Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 435-444 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Strategi Pembentukan Karakter Melalui Pembiasaan Sosial Emosional Anak Usia Dini Depi Sari Juniarti1. Inten Risna2. Yoga Mahendra3 Info Artikel Abstract Keywords: Strategy Character. Social-Emotional Early. Childhood Education. Character education from an early age is essential to shaping a generation with noble character and strong social-emotional skills The background of this research is the importance of character education from an early age in order to build a generation with noble character and strong socialemotional skills. This study aims to describe strategies for character building in early childhood through social-emotional habituation at TKIT Al Fatih. The study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques including interviews, observation, and documentation involving 2 teachers and 10 students. The results show that socialemotional habituation strategies are implemented through teacher modeling, explicit teaching, responsive teaching, and the creation of a supportive learning environment. The habituation includes routines such as greeting others, sharing, praying, working in groups, and using polite Supporting factors for the success of these strategies include consistent teacher involvement, the use of engaging learning media, and a conducive school environment. Challenges include limited time, differences in childrenAos personalities, and lack of parental involvement. conclusion, social-emotional habituation that is consistent and integrated can effectively shape positive character traits in young children, such as empathy, responsibility, discipline, and self-confidence. Kata kunci: Strategi Karakter. Sosial Emosional. Pendidikan Anak Usia Dini. Abstrak Pendidikan karakter sejak usia dini penting untuk membentuk generasi berakhlak mulia dan memiliki kecakapan sosial emosional. Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya Pendidikan karakter sejak dalam rangka membangun generasi yang berakhlak mulia dan memiliki kecakapan sosial emosional yang baik. i Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi pembentukan karakter anak usia dini melalui pembiasaan sosial emosional di TKIT Al Fatih. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap 2 guru dan 10 peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembiasaan sosial emosional diterapkan melalui keteladanan guru . , pembelajaran eksplisit. Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Banten. Indonesia Email: depisari2906@gmail. 2 Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Banten. Indonesia Email: intenrisna@gmail. Pendidikan Ilmi Pengetahuan Sosial. Universitas Bina Bangsa. Banten. Indonesia Email: yogamahendra@gmail. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 pembelajaran responsif, dan penciptaan lingkungan belajar yang Pembiasaan tersebut meliputi kebiasaan memberi salam, berbagi, berdoa, kerja kelompok, dan menggunakan bahasa sopan. Faktor pendukung keberhasilan strategi ini antara lain keterlibatan guru secara konsisten, media pembelajaran yang menarik, serta lingkungan sekolah yang kondusif. Adapun hambatannya mencakup keterbatasan waktu, perbedaan karakter anak, dan minimnya keterlibatan orang tua. Kesimpulannya, pembiasaan sosial emosional yang dilakukan secara konsisten dan terintegrasi mampu membentuk karakter positif anak seperti empati, tanggung jawab, disiplin, dan percaya diri Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 09 Oktober 2025 29 November 2025 07 Desember 2025 15 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Juniarti. Risna I. Mahendra Y. Strategi Pembentukan Karakter Melalui Pembiasaan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 435444, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Depi Sari Juniarti, depisari2906@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Di era modern ini sikap dan perilaku anak-anak sekolah menjadi perhatian dalam Pendidikan di Indonesia. Beberapa berita di media elektronik seperti, surat kabar maupun berita online di sosial media membicarakan aksi kenakalan remaja yang merupakan siswa-siswi aktif bersekolah (Kahfi, 2024. Ulfah. Kejadian ini sering terjadi di beberapa daerah dan masih terus terjadi sampai saat ini. Kejadian ini pun tak luput dari perhatian pemerintah setempat. Hal-hal semacam ini bisa terjadi karena kurangnya peran dari lingkungan keluarga, sehingga anak dapat melakukan kegiatan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain seperti, perundungan, pergaulan bebas, narkoba, tawuran, pembunuhan, pembegalan, dan lain sebagainya (Ramdhani, 2. Hal tersebut muncul dikarnakan dampak negatif dari Pendidikan karakter. Dampak negatif dari pendidikan karakter dapat mencakup perubahan tata nilai dan norma dalam masyarakat, seperti yang diungkapkan (Kasingku & Sanger. Hal ini menjadi suatu Kumpulan yang sangat besar dan menjadi ancaman untuk bangsa ini. Pembentukan karakter menurut dapat dimaknai Ausebagai pendidikan moral atau budi pekerti untuk mengembangakan kemampuan seseorang untuk berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari harinyaAy (Innike, 2. Pendidikan karakter merupakan proses di mana karakter individu harus dibentuk dengan memahami nilai - nilai moral dan etika. pendidikan karakter berfokus pada pengembangan nilai - nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, perhatian, kepedulian, dan rasa hormat (Ansori et al. , 2021. Yasin, 2. Tujuannya adalah untuk menciptakan orang -orang yang tidak hanya akademis tetapi juga sikap dan karakter yang baik. Karakter sangat penting untuk dikembangkan dan ditanamkan sejak dini agar upaya untuk membentuk kepribadian dan nilai-nilai moral pada anak usia dini. pendidikan karakter bagi anak usia dini mempunyai makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral karena tidak hanya berkaitan dengan masalah yang benar-salah ,tetapi bagaimana merancang kebiasaan . tentang berbagai perilaku yang baik dalam kehidupan sehingga anak memiliki kesadaran dan komitmen untuk menerapkan fasilitas dalam kehidupan sehari-hari (Hadisi, 2015. Sudaryanti, 2. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I, pasal 1 butir 14 dinyatakan bahwa AuPendidikan Anak Usia Dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 pendidikan untuk membantu perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Ay Dalam pandangan pembentukan karakter di Indonesia ada 18 . elapan bela. jenis nilai karakter yang dapat disisipkan dalam proses pembelajaran anak usia dini (Cahyaningrum et al. , 2017. Fadlillah, 2. diantaranya: . kerja keras . rasa ingin tahu . semangat kebangsaan . cinta tanah air . menghargai prestasi . bersahabat dan komunikasi . cinta damai . gemar membaca . peduli dan lingkungan . peduli sosial . tanggung jawab . (Kemdiknas,2010:9. Halimah, 2. Delapan belas jenis karakter tersebut dapat ditanamkan pada anak sejak dini melalui kegiatan bermain dan aktivitas di luar pembelajaran formal. Dengan cara ini, anak-anak secara tidak sadar mengenal dan mempelajari nilai-nilai karakter yang diarahkan dan diterapkan oleh guru. Pembentukan karakter dapat dibentuk melalui Proses pendidikan dan stimulasi pada anak usia dini, dimana hal itu bisa dilakukan di jenjang satuan PAUD dengan pembiasaan sosial emosional Menurut (Huliyah, 2. pendidikan anak usia dini merupakan upaya yang direncanakan dan sistematis yang dilakukan oleh pendidik agar anak mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, anak usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun. Pembiasaan sosial emosional adalah proses yang sangat penting karena ini dapat membentuk dasar karakter anak yang sehat dan Tangguh di masa depan (Maqbulah et al. , 2. sosial emosional adalah proses penting yang membentuk kepribadian anak yang sehat dan tangguh. Mereka menekankan bahwa dukungan emosional yang stabil untuk orang tua dan guru dalam perkembangan ini sangat berpengaruh. konsep dari pembiasaan sosial emosional pada anak usia dini diantaranya membangun kebiasaan baik dalam berinteraksi sosial, seperti berbagi, membantu, dan menghargai teman, melalui kegiatan rutin dan teladan. Metode ini membantu anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional, serta menumbuhkan rasa kepedulian dan empati terhadap lingkungan sekitar. Melalui pembiasaan sosial emosional yang efektif, anak-anak tidak hanya belajar untuk berinteraksi dengan baik, tetapi juga memperoleh keterampilan penting dalam mengenali dan mengelola emosi mereka sendiri, yang pada gilirannya mendukung perkembangan hubungan yang sehat dengan orang lain (Khofifah & Mufarochah, 2. Sosial emosional juga dapat didefinikan sebagai memberikan anak-anak kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain, mengenali dan mengelola emosi, serta memahami perasaan orang lain. Dengan demikian, kemampuan sosial emosional yang diperoleh melalui pembiasaan sejak dini memungkinkan anak untuk membangun hubungan yang sehat, baik dengan teman sebaya maupun dengan orang (Risnawati et al. , 2. Fenomena saat ini, masih terdapat peserta didik yang melakukan tindakan- tindakan kurang baik seperti bullying, tawuran, dan pelecehan seksual. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sedikitnya terdapat 1. 850 kasus kekerasan yang terjadi baik di dalam maupun di luar sekolah. International Center For Research On Women (ICRW) juga melakukan survey mengenai kasus kekerasan dalam pendidikan di Indonesia menunjukan bahwa sebanyak 84% anak Indonesia pernah mengalami kekerasan di sekolah (Agisyaputri et al. , 2. Tiga bentuk lingkungan pendidikan mempengaruhi banyak untuk perilaku orang muda. Pendidikan karakter yang diperoleh oleh peserta didik dapat menjadikan peserta didik memahami kapasitas masing-masing. Oleh karena itu, kontrol sosial akan memiliki dampak yang signifikan terhadap pengendalian perilaku remaja yang terlibat dalam kekerasan barang antik di lembaga pendidikan. Selain itu. KPAI mencatat sekitar 202 anak harus berhadapan dengan hukum akibat terlibat tawuran dalam kurun waktu dua tahun terakhir sepanjang tahun 2017 hingga 2019 (KPAI, 2. Fenomena tersebut menujukkan krisis karakter dari level peserta didik, dimana karakter merupakan aspek yang penting dalam mewujudkan kepribadian bangsa. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan dapat bersaing di kancah internasional apabila karakter sumber daya manusianya kuat. Pembiasaan sosial emosional pada anak usia dini sangat penting karena merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, kepribadian, serta kesiapan anak untuk menghadapi kehidupan sosial di masa depan. Program pembelajaran sosial emosional dapat meningkatkan keterampilan sosial pada usia dini dan mengurangi perilaku agresif anak -anak. Masa usia dini . -8 tahu. adalah masa emas . olden ag. dalam perkembangan anak, di mana pembentukan aspek emosional berlangsung sangat pesat dan berpengaruh jangka Panjang (Erviana et al. , 2024. Haeriyah et al. , n. sosial emosional seperti mengenal emosi diri, memahi perasaan orang lain, mengelola emosi serta menjalin hubungan sosial yang positif harus ditanamkan sejak dini karena kemampuan ini sangat berkaitan dengan keberhasilan anak dalam kehidupan sosial emosional di kemudian hari. Dan tujuan dari Pembiasaan sosial emosional berfokus pada mengindentifikasi kebiasaan yang dilakukan oleh guru atau lembaga TK untuk menanamkan nilai nilai karakter melalui aktivitas sosial emosional. Anak-anak di TKIT Al Fatih berada pada rentang 4-6 tahun, yaitu masa keemas an . olden ag. perkembangan Pada tahap ini, mereka menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, aktif bergerak, serta mulai mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Secara umum, kondisi anak di TKIT Al Fatih menampilkan perkembangan yang beragam, baik dari segi kognitif, sosial emosional , maupun moralspriritual. Dari sisi sosial-emosional, sebagian besar anak sudah mampu berinteraksi dengan teman sebaya, meskipun masih ada yang cenderung pemalu, lebih suka menyendiri, atau membutuhkan dorongan guru untuk terlibat dalam kegiatan kelompok. Anak-anak juga mulai belajar mengekspresikan emosi secara verbal, namun terkadang masih menunjukkan sikap egosentris seperti berebut mainan atau sulit dari aspek moral-spiritual, karena TKIT Al Fatih berbasis Islam Terpadu, anak-anak dibiasakan untuk mengenal doa-doa harian, salam, serta adab adab sederhana sesuai ajaran Islam. hal ini terlihat dari rutinitas harian seperti berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam kepada guru maupun teman, serta membiasakan sopan santun dalam berbicara. Secara keseluruhan, kondisi anak-anak di TKIT Al Fatih menunjukkan perkembangan yang positif. Namun, masih terdapat perbedaan individu dalam kemampuan sosial-emosional, kemandirian, dan kontrol emosi yang memerlukan strategi pembiasaan dan pendampingan konsisten dari guru. Pembiasaan sosial ini sudah sering dilakukan pada anak usia dini salah satunya di TKIT Al Fatih pembiasaan sosial itu biasa di lakukan dengan cara bermain peran, bercerita, dan penerapan nilai nilai Dengan menerapkan berbagai metode ini. TKIT Al Fatih memberikan strategi menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan sosial emosional anak, sehingga mereka tumbuh menjadi individu yang sehat secara emosional dan mampu berinteraksi dengan baik dalam masyarakat. Namun demikian, hingga saat ini masih terdapat research gap terkait bagaimana strategi pembiasaan sosial emosional yang diterapkan di lembaga pendidikan berbasis Islam, khususnya di TKIT, dideskripsikan secara komprehensif dan terstruktur. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada pembiasaan sosial emosional secara umum di PAUD, tanpa mengkaji secara mendalam integrasi nilai-nilai Islam dalam proses pembiasaan tersebut. Selain itu, belum ada penelitian yang secara spesifik mendeskripsikan strategi pembiasaan sosial emosional berbasis Islam yang diterapkan di TKIT sebagai lembaga yang menggabungkan kurikulum nasional dengan nilai-nilai keislaman secara Kekosongan penelitian inilah yang menjadi dasar pentingnya kajian ini, sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah bagi pengembangan strategi pembiasaan sosial emosional di lembaga PAUD berbasis Islam. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. (Somantri, 2. menyatakan bahwa Au penelitian deskriptif adalah upaya pengelolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat di mengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri. Ay Sehingga yang di mangsud dengan penelitian deskriptif adalah sebuah pendekatan terhadap sesuatu perilaku, fenomena, peristiwa, masalah atau keadaan tertentu yang menjadi object penyelidikan yang hasil temuannya berupa uraian uraian kalimat bermakna yang menjelaskan pemahaman tertentu. (Leksono et al. , 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif karena sesuai dengan tujuan penelitian kualitatif deskriptif yaitu untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memahami secara mendalam strategi pembentukan karakter yang diterapkan melalui kegiatan pembiasaan sosial emosional di lingkungan sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di TKIT AL FATIH, yang berlokasi di Perum Graha Cisait Blok B. No. 04 Rt. 06 Rw. 06 kecamatan Kragilan Kabupaten Serang Pemilihan tempat ini berdasarkan pertimbangan bahwa lembaga tersebut telah menerapkan pembiasaan sosial emosional dalam kegiatan sehari-hari, sumber data dalam penelitian ini dua guru dan 10 siswa di TKIT Al- Fatih. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengumpulan data melalui observasi yang dilakukan dari awal hingga akhir kegiatan di sekolah, ditemukan berbagai bentuk strategi yang diterapkan oleh guru dalam membentuk karakter anak. Salah satu strategi utama yang tampak menonjol adalah pembiasaan sosial emosional dalam kehidupan sehari-hari anak usia 5Ae6 tahun. Sedangkan perkembangan sosial emosional anak tersebut dapat diamati melalui sejumlah indikator, yang menggambarkan perilaku nyata masing-masing anak di kelas. Berikut uraian hasil temuan berdasarkan indikator yang telah ditetapkan: Perilaku Tanggung Jawab Pada indikator tanggung jawab, terlihat bahwa beberapa anak sudah mampu menyelesaikan tugas yang diberikan tanpa perlu diingatkan kembali. Misalnya. AM dan MA selalu merapikan mainan setelah bermain tanpa disuruh ulang. Hal ini menunjukkan kesadaran anak untuk bertanggung jawab terhadap barang yang digunakan. Dalam aspek disiplin, anak-anak seperti MA. HH. HF dan RR tampak mampu mengikuti aturan kelas secara konsisten. Mereka dapat duduk dengan tenang saat mendengarkan cerita guru serta mengikuti instruksi dengan baik. Sementara anak lain seperti AM. LA. QA. AA, dan FB masih perlu penguatan agar lebih konsisten dalam mematuhi aturan. Kemampuan empati tampak jelas pada FB. AA. LA, dan AM. Mereka menunjukkan kepedulian pada teman yang sedang sedih, misalnya dengan memberi pelukan atau menenangkan teman yang Sementara itu, anak-anak seperti MA. HH. HF. QA. MK, dan RR masih berada pada kategori cukup dan sesekali memerlukan dorongan guru untuk menunjukkan kepedulian. Toleransi. Dalam kegiatan kelompok, anak seperti AM. HF. MK, dan RR mampu bekerja sama dengan teman dengan latar belakang berbeda. Mereka terlihat bermain bersama dalam kelompok campuran dengan saling berbagi peran. Sedangkan anak lain seperti QA. AA, dan FB masih cenderung memilih bermain dengan kelompok tertentu sehingga perlu pembiasaan lebih lanjut. Pada aspek interaksi sosial, anak seperti AM. MK, dan RR terbiasa menyapa guru dan teman saat datang ke sekolah, serta berbicara sopan dalam berinteraksi. Anak-anak ini juga mampu bekerja sama dalam permainan kelompok. Sedangkan anak-anak seperti LA dan FB kadang masih perlu diingatkan untuk menyapa atau berkomunikasi dengan cara yang sopan. Kemampuan regulasi emosi cukup terlihat pada HH. QA. MK, dan RR yang mampu mengendalikan diri ketika kecewa atau kehilangan giliran bermain. Sementara anak seperti AM. MA. LA. HF. AA, dan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 FB masih sering menunjukkan rasa kecewa yang berlebihan, meski guru selalu mendampingi dengan penguatan positif. Dalam aspek kemandirian, anak seperti AM. MA. HH. QA. MK, dan RR sudah terbiasa melakukan kegiatan tanpa bantuan orang dewasa, misalnya makan sendiri, membuka bekalnya, dan merapikan alat belajar. Sementara itu, anak-anak seperti LA. HF. AA, dan FB masih memerlukan dorongan guru agar lebih terbiasa mandiri dalam aktivitas sehari-hari. Secara keseluruhan, hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar anak telah mengembangkan kemampuan sosial emosional dengan cukup baik, terutama dalam hal disiplin, empati, dan kemandirian. Namun masih terdapat beberapa anak yang memerlukan pendampingan lebih lanjut, khususnya pada aspek kerja sama, regulasi emosi, serta interaksi sosial. Oleh karena itu, peran guru melalui pembiasaan, teladan, dan penguatan positif tetap menjadi faktor penting untuk mendorong perkembangan sosial emosional anak secara optimal dan seimbang. Strategi pembentukan karakter melalui pembiasaan sosial emosional anak usia Guru menjadi teladan Guru menunjukkan sikap dan perilaku positif yang dapat dicontoh oleh anak-anak. Melalui tindakan nyata seperti berkata jujur, bersikap sabar, disiplin, dan menghargai orang lain, guru memberikan contoh langsung tentang nilai-nilai moral dan sosial. Dengan melihat dan meniru perilaku guru, anak lebih mudah memahami serta menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. guru sebagai teladan memiliki relevansi dengan teori belajar sosial Albert Bandura . yang menyatakan bahwa anak belajar melalui observasi dan imitasi terhadap perilaku orang dewasa di Penelitian (Wahyuni & Suyadi, 2. juga menunjukkan bahwa keteladanan guru dalam bersikap jujur, disiplin, dan sabar mampu meningkatkan pembentukan karakter anak usia dini, karena anak lebih mudah meniru perilaku nyata daripada hanya mendengarkan nasihat. Penguatan Positif guru memberikan pujian, penghargaan, atau dukungan saat anak menunjukkan perilaku baik. Tujuannya untuk memotivasi anak agar terus mengulangi perilaku positif tersebut. Penguatan bisa berupa kata-kata pujian, pelukan, senyuman, atau hadiah sederhana, sehingga anak merasa dihargai dan semakin percaya diri. Sesuai dengan teori B. Skinner tentang behaviorisme, di mana perilaku akan cenderung diulang jika mendapatkan konsekuensi positif. Studi (Ulfa et al. , 2. menegaskan bahwa pemberian pujian, penghargaan, atau bentuk apresiasi sederhana terbukti meningkatkan motivasi anak untuk berperilaku positif secara konsisten. Hal ini memperkuat bahwa strategi apresiasi guru bukan hanya membangun rasa percaya diri anak, tetapi juga membentuk kebiasaan positif jangka panjang. Penanaman nilai moral proses membimbing anak untuk mengenal, memahami, dan menerapkan nilai-nilai baik seperti kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, empati, dan rasa hormat dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan tahapan perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg . Pada usia dini, anak berada pada tahap pra-konvensional, di mana mereka memahami baik-buruk berdasarkan Oleh karena itu, bimbingan guru dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, dan empati sangat penting agar anak dapat menginternalisasi nilai moral sejak dini. Hasil penelitian dari (Kumari et al. , 2. juga menunjukkan bahwa pembiasaan nilai moral di sekolah mampu menumbuhkan sikap prososial anak. Pendekatan Empati cara mendidik anak dengan memahami dan merasakan perasaan mereka. guru berusaha menempatkan diri pada posisi anak, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan merespons dengan lembut serta pengertian. Pendekatan ini membantu anak merasa dihargai, aman, dan lebih terbuka, sehingga membentuk hubungan yang hangat dan mendukung perkembangan emosional mereka. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 sejalan dengan teori perkembangan sosial-emosional Erik Erikson . , terutama pada tahap inisiatif versus rasa bersalah, di mana anak membutuhkan rasa aman dan penerimaan untuk dapat berkembang secara optimal. Penelitian oleh (Damayanti, 2. menemukan bahwa guru yang menerapkan empati melalui komunikasi penuh perhatian membantu anak merasa dihargai dan lebih mampu mengelola emosinya. Guru Kelompok B memainkan peran sebagai model atau teladan dalam menanamkan karakter kepada anak. Anak usia dini memiliki kepekaan untuk meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Oleh karena itu, guru senantiasa menunjukkan sikap jujur, sabar, disiplin, dan menghargai orang lain dalam berbagai kegiatan sekolah. Selain melalui keteladanan, strategi pembentukan karakter juga dilakukan dengan memberikan penguatan positif kepada anak. Guru memberikan apresiasi atas perilaku baik yang ditunjukkan anak sebagai bentuk dukungan dan motivasi agar anak terus mengembangkan sikap positif dalam kesehariannya Kedua strategi tersebut, baik melalui keteladanan maupun penguatan positif, menjadi bagian penting dalam penanaman nilai moral pada anak usia dini. Dengan memberikan contoh nyata dan penghargaan atas perilaku baik, guru membantu anak memahami serta membiasakan diri untuk bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan. Sebagai pelengkap dari strategi keteladanan dan penguatan positif, guru juga menerapkan pendekatan empati dalam proses pembentukan karakter Dengan memahami perasaan anak dan memberikan respon yang penuh pengertian, guru menciptakan lingkungan yang aman secara emosional, sehingga anak merasa dihargai dan lebih mudah mengembangkan perilaku positif. Faktor Pendukung Dan Penghambat Yang Dihadapi Pendidik. Pembentukan karakter anak usia dini melalui pembiasaan sosial emosional tidak terlepas dari sejumlah faktor yang mendukung keberhasilannya. Salah satu faktor utama adalah lingkungan kelas yang kondusif dan mendukung. Guru berperan dalam menciptakan suasana kelas yang aman, nyaman, dan tenang agar anak merasa terlindungi dan dapat mengekspresikan emosinya dengan bebas Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang variatif juga sangat membantu dalam menanamkan nilai-nilai sosial emosional kepada anak. Media seperti boneka tangan, cerita bergambar, video edukatif, dan permainan peran digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan moral secara konkret dan menarik bagi anak. Faktor pendukung lainnya adalah peran guru sebagai figur dan Anak-anak usia dini sangat mudah meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, terutama guru yang mereka anggap sebagai pengganti orang tua di sekolah. Kemudian, pemberian apresiasi dan penguatan positif juga menjadi strategi yang mendorong anak untuk terus menunjukkan perilaku baik. Guru memberikan pujian, stiker bintang, atau hadiah kecil sebagai bentuk penghargaan atas perilaku positif anak, seperti berbagi, membantu teman, atau menunjukkan empati. Tak kalah penting adalah pendekatan individual dan empati yang dilakukan guru ketika anak menunjukkan perilaku negatif atau mengalami kesulitan dalam mengelola emosi. Guru berusaha memahami penyebab emosi anak dan memberikan dukungan yang sesuai Di sisi lain, terdapat pula sejumlah tantangan atau faktor penghambat yang dihadapi pendidik dalam proses pembentukan karakter anak usia dini. Salah satu tantangan tersebut adalah perbedaan karakter dan latar belakang setiap anak. Tidak semua anak memberikan respon yang sama terhadap pembiasaan sosial emosional yang diterapkan di sekolah. Ada anak yang cepat meniru perilaku baik, namun ada juga yang justru meniru perilaku kurang baik yang mereka lihat dari lingkungan luar. Selain itu, minimnya pemahaman anak terhadap konsep moral juga menjadi hambatan. Anak usia dini masih dalam tahap perkembangan, sehingga belum sepenuhnya memahami konsep jujur, bertanggung jawab, atau berempati. Dibutuhkan waktu dan konsistensi dalam memberikan Pengaruh lingkungan luar sekolah, seperti keluarga dan teman sebaya, juga dapat Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 menjadi tantangan bagi guru. Apa yang anak lihat dan alami di rumah sangat mempengaruhi sikap dan perilaku mereka di sekolah. Ketika lingkungan luar tidak selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah, pembentukan karakter anak menjadi kurang optimal. Keterbatasan waktu serta rasio jumlah guru dan anak di kelas dapat menyulitkan guru untuk memberikan pendekatan individual secara Dalam kondisi ini, tidak semua anak bisa mendapatkan bimbingan yang intensif sesuai kebutuhan emosional dan sosial mereka. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di TKIT Al Fatih, dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter anak usia dini melalui pembiasaan sosial emosional dilakukan secara terstruktur dan konsisten dalam berbagai aktivitas keseharian anak. Strategi yang digunakan oleh pendidik mencakup keteladanan . , pembelajaran eksplisit tentang nilai-nilai karakter, pembelajaran yang responsif terhadap kondisi emosional anak, serta penciptaan lingkungan yang kondusif dan mendukung perkembangan karakter. Pembiasaan sosial emosional yang ditanamkan meliputi kebiasaan memberi salam, berbagi dengan teman, bekerja sama dalam kelompok, menggunakan bahasa sopan, serta membiasakan anak untuk berdoa sebelum dan sesudah kegiatan. Pembiasaan ini terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter seperti empati, tanggung jawab, kedisiplinan, dan rasa percaya diri pada anak. Di sisi lain, terdapat pula beberapa hambatan seperti keterbatasan waktu dalam pelaksanaan pembiasaan, perbedaan karakter tiap anak yang membutuhkan pendekatan berbeda, serta masih kurangnya keterlibatan orang tua dalam mendukung pembiasaan yang dilakukan di sekolah. Implikasi teoretis dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembiasaan sosial emosional di TKIT Al Fatih memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teori pembentukan karakter di PAUD berbasis nilai-nilai Islam. Temuan mengenai integrasi antara praktik pembiasaan, keteladanan guru, dan nilai religius menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan karakter berbasis Islam tidak hanya memperkuat aspek moral-spiritual, tetapi juga efektif dalam menumbuhkan kecakapan sosial emosional anak usia Dengan demikian, penelitian ini memperkaya literatur tentang pendidikan karakter di lingkungan PAUD berlandaskan nilai-nilai keislaman. Dari sisi implikasi praktis, penelitian ini menegaskan pentingnya pelatihan bagi guru PAUD mengenai strategi pembiasaan sosial emosional yang tepat, efektif, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Guru perlu dibekali kemampuan untuk merespons kebutuhan emosional anak, mengelola dinamika kelas, memberikan teladan yang konsisten, serta bekerja sama dengan orang tua agar pembiasaan yang dilakukan di sekolah dapat berlanjut di rumah. Pelatihan tersebut menjadi kunci untuk memastikan bahwa guru mampu menerapkan strategi sosial emosional secara berkelanjutan dan Sebagai saran penelitian lanjutan, studi ini merekomendasikan agar penelitian berikutnya menggali lebih dalam peran orang tua dalam mendukung pembiasaan sosial emosional di rumah serta bagaimana kolaborasi antara sekolah dan keluarga dapat dibangun secara efektif, terutama dalam konteks perkembangan teknologi dan era digital. Eksplorasi tentang media digital, platform komunikasi sekolahAeorang tua, serta dinamika interaksi keluarga berbasis digital akan memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang bagaimana pembiasaan sosial emosional dapat diperkuat dalam lingkungan yang semakin terhubung secara teknologi. DAFTAR KEPUSTAKAAN Agisyaputri. Nadhirah. , & Saripah. Identifikasi fenomena perilaku bullying pada remaja. Jurnal Bimbingan Konseling Dan Psikologi, 3. , 19Ae30. Ansori. Nahdi. , & Saepuloh. Menumbuhkan karakter hormat dan tanggung Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 jawab pada siswa di sekolah dasar. Jurnal Educatio Fkip Unma, 7. , 599Ae605. Cahyaningrum. Sudaryanti. , & Purwanto. Pengembangan nilai-nilai karakter anak usia dini melalui pembiasaan dan keteladanan. Jurnal Pendidikan Anak Damayanti. Analisis Love Language Guru Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Pedagogi: Jurnal Anak Usia Dini Dan Pendidikan Anak Usia Dini, 11. , 107Ae121. Erviana. Kasanah. Sari. Munawir. Mahendra. Munawaroh. Maulidia. Fajrinur. Mulyawan. , & Mulyani. Perkembangan Anak Usia Dini: Kunci untuk Orang Tua dan Pendidik. Penerbit Mifandi Mandiri Digital , 1. Fadlillah. Penanaman nilai-nilai karakter pada anak usia dini melalui permainan-permainan Prosiding Seminar Nasional Dan Call for Paper Ke-2 AuPengintegrasian Nilai Karakter Dalam Pembelajaran Kreatif Di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Ay Hadisi. Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini. Jurnal Al-TaAodid, 8. , 50Ae69. Haeriyah. Laili. , & Mulyawan. Meninjau Kemandirian Anak Usia Dini melalui Gaya Pengasuhan Demokratis di PAUD As-SaAoadah Kota Cilegon. Asian Journal of Early Childhood and Elementary Education, 2. Halimah. Pengembangan Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Cakrawala Dini: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini , 6. https://doi. org/10. 17509/cd. Huliyah. Hakikat pendidikan anak usia dini. A-ibyAn: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini , 1. , 60Ae71. Innike. Pelaksanaan Sistem Pendidikan Karakter Dalam Membentuk Karakter Mahasiswa Di Pesantren Al-Manar Ponorogo. Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Kahfi. Transformasi pendidikan akhlak dalam mengatasi penyimpangan perilaku sosial remaja di era digital. Universitas PTIQ Jakarta. Kasingku. , & Sanger. Pengaruh pendidikan karakter terhadap moralitas remaja di era digital. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 8. , 6096Ae6110. Khofifah. , & Mufarochah. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Anak Usia Dini Melalui Pembiasaan Dan Keteladanan. AT-THUFULY: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 2. , 60Ae65. Kumari. Nurhayati. Harmiasih. , & Yunitasari. Menumbuhkan Sikap Empati Pada Anak Usia Dini Melalui Pembiasaan Sedekah Jumat Berkah di PAUD Insan Mandiri Kota Bogor. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 9. , 1067Ae1074. Leksono. Kualitatif. Ekonomi. Metode. Persada. Bab. , & Eskriptif. Pendekatan deskriptif. Maqbulah. Sari. Budiana. Dewi. Sukorini. Yosepin. , & Hasanah. Pendidikan karakter. Azzia Karya Bersama. No. Tahun 2003 Bab II Pasal 3. Republik Indonesia. Ramdhani. Lingkungan pendidikan dalam implementasi pendidikan karakter. Jurnal Pendidikan UNIGA, 8. , 28Ae37. Risnawati. Zaenuri. , & Fauzi. Pengembangan Kecerdasan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Metode Pembiasaan. WALADUNA: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini , 3. , 106Ae116. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Somantri. Memahami metode kualitatif. Makara Human Behavior Studies in Asia, 9. , 57Ae65. Sudaryanti. Pentingnya pendidikan karakter bagi anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak (Website Ini Sudah Bermigrasi Ke Website Yang Baru==> Https://Journal. Uny. Ac. Id/v3/Jp. , 1. Ulfa. Kustati. , & Sepriyanti. Pemberian Penguatan Positif (Positif Reinforcemen. Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Baca Tulis Anak. At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian Dan Pendidikan Agama Islam, 2. , 566Ae573. Ulfah. Digital Parenting: Bagaimana Orang Tua Melindungi Anak-anak dari Bahaya Digital? Edu Publisher. Wahyuni. , & Suyadi. Keteladanan Guru dalam Pembentukan Karakter Islami Anak usia Dini di PAUD IT Bunayya Pekanbaru. Generasi Emas: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 5. , 33Ae42. Yasin. Implementasi Pendidikan Karakter Disiplin. Tanggung Jawab Dan Rasa Hormat Di Min 05 Bandar Lampung. UIN Raden Intan Lampung.