Al Marhalah Volume. No. 2 November 2025 P-ISSN 0126-043X E-ISSN 27162-400 MEMBANGUN HUMANISME TEOSENTRIS PADA ANAK MADRASAH IBTIDAYAH DALAM MERDEKA BELAJAR Fatwa1. Istinaroh2. Nur Khasan3. Mukhrodi4 Sekolah Tinggi Islam Darul Amanah Kendal. Jawa Tengah Email: fatwada878@gmail. Sekolah Tinggi Islam Darul Amanah Kendal. Jawa Tengah Email: istinarohrocketmail@gmail. Sekolah Tinggi Islam Darul Amanah Kendal. Jawa Tengah Email: nkhasan211@gmail. Sekolah Tinggi Islam Darul Amanah Kendal. Jawa Tengah Email: mukhrodialfaqir@gmail. ABSTRACT Education in Madrasah Ibtidaiyah should foster faith awareness, creativity, and noble character, not merely memorization, by balancing cognitive, emotional, and spiritual aspects. The learning process needs to be more democratic so that children can develop their potential, character, and personality in accordance with their natural disposition through a theocentric humanism approach that integrates human values and divine unity. Theocentric humanism in Madrasah Ibtidaiyah within the independent learning framework emphasizes developing childrenAos natural disposition as active subjects oriented toward God, with the principle of life balance. Its implementation can be realized through methods such as playing, storytelling, singing, role modeling, and habituation both inside and outside the classroom. The ultimate goal is to shape a generation with noble character . khlaq karima. , growing holistically and grounded in monotheism . Keyword: Building. Theocentric Humanism. Madrasah Ibtidaiyah. Independent Learning ABSTRAK Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah seharusnya menumbuhkan kesadaran iman, kreativitas, dan akhlak mulia, bukan sekadar hafalan, dengan menyeimbangkan aspek kognitif, emosional, dan spiritual. Proses pembelajaran perlu lebih demokratis agar anak dapat mengembangkan potensi, watak, dan kepribadian sesuai fitrahnya melalui pendekatan humanisme teosentris yang memadukan nilai kemanusiaan dan ketauhidan. Humanisme teosentris pada anak Madrasah Ibtidaiyah dalam merdeka belajar menekankan pengembangan fitrah anak sebagai subyek aktif yang berorientasi kepada Tuhan dengan prinsip keseimbangan hidup. Penerapannya dilakukan melalui metode bermain, bercerita, bernyanyi, keteladanan, dan pembiasaan di dalam maupun luar kelas. Tujuannya membentuk generasi berakhlakul karimah yang berkembang secara holistik dan berlandaskan 118 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA Kata Kunci: Membangun. Humanisme Teeosentris. Madrasah Ibtidayah. Merdeka Belajar PENDAHULUAN Fokus utama pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran kepintaran peserta didik yang berakar pada kepribadian sadar diri dan budi luhur sebagai dasar kreativitas serta kemandirian dalam menghadapi perubahan sosial. Pendidikan Agama Islam seharusnya tidak berhenti pada hafalan, melainkan membangun kesadaran iman dan ketuhanan yang melahirkan komitmen ibadah, relasi sosial harmonis, dan akhlak karimah. Sayangnya, dunia pendidikan masih cenderung menekankan aspek kognitif (IQ) semata dan mengabaikan pengembangan emosional (EQ) serta spiritual (SQ). Akibatnya, banyak peserta didik tumbuh terasing dari lingkungan sosial, rentan pada perilaku negatif, hingga terjerumus dalam tindakan negatif maupun tindakan destruktif lainnya. Kondisi ini menunjukkan perlunya perbaikan metode pembelajaran agar sesuai dengan nilai dasar kemanusiaan dan fitrah peserta didik (Mulkhan, 2017: 71 Ae . Lebih jauh lagi dalam proses pembelajaran di sekolah madrasah Ibtidayah dipandang kurang demokratis. Kurangnya wadah bagi siswa untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya dengan sudut pandangnya. Padahal, daya kreatif dan kompetensi kritis dalam berpikir merupakan aset berharga bagi anak untuk dapat mengatasi tantangan dan lebih kompetitif (Arbayah, 2. Guru tidak memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memaksimalkan Tentu hal ini tidak sejalan dengan nilai-nilai pendidikan agama sendiri yang sangat menjunjung tinggi prinsip persamaan dan pembebasan, prinsip keutamaan dan kemaslahatan untuk seluruh elemen pendidikan karena fungsi pendidikan tidak lain membekali peserta didik untuk dapat terjun dalam realias kehidupan manusia (Abdillah, 2. Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial (Armai, 2017: . Masa anak Madrasah Ibtidayah dasar merupakan sebuah periode pembentukan watak, kepribadian dan karakter dari seorang manusia agar anak tidak memiliki kekuatan dan kemampuan serta mampu berdiri tegak dalam meniti kehidupan (Husein, 2016: . Selain itu juga masa anak-anak sekolah dasar sekolah adalah masa proses belajar fisik, emosional dan intelektual yang utama di dalam kehidupan. Anak-anak usia Madrasah Ibtidayah bersifat ingin tahu, ingin mengetahui segalanya, mempunyai keinginan dan mandiri. Anak-anak usia pra sekolah juga bisa keras kepala, malu-malu dan tidak dapat berdiri sendiri. Kedua kepribadian mereka yang selalu berubah-ubah dan ketidakmampuan mereka untuk menggunakan pikiran secara maksimal membuat mereka menjadi makhluk yang sulit dikendalikan baik oleh guru maupun orang tuanya sendiri. Anak-anak usia ini hidup di dunia yang menantang bagi mereka serta orang tuanya (Wrequena dan Miller, 2015: . Perkembangan anak berlangsung secara berkesinambungan yang berarti bahwa tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap diharapkan meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada tahap selanjutnya. 119 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi Walaupun setiap anak adalah unik, karena perkembangan anak berbeda satu sama lain yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, namun demikian, perkembangan anak tetap mengikuti pola yang umum. Agar anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal, dibutuhkan keterlibatan orang tua dan orang dewasa untuk memberikan rangsangan yang bersifat menyeluruh dan terpadu yang meliputi pendidikan, pengasuhan, kesehatan, gizi, dan perlindungan yang diberikan secara konsisten melalui pembiasaan. Pengembangan potensi tersebut perlu diarahkan pada pembangunan kepribadian atau akhlak yang karimah sebagai landasan dasar penting bagi siswa Madrasah Ibtidayah. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fitrah dan sumber daya insani menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah, berbudi luhur dan berbagai kemampuan untuk memikul tanggung jawab. Di era pembelajaran yang mengedepankan merdeka belajar yang mengedepankan murid merasa nyaman belajar dan berdiskusi dengan guru. Karena pembelajaran tidak harus didalam kelas bisa dilaksanakan dengan auting class dengan tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru akan tetapi lebih membentuk karakter peserta didik, yang berani mandiri,cerdik dalam bergaul, beradab, sopan berkompetensi dan tidak hanya mengandalkan sistem perengkingan yang justu meresahkan banyak orag tua. karena sebenarnya masing-masing anak mempunyai potensi yang berbeda dengan anak lainya, tentunya membangun konsep humanisme teosentris penting bagi pembangunan petensi siswa Madrasah Ibtidayah dalam meredeka belajar. Pendidikan diberikan kepada anak harus terikat kepada konsep humanisme teosentris, humanisme itu harus mengangkat harkat kamusia, yaitu memanusiakan manusia, dalam proses pendidikan wujudnya nilai-nilai kemanusiaan harus diangkat, jika tujuan pendidikan Islam tidak mengangkat nilai-nilai kemanusiaannya berarti pendidikan itu gagal, misalnya: ada rasa kasih sayang ada rasa persaudaraan, sedangkan teosentris menjujung nilai takaran Allah SWT . melalui pancarannya, akan tetapi humanisme didahulukan karena humanisme tampil ke depan yang diketahui orang. Anak Madrasah Ibtidayah perlu dikembangkan dasar keagamaanya dengan tetap mengedepankan sisi humanisme yagn dimiliki anak, sehingga nanti tujuan memperkokoh karakter anak Madrasah Ibtidayah dimasa depan akan lebih baik. METODE Penyusunan makalah ini menggunakan metode penulisan kepustakaan . ibrary researc. (Zed, 2020: . Maka penulis menggunakan teknik yang diperoleh dari perpustakaan dan dikumpulkan dari buku-buku tersebut yaitu hasil membaca dan mencatat dari buku ilmiah yang berkaitan dengan pembahasan dan Analisis yang digunakan adalah deskriptif analitis. Metode deskriptif analitis digunakan dalam usaha mencari dan mengumpulkan data, menyusun, menggunakan serta menafsirkan data yang sudah ada (Zed, 2020: . Untuk menguraikan secara lengkap, teratur dan teliti terhadap suatu obyek penulisan (Moleong, 2019: . , yaitu menguraikan dan menjelaskan upaya membangun humanisme teosentris pada Anak Madrasah Ibtidayah dalam merdeka HASIL PEMBAHASAN Konsep Humasnisme Teosentris 120 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA Bentuk pengembangan fitrah manusia adalah penanaman nilai pendidikan Islam, untuk dapat menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam bangun dulu paradigma bertolak dari fitrah bertolak dari konsep fitrah, maka nilai-nilai yang bisa dibangun dari konsep fitrah adalah Humanisme Teosentris. Istilah humanisme teosentris sesungguhnya perpaduan antara humanisme dan teosentrisme, namun karena teosentris dimaksudkan untuk memberi sifat humanisme, maka menjadi humanisme teosentris. AuArtinya humanisme yang teosentris, sehingga secara exsplisit berbeda dengan naturalistik, humanisme scientifik, atau humanisme rasional yang sekulerAy (Achmadi, 2022: . Istilah humanisme digunakan bersama dengan istilah teosentris untuk menjelaskan humanisme teosentris ditempatkan sebagai paradigma ideologi pendidikan Islam, maka maka format ideologi tidak harus kaku untuk menghindari kekakuan konsep, namun yang penting adalah tetap terkait dengan paradigma humanisme teosentris. Humanisme teosentris merujuk pada pandangan yang menggabungkan prinsip-prinsip humanisme dengan pandangan yang sentral terhadap keberadaan Tuhan atau entitas ilahi yang menganggap manusia sebagai subjek yang memiliki martabat dan nilai intrinsik yang tinggi berupa realitas spiritual dan transendental secara unik berupa moral dan spiritual yang besar rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, dan pencipta. Oleh karena itu pendekatan pendidikan dalam paradigma humanisme teosentris akan menekankan pada pengembangan potensi manusia secara holistik, yang melibatkan aspekaspek IQ. EQ dan ESQ yang melingkupi eksistensi manusia (Kurnialoh, 2. Humanisme teosentris, bukan humanisme agama sebagai pandangan dunia filosofis pengajaran Islam karena makna teosentris lebih luas mencakup seluruh bagian kehidupan yang terfokus bagi Tuhan, meskipun agama sangat penting bagi kehidupan yang kuat dalam Islam diamalkan dengan perspektif yang berpusat pada Tuhan dalam pendidikan Islam dengan mempertimbangkan standar kemajuan, ketepatan, dan kemuliaan kenabian (Kurnialoh, 2. Terdapat tiga pandangan hidup humanisme teosentris karena: Pertama, kemajuan tidak signifikan sepenuhnya terletak pada radikalisme instruktif sebagai Perspektif John Dewey dengan hipotesis reformisme dan eksperimentalismenya, namun dimulai dari standar peluang penuh perhatian, seperti yang ditunjukkan dalam Al-Qur'an bahwa masyarakat diberi potensi dengan harapan akan adanya kemauan yang saling melengkapi untuk mengambil keputusan. Kedua, humanisme arus utama di Barat yang muncul sebagai perbedaan pendapat terhadap agama yang dianggap tidak ada dapat diantisipasi untuk mengadvokasi isu-isu yang penuh kasih sayang tergantung pada gagasan fitrah dalam Islam yang memandang manusia sebagai hewan paling mulia dengan potensi kemanusiaan dapat ditumbuhkan, sehingga ia dapat berperan sebagai khalifah Tuhan di muka bumi dan dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Ketiga, kualitas luar biasa yang bersifat profetik sekaligus memberi arti penting pada ubudiyah kemajuan dan Ketiga hal itu dalam istilah Kuntowijoyo disebut moral profetik sebagai adaptasi, kebebasan dan keagungan, yang merupakan deduksi dari kerangka nilai yang terkandung dalam kata amar ma'ruf, nahi munkar dan tu'minuna billah. Adaptasi Tersirat Kuntowijoyo, didirikan pada humanisme teosentris menyiratkan bahwa manusia harus memusatkan perhatian pada Tuhan, namun motivasinya adalah demi keuntungan manusia dalam pandangan teosentris selalu berhubungan 121 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi dengan tujuan baik berupa solidaritas yang tidak dapat dipisahkan (Tongat, dkk. Keistimewaan moral kenabian akulturasi dan kebebasan memberikan petunjuk tentang arah dan tujuan di mana adaptasi dan kebebasan dilakukan. Konsep keistimewaan yang disiratkan oleh Kuntowijoyo mirip dengan pandangan Roger Garaudy dalam mengartikan keistimewaan, khususnya dalam tiga hal: Pertama, keagungan mencakup pemahaman manusia akan ketergantungannya pada penciptanya. Ini membawa perasaan kedamaian dalam mengakui bahwa manusia adalah bagian dari keseluruhan yang lebih besar seperti keinginan dan ambisi akan kekuasaan. Kedua, keagungan mencerminkan persepsi tentang keseimbangan dan proporsi yang normal antara Tuhan dan manusia. Ketiga, keagungan memberikan pengalaman langsung yang melebihi pemahaman manusia (Fahmi, 2. Humanisme teosentris menurut adalah Aukata lain dari humanisme tauhid yang berarti segala sesuatu yang dilakukan manusia itu kembali kepada Tuhan, dan semua yang dilakukan Tuhan juga kepada manusiaAy. Pendidikan yang diberikan kepada anak harus terikat kepada konsep humanisme teosentris, humanisme itu harus mengangkat harkat kamusia, yaitu memanusiakan manusia, dalam proses pendidikan wujudnya nilai-nilai kemanusiaan harus diangkat, jika tujuan pendidikan Islam tidak mengangkat nilai-nilai kemanusiaannya berarti pendidikan itu gagal, misalnya: ada rasa kasih sayang ada rasa persaudaraan, sedangkan teosentris menjujung nilai takaran Allah SWT . melalui pancarannya, akan tetapi humanisme didahulukan karena humanisme tampil ke depan yang diketahui orang, karena dengan orang melihat itu orang Islam, itu terjadi sebelum ibadah atau amalan ibadahnya (Achmadi, 2022: . Secara terminologi tauhid berarti pengakuan terhadap keesaan Allah SWT. Secara metafissis dan aksiologis tauhid menduduki posisi tertinggi karena Dia ada dengan sendirinya secara mutlak dan transendental, sedangkan keberadaan sesuatu yang lain tergantung oleh-Nya. Dialah sumber kebaikan dan keindahan. Iradah-Nya melahirkan hukum-hukun alam (Sunnuh Allah SWT) dan hukum moral (Akhla. yang kebenaranya bersifat mutlak. Tauhid merupakan fondasi seluruh bangunan ajaran Islam. Pandangan hidup tauhit bukan hanya sekedar pengakuan akan keesaan Allah SWT, tetapi juga meyakini kesatuan penciptaan, kesatuan kemanusiaan, kesatuan tuntunan hidup, dan kesatuan tujuan dari kesatuan ketuhanan. Bila pengertian ini ditarik dalam kehidupan sosial maka tauhit tidak mengakui adanya kontradiksi-kontradiksi berdasarkan kelas, keturunan, dan latar belakang geografis (Achmadi, 2017: . Bertolak dari pengertian tersebut di atas sesungguhnya tauhid sudah sudah cukup sebagai landasan bagi seluruh kegiatan hidup dan kehidupan manusia termasuk pendidikan. Karena dalam pandangan hidup Islam merupakan nilai yang paling esensial dan sentral dan seluruh gerak hidup muslim tertuju kesana. Dengan dasar tauhid seluruh kegiatan pendidikan Islam dijiwai oleh norma-norma Ilahiyah dan sekaligus dimotivasi sebagai ibadah. Dengan ibadah pekerjaan pendidikan lebih bermakna, tidak hanya makna materiil tetapi juga makna Dibandingkan dengan nilai-nilai yang lain dalam Islam. AuTauhid merupakan nilai intrinsik, nilai dasar dan tidak akan berubah menjadi nilai Misalnya, kebahagiaan, kesejahteraan dan kemajuan di satu saat merupakan nilai intrinsik, sedangkan kekayaan, ilmu pengetahuan dan jabatan merupakan nilai instrumental untuk menuju kebahagiaanAy (Achmadi, 2017: . 122 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA Mengingat bahwa manusia dengan segala potensinya adalah citra bersyarat . onditional stateme. , maka dalam aktualisasinya, menuntut upaya dari manusia itu sendiri. Artinya, manusia yang tunduk kepada Allah harus bisa mengaktualisasikan potensinya dalam bentangan ruang dan waktu. Karena itu. Tuhan memberi manusia kemerdekaan untuk berikhtiyar tanpa menunggu Tuhan untuk bertindak (MasAoud, 2018: 275-. Dalam proses pendidikan, fungsi khalifah dijadikan titik awal, proses maupun produk. Sementara itu, fungsi Aoabd Allah menjadi tujuan akhir dari pendidikan Islam (Ismail SM, 2011: . Sebagai titik awal, subyek didik haruslah dipandang sebagai manusia yang mempunyai misi mengelola bumi, sehingga manusia dipandang sebagai makhluk yang mempunyai hakikat Sebagai proses, subyek didik dipandang sebagai makhluk yang memikul amanat Tuhan, sehingga nilai Islam pun perlu ditanamkan kepadanya. Sebagai produk, manusia sebagai khalifah diharapkan bisa mengimplementasikan nilai Islam dalam kehidupan. Sedangkan konsep Aoabd Allah berarti segala perilaku yang merupakan produk dari pendidikan Islam haruslah bertujuan untuk mengabdi kepada Tuhan (Ismail SM, 2011: . Jadi, dengan intergalnya status fungsi Aoabd Allah sekaligus khalifah dalam proses pendidikan Islam, manusia diharapkan akan membawa terciptanya tatanan kehidupan yang bermoral dan damai bagi seluruh alam. Hal ini tentu saja sejalan dengan esensi ajaran Islam sebagai ajaran yang damai pada semua . ahmatan lil Aoalami. (MasAoud, 2016: Sistem pendidikan yang baik akan membentuk peradaban suatu bangsa yang baik, sebaliknya apabila sistem pendidikan tidak berjalan dengan baik akan membentuk sebuah peradaban yang tidak baik pula (Ali, 2010: . Pendidikan sebagai kesatuan iman dan amal, belumlah cukup untuk menggambarkan pendidikan Islam, karena keduanya masih membutuhkan ilmu disamping akhlak Oleh karena itu, menurut penulis, pendidikan Islam merupakan kesatuan ilmu, iman, amal, dan akhlak mulia. Keempatnya harus berjalan secara stimulan, karena konsekuensi ilmu adalah meningkatnya iman, amal, dan akhlak dalam arti bahwa semakin tinggi ilmu seseorang tidaklah bernilai ilahiyah apabila tidak semakin meningkatnya iman, amal shalih dan akhlak mulia (Ali, 2012: . Islam adalah universal religion of peace. Agama yang sangat menekankan kedamaian pada seluruh alam . ahmatan lil Aoalami. (MasAoud, 2018: 141-. Ajaran kedamaian ini juga yang menyebabkan mengapa humanisme harus dikembangkan dalam dunia pendidikan Islam. Sebab, tanpa nilai kedamaian dalam humanisasi bagi proses pendikan Islam, produk pendidikan Islam pun akan menjadi tidak manusiawi. Karena itu, dalam aktualisasinya, manusia ideal adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai Aoabd sekaligus khalifah sebagai realisasi ketertundukannya kepada Tuhan baik secara pibadi, komunitas maupun seluruh umat manusia demi kemaslahatan serta menjaga kerusakan demi meraih kebahagiaan dunia maupun akherat. Disinilah inti dari ajaran Islam tentang kemanusiaan . Islam mengajarkan bahwa sikap manusia yang tunduk kepada Tuhan, harus mengaktualisasikannya dalam bentuk Auamal shalehAy, yakni menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama manusia dalam bentuk kerja dan karya positif, kreatif, kritis, terbuka, mandiri, bebas dan bertanggungjawab (Muhaimin, 2017: . Dengan kata lain, inti ajaran kemanusiaan . dalam Islam adalah Aukemerdekaan dalam persamaanAy. Artinya, kemerdekaan pribadi harus 123 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi diaktualisasikan melalui usaha dan tindakan berdasar pola ilahi yang telah diwahyukan dalam bentangan ruang dan waktu. Karena itu. Islam mengajarkan bahwa ilmu hakikatnya adalah untuk amal. Amal tanpa ilmu tidak akan mencapai tujuan, sedangkan ilmu tanpa amal akan menghancurkan peradaban bahkan akan membawa kerusakan. Dalam kontek inilah, pendidikan Islam seharusnya sarat akan aksi kemanusiaan. Artinya, pendidikan dituntut lebih peka terhadap realitas aktual yang sesungguhnya. Aksi inilah sebagai jembatan antara idealitas dan Dalam kontek ini. Fazlur Rahman berpendapat: Ausebuah proses pendidikan tidak akan memperoleh pengetahuan tentang tujuan akhir kehidupan, jika tidak mengetahui realitas aktual yang sesungguhnyaAy (Rahman, 2015: . Islam mengajarkan bahwa disamping manusia harus menata niat, manusia juga harus merealisasikan niatnya dalam bentuk usaha dan tindakan. Selain itu pun, manusia dituntut untuk menata tujuan yang hendak dicapai. Semuanya mesti sejalan dengan pola ilahi, sebab menyimpang dari norma dan pola ilahi berarti menyimpang dari prinsip tauhid (Tafsir, dkk, 2012: . Dari sinilah tauhid sebagai intisari dalam ajaran Islam hendak memberikan penegasan bahwa kebenaran dan kebaikan perbuatan manusia, baik yang termanifestasi melalui niat maupun tindakan akan benar-benar memiliki nilai baik apabila didasarkan pada prinsip Sejarah antara putra Adam yakni Habil dan Qobil, serta Ismail putra Ibrahim yang telah diabadikan oleh al-QurAoan setidaknya bisa dijadikan dasar pijakan (MasAoud, 2016: 130-. Kedua kisah tersebut nampaknya mengisyaratkan bahwa Tuhan tidak akan menerima Aupengorbanan manusiaAy tanpa dasar yang tegas dan jelas yakni hanya mengharapkan ridho-Nya. Jadi, tanpa orientasi kepada dzat yang Maha Tinggi, manifestasi kemanusiaan dalam dunia pendidikan Islam sama sekali tidak akan mempunyai arti. Islam memberikan ajaran kepada manusia tentang Aukemerdekaan dalam persamaanAy. Artinya, kemerdekaan individu harus diaktualisasikan dalam kontek kehidupannya berdasar pola ilahi. Konsekuensinya, meskipun manusia secara de facto bersifat merdeka dalam mencari ilmu pengetahuan, tetapi maksud dari mencari pengetahuan itu adalah menanamkan kebaikan atau kedamaian kepada Karena itu, secara de jure ilmu pengetahuan tersebut harus selalu diorientasikan untuk tujuan pengabdian mencari ridha Allah SWT. Konsekuensinya, manusia harus mengamalkan ilmunya demi kemaslahatan. Segala bentuk aspek kebebasan, kemerdekaan, dan kemampuan intelektualitas manusia dihargai dan ditempatkan sebagaimana mestinya. Nilainilai tersebut tidak lagi dicampakkan kepada otoritas wahyu, tetapi posisinya justru dihargai sebagai AusaranaAy untuk memahami wahyu. Disinilah humanisme Islam tidak mengesampingkan monoteisme mutlak akan tetapi memberikan kepada manusia keagungan untuk mengembangkan kebajikannya dalam Karena itu, humanisme Islam memberikan keseimbangan kehidupan bagi manusia antara dunia dan akhirat (Boisard, 2018: 151-. Pembelajaran yang dibangun atas dasar paradigma humanisme teosentris menjadi penting disadarkan subyek didik untuk memilih tujuan hidup di dunia ini menjadi penuh damai dan sejahtera bagi semua orang sekalian alam jagat raya ini tanpa diskriminasi atas perbedaan ideologi agama dan keagamaan, ras dan suku Pengembangan fitrah manusia dalam pendidikan Islam harus berlandaskan paradigma humanisme teosentris, yaitu perpaduan antara penghargaan terhadap martabat manusia dengan orientasi ketuhanan. Paradigma ini menempatkan 124 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA manusia sebagai makhluk bermartabat yang berfungsi sebagai khalifah dan Aoabd Allah, dengan tujuan akhir mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendidikan Islam bukan hanya mengembangkan aspek intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (ESQ), tetapi juga menanamkan nilai tauhid sebagai fondasi moral profetik yang tercermin dalam amar maAoruf, nahi munkar, dan iman kepada Allah. Dengan demikian, pendidikan Islam harus mengangkat harkat kemanusiaan, menyeimbangkan ilmu dan amal, serta mewujudkan kedamaian universal . ahmatan lil Aoalami. Paradigma ini mengajarkan bahwa kebebasan, ilmu, dan amal hanya bermakna bila diorientasikan untuk pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umat manusia. Humanisme Teosentris sebagai Upaya Membangun Fitrah Anak Madrasah Ibtidayah dalam Merdeka Belajar Pembelajaran pada anak Madrasah Ibtidaiyah yang berlandaskan humanisme, maka nilai-nilai fundamental yang secara universal dan obyektif merupakan kebutuhan anak Madrasah Ibtidaiyah perlu dikemukakan sebagai dasar pembelajaran, adalah kemanusiaan, kesatuan umat manusia, keseimbangan dan rahmat bagi seluruh alam. Pertama kemanusiaan yaitu pengakuan akan hakekat dan martabat manusia. Hak-hak asasi seseorang harus dihargai dan dilindungi. Sebaliknya untuk merealisasikan hak-hak tersebut, tidak dibenarkan melakukan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain karena setiap orang memiliki persamaan derajat hak dan kewajiban yang sama. Yang membedakan antara seseorang dengan yang lainnya hanyalah ketakwaan. Kedua kesatuan umat manusia, yang menegaskan tentang persatuan dan kesatuan umat manusia. Perbedaan suku, bangsa dan warna kulit bukan halangan untuk mewujudkan prinsip persatuan dan kesatuan ini, pada dasarnya, mereka semua memiliki tujuan hidup yang sama yakni mengabdi kepada Allah SWT. Artinya, hal-hal yang menyangkut kesejahteraan, keselamatan, keamanan manusia, termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan, tidak cukup dipikirkan dan dipecahkan oleh sekelompok masyarakat atau bangsa tertentu tetapi menjadi tanggungjawab bersama seluruh umat manusia. Ketimpangan yang tajam antara satu bangsa dengan bangsa lainnya (Negara maju dan Negara berkemban. apabila tidak dijembatani akhirnya akan menjadi bumerang bagi seluruh umat manusia. AuBila suatu bangsa memikirkan dirinya sendiri dan hanya berpegang pada aturannya sendiri tanpa mengindahkan aturanaturan umum yang disepakati dan untuk kepentingan bersama, maka cepat atau lambat akan datang kehancuran manusiaAy. Ketiga keseimbangan, dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari prinsip Secara khusus prinsip keseimbangan itu terlihat pada penciptaan Selanjutnya Islam mendudukkan berbagai perkara menjadi baik dan positif pada titik keseimbangan ini. Prinsip keseimbangan yang harus diperjuangkan dalam kehidupan, melalui pendidikan antara lain: Keseimbangan antara kepentingan hidup dunia dan akhirat Keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani Keseimbangan kepentingn individu dan sosial Keseimbangan antar ilmu dan amal Prinsip keseimbangan ini merupakan landasan bagi terwujudnya keadilan, adil terhadap dirinya sendiri dan adil terhadap orang lain. AuKeadilan dalam pendidikan termanivestasikan dalam sikap obyektif seorang pendidik terhadap peserta didiknya. Bagi pemerintah sikap adil dalam pendidikan termanivestasikan 125 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi dalam kebijakan pemerataan pendidikan bagi seluruh rakyatnyaAy. Keempat rahmatan lil Aoalamin yaitu Seluruh karya setiap manusia termasuk pendidikan berorientasi pada terwujudnya rahmat bagi seluruh alam (Achmadi, 2018: 88-. Pendidikan untuk mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kualitas SDM dilaksanakan dalam rangka mewujudkan rahmatan lil Aoalamin. Aktivitas pendidikan sebagai transformasi nilai, ilmu pengetahuan dan teknologi juga dilakukan dalam rangka rahmatan lil Aoalamin. Semua usaha pendidikan untuk membawa kemajuan hidup tidak lain hanya merupakan nilai instrumental untuk menuju rahmatan lil Aoalamin. AuKemajuan hidup yang telah dicapai masyarakat modern ternyata tidak menyelesaikan problem kemanusiaan bahkan sering menimbulkan malapetaka dan nestapa. Tak ada yang bisa menyelamatkan, kecuali konsep rahmatan lil AoalaminAy. Kalau dilihat Tujuan utama dan fungsi pembelajaran ialah untuk mengembangkan fitrah keberagamaan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa melalui peningkatan pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam. Bila dikaitkan dengan yang sedang dan terjadi sebagai dampak globalisasi, maka fungsi pembelajaran perlu dielaborasi berdasarkan, liberalisasi dan trasendensi ini dikarenakan: Pertama, pembelajaran pada anak Madrasah Ibtidaiyah harus dapat memberikan kemampuan individual dalam menetapkan pilihan nilai-nilai positif yang diyakini sebagai kebenaran dari sudut pandang Islam. Kedua, memberikan pembelajaran pada anak Madrasah Ibtidaiyah tentang kearifan dalam memanifestasikan keimanan dan keislamannya dalam kehidupan individu dan sosial dalam masyarakat yang semakin plural sehingga Islam dapat dirasakan sebagai rahmatan lil Aoalamin. Ketiga, menyadarkan akan perlunya mengembangkan potensi-potensi insaniah (SDM) anugerah Tuhan seoptimal mungkin . ebagai wujud syukur nikma. , sehingga mampu berkompetisi secara sehat . astabiqul khoiro. dengan orang lain. Tidak rendah diri dan frustasi menghadapi kompetitornya (Achmadi, 2018: . Oleh karena itu dalam konsep humanisme teosentris menuntut pembelajaran harus ngopeni . nak harus dididik rasa kemanusiaa. Oleh karena manusia terikat oleh teosentris maka humanisme itu diarahkan kepada ketauhidan, akan tetapi pada dasarnya anjuran-anjuran Islam itu menuju ke humanisme, jadi waktu seseorang mengajar dalam Pendidikan Islam, nilai-nilai kemanusiaan itu harus diangkat jangan bersifat linier, karena itu adalah arah dari pendidikan itu sendiri, misalnya seperti dalam menerangkan permasalahan bahwa yang dihisab pertama kali itu shalat, maka seorang guru jangan hanya menghukumi tentang formalnya shalat, akan tetapi bagaimana mengajarkan shalat tentang makna shalat itu sendiri yang dimulai dari takbir yang merupkan wujud ketauhidan manusia dan diakhiri dengan salam yang merupakan bentuk atau wujud pemberian keselamatan bagi seluruh umat, tentunya semua itu dirangkai atau dijelaskan itu sesuai dengan perkembangan anak-anak. Humanisme yang di gunakan pada dasarnya pembelajaran pembelajaran pada anak Madrasah Ibtidaiyah ini pada dasarnya juga bertolak dari ketujuh prinsip dasar kemanusiaan diantaranya: AuManusia adalah makhluk asli, artinya ia mempunyai substansi yang mandiri di antara makhluk Ae makhluk lain, dan memiliki esensi kemuliaan. 126 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA Manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas yang merupakan kekuatan paling besar dan luar biasa. Kemerdekaan dan kebebasan memilih adalah dua sifat Ilahiyah yang merupakan ciri menonjol dalam diri manusia. Manusia adalah makhluk yang sadar . sebagai karakteristik manusia yang paling menonjol. Sadar berarti manusia dapat memahami realitas alam luar dengan kekuatan berfikir. Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sendiri, artinya dia adalah makhluk hidup satu-satunya yang memiliki pengetahuan budaya dan kemampuan membangun peradaban. Manusia adalah makhluk yang kreatif, yang menyebabkan manusia mampu menjadikan dirinya makhluk sempurna di depan sesama dan dihadapan Tuhan. Manusia adalah makhluk yang punya cita-cita dan merindukanm sesuatu yang ideal, artinya dia tidak menyerah dan menerima Auapa yang adaAy, tetapi selalu berusaha mengubahnya menjadi Auapa yang semestinyaAy. Manusia adalah makhluk moral, yang berkaitan dengan masalah AynilaiAy (Achmadi, 2018: . Oleh karena itu humanisme dalam pandangan Islam tidak dapat dipisahkan dengan prinsip teosentris. Karena di satu sisi keimananAy TauhidAy sebagai inti ajaran islam, menjadi pusat seluruh orientasi nilai. Akan tetapi semua itu kembali untuk manusia yang dieksplisitkan dalam tujuh risalah IslamAuRahmatan LilAoalaminAo. Selain itu pengembangan fitrah manusia pada pembelajaran pada anak Madrasah Ibtidaiyah harus diarah kepada terciptanya manusia yang berakhlkul karimah, karena Inti dari Islam adalah terciptanya akhlakul karimah, jika akhlaknya hilang berarti gagal tujuan ajaran-ajaran agama Islam. Untuk menanamkan akhlak kaitannya dengna konsep fitrah ini tertuang salah satunya dalam surat as-syams ayat 7-9. Ayat ini mengisyaratkan pendidikan akhlak yang ditanamkan sejak dini pada anak-anak dengan sendirinya akan menjadi bagian dari unsur-unsur Anak yang telah tertanami nilai-nilai Islam tersebut secara langsung akan dapat mengendalikan keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan yang timbul dalam dirinya. Proses seorang anak menjadi seorang yang berperilaku karimah atau berkepribadian Islam tersebut tidak lepas dari lingkungan yang mendukungnya, teladan yang baik dan pendidikan akhlak, agar si anak dapat hidup bermoral dalam kehidupannya ketika dewasa (Achmadi, 2018: . Elizabeth H Hurlock, mengemukakan AuBehavior which may be called Aytrue moralityAy not only conforms to social standards but also is carried out It comes with the transition from external to internal authority and consists of conduct regulated from withinAy (Hurlock, 2016: . AuTingkah laku/yang dikenal dengan moral yang baik, bukan hanya merupakan aturan kemasyarakatan saja, tetapi yang lebih penting harus dilaksanakan secara suka Tingkah laku tersebut dapat dilihat dari luar yang digerakkan oleh sebuah kekuatan yang diatur dari dalamAy. Beberapa hikmah yang dapat diraih apabila pendidikan akhlak ditanamkan sejak dini antara lain. Pertama, pendidikan akhlak mewujudkan kemajuan Kedua, pendidikan akhlak menuntun kebaikan. Ketiga, pendidikan akhlak mewujudkan kesempurnaan iman. Keempat, pendidikan akhlak 127 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi memberikan keutamaan hidup di dunia dan kebahagiaan dihari kemudian. Kelima, pendidikan akhlak akan membawa kepada kerukunan rumah tangga, pergaulan di masyarakat dan pergaulan umum (Hurlock, 2016: . Seseorang anak yang sejak dini telah dididik akhlak akan memiliki akhlak al-karimah apabila secara aqidah memang telah tertanam kuat. Karena seseorang yang mempunyai kesempurnaan iman tentu saja akan melahirkan kesempurnaan Dengan kata lain, keindahan akhlak merupakan manifestasi dari kesempurnaan iman. Sebaliknya tidaklah seseorang dipandang beriman secara sungguh-sungguh jika dalam realitas moral dan akhlaknya buruk, karena kesempurnaan iman akan membawa pada kesempurnaan akhlak. Di samping itu keimanan dalam pendidikan Islam harus lebih dahulu masuk dalam jiwa anak didik, agar timbul kepercayaan pada Allah SWT Yang Maha Ghaib. Hal ini karena menjadi landasan dalam ia bertindak dan berperilaku. Alasan inilah yang kemudian menuntut perlu terjadinya perubahan paradigma mengajar pda pembelajaran pada anak MI, dari mengajar hanya sebatas penyampaian materi pelajaran kepada mengajar sebagai proses mengatur lingkungan (Sanjaya, 2022: . Dikaitkan dengan pembelajaran humanisme theosentris dapat difahami sebagai berikut: Pertama, subyek didik dipandang sebagai organisme yang sedang berkembang, untuk dapat melaksanakan tugastugas perkembangannya, diperlukan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Karena kemajuan teknologi menuntut perubahan peran guru. Guru tidak lagi memosisikan diri sebagai sumber informasi yang bertugas menyampaikan informasi, melainkan ia sebagai pengelola sumber belajar untuk menjaga subyek didik agar tidak terpengaruh oleh berbagai informasi yang menyesatkan dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan subyek didik, baik fisik maupun psikis. Sekaligus memanfaatkan dan menumbuh-kembangkan potensi dan sumber daya subyek didik. Kedua, pembelajaran pada anak Madrasah Ibtidaiyah tidak hanya sekedar menghafal informasi, dan menghafal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan Ketiga, perlu pemahaman baru pada pembelajaran pada anak Madrasah Ibtidaiyah di bidang psikologi terhadap konsep perubahan tingkah laku manusia, dewasa ini, anggapan manusia sebagai organisme yang pasif yang perilakunya dapat ditentukan oleh lingkungan seperti pemahaman aliran behavioristik, telah banyak ditinggalkan orang. Sekarang lebih dipercaya, bahwa manusia adalah organisme yang memiliki potensi sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Potensi itulah yang akan menentukan perilaku manusia dalam berfikir dan Dari ketiga hal di atas menunjukkan bahwa paradigma humanisme teosentris memberikan pembelajaran pada anak Madrasah Ibtidaiyah kepada keseluruhan bagian yang mengarahkan kepada pengembangan semua kesadaran manusia . ubyek didi. , baik kesadaran intelektual, kesadaran emosional, dan kesadaran spiritual. Dan secara berangsur-angsur proses pembelajaran humanis mengarahkan individu menuju tujuan yang tak terbatas Pembelajaran semacam itu dapat dikatakan pembelajaran holistik (Nahlawi, 2016: . , sebab, di dalam proses pendidikan tidak terdapat bagian kesadaran subyek didik yang terabaikan dan tidak ada. 128 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA Humanisme teosentris pada pembelajaran anak Madrasah Ibtidaiyah mengedepankan mengenai pola interaksi antara pendidik dan subyek, jenis kelamin, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, baik dalam hubungan sosial secara inter atau pun antar umat beragama. Pola interaksi guru-murid dalam Islam. Di dalam proses belajar mengajar, hubungan guru murid, khususnya pada jenjang pendidikan dasar, adalah seperti hubungan orang tua dan anak (Asrohah, 2017: . Di mana guru memberlakukan anak dengan penuh kasih sayang, meski kadangkala tampak secara tegas guru mewajibkan anak menguasai suatu hal yang dianggap berguna dan bermanfaat bagi diri anak itu sendiri, agama, bangsa dan Negara. Orang tua tidak mempermasalahkan hal-hal semacam itu, seperti peristiwa yang terjadi pada masa khalifah Harun al-Rasyid . alah seorang khalifah Bani Abbasiya. ketika beliau menyerahkan putranya kepada seorang guru yang bersama al-Amin: Aku percayakan anakku, buah hatiku, kepadamu. Aku berikan kepadamu kekuasaan untuk menguasainya. Buat dia agar taat kepadamu. Kepercayakan kedudukan penting ini kepadamu. Ajarkan kepadanya al-QurAoan, sejarah, syair, hadis, dan pidato. Jangan berikan dia kesempatan bersenda gurau, kecuali pada saat-saat tertentu. Didiklah dia agar menaruh hormat kepada pemuka-pemuka Banu Hasyim dan memperlakukan dengan baik komando-komando militer jika mereka menghadap kepadanya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa melakukan pengajaran bagi dia, tetapi jangan membuat dia bersedih. Jangan terlalu baik kepadanya, karena dia akan malas. Perlakukan dia dengan lemah lembut, tetapi jika itu tidak mempan, perlakukan dia dengan kekerasa (Stanton, 2019: . Pembicaraan antara orang tua (Harun al-Rasyi. dan guru anaknya . lAmi. menunjukan bahwa guru merupakan perpanjangan tangan orang tuanya dalam menjalankan pendidikan, dan orang tua pun dengan ikhlas menyerahkan anaknya kepada sang guru. Pola hubungan guru murid semacam itu, ternyata tidak hanya terjadi antara dua arah anak dan guru, melainkan juga melibatkan orang tua, atau hubungan segi tiga. Ada beberapa metode-metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan fitrah anak diantaranya : Metode Bermain. Bercerita Dan Bernyanyi (BCM) Bermain adalah Aupekerjaan yang menyenangkanAy Orang dewasa yang menganggap pekerjaan mereka menarik, bermanfaat dan menyenangkan akan menggunakan kata bermain (Bob, 2019: . Dalam Etika Yunani Ae Romawi tertanam ajaran perbedaan belajar dengan bermain. Bermain itu pekerjaan yang menyenangkan, tidak sulit dan tidak perlu serius sedang belajar dianggap pekerjaan serius (Bob, 2019: . Bermain adalah cara yang paling alamiah untuk mempelajari hal-hal baru. Kecepatan belajar anak usia Madrasah Ibtidayah banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara IQ anak, guru yang mengajar dan metode Dalam mengembangkan genius learning berkeyakinan bahwa tidak ada anak yang bodoh yang menjadi permasalahan adalah metode pengajarannya dengan metode bermain sambil belajar akan: Mempersingkat waktu belajar hingga 60% Dengan cara memadukan semua materi dalam satu mata pelajaran selanjutnya anak dibuat menjadi kelompok-kelompok kecil, materi pelajaran tersebut dibuat bahan permainan. Memberi AukehidupanAy pada materi yang membosankan 129 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi Belajar multi disiplin dan multi dimensi (Gunawan, 2019: . Selanjutnya bercerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (Peristiwa, kejadian dan sebagainy. atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang, kejadian dan sebagainya . aik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belak. (Poerwadarminta, 2012: . Metode cerita itu sendiri diartikan sebagai teknik yang dilakukan dengan cara bercerita, yaitu mengungkapkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengandung nilai-nilai pendidikan moral, rohani dan sosial bagi seluruh umat manusia di segala tempat dan zaman, baik yang mengenai kisah yang bersifat kebaikan maupun kedhaliman atau juga ketimpangan jasmani, rohani, material dan spiritual yang dapat melumpuhkan semangat manusia (Mursy, 2018: . Kemudian bernyanyi adalah Menyanyi . adalah bunyi berirama dan berlagu/bersyair (Syah, 2020: . Menyanyi merupakan metode efektif untuk materi hafalan seperti menghafal rukun islam, rukun iman dan lain Ruhard Hish membagi daya ingat manusia ada dua yaitu: Memori fakta yaitu kemampuan untuk mengingat informasi-informasi seperti nama-nama, tanggal, tempat, wajah, kata-kata, kejadian bersejarah dan lain sebagainya Memori Ketrampilan bukanlah sebagai suatu usaha untuk mengingatingat, tetapi hasil dari latihan berulang-ulang kali, misalnya bermain tenis dengan segera ingat kembali serisnya (Shaleh, 2017: . Metode menyanyi adalah "menyanyi" yang dijadikan sebagai cara untuk memudahkan kegiatan proses belajar mengajar guna mencapai tujuan. Dari pengertian keseluruhan dapat penulis simpulkan Jadi Metode bermain cerita dan bernyanyi adalah sebuah metode alternatif pembelajaran yang digunakan untuk anak-anak, yang merupakan daya pikat yang didasarkan pada fitrah kejiwaan anak dengan pola pendekatan anak happy learning . Pada masa permainan merupakan alat yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan fantasi. Dengan balok-balok, pasir, kertas, tali, tanah lihat, karton dan lain-lain anak dapat menciptakan apa yang dikehendaki. Dengan balok misalnya, anak dapat membuat sawah, kali, bendungan, dan lain-lain. permainan dengan alat-alat yang sudah jadi . obil, boneka dan lain-lai. menyebabkan perkembangan fantasi kurang dapat berkembang. Kegunaan dari Permainan diantaranya Permainan merupakan alat penting untuk menumbuhkan sifat sosial, untuk hidup bermasyarakat, karena dengan bermain maka anak dapat mengenal bermacam-macam tingkah laku. Permainan merupakan alat untuk mengembangkan fantasi dan bakat Permainan dapat mendatangkan berbagai perasaan, antara lain perasaan senang dalam menjalankan permainan. Dalam permainan bersama dapat menumbuhkan rasa bertanggung jawab dan mentaati peraturan yang dibuatnya. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa dengan permainan itu anak dapat mencapai kemajuan: jasmani, rasa sosial, moral, intelek, rasa keindahan dan lain-lain (Shaleh, 2017: 68 Ae . Kemudian Tujuan metode bernyanyi Dengan selingan menyanyi dalam proses belajar mengajar dapat merubah suasana jenuh menjadi gembira. Jenuh adalah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Jenuh bisa 130 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA juga diartikan bosan. (Syah, 2020: . Gembira adalah ekspresi dari kalangan yaitu perasaan terbebas dari ketegangan (Shaleh, 2017: . Dalam perkembangan jaman nyanyian mengalami berbagai macam perubahan dan perkembangan mulai dari fungsi tujuan penyebutan dan sebagainya. Nyanyian kadang orang menyebut dengan lagu, tembang, syair dan lain-lain. Nyanyian juga bisa berfungsi bermacam-macam. Fungsi religius hiburan, membangkitkan semangat dan lain-lain. Bahkan juga sebagai sarana pendidikan. Bagi seorang anak menyanyi adalah menyenangkan sarana untuk mengekspresikan jiwa. Sementara lirik lagu itu sendiri ibarat sumber informasi yang bisa mengajarkan keindahan alam kebesaran Tuhan rasa kemanusiaan, tentang cara bergaul dan lain-lain. Nyanyian atau lagu sebagai media pengajaran paling tidak harus memiliki ciri-ciri yang bisa menggambarkan hal-hal sebagai Diantaranya adalah: Mengandung persoalan yang sesuai dengan materi dipelajari Melodi sesuai dengan kemampuan anak Syair-syairnya sesuai dengan tingkat pemahaman anak Jadi tujuan dari metode bermain, bercerita dan menyanyi (BCM) adalah menjadikan proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dengan melakukan permainan sambil bercerita dan bernyanyi. Aplikasi metode bermain, bercerita dan menyanyi (BCM) sebagai wujud pembelajaran merdeka dilakukan sebagai berikut: Pembelajaran dimulai dengan menyiapkan anak berbaris di depan kelas secara teratur di bawah bimbingan guru, setelah anak rapi dan teratur bersama-sama dengan guru kelas, masing-masing anak-anak dibimbing membaca ikrar yaitu dua kalimat syahadat dilanjutkan dengan berdoAoa bersama-sama yaitu membaca surat al-Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan hafalan surat-surat pendek dibawah bimbingan guru kelas secara bersama-sama. Selanjutnya guru memberi salam kepada anak-anak kemudian berdoAoa bersama-sama untuk membiasakan anak agar selalu berdoAoa sebelum menjalankan Guru bersama-sama anak memperhatikan . siapa yang tidak Membuat kesepakatan-kesepakatan aturan dan tata tertib di kelas. Pada tahap ini, guru melakukan pendekatan-pendekatan kepada anak, guru berupaya memasuki emosi anak untuk mengenal pribadi masing-masing anak, yaitu dengan menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan, mengenali kecerdasan dan gaya belajar anak. Menjalin hubungan yang harmonis dengan anak dan meminimalisir suasana yang tidak mendukung proses belajar, masuk ke dunia anak, mengajak anak bermain, bercerita dan bernyanyi yang berhubungan dengan materi rukun iman dan guru menjelaskan lebih rinci lagi metode BCM yang digunakan. Guru menyampaikan tema atau materi pelajaran yaitu rukun iman dengan mengajak siswa untuk bernyanyi bersama-sama sambil tepuk tangan menyanyi rukun iman dan dilanjutkan guru bercerita tentang rukun iman yang terkait dengan cerita Nabi Ibrahim yang disesuaikan dengan realitas kehidupan anak dengan mimik muka dan gerakan dengan menggunakan media boneka yang menjadikan siswa semangat untuk mendengarkan. Kegiatan dilanjutkan dengan guru mempersilahkan siswa untuk bertanya tentang materi. Kemudian guru membentuk kelompok kerja siswa untuk melakukan permaianan dimana setiap kelompok terdiri atas 4 anak, permainan yang harus dilakukan kelompok adalah bermain puzzle untuk menempelkan nama Malaikat 131 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi dan tugasnya sesuai urutannya, setiap kelompok berlomba untuk menyelesaikan puzzle, kelompok yang paling cepat adalah pemenang dan maju kedepan membaca hasil puzzlenya dan guru memberikan reward berupa aplus kepada kelompok tersebut. Setelah anak-anak selesai mengerjakan pembelajaran dengan metode BCM anak di beri soal sebanyak 10 soal untuk dijawab, setelah mereka selesai menjawab guru menyiapkan anak cuci tangan secara bergiliran, kemudian makan Sebelum makan dimulai anak-anak dibiasakan berdoAoa setelah makan Setelah makan bersama selesai anak-anak bersiap-siap untuk pulang dan tidak lupa berdoAoa bersama-sama sebelum pulang. Metode Bermain. Bercerita, dan Bernyanyi (BCM) merupakan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan fitrah anak, karena mampu menumbuhkan keceriaan, kreativitas, serta nilai sosial dan spiritual. Melalui BCM, anak tidak hanya belajar kognitif, tetapi juga menginternalisasi nilai moral, religius, dan kemanusiaan yang sejalan dengan paradigma humanisme teosentris, yaitu memanusiakan manusia dengan tetap berorientasi pada Tuhan. Dalam konteks Merdeka Belajar di Madrasah Ibtidaiyah. BCM membantu anak mengembangkan fitrahnya secara utuh, mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Dengan demikian, pendidikan menjadi sarana untuk membentuk generasi berakhlak mulia, ceria, dan bertanggung jawab sebagai khalifah sekaligus hamba Allah Swt. Metode Teladan Dalam praktik pendidikan, anak didik cenderung meneladani pendidiknya dan ini diakui oleh hampir semua ahli pendidikan. Pada dasarnya secara psikologi anak senang meniru tidak saja yang baik-baik tetapi juga yang jelek dan secara psikologis juga manusia membutuhkan tokoh teladan dalam hidupnya. Di pihak lain. Islam tidak melihat adanya harga suatu perkataan yang tidak diterjemahkan dalam Aoamal. Karena orang Islam yang sempurna ialah orang yang amalnya menguatkan perkataannya dan ilmunya terpancar dalam tingkah lakunya (Nahlawi, 2016: . Tingkah laku seseorang pendidik . yang diikuti dengan perbuatannya akan memudahkan dalam penyampaian pesan atau nilai yang ingin diinternalisasikan kepada anak. Penyampaian pesan melalui keteladanan sangat penting, terutama guru yang berprofesi sebagai mursyid . , karena anak . ubyek didi. memiliki insting . untuk beridentifikasi . dalam diri setiap manusia, yaitu dorongan untuk menjadi sama . dengan tokoh identifikasi. Berikut adalah beberapa cara yang dilakukan oleh guru Madrasah Ibtidaiyah dalam menerapkan metode teladan terutama dalam membentuk kepribadian peserta didik baik itu dilaksanakan guru dalam proses belajar mengajar maupun diluar proses belajar mengajar. Teladan Materi Keimanan Penerapan keteladanan yang di terapkan oleh guru Madrasah Ibtidaiyah yang lainnya adalah mengajarkan Al-QurAoan pada anak Madrasah Ibtidaiyah. Dengan mengajarkan Al- QurAoan pada anak MI berarti seorang guru memberikan contoh bagaimana cara membaca Al-QurAoan yang baik dan benar serta memberikan penjelasan secara ringkas dan sederhana mengenai makna ayat-ayat Al-QurAoan sehingga hal itu masuk ke dalam benak peserta didik. Teladan Materi Ibadah. 132 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA Dalam hal ini penerapan keteladanan yang di lakukan oleh guru Madrasah Ibtidaiyah yang ada kaitannya dengan materi ibadah adalah: Pelaksanaan shalat dhuhur berjamaah. Dan pelaksanaan shalat dhuhur berjamaah ini di lakukan oleh semua guru dan anak Madrasah Ibtidaiyah, dengan adanya pelaksanaan shalat dhuhur berjamaah nilai yang dapat di ambil adalah menjaga dan memelihara ketepatan waktu, menumbuhkan sikap sabar dan meningkatkan rasa tanggung jawab dan kewajiban melaksanakan sesuatu. Keteladanan guru dalam memberikan contoh bagaimana cara untuk Itu di lakukan dengan memberikan infaq yang di lakukan oleh guru dan di ikuti oleh anak Madrasah Ibtidaiyah yang di lakukan setiap hari jumAoat. Nilai yang dapat di tanamkan dalam infaq ini adalah rasa syukur kepada Allah Swt, menghindarkan sifat bakhil dan kikir serta kepedulian antar sesama. Pemberian contoh atau keteladanan dalam hal menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekolah Madrasah Ibtidaiyah, misalnya selalu berpakaian rapi dan bersih serta membuang sampah pada tempatnya. Membiasakan untuk selalu berpuasa khususnya puasa ramadhan, karena dengan puasa mendidik manusia untuk selalu sabar, tabah, dan jujur. Teladan Materi Akhlak. Keteladanan yang perlu dicontohkan pada anak Madrasah Ibtidaiyah antara lain adalah: Sikap disiplin guru dalam berangkat sekolah, karena dalam hal ini proses pembelajaran yang ada Madrasah Ibtidaiyah di mulai pada pukul 07. pagi dan ini pun ditiru oleh anak MI supaya tidak terlambat sekolah dan tidak mendapat hukuman. Sikap menghormati dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Setiap guru membiasakan mengucapkan salam ketika masuk ruangan. Berbicara lembut dan tindakan kasih sayang terhadap anak Madrasah Ibtidaiyah. Memberikan contoh untuk selalu menjaga dan memelihara lingkungan yang ada, misalnya dengan membuang sampah pada tempatnya. Dan ini pun di ikuti oleh peserta didik yang ada Madrasah Ibtidaiyah. Contoh langkah-langkah keteladanan dalam pembelajaran. Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan guru telah mempersiapkan program perencanaan atau modul Untuk menarik motivasi siswa agar semangat dalam belajar, penjelasan dibantu dengan guru memberi contoh ataupun menggunakan media pengajaran salah satunya dengan menggunakan gambar yang terkait dengan materi shalat fardhu. Pelaksanaan pembelajaran PAI pada materi shalat fardhu seperti biasa sebelum dimulai siswa bersama-sama membaca doa sebelum belajar dan hafalan surat pendek. Selanjutnya guru mengadakan apersepsi tentang materi shalat Kegiatan selanjutnya guru menjelaskan materi shalat fardhu secara rinci dengan menunjukkan gambar gerakan shalat dan siswa memperhatikan dengan baik dan siswa mempraktekkan dengan teman-temannya. Kemudian guru terlebih dahulu memberi contoh gerakan shalat dengan bacaannya. Dan siswa memperhatikan guru. Untuk memperkuat tentang materi shalat Madrasah Ibtidaiyah maka dilakukan kegiatan shalat dhuhur berjamaah yang diikuti siswa, guru dan karyawan. 133 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi Pemberian contoh teladan yang baik . swah hasana. dalam beribadah terhadap peserta didik, terutama anak yang belum mampu berfikir kritis akan banyak mempengaruhi pola tingkah laku mereka dalam prilaku sehari-hari atau dalam mengerjakan sesuatu tugas pekerjaan yang sulit. Pengajar sebagai pembawa dan pengamal nilai-nilai agama akan mempunyai kedayagunaan mendidik anak bila menerapkan metode keteladanan. Metode keteladanan dalam pendidikan Madrasah Ibtidaiyah menegaskan bahwa anak cenderung meniru perilaku gurunya, sehingga guru harus menjadi uswah hasanah dalam iman, ibadah, akhlak, dan kehidupan sehari-hari. Dengan menampilkan sikap disiplin, kasih sayang, kebersihan, kepedulian, hingga keteraturan dalam beribadah, guru tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai moral dan spiritual. Hal ini sejalan dengan paradigma humanisme teosentris, yang memanusiakan manusia dengan tetap berorientasi kepada Allah SWT sebagai pusat nilai. Dalam konteks Merdeka Belajar, keteladanan menjadi sarana membangun fitrah anak secara holistik agar tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan sadar akan perannya sebagai khalifah sekaligus hamba Allah Swt. Metode Pembiasaan Pendidikan kepada anak prasekolah pada dasarnya lebih diarahkan pada penanaman nilai moral, pembentukan sikap dan perilaku yang diperlukan agar anak-anak mampu untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Anak-anak usia prasekolah memiliki daya tangkap dan potensi yang sangat besar untuk menerima pengajaran dan pembiasaan disbanding pada usia lainnya. Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu . Selain itu, arti tepat dan positif diatas ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dankultural (Darajat, 2015: . Adapun langkah-langkah pelaksanaan metode pembiasaan pada pembelajaran Anak MI adalah sebagai berikut: Melatih hingga benar-benar paham dan bisa melakukan tanpa kesulitan. Mengingatkan anak yang lupa melakukan. Apresiasi pada masing-masing anak secara pribadi. Hindarkan mencela pada anak (Syah,2020: 123-. Kegiatan metode pembiasaan pada pembelajaran Anak MI dapat dilakukan secara terprogram dapat dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu, untuk mengembangkan pribadi peserta didik secara individual, kelompok dan klasikal sebagai berikut: Biasakan peserta didik untuk bertanya dalam setiap proses pembelajaran. Biasakan peserta didik untuk belajar kelompok . ooperative learnin. untuk menciptakan masyarakat belajar. Biasakanlah oleh guru untuk selalu menjadi model dalam setiap Biasakan melakukan refleksi dalam setiap akhir pembelajaran. Biasakan melakukan penilaian yang sebenarnya, adil dan transparan dengan berbagai cara. 134 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA Biasakan peserta didik untuk bekerja sama . eam wor. dan saling menujang satu sama lain. Biasakanlah untuk belajar dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Biasakan untuk bekerja sama dan memberikan laporan kepada orang tua peserta didik terhadap perkembangan prilakunya. Biasakan peserta didik untuk tidak mencari kambing hitam dalam memutuskan masalah (Gunawan, 2016: 94-. Sementara itu dalam kegiatan metode pembiasaan pada pembelajaran Anak Madrasah Ibtidayah guru menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut: Berpusat pada peserta didik Bahwa setiap peserta didik itu memiliki perbedaan minat . , kemampuan . , kesenangan . , pengalaman . dan cara belajar . earning styl. Kegiatan pembelajaran perlu menempatkan mereka sebagai subyek belajar dan mendorong mereka untuk mengembangkan segenap bakat dan potensinya secara optimal. Belajar dengan melakukan Peserta didik melakukan aktifitas karena itu guru memberi kesempatan kepada peserta didik diberi kegiatan nyata yang melibatkan dirinya. Untuk mencari dan menemukan sendiri, sehingga akan menjadi kegembiraan sendiri dan peserta didik memperoleh harga diri sesuai dengan hasil Perpaduan kompetensi, kerjasama dan solidaritas Bahwa setiap peserta didik diharapkan berkompetensi, bekerja sama dan mengembangkan solidaritasnya untuk mengembangkan kompetensi yang sehat pada proses pembelajaran berlangsung. Ada empat cara pelaksanaan pembiasaan yang dilaksanakan di pada pembelajaran Anak Madrasah Ibtidayah yaitu sebagai berikut: Kegiatan yang dilakukan secara rutin yaitu memasukkan kegiatan yang dilakukan secara reguler, baik di kelas maupun di luar kelas. Tujuan kegiatan ini adalah untuk membiasakan siswa mengerjakan sesuatu dengan baik seperti ibadah bersama. Kegiatan yang dilakukan secara spontan adalah kegiatan pembelajaran pembiasaan yang ditentukan tempat dan waktunya. Beberapa contoh kegiatan pembiasaan secara spontan yang dapat dilakukan seperti: membiasakan memberi salam, membiasakan membuang sampah pada tempatnya, membiasakan berperilaku terpuji. Kegiatan teladan yaitu kegiatan pembelajaran pembiasaan yang mengutamakan pemberian contoh . dari guru dan pengelola pendidikan yang lain kepada siswa. Beberapa contoh kegiatan peneladanan yang dapat dilakukan adalah seperti yang diamalkan dalam aspek ibadah dan akhlak. Kegiatan yang dilakukan terprogram yaitu kegiatan pembelajaran pembiasaan yang diprogramkan dan direncanakan secara formal baik di kelas maupun di sekolah. Kegiatan terprogram ini memberikan wawasan tambahan kepada siswa-siswi tentang unsur-unsur baru dalam kehidupan bermasyarakat yang penting untuk perkembangan dan pengetahuan siswa. Beberapa kegiatan yang dilakukan terprogram antara lain: pesantren kilat, kafilah dakwah, erta studi banding berkaitan dengan program pembiasaan di sekolah-sekolah lain. 135 | Almarhalah | M. Fatwa. Istinaroh. Nur Khasan. Mukhrodi Metode pembiasaan dalam pendidikan Madrasah Ibtidaiyah berperan penting untuk menanamkan nilai moral, religius, dan sosial melalui kegiatan rutin, spontan, teladan, dan terprogram yang membentuk sikap positif anak. Dengan membiasakan anak beribadah, berperilaku terpuji, bekerja sama, serta menghargai perbedaan, pendidikan diarahkan pada pengembangan fitrah secara utuh. Hal ini sejalan dengan paradigma humanisme teosentris, yang memandang pembiasaan bukan sekadar rutinitas, tetapi sebagai sarana memanusiakan manusia dengan orientasi kepada Allah SWT. Dalam kerangka Merdeka Belajar, pembiasaan membentuk anak yang mandiri, berakhlak mulia, dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai khalifah sekaligus hamba Allah. Swt. Proses pembiasaan yang dilakukan terus menerus akan memudahkan siswa melakukan pengamalan peraturan karena sesuatu yang berat akan menjadi ringan, sekalipun pertama kali akan terjadi kesulitan atau kebosanan. Pembentukan akhlak al-karimah siswa pada pembelajaran Anak MI melalui pembiasaan mengajarkan siswa untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan nilai-nilai luhur serta mencegah mereka dari pelanggaran maupun sifat-sifat buruk. Pembiasaan itu merupakan sebuah sarana yang sangat hebat untuk menciptakan fondasi keimanan, serta kesalehan yang kokoh dan stabil dalam diri siswa. Pelaksanaan sebuah program pendidikan dengan pengamalan melalui model pembiasaan diharapkan dapat mencegah dampak berbahaya bagi lingkungan di masa mendatang. Akumulasi kegiatan pembiasaan yang di dalamnya penuh nuansa pendidikan budi pekerti dalam waktu yang relatif lama selama masa pendidikan, akhirnya akan terbentuk dan tercipta manusia yang kuat spiritual agamanya, mampu mengendalikan diri, berkepribadian baik, percaya diri, dan berakhlak mulia yang cakap dan tangguh untuk mengatasi kehidupan di masa Pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah yang berlandaskan humanisme teosentris diarahkan pada pengembangan fitrah anak melalui keseimbangan antara aspek intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Nilai-nilai universal seperti kemanusiaan, kesatuan umat manusia, keseimbangan hidup, dan rahmatan lil Aoalamin menjadi dasar agar anak tumbuh sebagai pribadi beriman, berakhlak mulia, serta mampu hidup dalam masyarakat yang plural. Dengan metode bermain, bercerita, bernyanyi (BCM), keteladanan, dan pembiasaan, pendidikan tidak sekadar mengisi pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai moral, religius, dan kemanusiaan. Paradigma humanisme teosentris dalam Merdeka Belajar menegaskan bahwa memanusiakan manusia harus tetap berorientasi pada Allah SWT, sehingga lahirlah generasi yang cerdas, mandiri, kreatif, serta bertanggung jawab sebagai khalifah sekaligus hamba Allah Swt. KESIMPULAN Membangun humanisme teosentris pada anak Madrasah Ibtidaiyah dalam merdeka belajar berarti mengembangkan fitrah anak sebagai subyek pembelajaran aktif yang selalu berorientasi kepada Tuhan. Prinsipnya adalah keseimbangan antara dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, individu dan sosial, serta ilmu dan Aplikasinya dapat diwujudkan melalui metode bermain, bercerita, bernyanyi, keteladanan, dan pembiasaan, baik di dalam maupun di luar kelas. Seluruh kegiatan diarahkan untuk mengoptimalkan potensi anak secara holistik dengan tetap menjunjung tinggi harkat manusia. Pada akhirnya, tujuan 136 | Al Marhalah Membangun Humanisme Teosentris Pada AnakA humanisme teosentris adalah membentuk generasi berakhlakul karimah yang berlandaskan ketauhidan. DAFTAR PUSTAKA Abdillah. Analisis Teori Dehumanisasi Pendidikan Paulo Freire. Jaqfi: Jurnal Aqidah Dan Filsafat Islam, 2. , 1Ae21. Achmadi. Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Aditya Media dengan IAIN Walisongo Press. Achmadi. Ilmu Pendidikan Sebuah Pengantar. CV. Saudara. Achmadi. Ideologi Pendidikan Islam. Pustaka Pelajar. Arbayah. Model Pembelajaran Humanistik. Dinamika Ilmu: Jurnal Pendidikan, 13. Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Ciputat Press. Asrohah. Sejarah Pendidikan Islam. Logos. Berg. Brain Games for Toddlers. Erlangga. Boisard. Humanisme Dalam Islam. Bulan Bintang. Darajat. Ilmu Jiwa Agama. PT. Bulan Bintang. Fahmi. Islam Transendental: Menelusuri Jejak-jejak Pemikiran Islam Kuntowijoyo. Pilar Media. Fauziyah. Nabil. , & Syah. Analisis Sumber Literasi Keagamaan Guru PAI Terhadap Siswa Dalam Mencegah Radikalisme Di Kabupaten Bekasi. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 11, 503Ae517. Gunawan. Genius Learning Strategy. Gramedia Pustaka Utama. Gunawan. Pendidikan Karakter Konsep Dan Implementasi. Alfabeta. Hurlock. Child Development. Sixty Edition Internasional Students . th ed. GrawAeHill. Kogakusa. LTD. Husein. Hak Anak Dalam Islam. Fikahati Aneka. Ismail. (Ed. Paradigma Pendidikan Islam. Pustaka Pelajar. Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Kurnialoh. Humanisme Teosentris dalam Ideologi Pendidikan Islam. MaAorifah: Jurnal Pendidikan Agama Islam Dan Peradaban, 2. https://doi. org/10. 64173/mrf. MasAoud. Menuju Paradigma Islam Humanis. Gama Media. MasAoud. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. Gama Media. Muhaimin. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Pustaka Pelajar. Mursy. Seni Mendidik Anak. Arroyan. Nabil. Dinamika Guru Dalam Menghadapi Media Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi. Almarhalah: Jurnal Pendidikan Islam, 4. , 51Ae62. Nahlawi. Prinsip-prinsip dan metode Pendidikan Islam dalam Keluarga, di Sekolah, dan di Masyarakat. Diponegoro. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Rahman. Islam dan Modernitas Tentang Transformasi Intelektual. Pustaka.