Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik Volume 3. Nomor 3. September 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpakk. Tersedia: https://journal. id/index. php/jbpakk Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints Denyka Munthe1*. Jeppri Nainggolan2 Sekolah Tinggi Teologi Rajawali Arastamar Indonesia Batam. Indonesia Penulis korespondensi: denykamunthe3@gmail. Abstract. The doctrine of the Perseverance of the Saints-also known as "once saved, always saved"-has been one of the most important tenets of the Reformed tradition. It states that those who are truly chosen and born again will never lose their salvation. However, this doctrine is not free from criticism, both from the perspective of Arminian theology and from the pastoral reality of people who fall into sin. This journal aims to evaluate the biblical basis, systematic logic, and practical implications of this doctrine. The research is conducted through a theological-critical approach, taking into account the primary sources of Scripture and the thought of classical and contemporary theologians. The results show that this doctrine, while having a strong Biblical foundation, requires caution in its application so as not to give rise to a permissive attitude towards sin or neglect the importance of continued growth in faith. Keywords: Growth of Faith. Pastoral Implications. Review Arminian. The Doctrine of Salvation. Theology Reformed Abstrak. Doktrin Perseverance of the Saints yang dikenal juga sebagai "sekali selamat tetap selamat" telah menjadi salah satu pokok ajaran penting dalam tradisi Reformed. Ajaran ini menyatakan bahwa mereka yang benar-benar dipilih dan dilahirkan kembali tidak akan pernah kehilangan keselamatannya. Namun, doktrin ini tidak lepas dari kritik, baik dari sudut pandang teologi Arminian maupun dari realitas pastoral umat yang jatuh dalam dosa. Jurnal ini bertujuan untuk mengevaluasi dasar biblika, logika sistematis, dan implikasi praktis dari doktrin ini. Penelitian dilakukan melalui pendekatan teologis kritis, dengan mempertimbangkan sumber-sumber primer Kitab Suci dan pemikiran para teolog klasik dan kontemporer. Hasilnya menunjukkan bahwa doktrin ini, meskipun memiliki dasar Alkitabiah yang kuat, memerlukan kehati-hatian dalam penerapannya agar tidak menimbulkan sikap permisif terhadap dosa atau mengabaikan pentingnya pertumbuhan iman yang berkelanjutan. Kata kunci: Doktrin Keselamatan. Teologi Reformed. Kritik Arminian. Pertumbuhan Iman. Implikasi Pastoral LATAR BELAKANG Doktrin Perseverance of the Saints atau ketekunan orang-orang kudus merupakan salah satu aspek paling kontroversial dalam soteriologi Reformed. Ajaran ini menyatakan bahwa mereka yang secara sah diselamatkan tidak mungkin kehilangan keselamatannya karena Allah akan memelihara mereka sampai akhir. Ini merupakan bagian dari TULIP, akronim dari lima poin Calvinisme, dan menjadi bentuk pengakuan akan kesinambungan kasih karunia Allah dalam keselamatan yang tidak bergantung pada usaha manusia, melainkan pada pemeliharaan Allah sendiri. (Wayne Grudem, 1994a, pp. 788Ae. Pandangan ini sangat erat kaitannya dengan pemahaman tentang kedaulatan Allah dan doktrin predestinasi. Pemikiran bahwa keselamatan tidak bisa hilang berpijak pada keyakinan bahwa Allah yang memulai karya keselamatan juga akan menyempurnakannya . Flp. Kendati demikian, penerimaan terhadap doktrin ini tidak universal. Di dalam teologi Arminian, misalnya, ada penekanan kuat pada kehendak bebas manusia yang dapat menolak atau bahkan meninggalkan keselamatan yang telah diterimanya. (Roger E. Olson, 2006, pp. 195Ae. Naskah Masuk: 08 Agustus 2025. Revisi: 01 September 2025. Diterima: 23 September 2025. Terbit: 30 September 2025 Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints Ketegangan ini muncul karena banyaknya nas Alkitab yang diinterpretasikan secara berbeda oleh kedua kubu. Dalam teks-teks seperti Yohanes 10:28-29 dan Roma 8:29-30, kaum Reformed melihat jaminan ilahi yang tidak dapat diganggu gugat. Sebaliknya, ayat-ayat seperti Ibrani 6:4Ae6 dan 2 Petrus 2:20Ae22 sering dijadikan dasar oleh kaum Arminian untuk menunjukkan kemungkinan murtad secara sadar dari iman. Hermeneutika terhadap bagianbagian ini menjadi medan debat yang tak pernah usai hingga kini. (Thomas R. Schreiner & Ardel B. Caneday, 2001a, pp. 37Ae. Dalam perkembangan literatur teologi kontemporer, perseverance of the saints kembali menjadi sorotan, terutama karena relevansinya dengan realitas pastoral. Misalnya, dalam konteks gereja modern, tidak jarang ditemukan kasus orang yang sebelumnya aktif dalam pelayanan dan iman, kemudian meninggalkan gereja atau bahkan iman Kristen itu sendiri. Di sinilah pertanyaan teologis menjadi nyata: apakah orang tersebut tidak pernah sungguh-sungguh percaya, ataukah ia kehilangan keselamatannya?. (Michael F. Bird, 2013, pp. 692Ae. Wayne Grudem menyatakan bahwa ketekunan dalam iman adalah buah dari kelahiran baru yang sejati. Ia menekankan bahwa Allah tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga memelihara dan menyempurnakan keselamatan tersebut. (Wayne Grudem, 1994a, p. Sproul bahkan menyebut bahwa jika seseorang sungguh diselamatkan, maka adalah mustahil ia kehilangan keselamatannya karena keselamatan itu adalah hasil dari inisiatif dan tindakan Allah yang tidak berubah. (R. Sproul, 1986, pp. 191Ae. Pandangan ini mengakar dalam teologi Reformasi yang menekankan kemahakuasaan dan ketetapan Allah yang tidak dapat digagalkan oleh manusia. Namun, pemahaman ini tidak terlepas dari tantangan I. Howard Marshall menilai bahwa banyak argumen Calvinis terlalu menyederhanakan kompleksitas teks-teks Alkitab dan cenderung mengabaikan nas-nas peringatan akan bahaya kemurtadan. Ia justru melihat adanya ketegangan nyata antara janji pemeliharaan Allah dan panggilan kepada umat percaya untuk setia sampai akhir. (I. Howard Marshall, 1995, pp. 150Ae. Bahkan dalam kalangan Injili, muncul pertanyaan tentang bagaimana menafsirkan fenomena "kemurtadan" yang terjadi dalam komunitas Kristen. Francis Chan, misalnya, dalam refleksinya tentang iman dan keselamatan, menekankan bahwa relasi dengan Allah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga dengan ketaatan, bukan hanya dipahami sebagai status legal-forensik semata. (Francis Chan, 2008, pp. 111Ae. Isu ini menjadi semakin kompleks dalam dunia modern, di mana identitas Kristen sering kali dipandang sebagai afiliasi sosial ketimbang komitmen spiritual. Teolog seperti Scot McKnight mengkritik apa yang ia sebut sebagai Augospel of decison,Ay di mana seseorang Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor 3. September 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. dianggap AuselamatAy hanya karena keputusan sesaat tanpa kehidupan iman yang nyata. (Scot McKnight, 2011, pp. 100Ae. Dalam konteks ini, pemahaman akan perseverance perlu dikritisi bukan hanya dari sisi doktrinal, tetapi juga dalam penerapannya secara pastoral. Berdasarkan perkembangan literatur dan dinamika historis maupun kontemporer tersebut, penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana doktrin Perseverance of the Saints harus dipahami dalam terang keseluruhan wahyu Kitab Suci, tradisi teologis, dan tantangan praktis gereja masa kini? Adapun tujuan penulisan ini adalah: Menganalisis dasar biblika dan historis dari doktrin Perseverance of the Saints. Mengevaluasi argumen-argumen yang mendukung dan menolak doktrin tersebut secara kritis dan objektif. Merumuskan pendekatan pastoral yang dapat menolong gereja dalam menanggapi isu ketekunan iman secara sehat dan Alkitabiah. Pernyataan tesis . hesis statemen. dari jurnal ini adalah bahwa doktrin Perseverance of the Saints, ketika dipahami dalam kerangka keseluruhan narasi Alkitab dan dijalankan dengan keseimbangan antara anugerah dan tanggung jawab, tetap merupakan pilar penting dalam pemahaman keselamatan Kristen, tetapi perlu diinterpretasikan dengan kepekaan terhadap konteks gereja masa kini. Kebaruan . tulisan ini terletak pada pendekatan kritis-integratif yang tidak hanya menelaah argumen doktrinal secara sistematis, tetapi juga menyajikan refleksi praktis dalam konteks pelayanan gereja lokal serta penilaian ulang terhadap tantangan pastoral yang muncul akibat penyalahgunaan atau pemahaman yang dangkal terhadap doktrin ini. KAJIAN TEORITIS Doktrin Perseverance of the Saints atau ketekunan orang-orang kudus merupakan salah satu pilar dalam sistem teologi Reformasi, terutama dalam kerangka Calvinisme lima poin (TULIP). Secara teoritis, doktrin ini menegaskan bahwa mereka yang benar-benar dipilih dan dilahirkan kembali oleh anugerah Allah tidak mungkin akan jatuh secara final dari keselamatan, karena Allah sendiri yang memelihara mereka hingga akhir hidup. Teologi ini menekankan kebergantungan total pada anugerah Allah dan menolak gagasan keselamatan yang didasarkan pada usaha manusia, termasuk dalam hal mempertahankan iman hingga akhir. John Calvin sendiri tidak secara eksplisit menggunakan istilah Perseverance of the Saints, namun ia mengajarkan konsep yang sangat dekat dengan doktrin tersebut dalam Institutes of the Christian Religion. Calvin menegaskan bahwa iman sejati tidak akan pernah Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints sepenuhnya hilang karena dipelihara oleh Roh Kudus dalam hati orang percaya yang sejati, meskipun mereka dapat mengalami jatuh sementara(John Calvin, 2018, pp. 123Ae. Sejumlah teolog kontemporer seperti R. Sproul. Michael Horton, dan Wayne Grudem mengembangkan doktrin ini dengan menekankan bahwa ketekunan bukan berarti tidak adanya dosa atau kemunduran rohani, tetapi adanya pemeliharaan terus-menerus dari Allah atas umatNya yang sejati(Michael Horton, 2011, pp. 201Ae. Dalam teologi Grudem, ketekunan dipahami sebagai "keterlibatan aktif Allah dan manusia" dalam proses keselamatan, di mana Allah menjamin keberlangsungan iman, dan orang percaya dipanggil untuk bertahan dan taat(Wayne Grudem, 1994b, pp. 788Ae. Di sisi lain, teologi Arminian menolak prinsip ini dan menekankan kehendak bebas manusia sebagai penentu akhir keselamatan. Jacobus Arminius dan para pengikutnya menekankan bahwa keselamatan dapat ditolak atau ditinggalkan, dan bahwa ketekunan bukan sesuatu yang otomatis tetapi tergantung pada respons iman yang terus-menerus(Roger E. Olson, 2006, pp. 175Ae. Kajian dari Roger Olson dalam Against Calvinism menyoroti kelemahan dari doktrin ini jika dipahami secara deterministik. Olson menekankan bahwa pemahaman yang terlalu mekanistik terhadap ketekunan dapat mengabaikan sifat relasional dari keselamatan, yang melibatkan tanggapan aktif dari manusia dalam kasih dan kesetiaan(Olson, 2011, pp. 103Ae. Secara historis, doktrin ini telah memunculkan berbagai kontroversi dalam sejarah gereja, terutama dalam perdebatan antara Calvinisme dan Arminianisme. Penelitian-penelitian terdahulu seperti karya Millard J. Erickson (Christian Theolog. dan Thomas Schreiner dalam The Race Set Before Us memberikan sumbangan penting terhadap pemahaman seimbang antara anugerah pemeliharaan dan tanggung jawab manusia(Thomas R. Schreiner & Ardel B. Caneday, 2001b, pp. 55Ae. Landasan teoretis dalam penelitian ini dibangun di atas pemahaman bahwa keselamatan adalah karya Allah yang menyeluruh dari awal sampai akhir, tetapi bukan tanpa tanggung jawab dari pihak manusia. Hipotesis tidak tersurat yang dianut dalam tulisan ini adalah bahwa meskipun keselamatan dijamin secara ilahi, tetapi tanggapan manusia melalui iman dan ketaatan tetap menjadi bagian integral dari proses keselamatan. Dengan demikian, penelitian ini berada dalam lintasan wacana teologis yang luas dan kompleks, serta berusaha menjembatani antara doktrin pemeliharaan ilahi yang kuat dengan dimensi eksistensial kehidupan iman yang rapuh. Konteks Indonesia yang masih minim literatur sistematika yang mendalam mengenai topik ini menjadikan kajian ini penting sebagai landasan reflektif bagi pengajaran dan pelayanan gereja masa kini. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor 3. September 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif teologis yang berorientasi pada analisis doktrinal dan sistematika. Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak bertujuan mengukur atau menguji secara kuantitatif gejala tertentu, melainkan menelaah secara mendalam struktur ajaran teologi Kristen mengenai doktrin perseverance of the saints. Dalam hal ini, penelitian dilakukan melalui studi pustaka . ibrary researc. dengan menggali sumbersumber primer seperti Alkitab dan karya-karya teolog besar dari tradisi Reformed maupun Arminian, serta memperhatikan perkembangan teologis kontemporer yang relevan terhadap doktrin tersebut. Metode analisis yang digunakan bersifat deskriptif-analitis dan kritis-komparatif. Deskriptif-analitis berarti bahwa penulis terlebih dahulu menggambarkan dan menguraikan doktrin perseverance of the saints sebagaimana diajarkan dalam tradisi Reformed, termasuk landasan Alkitabiahnya, logika sistematikanya, serta argumen yang mendasarinya. Kemudian dilakukan analisis kritis terhadap asumsi-asumsi teologis tersebut, terutama dalam kaitannya dengan pemahaman tentang kehendak bebas manusia, kasih karunia Allah, dan kemungkinan kejatuhan dari iman. Selanjutnya, metode komparatif digunakan untuk membandingkan pandangan Reformed dengan perspektif Arminian dan beberapa pandangan alternatif dari tradisi Injili yang tidak secara eksklusif memihak keduanya. Dengan cara ini, penulis dapat menunjukkan bahwa doktrin keselamatan tidak bisa dipahami secara monolitik, melainkan harus ditimbang dengan keseimbangan antara kasih karunia Allah yang memelihara dan tanggung jawab manusia untuk hidup dalam iman yang teguh. Di dalamnya, data-data teologis dan interpretasi eksegetikal dari berbagai sumber akan dikaji dengan mempertimbangkan konteks historis, alur naratif Alkitab, serta konsistensi sistematika doktrinalnya. Proses analisis ini juga memperhatikan prinsip-prinsip hermeneutika teologis, yakni penafsiran yang bertanggung jawab terhadap teks Alkitab dalam terang keseluruhan narasi keselamatan (Heilsgeschicht. dan konsensus iman historis gereja. Dengan menggabungkan pendekatan ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi ilmiah yang tidak hanya menjelaskan doktrin perseverance of the saints secara tajam, tetapi juga menantangnya secara konstruktif, dalam terang kesaksian Kitab Suci dan dinamika iman Kristen masa kini. Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints HASIL DAN PEMBAHASAN Dasar Biblika Doktrin Perseverance of the Saints Dalam tradisi Reformed, doktrin perseverance of the saints memiliki akar yang dalam dalam Alkitab. Doktrin ini menyatakan bahwa mereka yang benar-benar telah diselamatkan oleh anugerah Allah akan dipelihara hingga akhir hidup mereka dan tidak akan pernah Keyakinan ini didasarkan pada banyak teks Kitab Suci yang menegaskan kepastian dan keamanan keselamatan dalam Kristus. Salah satu teks yang paling sering dikutip adalah Yohanes 10:27-29, di mana Yesus berkata. AuDomba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. Ay Pernyataan ini secara eksplisit menyatakan bahwa keselamatan bersifat kekal dan dijaga oleh kuasa Allah sendiri. (Wayne Grudem, 1994a, p. Demikian pula. Roma 8:38-39 menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. (Douglas J. Moo, 1996, p. Lebih jauh. Paulus dalam Filipi 1:6 menuliskan. AuAkan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Ay Ayat ini sering digunakan sebagai fondasi argumen bahwa keselamatan tidak dimulai oleh usaha manusia, melainkan oleh karya Allah yang berdaulat, dan karena itu, hanya Allah pulalah yang dapat menyelesaikannya. (Gordon D. Fee, 1995, p. Namun, teks-teks ketidakmungkinan kehilangan keselamatan. Para teolog Arminian, misalnya, mengakui bahwa keselamatan adalah karya anugerah, tetapi tetap menekankan kemungkinan bahwa seorang percaya dapat AumurtadAy melalui kehendak bebasnya. Teks seperti Ibrani 6:4-6 dan Ibrani 10:2629 dijadikan bukti bahwa mereka yang telah Aumerasakan karunia sorgawiAy masih mungkin jatuh dan tidak dapat diperbaharui lagi untuk bertobat. (Roger E. Olson, 2006, p. Pendekatan ini menuntut pembacaan yang cermat terhadap teks-teks Alkitab dengan mempertimbangkan konteks historis dan sastra. Dalam teologi sistematika, penting untuk membedakan antara janji keselamatan yang bersifat objektif dan respons subjektif manusia terhadapnya. Perseverance bukanlah sekadar jaminan otomatis, tetapi sebuah dinamika relasi antara Allah yang memelihara dan umat-Nya yang tetap beriman. Pandangan ini diperkuat oleh konsep Alkitabiah mengenai buah pertobatan (Mat. 7:16Ae. sebagai tanda kelanjutan iman sejati, yang artinya ketekunan bukan hanya status tetapi juga proses. (John S. Hammett, 2003, pp. 411Ae. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor 3. September 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. Dari pendekatan eksegetikal dan teologis, para teolog Reformed seperti Anthony A. Hoekema berargumen bahwa doktrin ini tidak bertentangan dengan tanggung jawab manusia, melainkan justru menegaskan bahwa ketekunan merupakan bagian dari karya anugerah yang Allah tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga mengerjakan kehendak dan kemampuan untuk bertahan dalam iman. (Anthony A. Hoekema, 1989, pp. 241Ae. Oleh karena itu, mereka yang benar-benar diselamatkan akan menunjukkan bukti kehidupan yang terus diperbarui dan tidak akan menyerah dalam imannya sampai akhir. (Sam Storms, 2015, pp. 212Ae Dengan demikian, dasar biblika bagi perseverance of the saints tidak hanya berasal dari satu dua ayat, melainkan merupakan jaringan narasi dan pengajaran Alkitab yang saling menopang, yang jika ditafsirkan dengan hati-hati dan menyeluruh, akan menunjukkan bahwa keselamatan adalah inisiatif dan pemeliharaan Allah yang tidak dapat digagalkan. Namun, doktrin ini juga harus diimbangi dengan kehati-hatian dalam penggunaan teks dan tidak mengabaikan teguran Kitab Suci terhadap bahaya kejatuhan iman. Ketegangan Teologis antara Kedaulatan Anugerah dan Kemungkinan Kejatuhan Perdebatan seputar keberlanjutan keselamatan apakah seseorang yang telah diselamatkan dapat kehilangan keselamatannya tidak hanya menjadi perbedaan pendapat eksegetikal, tetapi merupakan benturan paradigmatik dalam teologi sistematika. Isu ini menyentuh dasar utama dalam pemahaman soteriologi: relasi antara kedaulatan anugerah Allah dan kebebasan kehendak manusia. Doktrin Perseverance of the Saints, sebagaimana diartikulasikan dalam teologi Kalvinis, menyatakan bahwa keselamatan dimulai dan dijaga secara aktif oleh Allah. Anugerah Allah bersifat irresistible dan efektif, sehingga mereka yang dipilih oleh Allah akan dipelihara sampai akhirnya. Seperti yang ditegaskan oleh Louis Berkhof. AuKetekunan orang-orang kudus adalah karya anugerah ilahi di dalam diri manusia yang telah dilahirkan kembali, menjamin bahwa mereka tidak akan pernah murtad atau hilangAy. (Louis Berkhof, 1949, pp. 545Ae. Sebaliknya, pendekatan Arminian menyuarakan bahwa walaupun keselamatan adalah anugerah, manusia masih memiliki tanggung jawab aktif dalam mempertahankannya melalui iman yang terus-menerus. Dalam kerangka ini, keselamatan dapat ditinggalkan melalui ketidaktaatan dan penolakan terhadap anugerah Allah. Jacobus Arminius sendiri menyatakan. AuSaya tidak menyangkal bahwa orang percaya sejati dapat, karena kelalaian, kembali kepada dunia dan binasa, kecuali jika ia tetap waspada dalam imanAy. (Jacobus Arminius, 1986, p. Ketegangan antara dua posisi ini semakin jelas ketika dikaitkan dengan isu jaminan Kalvinis melihat jaminan sebagai produk logis dari pemilihan ilahi. Hal ini Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints berpijak pada pemahaman bahwa kehendak Allah tidak dapat digagalkan oleh tindakan Ini tercermin dalam Kanon Dort . , yang menyatakan bahwa Aumereka yang sungguh-sungguh percaya, sungguh bertobat, dan bertekun dalam iman tidak akan pernah dapat sepenuhnya jatuh dari anugerahAy. (Synod of Dort, 1619, p. Vol. Namun, teolog Arminian dan sebagian besar dalam tradisi Wesleyan mengingatkan bahwa kejatuhan dari anugerah adalah kemungkinan nyata yang dijelaskan oleh banyak teks peringatan dalam Kitab Suci. Teks seperti Galatia 5:4 (AuKamu lepas dari Kristus, kamu yang ingin dibenarkan oleh hukum Taurat, kamu telah jatuh dari kasih karunia!A. digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang dapat memulai hidup dalam kasih karunia namun berbalik. (Ben Witherington i, 2002, pp. 204Ae. Selain itu, konteks pastoral dari doktrin ini tidak boleh diabaikan. Di satu sisi, keyakinan akan ketekunan dapat memberi penghiburan besar bagi umat percaya. Namun, jika tidak ditafsirkan secara bijak, hal ini juga dapat melahirkan kepercayaan diri palsu, di mana keselamatan dipandang sebagai hak milik yang tidak mungkin hilang terlepas dari kehidupan etis seseorang. Inilah sebabnya mengapa Jonathan Edwards, meskipun seorang Kalvinis, sangat menekankan pentingnya buah kehidupan yang kudus sebagai bukti keselamatan yang (Jonathan Edwards, 1746, pp. 143Ae. Secara sistematik, ketegangan ini menggugah pertanyaan yang mendalam tentang sifat keselamatan itu sendiri: apakah keselamatan adalah status yang sekali terjadi dan tidak berubah, atau apakah ia merupakan suatu relasi yang dinamis dan terus diuji dalam perjalanan iman? Teolog kontemporer seperti Thomas Schreiner mencoba menjembatani dua pandangan ini dengan menyatakan bahwa mereka yang sungguh-sungguh diselamatkan akan menunjukkan ketekunan hingga akhir. sementara mereka yang murtad menunjukkan bahwa mereka tidak pernah benar-benar percaya. (Thomas R. Schreiner & Ardel B. Caneday, 2001a, 32Ae. Kesimpulannya, konflik antara kalvinisme dan arminianisme dalam hal ketekunan iman bukan sekadar beda penekanan, tetapi perbedaan dalam pemahaman dasar tentang natur Allah, manusia, dan keselamatan. Pemahaman ini penting sebagai landasan untuk membongkar dan mengevaluasi validitas dari doktrin once saved, always saved yang akan dianalisis lebih kritis dalam bagian selanjutnya. Ketegangan teologis antara Kedaulatan Anugerah dan Kemungkinan Kejatuhan Doktrin AuOnce Saved. Always SavedAy (OSAS), yang merupakan bentuk populer dari Perseverance of the Saints, telah menjadi doktrin yang sangat berpengaruh, khususnya dalam tradisi Baptis Selatan dan gereja-gereja Injili konservatif di Amerika Utara. Konsep dasarnya adalah bahwa seseorang yang telah benar-benar diselamatkan tidak dapat, dalam keadaan apa Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor 3. September 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. pun, kehilangan keselamatannya. Dengan kata lain, keselamatan bersifat mutlak, tidak dapat dibatalkan, dan terjamin secara kekal sejak seseorang Aumenerima KristusAy. Pandangan ini umumnya didasarkan pada teks-teks seperti Yohanes 10:28Ae29. AuAku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya. dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-KuAy. (D. Carson, 1991, p. Juga digunakan Roma 8:38Ae39, yang menyatakan bahwa tidak ada ciptaan yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah. Pendukung OSAS memandang teks-teks ini sebagai janji ilahi yang tidak bersyarat dan bersifat final. Namun, jika ditelaah dalam kerangka teologi sistematik secara menyeluruh, muncul sejumlah pertanyaan penting. Pertama, apakah jaminan keselamatan itu bersifat absolut dan tidak terikat pada respons keberlanjutan iman manusia? Kedua, bagaimana kita menjelaskan berbagai teks dalam Perjanjian Baru yang memberikan peringatan keras terhadap kemungkinan kemurtadan? Misalnya, dalam Ibrani 6:4Ae6 terdapat penggambaran dramatis mengenai mereka yang telah Aumengecap karunia surgawiAy namun kemudian AumurtadAy dan tidak mungkin dibawa kembali kepada pertobatan. (Thomas R. Schreiner, 1997, pp. 179Ae. Dalam menanggapi ketegangan ini, teolog Kalvinis seperti R. Sproul berargumen bahwa mereka yang tampaknya murtad sebenarnya tidak pernah benar-benar diselamatkan. AuJika Anda memiliki keselamatan sejati. Anda tidak akan kehilangan itu. Jika Anda kehilangan keselamatan Anda. Anda tidak pernah benar-benar memilikinyaAy. (R. Sproul, 1986, p. Di sini. OSAS digabungkan dengan doktrin Auiman yang membuktikan dirinya melalui ketekunanAy, bukan sekadar deklarasi iman awal. Namun pendekatan ini menghadirkan problem epistemologis dan pastoral. Jika seseorang yang telah menunjukkan pertobatan sejati, pelayanan yang berbuah, dan kesalehan selama bertahun-tahun lalu jatuh ke dalam dosa dan meninggalkan iman, maka OSAS akan menyatakan bahwa orang itu Autidak pernah sungguhsungguh diselamatkanAy. Pernyataan seperti itu dapat menciptakan ketidakpastian subjektif dan rasa tidak aman spiritual bagi banyak orang percaya. (Charles Stanley, 1990, pp. 90Ae. Secara historis, doktrin OSAS baru populer pada abad ke-19 melalui pengaruh tokoh seperti Charles Stanley dan kelompok dispensasionalis. (Tertullian, n. , p. Chapter . Sebaliknya, para Bapa Gereja seperti Tertullian dan Origen menekankan bahwa keselamatan harus terus dipelihara melalui disiplin rohani dan kehidupan kudus. Dalam tulisan De Paenitentia. Tertullian memperingatkan tentang bahaya ketergelinciran rohani yang disengaja, menyebut bahwa Auiman dapat mati jika tidak dijaga dengan perbuatan dan kesalehanAy. (John Wesley, 1777, p. Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints Kritik terhadap OSAS juga datang dari ranah etika Kristen. Jika keselamatan bersifat tidak dapat dicabut, apakah ini dapat mengarah pada moralitas yang longgar atau sikap permisif terhadap dosa? Inilah yang sering disebut sebagai Aulicense to sinAy. Teolog Wesleyan seperti John Wesley menolak keras gagasan ini. Ia menulis: AuTidak ada yang lebih berbahaya daripada membiarkan seseorang percaya bahwa tidak peduli bagaimana mereka hidup, mereka akan tetap diselamatkanAy. (Clendenin, 2003, pp. 114Ae. Dari perspektif teologi sistematik, doktrin OSAS menyoroti persoalan yang lebih luas terkait dengan antropologi teologis: sejauh mana kehendak manusia dapat bekerjasama atau menolak kasih karunia? Apakah relasi keselamatan adalah relasi yang bersifat AumonergistikAy (Allah satu-satunya yang bekerj. atau AusynergistikAy . erjasama antara Allah dan manusi. ? Teologi Kalvinis memihak monergisme, tetapi banyak tradisi lain menekankan sinergisme, seperti Gereja Ortodoks Timur dan Katolik Roma Dengan mempertimbangkan berbagai aspek di atas teks biblika, warisan historis, dimensi etis, dan kerangka sistematik dapat disimpulkan bahwa OSAS adalah doktrin yang menyediakan penghiburan, tetapi juga mengandung risiko penyederhanaan kompleksitas keselamatan dalam Alkitab. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih holistik diperlukan agar iman Kristen tidak hanya bersandar pada jaminan, tetapi juga bertumbuh dalam pertobatan dan ketekunan setiap hari. Analisis Integratif: Membangun Pendekatan Kritis-Konstruktif terhadap Doktrin Perseverance of the Saints Dalam membicarakan doktrin Perseverance of the Saints, pendekatan yang terlalu apologetik ataupun terlalu polemis seringkali mengaburkan realitas teologis yang kompleks. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu analisis yang bersifat kritis konstruktif, yakni pendekatan yang mampu mengevaluasi secara objektif kekuatan dan kelemahan dari doktrin ini, sekaligus menawarkan alternatif pemahaman yang lebih sesuai dengan kesaksian Kitab Suci dan kehidupan gerejawi kontemporer. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, kubu yang mendukung eternal security (OSAS) menawarkan sebuah narasi yang menenteramkan, terutama dalam konteks pastoral di mana orang percaya bergumul dengan dosa, keraguan, dan ketakutan akan penghakiman. Janji akan keselamatan yang kekal membawa harapan dan keyakinan bahwa keselamatan tidak tergantung pada kinerja moral atau stabilitas emosional manusia semata. (John MacArthur, 2006, pp. 22Ae. Namun, kelegaan tersebut bisa menjadi semu apabila tidak disertai dengan pemahaman yang utuh tentang dinamika relasi antara anugerah dan tanggapan iman. Teologi Reformasi awal, termasuk Calvin, tidak memisahkan perseverance dari sanctification. Artinya, ketekunan dalam iman adalah buah dari karya Roh Kudus yang terus aktif dalam kehidupan orang Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor 3. September 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. percaya, bukan sekadar jaminan yang statis. (John Calvin, 1996, pp. 136Ae. Dalam karyanya seperti Institutes of the Christian Religion. Calvin menekankan pentingnya tanda-tanda objektif dari pertumbuhan rohani sebagai bukti keselamatan sejati. Ia menulis bahwa Auiman sejati tidak dapat tidak menghasilkan kasih dan ketaatan kepada KristusAy. (John Calvin, 1559, p. Book i. Chapter . Oleh sebab itu, bila seseorang mengaku percaya tetapi hidupnya terus-menerus berada dalam pola pemberontakan terhadap Allah, maka hal itu patut dipertanyakan, bukan demi menghakimi, tetapi untuk membangun pertobatan. Dari sisi Arminian, teolog seperti Roger Olson mengingatkan bahwa doktrin OSAS berisiko menimbulkan semacam kekebalan spiritual terhadap panggilan moral. Menurutnya, perseverance bukanlah sesuatu yang otomatis, tetapi harus dijaga dalam relasi aktif dengan Kristus setiap hari. (Olson, 2011, pp. 172Ae. Dalam pandangan ini, keselamatan dimulai oleh anugerah, tetapi keberlangsungannya juga melibatkan kehendak bebas manusia yang bersedia taat dan setia. Teologi sistematik harus mengakui bahwa ketegangan antara Aujaminan keselamatanAy dan Aukemungkinan kemurtadanAy adalah bagian dari misteri iman Kristen. Dalam satu sisi, kita percaya pada Allah yang memelihara umat-Nya hingga akhir (Filipi 1:. , namun di sisi lain. Alkitab juga memperingatkan agar umat percaya Auberjaga-jaga dan bertekun dalam imanAy (Kolose 1:. (I. Howard Marshall, 1994, pp. 99Ae. Tidak ada ruang untuk keangkuhan spiritual dalam doktrin keselamatan. justru sikap gentar dan hormat harus senantiasa menyertai iman kita. Salah satu pendekatan yang mulai mendapat tempat dalam teologi kontemporer adalah pemahaman akan keselamatan sebagai relasi perjanjian . ovenantal framewor. Dalam kerangka ini, keselamatan bukan hanya status hukum . , tetapi juga komitmen perjanjian yang dinamis antara Allah dan umat-Nya. (Michael Scott Horton, 2007, pp. 83Ae. Keselamatan adalah hidup dalam persekutuan yang setia, bukan hanya menerima tiket menuju Dalam pendekatan ini, maka jaminan keselamatan bukanlah bentuk dari antinomianisme, tetapi justru menjadi motivasi untuk hidup dalam ketaatan. Allah memang memegang janji-Nya, tetapi relasi itu mengundang tanggapan aktif dari manusia, sebagaimana relasi kasih dalam pernikahan yang saling melibatkan dua pihak. Jika relasi tersebut diputuskan secara sadar dan terus-menerus, maka itu bukan berarti Allah gagal memelihara, melainkan manusia menolak kasih-Nya. Dengan pendekatan ini, maka doktrin Perseverance of the Saints tidak perlu ditolak secara total, tetapi perlu dikritisi dari sisi penerapannya yang terlalu simplistik dan terkadang mengabaikan tanggung jawab manusia dalam iman. Gereja perlu menegaskan bahwa Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints keselamatan adalah anugerah, tetapi anugerah itu harus terus dihidupi dalam persekutuan dengan Kristus. Implikasi Teologis dan Relevansi Pastoral dari Doktrin Perseverance of the Saints Teologi yang benar harus menjelma dalam praksis. Doktrin Perseverance of the Saints, jika dipahami dengan seimbang, memiliki dampak besar terhadap bagaimana jemaat memaknai keselamatan, pertobatan, serta kehidupan iman sehari-hari. Di sisi lain, pemahaman yang salah tentang doktrin ini dapat menimbulkan bahaya pastoral yang serius, mulai dari keputusasaan rohani hingga keangkuhan spiritual yang menyesatkan. Penghiburan bagi Orang Percaya yang Bergumul Salah satu kekuatan utama dari doktrin Perseverance of the Saints adalah daya penghiburannya yang mendalam. Di tengah realitas kehidupan yang penuh godaan, kegagalan, dan pergumulan iman, keyakinan bahwa Allah memegang kendali atas keselamatan umat-Nya memberi rasa aman yang mendasar. Hal ini sejalan dengan janji dalam Roma 8:38-39, bahwa tidak ada satu kuasa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. (Douglas J. Moo, 2000, 275Ae. Dalam konteks pastoral, ini berarti bahwa gembala jemaat harus meneguhkan hati umat yang jatuh dalam dosa namun menunjukkan pertobatan, bahwa mereka tidak dibuang Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Sinclair Ferguson. AuPenghiburan sejati tidak berasal dari melihat ke dalam diri, melainkan dari memandang kepada Kristus yang telah menyelesaikan keselamatan bagi kitaAy. (Sinclair B. Ferguson, 2016, pp. 134Ae. Namun, penghiburan ini tidak boleh berubah menjadi pembenaran terhadap dosa yang terus-menerus. Pemahaman yang menekankan pada keselamatan yang "tidak bisa hilang" tanpa mengiringinya dengan ajakan kepada pertobatan dan pembaruan hidup, justru akan melemahkan kehidupan rohani jemaat. Tantangan terhadap Pemahaman yang Fatalistik Banyak kalangan gereja yang mengadopsi OSAS secara kaku akhirnya terjebak dalam pendekatan fatalistik terhadap keselamatan. Seorang yang pernah "berdoa menerima Yesus" dianggap otomatis diselamatkan, terlepas dari apakah hidupnya menunjukkan buah pertobatan atau tidak. Pendekatan ini bukan hanya bertentangan dengan Alkitab, tetapi juga mengaburkan pemahaman tentang regenerasi sejati. Yesus sendiri menyatakan bahwa Aupohon dikenal dari buahnyaAy (Mat. 7:16-. Artinya, ketekunan dalam iman bukan sekadar status, tetapi bukti dari transformasi rohani yang Dalam praktik pastoral, gereja perlu menekankan pentingnya disiplin rohani, komunitas yang membangun, dan akuntabilitas spiritual sebagai bagian dari respons terhadap anugerah Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor 3. September 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. Ketegangan antara Kepastian dan Kewaspadaan Iman Di sinilah peran penting dari keseimbangan teologis. Kita harus menjaga ketegangan antara kepastian keselamatan dan panggilan kepada kewaspadaan rohani. Paulus sendiri menulis bahwa ia "berjuang" agar jangan sampai setelah memberitakan kepada orang lain, ia sendiri ditolak . Kor. (N. Wright, 2010, pp. 203Ae. Dalam hal ini, peran penggembalaan sangat vital. Gembala harus mengajar doktrin keselamatan dengan penuh kasih karunia, namun juga mendorong jemaat untuk Aumengusahakan keselamatan dengan takut dan gentarAy (Fil. , bukan karena takut kehilangan kasih Allah, tetapi karena kesadaran akan kekudusan relasi dengan Dia. Relevansi dalam Konteks Gereja Modern Gereja-gereja masa kini, khususnya di Indonesia, menghadapi tantangan yang kompleks dalam hal pertumbuhan iman jemaat. Dalam konteks pelayanan yang cepat berkembang namun dangkal secara teologis, doktrin perseverance sering kali dikaburkan oleh budaya instan dan mentalitas "sekali berdoa, semua beres". Pemulihan pemahaman yang benar mengenai ketekunan dalam iman menjadi sangat Gereja perlu mengembangkan kurikulum pemuridan yang tidak hanya menekankan penerimaan Kristus, tetapi juga pembentukan karakter, ketekunan, dan pengudusan yang terusmenerus. Dalam kerangka ini, perseverance tidak menjadi lisensi, tetapi justru motivasi untuk hidup kudus. Seperti ditegaskan oleh Kevin Vanhoozer. AuKetekunan adalah hasil dari partisipasi kita dalam drama penebusan, di mana kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor yang terus berpegang kepada naskah InjilAy. (Kevin J. Vanhoozer, 2005, pp. 329Ae. Maka, relevansi doktrin ini bukan hanya bersifat soteriologis, tetapi juga formasional dan KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis doktrin Perseverance of the Saints dalam kerangka teologi sistematika, dengan fokus pada keabsahan alkitabiah, dinamika historis, dan implikasi teologis serta pastoralnya. Dari hasil penelaahan literatur, argumentasi teologis, dan analisis naratif biblis, dapat disimpulkan bahwa doktrin ini mengandung kebenaran mendasar mengenai karya penyelamatan Allah yang berdaulat, namun membutuhkan keseimbangan interpretatif agar tidak jatuh pada ekstrem deterministik atau permisif terhadap dosa. Pernyataan tesis bahwa ketekunan orang kudus tidak berdiri sendiri, tetapi berakar pada anugerah pemeliharaan Allah sekaligus menuntut tanggapan aktif umat dalam iman Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints dan ketaatan, telah dibuktikan melalui berbagai pendekatan. Penulis menemukan bahwa Alkitab mendukung suatu ketegangan teologis antara kepastian keselamatan yang dijanjikan bagi orang percaya sejati dan peringatan serius terhadap kemurtadan sebagai bagian dari dinamika pertumbuhan iman dalam sejarah penebusan. Permasalahan penelitian yang berkaitan dengan kemungkinan hilangnya keselamatan, pemahaman Once Saved Always Saved, dan hubungan antara anugerah dan tanggung jawab manusia, telah dijawab dengan menunjukkan bahwa keselamatan bukan sekadar status tetap, melainkan relasi yang hidup dan bertumbuh antara Allah dan umatNya. Ketekunan adalah anugerah yang dipelihara oleh Roh Kudus, namun juga memerlukan partisipasi aktif manusia dalam kasih dan ketaatan. Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa doktrin Perseverance of the Saints tidak dapat dipahami hanya secara sistematik-dogmatis tanpa memperhitungkan konteks pastoral dan dinamis relasional dari iman Kristen. Pendekatan yang terlalu dogmatik terhadap OSAS berpotensi mengaburkan pentingnya pertobatan dan kesetiaan, sementara penolakan total terhadap doktrin ini dapat menyebabkan krisis penghiburan dan keputusasaan iman bagi orang percaya yang lemah. Nilai kebaruan . dari penelitian ini terletak pada upaya sintesis antara tradisi reformatoris, data alkitabiah, dan refleksi pastoral kontemporer, yang jarang ditemukan dalam pembahasan doktrin ini secara menyeluruh di konteks Indonesia. Penelitian ini juga mengedepankan pendekatan hermeneutik yang memadukan ketelitian teologis dengan kepekaan spiritual terhadap realitas gerejawi, menjadikannya relevan tidak hanya di ruang akademik, tetapi juga dalam praktik pelayanan jemaat masa kini. Secara teologis, doktrin ini memiliki implikasi yang sangat besar terhadap pemahaman umat akan anugerah Allah, kedaulatan-Nya, tanggung jawab moral umat, serta natur iman yang sejati. Secara pastoral, pemahaman yang tepat akan doktrin ini dapat menjadi sumber penghiburan yang besar bagi mereka yang sungguh-sungguh berjuang dalam iman, sekaligus menjadi peringatan serius bagi mereka yang hidup dalam kelalaian Tulisan ini menyumbangkan perspektif kritis terhadap doktrin Perseverance of the Saints, sekaligus membuka ruang dialog yang konstruktif antar berbagai pendekatan teologi Kebaruan dari tulisan ini terletak pada usaha mengintegrasikan diskursus klasik dengan kebutuhan kontekstual gereja masa kini, yang menghadapi tantangan iman dalam budaya instan dan individualisme modern. Dengan demikian, doktrin ini harus tetap diajarkan, namun dengan pendekatan yang utuh: teologis, pastoral, dan kontekstual. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor 3. September 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. Keselamatan memang berasal dari Tuhan, namun iman yang hidup akan selalu terwujud dalam hidup yang bertumbuh, bertobat, dan bertekun hingga akhir. Di sinilah orang percaya dipanggil untuk hidup dalam ketegangan yang membentuk, antara janji yang telah diberikan dan panggilan untuk berjalan setia dalam anugerah yang tak ternilai. DAFTAR REFERENSI Arminius. The works of James Arminius (Vol. Baker Book House. https://books. Berkhof. Systematic theology. https://books. Bird. Evangelical theology: A biblical and systematic introduction. Zondervan. Calvin. Institutes of the Christian religion. Westminster John Knox Press. Calvin. The bondage and liberation of the will. Baker Academic. Calvin. Institutes of the Christian religion. Westminster John Knox Press. Carson. The gospel according to John (Pillar New Testament Commentar. IVP. Chan. Crazy love: Overwhelmed by a relentless God. David C. Cook. Clendenin. Eastern Orthodox theology: A contemporary reader. Baker Academic. Edwards. Religious affections. Yale University Press. Fee. The epistle to the Philippians. Eerdmans. Ferguson. The whole Christ. Crossway. Grudem. Systematic theology: An introduction to biblical doctrine. Zondervan. Grudem. Systematic theology: An introduction to biblical doctrine. Zondervan. Hammett. The fruit of repentance: A theological analysis. Journal of the Evangelical Theological Society, 46. , 411Ae428. Hoekema. Saved by grace. Eerdmans. Horton. Putting amazing back into grace. Baker Books. Horton. Covenant and salvation: Union with Christ. Westminster John Knox Press. MacArthur. Saved without a doubt: Being sure of your salvation. David C. Cook. https://books. Marshall. Perseverance and apostasy in the New Testament. Evangelical Quarterly, 66, 99Ae121. Marshall. Kept by the power of God: A study of perseverance and falling away. Bethany House. McKnight. The King Jesus gospel: The original good news revisited. Zondervan. Moo. Romans. Eerdmans. Moo. Romans: The NIV application commentary. Zondervan. Diselamatkan Sekali untuk Selamanya? Telaah Kritis terhadap Doktrin Perseverance of The Saints Olson. Arminian theology: Myths and realities. IVP Academic. Olson. Against Calvinism. Zondervan. Schreiner. The warning passages in Hebrews: Genuine or hypothetical? Westminster Theological Journal, 58, 179Ae190. Schreiner. , & Caneday. The race set before us: A biblical theology of perseverance and assurance. IVP Academic. Schreiner. , & Caneday. The race set before us: A biblical theology of perseverance and assurance. IVP Academic. Sproul. Chosen by God. Tyndale House Publishers. Stanley. Eternal security: Can you be sure? Thomas Nelson. Storms. Perseverance and apostasy: A biblical study. Crossway. Synod of Dort. The Canons of Dort (Vol. V). Reformed Church Publications. https://w. Tertullian. De paenitentia. Catholic University Press. Vanhoozer. The drama of doctrine. Westminster John Knox Press. Wesley. A plain account of Christian perfection. Epworth Press. Witherington. Falling from grace: A biblical warning. Journal for Wesleyan Theology, 37, 204Ae218. Wright. Salvation as process: Pauline tensions and pastoral responsibility. Themelios, 35, 203Ae215. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor 3. September 2025