikian. Blimbingsari tidak hanya merepresentasikan model akulturasi yang harmonis, tetapi juga berperan sebagai laboratorium sosial yang memperlihatkan relevansi kearifan lokal dalam memperkuat kohesi sosial, memperluas toleransi lintas iman, dan membangun identitas religius yang kontekstual di tengah masyarakat multikultur. Perayaan Natal di Desa Blimbingsari. Kabupaten Jembrana. Bali, tidak lagi hanya dipahami sebagai peristiwa religius yang berlangsung dalam ruang ibadah. Seiring waktu. Natal di desa ini telah mengalami perluasan makna dan ekspresi, menjelma menjadi festival budaya-religius yang sarat makna simbolik dan memperkuat identitas kolektif masyarakat Kristen Bali. Dalam konteks ini, dua tradisi budaya Bali yang kental dengan nilai lokal yakni Memenjor dan Ngelawar telah diinternalisasikan secara utuh ke dalam struktur perayaan Natal. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari penampilan luar perayaan, tetapi juga mengandung makna yang lebih dalam sebagai bentuk inkulturasi dan akomodasi budaya yang memperkuat kohesi sosial. Penjor, dalam kebudayaan Bali, lazimnya digunakan sebagai simbol persembahan kepada dewa-dewa dalam upacara Hindu seperti Galungan. Namun, bagi masyarakat Kristen di Desa Blimbingsari, penjor disimbolkan ulang menjadi tanda syukur atas kelahiran Yesus Kristus dan harapan akan kedamaian dunia, tanpa mengandung unsur sesajen atau pemujaan (Budiastrawan. Penjor ini dipasang secara kolektif oleh warga desa Kristen menjelang Natal di depan rumah-rumah dan gereja, menggambarkan semangat gotong royong dan kekompakan sosial Dalam laporan Radar Bali . , setiap rumah di Blimbingsari turut serta memperindah lingkungan dengan penjor yang dihiasi janur, hasil bumi, dan ornamen khas Bali, menciptakan suasana sakral sekaligus estetis yang menggugah rasa spiritual dan kultural secara Dewa Ketut Satria Anggita / Harmoni Dalam Keberagaman: Internalisasi Nilai Memenjor Dan Ngelawar Dalam Perayaan Natal Sebagai Perekat Identitas Masyarakat Multikultur Di Desa Blimbingsari. Jembrana Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. Di sisi lain, tradisi Ngelawar, yang lazim dilakukan oleh masyarakat Bali dalam berbagai upacara adat sebagai bagian dari prosesi spiritual dan sosial, juga turut diadaptasi oleh masyarakat Kristen di Blimbingsari menjelang Natal. Kegiatan ngelawar ini dilakukan secara bergotong royong oleh warga jemaat dan masyarakat sekitar sebagai bentuk kebersamaan dan persiapan menyambut hari besar keagamaan (Turker et al. , 2. Tidak semata-mata sebagai kegiatan kuliner, ngelawar menjadi arena sosialisasi antarwarga, media transmisi nilai solidaritas dan rasa syukur, serta bentuk simbolik dari inkarnasi iman Kristen yang membumi dalam kearifan Selain dua tradisi tersebut, praktik keagamaan di Desa Blimbingsari juga diiringi dengan penggunaan gamelan Bali, tarian penyambutan, serta pakaian adat Bali selama prosesi ibadah Natal (Puspita, 2. Elemen-elemen ini memperlihatkan bagaimana identitas Kristen Bali dibentuk dalam kerangka budaya lokal yang inklusif dan dinamis. Gamelan bukan hanya sekadar alat musik pengiring liturgi, tetapi telah menjadi medium transenden yang menjembatani spiritualitas Kristen dengan ekspresi budaya Bali. Tarian penyambutan yang dilakukan oleh anakanak dan remaja juga menjadi ruang pewarisan budaya dan penguatan identitas sejak dini. Melalui integrasi ini, perayaan Natal di Blimbingsari mencerminkan praktek akulturasi budaya yang berhasil, di mana masyarakat Kristen Bali tidak melepaskan diri dari akar budaya lokalnya, namun justru menghidupkan kekristenan dalam konteks Bali secara otentik dan kreatif. Dalam pandangan ini, tradisi Memenjor dan Ngelawar bukan sekadar bentuk warisan budaya, melainkan instrumen penting dalam pembentukan spiritualitas komunitas, penguatan relasi sosial, dan perekat identitas kolektif. Sebagaimana ditegaskan oleh Turker et al. , kehadiran unsur-unsur budaya Bali dalam perayaan keagamaan Kristen tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan memperkaya ekspresi iman dan menghidupkan nilai-nilai universal seperti damai, kasih, dan kebersamaan. Dengan demikian, pengalaman masyarakat Blimbingsari dalam merayakan Natal bukan hanya patut dipandang sebagai ekspresi lokal keagamaan, melainkan sebagai model hidup berdampingan yang berakar pada kearifan budaya lokal, terbuka terhadap keberagaman, dan mampu menjaga harmoni sosial. Di tengah tantangan globalisasi dan fragmentasi sosial, praktik semacam ini menjadi bukti nyata bahwa identitas keagamaan dan kebudayaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan bisa diintegrasikan demi terciptanya masyarakat yang inklusif dan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara etnografis proses internalisasi nilai-nilai Memenjor dan Ngelawar dalam perayaan Natal, mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta mengeksplorasi peran nilai-nilai terinternalisasi ini sebagai perekat identitas dan harmoni di Desa Blimbingsari. Pemahaman mendalam tentang fenomena ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang adaptasi budaya, sinkretisme, dan strategi menjaga kerukunan di tengah keberagaman. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan jenis penelitian kualitatif Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap secara mendalam dinamika sosial dan budaya dalam praktik keagamaan masyarakat Kristen Bali, khususnya dalam konteks internalisasi nilai-nilai budaya lokal Bali melalui perayaan Natal (Arivan et al. , 2. Etnografi sebagai pendekatan memberi ruang bagi peneliti untuk memasuki kehidupan sehari-hari masyarakat, mengamati interaksi simbolik, serta memahami makna yang dibentuk dan diwariskan secara kolektif dalam komunitas yang diteliti. Fokus penelitian ini tertuju pada masyarakat Kristen di Desa Blimbingsari. Kecamatan Melaya. Kabupaten Jembrana. Bali sebuah wilayah yang dikenal dengan praktik integratif antara ajaran Kristen dan tradisi budaya Bali. Subjek penelitian ini mencakup berbagai elemen kunci yang terlibat langsung dalam pelaksanaan tradisi Natal, terutama yang berkaitan dengan praktik Memenjor dan Ngelawar. antaranya adalah unsur pengelola Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Jemaat Blimbingsari, tokoh adat dan pemangku adat setempat, masyarakat umum yang terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan dan budaya tersebut, serta generasi muda Blimbingsari yang menjadi pewaris nilainilai budaya lokal. Pemilihan subjek dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. keterlibatan, pengetahuan, dan peran mereka dalam proses pewarisan dan pelaksanaan tradisi Untuk memperoleh data yang komprehensif dan mendalam, penelitian ini menggunakan tiga teknik utama dalam pengumpulan data: wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-struktural dengan berbagai informan kunci seperti pengurus GKPB, tokoh adat, dan warga yang berpartisipasi langsung dalam kegiatan Memenjor dan Ngelawar. Proses ini bertujuan menggali pemaknaan, pengalaman pribadi, serta pandangan mereka terhadap proses akulturasi budaya dan religiusitas yang terjadi di komunitas tersebut. Observasi partisipatif dilakukan dengan keterlibatan langsung peneliti dalam kegiatan masyarakat, khususnya pada saat-saat menjelang dan selama perayaan Natal. Peneliti turut mengamati interaksi sosial, pembagian peran, serta simbol-simbol budaya yang muncul selama kegiatan berlangsung. Interaksi dengan warga dan partisipasi dalam kegiatan seperti pemasangan penjor serta pembuatan lawar menjadi bagian penting untuk memahami konteks sosial budaya secara holistik. Sementara itu, analisis dokumen digunakan untuk melengkapi data lapangan, dengan menelaah dokumen-dokumen resmi seperti arsip gereja, sejarah desa, awigawig aturan adat, serta literatur lain yang relevan mengenai budaya Kristen Bali. Analisis data dilakukan secara tematik, melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk menjaga validitas dan reliabilitas temuan, digunakan metode triangulasi data dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumen, serta member check dengan cara mengonfirmasi kembali hasil interpretasi kepada para informan kunci (Chitwattanakorn et al. , 2. Strategi ini memungkinkan data yang diperoleh tidak hanya kredibel secara ilmiah, tetapi juga kontekstual dengan realitas sosial budaya masyarakat Blimbingsari. Hasil dan pembahasan 1 Proses Internalisasi Tradisi Memenjor dan Ngelawar dalam Perayaan Natal Perayaan Natal di Desa Blimbingsari memiliki karakteristik unik dengan ciri khas yang membedakannya dari perayaan serupa di tempat lain. Rangkaian perayaan tidak dimulai pada tanggal 25 Desember, tetapi jauh sebelumnya melalui kegiatan simbolik seperti pemasangan penjor Natal. Penjor merupakan batang bambu melengkung yang dihiasi janur . aun kelapa mud. , buah-buahan kecil, lampu, bintang, dan terkadang simbol salib. Bagi komunitas Kristen Bali, penjor bukan sekadar hiasan, melainkan juga ekspresi kebahagiaan dan rasa syukur kepada Tuhan atas berkat yang diberikan. Proses pembuatan dan pemasangannya melibatkan seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek, sehingga menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antaranggota keluarga sekaligus dengan masyarakat Dari sinilah nilai gotong royong dan kekeluargaan hidup dan berkembang dalam dinamika sosial desa. Fenomena ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga merupakan bagian dari spektrum akulturasi budaya antara tradisi Bali dan ajaran Kristen. Penggunaan penjor dalam perayaan Natal melambangkan tradisi Hindu Galungan yang kemudian diadaptasi dengan makna religius umat Kristen di Blimbingsari. Seperti halnya komunitas Kristen Bali lainnya, keberadaan penjor pada saat Natal kini telah berkembang menjadi simbol inkulturasi budaya, di mana unsur-unsur tradisional tetap dipertahankan namun diberi interpretasi spiritual yang selaras dengan nilainilai Kekristenan. Adaptasi ini menjadi bagian dari proses konseptualisasi identitas religius kultural baru, di mana praktik tradisional tidak bertentangan dengan keyakinan gerejawi, tetapi justru berpadu secara harmonis (Lusia Viana et al. , 2. Selain itu, dalam suasana perayaan Natal, tradisi Ngelawar juga menjadi bagian penting dari kegiatan masyarakat. Beberapa hari sebelum Natal atau pada malam Natal, keluarga-keluarga berkumpul untuk membuat lawar, yaitu olahan daging cincang dengan bumbu khas Bali sebagaimana dijelaskan oleh Turker et al (Turker et al. , n. Proses pemotongan bahan, pengulekan bumbu, hingga pencampuran dilakukan bersama-sama dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan. Kegiatan ini tidak hanya sekadar persiapan untuk konsumsi, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial serta menanamkan nilai solidaritas Dewa Ketut Satria Anggita / Harmoni Dalam Keberagaman: Internalisasi Nilai Memenjor Dan Ngelawar Dalam Perayaan Natal Sebagai Perekat Identitas Masyarakat Multikultur Di Desa Blimbingsari. Jembrana Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. Dalam banyak kasus, lawar yang sudah dibuat juga dibagikan kepada tetangga, termasuk yang berbeda agama, sebagai bentuk kepedulian dan penghormatan dalam kehidupan masyarakat yang plural. Tradisi berbagi makanan ini mencerminkan semangat solidaritas dan keharmonisan antarpemeluk agama yang pada akhirnya mempererat hubungan kemanusiaan yang positif. 2 Nilai-Nilai Budaya yang Terkandung dalam Tradisi Memenjor dan Ngelawar Di Desa Blimbingsari, perayaan Natal menjadi bukti nyata pertemuan harmonis antara iman Kristen dan warisan budaya Bali. Bagi masyarakat Kristen setempat, peringatan kelahiran Kristus tidak hanya diwujudkan melalui liturgi gerejawi, tetapi juga melalui ekspresi budaya yang mencerminkan identitas bersama. Salah satu bentuknya adalah tradisi Memenjor adaptasi dari kebiasaan penjor dalam perayaan Galungan umat Hindu. Dalam konteks Natal, penjor dihiasi dengan janur, buah, bunga, lampu berkelap-kelip, bintang, dan salib yang penuh makna spiritual serta keindahan visual. Dipasang dengan megah di depan rumah dan gereja, penjor tidak sekadar hiasan, tetapi merupakan ungkapan syukur dan penghormatan kepada Tuhan atas anugerah keselamatan melalui Yesus Kristus. Proses pembuatan penjor merupakan kegiatan sosial yang melibatkan seluruh anggota keluarga tanpa memandang usia maupun peran gender. Setiap tahap, mulai dari pengumpulan janur hingga pemasangan di halaman rumah, dilakukan secara gotong royong. Kegiatan kolektif ini menanamkan nilai kerja sama, kebersamaan, dan rasa memiliki dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali, kegiatan ini dilakukan di lingkungan gereja atau banjar, yang sekaligus menjadi sarana memperkuat identitas kelompok dan mempererat hubungan antarjemaat. Tradisi ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan tidak harus terpisah dari budaya, tetapi justru dapat menjadi media penerapan nilai-nilai iman dalam konteks adat lokal [(Mahendra et al. , 2. (Wayan Sri Rahayu Tabanan, n. Selaras dengan semangat kebersamaan pada saat Natal. Ngelawar juga menjadi salah satu kegiatan penting dalam rangkaian perayaan. Ngelawar merupakan tradisi membuat lawar bersama, biasanya dilakukan sehari sebelum Natal atau pada malam Natal. Kegiatan ini bukan hanya bertujuan menyiapkan hidangan, tetapi juga menjadi sarana interaksi sosial yang memperkuat komunikasi dan hubungan antaranggota keluarga maupun tetangga. Proses pembuatan yang mencakup perendaman daging, pemotongan bahan, hingga penghalusan bumbu dilakukan dengan suasana gembira dan penuh keakraban. Selain menjadi hidangan khas. Ngelawar juga berfungsi sebagai refleksi budaya di mana tradisi kuliner leluhur diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus menjaga keakraban antarwarga. Menariknya, hasil dari tradisi Ngelawar tidak hanya dikonsumsi oleh keluarga inti, tetapi juga dibagikan kepada tetangga, termasuk mereka yang berbeda agama. Praktik ini mencerminkan semangat berbagi yang melampaui batas keyakinan, menunjukkan toleransi dan solidaritas sosial yang kuat dalam masyarakat multikultural. Desa Blimbingsari menjadi contoh nyata bahwa keberagaman identitas tidak menghalangi terwujudnya hubungan sosial yang damai dan inklusif. Tindakan berbagi lawar tidak hanya mempererat hubungan antarindividu dan komunitas, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan empati, saling menghormati, serta memperkuat nilai-nilai kerukunan antarumat beragama yang telah lama menjadi ciri khas desa ini (Fatlolona, n. Turker et al. , n. Lebih jauh lagi, keberadaan tradisi Memenjor dan Ngelawar dalam perayaan Natal juga menjadi bentuk ketahanan budaya di tengah arus globalisasi yang berpotensi mengikis identitas Di tengah derasnya pengaruh budaya asing dan gaya hidup modern yang individualistis, masyarakat Blimbingsari justru memperkuat fondasi budaya mereka dengan menginternalisasi nilai-nilai luhur lokal dalam praktik keagamaan. Adaptasi simbol-simbol Hindu dalam perayaan Kristen tidak dipandang sebagai bentuk sinkretisme teologis, melainkan sebagai upaya sadar untuk mengontekstualisasikan iman dalam ruang budaya lokal. Hal ini mencerminkan kesadaran budaya yang tinggi di kalangan umat Kristen Bali di Blimbingsari serta komitmen mereka untuk melestarikan warisan budaya sambil menempatkan agama sebagai kekuatan pemersatu, bukan pemisah (Affandy, n. Dagur, 2. Dengan demikian, tradisi Memenjor dan Ngelawar tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga menjadi media pembentukan identitas kolektif masyarakat Blimbingsari. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. Tradisi ini merefleksikan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, toleransi, kekeluargaan, dan penghormatan terhadap perbedaan. Lebih dari itu, keduanya berfungsi sebagai sarana pendidikan budaya dan karakter yang diwariskan secara turun temurun melalui praktik nyata. Kehadiran Memenjor dan Ngelawar dalam perayaan Natal mengajarkan bahwa iman yang hidup tidak hanya tercermin dalam liturgi atau ibadah formal, tetapi juga dalam kesediaan untuk berbagi, bekerja sama, dan membangun keharmonisan di tengah keberagaman sosial. Oleh karena itu, tradisi ini patut dipertahankan bahkan dijadikan model praktik keberagaman dan kohesi sosial di tengah masyarakat plural lainnya (Affandy, n. 3 Dampak Tradisi Memenjor dan Ngelawar terhadap Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat Blimbingsari Berdasarkan hasil wawancara dengan para pemimpin gereja dan masyarakat setempat, penulis mengumpulkan serta merangkum nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Memenjor dan Ngelawar yang diinternalisasikan dalam perayaan Natal di Desa Blimbingsari, sebagaimana disajikan pada Tabel 1. The values contained in local traditions are internalized in the Christmas celebration in Blimbingsa Villageri. Nilai-Nilai Budaya yang Terkandung Memenjor Gotong Royong dan Kebersamaan Rasa Bersyukur Pelestarian Budaya Ngelawar Solidaritas Sosial Tolerasni dan Saling Menghargai Keluarga Relevansi terhadap Nilai-Nilai Pancasila Seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, terlibat dalam proses pembuatan dan pemasangan penjor, sehingga tercipta momen kebersamaan yang mempererat hubungan antaranggota keluarga dan masyarakat sekitar. Penjor dimaknai sebagai simbol rasa syukur atas kelahiran Yesus Kristus dan harapan akan terciptanya perdamaian dunia. Tradisi kemampuan masyarakat untuk mempertahankan unsur-unsur budaya lokal . eperti penjo. tanpa kehilangan makna estetika memberikan penafsiran spiritual yang selaras dengan nilai-nilai Kristiani. Tradisi Ngelawar dilaksanakan secara gotong royong oleh jemaat dan masyarakat sekitar sebagai persiapan untuk menyambut hari raya Natal. Hasil dari kegiatan Ngelawar tidak hanya dinikmati oleh dibagikan kepada para tetangga, termasuk yang berbeda agama. Kegiatan memasak lawar bersama menciptakan suasana yang penuh keakraban dan kekeluargaan, serta menjadi sarana untuk mempererat ikatan sosial antarwarga. Tradisi Memenjor dan Ngelawar dalam perayaan Natal komunitas Kristen Bali di Desa Blimbingsari tidak hanya memiliki makna budaya dan spiritual, tetapi juga memberikan kontribusi besar terhadap proses internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini secara konkret Dewa Ketut Satria Anggita / Harmoni Dalam Keberagaman: Internalisasi Nilai Memenjor Dan Ngelawar Dalam Perayaan Natal Sebagai Perekat Identitas Masyarakat Multikultur Di Desa Blimbingsari. Jembrana Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. mewujudkan nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung dalam butir-butir Pancasila, khususnya dalam aspek kehidupan sosial dan keberagaman agama. Nilai Ketuhanan. Kemanusiaan. Persatuan. Kerakyatan, dan Keadilan Sosial hidup dan berfungsi secara nyata melalui praktik budaya ini, menjadikannya instrumen pendidikan karakter kolektif yang autentik dan kontekstual. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dalam kesungguhan masyarakat Blimbingsari memaknai perayaan Natal sebagai peristiwa spiritual yang sakral, namun tidak terlepas dari pengakuan terhadap konteks budaya lokal yang mereka warisi. Penggunaan simbol penjor yang dimodifikasi menjadi penjor Natal menunjukkan bahwa identitas kekristenan masyarakat setempat tidak bersifat eksklusif, melainkan terbuka terhadap warisan budaya lokal sebagai bentuk penghormatan terhadap ciptaan Tuhan. Simbolsimbol seperti salib, bintang Natal, janur, dan buah-buahan yang menghiasi penjor bukan sekadar hiasan, melainkan pernyataan iman yang diekspresikan dalam estetika budaya. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa agama dan budaya bukanlah dua entitas yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi dalam membentuk harmoni sosial (Lusia Viana et al. , 2. Selanjutnya, sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, termanifestasi dalam tradisi Ngelawar yang dilaksanakan secara kolektif. Melalui kegiatan memasak bersama, masyarakat menunjukkan nilai empati, kebersamaan, dan kesetaraan antarindividu. Tidak ada stratifikasi atau pemisahan antara tua dan muda, laki-laki dan perempuan, semua bekerja sama dalam suasana kekeluargaan. Bahkan dalam praktik berbagi lawar dengan tetangga lintas agama, tercermin semangat kasih dan penghormatan terhadap sesama manusia sebagai makhluk Tuhan yang setara dan bermartabat. Sikap inklusif ini mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang mendorong terciptanya kehidupan sosial yang adil dan beradab (Fatlolona, n. Turker et al. , n. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. Sila ketiga. Persatuan Indonesia, hidup dalam narasi kebersamaan lintas iman dan etnis di Desa Blimbingsari. Melalui tradisi Memenjor dan Ngelawar, masyarakat belajar merayakan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun kohesi sosial. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk terlibat dalam kehidupan sosial yang harmonis. Ketika lawar hasil kegiatan Ngelawar dibagikan kepada tetangga dari agama lain, proses ini bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk konkret dari persaudaraan kebangsaan. Nilai gotong royong dan keterlibatan lintas komunitas dalam tradisi ini memperkuat identitas kebangsaan yang inklusif dan multikultural sebagaimana diamanatkan dalam sila Tradisi ini juga mencerminkan sila keempat. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Proses pelaksanaan Memenjor dan Ngelawar dilakukan melalui musyawarah dan kesepakatan bersama dalam lingkup keluarga dan komunitas gereja. Tidak jarang warga berdiskusi satu sama lain mengenai bentuk penjor, bahan makanan, serta jadwal pelaksanaan kegiatan agar tidak saling berbenturan. Proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mengutamakan musyawarah, mendengarkan pendapat semua pihak, dan menciptakan suasana demokratis yang penuh penghargaan. Hal ini merupakan miniatur prinsip demokrasi Pancasila yang hidup dalam skala komunitas kecil namun Akhirnya, sila kelima Pancasila. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menemukan makna nyata melalui tradisi-tradisi tersebut. Tidak ada pihak yang merasa lebih diistimewakan atau berhak dibandingkan yang lain. Dengan demikian, masyarakat Blimbingsari menunjukkan bahwa keadilan sosial bukan semata urusan legislasi negara. Setiap anggota masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, menikmati manfaat, serta menjaga tradisi bagi generasi mendatang. Memenjor dan Ngelawar bukan sekadar ritual budaya, melainkan ruang fisik dan kesempatan untuk mewujudkan nilainilai Pancasila dalam pengalaman dan ingatan nyata yang bertahan sepanjang hidup dalam semangat Dengan melestarikan tradisi ini, warisan budaya masyarakat Blimbingsari terjaga sekaligus menumbuhkan semangat berbangsa yang beradab dan bersatu dalam cita-cita Indonesia Raya. Penelitian ini hanya dilakukan di satu wilayah dan komunitas tunggal, sehingga temuan yang diperoleh belum dapat Pendekatan studi komparatif terhadap konteks budaya dan agama yang berbeda akan memperluas pemahaman. Simpulan dan saran Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa praktik tradisional Memenjor dan Ngelawar yang dilestarikan oleh umat Kristen Bali di Desa Blimbingsari tidak sekadar merupakan kelanjutan dari adat warisan leluhur, melainkan sebuah representasi nyata dari upaya kolektif masyarakat dalam merajut keterpaduan antara spiritualitas agama Kristen dan kearifan lokal Bali. Tradisi ini tidak hanya dijalankan sebagai bentuk rutinitas seremonial, melainkan diposisikan sebagai bagian integral dari ekspresi iman yang menyatu dengan konteks budaya setempat. Keberlanjutan praktik ini menjadi sarana untuk menjaga kontinuitas identitas komunitas sekaligus menjadi ruang kreatif dalam merespons dinamika pluralitas yang hadir di tengah masyarakat multikultur. Lebih jauh, praktik Memenjor dan Ngelawar di Blimbingsari mencerminkan proses adaptasi budaya yang dinamis dan penuh kesadaran. Penjoryang dalam tradisi Hindu Bali mengandung nilai persembahan dan pemuliaan terhadap Sang Hyang Widhi ditafsirkan ulang dalam kerangka kekristenan sebagai lambang syukur atas kelahiran Yesus Kristus. Transformasi simbolik ini mencerminkan kapasitas masyarakat untuk melakukan reinterpretasi budaya dengan tetap menjaga nilai-nilai spiritual yang esensial. Begitu pula tradisi Ngelawar, yang berakar pada budaya kuliner komunal, dijadikan medium untuk mempererat solidaritas sosial dan menjadi jembatan komunikasi antarumat beragama. Pengolahan dan pembagian makanan kepada warga dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan saling berbagi tetap menjadi ruh utama dari praktik tersebut. Dalam perspektif sosial dan budaya, keberadaan kedua tradisi ini memperlihatkan bahwa akulturasi antara ajaran agama dan budaya lokal dapat berjalan selaras tanpa menimbulkan konflik nilai. Masyarakat Blimbingsari dengan sadar menunjukkan bahwa ekspresi religiusitas tidak harus lepas dari akar budaya, melainkan justru dapat menjadi sarana memperdalam spiritualitas yang kontekstual. Memenjor dan Ngelawar menjadi contoh nyata bagaimana komunitas lokal mampu merancang narasi keberagamaan yang inklusif dan harmonis, menjadikan budaya bukan sebagai penghalang Dewa Ketut Satria Anggita / Harmoni Dalam Keberagaman: Internalisasi Nilai Memenjor Dan Ngelawar Dalam Perayaan Natal Sebagai Perekat Identitas Masyarakat Multikultur Di Desa Blimbingsari. Jembrana Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. keimanan, tetapi sebagai sarana memperkaya dan memperkuat identitas spiritual dan kultural secara bersamaan. Salah satu bentuk konkret dari penghayatan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas dalam masyarakat Blimbingsari tampak dalam tradisi Memenjor. Tradisi ini tidak sekadar menampilkan keindahan visual sebagai ornamen perayaan Natal, tetapi juga menjadi media edukatif yang mentransmisikan nilai-nilai budaya dan religius dari generasi ke generasi. Dalam praktiknya, seluruh anggota keluarga baik anak-anak, remaja, orang tua, hingga lansia terlibat secara aktif dalam proses pembuatan penjor. Bambu melengkung dihias dengan janur kuning, buah-buahan, bunga, lampu warna-warni, dan simbol salib, menjadikan penjor sebagai manifestasi syukur atas kelahiran Kristus sekaligus sebagai simbol integrasi antara iman dan budaya lokal. Melalui keterlibatan kolektif ini, masyarakat tidak hanya merayakan secara ritualistik, tetapi juga memperkuat relasi sosial dalam keluarga dan lingkungan, menghidupkan semangat gotong royong serta memperdalam rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Sementara itu, tradisi Ngelawar yang dilangsungkan menjelang malam Natal tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan kuliner, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan antarwarga dalam semangat kekeluargaan dan kebersamaan. Proses memasak lawar hidangan khas Bali yang berbahan dasar daging cincang dan rempah-rempah lokal dilakukan secara bersama oleh anggota keluarga besar bahkan tetangga terdekat. Uniknya, makanan yang telah diolah tidak hanya dikonsumsi dalam lingkup keluarga sendiri, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat sekitar tanpa memandang latar belakang agama. Tindakan ini mencerminkan sikap saling menghormati, toleransi antarumat beragama, dan solidaritas sosial yang tinggi. Dalam kerangka ini. Ngelawar berfungsi sebagai wahana untuk menjalin interaksi lintas iman yang harmonis, mengukuhkan nilai-nilai kebhinekaan yang selaras dengan prinsip kemanusiaan dan persatuan sebagaimana tertuang dalam sila-sila Pancasila. Melalui kedua tradisi tersebut, tampak jelas bahwa masyarakat Blimbingsari tidak hanya menjaga nilai-nilai budaya dalam bentuk simbolik, tetapi juga menginternalisasikannya dalam perilaku keseharian. Tradisi Memenjor dan Ngelawar menjadi sarana penguatan karakter sosialreligius yang berakar kuat pada nilai lokal, namun terbuka terhadap keberagaman. Proses pelaksanaannya mengajarkan pentingnya hidup berdampingan secara damai, menghargai perbedaan, serta membangun harmoni dalam masyarakat plural. Dalam konteks ini, budaya lokal tidak diposisikan sebagai entitas statis, melainkan sebagai instrumen aktif untuk mendukung pendidikan karakter kebangsaan dan memperkuat kohesi sosial di tengah tantangan zaman. Secara lebih luas, kedua tradisi ini dapat dimaknai sebagai instrumen efektif dalam menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui praktik budaya yang dibingkai oleh semangat religiositas, masyarakat Blimbingsari menunjukkan bahwa nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, serta musyawarah dan keadilan sosial tidak hanya dapat dihayati secara kognitif, tetapi juga direalisasikan secara praksis dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran kolektif dalam menjaga keberagaman dan membangun ruang interaksi lintas identitas agama dan budaya menjadi fondasi penting dalam menciptakan harmoni sosial. Tradisi Memenjor dan Ngelawar menjadi contoh bagaimana identitas lokal tidak menjadi penghalang bagi nasionalisme, melainkan justru Dalam realitas masyarakat plural seperti Indonesia, nilai-nilai luhur semacam ini menjadi modal sosial yang berharga dalam memperkuat integrasi nasional dan memperkuat narasi kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berisi simpulan dan Simpulan memuat jawaban atas pertanyaan penelitian. Saran-saran mengacu pada hasil penelitian dan berupa tindakan praktis, sebutkan untuk siapa dan untuk apa saran ditujukan. Ditulis dalam bentuk essay, bukan dalam bentuk numerikal. Daftar Rujukan Turker. Gelgel. Suryawati. , & Damasemil. Akulturasi komunikasi antar budaya pada hari raya besar umat Kristen Bali di Desa Blimbingsari. Jembrana. Juliawan. Kajian sosio-teologis penggunaan penjor pada hari raya gerejawi bagi Gereja GKPB Jemaat Pniel Blimbingsari. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. Mahendra. , et al. Metode etnografi dalam penelitian kualitatif. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10. , 159Ae170. https://doi. org/10. 5281/zenodo. Gertner. , et al. A scoping review of the use of ethnographic approaches in implementation research and recommendations for reporting. Implementation Research and Practice, 2. https://doi. org/10. 1177/2633489521992743 Morgan. , & Nica. Iterative thematic inquiry: A new method for analyzing qualitative International Journal Qualitative Methods, https://doi. org/10. 1177/1609406920955118 Viana. Wirawan. Purnawati. , & Jurnal Sejarah dan Perpustakaan. Pemertahanan budaya Bali pada umat Kristen di Desa Blimbingsari. Kecamatan Melaya. Kabupaten Jembrana Bali dan potensinya sebagai sumber belajar sosiologi SMA. Fatlolona. Simbolisasi nilai kekristenan pada arsitektur bangunan Gereja Pniel di Blimbingsari: Kajian akulturasi budaya. Dagur. BaliAos unique take on the traditional Christmas tree. UCA News. Rahayu. Proses terbentuknya Desa Blimbingsari sebagai desa wisata berbasis Retrieved from http://ojs. id/index. php/parbud Affandy. Teritorialitas Gereja di Desa Kristen Blimbingsari dan Desa Katolik Palasari. Balangwangak. Gereja terunik di dunia. AuPura GerejaAy Desa Blimbingsari. Suluh Nusa. Dewa Ketut Satria Anggita / Harmoni Dalam Keberagaman: Internalisasi Nilai Memenjor Dan Ngelawar Dalam Perayaan Natal Sebagai Perekat Identitas Masyarakat Multikultur Di Desa Blimbingsari. Jembrana