Jurnal Ilmiah Stikes Yarsi Mataram (JISYM) Vol 11. No. Juli 2021 P-ISSN 1978-8940 Website:http://Journal. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif Pada BayiDi Wilayah Kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2020 Lola Pebrianthy1,Yulinda Aswan2,Yanna Wari Harahap3 1Departement Kebidanan Fakultas Kesehatan Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan 2Departement Kebidanan Fakultas Kesehatan Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan 3Departement Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan lolapebrianthy@gmail. ABSTRACT Exclusive breastfeeding is that babies are only breastfed for six months without additional fluids and other foods except medicated syrup. The coverage of exclusive breastfeeding in Indonesia in 2018 of 65. 16% has not reached the national target . %), the coverage of exclusive breastfeeding in working area of Puskesmas Huraba in Tapanuli Selatan Regency in 2019 is around 23. This study aims to determine the factors associated with exclusive breastfeeding in infants in Puskesmas Huraba. Tapanuli Selatan Regency This type of research is quantitative with a cross sectional design. The population of all mothers who have babies aged 6-12 months, the sample is 57 total sampling techniques. The results showed that there was no relationship between education . = 0,. , occupation . =0,. and attitude . =0,. with exclusive breastfeeding. There was a relationship between knowledge . =0,. and socio-cultural . =0. with exclusive breastfeeding in the work area of Puskesmas Huraba. It is suggested to health workers at Puskesmas Huraba to increase health promotion about the importance of exclusive breastfeeding for babies so that mothers are more motivated to provide exclusive breastfeeding and mothers should be more proactive in seeking information about exclusive breastfeeding and the benefits of exclusive breastfeeding to increase their knowledge about exclusive breastfeeding. Keywords: Knowledge. Attitudes. Socio-culture. Exclusive breastfeeding ABSTRAK ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI selama enam bulan tanpa tambahan cairan dan makanan lain kecuali sirup obat. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 65,16% belum mencapai target nasional . %), cakupan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2019 sekitar 23,2%. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2020. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross Populasi seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan sampel berjumlah 57 tehnik total Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan pendidikan . =0,. , pekerjaan . =0,. dan sikap . =0,. dengan pemberian ASI eksklusif dan ada hubungan pengetahuan . =0,. dan sosial budaya . =0,. dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Huraba. Disarankan kepada petugas kesehatan di Puskesmas Huraba agar meningkatkan promosi kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi agar ibu lebih termotivasi untuk memberikan ASI eksklusif dan ibu hendaknya lebih proaktif mencari informasi tentang ASI eksklusif dan manfaat ASI eksklusif untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Kata kunci : Pengetahuan. Sikap. Sosial budaya. ASI eksklusif Sustainable Development Goals (SDG. INTRODUCTION memiliki 17 tujuan yang diharapkan dapat menanggulangi berbagai masalah kesehatan. Salah satu tujuan SDGs mempunyai kaitan erat dengan pemberian Air Susu Ibu(ASI) eksklusif, yaitu pemberian ASI eksklusif diharapkan dapat meningkatkan status kesehatan ibu dan anak, meningkatkan Intelliegence Quotiente (IQ) anak, dan dalam segi ekonomi yaitu menekan pengeluaran pembelian susu formula. Tujuan SDGs lainnya yaitu mengakhiri kematian bayi dan balita. Kematian bayi dan balita paling banyak disebabkan karena kekurangan nutrisi, menyusui tidak optimal, kematian karena penyakit menular neonatal, kematian akibat diare, kematian akibat gangguan pernafasan akut yang dapat dicegah dengan pemberian ASI eksklusif (Hoelman. M, et al. , 2. Cakupan ASI eksklusif dunia masih sangat rendah dan masih belum mencapai target yaitu paling sedikit 50 %. Cakupan pemberian ASI eksklusif di berbagai negara juga masih sangat rendah, seperti di Afrika Tengah 25%. Amerika Latin dan Karibia 32%. Asia Timur 30%. Asia Selatan 47%, dan negara berkem-bang sebanyak 46%. Secara keseluruhan, kurang dari 40 persen anak di bawah usia enam bulan diberi ASI Eksklusif (World Health Organization. Capaian pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 65,16 % belum mencapai target nasional . %). Menurut provinsi, cakupan ASI eksklusif yang mencapai target nasional hanya provinsi Sulawesi Barat . ,28%). Cakupan ASI eksklusif paling rendah berada di Provinsi Papua Barat . ,43%). Provinsi Sulawesi Utara . ,69%) dan Provinsi Maluku . ,51%). Sementara Provinsi Sumatera Utara berada pada posisi keenam terbawah . ,07%) (Kementerian Kesehatan RI, 2. Cakupan ASI eksklusif di Provinsi Sumatera Utara meningkat sebanyak 8,75% dari tahun 2017 41,32% menjadi 50,07% pada tahun Sebanyak 31 dari 33 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dengan persentase pemberian ASI eksklusif masih di bawah target nasional . %), termasuk Kabupaten Tapanuli Selatan sebesar 45,97% yang menduduki peringkat ke-13 dari 33 Kabupaten/Kota (Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2019. Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki 16 Puskesmas, dari keseluruhan puskesmas tersebut cakupan ASI eksklusif paling rendah berada di wilayah kerja Puskesmas Huraba yaitu dari 95 jumlah bayi laki-laki dan perempuan, yang mendapatkan ASI eksklusif hanya 22 orang . ,2%). Terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu dari 45 jumlah bayi laki-laki dan perempuan, yang mendapat ASI eksklusif sebanyak 24 orang . ,3%). Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada 11 ibu menyusui di desa Huraba didapatkan bahwa 3 ibu memberikan ASI eksklusif dan 8 ibu tidak memberikan ASI Ibu tidak berhasil memberikan ASI eksklusif karena beberapa faktor antara lain, adanya pengaruh sosial budaya yaitu memberikan sesuatu yang manis kepada bayi yang baru lahir seperti madu, gula, pisang dan Bayi juga sering diberi makan sebelum berusia enam bulan dengan alasan bayi tidak kenyang jika hanya diberi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor . engetahuan, sikap, pendidikan, berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas HurabaKabupaten Tapanuli Selatan Tahun RESEARCH METHOD Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif yang bersifat analitik. Metode pendekatan yang digunakan adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2020. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan berjumlah 57 orang. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling, dimana jumlah sampel sama dengan populasi. Pengumpulan menggunakan kuesioner. Analisi data meliputi analisi univariat dan bivariat. RESULT AND DISCUSSION Analisa Univariat berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2020 Analisa univariat digunakan untuk menganalisa hasil penelitian terkait pengetahuan, sikap dan sosial budaya terkait pemberian ASI eksklusif pada bayi. Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun Variabel Usia Ibu 20-35 tahun E 35 tahun Usia bayi 6 bulan 7 bulan 8 bulan 9 bulan 10 bulan 11 bulan 12 bulan Pendidikan Rendah SMP Menengah (SMA) Tinggi (PT) Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja Jumlah Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa mayoritas usia responden berada pada rentang usia 20-35 tahun sebanyak 48 responden . ,2%) dan minoritas responden berusia > 35 tahun sebanyak 9 responden . ,8%). Berdasarkan usia bayi, mayoritas responden memiliki bayi berusia 11 bulan sebanyak 11 responden . ,4%), dan minoritas responden memiliki bayi berusia 9 bulan sebanyak 4 responden . ,1%). Berdasarkan pendidikan rendah (SD. SMP. SMA) sebanyak 53 responden . ,0%) dan minoritas responden memiliki tingkat pendidikan tinggi yaitu 4 responden . ,0%). Berdasarkan responden bekerja yaitu sebanyak 36 responden . ,2%), dan minoritas tidak bekerja sebanyak 21 responden . ,8%). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu. Sikap. Sosial Budaya dan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun Variabel Pengetahuan Kurang Baik Sikap Negatif Positif Sosial budaya Tidak Mendukung Pemberian ASI Tidak ASI ASI eksklusif Jumlah Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan memiliki pengetahuan baik sebanyak 46 responden . ,7%) dan minoritas memiliki pengetahuan kurang sebanyak 11 responden . ,3%). Berdasarkan memiliki sikap positif sebanyak 54 responden . ,7%), dan minoritas memiliki sikap negatif sebanyak 3 responden . ,3%). Berdasarkan memiliki sosial budaya mendukung yaitu sebanyak 43 responden . ,4%) dan minoritas memiliki sosial budaya tidak mendukung sebanyak 14 responden . ,6%). Berdasarkan mayoritas responden tidak memberikan ASI eksklusif pada bayi sebanyak 43 responden . ,4%) dan minoritas responden memberikan ASI eksklusif sebanyak 14 responden . ,6%). Analisis Bivariat berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2020 Tabel 3 Hubungan Pendidikan. Pekerjaan. Pengetahuan. Sikap dan Sosial Budaya dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2020 Vari Pemberian ASI Eksklusif Tidak ASI ASI Pendidikan Renda 4 Tingg Jumla 4 75. Pekerjaan Tidak Bekerja 6 Bekerj 2 Jumla 4 75. Pengetahuan Kuran 1 Baik Jumla 4 75. Sikap Negati 3 Positi 4 Jumla 4 75. Sosial Budaya Tidak 1 Men Jumla 4 75, Total Pvalue 0,250 36, 0,920 0,049 94, 0,568 0,013 Hasil table 3, 4 responden memiliki tingkat pendidikan tinggi dengan 2 responden ,5%) memberikan ASI eksklusif dan 2 ,5%) tidak memberikan ASI Dari 53 responden dengan tingkat memberikan ASI eksklusif sebanyak 41 ,9%), memberikan ASI eksklusif sebanyak 12 responden . ,1%). Hasil uji nilai p = 0,250, hal ini mengidentifikasi Ho diterima, yang artinya tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2020. Hasil dari 36 responden yang bekerja mayoritas tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 27 responden . ,4%), dan minoritas memberikan ASI eksklusif sebanyak 9 responden . ,8%). Dari 21 responden yang tidak bekerja mayoritas tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 16 responden . ,1%) dan minoritas memberikan ASI eksklusif sebanyak 5 responden . ,7%). Hasil uji nilai p = 0,920, hal ini mengidentifikasi Ho diterima, yang artinya tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2020. Hasil dari 46 responden dengan pengetahuan baik mayoritas tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 32 responden . ,1%), dan minoritas memberikan ASI eksklusif sebanyak 14 responden . ,6%). Dari 11 responden . ,3%) dengan pengetahuan kurang semuanya tidak memberikan ASI Hasil uji nilai p = 0,049, hal ini mengidentifikasi Ho ditolak, yang artinya ada pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2020. Hasil 54 responden yang sikapnya positif mayoritas tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 40 responden . ,2%), dan minoritas memberikan ASI eksklusif sebanyak 14 responden . ,5%). Dari 3 responden yang sikapnya negatif semuanya tidak memberikan ASI eksklusif pada bayi. Hasil uji nilai p = 0,568, hal ini mengidentifikasi Ho diterima, yang artinya tidak ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2020. Hasil dari 43 responden dengan sosial budaya mendukung mayoritas tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 29 responden . ,8%), dan minoritas memberikan ASI eksklusif sebanyak 14 responden . ,6%). Dari 14 responden . ,6%) yang memiliki sosial budaya tidak mendukung semuanya tidak memberikan ASI eksklusif pada bayi. Hasil uji nilai p = 0,013, hal ini mengidentifikasi Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara sosial budaya dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2020. Hasil uji statistik, nilai OR ditunjukkan pada nilai Exp (B) yaitu 5, 469 untuk pengetahuan dan 6, 412 untuk sosial budaya. Artinya Pengetahuan baik lima kali lebih berpeluang untuk memberikan ASI eksklusif, dan sosial budaya yang mendukung enam kali lebih berpeluang untuk memberikan ASI Hubungan Pendidikan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Berdasarkan hasil penelitian 93,0% responden berada pada tingkat pendidikan rendah, 71,9% responden tidak memberikan ASI 21,1% memberikan ASI eksklusif. 7,0% responden dengan tingkat pendidikan tinggi dan 3,5% responden memberikan ASI eksklusif dan 3,5% tidak memberikan ASI eksklusif. Hasil uji pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif didapat nilai p = 0,250 artinya tidak ada pemberian ASI eksklusif. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (Mubarak, 2. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pipitcahyani . menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI pada bayi usia 6 bulan. Ibu dengan pendidikan rendah, 20,0% memberikan ASI eksklusif dan 14,3% tidak memberikan ASI eksklusif. Ibu 50,0% memberikan ASI eksklusif dan 47,1% tidak memberikan ASI eksklusif. ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini bisa terjadi karena pendidikan yang telah ditempuh ibu tidak berbanding lurus dengan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif yang dimiliki saat ini. Ibu yang memiliki pendidikan rendah namun tetap memberikan ASI eksklusif kepada bayinya disebabkan karena berbagai faktor seperti informasi yang diperoleh ibu, pengalaman pribadi, dukungan keluarga serta pengetahuan yang baik tentang ASI eksklusif. Ibu dengan pekerjaan di luar rumah dan memiliki waktu lebih sedikit dengan bayinya sehingga ibu tidak memiliki waktu untuk bersama dengan bayinya. Hubungan Pekerjaan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Berdasarkan hasil penelitian 63,2% responden adalah ibu bekerja, 47,4% responden tidak memberikan ASI eksklusif dan 15,8% ASI 36,8% responden tidak bekerja, 28,1% responden tidak memberikan ASI eksklusif dan 8,7% responden memberikan ASI Dari hasil uji didapatkan nilai p = 0,920 artinya tidak ada hubungan pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. Ibu bekerja adalah ibu yang mencari nafkah untuk menambah pemasukan bagi keluarganya, banyak menghabiskan waktu dan terikat pekerjaan di luar rumah, serta menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah Ibu bekerja kemungkinan tidak memberikan ASI eksklusif karena kebanyakan ibu bekerja mempunyai waktu merawat bayi yang lebih sedikit, sedangkan ibu tidak bekerja besar kemungkinan memberikan ASI eksklusif, sehingga ibu dapat memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya (Dahlan dkk. , 2. Penelitian ini sesuai dengan penelitian Simanungkalit . yang menunjukkan pvalue 0,976 yang berarti tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan pemberian ASI 26,3% ibu yang bekerja tidak memberikan ASI eksklusif dan 73,7% ibu memberikan ASI eksklusif. 26,7% ibu yang tidak bekerja tidak memberikan ASI eksklusif dan 73,3% ibu memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Rahmawati . dengan nilai p = 0,004 artinya ada hubungan pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif. 73,8% ibu bekerja tidak memberikan ASI eksklusif dan 26,2% ibu memberikan ASI eksklusif. 42,1% ibu tidak bekerja tidak memberikan ASI eksklusif dan 57,9% ibu memberikan ASI eksklusif. Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dikarenakan mayoritas pekerjaan ibu adalah sebagai petani. Walaupun ibu bekerja tetapi ibu masih mempunyai waktu bersama bayinya karena mayoritas ibu yang bekerja sebagai petani selalu membawa bayinya ke sawah sehingga masih bisa memberikan ASI secara Masih ditemukan tidak diberikannya ASI Eksklusif pada ibu yang tidak bekerja dengan berbagai macam alasan seperti air susu yang sedikit sehingga bayi masih lapar dan keadaan sosial budaya yang tidak mendukung pemberian ASI Eksklusif dan hal tersebut dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu mengenai pemberian ASI Eksklusif. Hubungan Pengetahuan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Berdasarkan hasil penelitian, 80,7% responden memiliki pengetahuan baik, 56,1% responden tidak memberikan ASI eksklusif dan 24,6% responden memberikan ASI eksklusif. 19,0% responden memiliki pengetahuan kurang dan tidak ada yang memberikan ASI Hasil uji pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif didapat nilai p = 0,049 artinya ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif. Seluruh responden yang memberikan ASI eksklusif adalah responden dengan pengetahuan baik, sedangkan responden dengan pengetahuan kurang tidak satupun yang memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan adalah suatu hasil tahu dari manusia atas penggabungan atau kerjasama antara suatu subyek yang mengetahui dan objek yang diketahui (Nurroh, 2. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Semakin baik pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif, maka seorang ibu akan memberikan ASI eksklusif pada bayinya dan begitu juga sebaliknya Penelitian ini sejalan dengan penelitian Fatimah . yang menyatakan bahwa ada hubungan pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p = 0,000. Ibu dengan pengetahuan baik lebih banyak menyusui secara eksklusif . ,1%) dibandingkan ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif . ,8%). Penelitian Mabud dkk . menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p = 0,185 dengan hasil 36,9% ibu dengan pengetahuan baik tidak memberikan ASI eksklusif dan 23,8% ibu memberikan ASI 21,4% ibu dengan pengetahuan kurang memberikan ASI eksklusif dan 17,8% ibu tidak memberikan ASI eksklusif. Responden mengetahui tentang asi eksklusif tetapi tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Masih adanya responden dengan tingkat pengetahuan baik namun tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya kemungkinan disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah sikap responden, sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi kesehatan, dukungan keluarga, dan faktor Hubungan Sikap dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Berdasarkan hasil penelitian, 94,7% responden memiliki sikap positif, 70,2% responden tidak memberikan ASI eksklusif dan 24,5% responden memberikan ASI eksklusif. 5,3% responden dengan sikap negatif dan semuanya tidak memberikan ASI eksklusif. Dari hasil uji didapatkan nilai p = 0,568 artinya tidak ada hubungan sikap dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tertentu. Sikap muncul dari berbagai penilaian yaitu kondisi, dan kecenderungan Sikap juga dapat berubah dari pengalaman dan faktor bawaan maupun bujukan misalnya dengan penyuluhan atau pendidikan kesehatan (Notoatmodjo, 2. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ida . di wilayah kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok Banten, 69,2% responden dengan sikap positif tidak memberikan ASI eksklusif dan 30,8% responden memberikan ASI eksklusif. 78,7% responden dengan sikap negatif tidak memberikan ASI eksklusif dan 21,3% ASI Hasil menunjukkan nilai p = 0,213 yang artinya tidak ada hubungan sikap dengan pemberian ASI Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Wowor, dkk. yang menunjukan bahwa ada hubungan sikap ibu menyusui dengan pemberian ASI Eksklusif dengan nilai p = 0,036. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan tetapi merupakan predisposisi suatu tindakan atau perilaku. Masih adanya ibu dengan sikap positif namun tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya kemungkinan disebabkan karena beberapa faktor diantaranya pengalaman pribadi, ketersediaan fasilitas, dan kebudayaan. Hubungan Sosial Budaya Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Berdasarkan hasil penelitian 75,4% responden memiliki sosial budaya yang 50,8% memberikan ASI eksklusif dan 24,6% responden memberikan ASI eksklusif. 24,6% responden memiliki sosial budaya yang tidak mendukung dan tidak ada yang memberikan ASI eksklusif. Dari hasil uji didapatkan nilai p = 0,013 artinya ada hubungan sosial budaya dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Adapun kebiasaan yang tidak mendukung pemberian ASI adalah memberikan makanan/minuman setelah bayi lahir seperti madu, air kelapa, nasi papah, pisang dan memberikan susu formula sejak dini (Alamsyah dan Muliawati, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Hidayati . yang menyatakan bahwa ada hubungan sosial budaya dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p = 0,004. 45,5% responden dengan sosial budaya baik memberikan ASI eksklusif dan 29,1% responden tidak memberikan ASI eksklusif. 21,8% responden dengan sosial budaya tidak baik tidak memberikan ASI eksklusif dan 3,6% memberikan ASI eksklusif. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Rahmawati . yang menyatakan tidak ada hubungan antara sosial budaya dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi dengan nilai p = 0,218. 77,8% ibu dengan kategori kurang mendukung dan tidak memberikan ASI eksklusif dan 22,2% memberikan ASI eksklusif. 56,3% ibu dengan kategori mendukung dan tidak memberikan ASI eksklusif dan 43,7% ibu memberikan ASI Pengetahuan tentang ASI juga perlu dilakukan dengan penyuluhan dan pembinaan tentang manfaat ASI serta cara memberikan ASI yang benar, sehingga ibu-ibu dapat mengerti dan memahami akan pentingnya memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Masih adanya ibu dengan sosial budaya mendukung namun tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya kemungkinan disebabkan karena beberapa faktor diantaranya pengalaman pribadi, ketersediaan fasilitas, dan kebudayaan. CONCLUSION Berdasarkan responden mayoritas berusia 20 s. d 35 tahun, berdasarkan usia bayi mayoritas responden memiliki bayi berusia 11 bulan, berdasarkan tingkat pendidikan mayoritas responden berpendidikan rendah, berdasarkan pekerjaan mayoritas responden adalah ibu bekerja. Ada hubungan antara pengetahuan dan sosial budaya dengan pemberian asi eksklusif pada bayi dan tidak ada hubungan antara pendidikan, pekerjaan, sikap dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi diwilayah kerja Puskesmas Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan REFERENCES Atabik. Faktor Ibu yang Berhubungan dengan Praktik Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Pamotan. Skripsi. Fakultas Ilmu Keolahraga-an. Universitas Negeri Semarang. Semarang Azwar. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka