PASTORALIA STIPAS Keuskupan Agung Kupang Jurnal Penelitian Dosen P-ISSN: 2579-9355 E-ISSN: 2797-2216 Volume 5 Nomor 2. Edisi Desember 2024 TRANSFORMATISASI LITURGI MELALUI NYANYIAN LITURGI INKULTURATIF Didimus Adventus Satrio STIPAS Keuskupan Agung Kupang 1adventussatrio@gmail. Abstrak Liturgi inkulturatif melalui nyanyian-nyanyian liturgi inkulturatif merupakan sebuah realitas dalam Gereja Katolik yang menggambarkan universalitas Gereja Katolik dengan dunia dan Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki pemahaman umat tentang liturgi, liturgi inkulturatif melalui nyanyian liturgi inkulturatif yang berdampak pada pemilihan lagu-lagu liturgi secara benar dan tepat, serta merevisi keseluruhan pelaksanaan liturgi yang dilaksanakan, agar sesuai dengan kaidah-kaidah umum liturgi inkulturatif yang ditentukan oleh Gereja Katolik. Metode yang penulis gunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode ini digunakan dengan maksud agar peneliti mampu menemukan jawaban secara jelas akan pokok-pokok permasalahan yang ditemukan. Peneliti melakukan pengumpulan data dengan tiga teknik: wawancara, observasi dan Melalui wawancara, peneliti menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang logis, melalui observasi, peneliti melihat dan mencatat kejadian yang penulis alami, saksikan sendiri dan melalui dokumentasi, peneliti mengumpulkan bukti berupa foto dan rekaman serta mencatat kejadian-kejadian terdahulu. Selanjutnya peneliti melakukan reduksi data dengan cara memilih data-data yang berkarakter sama dan penting, penyajian data dilakukan dengan menggunakan deskriptif-naratif dan verifikasi data untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil yang penulis peroleh adalah sebuah realitas bahwa umat tidak memahami liturgi, liturgi inkulturatif melalui nyanyian-nyanyian inkulturatif dan berdampak pada pemilihan nyanyian-nyanyian liturgi yang didominasi oleh lagu-lagu daerah. Kesimpulan berupa penyanyian secara logis dan sistematis keseluruhan penelitian yang menggambarkan masalah-masalah yang ditemukan, ringkasan isi dan pembahasan. Kata Kunci Inkulturasi, liturgi, nyanyian-nyanyian Inkulturatif, umat Abstract Inculturative liturgy through inculturative liturgical songs is a reality in the Catholic Church which illustrates the universality of the Catholic Church with the world and its dynamics. The aim of this research is to improve the people's understanding of liturgy, inculturative liturgy through inculturative liturgical songs which have an impact on selecting liturgical songs correctly and appropriately, as well as revising the overall implementation of the liturgy so that it is in accordance with the general rules of inculturative liturgy determined by Catholic Church. The method the author uses is a qualitative research method with a descriptive approach. This method was used with the aim that researchers were able to find clear answers to the main problems found. Researchers collected data using three techniques: interviews, observation and documentation. Through interviews, the researcher asks logical questions, through observation, the researcher sees and records events that the author personally witnessed and through documentation, the researcher collects evidence in the form of photos and recordings and records previous events. Next, the researcher carried out data reduction by selecting data that had the same character and was important, presenting the data using descriptive-narrative and data verification to produce conclusions. The results that the author obtained are the reality that people do not understand liturgy, inculturative Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 liturgy through inculturative songs and this has an impact on the choice of liturgical songs which are dominated by regional songs. The conclusion is in the form of a logical and systematic presentation of the entire research describing the problems found, a summary of the content and discussion. Keywords Inculturation. Liturgy. Inculturative Songs, people PENDAHULUAN Istilah inkulturasi, secara khusus inkulturasi dalam liturgi, dikemukakan pada tahun 1959 oleh Joseph Mason dalam persoalan misi dan pada tahun 1973 kembali dipopulerkan oleh G. Barley, juga dalam urusan misiologi. Dikatakan bahwa inkulturasi menjadi satu-satunya jalan yang paling efektif digunakan dalam bermisi dan mewartakan Injil. Hal ini dipertimbangkan atas dasar alasan bahwa pembentukan budaya baru hasil perpaduan Injil dan kebudayaan harus diadakan. Budaya baru yang dibentuk ini bersifat Kristiani dan tidak mengurangi sedikit pun semua kehasan-kekhasan dari karya-karya Allah melalui Kristus (Ujan Boli & Kirchberger, 2. Istilah inkulturasi akhirnya secara resmi dipakai dalam dokumen-dokumen Gereja oleh Paus Yohanes Paulus II. Dokumen Catechesi Tradendae menjadi salah satu dokumen yang menegaskan pentingnya inkulturasi. Dikatakan bahwa inkulturasi menjadi salah satu unsur pokok dalam pewartaan Injil. Hal ini disebabkan oleh daya transformatif yang dihasilkan oleh praktik (Paulus II, 1. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ujan, mengatakan bahwa inkulturasi memungkinkan terjadinya transformasi nilai-nilai baru dari kebudayaan lokal yang diserap demi kepentingan pewartaan Injil. Dalam penelitian yang sama. Ujan menegaskan bahwa inkulturasi memungkin Injil untuk bertransformasi mengikuti kontekstualitas budaya di mana Injil diwartakan (Ujan, 2. Proses inkulturasi semestinya berjalan seturut inkarnasi Sabda dan konstitusi Gereja Katolik. Inkarnasi Sabda menghantar Gereja Katolik untuk menemukan hakikatnya sebagai sebuah persekutuan yang mengedapankan karya keselamatan Kristus di dunia. Lumen Gentium art. 8 menegaskan bahwa Gereja Katolik mesti mengungkapkan misteri dari karya keselamatan Kristus. Pengungkapan ini mesti bersandar pada Kristus itu sendiri dan bersandar pada praktik pribumisasi. Artinya. Gereja Katolik mesti mengungkapkan karya-karya Kristus dengan menyesuaikan diri pada kontekstualitas budaya setempat (Loudry Malau et al. , 2. Inkarnasi Sabda ditampakan dalam proses inkulturasi sebagai perwujutan sebuah misi perutusan, yakni perutusan Putra oleh Bapa dalam Roh Kudus. Trinitaritas perutusan ini mesti nampak dalam inkulturasi yang dilakukan, agar terungkap misteri inkarnasi, misteri paskah dan misteri pentekosta (Martasudjita, 2. Inkulturasi dalam Gereja Katolik akhirnya mendapatkan tempatnya melalui salah satu unsur yaitu liturgi, dengan kata lain, liturgi inkulturatif. Liturgi inkulturatif telah menjadi perbincangan yang terus diupayakan aspek praktisnya dalam Gereja Katolik. Liturgi inkulturatif merupakan salah satu bentuk perjumpaan antara Injil dan budaya. Kedua perjumpaan diupayakan dengan maksud agar umat beriman mengimani Kristus dengan berlandaskan pada kontekstualitas budaya sendiri atau dengan kata lain agar umat beriman dapat berteologi secara kontekstual (Loudry Malau et al. , 2. Kewuel dalam bukunya yang berjudul 12 Pintu Evangelisasi Menebar Garam di Atas Pelangi: 50 Tahun Widya Yuwana Madiun. Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 menegaskan bahwa umat beriman mesti berksistensi di atas budayanya sendiri. Hal ini berarti dalam berteologi umat beriman mesti mempertimbangkan budayanya sendiri, dalam hal ini pula perlu untuk mempertimbangkan unsur-unsur positif dalam suatu budaya dan dipadukan dengan teologi (Kewuel, 2. Liturgi inkulturatif pertama-tama dikenalkan oleh C. Valenziano pada tahun 1979 dalam artikel yang Dikatakan bahwa liturgi inkulturatif menjadi sebuah model baru dalam Gereja Katolik yang dihasilkan dari dua budaya, yaitu Injil dan budaya. Selanjutnya dikatakan bahwa liturgi inkulturatif menjadi salah satu model praktis dalam Gereja Katolik yang menguak misteri iman Kristiani dengan cara yang baru (Ujan Boli & Kirchberger, 2. Andreas Eden dalam penelitiannya mengatakan bahwa liturgi inkulturatif menjadi salah satu bentuk kekhasan dunia yang diadaptasikan dalam Gereja Katolik. Hal ini menjadi jelas bahwa liturgi inkulturatif hendak menampilkan dua ciri khas besar antara Injil dan budaya yang dipadukan untuk membentuk satu kekhasan baru dalam menguak misteri-misteri Kristiani (Eden & Pereira, 2. Inkulturasi liturgi mencakup seluruh elemen liturgi: ritus pembuka, liturgi sabda dan ritus penutup. Ketiga ritus ini termuatlah nyanyian liturgi. Pada proses inkulturasi liturgi, nyanyian liturgi menjadi penting untuk diperhatikan prosesnya, agar dapat mengungkapkan misteri-misteri Kristiani dan tersampaikannya Injil bagi umat beriman. Dokumen Konsili Vatikan II, melalui Sacrosanctum Consilium art. 24, menyatakan bahwa nyanyian liturgi menjadi salah satu bentuk ungkapan jiwa yang dinyanyikan oleh seluruh umat beriman bagi kemuliaan Allah (Riberu, 1. Nyanyian liturgi inkulturatif menjadi salah satu wujud pengembangan dalam Gereja Katolik dalam konteks liturgi dan menjadi bentuk keterbukaan Gereja Katolik bagi keanekaragaman. Emanuel Hane, bersandar pada Sacrosantum Consilium art. 37, menegaskan bahwa nyanyian liturgi inkulturatif menjadi salah satu asas dalam liturgi, di mana Gereja Katolik secara terbuka menanggapi kontektualitas budaya sebagai basis transformasi. Sebaliknya, budaya menjadi semakin relevan bagi Gereja Katolik sebagai salah satu tempat terealisasinya nilai-nilai kebudayaan secara baru (Ujan Boli & Kirchberger, 2. Selanjutnya, nyanyian liturgi Inkulturatif pada prosesnya mesti mengikuti kaidah-kaidah musik liturgi yang ditetapkan dalam ajaran-ajaran Gereja Katolik. Dokumen Mediator Dei . mengikuti ide Tra le Sollecitudini, mengungkapkan bahwa kaidah-kaidah nyanyian liturgi mencakup aspek kekudusan dan partisipatif. Ini berarti nyanyian liturgi inkulturatif mesti berada dalam kekudusan dan membuka kesempatan bagi semua umat beriman untuk berpartisipasi dalam Ekaristi (Tukan, 2. Yusuf Silaban dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa nyanyian liturgi inkulturatif juga dibahas secara lebih luas dalam Dokumen Musicae Sacrae Disciplina . Disebutkan bahwa kekhasan-kekhasan nilai-nilai yang terkandung dalam perubahan zaman, secara khusus nilai-nilai budaya mesti juga menjadi warna baru dalam pembaharuanpembaharuan nyanyian dalam liturgi (Silaban, 2. Idealisme liturgi inkulturatif melalui nyanyian liturgi inkulturatif di atas tidak berjalan sebagaimana mestinya di Stasi Uabau Paroki Santo Yohanes Rasul Rafau Keuskupan Atambua. Berdasarkan observasi peneliti, praktik liturgi inkulturatif melalui nyanyian liturgi inkulturatif terlalu menonjol pada aspek budaya. Hal ini ditinjau dari penggunaan lagu-lagu liturgi yang dinyanyikan cenderung menggunakan lagu-lagu lokal dan mengabaikan lagu-lagu berbahasa Indonesia yang disusun sesuai dengan ketentuan konstitusi Gereja Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 Katolik, seperti Ae salah satu contoh - lagu-lagu ordinarium yang tidak sesuai dengan penghayatan aslinya jika ditinjau dari kata-kata yang terdapat lagu ordinarium. Hal ini menyebabkan penghayatan umat terhadap keseluruhan liturgi menjadi kurang terungkap dan umat tidak memahami makna liturgi itu sendiri serta partisipasi umat dalam liturgi meninggalkan kesan formalitas. Latar belakang ini berujung pada suatu realitas yng lebih luas: tidak terungkapnya misteri perutusan Kristus. Penelitian ini diupayakan untuk meningkatkan pemahaman umat akan liturgi inkulturatif melalui nyanyian liturgi inkulturatif yang berdampak pada pemilihan lagu-lagu liturgi secara benar dan tepat. Tujuan lainnya adalah untuk merevisi keseluruhan pelaksanaan liturgi yang dilaksanakan, agar sesuai asas-asas umum liturgi inkulturatif yang ditentukan oleh Konstitusi Gereja Katolik. Di samping dua tujuan sebelumnya, melalui penelitian ini, peneliti juga berupaya untuk menggali pemahaman umat tentang liturgi itu sendiri dan praktiknya yang dilaksanakan. METODE Metode yang dipilih adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode dan pendekatan ini dipilih karena memudahkan peneliti untuk menggali secara dalam pemahaman umat dan melihat secara luas permasalahan yang terjadi. Selanjutnya, metode ini memudahkan penulis untuk memecahkan masalahmasalah yang ditemukan dan memudahkan penulis untuk melihat fenomena-fenomena lain yang berkaitan dengan tema penelitian. Metode dan pendekatan ini juga digunakan untuk menjelaskan hasil dan pembahasan dengan menggunakan narasi-deskriptif (Sugiyono, 2. Sumber data atau informan terdiri dari Pastor Paroki. Ketua KUB, anggota dewan stasi dan Umat. Sumber data atau informan ini juga merupakan subjek penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut: . Wawancara merupakan proses pengambilan informasi dari informan dengan cara bertanya. Pertanyaan telah disusun secara logis dan sistematis oleh peneliti. Setelah pertanyaan disusun, peneliti mulai menggali jawabanjawaban dari para informan. Tujuan dari wawancara adalah untuk mengetahui akar masalah secara konkrit dari informan yang juga secara nyata terlibat. Observasi adalah salah satu langkah yang dilakukan dengan mengamati, mencatat dan menganalisa temuan yang ditemukan. Peneliti melakukan observasi tanpa melibatkan partisipan atau informan. Tujuan observasi adalah untuk mengetahui secara umum situasi yang terdapat pada lokasi penelitian. Dokumentasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengumpulkan foto dan rekaman berupa video. Tujuannya untuk mengetahui situasi-situasi konkrit yang terdahulu, dimana situasi-situasi tersebut berkaitan dengan tema (Sugiono, 2. Selanjutnya, setalah data terkumpul, peneliti memulai melakukan analisis data. Dalam menganalisis data-data yang telah diperoleh, penulis menggunakan teknik analisis data yang terdiri dari 4 teknik, antara lain: . data collection . engumpulan dat. Pada tahap ini, penulis mengumpulkan semua data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Pengumpulan ini masih bersifat data mentah yang belum diolah. data reduction . emilahan dat. Pada tahap ini peneliti melakukan reduksi data yang telah dikumpulkan. Peneliti memilah data-data penting dan data-data yang memiliki karakteristik jawaban Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 yang sama. data display . enyajian dat. Pada tahap ini peneliti menyajikan data dengan cara mendeskripsikan data dalam bentuk narasi. data verification . erifikasi dat. Pada tahap ini peneliti melakukan derifikasi semua data yang telah dilakukan pada tiga tahap sebelumnya, agar menghasilkan kesimpulan logis, sistematis dan terstruktur (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di Stasi Uabau Paroki Santo Yohanes Rasul Rafau Keuskupan Atambua. Dalam penelitian ini yang dijadikan subjek sekaligus informan adalah Pastor Paroki yang berjumlah 1 orang. Anggota Dewan Stasi yang berjumlah 1 orang. Ketua KUB yang berjumlah 1 orang dan umat yang berjumal 5 orang. Total jumlah subjek dan informan adalah 8 orang dengan rentang usia yang berbeda-beda. Peneliti memiliki jumlah subjek dan informan yan berjumlah 8 orang ini disebabkan oleh urgensi penelitian kualitatif yang mementingkan informasi dari pada informan. Tabel 1. Data Informan NAMA JENIS KELAMIN USIA KETERANGAN Laki-laki 40 Tahun Pastor Paroki MAP Perempuan 32 Tahun Anggota Dewan Stasi Laki-laki 36 Tahun Ketua KUB Laki-laki 29 Tahun Umat SML Perempuan 32 Tahun Umat NMB Perempuan 34 Tahun Umat PBT Perempuan 41 Tahun Umat EYB Laki-laki 33 Tahun Umat Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang logis kepada para informan guna mendapatkan jawaban. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendalami persoalan masalah yang hendak peneliti teliti. Tabel 2. Daftar Pertanyaan PERTANYAAN Apa yang anda pahami tentang liturgi? Bagaimana liturgi dijalankan di Stasi Uabau Paroki Santo Yohanes Rasul Rafau Keuskupan Atambua? Apa yang anda pahami tentang liturgi inkulturatif? Apa yang ada pahami tentang nyanyian liturgi inkulturatif? Bagaimana proses integrasi antara lagu-lagu lokal dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia yang dibuat atas dasar asas-asas liturgi diterapkan? Kapan lagu-lagu lokal diterapkan dalam liturgi? Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 Mengapa lagu-lagu berbahasa Indonesia yang dibuat atas dasar asas-asas liturgi tidak Mengapa lagu-lagu lokal menjadi pilihan utama dalam liturgi? Apa cara yang tepat untuk memperbarui liturgi di Stasi Uabau Paroki Santo Yohanes Rasul Rafau Keuskupan Atambua? Pertanyaan pertama menghasilkan jawaban sebagai berikut: tiga informan menjawab bahwa liturgi merupakan sebuah unsur dalam Gereja Katolik yang menggambarkan sebuah persekutuan semua umat. Lima informan lainnya menjawab bahwa liturgi merupakan salah satu bentuk aktivitas iman yang wajib diikuti oleh semua umat katolik dan menjadi puncak segala doa. Pada pertanyaan kedua, peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut: tiga informan memberikan jawaban bahwa liturgi berjalan secara baik dan tepat. Lima informan memberikan jawaban bahwa liturgi berjalan dengan perpaduan. Artinya terdapat unsur buadaya setempat yang diintegrasikan. Pertanyaan ketiga menghasilkan jawaban sebagai berikut: empat informan menyatakan bahwa liturgi inkulturatif merupakan liturgi yang mencampurkan unsur-unsur kebuadayaan dalam keseluruhan ritusritusnya. Di samping itu, empat informan lainnya memberikan jawaban bahwa liturgi inkutlturatif merupakan liturgi yang dijalankan berdasarkan kebijakan-kebijakan buaya lokal dan tidak dicampuri oleh unsur-unsur lainnya, seperti asas-asas liturgi Gereja Katolik. Pada pertanyaan keempat, peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut: semua informan sepakat mengatakan bahwa nyanyian inkulturatif merupakan nyanyiannyanyian liturgi lokal yang diciptakan untuk kepentingan liturgi. Pertanyaan kelima menghasilkan jawaban sebagai berikut: lima informan memberikan jawaban bahwa tidak terdapat integrasi lagu-lagu lokal dan lagu-lagu berbahasa Indonesia yang disusun berdasarkan asas-asas liturgi yang benar. Hal ini disebabkan oleh pemilihan lagu oleh umat yang senantiasa memutuskan untuk menggunakan lagu-lagu lokal di setiap ritus. Tiga informan lainnya menjawab bahwa lagu-lagu lokal menjadi pilihan utama dalam liturgi yang dijalankan sedangkan lagu-lagu berbahasa Indonesia yang disusun berdasarkan asas-asas liturgi yang benar dipilih hanya pada saat perayaan-perayaan besar. Pada pertanyaan keenam ini semua informan sepakat menjawab bahwa lagu-lagu lokal diterapkan pada semua ritus dengan pengecualian pada saat mazmur. Pertanyaan ketujuh menghasilkan jawaban sebagai berikut: lima informan menjawab bahwa lagulagu lokal dirasa lebih meriah dan sesuai dengan kebudayaan setempat. Tiga informan lainnya menjawab bahwa pemilihan lagu-lagu lokal dilandasi oleh alasan lainnya, yaitu masih terdapat umat yang kurang memahami asas-asas liturgi yang benar. Pada pertanyaan ke delapan, semua informan sepakat menjawab bahwa selain masalah kemeriahan lagu dan pemahaman umat akan asas-asas liturgi yang tepat, tetapi juga karena masih terdapat umat yang kurang memahami bahasa Indonesia. Pada pertanyaan kesembilan dihasilkan jawaban sebagai berikut: semua informan sepakat menjawab bahwa untuk menjalankan upaya pembaharuan, perlu adanya keterlibatan secara aktif para kaum hirarki secara khusus yang memiliki spesialisasi pendidikan liturgi untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman bagi umat. Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 Bertolak dari temuan di atas, menjadi jelas bahwa masih terdapat banyak umat yang tidak memahami pelaksanaan liturgi inkulturatif melalui nyanyian liturgi inkulturatif dan liturgi itu sendiri. Sebelum terlaksananya liturgi inkulturatif melalui nyanyian liturgi inkulturatif, perlulah diketahui deskripsi dan makna liturgi itu sendiri. Secara umum, liturgi merupakan keseluruhan tatanan ibadah umat Kristiani untuk memuji Allah. Temuan hasil di atas menampilkan beberapa informan yang memahami liturgi sebagai kebaktian Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayub Rusmanto dan rekan-rekannya. Dikatakan bahwa liturgi merupakan sebuah komunio umat beriman yang berkumpul untuk memanjatkan doa dan puji syukur bagi Allah (Rusmanto et al. , 2. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Fransiskus Daeli dan Silitonga dengan bersandar pada Konsili Vatikan II, menyebutkan bahwa liturgi merupakan sebuah perayaan yang merayakan misteri keselamatan Allah. Pada perayaan ini diungkapkan seluruh kekhasankekhasan Gereja Katolik dan menjadi sebuah media bagi terbentuknya persekutuan umat Allah yang teguh dan ditujukan untuk kepenuhan dengan Allah (Daeli & Silitonga, 2. Secara etimologis, liturgi berasal dari bahasa Yunani leitorgia. Kata leitorgia terbentuk dari akar kata benda: ergon, yang berarti karya, dan leitos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda: laos. Secara harafiah, liturgi diartikan sebagai karya untuk kepentingan bersama dan merupakan karya yang dikerjakan secara bersama-sama. Seiring berjalannya waktu, liturgi diartikan sebagai kebaktian bersama yang dirayakan guna terungkapnya misteri-misteri Allah (Martasudjita, 2. Dari pengertian ini dapat diartikan bahwa liturgi merupakan karya bersama yang dilakukan untuk mencapai persekutuan umat beriman dan disatukan oleh Allah, guna mencari dan mengungkapkan karya-karya keselamatan Allah yang diungkapkan melalui Putra-Nya Yesus Kristus. Liturgi pada praktiknya mesti berjalan bersama dengan kebijakan-kebijakan budaya setempat. Hal ini bukan saja menjadi pertimbangan terhadap kepentingan misi pewartaan Injil, melainkan untuk membangun sebuah liturgi yang inkulturatif. Dari temuan hasil di atas diketahui bahwa liturgi inkulturatif merupakan liturgi yang terintegrasi dengan kekhasan-kekhasan budaya lokal. Proses integrasi kekhasankekhasan budaya lokal yang menjadi wajah liturgi inkulturatif dibahas secara jelas oleh Paskalis Langgu dalam penelitiannya. Ia mengatakan bahwa liturgi inkulturatif menjadi sebuah bentuk keterbukaan Gereja Katolik terhadap kebaruan-kebaruan dunia. Gereja Katolik akhirnya terbuka dan mengerti bahwa tradisitradisi lokal mempunyai nilai-nilai posiitif untuk diserap, agar liturgi menjadi perayaan yang lebih atraktif dan tentunya tetap bersumber pada kelimpahan Kristiani (Langgu, 2. Paulinus Tibo dan Emanuel Martasudjita dalam sebuah penelitian menegaskan juga bahwa liturgi inkulturatif menjadi tanda bahwa Gereja Katolik telah membuka diri seluas-luasnya terhadap dinamika dunia (Tibo & Martasudjita, 2. Pada prosesnya, liturgi inkulturatif terdiri dari serangkaian ritus. Mengikuti liturgi inkulturatif secara umum, maka dalam liturgi inkulturatif terdapat pula nyanyian liturgi inkulturatif. Temuan yang terdapat pada hasil di atas, dikatakan bahwa terdapat pemahaman umat akan nyanyian liturgi inkulturatif. Paulinus Tibo dan Emanuel Martasudjita dalam sebuah penelitian mengatakan bahwa nyanyian liturgi inkulturatuif diadakan bukan semata-mata karena keterbukaan Gereja Katolik terhadap dunia, tetapi juga menjadi salah Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 satu cara agar umat beriman mengikuti proses liturgi secara aktif dan sungguh-sungguh menghayati misteri Kristus (Tibo & Martasudjita, 2. Liturgi inkulturatif yang diungkapkan melalui nyanyian liturgi inkulturatif mesti dilakukan secara Tahapan-tahapan ini menjadi semacam asas yang perlu diperhatikan agar liturgi berjalan sebagaimana mestinya liturgi tersebut diinkulturasi. Pelaksanaan sesuai asas-asas dijalankan agar sebuah liturgi tidak berjalan dalam konteks budaya melulu dan/atau nyanyian-nyanyian liturgi inkulturasi tidak melulu menjadi pilihan utama serta mengabaikan ketetapan-ketetapan umum liturgi seperti yang ditemukan pada hasil di atas tetapi lebih-lebih perlu dipadukan agar menghasil sebuah budaya baru dalam pelaksanaan Sebelum mengetahui asas-asas berupa tahapan-tahapan inkulturasi liturgi, perlulah untuk diketahui dasar teologi inkulturasi liturgi. Teologi inkulturasi liturgi lahir dari misteri perutusan Trinitas, yakni perutusan Putra oleh Bapa dalam Roh Kudus dan sekaligus Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Putra. Kedua perutusan ini melayani rencana keselamatan Allah (Martasudjita, 2. Selanjutnya, inkulturasi dalam liturgi melalui nyanyian liturgi inkulturatif meski mengungkapkan tiga aspek: . misteri inkarnasi. Misteri inkarnasi menjadi salah satu penggungkapan yang perlu diungkap oleh budaya baru yang dihasilkan. Budaya baru dalam liturgi yang dihasilkan menjadi medan yang luas bagi Konteks kehidupan umat beriman menjadi medan masuknya Allah. misteri paskah. Inkulturasi liturgi mesti mengungkapkan kisah kebangkitan Kristus: lahir, wafat dan bangkit. Melalui inkulturasi, liturgi mengungkapkan misteri paskah secara baru berupa penebusan yang dihayati lebih nyata sesuai kekhasankekhasan budaya lokal. misteri pentakosta. Roh Kudus telah dicurahkan bagi manusia agar manusia dibekali dengan rahmat kekuatan pembaharuan. Inkulturasi liturgi menjadi salah satu medan perjumpaan manusia dengan Allah dan Putra dalam budaya yang lebih baru (Martasudjita, 2. Lebih lanjut, inkulturasi liturgi melalui nyanyian liturgi inkulturatif mesti melalui tiga tahapan. Bersandar pada pendapat P. Schineller. Emanuel Martasudjita menyatakan bahwa tiga tahapan tersebut, antara lain: . tahap pengambil-alihan . Tahapan ini sejatinya tidak termasuk dalam tahap inkulturasi liturgi. Namun demikian tahapan ini menjadi tahap pertama sebab sebelum dilakukannya inkulturasi, liturgi yang asli menjadi gambaran awal yang senantiasa dilaksanakan. tahap penerjemahan. Pada tahap ini terjadi penerjemahan seluruh teks-teks liturgi bagi Tata Perayaan Ekaristi (TPE) maupun teksteks nyanyian. Namun demikian, pada tahap ini perlu mempertimbangkan kekhasan sakralitas liturgi itu Beberapa bagian tidak perlu diterjemahkan agar kesakralan liturgi tetap terjaga dan otentik. tahap Pada tahap ini dilakukan adaptasi segala ritus dalam liturgi. Pada tahap ini juga dilakukan pembatasan pada penerbitan teks-teks yang digunakan dalam liturgi dan mengatur segala macam bentuk kaidah-kaidah yang sesuai dengan ritus Roma. Pada tahapan ini juga menuntut peranan ordinaris wilayah untuk mengintervensi proses inkulturasi liturgi (Martasudjita, 2. Ketiga tahap ini dalam penelitian yang dilakukan oleh Kartono disebut sebagai langkah-langkah umum yang perlu diperhatikan oleh para ordinaris wilayah dalam Gereja Katolik. Langkah-langkah ini mesti dilewati satu persatu agar proses inkulturasi dapat berjalan secara tepat (Kartono, 2. Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 Proses inkulturasi liturgi melalui nyanyian liturgi inkulturatif pada prosesnya juga mesti membutuhkan pendampingan oleh kaum hirarki selaku ordinaris wilayah. Inkulturasi liturgi merupakan sebuah wacana lama yang masih belum secara sempurna dilaksanakan. Temuan yang didapatkan pada hasil di atas terungkap bahwa minimnya pemahaman umat tentang inkulturasi liturgi, nyanyian-nyanyian liturgi, dan liturgi itu sendiri. Minimnya pengetahuan ini tidak terlepas dari perananan kaum hirakrki dalam memberikan edukasi bagu umat. Umat mengharapkan bahwa edukasi akan inkulturasi liturgi dapat dilaksanakan agar kesesuaian dalam menjalankan liturgi dapat terjadi dan liturgi dapat berjalan secara tepat. Di lain sisi, keterlibatan kaum hirarki dalam meberikan edukasi ini menjadi rekomendasi peneliti bagi para peneliti lainnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan masalah-masalah dalam liturgi. Penelitian ini akhirnya memberikan implikasi konkrit bagi umat di Stasi Uabau Paroki Santo Yohanes Rasul Rafau Keuskupan Atambua. Umat akhirnya memahami liturgi inkulturatif dan berkomitmen untuk melakukan inkulturasi dalam menentukan nyanyian-nyanyian liturgi. Di samping itu, umat memahami bahwa kebijaksanaan-kebijaksanaan budaya lokal mereka memiliki sumbangsih secara positif bagi transformasi Gereja Katolik di dunia dan umat semakin memahami keberadaan liturgi sebagai sebuah perayaan yang menyempurnakan persekutuan umat Allah dengan Allah dalam mengungkapkan mistermisteri dari karya keselamatan Allah. KESIMPULAN Liturgi inkulturatif melalui nyanyian-nyanyian liturgi inkulturatif menjadi salah satu tanda bahwa Gereja Katolik bertransformasi melalui aspek liturgi. Transformasi Gereja Katolik ini juga menjadi tanda bahwa terdapat keterbukaan dengan dunia dan seluruh dinamikanya. Realitas pemahaman umat akan liturgi inkulturatif melalui nyanyian-nyanyian liturgi inkulturatif di Stasi Uabau Paroki Santo Yohanes Rasul Rafau Keuskupan Atambua menjadi salah satu tanda bahwa Gereja Katolik belum sepenuhnya bertransformasi. Namun demikian kehadiran penelitian ini menjadi sebuah langkah edukasi yang tepat. Keterbukaan umat beriman di Stasi Uabau Paroki Santo Yohanes Rasul Rafau Keuskupan Atambua akan kekurangannya sebagai sebuah persekutuan Gereja Katolik menjadi tanda bahwa terdapat upaya-upaya di baliknya untuk memperbaiki. Litugi inkulturatif melalui nyanyian-nyanyian liturgi inkulturatif diharapkan mampu menjadi salah satu mediasi iman bagi umat untuk terus hidup dalam penghayatan akan Kristus. Keterbukaan ini juga menjadi kesadaran baru bagi Gereja Katolik sebagai institusi duniawi untuk terus menerus memberikan edukasi bagi umat. DAFTAR PUSTAKA