AU Volume 7. Nomor 2, 2025, 12 - 25 http://jurnal. id/jdk/article/view/84973 DOI: https://doi. org/10. 20961/desa-kota. Copyright A 2025 The AuthorsAU E-ISSN: 2656-5528 Efektivitas Fungsi Taman Pakujoyo. Kabupaten Sukoharjo The Effectiveness of Pakujoyo ParkAos Function in Sukoharjo Regency Muhammad Arya Persada1*. Nur Miladan1,2. Bambang S. Pujantiyo1 Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia Pusat Informasi Pembangunan Wilayah (PIPW). LPPM Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia *e-mail: muhammadaryapersada@student. (Submitted: 26 February 2024. Reviewed: 22 April 2024. Accepted: 22 April 2. Abstrak Taman kota adalah salah satu jenis Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan perkotaan yang berfungsi mewadahi beragam kegiatan Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu wilayah dengan kawasan perkotaan dimana terdapat beragam kegiatan, termasuk kegiatan industri, bisnis, dan sebagainya. Dengan banyaknya kegiatan di Kabupaten Sukoharjo, maka diperlukan RTH berupa taman kota untuk mengimbangi kegiatan-kegiatan yang ada, yang berfungsi untuk rekreasi hingga melakukan interaksi Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai efektivitas fungsi salah satu taman kota di Kabupaten Sukoharjo, yakni Taman Pakujoyo. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deduktif. Penelitian ini menggunakan teknik analisis skoring dengan skala Likert sebagai skala pengukurannya, yang mana efektivitas fungsi Taman Pakujoyo dilihat dari fungsi sosial budaya, fungsi estetika, fungsi ekologis, dan fungsi ekonomi. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap Taman Pakujoyo, fungsi sosial budaya sudah terwadahi, sedangkan tiga fungsi lainnya belum terwadahi. Tingkat efektivitas fungsi Taman Pakujoyo tergolong ke dalam kategori kurang efektif. Kata kunci: efektivitas. fungsi taman. taman kota Abstract City parks are one type of green open space in urban areas which function to accommodate various activities of its users. Sukoharjo Regency consists of an urban area where there are various activities, including industrial activities, business, and others. With so many activities in Sukoharjo Regency, a green open space in the form of a city park is needed to balance existing activities, for recreation and social interaction. The aim of this research is to understand the effectiveness of the function of one of the city parks in Sukoharjo Regency, namely Pakujoyo Park. This research is quantitative research with a deductive approach. This research uses a scoring analysis technique with a Likert scale as the measurement scale, where the effectiveness of the function of Pakujoyo Park is seen from the socio-cultural function, aesthetic function, ecological function, and economic function. Based on the analysis carried out on Pakujoyo Park, the socio-cultural function has been accommodated, while the other three functions have not been The level of effectiveness of Pakujoyo Park's functions is classified as less effective. Keywords: city park. park function AU PENDAHULUAN Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nomor 14 Tahun 2022 mengenai Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau, taman kota merupakan salah satu jenis area yang terbuka atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik yang keberadaan atau penyediaannya digunakan untuk mewadahi kegiatan warga atau masyarakat pada skala kota atau kawasan kota dan mempunyai fungsi estetika maupun fungsi sosial (Pratomo et al. , 2. Adanya taman kota menjadi salah satu solusi dalam permasalahan kawasan perkotaan yang dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, maupun kesejahteraan individu. Keberadaan taman kota sebagai ruang publik di kawasan perkotaan perlu diperhatikan secara menyeluruh, baik dari aspek fisik maupun nonfisik karena dapat mendorong pemanfaatan oleh masyarakat serta memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup (Vasiljeva, 2. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Kabupaten Sukoharjo adalah salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini terkenal dengan berbagai sebutan, seperti Kota Makmur. Kota Tekstil. Kota Mebel, dan lain-lain. Meningkatnya kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Sukoharjo menjadikan perlunya memperhatikan keberadaan RTH terutama taman kota. Kabupaten Sukoharjo memiliki sejumlah RTH, salah satunya adalah Taman Pakujoyo yang merupakan salah satu taman kota. Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Kecamatan Sukoharjo Tahun 2020Ae2039. Taman Pakujoyo direncanakan pembangunan dan pengembangan sebagai fasilitas Keberadaan Taman Pakujoyo perlu memperhatikan kesesuaian fungsi taman kota dalam mewadahi aktivitas masyarakat agar sesuai dengan tujuan pembangunan RTH. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui nilai efektivitas fungsi Taman Pakujoyo di Kabupaten Sukoharjo. Taman kota yang efektif adalah taman kota yang memberikan pengaruh atau dampak yang dapat dirasakan oleh pengguna atau pihak terkait (Saputri, 2. Efektivitas taman kota dapat dilihat dari keberadaan fungsinya dan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan dukungan bagi penggunanya yang tercermin dari berbagai aktivitas yang dilakukan di dalamnya. AU KAJIAN TEORI Taman kota adalah salah satu jenis dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) menurut Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN) Nomor 14 Tahun 2022 mengenai Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau. Sebagai salah satu contoh RTH publik, taman kota merupakan perwujudan dari suatu bentuk fasilitas sosial yang disahkan oleh pemerintah di perkotaan, sehingga sebagai fasilitas umum harus ada dan disediakan oleh pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan kota (Sugiyanto & Sitohang, 2. Taman kota merujuk pada taman yang didirikan pada kawasan perkotaan yang dapat memberikan wadah pada pembangunan perkotaan dan dapat dinikmati oleh masyarakat di perkotaan. Menurut UNESCO, ruang publik, seperti taman kota merupakan kawasan terbuka yang dapat diakses oleh semua serta memungkinkan masyarakat untuk beraktivitas secara mandiri maupun bersosialisasi. Taman kota merupakan kunci terciptanya interaksi sosial antar warga kota baik dari dalam kawasan kota maupun luar kota tanpa melihat gendernya. RTH memiliki fungsi ekologis, fungsi ekonomi, fungsi estetika (Harjanti & Anggraini, 2020. Kementerian ATR/BPN, 2. , fungsi sosial budaya, fungsi resapan air, dan fungsi penanggulangan bencana (Fadjarajani & AsAoari, 2. RTH, seperti taman kota mempunyai tiga fungsi besar, yaitu fungsi estetis, fungsi material atau fisik, dan fungsi sosial. Fungsi estetis taman kota adalah mengikat unsur-unsur arsitektur dalam kota, memberikan ciri-ciri pembentuk penampilan kota, dan memberikan unsur-unsur tata ruang arsitektur kawasan perkotaan. Fungsi material atau fisik taman kota adalah melindungi sistem air, mengisolasi suara, memenuhi kebutuhan visual, membatasi pengembangan lahan konstruksi atau bertindak sebagai penyangga, dan melindungi penduduk perkotaan dari polusi udara. Sementara itu, fungsi sosial taman kota adalah menjalin komunikasi antar warga perkotaan dan berfungsi sebagai fasilitas umum yang mudah diakses dengan fungsi hiburan, pendidikan, dan olahraga (Imansari & Khadiyanta, 2. Efektivitas merupakan keterkaitan antara pelaksanaan atau kinerja dengan harapan yang akan dicapai. Tingkat efektivitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang (Saputri, 2. Efektivitas taman kota dapat diukur dengan seberapa baik taman tersebut melayani berbagai keperluan taman kota dan kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan ekonomi, sosial, dan ekologi. Kebutuhan pengguna juga dapat dipertimbangkan dalam pengukuran efektivitas taman kota, seperti yang terkait dengan keamanan, kemudahan penggunaan, kenyamanan, dan aksesibilitas ke taman untuk pemangku kepentingan dan pengguna lokal (Ardi & Khadiyanto, 2. Seiring perubahan zaman, taman kota menjadi lebih terlibat dalam kehidupan kota. Dalam memfasilitasi kegiatan yang aman dan menyenangkan di antara hiruk pikuk aktivitas perkotaan, penduduk di daerah perkotaan memerlukan akses ke taman kota. Menurut Hapsari et al. , keberadaan taman kota tidak hanya dipandang sebagai wadah fisik, tetapi juga sebagai wadah menampung berbagai kegiatan. Carmona menjelaskan dalam "Public Places. Urban Spaces: The Dimensions of Urban Design. Second Edition" . , bahwa taman kota yang berfungsi dengan baik dianggap sebagai bagian dari ruang Dari teori yang ada, fungsi dari taman kota antara lain fungsi sosial budaya, fungsi estetika, fungsi ekonomi, dan fungsi ekologis. Fungsi sosial budaya mewadahi beragam aktivitas sosial budaya dan aksesibilitas. Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022 menguraikan beragam aktivitas yang dapat dilakukan di taman kota dan fasilitas yang disediakan di taman kota. Aneka ragam aktivitas, seperti olahraga, rekreasi, bermain, interaksi sosial, dan kegiatan pendidikan adalah beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan di taman kota. Fasilitas olahraga . apangan olahraga, jogging Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 track, dan/atau outdoor fitnes. , plaza multifungsi, fasilitas taman bermain, sarana rekreasi, ruang beratap/gazebo, area parkir terbatas, bangunan penunjang yang dilengkapi landai, fasilitas kesehatan . aman terapi atau jalur refleks. , fasilitas pendidikan dan penelitian . iewing deck atau papan interpretas. , dan pencahayaan sesuai dengan standar adalah beberapa fasilitas sosial budaya yang disediakan di taman kota. Aksesibilitas, termasuk area parkir dan jalur pejalan kaki merupakan fasilitas yang wajib ditawarkan di taman kota (Firmansyah et al. , 2. Fungsi estetika mewadahi tiga hal, yaitu keamanan, kenyamanan, dan identitas. Mengenai keamanan. Firmansyah et al. menjelaskan perlunya penyediaan fasilitas terkait keamanan yang tidak terbatas pada penjaga taman, papan aturan taman, dan penerangan umum standar. Penerangan umum harus tersedia dalam radius 10 meter sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pedoman Perencanaan. Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Fasilitas Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan. Salah satu fungsi taman kota adalah sebagai sarana penanggulangan bencana sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022. Fungsi penanggulangan bencana dapat dilakukan melalui penyediaan instalasi kebakaran, rute untuk evakuasi bencana, dan tempat berkumpul. Komponen selanjutnya adalah kenyamanan. Kenyamanan di taman kota sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk adanya fasilitas yang mengedepankan kenyamanan, seperti kursi taman atau gazebo. Untuk menjaga rasa nyaman pengunjung, taman kota juga harus damai dan bebas dari suara yang Komponen estetika selanjutnya adalah identitas, yang mencerminkan manifestasi budaya daerah sebagai salah satu tujuan estetika atau sosiokultural taman kota. Hastita et al. menyebutkan bahwa fitur taman, seperti papan nama dan statusnya sebagai landmark kota, sebagai bukti identitas. Menurut Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022, taman kota melayani tujuan estetika. Salah satu cara untuk memenuhi fungsi ini adalah dengan menggunakan karakter daerah untuk sign letter. Taman kota juga mewadahi fungsi ekonomi. Taman kota dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan usaha ekonomi daerah (Firmansyah et al. , 2. Hal ini dapat dicapai dengan menetapkan taman kota sebagai lokasi dimana Pedagang Kaki Lima (PKL) dapat menjual barang-barangnya (Mulyanie & AsAoari, 2. Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022 menyatakan bahwa penyelenggaraan pasar kaget atau pasar tumpah merupakan tujuan ekonomi dari pemanfaatan taman kota. Selain itu, sebagai komponen pertanian kota, taman kota juga dapat dimanfaatkan sebagai lokasi atau ruang untuk menjalankan pertanian perkotaan. Pertanian perkotaan mengacu pada praktik budidaya dan merawat tanaman di lingkungan perkotaan khususnya taman kota. Taman kota dapat dimanfaatkan sebagai lokasi untuk melakukan pembibitan. Fungsi taman kota yang terakhir adalah fungsi ekologis. Selain sebagai pemenuhan sosial budaya, estetika, dan ekonomi, taman kota juga berfungsi sebagai "paru-paru kota" dengan menyerap curah hujan dan mencegah banjir. Akibatnya, taman kota sangat penting untuk melestarikan standar lingkungan perkotaan dan memastikan keberlanjutan ekologis kota (Graya et al. , 2018. Liu & Russo, 2021. Silva et al. , 2. Hal ini akan terwadahi dalam tiga komponen. Komponen pertama adalah komponen vegetasi, dimana taman kota merupakan bagian dari ruang terbuka di kota-kota yang ditumbuhi berbagai tanaman. Proporsi dan stratifikasi vegetasi merupakan salah satu persyaratan penyediaan vegetasi di taman kota. Jumlah minimum ruang hijau yang dibutuhkan di taman kota adalah 85%. Areal yang tersisa digunakan untuk ruang nonhijau yang digunakan untuk area penunjang taman. Komponen kedua adalah pengelolaan tata air. Salah satu penanda ekologis taman kota adalah rencana pengelolaan air yang meliputi drainase alami, trotoar permeabel, kolam retensi, sistem drainase, dan penyediaan lubang biopori (Firmansyah et al. , 2. Pemanfaatan taman kota untuk fungsi resapan air dapat dicapai melalui penyediaan Ruang Terbuka Biru (RTB) yang meliputi danau atau kolam retensi atau detensi, sumur resapan, bioswales, taman hujan, dan biopori selain pemanenan air hujan untuk pemeliharaan taman, sesuai Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022. Komponen ketiga adalah komponen iklim mikro. Iklim mikro di taman kota merupakan salah satu elemen yang memengaruhi seberapa nyaman pengunjung. Tingkat keteduhan di taman kota sepanjang hari adalah salah satu aspek dari iklim mikro pada taman kota. Berdasarkan hasil olahan pada literatur, didapatkan empat fungsi dari taman kota, yang terdiri atas fungsi sosial budaya, fungsi estetika, fungsi ekonomi, dan fungsi ekologis. Keempat fungsi tersebut menjadi variabel dalam penelitian ini yang diuraikan lebih lanjut menjadi subvariabel-subvariabel penelitian. Variabel dan subvariabel penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 1 berikut. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Subvariabel Tabel 1. Variabel dan Subvariabel Penelitian Parameter Indikator Tinggi (Skor . Sedang (Skor . Rendah (Skor . Sosial Budaya Ragam Aktivitas Aktivitas rekreasi Aktivitas olahraga Aktivitas pendidikan Interaksi sosial Fasilitas Sosial Budaya Ketersediaan fasilitas Ketersediaan fasilitas Ketersediaan fasilitas Ketersediaan fasilitas Aksesibilitas Estetika Keamanan Ketersediaan lahan Ketersediaan jalur Ketersediaan fasilitas bagi penyandang disabilitas berupa jalur pemandu dan ramp Terdapat sarana rekreasi dan digunakan untuk aktivitas rekreasi Terdapat sarana olahraga dan digunakan untuk aktivitas olahraga Terdapat sarana pendidikan dan digunakan untuk aktivitas pendidikan Terdapat sarana penunjang dan terdapat interaksi Ada taman bermain dan memiliki kondisi Ada plaza multifungsi dan memiliki kondisi Ada jogging track dan memiliki kondisi baik Ada lapangan olahraga dan memiliki kondisi Ada outdoor fitness dan memiliki kondisi Ada jalur refleksi atau taman terapi dan memiliki kondisi baik Ada papan interpretasi dan memiliki kondisi Ada dek pandang dan memiliki kondisi baik Ada lahan parkir dan terdapat penanda Ada jalur pedestrian dengan kondisi baik Ada jalur pemandu dengan kondisi baik Ada ramp dengan kondisi baik Ketersediaan jalur evakuasi bencana Ada jalur evakuasi bencana dan terdapat Ketersediaan titik Ada ruang titik kumpul dan terdapat penanda Ketersediaan instalasi hidran kebakaran Ada instalasi hidran kebakaran, kondisi Terdapat sarana rekreasi dan tidak digunakan untuk aktivitas rekreasi Terdapat sarana olahraga dan tidak digunakan untuk aktivitas olahraga Terdapat sarana pendidikan dan digunakan untuk aktivitas pendidikan Terdapat sarana penunjang dan tidak terdapat interaksi Terdapat aktivitas Tidak terdapat aktivitas Taman tidak digunakan untuk aktivitas Tidak ada interaksi Ada taman bermain, memiliki kondisi rusak Tidak ada taman Ada plaza multifungsi, memiliki kondisi rusak Tidak ada plaza Ada jogging track dan memiliki kondisi rusak Ada lapangan olahraga dan memiliki kondisi Ada outdoor fitness dan memiliki kondisi Ada jalur refleksi atau taman terapi dan memiliki kondisi rusak Ada papan interpretasi dan memiliki kondisi Ada dek pandang dan memiliki kondisi rusak Ada lahan parkir dan tidak terdapat penanda Ada jalur pedestrian dengan kondisi rusak Ada jalur pemandu dengan kondisi rusak Ada ramp dengan kondisi rusak Ada jalur evakuasi bencana dan tidak terdapat penanda Ada ruang titik kumpul dan tidak terdapat Ada instalasi hidran kebakaran, kondisi Tidak ada jogging track Tidak ada lapangan Tidak ada outdoor Tidak ada jalur refleksi atau taman terapi Tidak ada papan Tidak ada dek Tidak ada lahan parkir Tidak ada jalur Tidak ada jalur Tidak ada ramp Tidak ada jalur evakuasi bencana Tidak ada ruang titik Tidak ada instalasi hidran kebakaran Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Subvariabel Indikator Ketersediaan penjaga Ketersediaan penerangan umum Ketersediaan papan Kenyamanan Ketersediaan gazebo Ketersediaan bangku Kebisingan taman Identitas Papan nama ciri khas Aksara lokal untuk sign Tinggi (Skor . Ada penjaga taman 24 Ada penerangan umum dalam radius 10 meter dan dalam kondisi yang baik Ada papan peraturan dan memiliki kondisi Ada gazebo dan dapat Ada bangku taman dapat digunakan Taman dalam kondisi Ada papan nama taman, kondisi baik Ada sign letter menggunakan Bahasa Indonesia atau Jawa dan memiliki kondisi Ekonomi Pedagang Kaki Lima (PKL) Aktivitas Pedagang Kaki Lima Pasar Kaget/ Tumpah Aktivitas pasar kaget/ Pertanian Kota Aktivitas pertanian kota Kebun Pembibitan Aktivitas kebun Ekologis Parameter Sedang (Skor . Ada penjaga taman tidak 24 jam Ada penerangan umum dalam radius 10 meter dan dalam kondisi yang rusak Ada papan peraturan dan memiliki kondisi Ada gazebo dan tidak dapat digunakan Ada bangku taman dan tidak dapat digunakan Taman dalam kondisi tenang tapi terkadang bising sesaat Ada papan nama taman, kondisi rusak Ada sign letter menggunakan Bahasa Indonesia atau Jawa dan memiliki kondisi Ada aktivitas pasar kaget/ tumpah setiap Ada lahan pertanian kota dan kondisinya Terdapat kebun pembibitan yang Terdapat aktivitas PKL dan lokasinya tidak Ada aktivitas pasar kaget/ tumpah hari-hari Ada lahan pertanian kota, kondisinya tidak Terdapat kebun pembibitan yang tidak Terdapat aktivitas PKL dan lokasinya tertata Rendah (Skor . Tidak ada penjaga Tidak ada penerangan Tidak ada papan Tidak ada gazebo Tidak ada bangku Taman dalam kondisi Tidak ada papan nama Tidak ada sign letter menggunakan Bahasa Indonesia atau Jawa Tidak ada ada PKL Tidak ada pasar kaget / Tidak ada lahan pertanian kota Tidak ada kebun Vegetasi Persentase vegetasi Tersedia vegetasi sebesar 86-100% dari luas RTH Tersedia vegetasi sebesar 85% dari luas RTH Vegetasi sebesar 85% dari luas RTH Pengelolaan Tata Air Ketersediaan Ruang Terbuka Biru (RTB) . anau/ kolam retensi/ detensi/ sumur resapan/ biopor. kondisi baik Tersedia minimal satu jenis ruang terbuka biru dan memiliki kondisi baik Tersedia minimal satu jenis ruang terbuka biru dan memiliki kondisi rusak Tidak tersedia minimal satu jenis ruang terbuka biru Taman memiliki kondisi teduh saat siang hari Taman memiliki kondisi agak teduh saat siang Taman memiliki kondisi tidak teduh saat siang Iklim Mikro Tingkat keteduhan AU METODE PENELITIAN 1 PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deduktif. Pendekatan ini memiliki fase peninjauan yang bergerak dari perspektif keseluruhan masalah ke perspektif yang lebih jelas dan lebih mendalam (Gray. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, yakni penelitian yang menemukan informasi dengan menganalisis informasi tentang perumusan masalah penelitian yang mana digunakan data numerik sebagai alat. 2 WILAYAH PENELITIAN Gambar 1. Peta Ruang Lingkup Kawasan Penelitian Penelitian ini meneliti salah satu taman kota di Kabupaten Sukoharjo, yaitu Taman Pakujoyo sebagai lokasi Taman Pakujoyo terletak pada Kelurahan Gayam. Kecamatan Sukoharjo. Kabupaten Sukoharjo. Delineasi kawasan penelitian adalah Kawasan Taman Pakujoyo yang meliputi area hijau dan area penunjang taman. Ruang lingkup kawasan penelitian ditunjukkan pada Gambar 1. 3 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan kuesioner. Observasi lapangan dilakukan dengan menggunakan kelengkapan borang observasi tabel ataupun peta untuk mengetahui data aneka ragam aktivitas, fasilitas sosial dan budaya, aksesibilitas, keamanan, kenyamanan, identitas. PKL, pertanian kota, perkebunan kota, pasar kaget atau tumpah, persentase vegetasi, dan pengelolaan tata air. Kuesioner ditujukan kepada pengunjung Taman Pakujoyo dengan maksud untuk memperoleh data keteduhan dan kebisingan pada taman. Pada data sekunder menggunakan citra satelit Google Earth untuk mengetahui luas taman dan persentase vegetasi. Data sekunder yang digunakan adalah data instansi dan studi dokumen untuk mengetahui pengelolaan taman, fasilitas taman, dan luas taman. 4 TEKNIK ANALISIS DATA Pendekatan analisis skoring digunakan untuk analisis data. Skala pengukuran Likert digunakan sebagai metode Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, keyakinan, dan persepsi seseorang atau kelompok mengenai permasalahan yang diselidiki. Parameter skoring menggunakan tiga rentang nilai berdasarkan skala Likert. Tiga rentang penilaian akan digunakan dalam penelitian. Pertama, penilaian setiap indikator akan ditambahkan kemudian perhitungan akan dilakukan untuk menentukan nilai subvariabel. Analisis skoring dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif adalah analisis yang dilakukan untuk mengkarakterisasi data sebagai hasil tanpa menarik penilaian apa pun. Penelitian ini akan mencakup empat analisis fungsi yang hasilnya berasal dari evaluasi indikator masing-masing subvariabel dan menghasilkan nilai atau skor variabel tersebut. Setelah semua data dianalisis, langkah terakhir adalah menentukan efektivitas setiap taman dalam kaitannya dengan fungsinya. Analisis yang digunakan terbagi ke dalam dua cara, yaitu identifikasi dan analisis fungsi, serta analisis tingkat efektivitas fungsi taman. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Identifikasi dan analisis fungsi taman terbagi ke dalam empat identifikasi dan analisis berdasarkan variabel Keempat variabel tersebut adalah sosial budaya, estetika, ekonomi, dan ekologis. Terhadap variabel-variabel tersebut akan dilakukan perhitungan sesuai dengan rincian pada Tabel 1, dimulai dari indikator, subvariabel, dan variabel yang mana pada proses ini akan dihasilkan nilai dari keempat variabel. umus perhitungan skor indikator dapat dilihat pada Persamaan 1, rumus perhitungan skor subvariabel pada Persamaan 2, rumus perhitungan skor akhir pada Persamaan 3. ycycoycuyc ycnycuyccycnycoycaycycuyc = AU ycycoycuyc ycycyca ycycaycycnycaycayceyco = AU ycycoycuyc ycaycoEaycnyc = ycycuycycayco ycycoycuyc ycyycaycycaycoyceycyceyc yaycycoycoycaEa ycyycaycycaycoyceycyceyc a. ycycuycycayco ycycoycuyc yaycycoycoycaEa ycnycuyccycnycoycaycycuyc a. ycycoycuyc ycycyca ycycaycycnycaycayceyco yaycycoycoycaEa ycycyca ycycaycycnycaycayceyco a. Selanjutnya, analisis tingkat efektivitas fungsi taman dilakukan berdasarkan identifikasi sekaligus analisis tiap fungsi yang menjadi pokok dasar dari analisis tingkat efektivitas. Dari empat variabel yang digunakan di atas, dilakukan perhitungan dan kemudian memperoleh nilai tingkat efektivitas fungsi pada Taman Pakujoyo. Rumus perhitungan nilai efektivitas dapat dilihat pada Persamaan 4. AUycAycnycoycaycn yayceyceycoycycnycycnycycayc = ycIycoycuyc ycOycaycycnycaycayceyco Nilai efektivitas yang didapatkan dari perhitungan tersebut memiliki interval skala penilaian pada setiap kelas interval, yakni efektif pada rentang 2,34 - 3, kurang efektif pada rentang 1,68 - 2,34, dan tidak efektif pada rentang 1 - 1,68. Tiga kategori dipilih untuk meninjau taman kota pada tiga tingkat yang berbeda: menengah . urang efekti. , bawah . idak efekti. , dan atas . Hasil perhitungan dibandingkan dan analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk mengkarakterisasi data sebagai hasil tanpa menarik kesimpulan dilakukan. AU HASIL DAN PEMBAHASAN 1 SOSIAL BUDAYA Variabel sosial budaya terdiri atas tiga subvariabel, yaitu ragam aktivitas, fasilitas sosial budaya, dan aksesibilitas. Subvariabel pertama, ragam aktivitas, terdiri atas aktivitas pendidikan, aktivitas rekreasi, aktivitas olahraga, dan interaksi Taman Pakujoyo dimanfaatkan untuk dua aktivitas, yaitu aktivitas rekreasi dan interaksi sosial. Walaupun terdapat sarana penunjang untuk aktivitas olahraga dan aktivitas pendidikan di Taman Pakujoyo, sarana-sarana tersebut belum dimanfaatkan untuk aktivitas tersebut. Ragam aktivitas pada Taman Pakujoyo dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3. Gambar 2. Aktivitas Rekreasi di Taman Pakujoyo Gambar 3. Interaksi Sosial di Taman Pakujoyo Subvariabel kedua adalah fasilitas sosial budaya. Fasilitas yang terdapat pada kawasan taman kota dapat meliputi fasilitas kesehatan, fasilitas olahraga, fasilitas rekreasi, dan fasilitas pendidikan (Hastita et al. , 2. Fasilitas sosial budaya pada Taman Pakujoyo sudah terwadahi dengan fasilitas yang cukup lengkap, yang mana fasilitas tersebut antara lain untuk fasilitas kesehatan terdapat jalur refleksi, fasilitas olahraga terdapat jogging track, fasilitas rekreasi Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 terdapat taman bermain dan plaza multifungsi, dan fasilitas pendidikan berupa dek pandang. Photomapping subvariabel fasilitas sosial budaya dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Photomapping Fasilitas Sosial Budaya Taman Pakujoyo Subvariabel ketiga adalah aksesibilitas, yang terdiri atas lahan parkir, jalur pedestrian, dan fasilitas penunjang bagi Pada Taman Pakujoyo, terdapat lahan parkir yang sudah dilengkapi dengan penanda yang telah dipasang oleh pengelola ataupun dinas terkait. Taman Pakujoyo juga sudah dilengkapi dengan jalur pedestrian. Jalur pedestrian adalah salah satu indikator di dalam aksesibilitas pada RTH (Firmansyah et al. , 2. Terakhir adalah mengenai fasilitas penunjang disabilitas. Pada Taman Pakujoyo sudah tersedia jalur pemandu yang kondisinya baik, akan tetapi pada Taman Pakujoyo belum terdapat ramp. Photomapping subvariabel aksesibilitas dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Photomapping Aksesibilitas Taman Pakujoyo Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Dapat diketahui bahwa skor untuk variabel sosial budaya pada Taman Pakujoyo adalah 2,6 yang termasuk dalam kategori yang efektif. Skoring terhadap variabel sosial budaya dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Skoring Variabel Sosial Budaya Subvariabel Ragam Aktivitas Fasilitas Sosial Budaya Aksesibilitas Indikator Skor Indikator Skor Subvariabel Aktivitas Rekreasi Aktivitas Olahraga Aktivitas Olahraga Interaksi sosial Ketersediaan fasilitas Ketersediaan fasilitas Ketersediaan fasilitas Ketersediaan fasilitas Ketersediaan lahan Ketersediaan jalur Ketersediaan fasilitas bagi penyandang Skor Sosial Budaya 2,65 2,66 2 ESTETIKA Variabel estetika terdiri atas tiga subvariabel, yaitu keamanan, kenyamanan, dan identitas. Subvariabel keamanan terdiri atas penerangan umum, papan peraturan, penjaga taman, titik kumpul, jalur evakuasi bencana, dan hidran Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022 menetapkan bahwa fasilitas pendukung keamanan harus mencakup fasilitas penanggulangan bencana, yang terdiri dari hidran kebakaran, jalur evakuasi bencana, dan tempat berkumpul. Pada Taman Pakujoyo, terdapat titik berkumpul yang sudah terdapat penanda sesuai dengan peraturan yang berlaku, tetapi belum terwadahi untuk jalur evakuasi dan hidran kebakaran. Elemen taman terdiri dari fasilitas penerangan umum, pengaturan taman dalam bentuk papan atau fisik, dan fasilitas penjaga taman. Pada Taman Pakujoyo, telah terdapat fasilitas penerangan umum yang merata pada area taman dan tersedia penjaga taman, akan tetapi penjaga taman ini tidak berjaga selama sehari penuh dan juga belum terwadahi papan peraturan untuk taman. Photomapping untuk keamanan dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Photomapping Keamanan Taman Pakujoyo Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Selanjutnya adalah subvariabel kenyamanan. Pada Taman Pakujoyo, terdapat bangku taman, tetapi belum tersedia Bangku taman maupun gazebo merupakan komponen dalam menunjang kenyamanan. Terkait kebisingan taman berdasarkan pengguna. Taman Pakujoyo merupakan taman yang memiliki kondisi tenang meskipun terkadang masih terdapat kebisingan. Photomapping untuk subvariabel kenyamanan dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Photomapping Kenyamanan Taman Pakujoyo Selanjutnya adalah subvariabel identitas. Pada Taman Pakujoyo, terdapat papan nama ciri khas taman, tetapi belum terwadahi dalam aksara lokal untuk sign letter. Identitas pada taman dapat berbentuk papan untuk landmark dan sign letter (Hastita et al. , 2. Photomapping untuk subvariabel identitas dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8. Photomapping Identitas Taman Pakujoyo Dapat untuk diketahui bahwa skor untuk variabel estetika pada Taman Pakujoyo adalah 1,94 yang termasuk dalam kategori yang kurang efektif. Skoring terhadap variabel estetika dapat dilihat pada Tabel 3. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Tabel 3. Skoring Variabel Estetika Subvariabel Keamanan Kenyamanan Identitas Indikator Ketersediaan jalur evakuasi bencana Ketersediaan titik kumpul Ketersediaan instalasi hidran kebakaran Ketersediaan penjaga Ketersediaan penerangan Ketersediaan papan Ketersediaan gazebo Ketersediaan bangku Kebisingan taman Papan nama ciri khas Aksara lokal untuk sign Skor Indikator Skor Subvariabel Skor Estetika 1,83 1,94 3 EKONOMI Variabel ekonomi terdiri atas empat subvariabel, yaitu Pedagang Kaki Lima (PKL), pasar kaget atau pasar tumpah, kebun pembibitan, dan pertanian kota. Subvariabel pertama adalah PKL, yang mempunyai indikator aktivitas pedagang kaki lima yang lokasinya tertata. Hal ini dapat dicapai misalnya dengan menetapkan taman kota sebagai lokasi PKL dapat menjual dagangannya (Mulyanie & AsAoari, 2. Pada Taman Pakujoyo, sudah terwadahi adanya aktivitas PKL yang lokasinya tertata karena adanya penataan PKL pada Taman Pakujoyo yang dilakukan oleh pihak terkait. Subvariabel kebun pembibitan, pasar kaget, dan pertanian kota belum terwadahi pada Taman Pakujoyo. Photomapping subvariabel PKL dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 9. Photomapping PKL Taman Pakujoyo Dapat diketahui bahwa skor variabel ekonomi pada Taman Pakujoyo adalah 1,5, yang termasuk dalam kategori tidak Skoring terhadap variabel ekonomi dapat dilihat pada Tabel 4. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Tabel 4. Skoring Variabel Ekonomi Subvariabel Pedagang Kaki Lima Pasar Kaget atau Pasar Tumpah Pertanian Kota Kebun Pembibitan Indikator Aktivitas Pedagang Kaki Lima Aktivitas pasar kaget atau pasar tumpah Aktivitas pertanian kota Aktivitas kebun Skor Indikator Skor Subvariabel Skor Ekonomi 4 EKOLOGI Variabel ekologi terdiri atas tiga subvariabel, yaitu vegetasi mengenai persentase tutupan hijau atau persentase vegetasi, pengelolaan air mengenai kesediaan ruang terbuka biru, dan mengenai iklim mikro tentang tingkat keteduhan. Subvariabel pertama adalah vegetasi. Berdasarkan perhitungan luasan, tutupan hijau pada Taman Pakujoyo berada pada kisaran 35,33% dari luasan kawasan taman. Proporsi luas tutupan hijau di taman kota adalah 85% menurut Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022. Subvariabel kedua, yakni pengelolaan tata air, pengelolaan tata air, berisikan tentang Ruang Terbuka Biru (RTB). Sesuai Peraturan Menteri ATR Nomor 14 Tahun 2022. RTB yang sedang dipertimbangkan antara lain taman hujan, biopori, danau, kolam penahanan atau detensi, kolam retensi, dan taman Berdasarkan Peraturan Menteri tersebut, luasan tutupan hijau belum terwadahi. Pada Taman Pakujoyo tersedia kolam detensi dan danau. Photomapping subvariabel vegetasi dapat dilihat pada Gambar 10 dan photomapping subvariabel pengelolaan tata air dapat dilihat pada Gambar 11. Gambar 10. Photomapping Vegetasi Taman Pakujoyo Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 Gambar 11. Photomapping Pengelolaan Tata Air Taman Pakujoyo Berikutnya adalah mengenai subvariabel iklim mikro. Berdasarkan keterangan dari pengguna taman, tingkat keteduhan pada Taman Pakujoyo memiliki kondisi teduh pada saat siang hari. Skor variabel ekologi pada Taman Pakujoyo, yaitu 2,33 yang termasuk dalam kategori yang kurang efektif. Perhitungan skoring dari variabel ekologi dapat dilihat pada Tabel 5. Subvariabel Vegetasi Pengelolaan Tata Air Iklim Mikro Tabel 5. Skoring Variabel Ekologi Indikator Skor Indikator Skor Subvariabel Persentase vegetasi Ketersediaan Ruang Terbuka Biru (RTB) Tingkat keteduhan Skor Ekologi 2,33 5 EFEKTIVITAS FUNGSI TAMAN PAKUJOYO Hasil dari setiap skor variabel menentukan tingkat efektivitas fungsi dari Taman Pakujoyo. Perhitungan ini menghasilkan nilai atau skor yang mewakili tingkat efektivitas fungsi Taman Pakujoyo, yang dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, maka didapatkan bahwa hanya variabel untuk sosial budaya yang efektif, variabel estetika dan variabel ekologi termasuk dalam kategori kurang efektif, sedangkan variabel ekonomi tidak Secara keseluruhan. Taman Pakujoyo termasuk ke dalam fungsi kurang efektif. Sosial Budaya Tabel 6. Nilai Efektivitas Fungsi Taman Pakujoyo Skor Variabel Nilai Efektifitas Estetika Ekonomi Ekologis 1,94 2,33 2,09 Kategori Kurang efektif Dari hasil perhitungan yang sudah dilakukan, diketahui bahwa Taman Pakujoyo memerlukan perbaikan kualitas dan peningkatan dalam menunjang fungsinya, terutama dalam fungsi ekonomi. Meskipun demikian, fungsi ekonomi hanya salah satu dari fungsi RTH pada keberadaan taman kota. Akan tetapi, dengan terwadahinya seluruh fungsi pada Taman Pakujoyo, maka akan dapat mewadahi segala aktivitas ataupun kegiatan yang dilakukan pada Kawasan Taman Pakujoyo. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 7. Issue 2, 2025, 12-25 AU KESIMPULAN Taman Pakujoyo di Kabupaten Sukoharjo tergolong memiliki fungsi taman yang kurang efektif berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan. Hanya faktor-faktor yang berkaitan dengan fungsi sosial budaya yang sesuai dengan fungsinya atau masuk kategori efektif dari empat variabel yang telah dinilai dan dianalisis. Fungsi lainnya, terutama yang berada di luar kategori efektif dalam hal fungsi taman kota, memerlukan peningkatan kualitas tertentu. Penelitian ini merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Sukoharjo selaku pengelola Taman Pakujoyo untuk dapat mengembangkan fungsi-fungsi yang belum optimal. Peningkatan fungsi dapat dilakukan melalui pengembangan fasilitas olahraga melalui penambahan outdoor fitness, meningkatkan aksesibilitas untuk fasilitas penunjang disabilitas melalui penambahan ramp. peningkatan keamanan dan kenyamanan terutama berkaitan dengan hidran kebakaran, jalur evakuasi bencana, dan gazebo agar para pengguna atau pihak yang melakukan kegiatan pada Taman Pakujoyo dapat terwadahi secara aman dan nyaman. Penambahan kegiatan pertanian kota ataupun kebun pembibitan juga dapat dilakukan untuk meningkatkan fungsi ekonomi taman. DAFTAR PUSTAKA