Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya PERAN GURU SLB DALAM OPTIMALISASI POTENSI AKADEMIK ANAK TUNADAKSA Diana Susilowati1. Nova Estu Harsiwi1 FKIP,Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar . Universitas Trunojoyo Madura ,JL. Raya Telang. Perumahan Telang Indah. Telang,Kec. Kamal. Kabupaten Bangkalan. Jawa Timur 69162. Indonesia e-mail: 220611100026@student. id1, nova. harsiwi@trunojoyo. Abstrak Tunadaksa adalah kondisi fisik yang dialami seseorang yang mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Anak-anak penyandang tuna daksa menghadapi tantangan tidak hanya fisik tetapi juga sosial dan psikologis, yang dapat memengaruhi pembangunan kepribadian dan pemahaman diri Lingkungan sosial anak sangat penting untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan adaptasi mereka, terutama selama masa remaja yang penuh dengan perubahan dan pencarian identitas. Studi ini dilakukan di SLB PGRI Kamal, yang merupakan representasi dari lembaga pendidikan yang membantu anakanak berkebutuhan khusus. Dengan menggunakan pendekatan konseptual berbasis kajian literatur, penelitian ini menyelidiki pentingnya dukungan lingkungan dan pemaknaan simbolik dalam kehidupan sosial anak tuna Hasil diskusi menunjukkan bahwa penerimaan lingkungan dan interaksi sosial yang sehat dapat mempengaruhi kepribadian anak secara positif. Makna diri dan identitas sosial anak tuna daksa dibentuk oleh simbol sosial yang disepakati dalam interaksi kelompok. Oleh karena itu, untuk mendukung pertumbuhan anak tuna daksa agar mereka dapat berkembang secara optimal di masyarakat, pendekatan yang humanis, inklusif, dan berfokus pada potensi individu sangat penting. Diharapkan bahwa penelitian ini akan Kata Kunci: Tuna daksa, kepribadian, interaksi social, simbol social, inklusi Abstract Physical disability . is a condition that affects an individual's physical abilities and interferes with their capacity to carry out daily activities. Children with physical disabilities face challenges not only physically, but also socially and psychologically, which can significantly influence their personality development and self-concept. The social environment plays a crucial role in building their self-confidence and adaptability, especially during adolescenceAia period marked by change and identity formation. This study was conducted at SLB PGRI Kamal, a representative educational institution serving children with special needs. Using a conceptual approach based on literature review, this study explores the importance of environmental support and symbolic meaning in the social lives of children with physical disabilities. The findings indicate that social acceptance and healthy interactions positively impact their personality development. The self-concept and social identity of children with physical disabilities are shaped by social symbols that are mutually agreed upon within group interactions. Therefore, a humanistic, inclusive approach that emphasizes individual potential is essential to support their growth and integration into society. It is hoped that this study will serve as a foundation for developing inclusive educational and social strategies tailored to children with physical disabilities. Keywords: physical disability, personality, social interaction, social symbols, inclusion PENDAHULUAN Pada dasarnya. Tuhan telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagai ciptaannya yang paling sempurna dengan anggota tubuh yang lengkap. Anggota tubuh tersebut diharapkan dapat membantu manusia untuk hidup dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Tentunya, disetiap manusia menginginkan hidup normal dan memiliki anggota tubuh yang lengkap serta sempurna seperti manusia pada umumnya. Namun, ada juga beberapa diantaranya yang memiliki kekurangan serta fisik yang kurang sempurna atau bisa di sebut . acat fisi. Mereka di kenal dengan sebutan tuna daksa. Istilah tuna daksa ini berasal dari kata yang artinya kurang dan daksa yang artinya tubuh sehingga dapat di katakana bahwa tuna daksa adalah cacat tubuh/tuna fisik (Febriani, 2. Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya Penyandang tuna daksa bila di bandingkan dengan ketunaan yang lain akan lebih mudah di kenali karena ketunaannya tampak secara jelas (Febriani, 2. Apabila perubahan fisik terjadi pada masa remaja, perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja akan menjadi hal yang sangat di perhatikan dan membuat remaja tersebut akan gelisah, dalam hal ini di dikarenakan remaja mulai sadar bahwa penampilan merupakan hal yang penting (Febriani, 2. Konsep diri penyandang tuna daksa sebagai makluk sosial juga dipengaruhi oleh elemen lingkungan sosial yang mereka alami. Bagaimana penyandang tuna daksa berbaur dalam lingkungan sosial akan menentukan penerimaan masyarakat. Pembentuk karakter yang kuat memiliki kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasi dengan berbagai jenis stres. Anak tunadaksa akan menemukan teman baru dan membangun keluarga. Jika penyandang tuna daksa hidup dalam lingkungan yang aman, mereka akan lebih mungkin untuk mengembangkan kepribadiannya dengan baik. Masalah dalam kehidupan emosi, sosial, dan lainlain akan muncul sebagai hasil dari kemajuan (Laora, 2. Penyandang tuna daksa memiliki kebutuhan yang sama seperti orang lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Salah satunya adalah kebutuhan untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain (Laora, 2. Kebutuhan berinteraksi serta bersosial tersebut tidak akan lepas dari simbol-simbol yang akan mereka dapatkan dari interaksi yang akan mereka lakukan di kehidupan sehari-harinya. Orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang akan muncul dalam sebuah situasi tertentu. Sedangkan sibol adalah representasi dari sebuah fenomena, yang dimana sibol sebelumnya sudah di sepakati bersama dalam sebuah kelompok dan di gunakan untuk mencapai sebuah kesamaan makna bersama (Mead, dalam West-Turner,2009:107-10 dalam Laora, 2. Berdasarkan hasil observasi yang sudah di lakukan oleh peneliti di Sekolah SLB PGRI Kamal bahwa cara belajar intelektual/kognitifnya masih di bilang sangat kurang di karenakan anak tuna daksa yang peneliti teliti sering mengalami kesulitan dalam belajarnya, akan tetapi bukan karena kemampuan berfikir mereka rendah, tetapi karena adanya hambatan fisik serta lingkungan yang mempengaruhi proses belajar. Keterbatasan gerak juga membuat mereka sulit mengikuti aktivitas belajar yang bersifat motorik, seperti menulis atau berpindah tempat, yang pada akhirnya juga menghambat pemahaman pada siswa. Selain itu juga, lingkungan sosial yang tidak mendukung sehingga siswa semakin kesulitan dalam menangkap hal yang ada di sekitarnya, hal tersebut bisa menurunkan kepercayaan diri dan motivasi belajar siswa. Tanggung jawab orang tua yang memliki anak berkebutuhan khusus yang mana mempunyai tanggung jawab sebagai pengambil suatu keputusan karena orangtualah yang memutuskan alternatif mana yang akan di tempuh oleh anaknya. (Budi,2013 dalam Amelasasih, 2. kehadiran anak yang memiliki kebutuhan khusus ini memberikan efek yangbesar bagi seluruh keluarga, baik itu orang tua, saudara, dan anggota keluarga lainnya. Hal ini merupakan pengalaman yang luar biasa yang akan di alami bersama, kemudia dapat berdampak pada seluruhh aspek fungsi keluarg (Reichman. Coreman, & Noonan,2008 dalam Amelasasih, 2. Faktor penyebab anak tuna daksa di SLB PGRI Kamal ini yaitu kesulitan dalam menangap pembelajaran yang di berikan oleh guru namun hal ini menjadi suatu tantangan oleh guru untuk melatih gerak anak, pemahaman serta keaitifan anak, guru sangat berperan penting dalam hal ini guru akan sering melatih anak dalam berbagai kegiatan sehari-harinya. Ibu Nelly sebagai guru anak tuna daksa dan peran hambatan fisik pada anak tuna daksa, ibu Nelly sudah melakukan yang terbaik terkait kemajuan siswa di SLB PGRI Kamal tersebut, namun di balik itu peran orang tua dalam mendukung proses belajar anak tuna daksa juga sangat di perlukan dengan adanya latihan di rumah juga salah satu bentuk dukungan dari orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana hambatan fisik dan lingkungan yang memengaruhi proses belajar anak tuna daksa di SLB PGRI Kamal, serta bagaimana peran guru dan dukungan orang tua dalam membantu mengatasi kesulitan belajar yang di alami oleh anak anak tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif,penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian untuk memahami fenomena-fenomena manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran yang menyeluruh dan kompleks yang dapat di sajikan dengan kata-kata, melaporkan pandangan terinci yang di peroleh dari sumber informan, serta di lakukan dalam latar setting yang alamian (Walidin,Saifullah &Tabrani,2015: 77 dalam Fadli, 2. , penelitian kualitatif pertama kali di Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya gunakan oleh para antropolog dan sosiolog sebagai metode penyelidikan di Indonesia dekade awal abad ke-20 ( Denzi & Lincoln, 2026 ) penelitian ini di lakukan di SLB PGRI Kamal, subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak perempuan yang bernama Askia siswi yang duduk di bangku kelas 4. Askia merupakan anak yang memiliki kebutuhan khusus yaitu tuna daksa. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti berupa wawanara, observasi dan dokumentasi. Data yang di peroleh melalui hasil wawanara dengan guru pendamping yaitu ibu Nelly yang terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran Askia serta melalui observasi yang di lakukan oleh peneliti. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti juga menyimpan catatan lapangan dan foto. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel, yang berarti subjek penelitian dipilih secara sengaja sesuai dengan tujuan penelitian untuk mendapatkan data yang relevan dan mendalam. Analisis tematik digunakan untuk menganalisis data kualitatif dengan mengidentifikasi, mengelompokkan, dan mengintrepetasikan tema-tema utama yang muncul dari data. Proses ini mencakup pembecaan data secara keseluruhan, pemberian kode kepada tema, dan peninjauan dan pelaporan tentang tema yang relevan dengan tujuan penelitian. Hasil wawancara dianalisis untuk mengidentifikasi pola-pola dalam strategi pembelajaran, tantangan, dan strategi untuk mengatasi masalah tersebut (Yuliani, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang sudah di peroleh bahwa proses pembelajaran bagi anak tuna daksa di SLB PGRI Kamal menunjukkan penerapan strategi yang yang inklusif, adaptif serta di sesuaikan secara matang oleh guru pendamping dari adik Askia. Hal ini juga merupakan cerminan prinsip pendidikan yang di terapkan oleh ibu Nelly untuk mendapatkan pendidikan yang inklusif hal ini merupakan suatu pendekatan pendidikan yang inovatif dan strategis yang bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan bagi semua anak berkebutuhan khusus, terutama anak penyandang Sistem ini memberikan semua anak kesempatan untuk belajar bersama di sekolah umum dengan mempertimbangkan keragaman dan kebutuhan individual setiap anak, sehingga mereka dapat mengembangkan potensi terbaik mereka (Ndek et al. , 2. Askia, adalaha anak tuna daksa yang juga mengalami hambatan berbicara dan motorik, hal ini sejalan dengan Ndek et al. yang menyatakan bahwa Faktor-faktor seperti ini guru perlu menyikapi kebutuhan khusus pada anak tuna daksa mengenai pengolahan kelas, komunikasi guru dengan siswa, dan psikotes juga memengaruhi peran guru dalam membantu anak bekebutuan khusus belajar. Dalam hal ini guru memberikan pembelajaran dalam bentuk utama, yaitu secara kelompok dan Hal ini juga di beri dukungan dari guru terhadap orang tua mengenai cara belajar Askian di rumah dengan menggunakan les privat agar bisa melatih Askia untuk memudahhkan cara berinteraksinya, bagian ini di maksudkan untuk menjaga efektivitas pembelajaran dan memberikan ruang untuk fokus pada aspek-aspek spesifik yang dibutuhkan oleh Askia. Meskipun anak berkebutuhan khusus menghadapi kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, mereka juga memiliki potensi untuk mengembangkan keterampilan sosial yang kuat (Camelia & Tasaufy, 2. Untuk membantu siswa memahami tugas, guru memberikan instruksi verbal, gestur, bahkan fisik. Mereka juga memberikan penghargaan untuk mempertahankan semangat belajar. Metode ini berhasil meningkatkan kemandirian siswa dalam aktivitas seperti mengancing baju, hal ini adalah aktivitas yang membutuhkan koordinasi motorik halus, yang biasanya menjadi masalah utama bagi anak tuna daksa. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa Askia kadang-kadang juga tidak tertarik pada pelajaran, akan tetapi dia masih dapat dimotivasi untuk melakukan tugas sehari-hari, seperti menulis dan memegang bolpen. Terlepas dari hambatan motorik dan bicaranya, dia tetap semangat untuk belajar. Selain itu. Askia adalah seorang anak yang sulit untuk bersosialisasi dengan teman-temannya, fakta bahwa dia sering menjadi anak yang pendiam dalam hal ini guru menjadi peranan penting untuk membantu membangun mental dan keberanian Askia. Selaras dengan yang di sampaikan oleh Camelia & Tasaufy . bahwa Anakanak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, sebagian besar alasan mengapa hal ini terjadi adalah karena media pendidikan tidak disesuaikan dengan anak-anak berkebutuhan khusus baik secara eksklusif maupun segresif. Namun dalam hal ini media yang di gunakan oleh Askia sebagai sarana pembelajaran juga tidak sepenuhnya membantu dalam proses pembelajarannya. Sementara dari Pembelajaran non-akademik berfokus pada pengembangan kemampuan Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya sensorik motorik dan keterampilan dasar kehidupan sehari-hari. Untuk Askia, fokus pembelajaran lebih pada pengembangan kemampuan sensorik motorik dan pembelajaran dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Dilatih secara rutin adalah kegiatan kemandirian seperti mandi dan menjaga kebersihan diri, serta aktivitas seperti memegang benda dan menulis dengan alat bantu. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan yang diterapkan tidak semata-mata bersifat akademik. mereka juga berfokus pada kemampuan fungsional yang diperlukan anak untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk memahami dan mengembangkan potensi anak dengan kebutuhan khusus karena setiap anak memiliki bakat, minat, dan kemampuan yang berbeda. Anak-anak dengan kebutuhan khusus mungkin memiliki kemampuan akademik yang luar biasa dalam bidang tertentu, seperti matematika, sains, seni, atau bahasa. Namun, tidak ada perbedaan antara anak-anak dengan kebutuhan khusus. Mereka dapat mengembangkan potensi dalam bidang tertentu dengan dukungan dan pengajaran yang tepat. Banyak anak yang memiliki kebutuhan khusus menunjukkan bakat kreatif yang luar biasa. Mereka mungkin memiliki imajinasi yang kaya, bakat seni yang luar biasa, atau kemampuan musik yang unik (Camelia & Tasaufy, 2. Peran guru SLB dalam optimalisasi potensi akademik anak tuunadaksa 1 Sebagai Pendidik Guru menyampaikan materi pelajaran yang sudah disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan fisik siswa tuna daksa. Misalnya, mereka dapat menggunakan media pembelajaran khusus atau memberikan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas. Pendidikan adalah dasar kebutuhan manusia karena memberi orang pengetahuan tentang semua hal yang belum mereka ketahui. Guru memainkan peran penting dalam dunia pendidikan. Sebagai salah satu komponen penting dalam bidang persekolahan, guru, juga dikenal sebagai "pelopor", memiliki peran penting dalam menjalankan pendidikan dan pembelajaran secara efektif. Sebagai guru, mereka memiliki tugas yang lebih besar daripada hanya mengajarkan pengetahuan kepada siswanya. Mereka juga bertanggung jawab untuk membentuk etika dan karakter siswa mereka agar mereka menjadi orang yang cerdas, luas, jujur, dan mendalam yang memiliki tanggung jawab. Membantu siswa menghadapi kesulitan hidup dan mendorong pertumbuhan batin mereka adalah tugas seorang guru. Salah satunya sebagai guru anak berkebutuhan khusus yang dimana harus lebih meningkatkan kesabaran serta pengetahuan mengenai anak berkebutuhan khusus lebih tepatnya anak yang menyandang tuna daksa (Bastomi, 2. 2 Sebagai Fasilitator Guru membuat lingkungan belajar yang mendukung, ramah, dan inklusif. Mereka juga menyediakan alat bantu atau metode khusus untuk anak tuna daksa, seperti alat tulis, papan magnetik, dan media visual. Peran guru sangat penting dalam perkembangan pembelajaran siswa (Cahya et al. Oleh karena itu, guru harus memiliki kemampuan untuk memberikan pembelajaran yang Sebagai pendidik. Anda harus memahami kondisi dan karakter siswa serta memahami berbagai metode dan pendekatan pembelajaran. Pendidik juga berperan sebagai penilai untuk menilai prestasi belajar siswa. Selain itu, pendidik harus cerdas dan penuh dengan ide-ide baru dalam memberikan dorongan agar siswa tetap semangat dan termotivasi untuk belajar dengan baik dan efisien. Mereka juga harus menggunakan metode yang menyenangkan untuk menyampaikan informasi dan mendorong minat siswa untuk belajar. Yang terpenting, pendidik harus dapat melihat sikap, kebutuhan, perilaku, dan karakter setiap siswa, termasuk kesulitan mereka. Guru tidak hanya berperan sebagai fasilitator, melainkan guru juga sebagai motivator (Panjaitan & Hafizzah, 2. 3 Sebagai Motivator Anak tuna daksa sering kali tidak percaya diri. Guru membantu mereka dengan memberikan dorongan moral, semangat, dan penguatan positif agar mereka merasa mampu dan dihargai. Guru berperan sebagai movator terhadap anak penyandang tuna daksa dam menjalankan salah satu fungsi sebagai guru. Dalam teknis pelaksanaannya tentu setiap guru mempunyai cara ataupun pembawaannya sendiri mengenai pembelajaran yang akan di peroleh oleh tuna daksa (Majid, 2. Menjadi motivator bagi anak tuna daksa . nak dengan disabilitas fisi. adalah peran yang sangat mulia, menantang, dan penuh makna. Peran ini bukan hanya memberikan semangat, tetapi juga membangun kepercayaan diri, membuka mata, dan membuat lingkungan yang mendukung mereka untuk berkembang secara optimal. Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya 4 Sebagai Pembimbing Guru membantu siswa dalam keterampilan sosial dan motorik serta membantu mereka dalam aktivitas sehari-hari seperti mengancing pakaian, menulis, dan memegang alat bantu. Peran guru dalam mewujudkan Kelas Tiga Dinding melalui pembelajaran autentik lebih dari sekadar menyampaikan Mereka juga bertanggung jawab untuk membantu, mendorong, dan membimbing dalam desain dan penerapan proses pembelajaran yang bermakna, relevan, dan menarik agar siswa memiliki pengalaman belajar yang positif, memotivasi, dan membantu mereka menjadi pembelajar sepanjang Dalam hal ini guru perlu menjadi pembimbing yang baik guna untuk kemajuan dalam proses belajar siswa, pembelajaran yang bersinergi dan relevan dengan realita merupakan cita-cita pendidikan seluruh siswa Indonesia (Sihombing & Rahmadi, 2. 5 Sebagai Mediator Sosial Guru membantu anak tuna daksa untuk tidak merasa terasing dengan membantu mereka berinteraksi dengan teman sekelasnya. Guru juga dapat berfungsi sebagai jembatan antara lingkungan sosial siswa berkebutuhan khusus dan lingkungan mereka. Mengajar, oleh karena itu, adalah usaha atau proses yang disengaja dan terorganisasi untuk membantu siswa dalam pembelajaran yang rumit, yang mencakup tidak hanya pembangunan intelektual tetapi juga pengembangan sikap, aspek emosional dan spiritual, serta pengaturan situasi yang dapat menghasilkan lingkungan belajar yang produktif. Guru dapat membuat lingkungan belajar yang berbeda dengan berbagai metode pengajaran (Syifaurrahmah et al. , 2. 6 Sebagai Evaluator Guru menggunakan pendekatan yang fleksibel dan mendalam untuk menilai setiap siswa secara individual sesuai dengan kemampuan dan perkembangan mereka. Selama kegiatan evaluasi, guru harus memenuhi kewajibannya sebagai penguji dengan menilai setiap materi pembelajaran. Guru tentunya diharuskan untuk mengevaluasi setiap pelajaran yang telah mereka berikan. Hal ini dilakukan karena dengan peran evaluasi guru, guru dapat dengan mudah mengetahui seberapa baik siswa belajar (Al Munajar et al. , 2. Pembahasan Temuan Penelitian Penyandang tuna daksa bila di bandingkan dengan ketunaan yang lain akan lebih mudah di kenali karena ketunaannya tampak secara jelas (Tentama,2010 dalam Febriani, 2. Apabila perubahan fisik terjadi pada masa remaja, perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja akan menjadi hal yang sangat di perhatikan dan membuat remaja tersebut akan gelisah, dalam hal ini di dikarenakan remaja mulai sadar bahwa penampilan merupakan hal yang penting (Hurlock,2009 dalam Febriani, 2. Faktor lingkungan sosial yang di akan alami oleh penyandang tuna daksa juga mempengaruhi konsep dirinya sebagai makluk sosial. Penerimaan yang di lakukan oleh masyarakat akan tergantung pada cara penyandang tuna daksa berbaur pada lingkungan sosial tersebut. Pembentukan kepribadian yang kuat akan dapat mengatasi dan beradaptasi dengan berbagai stressor dengan baik. Anak akan menemukan lingkungan teman serta membentuk keluarga baru. Berdasarkan hasil observasi yang sudah di lakukan oleh peneliti di Sekolah SLB PGRI Kamal bahwa cara belajar intelektual/kognitifnya masih di bilang sangat kurang di karenakan anak tuna daksa yang peneliti teliti sering mengalami kesulitan dalam belajarnya, akan tetapi bukan karena kemampuan berfikir mereka rendah, tetapi karena adanya hambatan fisik serta lingkungan yang mempengaruhi proses belajar. Keterbatasan gerak juga membuat mereka sulit mengikuti aktivitas belajar yang bersifat motorik, seperti menulis atau berpindah tempat, yang pada akhirnya juga menghambat pemahaman pada siswa. Selain itu juga, lingkungan sosial yang tidak mendukung sehingga siswa semakin kesulitan dalam menangkap hal yang ada di sekitarnya, hal tersebut bisa menurunkan kepercayaan diri dan motivasi belajar siswa. Tanggung jawab orang tua yang memliki anak berkebutuhan khusus yang mana mempunyai tanggung jawab sebagai pengambil suatu keputusan karena orangtualah yang memutuskan alternatif mana yang akan di tempuh oleh anaknya (Budi, 2013 dalam Amelasasih, 2. kehadiran anak yang memiliki kebutuhan khusus ini memberikan efek yangbesar bagi seluruh keluarga, baik itu orang tua, saudara, dan anggota keluarga lainnya. Hal ini merupakan pengalaman yang luar biasa yang akan di alami bersama, kemudia dapat berdampak pada seluruhh aspek fungsi keluarg (Reichman. Coreman, & Noonan, 2008 dalam Amelasasih, 2. Faktor penyebab anak tuna daksa di SLB PGRI Kamal ini Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya yaitu kesulitan dalam menangap pembelajaran yang di berikan oleh guru namun hal ini menjadi suatu tantangan oleh guru untuk melatih gerak anak, pemahaman serta keaitifan anak, guru sangat berperan penting dalam hal ini guru akan sering melatih anak dalam berbagai kegiatan sehari-harinya. Ibu Nelly sebagai guru anak tuna daksa dan peran hambatan fisik pada anak tuna daksa ,ibu Nelly sudah melakukan yang terbaik terkait kemajuan siswa di SLB PGRI Kamal tersebut, namun di balik itu peran orang tua dalam mendukung proses belajar anak tuna daksa juga sangat di perlukan dengan adanya latihan di rumah juga salah satu bentuk dukungan dari orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana hambatan fisik dan lingkungan yang memengaruhi proses belajar anak tuna daksa di SLB PGRI Kamal, serta bagaimana peran guru dan dukungan orang tua dalam membantu mengatasi kesulitan belajar yang di alami oleh anak anak tersebut. KESIMPULAN Anak tuna daksa adalah anak yang memiliki keterbatasan fisik yang memerlukan perhatian khusus dari keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Anak tuna daksa memiliki potensi, keinginan, dan kebutuhan yang sama seperti anak-anak lainnya, terutama dalam hal interaksi sosial, mendapatkan kasih sayang, dan mengembangkan jati diri. Keterbatasan fisik bukan satu-satunya masalah yang mereka Perkembangan kepribadian anak tuna daksa dapat dipengaruhi secara signifikan oleh lingkungan yang ramah dan menerima. Ketika mereka tinggal di tempat yang aman, ramah, dan terbuka, mereka lebih mudah mengembangkan keyakinan diri, keterampilan sosial, dan kepercayaan diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Makna dan simbol sosial yang memperkuat eksistensi dan identitas mereka di masyarakat akan diciptakan melalui interaksi sosial yang sehat. Selain itu, keluarga, pendidik, dan masyarakat sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang menghargai perbedaan dan memberikan kesempatan bagi anak tuna daksa untuk berekspresi. Untuk membantu mereka berkembang secara optimal, pendidikan yang inklusif dan pendekatan yang empatik sangat penting. Jadi, perlu ada pendidikan terus menerus tentang pentingnya inklusi sosial dan memperluas akses dan peluang bagi anak tuna daksa di berbagai aspek kehidupan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mendampingi dan memberdayakan anak tuna daksa sangat bergantung pada kesadaran masyarakat secara keseluruhan untuk membuat lingkungan yang inklusif, humanis, dan menghargai setiap orang tanpa mempertimbangkan keterbatasan fisiknya. DAFTAR PUSTAKA