Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number , 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Civic Education through Problem-Based Learning at MIS Baiturrahman: Fostering Critical Thinking and Social Responsibility Naima1. Nurmala La Siga2 1 MIS Baiturrahman 2 MIs Nurul Hasan Correspondence: naima196808@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Problem-Based Learning. Civics Education. PPKN. Classroom Action Research. MIS Baiturrahman, critical thinking, student engagement. ABSTRACT This study aims to improve students' understanding and engagement in Civics Education (PPKN) at MIS Baiturrahman through the implementation of the Problem-Based Learning (PBL) model. Civics Education plays a crucial role in shaping students' character, social awareness, and critical thinking skills. However, traditional teaching methods often fail to actively engage students and develop these essential PBL is a student-centered approach that involves presenting realworld problems to students, encouraging them to collaborate, think critically, and apply their knowledge to solve complex issues. This research uses a Classroom Action Research (CAR) approach conducted in two cycles, with 5th-grade students as participants. Data was collected through observations, student assessments, and interviews with both teachers and The results show that the implementation of PBL significantly enhanced students' involvement in PPKN lessons. Students became more motivated and actively participated in problem-solving discussions. Additionally, their ability to connect civic concepts to real-life situations improved, demonstrating that PBL can make Civics Education more relevant and meaningful. Teachers also reported positive changes in classroom dynamics, with increased student collaboration and independent The study concludes that PBL is an effective teaching model to improve students' understanding of Civics Education, as it fosters critical thinking, collaboration, and a deeper connection to social issues. It is recommended that MIS Baiturrahman and other schools consider adopting this model to enhance student engagement and learning outcomes in Civics Education. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraa. merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan kesadaran sosial siswa. Indonesia. PPKn tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai nilai-nilai Pancasila dan dasar-dasar kehidupan bernegara, tetapi juga untuk mengembangkan sikap tanggung jawab sosial dan nasionalisme. Pada tingkat sekolah dasar, seperti di MIS Baiturrahman, pengajaran PPKn perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak agar mereka dapat memahami dan mengaplikasikan konsep-konsep kewarganegaraan dalam kehidupan sehari-hari (Budi, 2. Namun, dalam kenyataannya, pembelajaran PPKn di banyak sekolah, termasuk di MIS Baiturrahman, sering kali berjalan secara tradisional, di mana siswa lebih banyak menerima informasi dari guru tanpa adanya kesempatan untuk menerapkannya dalam situasi nyata. Hal ini menyebabkan siswa cenderung pasif dan kurang mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sosial mereka. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang lebih aktif dan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kontekstual perlu diterapkan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai yang diajarkan dalam PPKn (Halimah, 2. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dalam pembelajaran PPKn di MIS Baiturrahman diharapkan dapat memberikan dampak positif. Model ini memfokuskan pembelajaran pada pengajuan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, yang mengharuskan mereka untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan mencari solusi bersama. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir lebih dalam mengenai isu-isu sosial dan kewarganegaraan (Salim, 2. Dengan menggunakan PBL, siswa diajak untuk menyelesaikan masalah yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga sosial, yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Misalnya, masalah mengenai toleransi antar sesama, kerjasama dalam kehidupan bernegara, atau cara mengatasi perbedaan dalam masyarakat. Melalui diskusi kelompok dan pemecahan masalah ini, siswa tidak hanya mengingat konsep-konsep yang diajarkan, tetapi juga memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka (Suryani, 2. Namun, penerapan PBL dalam pembelajaran PPKn di tingkat dasar menghadapi beberapa Salah satunya adalah kesiapan guru dalam mengimplementasikan model ini dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah membutuhkan keterampilan guru untuk merancang masalah yang tepat, mengelola diskusi kelas, serta memberi umpan balik yang Tanpa keterampilan ini. PBL bisa jadi kurang efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan (Budi, 2. Selain itu, pengelolaan kelas menjadi tantangan lain dalam penerapan PBL. Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan siswa bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah yang diberikan. Hal ini membutuhkan kemampuan guru dalam mengelola dinamika kelas, agar setiap siswa dapat berpartisipasi dengan aktif. Dalam kelas yang heterogen, dengan kemampuan yang beragam, pengelolaan kelompok yang baik sangat diperlukan untuk memastikan setiap siswa terlibat dalam proses pembelajaran secara maksimal (Salim, 2. Tantangan berikutnya adalah waktu yang dibutuhkan untuk proses diskusi dalam PBL. Pembelajaran berbasis masalah, meskipun sangat bermanfaat dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman, seringkali membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional. Siswa harus diberikan waktu yang cukup untuk memahami masalah, mendiskusikan solusi, dan menyimpulkan hasil diskusi. Oleh karena itu, manajemen waktu yang efektif sangat diperlukan agar seluruh materi pembelajaran dapat tercapai dengan baik tanpa terburu-buru (Suryani, 2. Namun, meskipun ada tantangan dalam penerapannya. PBL juga membawa banyak Salah satunya adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa dalam Ketika siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah, mereka belajar untuk bertanggung jawab tidak hanya terhadap diri mereka sendiri, tetapi juga terhadap keberhasilan kelompok. Hal ini mengembangkan keterampilan sosial mereka, seperti kerja sama, komunikasi, dan empati terhadap orang lain (Halimah, 2. Penerapan PBL dalam pembelajaran PPKn juga berpotensi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. PPKn sebagai mata pelajaran yang menyangkut nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara membutuhkan siswa untuk mampu berpikir secara kritis mengenai isu-isu sosial. Dengan menggunakan PBL, siswa tidak hanya belajar tentang nilai-nilai Pancasila, tetapi juga diajak untuk berpikir tentang bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menyelesaikan masalah sosial yang ada di masyarakat (Salim, 2. Di sisi lain. PBL memungkinkan siswa untuk lebih menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata mereka. Dalam pembelajaran tradisional, siswa mungkin merasa bahwa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 materi yang diajarkan tidak relevan dengan kehidupan mereka. Namun, dengan PBL, siswa dapat melihat hubungan langsung antara materi pembelajaran PPKn dengan isu-isu yang mereka hadapi dalam masyarakat. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan memberi kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan problem-solving yang penting dalam kehidupan (Budi, 2. Selain itu, penerapan PBL dalam pembelajaran PPKn juga dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran berbasis masalah memberikan kesempatan bagi siswa untuk menjadi pembelajar yang mandiri dan aktif mencari solusi terhadap masalah yang Dengan ini, siswa tidak hanya bergantung pada guru, tetapi mereka juga belajar untuk mencari informasi dan memecahkan masalah secara mandiri. Ini membentuk karakter siswa yang lebih proaktif dalam menghadapi tantangan (Halimah, 2. Penerapan PBL juga mendukung pengembangan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, komunikasi, dan kepemimpinan. Dalam proses diskusi kelompok, siswa saling berbagi ide, berkolaborasi untuk menemukan solusi, dan belajar untuk menghargai pendapat orang lain. Keterampilan sosial ini sangat penting dalam konteks pembelajaran PPKn yang mengajarkan nilai-nilai sosial dan kewarganegaraan, serta memperkuat kesadaran akan tanggung jawab mereka terhadap masyarakat (Suryani, 2. Secara keseluruhan, penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) di MIS Baiturrahman memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PPKn. Dengan membuat siswa terlibat dalam pemecahan masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. PBL dapat membuat pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna. Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila dan kemampuan mereka untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Salim, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PPKn di MIS Baiturrahman dengan menerapkan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL). PTK dipilih karena pendekatan ini memungkinkan guru dan peneliti untuk melakukan perbaikan secara langsung dalam pembelajaran dan mengevaluasi hasil perbaikan tersebut dalam siklus yang berulang. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, yang berfungsi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran seiring berjalannya waktu (Budi, 2. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 5 MI Baiturrahman, yang berjumlah 30 orang. Pemilihan subjek ini didasarkan pada kebutuhan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran PPKn, terutama dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan sosial Siswa di kelas ini cenderung memiliki beragam tingkat kemampuan, sehingga penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah diharapkan dapat memberikan ruang bagi mereka untuk bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila secara praktis (Halimah, 2. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan tes hasil Observasi dilakukan untuk menilai keterlibatan siswa dalam setiap tahap pembelajaran, seperti saat guru memberikan instruksi, siswa berdiskusi dalam kelompok, serta ketika mereka menyampaikan hasil pemecahan masalah. Wawancara dilakukan dengan guru dan beberapa siswa untuk mendapatkan umpan balik tentang pengalaman mereka selama pembelajaran berbasis masalah, serta untuk mengidentifikasi tantangan dan keberhasilan yang dialami (Salim, 2. Tes hasil belajar, berupa pre-test dan post-test, digunakan untuk mengukur perubahan dalam pemahaman dan penerapan materi PPKn oleh siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada siklus pertama, guru merancang pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah, di mana siswa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 diberikan masalah nyata yang berkaitan dengan isu-isu kewarganegaraan dan nilai-nilai Pancasila. Siswa bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah Setelah siklus pertama, dilakukan refleksi untuk mengevaluasi efektivitas model ini dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki untuk siklus berikutnya (Siti, 2. Pada setiap siklus, data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui observasi dan wawancara, yang akan dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan dinamika pembelajaran dan interaksi siswa. Data kuantitatif berasal dari hasil pre-test dan post-test yang digunakan untuk mengukur peningkatan pemahaman dan keterampilan siswa dalam materi PPKn. Perbandingan antara hasil pre-test dan post-test akan memberikan gambaran tentang efektivitas pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan hasil belajar siswa (Suryani, 2. Refleksi dilakukan setelah setiap siklus untuk menilai efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Masalah dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan pencapaian hasil belajar. Pada tahap ini, guru bersama peneliti akan mengevaluasi proses pembelajaran, menganalisis tantangan yang dihadapi, dan merencanakan perbaikan yang dapat dilakukan pada siklus berikutnya. Dengan cara ini, pembelajaran dapat diperbaiki secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitasnya (Budi, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengevaluasi keberhasilan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dalam pembelajaran PPKn di MIS Baiturrahman. Dengan menggunakan pendekatan PTK, penelitian ini bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, relevan, dan bermakna, yang dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang nilai-nilai kewarganegaraan dan memperkuat karakter mereka sebagai warga negara yang baik (Salim, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dalam pembelajaran PPKn di MIS Baiturrahman. Salah satu temuan utama dari siklus pertama adalah peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Sebelumnya, banyak siswa yang menunjukkan ketidakaktifan dan lebih banyak mendengarkan tanpa berpartisipasi Namun, dengan diterapkannya PBL, siswa menjadi lebih terlibat dalam setiap tahap diskusi dan pemecahan masalah. Model ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbicara, bertanya, dan berkolaborasi, yang mendorong mereka untuk lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran (Budi, 2. Pada siklus kedua, temuan menunjukkan bahwa keterlibatan siswa semakin meningkat, terutama dalam hal kolaborasi kelompok. Dalam kelompok, siswa bekerja sama untuk memecahkan masalah yang diberikan dan saling berbagi ide. Hal ini mendorong mereka untuk belajar satu sama lain, saling mendengarkan pendapat, dan menyatukan pemikiran mereka. Melalui diskusi kelompok, mereka menjadi lebih percaya diri dan terbuka untuk memberikan kontribusi, baik dalam menyampaikan pendapat maupun dalam mendengarkan solusi dari teman sekelompoknya. Ini menandakan bahwa PBL berhasil menciptakan suasana yang lebih dinamis dan interaktif (Suryani, 2. Selain peningkatan keterlibatan, kemampuan berpikir kritis siswa juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sebelum penerapan PBL, banyak siswa yang kesulitan dalam mengidentifikasi masalah dan memberikan solusi yang kreatif. Namun, setelah mereka terlibat dalam diskusi kelompok yang berbasis masalah, mereka mulai mampu menganalisis situasi dan mencari solusi dengan cara yang lebih kritis. Pembelajaran yang berbasis pada masalah nyata membuat siswa belajar berpikir lebih mendalam dan lebih sistematis dalam memecahkan masalah yang dihadapi (Salim, 2. Salah satu temuan lainnya adalah peningkatan kemampuan komunikasi siswa, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dalam PBL, siswa sering diminta untuk menyampaikan hasil Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 diskusi kelompok mereka di depan kelas. Hal ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk berlatih berbicara di depan umum dan menyampaikan ide mereka secara jelas dan terstruktur. Proses ini tidak hanya mengasah keterampilan berbicara, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka untuk mendengarkan dan merespons pendapat orang lain. Meskipun beberapa siswa awalnya merasa canggung berbicara di depan kelas, mereka mulai merasa lebih percaya diri setelah beberapa kali latihan (Siti, 2. Namun, meskipun ada peningkatan dalam keterlibatan dan keterampilan komunikasi, tantangan terbesar yang dihadapi adalah pengelolaan waktu dalam penerapan PBL. Pembelajaran berbasis masalah membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan metode konvensional, karena siswa perlu diberikan waktu untuk berdiskusi, mencari informasi, dan menyimpulkan hasil pemecahan masalah mereka. Dalam beberapa kasus, waktu yang terbatas membuat diskusi kelompok terhambat dan tidak semua kelompok dapat menyelesaikan masalah dengan optimal. Oleh karena itu, pengelolaan waktu yang efektif sangat penting dalam PBL untuk memastikan bahwa semua kelompok dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik (Budi, 2. Selain pengelolaan waktu, tantangan lainnya adalah keberagaman kemampuan siswa dalam memahami masalah. Meskipun PBL dirancang untuk melibatkan semua siswa, beberapa siswa yang memiliki tingkat pemahaman yang lebih rendah merasa kesulitan dalam mengikuti diskusi kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun PBL efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa, masih ada kebutuhan untuk memberikan perhatian khusus pada siswa yang membutuhkan bantuan lebih. Guru perlu memastikan bahwa setiap siswa, terlepas dari kemampuan akademiknya, mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi dan menyelesaikan masalah (Salim, 2. Penerapan PBL juga memperlihatkan adanya perubahan dalam sikap sosial siswa. Siswa yang sebelumnya kurang peduli terhadap nilai-nilai kewarganegaraan dan Pancasila mulai menunjukkan rasa tanggung jawab yang lebih besar. Dalam diskusi, mereka mulai memperhatikan pentingnya bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan menyelesaikan masalah bersama. Pembelajaran yang berbasis masalah yang relevan dengan kehidupan nyata membantu siswa untuk lebih memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai kewarganegaraan, seperti toleransi, gotong royong, dan keadilan (Suryani, 2. Pada siklus kedua, kemampuan menulis siswa juga mengalami peningkatan. Dalam PBL, siswa diminta untuk menyusun laporan hasil diskusi kelompok mereka, yang melibatkan penyusunan argumen dan presentasi tertulis. Tugas ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengasah keterampilan menulis mereka, terutama dalam menyusun kalimat yang jelas dan terstruktur. Penerapan PBL yang melibatkan penulisan laporan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan menulis siswa, tetapi juga memperkuat pemahaman mereka terhadap materi yang dibahas dalam diskusi kelompok (Budi, 2. Namun, meskipun ada banyak manfaat yang didapat dari penerapan PBL, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam mengikuti instruksi yang lebih kompleks. Beberapa siswa merasa kebingungan saat diberikan masalah yang membutuhkan pemikiran mendalam, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial dan kewarganegaraan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun PBL efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa, perlu ada penyesuaian lebih lanjut dalam merancang masalah agar sesuai dengan tingkat pemahaman semua siswa (Salim, 2. Temuan lainnya terkait dengan pengelolaan kelompok. Pada beberapa kelompok, dinamika kelompok yang tidak seimbang dapat menghambat proses diskusi. Beberapa siswa yang lebih dominan mengambil alih percakapan, sementara siswa yang lebih pendiam cenderung tidak Hal ini menunjukkan bahwa meskipun PBL mendorong kolaborasi, guru perlu memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara dan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mengemukakan pendapat mereka. Guru harus memainkan peran aktif dalam memfasilitasi diskusi agar semua siswa terlibat secara adil (Siti, 2. Meskipun demikian. PBL terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara keseluruhan. Hasil dari pre-test dan post-test menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan signifikan dalam pemahaman materi PPKn, terutama terkait dengan nilai-nilai Pancasila dan Pembelajaran berbasis masalah membuat siswa tidak hanya menghafal konsep-konsep tersebut, tetapi juga memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa PBL adalah model yang efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran PPKn (Suryani, 2. Secara keseluruhan, penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) di MIS Baiturrahman berhasil meningkatkan keterlibatan siswa, kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, serta pemahaman terhadap materi PPKn. Meskipun terdapat tantangan dalam hal pengelolaan waktu, pengelolaan kelompok, dan keberagaman kemampuan siswa. PBL terbukti sangat efektif dalam membuat pembelajaran lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Model ini membantu siswa untuk berpikir lebih kritis, bekerja sama, dan mengaplikasikan nilai-nilai kewarganegaraan dalam kehidupan sehari-hari (Salim. CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dalam pembelajaran PPKn di MIS Baiturrahman. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui dua siklus, dapat disimpulkan bahwa PBL memiliki dampak positif yang signifikan terhadap keterlibatan siswa, kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, serta pemahaman materi PPKn secara keseluruhan. Model ini berhasil menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, relevan, dan bermakna bagi siswa, sehingga mereka lebih termotivasi dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. Salah satu temuan utama adalah peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Sebelum penerapan PBL, sebagian besar siswa cenderung pasif dan kurang aktif dalam mengikuti pelajaran PPKn. Dengan penerapan PBL, siswa mulai aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan pendapat mereka. Diskusi kelompok yang terstruktur dan fokus pada pemecahan masalah memungkinkan siswa belajar dari teman-temannya, meningkatkan interaksi sosial, serta membangun rasa percaya diri. Keterlibatan ini menjadi indikator bahwa siswa mulai memahami pentingnya peran mereka dalam proses pembelajaran dan belajar untuk bekerja sama dalam kelompok (Budi, 2. Selain itu. PBL juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam pembelajaran berbasis masalah, siswa ditantang untuk menganalisis situasi, mengidentifikasi permasalahan, dan merumuskan solusi secara sistematis. Penerapan PBL membuat siswa tidak hanya memahami teori PPKn, tetapi juga mampu mengaitkan konsep-konsep kewarganegaraan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membantu siswa mengembangkan keterampilan analisis dan penalaran yang mendalam, yang sangat penting dalam konteks pembelajaran PPKn (Salim, 2. Kemampuan berkomunikasi siswa juga mengalami peningkatan signifikan. Siswa diajak untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara lisan maupun tertulis, sehingga mereka terlatih menyampaikan ide secara jelas dan sistematis. PBL memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar mendengarkan, merespon, dan menghargai pendapat teman-temannya. Dengan demikian, keterampilan komunikasi siswa meningkat, yang juga berdampak positif pada kerja sama dalam kelompok dan interaksi sosial mereka (Suryani, 2. Selain keterampilan berpikir dan komunikasi, penerapan PBL turut meningkatkan pemahaman materi PPKn. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pemahaman konsep-konsep Pancasila, kewarganegaraan, dan nilai-nilai sosial. Siswa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam konteks kehidupan nyata. Pembelajaran berbasis masalah membuat materi PPKn lebih relevan, sehingga siswa lebih mudah menginternalisasi konsep-konsep yang diajarkan (Halimah, 2. Meskipun PBL menunjukkan banyak manfaat, penelitian ini juga menemukan beberapa Salah satunya adalah pengelolaan waktu, karena proses diskusi dan penyelesaian masalah membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan metode tradisional. Selain itu, keberagaman kemampuan siswa menjadi tantangan, karena beberapa siswa memerlukan bimbingan tambahan untuk memahami masalah yang kompleks. Pengelolaan kelompok juga memerlukan perhatian agar setiap siswa terlibat secara aktif dan tidak ada yang dominan atau pasif dalam diskusi (Budi, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PPKn di MIS Baiturrahman. PBL tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan keterampilan sosial siswa. Dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi nyata. PBL membuat pembelajaran lebih bermakna dan relevan. Meskipun terdapat tantangan dalam pengelolaan waktu dan keberagaman kemampuan siswa, penerapan PBL memberikan manfaat signifikan dan layak dijadikan sebagai metode utama dalam pembelajaran PPKn. Dengan bimbingan guru yang tepat dan perencanaan yang matang. PBL dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang kritis, bertanggung jawab, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat (Salim, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES