1241 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 PERKEMBANGAN EKOWISATA DI PULAU LOMBOK: KAJIAN LITERATUR Oleh Putu Arya Reksa Anggratyas 1Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram. Indonesia E-mail: reksa. anggratyas@iahn-gdepudja. Article History: Received: 24-09-2025 Revised: 25-10-2025 Accepted: 28-10-2025 Keywords: Ekowisata. Pulau Lombok. Pariwisata Berkelanjutan. Community-Based Tourism. Konservasi Lingkungan Abstract: Lombok Island possesses significant ecotourism potential with diverse ecosystems encompassing mountainous regions, coastal areas, and small islands. The development of ecotourism on Lombok Island demonstrates varying dynamics and requires comprehensive study. This research aims to analyze the development of ecotourism on Lombok Island through a systematic literature review, identifying the potential, challenges, and sustainability-based ecotourism development strategies across various regions of Lombok. The research employs a systematic literature review method by examining 17 scientific articles published between 2017 and 2025. Data were collected from national and international scientific journal databases, then analyzed thematically to identify patterns of ecotourism development in each region. The literature review indicates that ecotourism on Lombok Island develops with unique characteristics in each region. East Lombok is dominated by mangrove and coral reef ecotourism. North Lombok is rapidly developing with a community-based tourism model in Gili Trawangan and the Rinjani area. West Lombok focuses on forest and mangrove conservation, while Central Lombok develops green tourism villages. The main supporting factors include biodiversity richness, local community support, and conservation initiatives. The challenges faced encompass limited institutional capacity, pressure from mass tourism, environmental degradation, and inadequate supporting infrastructure. The development of ecotourism on Lombok Island demonstrates a positive trend but requires institutional strengthening, community capacity enhancement, and integrated policies to ensure long-term sustainability. The community-based ecotourism approach has proven effective in integrating environmental conservation with local economic PENDAHULUAN Ekowisata merupakan konsep pariwisata berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek konservasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, dan pengalaman wisata yang edukatif. Dalam konteks global, ekowisata telah berkembang menjadi alternatif penting terhadap pariwisata massal yang cenderung mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan keberlanjutan. Konsep ini menekankan pada pelestarian keanekaragaman a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 hayati, minimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan, serta distribusi manfaat ekonomi yang adil bagi komunitas lokal. Ekowisata berbasis masyarakat . ommunity-based ecotouris. semakin mendapat perhatian sebagai model yang mampu menyeimbangkan kepentingan konservasi dengan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini memposisikan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan terkait pengembangan destinasi wisata. Pulau Lombok, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki potensi ekowisata yang luar biasa dengan keberagaman ekosistem yang meliputi kawasan pegunungan vulkanik Gunung Rinjani, hutan tropis, ekosistem mangrove, terumbu karang, dan pulaupulau kecil. Kekayaan alam ini menjadikan Lombok sebagai destinasi strategis untuk pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. ,3,. Secara geografis. Lombok terbagi menjadi lima kabupaten dan satu kota yaitu Lombok Utara. Lombok Tengah. Lombok Timur. Lombok Barat, dan Kota Mataram, masing-masing memiliki karakteristik dan potensi ekowisata yang unik. Kawasan Gili Trawangan di Lombok Utara, misalnya, telah menjadi ikon destinasi wisata bahari yang mendunia namun menghadapi tekanan ekologis akibat pertumbuhan pariwisata yang pesat. ,11,. Pemilihan Pulau Lombok sebagai fokus kajian perkembangan ekowisata didasarkan pada beberapa pertimbangan strategis yang menunjukkan kompleksitas dan dinamika pengembangan pariwisata berkelanjutan di wilayah ini. Pertama. Lombok memiliki keanekaragaman ekosistem yang tinggi dalam area yang relatif terbatas, memungkinkan studi komparatif antar wilayah dengan karakteristik geografis yang berbeda. ,5,. Kedua, perkembangan ekowisata di Lombok menunjukkan variasi model pengelolaan mulai dari yang berbasis masyarakat hingga yang berorientasi komersial, memberikan pembelajaran berharga tentang efektivitas berbagai pendekatan. Ketiga. Lombok menghadapi tantangan klasik destinasi wisata berkembang yaitu bagaimana menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi pariwisata dengan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial masyarakat lokal. ,13,. Keempat, adanya inisiatif Geopark Rinjani Lombok yang telah mendapat pengakuan UNESCO menunjukkan komitmen terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan yang perlu dikaji perkembangannya. Perkembangan ekowisata di Lombok Timur menunjukkan karakteristik unik dengan fokus pada ekosistem pesisir dan pegunungan. Kawasan Jerowaru di Lombok Timur telah mengembangkan ekowisata mangrove Bale Mangrove yang menjadi model inovatif dalam integrasi konservasi dan pariwisata. ,2,. Desa Sembalun di wilayah perbatasan Lombok Timur juga berkembang sebagai pintu gerbang pendakian Gunung Rinjani dengan pendekatan community-based ecotourism yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan distribusi manfaat ekonomi. Rehabilitasi terumbu karang di Desa Labuan Pandan menunjukkan upaya pemulihan ekosistem untuk mendukung keberlanjutan ekowisata bahari. Namun demikian, pengembangan ekowisata di Lombok Timur masih menghadapi tantangan terkait kapasitas kelembagaan, infrastruktur, dan koordinasi antar pemangku kepentingan. Lombok Utara, khususnya kawasan Gili Trawangan dan Taman Nasional Gunung Rinjani, mengalami perkembangan ekowisata yang paling pesat dibandingkan wilayah lainnya di Lombok. Gili Trawangan telah bertransformasi dari pulau kecil yang tenang menjadi destinasi wisata internasional dengan jutaan kunjungan wisatawan setiap tahunnya. ,11,. Perkembangan ini membawa dampak positif berupa peningkatan ekonomi masyarakat lokal, namun juga menimbulkan tekanan ekologis yang signifikan terhadap ekosistem terumbu karang dan ketersediaan air bersih. Implementasi konsep ketahanan pariwisata berbasis a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 masyarakat di Gili Trawangan mencoba menjawab tantangan ini dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait pengembangan . Sementara itu, kawasan Desa Kerujuk di Lombok Utara mengembangkan model kampung ekowisata dengan pendekatan yang lebih terencana dan berbasis . Karakteristik pengembangan ekowisata yang berbeda dengan fokus pada konservasi hutan dan ekosistem mangrove dimiliki oleh Lombok Barat. Kawasan Hutan Pusuk Pass menjadi lokasi strategis pengembangan ekowisata berbasis konservasi dengan upaya pelestarian pohon gaharu yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis tinggi. Ekowisata mangrove di Desa Lembar Selatan dikembangkan tidak hanya sebagai destinasi wisata tetapi juga sebagai sumber pembelajaran lingkungan hidup, menunjukkan integrasi antara fungsi konservasi, ekonomi, dan edukasi. Pendekatan institutional capacity building dalam pengembangan ekowisata mangrove Lembar menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas kelembagaan lokal untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan. Namun demikian. Lombok Barat masih menghadapi tantangan terkait aksesibilitas, promosi, dan pengembangan produk wisata yang kompetitif. Wilayah Lombok Tengah menunjukkan perkembangan ekowisata yang lebih terfokus pada model desa wisata hijau dengan integrasi antara pertanian, budaya, dan konservasi Desa Wisata Hijau Bilebante menjadi contoh implementasi strategi ekowisata dalam era pembangunan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan hingga evaluasi program. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ekowisata tidak hanya tentang pelestarian alam tetapi juga tentang bagaimana mengintegrasikan kehidupan sosial budaya masyarakat lokal ke dalam pengalaman wisata. Kawasan Lombok Tengah juga memiliki potensi ekowisata pegunungan yang belum sepenuhnya dikembangkan, memberikan peluang untuk diversifikasi produk ekowisata. Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mempertahankan keaslian budaya dan tradisi lokal di tengah tekanan modernisasi dan komersialisasi pariwisata. Kajian literatur sistematis mengenai perkembangan ekowisata di Pulau Lombok menjadi penting untuk beberapa alasan strategis. Pertama, untuk memetakan secara komprehensif perkembangan ekowisata di berbagai wilayah Lombok dan mengidentifikasi best practices yang dapat direplikasi. Kedua, untuk mengidentifikasi tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam pengembangan ekowisata sehingga dapat dirumuskan strategi mitigasi yang tepat. ,11,. Ketiga, untuk memberikan rekomendasi berbasis bukti . vidence-base. bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan dan program pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. Keempat, untuk mengisi kesenjangan pengetahuan . nowledge ga. terkait dinamika pengembangan ekowisata di Lombok yang selama ini masih terfragmentasi dalam berbagai studi terpisah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan ekowisata di Pulau Lombok secara komprehensif melalui studi literatur sistematis, mengidentifikasi potensi dan tantangan, serta merumuskan rekomendasi untuk pengembangan ekowisata berkelanjutan di masa depan. METODE PENELITIAN 1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain studi literatur sistematis . ystematic literature revie. untuk menganalisis perkembangan ekowisata di Pulau Lombok. Studi literatur sistematis dipilih karena kemampuannya untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 mensintesis seluruh penelitian yang relevan dengan pertanyaan penelitian secara terstruktur dan transparan. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan bukti empiris dari berbagai sumber literatur ilmiah yang telah dipublikasikan, menganalisis pola dan tren, serta mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dalam bidang ekowisata di Lombok. Pendekatan sistematis ini meminimalkan bias dalam pemilihan literatur dan memastikan bahwa hasil kajian mencerminkan keseluruhan bukti yang tersedia. 2 Sumber Data Sumber data penelitian berasal dari artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal nasional dan internasional, prosiding konferensi ilmiah, serta repositori institusi pendidikan Pencarian literatur dilakukan melalui beberapa basis data elektronik termasuk Portal Garuda. Google Scholar. Directory of Open Access Journals (DOAJ), dan repositori universitas di Indonesia khususnya Universitas Mataram yang memiliki fokus penelitian kuat di wilayah Nusa Tenggara Barat. ,2,3,5,. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian meliputi "ekowisata Lombok", "ecotourism Lombok", "sustainable tourism Lombok", "community-based tourism Lombok", "pariwisata berkelanjutan Lombok", dikombinasikan dengan nama spesifik wilayah seperti "Lombok Utara", "Lombok Timur", "Lombok Barat", "Lombok Tengah", "Mataram", dan "Gili Trawangan". Pencarian literatur dilakukan untuk artikel yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2017-2025 untuk memastikan relevansi dan kebaruan informasi. 3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi untuk pemilihan literatur dalam penelitian ini meliputi: . artikel yang secara spesifik membahas ekowisata atau pariwisata berkelanjutan di Pulau Lombok. artikel yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2017-2025. artikel dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. artikel yang telah melalui proses peer-review atau dipublikasikan dalam jurnal/prosiding terindeks. artikel yang menyediakan data empiris atau analisis tentang perkembangan, potensi, strategi, atau tantangan ekowisata di Lombok. ,4,5,11,. Kriteria eksklusi meliputi: . artikel yang hanya membahas pariwisata konvensional tanpa fokus pada aspek keberlanjutan atau konservasi. artikel yang tidak spesifik membahas wilayah Lombok. artikel opini atau editorial tanpa data empiris. artikel duplikat dari publikasi yang sama. artikel yang tidak dapat diakses full-text. Berdasarkan kriteria ini, sebanyak 17 artikel ilmiah terpilih untuk dianalisis dalam penelitian 4 Proses Pengumpulan Data Proses pengumpulan data dilakukan dalam beberapa tahapan sistematis. Tahap pertama adalah identifikasi literatur potensial melalui pencarian elektronik pada basis data yang telah ditentukan menggunakan kombinasi kata kunci yang relevan. Tahap kedua adalah skrining judul dan abstrak untuk menilai relevansi literatur dengan topik penelitian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. ,5,. Tahap ketiga adalah penilaian kelayakan . ligibility assessmen. dengan membaca full-text artikel yang lolos tahap skrining untuk memastikan kesesuaian dengan tujuan penelitian. Tahap keempat adalah ekstraksi data dari artikel terpilih yang mencakup informasi tentang: nama penulis dan tahun publikasi, lokasi penelitian, metode penelitian, fokus kajian ekowisata, temuan utama, potensi yang diidentifikasi, tantangan yang dihadapi, dan rekomendasi yang diusulkan. Data yang telah diekstraksi kemudian diorganisir dalam matriks analisis untuk memudahkan proses sintesis dan 5 Teknik Analisis Data a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis tematik . hematic analysi. yang memungkinkan identifikasi, analisis, dan pelaporan pola atau tema dalam data kualitatif. Proses analisis dimulai dengan pembacaan berulang . epeated readin. terhadap seluruh artikel terpilih untuk memahami konten secara mendalam dan mengenali pola-pola . ,4,5,11,. Tahap selanjutnya adalah pengkodean . di mana segmen-segmen teks yang relevan diberi label sesuai dengan tema yang muncul seperti potensi ekowisata, strategi pengembangan, tantangan, dampak, dan peran masyarakat. Kode-kode yang terbentuk kemudian dikelompokkan menjadi tema-tema yang lebih luas dan diorganisir berdasarkan wilayah geografis (Lombok Utara. Lombok Timur. Lombok Barat. Lombok Tengah. Mataram. Gili Trawanga. dan aspek-aspek perkembangan ekowisata. Sintesis temuan dilakukan dengan membandingkan dan mengkontraskan hasil dari berbagai studi untuk mengidentifikasi kesamaan, perbedaan, dan pola umum dalam perkembangan ekowisata di Pulau Lombok. Triangulasi data dilakukan dengan membandingkan temuan dari berbagai sumber untuk memastikan validitas dan reliabilitas hasil analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Karakteristik Literatur yang Dikaji Analisis terhadap 17 artikel ilmiah yang dikaji menunjukkan distribusi publikasi yang tidak merata baik dari aspek temporal maupun fokus geografis. Dari segi temporal, publikasi artikel mengalami peningkatan signifikan dalam periode 2022-2025, menunjukkan meningkatnya perhatian akademik terhadap isu ekowisata dan pariwisata berkelanjutan di Pulau Lombok. ,4,5,11,. Peningkatan ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk pemulihan sektor pariwisata pasca gempa Lombok 2018, inisiasi Geopark Rinjani Lombok, dan meningkatnya kesadaran global tentang pentingnya pariwisata berkelanjutan. Dari segi metodologi, sebagian besar artikel menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, observasi, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD), sementara beberapa artikel menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode . ,8,9,. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ekowisata di Lombok masih dominan bersifat eksploratif dan deskriptif, dengan relatif sedikit studi yang menggunakan pendekatan eksplanatori atau evaluatif. Distribusi literatur berdasarkan lokasi penelitian menunjukkan konsentrasi yang tinggi pada kawasan Lombok Timur dan Lombok Utara, khususnya Gili Trawangan, sementara Lombok Tengah. Lombok Barat, dan Kota Mataram relatif kurang mendapat perhatian dalam studi akademik. ,2,3,4,5,8,11,12,. Dominasi Lombok Timur dalam literatur terkait dengan keberagaman ekosistem dan inisiatif pengembangan ekowisata mangrove dan terumbu karang yang relatif lebih maju dibanding wilayah lain. Gili Trawangan di Lombok Utara mendapat perhatian khusus karena statusnya sebagai destinasi wisata internasional yang menghadapi tantangan kompleks dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian . ,11,. Dari segi jenis ekowisata yang dikaji, literatur didominasi oleh kajian tentang ekowisata mangrove, ekowisata bahari . erumbu karan. , ekowisata pegunungan (Rinjan. , dan desa wisata hijau. Terdapat kesenjangan dalam kajian tentang ekowisata berbasis hutan, ekowisata agro, dan ekowisata budaya yang sebenarnya juga memiliki potensi signifikan di Pulau Lombok. Tabel 1. Distribusi Literatur Berdasarkan Lokasi dan Jenis Ekowisata a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Lokasi Penelitian Jenis Ekowisata Lombok Timur Ekowisata Mangrove Konservasi, community-based tourism, inovasi program tur ,2,5,. Lombok Timur Ekowisata Terumbu Karang Rehabilitasi ekosistem. Web Spider Method . Lombok Timur Ekowisata Pegunungan Community-based management. Bukit Pergasingan. Sembalun . Jumlah Artikel Fokus Utama Kajian Lombok Utara (Gili Trawanga. Ekowisata Bahari Ketahanan ekologi-sosial, pembangunan berkelanjutan, pariwisata berbasis masyarakat ,11,12,14,. Lombok Utara (Darata. Desa Wisata/Eduekowisata Kampung ekowisata Kerujuk, eduekowisata Bukit Cahaya . Lombok Barat Ekowisata Hutan Konservasi gaharu. Hutan Pusuk Pass . Lombok Barat Ekowisata Mangrove Pembelajaran IPA, institutional capacity . Lombok Tengah Desa Wisata Hijau Strategi implementasi ecotourism . Multi-lokasi Lombok Ekowisata Umum Model pengembangan, entrepreneurship hijau . Tabel 1 menunjukkan bahwa ekowisata mangrove mendominasi kajian di Lombok Timur dengan 4 artikel, diikuti oleh ekowisata bahari di Gili Trawangan dengan 5 . ,2,4,5,8,11,. Lombok Barat dan Lombok Tengah masing-masing hanya memiliki 2-3 artikel, menunjukkan perlunya intensifikasi penelitian di wilayah-wilayah tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang perkembangan ekowisata. Dari segi pendekatan pengelolaan, mayoritas literatur menekankan pentingnya pendekatan community-based ecotourism management sebagai strategi utama dalam memastikan keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. ,5,6,11,13,. Beberapa artikel juga mengangkat isu spesifik seperti ketahanan pariwisata . ourism resilienc. , pembayaran jasa a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 lingkungan . ayment for environmental service. , dan perencanaan lanskap ekowisata yang mengintegrasikan aspek ekologis dengan aspek sosial ekonomi. Keragaman fokus kajian ini menunjukkan kompleksitas pengembangan ekowisata di Lombok yang memerlukan pendekatan multidimensional dan interdisipliner. 2 Sejarah Awal Mula Pengembangan Ekowisata di Pulau Lombok Pengembangan ekowisata di Pulau Lombok tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah perkembangan pariwisata secara umum di wilayah ini yang dimulai pada era 1980an ketika pemerintah mulai mempromosikan Lombok sebagai alternatif destinasi wisata setelah Bali. Namun demikian, konsep ekowisata baru mulai berkembang pada awal tahun 2000-an seiring dengan meningkatnya kesadaran global tentang dampak negatif pariwisata massal terhadap lingkungan dan masyarakat lokal. ,11,. Inisiatif awal pengembangan ekowisata di Lombok lebih bersifat organik dan bottom-up, dimana masyarakat lokal di beberapa desa mulai menyadari nilai ekonomi dari aset alam yang mereka miliki tanpa harus merusak lingkungan. Gili Trawangan menjadi salah satu pelopor dengan pengembangan wisata selam dan snorkeling yang memanfaatkan keindahan terumbu karang, meskipun pada awalnya belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip ekowisata berkelanjutan. Perkembangan awal ini lebih didorong oleh inisiatif pengusaha dan investor dari luar yang melihat potensi ekonomi, dengan keterlibatan masyarakat lokal yang masih terbatas pada peran sebagai tenaga kerja. Titik balik penting dalam sejarah ekowisata Lombok terjadi setelah gempa besar tahun 2018 yang memberikan dampak devastasi terhadap infrastruktur pariwisata dan ekosistem alam. Peristiwa ini mendorong refleksi mendalam dari berbagai pemangku kepentingan tentang pentingnya membangun kembali sektor pariwisata dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan resilient. Proses rekonstruksi pasca gempa membuka peluang untuk mengimplementasikan konsep-konsep ekowisata yang lebih terencana dan berbasis pada partisipasi masyarakat. Di Lombok Timur, inisiatif rehabilitasi terumbu karang di Desa Labuan Pandan menggunakan metode Web Spider tidak hanya bertujuan untuk pemulihan ekosistem tetapi juga untuk mendukung keberlanjutan ekowisata bahari jangka . Sementara itu di Lombok Utara, pengembangan kampung ekowisata Kerujuk dimulai dengan pendekatan yang lebih terstruktur melibatkan pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dalam proses perencanaan participatory. Pengakuan Geopark Rinjani Lombok sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2018 juga menjadi momentum penting yang mendorong pengembangan ekowisata berbasis konservasi geoheritage dan bioheritage di kawasan Lombok Utara dan Lombok Timur. 3 Potensi Ekowisata di Pulau Lombok Pulau Lombok memiliki potensi ekowisata yang sangat beragam berkat kekayaan biodiversitas dan keunikan ekosistem yang dimiliki setiap wilayah. Lombok Timur memiliki potensi ekowisata mangrove yang sangat besar dengan ekosistem mangrove yang masih terjaga di sepanjang pesisir selatan dan timur, khususnya di kawasan Jerowaru dan Labuan Pandan. ,2,. Ekosistem mangrove ini tidak hanya berfungsi sebagai habitat berbagai spesies flora dan fauna tetapi juga sebagai benteng alami terhadap abrasi dan tsunami, menjadikannya aset penting untuk ekowisata edukatif. Potensi ekowisata terumbu karang di Lombok Timur juga sangat tinggi dengan keberagaman spesies karang dan biota laut yang menarik untuk aktivitas snorkeling dan diving. Kawasan pegunungan di Sembalun, yang menjadi gerbang utama pendakian Gunung Rinjani, menawarkan potensi ekowisata pegunungan dengan pemandangan alam yang spektakuler, keanekaragaman hayati hutan pegunungan, dan budaya a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 pertanian lokal yang unik. Kombinasi antara ekosistem pesisir, terumbu karang, dan pegunungan menjadikan Lombok Timur sebagai wilayah dengan potensi ekowisata yang paling beragam. Lombok Utara memiliki potensi ekowisata yang telah berkembang relatif lebih maju, terutama di kawasan Gili Trawangan. Gili Meno, dan Gili Air yang dikenal dengan keindahan pantai berpasir putih dan terumbu karang yang masih terjaga di beberapa . ,11,. Taman Nasional Gunung Rinjani yang sebagian besar wilayahnya berada di Lombok Utara menawarkan potensi ekowisata pegunungan kelas dunia dengan jalur pendakian yang menantang. Danau Segara Anak yang indah, dan keanekaragaman hayati flora fauna endemik. Kawasan Geopark Rinjani Lombok yang mencakup sebagian Lombok Utara memiliki potensi geosite dan biosite yang sangat tinggi untuk pengembangan geotourism dan ekowisata edukatif. Desa-desa di kaki Gunung Rinjani seperti Desa Senaru dan Desa Kerujuk memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis budaya dan konservasi dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata, penyedia homestay, dan pelaku usaha mikro kerajinan. Lombok Barat menawarkan potensi ekowisata hutan di kawasan Pusuk Pass yang merupakan habitat alami monyet ekor panjang dan berbagai spesies burung, serta memiliki nilai ekologis tinggi dengan keberadaan pohon gaharu yang langka. Ekosistem mangrove di Lembar Selatan juga menjadi aset penting untuk ekowisata edukatif yang dapat mengintegrasikan fungsi konservasi dengan pembelajaran lingkungan hidup. Lombok Tengah memiliki potensi desa wisata hijau yang mengintegrasikan pertanian organik, kerajinan tradisional, dan pelestarian budaya lokal seperti yang dikembangkan di Desa Bilebante. Keragaman potensi ekowisata ini menunjukkan bahwa Pulau Lombok memiliki aset yang memadai untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan berbagai segmen pasar dan preferensi wisatawan. 4 Faktor-Faktor yang Mendukung Perkembangan Ekowisata di Pulau Lombok Beberapa faktor kunci telah mengidentifikasi mendukung perkembangan ekowisata di Pulau Lombok berdasarkan kajian literatur yang dilakukan. Faktor pertama adalah kekayaan biodiversitas dan keunikan ekosistem yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman otentik dengan alam. ,3,5,. Keberadaan ekosistem mangrove, terumbu karang, hutan tropis, dan pegunungan vulkanik dalam satu pulau memberikan keunggulan komparatif bagi Lombok dalam pasar ekowisata global. Faktor kedua adalah dukungan dan partisipasi masyarakat lokal yang semakin meningkat dalam pengelolaan ekowisata, seperti yang terlihat dalam pengembangan community-based ecotourism di berbagai . ,5,6,11,13,. Keterlibatan masyarakat tidak hanya sebagai penerima manfaat tetapi juga sebagai pengambil keputusan dalam pengelolaan destinasi wisata telah terbukti meningkatkan sense of ownership dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Faktor ketiga adalah dukungan kelembagaan dari pemerintah daerah, akademisi, dan organisasi nonpemerintah yang memberikan asistensi teknis, pelatihan kapasitas, dan fasilitasi akses pasar bagi pelaku ekowisata lokal. ,13,14,. Program-program pendampingan dan capacity building yang dilakukan oleh perguruan tinggi seperti Universitas Mataram dan Politeknik Pariwisata Lombok telah memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas pengelolaan ekowisata. Faktor keempat adalah inisiatif konservasi dan rehabilitasi ekosistem yang terintegrasi dengan pengembangan ekowisata, seperti program rehabilitasi terumbu karang dan penanaman mangrove yang tidak hanya berfungsi ekologis tetapi juga meningkatkan daya tarik . ,5,. Upaya konservasi ini menunjukkan komitmen jangka panjang untuk a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 memastikan keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi basis ekowisata. Faktor kelima adalah pengakuan internasional seperti status UNESCO Global Geopark untuk Geopark Rinjani Lombok yang meningkatkan kredibilitas dan visibilitas Lombok sebagai destinasi ekowisata berkelas dunia. Pengakuan ini juga membuka akses terhadap jaringan global dan best practices dalam pengelolaan geopark dan ekowisata. Faktor keenam adalah aksesibilitas yang semakin membaik dengan adanya Bandara Internasional Lombok dan infrastruktur jalan yang terus dikembangkan, memudahkan wisatawan untuk mencapai berbagai destinasi ekowisata di seluruh wilayah Lombok. Faktor ketujuh adalah tren global yang semakin mengarah pada responsible tourism dan sustainable tourism, dimana wisatawan semakin sadar akan dampak perjalanan mereka dan lebih memilih destinasi yang menerapkan prinsip keberlanjutan. ,11,12,. Kombinasi faktor-faktor pendukung ini menciptakan momentum positif untuk akselerasi pengembangan ekowisata di Pulau Lombok dalam dekade mendatang. 5 Tantangan yang Dihadapi oleh Sektor Ekowisata Meskipun memiliki potensi yang besar dan dukungan yang menguat, pengembangan ekowisata di Pulau Lombok masih menghadapi berbagai tantangan signifikan yang perlu Tantangan pertama adalah terkait kapasitas kelembagaan lokal yang masih terbatas dalam aspek manajemen, pemasaran, dan pengelolaan keuangan. ,8,9,. Banyak kelompok masyarakat pengelola ekowisata yang masih mengandalkan cara-cara tradisional dan belum mengadopsi praktik manajemen modern yang profesional. Tantangan kedua adalah tekanan dari pariwisata massal yang terjadi khususnya di Gili Trawangan dimana pertumbuhan jumlah wisatawan yang sangat cepat telah menyebabkan degradasi ekosistem terumbu karang, pencemaran air laut, permasalahan pengelolaan sampah, dan keterbatasan ketersediaan air . ,11,. Fenomena ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk implementasi carrying capacity dan visitor management yang lebih ketat. Tantangan ketiga adalah konflik kepentingan antara konservasi lingkungan dengan eksploitasi ekonomi jangka pendek, dimana masih banyak pelaku usaha yang memprioritaskan keuntungan ekonomi cepat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kelestarian lingkungan. Lemahnya penegakan regulasi lingkungan dan tata ruang juga memperburuk situasi ini. Tantangan keempat adalah keterbatasan infrastruktur pendukung ekowisata seperti sistem pengelolaan air bersih, pengelolaan sampah terpadu, energi terbarukan, dan fasilitas sanitasi yang ramah lingkungan, khususnya di wilayah-wilayah yang masih dalam tahap awal pengembangan ekowisata. ,8,9,13,. Keterbatasan infrastruktur ini tidak hanya mengurangi kenyamanan wisatawan tetapi juga meningkatkan risiko dampak negatif terhadap Tantangan kelima adalah rendahnya kesadaran dan pemahaman sebagian masyarakat lokal tentang konsep dan prinsip ekowisata berkelanjutan, sehingga masih banyak praktik yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi. ,8,. Program edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan literasi ekowisata di kalangan masyarakat. Tantangan keenam adalah kompetisi dengan destinasi ekowisata lain di Indonesia dan regional yang juga menawarkan atraksi serupa dengan promosi yang lebih agresif. Lombok perlu mengembangkan unique selling proposition yang jelas dan strategi branding yang kuat untuk memenangkan kompetisi di pasar global. Tantangan ketujuh adalah perubahan iklim dan bencana alam seperti yang dialami pada gempa 2018 yang dapat menghancurkan infrastruktur dan ekosistem dalam waktu singkat, menunjukkan perlunya strategi adaptasi dan mitigasi risiko bencana dalam perencanaan ekowisata. Kompleksitas tantangan-tantangan ini memerlukan pendekatan holistik dan kolaboratif a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan dan mengimplementasikan solusi yang efektif. 6 Perbandingan Antara Wilayah-Wilayah dalam Hal Perkembangan Ekowisata Perbandingan perkembangan ekowisata antar wilayah di Pulau Lombok menunjukkan variasi yang cukup signifikan dalam hal tahapan pengembangan, model pengelolaan, dan tingkat keberlanjutan. Lombok Utara, khususnya kawasan Gili Trawangan, berada pada tahap perkembangan yang paling maju dengan infrastruktur pariwisata yang relatif lengkap, jumlah kunjungan wisatawan yang tinggi, dan kontribusi ekonomi yang signifikan terhadap perekonomian daerah. ,11,. Namun kemajuan ini juga diiringi dengan tantangan keberlanjutan yang paling kompleks termasuk overtourism, degradasi lingkungan, dan ketimpangan sosial ekonomi antara pelaku usaha besar dengan masyarakat lokal. Model pengelolaan di Gili Trawangan lebih bersifat market-driven dengan dominasi sektor swasta, meskipun dalam beberapa tahun terakhir mulai ada upaya untuk mengintegrasikan prinsip community-based tourism melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Sebaliknya, kawasan daratan Lombok Utara seperti Desa Kerujuk dan Bukit Cahaya masih berada pada tahap awal pengembangan dengan pendekatan yang lebih terencana dan berbasis . Wilayah-wilayah ini memiliki keunggulan dalam hal keaslian lingkungan dan budaya yang masih terjaga, namun menghadapi tantangan dalam hal aksesibilitas, promosi, dan pengembangan produk wisata yang kompetitif. Lombok Timur menunjukkan perkembangan ekowisata yang relatif seimbang antara pertumbuhan ekonomi dengan konservasi lingkungan, terutama dalam pengembangan ekowisata mangrove dan terumbu karang yang berbasis pada prinsip community-based . ,2,5,. Inovasi program tur ekowisata Bale Mangrove di Jerowaru menunjukkan kreativitas lokal dalam mengemas pengalaman wisata yang edukatif dan berkelanjutan. Model pengelolaan di Lombok Timur lebih bersifat kolaboratif dengan keterlibatan aktif masyarakat lokal, pemerintah desa, dan pendampingan dari akademisi dan NGO. Namun Lombok Timur masih menghadapi tantangan dalam hal pemasaran dan pengembangan brand awareness di pasar wisata nasional dan internasional. Lombok Barat memiliki perkembangan ekowisata yang paling lambat dibandingkan wilayah lain, meskipun memiliki potensi signifikan dalam ekowisata hutan dan mangrove. ,8,. Keterbatasan aksesibilitas dan minimnya promosi menjadi hambatan utama pengembangan ekowisata di wilayah ini. Namun demikian. Lombok Barat memiliki peluang untuk belajar dari pengalaman wilayah lain dan mengembangkan ekowisata dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan sejak . Lombok Tengah menunjukkan karakteristik unik dengan fokus pada pengembangan desa wisata hijau yang mengintegrasikan pertanian, kerajinan, dan budaya lokal, meskipun masih dalam skala kecil dan belum mencapai critical mass untuk menarik wisatawan dalam jumlah signifikan. Perbandingan antar wilayah ini menunjukkan bahwa tidak ada model tunggal yang cocok untuk semua konteks, dan setiap wilayah perlu mengembangkan strategi ekowisata yang sesuai dengan karakteristik, potensi, dan tantangan spesifik yang . ,5,11,14,. KESIMPULAN Kajian literatur sistematis terhadap 17 artikel ilmiah tentang perkembangan ekowisata di Pulau Lombok menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki potensi ekowisata yang sangat besar dan beragam meliputi ekosistem mangrove, terumbu karang, hutan tropis, pegunungan vulkanik, dan desa wisata berbasis budaya lokal. ,3,4,5,8,. Perkembangan ekowisata di a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 berbagai wilayah Lombok menunjukkan variasi yang signifikan, dimana Lombok Utara . hususnya Gili Trawanga. berada pada tahap paling maju tetapi menghadapi tantangan keberlanjutan paling kompleks, sementara Lombok Timur menunjukkan perkembangan yang relatif seimbang antara pertumbuhan ekonomi dengan konservasi lingkungan melalui pendekatan community-based ecotourism. ,5,11,. Lombok Barat dan Lombok Tengah masih berada pada tahap awal pengembangan dengan peluang untuk mengimplementasikan best practices dari wilayah lain. ,8,9,. Faktor-faktor yang mendukung perkembangan ekowisata meliputi kekayaan biodiversitas, dukungan masyarakat lokal, inisiatif konservasi, pengakuan internasional seperti UNESCO Global Geopark, dan tren global menuju pariwisata . ,4,5,11,13,. Namun demikian, sektor ekowisata di Lombok masih menghadapi tantangan signifikan berupa kapasitas kelembagaan yang terbatas, tekanan overtourism di beberapa lokasi, konflik kepentingan konservasi versus eksploitasi ekonomi, keterbatasan infrastruktur, dan kerentanan terhadap bencana alam. ,5,8,9,11,12,. Berdasarkan temuan kajian literatur, beberapa rekomendasi strategis dapat dirumuskan untuk pengembangan ekowisata berkelanjutan di Pulau Lombok. Pertama, perlu penguatan kapasitas kelembagaan lokal melalui program pelatihan berkelanjutan dalam aspek manajemen, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, dan customer service untuk meningkatkan profesionalisme pengelola ekowisata. ,8,9,. Kedua, implementasi carrying capacity dan visitor management system yang ketat khususnya di destinasi yang mengalami tekanan overtourism seperti Gili Trawangan untuk mencegah degradasi lingkungan lebih . ,11,. Ketiga, pengembangan mekanisme pembayaran jasa lingkungan . ayment for environmental service. untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi pariwisata dapat dialokasikan untuk program konservasi dan pemulihan ekosistem. Keempat, peningkatan investasi infrastruktur pendukung ekowisata yang ramah lingkungan termasuk sistem pengelolaan sampah terpadu, energi terbarukan, dan fasilitas sanitasi berkelanjutan. ,8,9,. Kelima, pengembangan kebijakan terintegrasi antar kabupaten/kota dalam satu pulau untuk memastikan konsistensi standar dan praktik ekowisata serta mencegah kompetisi yang destruktif antar wilayah. ,11,. Keenam, penguatan peran akademisi dan lembaga penelitian dalam melakukan monitoring dan evaluasi berkala terhadap dampak lingkungan dan sosial ekonomi ekowisata sebagai basis penyusunan kebijakan berbasis bukti. ,5,13,. Potensi masa depan ekowisata di Pulau Lombok sebagai bagian dari destinasi wisata berkelanjutan sangat menjanjikan mengingat tren global yang semakin mengarah pada responsible tourism dan meningkatnya kesadaran wisatawan tentang pentingnya pelestarian . ,11,. Pengakuan UNESCO Global Geopark untuk Geopark Rinjani Lombok memberikan legitimasi internasional dan membuka peluang untuk integrasi dengan jaringan geopark global, yang dapat meningkatkan visibilitas dan kredibilitas Lombok sebagai destinasi ekowisata berkelas dunia. Pengembangan digital tourism dan smart tourism dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan pengalaman wisatawan sambil meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan melalui penggunaan teknologi untuk visitor management, interpretasi virtual, dan monitoring lingkungan real-time. Diversifikasi produk ekowisata dengan mengintegrasikan elemen budaya lokal, kuliner tradisional, dan kerajinan tangan dapat meningkatkan nilai tambah dan distribusi manfaat ekonomi yang lebih luas kepada . ,14,. Kolaborasi multi-stakeholder yang lebih erat antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat lokal, akademisi, dan organisasi konservasi akan menjadi kunci keberhasilan pengembangan ekowisata berkelanjutan di Lombok. ,5,11,13,. Dengan a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 mengatasi tantangan-tantangan yang ada dan memanfaatkan peluang-peluang yang tersedia. Pulau Lombok memiliki potensi untuk menjadi model ekowisata berkelanjutan di Indonesia dan Asia Tenggara yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. DAFTAR REFERENSI Analisis Potensi Alam Desa Kwang Rundun Untuk Menunjang Konsep Ekowisata Serta Identifikasi Desa Kwang Rundun Sebagai Desa Wisata. Jurnal JPMPI Universitas Mataram. Available https://jppipa. id/index. php/jpmpi/article/view/1385 . Analisis Strategi dalam Pengimplementasian Ecotourism di Desa Wisata Hijau Bilebante. Jurnal MBI Bina Patria. Available https://binapatria. id/index. php/MBI/article/view/757 . Community-Based Ecotourism Management Strategy in Bukit Pergasingan. Sembalun Village. East Lombok. Perennial Journal. Available https://journal. id/index. php/perennial/article/view/30804 . Desain Kebijakan Pembayaran Jasa Lingkungan Sebagai Alternatif untuk Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di Pulau Kecil: Studi Kasus di Kabupaten Lombok Utara. Jurnal Elastisitas Universitas Mataram. Available https://elastisitas. id/index. php/elastisitas/article/view/139 . Ecotourism Development of Kerujuk Village. North Lombok. Jurnal Ekonomi SEAN Institute. Available https://ejournal. id/index. php/Ekonomi/article/view/1822 . Ekowisata Mangrove Desa Lembar Selatan sebagai Sumber Belajar IPA. Jurnal HIJASE. Available https://ejournal. id/index. php/hijase/article/view/26940 . Green Entrepreneurship Development Strategy Based on Local Characteristic to Support Power Ecotourism Continuous at Lombok. Longdom Publishing. Available from: https://w. org/open-access/green-entrepreneurship-development-strategy-basedon-local-characteristic-to-support-power-ecotourism-continuous-at-lomb-18083. Inovasi Program Tur Ekowisata Bale Mangrove sebagai Daya Tarik Wisata Berkelanjutan di Desa Wisata Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Penelitian Inovatif. Available from: https://jurnal-id. com/index. php/jupin/article/view/342 . Institutional Capacity in the Mangrove Ecotourism Development of Lembar Area. West Lombok. Indonesia. ECSOFIM Journal. Available https://ecsofim. id/index. php/ecsofim/article/view/282 . Ketahanan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Gili Trawangan Lombok Utara. Jurnal JIH STP Mataram. Available https://ejournal. id/JIH/article/view/3824 . Pelestarian Pohon Gaharu di Kawasan Ekowisata Hutan Pusuk Pass Lombok Barat Melalui Aksi Penanaman dan Pemupukan Bibit. Jurnal Abdi Insani Universitas Mataram. Available https://abdiinsani. id/index. php/jurnal/article/view/2065 . https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN https://ejournal. id/JRT