Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAJAR GURU DENGAN MODEL PEMBELAJAAN JIGSAW MELALUI IN HOUSE TRAINING Rusiati SDN 4 Wonoboyo Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri rusiati64kakrus@gmail. Abstrak Tujuan penelitian tindakan sekolah ini adalah . Pembelajaran model jigsaw dapat meningkatkan proses pelaksanaan pembelajaran melalui in house training di SDN 4 Wonoboyo tahun pelajaran 2019/2020. Pembelajaran model jigsaw dapat kemampuan mengajar guru . Pembelajaran Model Jigsaw dapat meningkatkan perubahan perilaku guru. Penelitian ini didesain dalam dua siklus. Prosedur siklus mencakup tahap-tahap : . perencanaan tindakan perbaikan, . pelaksanaan tindakan, . analisis dan refleksi, . tindak lanjut. Data hasil observasi dideskripsikan, diinterpretasikan, kemudian direfleksi untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus Data hasil tes hasil belajar dianalisis antar siklus hingga hasilnya dapat mencapai batas tuntas sesuai indikator kinerja, yakni . mencapai ketuntasan klasikal proses pembelajaran 83%, . memperoleh ketuntasan kemampuan belajar mencapai 83% . Mencapai perubahan perilaku 83% dari jumlah peserta keseluruhan. Berdasarkan tindakan yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : . Persentase proses pembelajaran pada prasiklus diperoleh rata-rata persentase sebesar 16,67% dengan kategori kurang baik. Pada siklus I diperoleh rata-rata persentase sebesar 61,11% berada pada kategori cukup baik. Pada siklus II diperoleh rata-rata persentase sebesar 88,89% berada pada kategori baik . Peningkatan ini ditunjukkan dengan persentase ketuntasan pada prasiklus 50%, pada Siklus I yang tuntas menjadi 83,33% dan pada siklus II menjadi Kata kunci : Kemampuan Mengajar. Jigsaw, in House training Abstract The aim of this school action research are . Jigsaw model learning can improve the learning process through in-house training at SDN 4 Wonoboyo for the 2019/2020 school . Jigsaw model learning can improve teacher teaching ability . Jigsaw model learning can improve teacher behavior change. This study was designed in two cycles. The cycle procedure includes the steps of: . planning corrective action, . implementing the action, . analysis and reflection, . follow-up. The data from the observations were described, interpreted, then reflected to determine corrective action in the next cycle. The learning outcome test data is analyzed between cycles until the results can reach the complete limit according to the performance indicators, namely . achieving 83% classical completeness of the learning process, . obtaining completeness of learning ability reaching 83% . Achieving 83% behavior change of the total number of participants. Based on the actions taken, it can be concluded as follows: . The percentage of the learning process in the pre-cycle obtained an average percentage of 16. 67% with a poor category. In the first cycle obtained an average percentage of 61. 11% in the good enough category. In the second cycle, an average percentage of 88. 89% was obtained in the good category. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 This increase is indicated by the percentage of completeness in the pre-cycle 50%, in the complete cycle I became 83. 33% and in the second cycle it became 100%. Keywords: Teaching Ability. Jigsaw. In House Training PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran merupakan aktivitas yang sangat penting dalam mewujudkan tercapainya keberhasilan siswa dalam menerima pelajaran di sekolah. Guru harus memahami bagaimana upaya meningkatkan keberhasilan tersebut, salah satu caranya dengan mendidik siswa dalam suatu proses pembelajaran yang Dalam suatu proses pembelajaran guru harus memahami berbagai metode pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa Proses pembelajaran merupakan inti dari kegiatan pendidikan di Guru menjadi pengarah utama dalam menciptakan suasana belajar yang interaktif edukatif, yaitu interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber belajar yang menunjang tercapainya tujuan belajar. Proses belajar mengajar menuntut upaya guru untuk mengaktualisasikan kompetensinya secara professional, utamanya dalam aspek metodologis. Fakta yang sering terjadi di lapangan,pembelajaran masih banyak secara konvensional hanya memberikan informasi tanpa adanya interaksi antara guru dan siswa. Pendidikan dan pengajaran dilakukan hanya sekedar pemberian informasi, pembelajaran tidak menarik, sehingga siswa kurang termotivasi dan merasa bosan, akhirnya berdampak pada rendahnya hasil belajar. Suatu pembelajaran yang bermakna didukung oleh berbagai faktor penunjang, salah satunya yaitu model pembelajaran. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Arsyad Azhar . 9: . bahwa dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah model mengajar dan media pembelajaran. Di abad 21 tuntutan profesionalisme guru sangatlah mendesak,tidak hanya guru yang mahir dalam setiap topik dalam kurikulum, namun harus menjadi ahli dalam mencari tahu bersama-sama dengan siswa mereka, tahu bagaimana melakukan sesuatu, tahu bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu atau bagaimana menggunakan sesuatu untuk melakukan sesuatu yang baru. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Kondisi pembelajaran di SDN 4 Wonoboyo pada semester 2 tahun pelajaran 2019/2020 belum semua guru menerapkan pembelajaran yang inovatif. Metode maupun model pembelajaran masih menggunakan model konvensional yang kurang merangsang keterlibatan siswa di setiap aktivitas pembelajaran. Dan juga memberikan kesempatan pada guru ikut pelatihan. Berdasarkan pengamatan proses pembelajaran dalam supervisi kelas dari 6 orang guru kelas baru 1 orang guru yang antusias dalam pembelajaran. Kreatifitas guru juga belum muncul ketika melaksanakan pembelajaran yang seharusnya lebih Ada 5 orang guru yang lain belum terbiasa menggunakan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Pembelajaran masih satu arah dengan menggunakan model guru sentris. Pelaksanaan pembelajaran berlangsung monoton,keterlibatan siswa dalam pembelajaran masih kurang. Materi yang disampaikan guru terlihat tidak menarik dan siswa cenderung kurang perhatian terhadap materi yang sedang dipelajari. Kemampuan guru dalam penerapan model pembelajaran masih kurang. Kemampuan Menurut Mohammad Zain dalam Milman Yusdi . 0: . , diartikan kesanggupan, kecakapan, kekuatan seseorang berusaha dengan diri Sementara itu. Robbin . 7: . , kemampuan berarti kapasitas seseorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan . seseorang akan turut serta menentukan perilaku dan Yang dimaksud kemampuan atau abilities ialah bakat yang melekat pada seseorang untuk melakukan suatu kegiatan secara phisik atau mental yang ia peroleh sejak lahir, belajar, dan dari pengalaman (Soehardi,2003:. Upaya yang dilakukan melalui inhouse training yang dilakanakan di Ngalim Purwanto . mengemukakan pendapatnya bahwa Inhouse training/in house education adalah suatu usaha pelatihan atau pembinaan yang memberi kesempatan kepada seseorang yang mendapat tugas jabatan tertentu dalam hal tersebut adalah guru, untuk mendapat pengembangan kinerja. Kegiatan in house training berupa peningkatan kemampuan mengajar guru dengan model pembelajaran Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Sudrajat, 2008:. METODE PENELITIAN Penelitian Tindakan Sekolah ini diawali dengan persiapan penyusunan proposal dan diakhiri dengan pembuatan laporan. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai pada bulan Januari 2020 dan diakhiri pada bulan April 2020, pada semester 2 tahun pelajaran 2019/2020. Penentuan tempat penelitian mempertimbangkan beberapa hal diantaranya : . Melaksanakan penelitian tidak meninggalkan tugas, . Pelaksanaan penelitian berpengaruh di kelas masing-masing terhadap peningkatan kompetensi guru dalam proses pembelajaran. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 4 Wonoboyo Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri pada semester 2 tahun pelajaran 2019/2020. Penentuan tempat penelitian mempertimbangkan beberapa hal diantaranya : . Melaksanakan penelitian tidak meninggalkan tugas, . Pelaksanaan penelitian berpengaruh terhadap peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran di kelas masing-masing. Berdasarkan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini, maka Subjek penelitian ini adalah guru-guru SD Negeri 4 Wonoboyo Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 yang jumlah gurunya ada 6 orang terdiri dari 5 orang guru perempuan dan 1 orang laki-laki. Objek penelitian yaitu kemampuan guru dalam pembelajaran menggunakan model jigsaw. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang akurat pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik diantaranya :. melalui dokumen yaitu mengumpulkan data hasil pengamatan guru pada saat pelaksanaan proses pembelajaran . ondisi awa. Observasi yaitu mengumpulkan data dengan mengamati guru saat inhouse training maupun saat pembelajaran pada setiap siklus. melalui wawancara digunakan untuk mendapatkan data pendukung yang ditujukan kepada guru tentang masalah Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 yang berkaitan dengan kondisi pembelajaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran. melalui catatan lapangan adalah gambaran umum yang digunakan sebagai keperluan penjelasan dan penafsiran tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. Catatan tertulis berisi tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian. Waktu melakukan penelitian, peneliti mencatat berbagai hal yang dianggap penting untuk dijadikan sebagai data tambahan dalam penelitian guna mendukung analisis data. Validasi berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi guru. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Trianggulasi sumber data berasal dari guru kelas, guru mapel dan teman sejawat kepala sekolah sebagai kolaborator. Trianggulasi metode yaitu data dari pengumpulan dokumen, hasil observasi dan wawancara. Indikator kinerja /target telah ditentukan sebagai berikut:. target yang ingin dicapai pada proses pembelajaran pada penelitian ini adalah dari pembelajaran yang kurang baik menjadi pembelajaran yang baik. Indikator pelaksanaan proses pembelajaran in house training sebagai berikut :antusias . guru,dan kreatifitas guru. Target yang diharapkan rata-rata prosentase klasikal indikator pelaksanaan proses pembelajaran guru mencapai 83 % atau dari jumlah 6 guru terdapat 5 guru yang memperoleh kategori baik dengan nilai ketuntasan Indikator kualitatif penelitian ini adalah perubahan perilaku guru yakni kerjasama guru, percaya diri guru,dan tanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran yang diketahui dari hasil non tes. Hasil non tes berupa observasi, wawancara, dokumentasi foto kegiatan, dan catatan lapangan. Peningkatan kemampuan guru menerapkan model jigsaw pada kondisi akhir . khir siklus II). Indikator kinerja tercapai apabila kompetensi guru menerapkan model jigsaw mengalami peningkatan kompetensi guru mencapai 83 % guru tuntas yaitu 5 guru dari 6 guru. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Desain penelitian ini menggunakan penelitian tindakan sekolah /school action research. Penelitian tindakan sekolah adalah suatu penelitian yang dilaksanakan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan pembelajaran, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang digunakan HASIL DAN PEMBAHASAN Proses pembelajaran . Antusiasme Kegiatan proses pembelajaran dari prasiklus sampai dengan siklus II antusias guru setahap demi tahap mengalami peningkatan. Proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran jigsaw di kelas semakin meningkat, pelan-pelan Perhatian atau fokus belajar peserta lebih mantap. Adapun besarnya peningkatan antusias peserta peserta mengikuti pembelajaran dari prasiklus sampai siklus II adalah sebagai berikut : Tabel 1 Peningkatan antusias guru dalam pembelajaran Prasiklus Siklus I Siklus II Jumlah YA 16,67% 3 50% 6 Jumlah TIDAK 83,33% 3 50% 0 Berdasarkan tabel disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut: Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Pra siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar1. Peningkatan antusias guru dalam Pembelajaran Berdasarkan Grafik tersebut dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan jumlah guru antusias dalam pembelajaran,pada prasiklus sebesar 16,67% dengan kategori kurang baik pada siklus I meningkat menjadi sebesar 50% dengan kategori sedang dan pada siklus II meningkat menjadi sebesar 100% dengan kategori sangat baik. Guru yang tidak antusias dalam pembelajaran dari prasiklus sampai dengan siklus II mengalami penurunan. Kreatifitas dalam proses pembelajaran Kemampuan kreatifitas yang ditunjukkan guru dari prasiklus sampai dengan siklus II sangat berbeda dari siklus ke siklus berikutnya. Adanya perubahan ke arah yang lebih baik ,dengan demikian kemampuan kerjasama antar guru akan berdampak langsung terhadap peserta didik. Peningkatan antusias guru dalam pembelajaran dari prasiklus sampai siklus II disajikan pada tabel berikut : Tabel 2 Peningkatan kreatifitas guru Prasiklus Siklus I Siklus II Jumlah YA 33,33% 4 66,67% 5 83,33% Jumlah TIDAK 66,67% 2 33,33% 1 16,67% Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Berdasarkan tabel sebagaimana tersebut untuk memudahkan pembacaan dapat disajikan pula dalam bentuk grafik sebagai berikut: Tidak Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar 2 Peningkatan kreatifitas guru Berdasarkan grafik tersebut diketahui bahwa telah terjadi peningkatan jumlah guru yang mampu melakukan kreatifitas pada prasiklus sebesar 33,33% dengan kategori sedang pada siklus I meningkat menjadi sebesar 66,67% dengan kategori cukup dan pada siklus II meningkat menjadi sebesar 83,33% dengan kategori baik. Untuk guru yang belum mampu berkreatifitas mengalami . Keaktifan guru Berdasarkan hasil pengamatan mulai dari prasiklus ke siklus II keaktifan guru dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan yang sangat Para guru mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kapabilitas sebagai guru. Kemampuan ini tidak terlepas dari penggunaan model pembelajaran yang tepat yaitu model pembelajaran jigsaw yang mereka Pengaruh besarnya model pembelajaran jigsaw dalam meningkatkan Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Besarnya peningkatan keaktifan guru dari prasiklus sampai siklus II adalah sebagai berikut : Tabel 3 Peningkatan keaktifan guru Prasiklus Siklus I Siklus II Jumlah YA 16,67% 4 66,67% 5 83,33% Jumlah TIDAK 83,33% 2 33,33% 1 16,67% Berdasarkan tabel tersebut dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai Tidak Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar 3 Peningkatan keaktifan guru Berdasarkan data pada grafik diketahui bahwa telah terjadi peningkatan jumlah guru yang aktif dalam pembelajaran,pada prasiklus sebesar 16,67% dengan kategori kurang baik pada siklus I meningkat menjadi sebesar 66,67% dengan kategori cukup dan pada siklus II meningkat menjadi sebesar 83,33%% dengan kategori baik. Berdasarkan data tabel dan grafik hasil pengamatan proses pembelajaran prasiklus, siklus I dan siklus II yang meliputi . antusias guru, . kreatifitas guru dan . keaktifan guru. Rata-rata peningkatan dari prasiklus ke siklus II dalam proses pembelajaran dapat disajikan dalam tabel berikut ini: Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Tabel 4 Data Rekapitulasi Peningkatan Proses Pembelajaran Prasiklus Siklus I Siklus II Rata-rata 16,67% 61,11% 88,89% Kategori Kurang baik Berdasarkan tabel 4 dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut: Pra Siklus Siklus 1 Sikuls 2 Gambar 4. Rekapitulasi Peningkatan Proses Pembelajaran Grafik tersebut menunjukkan proses pembelajaran pada prasiklus diperoleh rata-rata persentase sebesar 16,67%, proses pembelajaran pada prasiklus berada pada kategori kurang baik. Pada siklus I diperoleh rata-rata persentase sebesar 61,11% berada pada kategori cukup baik. Pada siklus II diperoleh rata-rata persentase sebesar 88,89% berada pada kategori baik. Kemampuan Guru Peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran jigsaw dari prasiklus hingga kondisi akhir siklus II sesuai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Indikator kinerja tercapai apabila kemampuan guru menerapkan model pembelajaran jigsaw dan perubahan perilaku yang menyertai peningkatan kemampuan guru mencapai 83 % guru tuntas yaitu 5 guru dari 6 guru seluruhnya Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran jigsaw mulai prasiklus hingga pada siklus II belum tuntas keseluruhan. Namun kemampuan guru secara keseluruhan meningkat dalam menerapkan model pembelajaran Setelah data kemampuan guru dikumpulkan, diperoleh data kemampuan guru pada Prasiklus. Siklus I, dan Siklus II sebagai berikut : Tabel 5 Kemampuan Guru Prasiklus. Siklus I, dan Siklus II No. Interval Prasiklus Siklus 1 Siklus 2 92 < A O 100 84 < B O 92 75 O C O 84 D < 75 Ketuntasan 83,33% Berdasarkan tabel 5 sebagaimana disajikan di atas dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut: Peningkatan Kemampuan Guru Per Siklus Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar 5. Kemampuan Guru Prasiklus. Siklus I, dan Siklus II Gambar 5 menunjukkan kemampuan guru telah meningkat dari Prasiklus ke Siklus I lalu ke Siklus II. Peningkatan ini ditunjukkan dengan persentase Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 ketuntasan pada prasiklus 50%, pada Siklus I yang tuntas menjadi 83,33% dan pada siklus II menjadi 100%. Perubahan perilaku Perubahan perilaku dari siklus ke siklus sesuai dengan harapan pada indikator kinerja yaitu dapat mencapai 83% tuntas. Adanya peningkatan perubahan perilaku sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan ada aspek kerjasama,aspek percaya diri,dan aspek tanggung jawab guru. Dampak positif terhadap perubahan perilaku guru akan berpengaruh langsung terhadap rasa percaya diri peserta didik. Peserta didik akan terdorong untuk kreatif dan inovatif. Dan akan menumbuhkan rasa peduli dan peka terhadap lingkungan. Selain itu juga dapat meningkatkan jiwa kompetitif yang memiliki daya saing personal. Dalam penerapan model jigsaw mulai prasiklus hingga siklus II perubahan perilaku guru mengalami peningkatan yang dapat menjadi tolak ukur keberhasilan dalam pembelajaran. Berdasarkan pengamatan sikap kerjasama, percaya diri,dan tanggung jawab guru telah berjalan optimal. Setelah data pengamatan perilaku guru dikumpulkan, diperoleh data perubahan perilaku guru pada Prasiklus. Siklus I, dan Siklus II sebagai berikut : Tabel 6 Data Rekapitulasi Peningkatan Perubahan Perilaku Guru Prasiklus Siklus I Siklus II Rata-rata 44,44% 77,78 88,89% Kategori Berdasarkan tabel sebagaimana disajikan di atas untuk memudahkan pembacaan dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut: Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Peningkatan Perubahan Perilaku Per Siklus Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar 6 Peningkatan Perubahan Perilaku Guru Berdasarkan tabel dan grafik tersebut menunjukkan perubahan perilaku guru dalam pembelajaran pada prasiklus diperoleh rata-rata persentase sebesar 44,44% pada kategori sedang. Pada siklus I diperoleh rata-rata persentase sebesar 77,78% berada pada kategori baik. Pada siklus II diperoleh rata-rata persentase sebesar 88,89% kategori baik SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat dikesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut: Proses pelaksanaan pembelajaran menggunaan model jigsaw pada guru di SDN 4 Wonoboyo tahun pelajaan 2019/2020 lebih meningkat dan efektif, berjalan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Persentase proses pembelajaran pada prasiklus diperoleh rata-rata persentase sebesar 16,67% dengan kategori kurang baik. Pada siklus I diperoleh rata-rata persentase sebesar 61,11% berada pada kategori cukup baik. Pada siklus II diperoleh rata-rata persentase sebesar 88,89% berada pada kategori Ada peningkatan kemampuan mengajar setelah diberikan in house training model pembelajaran jigsaw pada guru SDN 4 Wonoboyo tahun pelajaran 2019/2020. Peningkatan ini ditunjukkan dengan persentase ketuntasan pada Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 4. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 prasiklus 50%, pada Siklus I yang tuntas menjadi 83,33% dan pada siklus II menjadi 100%. Ada peningkatan perubahan perilaku yang menyertai peningkatan kemampuan mengajar pada guru setelah diberikan in house training model pembelajaran jigsaw pada guru SD Negeri IV Wonoboyo Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri tahun pelajaran 2019/2020. Peningkatan perubahan perilaku guru dalam pembelajaran pada prasiklus diperoleh rata-rata persentase sebesar 44,44% pada kategori sedang. Pada siklus I diperoleh rata-rata persentase sebesar 77,78% berada pada kategori baik. Pada siklus II diperoleh rata-rata persentase sebesar 88,89% kategori baik Sesuai dengan simpulan dan dampak hasil penelitian, serta dalam rangka ikut menyumbangkan pemikiran dalam meningkatkan proses pembelajaran, peningkatan kemampuan guru, dan peningkatan perubahan perilaku guru , maka dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut : Bagi siswa, agar meningkatkan peran serta dalam pembelajaran melalui antusias, kerjasama, dan keaktifan, agar kualitas pembelajaran dan hasil belajar lebih baik Bagi guru, agar menggunakan berbagai model pembelajaran jigsaw untuk menunjang kualitas pembelajaran dan hasil belajar yang lebih baik. Bagi sekolah, agar memfasilitasi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, kemampuan dalam proses belajar mengajar, dan peningkatan perubahan sikap sosial yang lebih baik. REFERENSI