SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Kelompok Bidang: Keanekaragaman Hayati dan Bioprospeksi Keanekaragaman Jenis Serangga pada Lahan Tanaman Cabai yang Berbatasan dengan Hutan Desa Karangsari oleh Firmansah, Ika Karyaningsih dan Ai Nurlaila PRODI Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Kuningan acahfirmansah@gmail.com ABSTRAK Interaksi antara serangga dan tanaman mendapat keuntungan berupa serbuksari dan nektar sebagai sumber pakam, tempat berlindung dan tempat berkembang biak. Bagi Tumbuhan, interaksi dengan serangga memberi keuntungan yang merupakan bertemunya serbuksari dengan kepala putik. Cabai merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kebutuhan cabai meningkat tiap tahunnya sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industry yang membutuhkan bahan baku cabai. Pembudidayaan cabai oleh petani di Desa Karangsari, berdasarkan wawancara yang telah dilakukan mengalami beberapa masalah yakni adanya serangan organisme penganggu tanaman (OPT) yaitu serangan hama dan penyakit, dalam mengatasi OPT tersebut petani menggunakan insektisida. Pemanfaatan insektisida yang tidak tepat dalam mengendalikan hama pada tanaman dapat meninggalkan efek samping seperti hama sasaran menjadi resisten terhadap insektisida, serta matinya hewan non target. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis serangga dan peran ekologis dari serangga tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan scan sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Indeks keanekaragaman Shannon-wiener. Ditemukan sebanyak 168 individu, 26 genus dan 21 famili yang terbagi kedalam 7 ordo pada lahan tanaman cabai yang berbatasan dengan hutan di desa karangsari, Ordo-ordo tersebut terdiri dari Coleoptera, Dermaptera, Diptera, Hemiptera, Hymenoptera, Lepidoptera dan Orthoptera dengan tingkat keanekeragaman serangga 2.05. Kata kunci: keanekaragaman hayati, serangga, tanaman cabai, jasa ekologis ABSTRACT The interactions between insects and plants benefit from pollen and nectar as a source of food, shelter and breeding grounds. The need for chilies increases every year in line with the increasing population and the development of industries that require chili raw materials. The cultivation of chili peppers by the farmers in the Village of Karangsari, experiencing some problems, namely the plant disturbing organisms (PDO), cope with the PDO farmers using insecticides. Utilization of insecticide that is not appropriate in controlling pests, can cause side effects such as target pests are becoming resistant to insecticides, as well as the death of the animal non-target. The purpose of this study was to determine the diversity of insect species and the ecological role of these insects. The method used in this research is survey method and scan sampling. The data analysis in this study used the Shannon-Wiener diversity index. As many as 168 individuals, 26 genera and 21 families were found which were divided into 7 orders on the chili plantations bordering the forest in Karangsari village, these orders consisted of Coleoptera, Dermaptera, Diptera, Hemiptera, Hymenoptera, Lepidoptera and Orthoptera with levels of insect diversity 2.05. Keywords: diversity, insects, chili plants, ecological services 11 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 PENDAHULUAN Serangga merupakan spesies hewan yang jumlahnya paling dominan di antara spesies hewan lainnya dalam filum Arthropoda maupun hewan lainnya dan terdapat dimana-mana. Serangga memiliki karakter yang beragam dalam hal struktur sayap, antena, bentuk tubuh, dan ciri morfologi lainnya. Serangga juga memiliki peran yang beragam dalam hubungannya dengan tumbuhan dan hewan lainnya termasuk manusia (Kedawung et al, 2013). Interaksi antara serangga dan tanaman mendapat keuntungan berupa serbuksari dan nektar sebagai sumber pakam, tempat berlindung dan tempat berkembang biak. Bagi Tumbuhan, interaksi dengan serangga memberi keuntungan yang merupakan bertemunya serbuksari dengan kepala putik (Purba, et al, 2015). Cabai merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kebutuhan cabai meningkat tiap tahunnya sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industry yang membutuhkan bahan baku cabai (Putra, et al., 2019). Desa Karangsari yang termasuk wilayah Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan pertanian yang sebagian besar ditanami dengan tanaman sayuran, kehadiran serangga penyerbuk pada lahan pertanian Desa Karangsari sangat penting dalam membantu proses penyerbukan, sehingga terjadi produksi tanaman sayuran. Pembudidayaan cabai oleh petani di Desa Karangsari, berdasarkan wawancara yang telah dilakukan mengalami beberapa masalah yakni adanya serangan organisme penganggu tanaman (OPT) yaitu serangan hama dan penyakit. Cara yang digunakan oleh para petani untuk menanggulangi hama dan penyakit tersebut adalah dengan penggunaan insektisida. Insektisida adalah zat kimia sintesis yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan hama dan penyakit yang disebabkan oleh serangga yang menyerang tanaman. Pengunaan bahan-bahan kimia tersebut dalam hal ini insektisida dapat meninggalkan residu dalam tanaman, pencemaran lingkungan baik tanah, air dan udara dan dapat berdampak pula pada kesehatan manusia. Pemanfaatan insektisida yang tidak tepat dalam mengendalikan hama pada tanaman dapat meninggalkan efek samping seperti hama sasaran menjadi resisten terhadap insektisida, serta matinya hewan non target. Hewan non target adalah yang dimungkinkan terdampak dengan penggunaan pestisida tersebut adalah serangga penyerbuk atau polinator. Selain itu, Desa Karangsari merupakan daerah tepian hutan di Kabupaten Kuningan yang kaya akan flora dan fauna yang belum banyak teridentifikasi. Oleh karena letaknya yang unik yaitu berbatasan dengan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai, ekosistem pertanian yang ada didaerah itu tidak akan terlepas dari pengaruh hutan yang ada disekitarnya. Jadi, perlu digali lebih lanjut mengenai keanekaragaman jenis dan fungsi ekologi dari serangga yang terdapat pada lahan tersebut. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana keanekaragaman jenis serangga pada tanaman cabai yang ditanam pada lahan yang berbatasan dengan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Desa Karangsari Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan; 2) Bagaimana fungsi ekologis serangga disekitar tanaman cabai yang ditanam pada lahan yang berbatasan dengan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Desa Karangsari Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. 12 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengetahui keanekaragaman jenis serangga pada tanaman cabai yang ditanam pada lahan yang berbatasan dengan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Desa Karangsari Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan; 2) Mengetahui fungsi ekologis serangga disekitar tanaman cabai yang ditanam pada lahan yang berbatasan dengan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Desa Karangsari Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2020 selama 1 minggu. Lokasi penelitian yakni lahan tanaman cabai yang ditanam pada lahan yang berbatasan dengan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Desa Karangsari Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Gambar 1. Titik pengamatan (TP) keanekaragaman jenis serangga Alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 1) Jaring serangga (sweep net); 2) Perangkap jatuh (pit fall trap); 3) Perangkap kuning (yellow trap); 4) Perangkap cahaya (light trap); 5) Suntikan; 6) Alkohol 70%; 7) Tempat specimen; 8) Kertas label; 9) Meteran gulung; 10) Tally sheet; 11) Alat tulis menulis; 12) Kamera; 13) Buku panduan identifikasi serangga; 14) Microsoft Office Excel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan scan sampling. Metode survey dilakukan dengan menjelajahi lokasi yang menjadi titik pengamatan dan mengamati, mencatat serta melakukan penangkapan serangga secara langsung. Metode scan sampling adalah metode yang digunakan dengan mendata langsung serangga yang berada titik pengamatan yang telah ditentukan sebelumnya. Pengamatan keanekaragaman serangga meliputi jumlah jenis dan jumlah individu yang teramati pada setiap titik 13 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 pengamatan. Pengambilan sampel menggunakan 4 (empat) metode yaitu jaring (sweep net), perangkap jatuh (pifall trap), perangkap kuning (yellow trap) dan perangkap cahaya (light trap). Penempatan lokasi pengamatan (titik pengamatan) menggunakan metode random sampling dengan mempertimbangkan keberadaan lahan tanaman cabai, dengan jarak terjauh 200 m dari kawasan hutan. Identifkasi serangga menggunakan data serangga yang tertangkap perangkap (jaring serangga, perangkap jatuh, perangkap kuning dan perangkap cahaya), identifikasi serangga berdasarkan pada ciri-ciri morfologi seperti panjang tubuh, warna tubuh, ada tidaknya sayap ataupun panjang pendeknya sungut, kemudian dalam mengindetifikasi menggunakan bantuan buku panduan serangga. Data yang didapat dilapangan kemudian dianalis menggunakan indeks keanekaragaman Shannonwiener (H’), Indeks keanekaragaman digunakan untuk membandingkan tinggi dan rendahnya keragaman jenis serangga yang ada di lokasi penelitian. Metode yang digunakan untuk menganalisis jasa ekologis serangga pada penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dimana didalamnya terdapat kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan serangga pada lahan tanaman cabai yang berbatasan dengan hutan Desa Karangsari yang dilakukan selama 7 hari pada bulan September 2020, ditemukan sebanyak 168 individu, 26 genus dan 21 famili yang terbagi kedalam 7 ordo, seperti pada tabel dibawah ini. Tabel 1. Keanekaragaman Serangga pada Lahan Tanaman Cabai yang berbatasan dengan Hutan Taman Nasional Gunug Ciremai di Desa Karangsari Nama Lokal ∑ Individu Henosepilachna vigintioctopuctata kumbang lembing 14 Coccinellidae Coccinella transversalis kumbang transversal 1 Dermaptera Forficulidae Forficula sp. cecopet 67 Diptera Asilidae Neoitamus cyanurus lalat perampok 1 Diptera Culicidae Aedes albopictus nyamuk hutan 23 Diptera Muscidae Stomoxys calcitrans lalat kandang 1 Diptera Sarcophagidae Sarcophaga sp. lalat daging 30 Diptera Stratiomyidae Exaireta spinigera lalat 1 Diptera Stratiomyidae Hermetia illucens lalat Diptera Tipulidae lalat bangau berbintik 1 Hemiptera Alydidae Nephrotoma appendiculata Leptocorisa oratorius Walang sangit 1 Ordo Famili Coleoptera Coccinellidae Coleoptera Genus anita hitam 1 14 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Ordo Famili Genus Nama Lokal ∑ Individu Hymenoptera Braconidae Stebnoracon nicevillei parasitoid 7 Hymenoptera Ichneumonidae Rhysa persuasoria Tawon pedang 1 Hymenoptera Ichneumonidae Pimpla tunonellae tawon 2 Hymenoptera Ichneumonidae Diplazon laetatorius tawon 5 Hymenoptera Apidae Apis sp. lebah 1 Lepidoptera Crambidae Herpetogramma sp. ngengat 1 Lepidoptera Hesperiidae Borbo cinnara skipper 1 Lepidoptera Nymphalidae Vanessa kershawi Lepidoptera Tortricidae Clepsis sp. Kupu – kupu Australia ngengat Orthoptera Acrididae Calliptamus sp. belalang 1 Orthoptera Gryllidae Tarbinskiellus portentosus gangsir 1 Orthoptera Gryllotalpidae Gryllotalpa gryllotalpa gaang 1 Orthoptera Tetrigidae Tetrix subulata belalang 1 Orthoptera Tettigoniidae Ducetia japonica belalang 1 Orthoptera Tettigoniidae Scudderia furcata belalang 1 anita bercat Jumlah 2 1 168 Dari tabel diatas diketahui bahwa jumlah individu tertinggi diperoleh dari ordo Dermaptera dengan jumlah individu 67 dari jenis Forficula sp. sedangkan jumlah individu terendah diperoleh dari ordo Hermaptera dengan jumlah individu 1 dari jenis Walang sangit (Leptocorisa oratorius). Keanekaragaman Jenis Serangga Berdasarkan Perangkap Dari penggunaan 4 perangkap diketahui bahwa penggunaan perangkap jatuh (pitfall trap) menunjukkan jumlah individu tertinggi yakni 66 individu namun menghasilkan jumlah jenis terendah yakni hanya 3 jenis sedangkan penggunaan perangkap jaring (sweep net) menunjukkan jumlah individu terendah yakni 12 individu dengan jumlah jenis yakni sebesar 12 jenis, seperti tersaji pada pada Gambar 5.2 dibawah ini. Menurut Nurminanti, et al. (2015) Perangkap jatuh (pitfall trap) digunakan untuk menangkap serangga pada permukaan tanah, serangga yang aktif pada siang atau malam hari hal tersebut sesuai dengan individu terbanyak yang tertangkap adalah serangga yang berada di permukaan tanah yakni cecopet (Forficula sp.). 15 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 66 65 70 60 50 40 25 30 12 20 10 0 Jaring (sweep net) perangkap cahaya (light trap) perangkap jatuh (pitfall trap) perangkap kuning (yellow trap) Gambar 2. Keanekaragaman Jenis Serangga Berdasarkan Perangkap Keanekaragaman Jenis Serangga Berdasarkan Titik Pengamatan Pada gambar 3 dibawah tersaji keanekaragaman serangga berdasarkan titik pengamatan, dapat diketahui jika titik pengamatan 1 merupakan titik pengamatan dengan jumlah individu tertinggi yakni sebanyak 77 individu dan titik pengamatan dengan jumlah individu terendah adalah titik pengamatan 5 yakni 1 individu . 40 37 35 31 30 25 22 25 20 13 15 13 12 12 TP 8 TP 9 TP 10 10 2 5 1 0 TP 1 TP 2 TP 3 TP 4 TP 5 TP 6 TP 7 Perbedaan jumlah serangga yang ditemukan pada setiap titik pengamatan dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya (Rachmasari et al, 2016), hal tersebut sesuai dengan keadaan di lapangan pada titik pengamatan 1 tanaman cabai sedang berbunga, selain itu lahan tersebut juga ditanami tanaman lain seperti kol dan pepaya, sedangkan pada titik pengamatan 5 lahan sudah dipanen sehingga hanya tersisa tanaman cabai yang hampir mengering karena sudah tidak dirawat oleh pemilik lahan. 16 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Gambar 3. Keanekaragaman Jenis Serangga Berdasarkan Titik Pengamatan Indeks Keanekaragaman Jenis Shannon – Wiener Pada Lahan Tanaman Berbatasan Dengan Hutan Desa Karangsari Cabai Yang Berdasarkan data dan perhitungan hasil penelitian, diperoleh nilai indeks keanekaragaman ShannonWiener (H’). Tabel 2. Indeks Keanekaragaman jenis Shannon – Wiener pada lahan tanaman cabai yang berbatasan dengan hutan Desa Karangsari Genus Nama Lokal Pi Ln Pi Pi.Ln Pi Henosepilachna vigintioctopuctata kumbang lembing 0.08 -2.48 -0.21 Coccinella transversalis kumbang transversal 0.01 -5.12 -0.03 Forficula sp. cecopet 0.40 -0.92 -0.37 Neoitamus cyanurus lalat perampok 0.01 -5.12 -0.03 Aedes albopictus nyamuk hutan 0.14 -1.99 -0.27 Stomoxys calcitrans lalat kandang 0.01 -5.12 -0.03 Sarcophaga sp. lalat daging 0.18 -1.72 -0.31 Exaireta spinigera lalat 0.01 -5.12 -0.03 Hermetia illucens lalat tentara hitam 0.01 -5.12 -0.03 Nephrotoma appendiculata lalat bangau berbintik 0.01 -5.12 -0.03 Leptocorisa oratorius Walang sangit 0.01 -5.12 -0.03 Rhysa persuasoria tawon pedang 0.01 -5.12 -0.03 Stebnoracon nicevillei parasitoid 0.04 -3.18 -0.13 Pimpla tunonellae tawon 0.01 -4.43 -0.05 Diplazon laetatorius tawon 0.03 -3.51 -0.10 Apis sp. lebah 0.01 -5.12 -0.03 Herpetogramma sp. ngengat 0.01 -5.12 -0.03 Borbo cinnara skipper 0.01 -5.12 -0.03 Vanessa kershawi 0.01 -4.43 -0.05 Clepsis sp. Kupu - kupu wanita bercat Australia ngengat 0.01 -5.12 -0.03 Calliptamus sp. belalang 0.01 -5.12 -0.03 Tarbinskiellus portentosus gangsir 0.01 -5.12 -0.03 Gryllotalpa gryllotalpa gaang 0.01 -5.12 -0.03 Tetrix subulata belalang 0.01 -5.12 -0.03 Ducetia japonica belalang 0.01 -5.12 -0.03 Scudderia furcata belalang 0.01 -5.12 -0.03 -2.05 Jumlah H' 2.05 17 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Nilai indeks keanekaragaman serangga yaitu 2.05. Nilai indeks keanekaragaman merupakan indikator kelimpahan atau banyak sedikitnya jenis serangga pada daerah tertentu. Banyak sedikitnya serangga disuatu daerah menunjukan tinggi rendahnya tingkat keanekaragaman serangga tersebut. Menurut Sudrajat et al., (2019) indeks keaneragaman yang berada pada rentang 1 – 3, dapat dikatakan jika keanekaragaman ditempat itu sedang, penyebaran jumlah individunya tiap spesiesnya sedang dan kesetabilan komunitasnya pun sedang. Indeks keanekaragaman Shannon-wiener pada tanaman cabai dengan tingkat sedang diduga disebabkan karena tidak banyak serangga yang berinteraksi pada tanaman cabai hal ini serupa dengan penelitian Effendi, et al pada 2019 mengenai yang memperoleh indeks Shannon-wiener 1.88. Selain itu tidak berbeda jauh dengan indeks keanekaragaman Shannon-wiener di bumi perkemahan pasir batang yang termasuk kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai dan berbatasan dengan lahan pertanian masyarakat, dimana pada penelitian Ahdiana et al, pada 2019 diketahui bahwa indeks keanekaragamannya 2.08. Peran Ekologis Serangga Pada Lahan Tanaman Cabai Yang Berbatasan Dengan Hutan Desa Karangsari Hasil dari penelitian ini mendapatkan 6 peran ekologis serangga yang ditemukan yaitu 8 jenis hama, 2 jenis predator, 1 jenis parasite, 1 jenis decomposer, 1 musuh alami, dan 2 pollinator, peran ekologis serangga yang ditemukan dengan lengkap disajikan pada tabel dibawah ini. Tabel 3. Peran ekologis Serangga yang ditemukan kumbang lembing Coccinellidae Henosepilachna vigintioctopuctata Coccinella transversalis Peran Ekologis hama kumbang transversal predator Dermaptera Forficulidae Forficula sp. cecopet predator Diptera Asilidae Neoitamus cyanurus Diptera Culicidae Aedes albopictus lalat perampok / robber flies nyamuk hutan Diptera Muscidae Stomoxys calcitrans lalat kandang Diptera Sarcophagidae Sarcophaga sp. lalat daging Diptera Stratiomyidae Exaireta spinigera lalat Diptera Stratiomyidae Hermetia illucens lalat tentara hitam Diptera Tipulidae Nephrotoma feruginae lalat bangau berbintik Hemiptera Alydidae Leptocorisa oratorius walang sangit hama Hymenoptera Braconidae Stebnoracon nicevillei parasitoid musuh alami Hymenoptera Ichneumonidae Rhysa persuasoria tawon pedang Hymenoptera Ichneumonidae Pimpla tunonellae tawon Hymenoptera Ichneumonidae Diplazon laetatorius tawon Hymenoptera Apidae Apis sp. lebah Ordo Famili Coleoptera Coccinellidae Coleoptera Genus Nama Lokal parasit dekomposer polinator 18 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Lepidoptera Crambidae Herpetogramma sp. ngengat Peran Ekologis hama Lepidoptera Hesperiidae Borbo cinnara skipper polinator Lepidoptera Nymphalidae Vanessa kershawi Kupu - kupu wanita bercat Australia Lepidoptera Tortricidae Clepsis sp. ngengat Orthoptera Acrididae Calliptamus sp. belalang Orthoptera Gryllidae Tarbinskiellus portentosus gangsir hama Orthoptera Gryllotalpidae Gryllotalpa gryllotalpa gaang / anjing tanah hama Orthoptera Tetrigidae Tetrix subulata belalang hama Orthoptera Tettigoniidae Ducetia japonica belalang hama Orthoptera Tettigoniidae Scudderia furcata belalang hama Ordo Famili Genus Nama Lokal KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan jika Pengamatan serangga pada lahan tanaman cabai yang berbatasan dengan hutan Desa Karangsari yang dilakukan selama 7 hari pada bulan September 2020, ditemukan sebanyak 168 individu, 26 genus dan 21 famili yang terbagi kedalam 7 ordo. Nilai indeks Shannon-wiener serangga pada lahan tanaman cabai adalah yaitu 2.05, yang menunjukkan keanekaragamannya sedang. Didapatkan 6 peran ekologis serangga yang ditemukan dan teridentifikasi yaitu 8 jenis hama, 2 jenis predator, 1 jenis parasit, 1 jenis dekomposer, 1 musuh alami, dan 2 polinator. DAFTAR PUSTAKA Ahdiana, R., A. Yayan, H., dan Nurdin. 2019. Keanekaragaman Jenis Serangga Di Bumi Perkemahan Pasir Batan Blok Karangsari Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Di dalam prosiding: Prosiding Seminar Nasional Konservasi Untuk Kesejahteraan Masyarakat; 12 Desember 2019. Kuningan : Fakultas Kehutanan Universitas Kunigan. Kedawung. Wachju dan Jekti. 2013. Keanekaragaman Serangga Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum MILL.) Di Area Pertanian Desa Sapikerep-Sukapura Probolinggo Dan Pemanfaatannya Sebagai Buku Panduan Lapang Serangga. Pancaran, 2 (4): 142-155. Nurmianti, Nova, H. dan Budiman. 2015. Diversitas Serangga Permukaan Tanah Pada Lokasi Budidaya Padi Sasak Jalan Di Loa Duri Kabupaten Kutai Kartanegara. Bioprospek 10 (2): 37-42. Purba, G., L. Marheini. Syahrial, O. 2015. Interaksi Tropik Serangga Diatas Permukaan Tanah Dan Permukaan Tanah Beberapa Pertanaman Varietas Jagung (Zea mays L.). Jurnal online agroteknologi 3 (3): 852 – 863. Putra, I., L., I. dan Litiatie B. U. 2019. Keanekaragaman Serangga Musuh Alami Pada Tanaman Cabai Di Desa Wiyoro, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Al-KaunIYAH: Jurnal Biologi 13 (1): 51 – 62 DOI: http://dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v13i1.1225. Rachmasari, O., D. Wahyu, P. dan Roro, E., P. 2016. Keanekaragaman Serangga Permukaan Tanah Di Arboretum Sumber Brantas Batu-Malang Sebagai Dasar Pembuatan Sumber Belajar Flipchart. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia 2 (2): 188-197. Sudarjat. Handayani, A. Rasiska, S. dan Kurniawan, W. 2019. Keragaman Dan Kelimpahan Arthropoda Pada Tajuk Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.) Varietas TM 999 Yang Diberi Aplikasi Insektisida Klorantraniliprol 35%. Jurnal Kultivasi 18 (2): 888-898. 19