Qismul Arab: Journal of Arabic Education Volume 5 Issue 01 Desember 2025. Page 1-10 ISSN: 2827-9476 (Onlin. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/qismul_arab/ Transformasi Praktik Penerjemahan Mahasiswa PBA melalui Pemanfaatan AI: Studi pada Mahasiswa UIN Ponorogo Najmaya Ayu Mustika Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo najmayaayu@gmail. DOI: https://doi. org/10. 62730/qismularab. Corresponding author: ajmayaayu@gmail. Article Info Abstrak Kata kunci: Transformasi, penerjemahan. AI Seiring berkembangnya teknologi, kegiatan penerjemahan juga bertransformasi dari penerjemahan manual ke penerjemahan digital dengan memanfaatkan platform berbasis AI. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi transformasi praktik penerjemahan mahasiswa PBA melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), seperti Google Translate. ChatGPT. Google Lens. DeepL, maupun Microsoft Translator. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa PBA semester 7 UIN Ponorogo berjumlah 24 orang. Data dikumpulkan melalui angket yang berjumlah 12 pertanyaan, yaitu 6 pertanyaan multi jawaban dan 6 pertanyaan skala Likert. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif untuk pertanyaan skala Likert dan analisis frekuensi-persentase untuk pertanyaan multi Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran signifikan dari praktik penerjemahan manual menuju penerjemahan berbasis AI. ChatGPT menjadi alat penerjemahan yang sering digunakan oleh mahasiswa PBA untuk membantu menyelesaikan tugas mereka. Akan tetapi. DeepL lebih disukai karena mampu menerjemahkan konteks panjang, mudah digunakan, dan hasil terjemahan cepat. Mayoritas mahasiswa memanfaatkan AI untuk menerjemahkan teks akademik dengan alasan kemudahan penggunaan, kecepatan, dan rekomendasi dosen/teman. Meskipun AI mempermudah dan mempercepat penerjemahan, mahasiswa menyadari keterbatasannya sehingga tetap membutuhkan peninjauan ulang untuk menjaga kualitas hasil terjemahan. Pemanfaatan AI telah mentransformasi praktik penerjemahan mahasiswa PBA UIN Ponorogo dengan tetap memperhatikan peran kritis manusia dalam mengevaluasi hasil terjemahan. Keywords: Transformation, translation. AI Abstract With the advancement of technology, translation practices have transformed from manual translation to digital translation utilizing A-based platforms. This study aims to explore the transformation of translation practices among PBA students through the use of Artificial Intelligence (AI), such as Google Translate. ChatGPT. Google Lens. Received 24 October 2025. Received in revised form 29 October 2025 year. Accepted 10 November 2025 Available online 2 December 2025 / A 2023 The Authors. Published by Jurnal Qismul Arab: Journal of Arabic Education. This is an open access article under the CC BY license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ Najmaya Ayu Mustika DeepL, and Microsoft Translator. The respondents in this study were 24 seventhsemester PBA students at State Islamic University of Ponorogo. Data were collecting using a questionnaire consisting of 12 questions, including six multiple-response items and six Likert-scale items. The data analysis employed descriptive statistics for Likertscale questions and percentage frequency analysis for multiple-response questions. The results indicate a significant shift form manual translation to AI-assisted translation. ChatGPT emerged as the most frequently used tool among PBA students for completing their assignments, while DeepL was preferred for its ability to translate long contexts, ase of use, and fast translation output. The majority of students utilized AI to translate academic texts, motivated by ease of use, speed, and recommendations from lecturers op peers. Although AI facilitates and accelerates translation, students remain aware of its limitations and continue to review translations to ensure quality. The use of AI has transformed PBA studentsAo translation practices at Islamic State University of Ponorogo by enhancing efficiency while maintaining the critical role of humans in evaluating translation outcomes. This study recommends integrating AI a supportive tool in translation activities to improve both technological literacy and language competence. Pendahuluan Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memberikan perubahan yang sangat signifikan dalam bidang pendidikan. AI sering diintegrasikan dalam proses pembelajaran karena kemampuannya dalam memberikan umpan balik cepat maupun akses informasi secara instan (Huda and Suwahyu AI biasanya dimanfaatkan dalam penyelesaian tugas, analisis data, peningkatan efisiensi dan produktivitas kerja, dan mendorong inovasi baru dengan tujuan mempermudah pekerjaan dan memecahkan masalah kompleks dengan lebih cepat dan akurat. Dalam bidang pendidikan misalnya. AI digunakan untuk membuat platform pembelajaran online untuk memanajemen tugas dan interaksi siswa, juga membantu guru dalam mengelola kelas dan memantau pembelajaran siswa secara mandiri. Dalam pembelajaran bahasa asing seperti bahasa Arab. AI berperan penting dalam membantu penerjemahan, pemahaman teks, maupun memberikan penjelasan struktur Hal ini yang menjadikan AI tidak hanya sebagai alat bantu saja, namun juga mediator baru dalam proses pembelajaran (Rahmat. Hamzah, and Nawas 2. Sementara itu, mahasiswa PBA dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menerjemah yang baik (Ardi Keterampilan tersebut tidak hanya dalam penguasaan kosakata atau struktur bahasa saja, namun juga berkaitan dengan pemahaman makna yang sesuai dengan konteks. Selama ini, masih banyak mahasiswa yang menggunakan kamus cetak sebagai landasan penerjemahan maupun menerjemahkan kata per kata atau penerjemahan secara harfiah. Hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan terkadang hasilnya masih kurang Oleh karena itu, integrasi teknologi digunakan untuk mempermudah pekerjaan sehingga lebih efektif dan Seiring berkembangnya teknologi seperti halnya AI dalam bidang penerjemahan, misalnya Google Translate. Chat GPT. Google Lens. DeepL. Microsoft Translator, dan lainnya praktik penerjemahan mahasiswa pun juga bergeser (Rachmayanti et al. Mahasiswa yang awalnya menggunakan kamus cetak untuk mencari arti sebuah kosakata, kini lebih memilih untuk menggunakan media digital berupa aplikasi untuk menerjemahkan kosakata baru. Platform tersebut menawarkan terjemahan yang cepat dan cukup akurat serta sangat membantu dalam menyelesaikan tugas. Akan tetapi, perubahan praktik penerjemahan dengan memanfaatkan AI tanpa adanya Qismul Arab: Journal of Arabic Education pemahaman kritis berdampak pada ketergantungan terhadap AI. Banyak mahasiswa yang menggunakan AI secara instan tanpa melakukan pengecekan ulang terhadap hasil terjemahan AI. Hal ini mengakibatkan kurangnya analisis kritis yang idealnya sangat penting dalam penerjemahan (Mongan et al. Fenomena ini menarik untuk diteliti secara mendalam karena masih jarang penelitian yang membahas perubahan ini dari sisi strategi mahasiswa dan pengalaman mereka. Penelitian terdahulu kebanyakan membahas tentang keakuratan hasil terjemahan AI atau perbandingan hasil terjemahan platform penerjemahan berbasis AI satu dengan yang lain maupun dengan hasil terjemahan manual. Sementara yang terpenting sebenarnya adalah mengetahui bagaimana penggunaan AI tersebut berpengaruh terhadap cara mahasiswa berpikir dan belajar menerjemah, strategi yang digunakan, dan persepsi mereka terhadap pemanfaatan AI dalam penerjemahan. Penelitian ini melibatkan mahasiswa PBA semester 7 sebagai responden. Pemilihan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka telah menempuh beberapa mata kuliah tarjamah pada semester sebelumnya dan sedang berada pada tahap penyusunan skripsi yang menuntut aktivitas penerjemahan teks akademik secara Dengan demikian, pemanfaatan platform penerjemahan berbasis AI oleh mahasiswa PBA semester 7 menjadi relevan untuk diteliti. Melihat perubahan tersebut, penelitian ini penting untuk dilakukan. Pemahaman mengenai perilaku penerjemahan, pola belajar, dan strategi penerjemahan mahasiswa dapat dijadikan dasar dalam menyelenggarakan pembelajaran yang lebih bermakna di kelas (Yarno Eko Saputro 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan bagaimana AI dapat berpengaruh besar terhadap kebiasaan mahasiswa dalam menerjemah, kemampuan analisis terjemahan, serta sejauh mana AI membantu atau justru menurunkan kemandirian belajar. samping itu, temuan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi dosen dalam merancang pembelajaran penerjemahan yang tetap sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini dengan tidak mengabaikan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa. Berdasarkan urgensi tersebut, artikel ini berupaya untuk menggambarkan bagaimana kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mengubah praktik penerjemahan mahasiswa PBA. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan pembelajaran penerjemahan di lingkungan perguruan tinggi Islam maupun program studi bahasa Arab secara umum. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan tujuan menggambarkan pemanfaatan teknologi AI oleh mahasiswa PBA dalam menerjemahkan sebuah teks dan sejauh mana pemanfaatan tersebut memengaruhi praktik penerjemahan mereka. Pendekatan kuantitatif dipilih karena data yang digunakan berupa hasil pengukuran melalui angket, sehingga fenomena yang diteliti dapat dipertanggungjawabkan secara sistematis melalui angka dan kecenderungan statistik (Waruwu 2. Adapun desain penelitian yang digunakan peneliti adalah survei deskriptif yang memungkinkan untuk memeroleh gambaran nyata tentang perilaku, kebiasaan, dan pengalaman mahasiswa dalam memanfaatkan AI untuk penerjemahan. Survei dilakukan satu kali pada kelompok responden tertentu tanpa memberikan perlakuan apa pun, sehingga hasil penelitian sepenuhnya menggambarkan kondisi apa adanya di lapangan. Responden dalam penelitian ini berjumlah 24 orang mahasiswa PBA semester 7 UIN Ponorogo yang dipilih dengan teknik purposive sampling (Sugiyono 2. berdasarkan pengalaman mereka dalam memanfaatkan aplikasi penerjemahan berbasis AI, seperti Google Translate. Chat GPT. Google Lens. DeepL, maupun Microsoft Translator. Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ Najmaya Ayu Mustika Fokus utama dalam penelitian ini bukanlah generalisasi populasi besar, melainkan pemahaman mendalam para mahasiswa mengenai pola penggunaan teknologi terjemahan tersebut yang relevan dengan konteks penelitian. Data dikumpulkan melalui angket tertutup yang disusun dalam bentuk skala Likert. Instrumen angket berisi beberapa aspek yang dipelajari, antara lain frekuensi dan jenis aplikasi AI yang sering digunakan, jenis teks yang diterjemahkan, persepsi mahasiswa terhadap manfaat dan risiko penggunaan AI, dampak terhadap kemandirian dan kualitas belajar penerjemahan, serta kelebihan dan kekurangan aplikasi AI yang sering mereka gunakan. Sebelum disebarkan, angket diuji validitas dan reliabilitasnya secara statistik. Uji validitas dilakukan dengan uji korelasi Pearson, sedangkan reliabilitas instrumen dilakukan dengan uji CronbachAos Alpha. Hasilnya menunjukkan bahwa instrumen memenuhi kriteria valid dan reliabel sehingga layak digunakan dalam penelitian. Kemudian, angket ini disebarkan secara daring atau online guna memudahkan responden memberikan jawaban secara jujur dan tanpa tekanan. Kemudian, data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif. Teknik tersebut pengkodean jawaban responden, penghitungan skor setiap pertanyaan, penyajian hasil dalam bentuk persentase, tabel, dan rerata, serta penafsiran pola-pola yang muncul berdasarkan kecenderungan respon. Seluruh analisis data dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft Excel 2021. Analisis ini berfungsi untuk menampilkan potret transformasi praktik penerjemahan mahasiswa secara ringkas namun akurat. Temuan dari angket digabungkan dengan penjelasan konseptual dalam bagian pembahasan sehingga menghasilkan analisis yang lebih mendalam. Dengan demikian, artikel ini menempatkan hasil penelitian sebagai prioritas utama sebelum dihubungkan dengan konsep teoretis tentang penerjemahan dan teknologi AI. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini melibatkan 24 mahasiswa jurusan PBA UIN Ponorogo semester 7 yang mana sebagian besar responden telah terbiasa dan memiliki pengalaman menggunakan berbagai aplikasi penerjemahan berbasis AI untuk mendukung tugas perkuliahan, terutama dalam mata kuliah tarjamah. Penggunaan AI dalam penerjemahan diukur melalui beberapa pertanyaan (Q1. Q2. Q3. Q10. Q11. dengan opsi multi jawaban. Hasil menunjukkan bahwa responden memanfaatkan berbagai platform penerjemahan berbasis AI untuk mendukung proses penerjemahan. Berikut ini adalah data jenis aplikasi berbasis AI yang digunakan oleh para responden. Tabel 1. 1 Jenis Platform Penerjemahan Berbasis AI yang Digunakan Aplikasi AI Frekuensi Persentase Google Translate ChatGPT DeepL Google Lens Microsoft Translator Al-AoAraby Al-MaAoany Sesuai dengan data pada tabel 1. 1 di atas, menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan beragam platform penerjemahan berbasis AI sebagai alat bantu penerjemahan. Jenis platform yang paling banyak digunakan adalah ChatGPT dengan frekuensi 16 responden . %), disusul oleh DeepL dengan frekuensi 12 responden . %). Sementara itu. Google Lens juga masih digunakan oleh 8 orang responden . %). Google Translate oleh 7 responden . %). Microsoft Translator juga masih digunakan oleh 2 responden . %), dan Al-MaAoany Al-AoAraby oleh Qismul Arab: Journal of Arabic Education 1 responden . %). Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa telah beralih dari platform penerjemahan konvensional seperti Google Translate ke platform penerjemahan berbasis AI generatif yang dinilai lebih mampu memberikan konteks dan pemahaman gramatikal yang lebih baik, serta mampu menerjemahkan konteks panjang bukan hanya kalimat pendek, seperti ChatGPT dan DeepL (Rachmayanti et al. Tabel 1. 2 Alasan Penggunaan Platform Penerjemahan Berbasis AI Alasan Penggunaan Frekuensi Persentase Kecepatan Kemudahan Penggunaan Rekomendasi Teman/Dosen Pada tabel 1. 2, terlihat bahwa alasan utama mahasiswa menggunakan platform penerjemahan berbasis AI adalah kemudahan dalam menggunakannya, dengan frekuensi 18 responden . %). Alasan lain yang cukup dominan adalah kecepatan hasil terjemahan yang dipilih oleh 10 responden . %). Selain itu, mahasiswa juga menggunakan platform penerjemahan berbasis AI tertentu atas rekomendasi teman atau dosen, dengan persentase yang lebih kecil yaitu 7 orang responden . %). Berdasarkan hasil tersebut, motivasi mahasiswa dalam memanfaatkan platform penerjemahan berbasis AI bersifat pragmatis. Hal ini mengindikasikan bahwasanya aspek user-friendly dan accessibility menjadi faktor penentu mahasiswa PBA dalam memilih platform penerjemahan berbasis AI. Mahasiswa lebih cenderung memilih AI yang mudah dioperasikan, intuitif, dan cepat diakses, tanpa perlu mempelajari banyak pengaturan teknis. Kemudian baru mengutamakan efisiensi waktu saat menerjemahkan teks (Hasanah 2. Tabel 1. 3 Jenis Teks yang Diterjemahkan Jenis Teks Frekuensi Persentase Teks Akademik Teks Nonformal 12,5% Teks Keagamaan Selanjutnya, berdasarkan tabel 1. 3 di atas, jenis teks yang diterjemahkan oleh para mahasiswa PBA dengan memanfaatkan platform penerjemahan berbasis AI cukup beragam, di antaranya adalah teks akademik menempati posisi yang paling dominan dengan 23 responden . %), disusul oleh teks nonformal di posisi kedua dengan 3 orang responden . ,5%), dan terakhir adalah teks keagamaan dengan 2 orang responden . %). Persentase penggunaan AI untuk penerjemahan teks akademik lebih tinggi dibandingkan dengan teks nonformal dan teks keagamaan, ataupun teks lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa PBA secara umum memanfaatkan platform penerjemahan berbasis AI untuk mendukung tugas kuliah, seperti jurnal, artikel, referensi bahasa Arab, studi literatur, atau pekerjaan akademik lainnya (Rachmayanti et al. Tabel 1. 4 Kelebihan Platform Penerjemahan Berbasis AI Indikator Frekuensi Persentase Antarmuka sederhana Mudah digunakan 62,5% Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ Najmaya Ayu Mustika Indikator Frekuensi Persentase Mendukung banyak bahasa Terjemahan cepat Hasil terjemahan cukup akurat Bisa menerjemahkan gambar Bisa menerjemahkan konteks panjang 62,5% Gratis digunakan Sementara itu, berdasarkan tabel 1. 4 di atas, mahasiswa PBA memberikan penilaiannya terhadap beberapa kelebihan utama platform penerjemahan berbasis AI, di antaranya adalah penerjemahan cepat . 75%), mudah digunakan dan dapat menerjemahkan konteks panjang . responden, 62,5%), gratis digunakan . responden, 58%). Selain itu, mahasiswa menilai bahwa platform penerjemahan berbasis AI unggul dalam menghasilkan terjemahan yang cukup akurat . 46%), mendukung multibahasa . 33%), dan dapat menerjemahkan gambar . 17%), dan antarmuka yang sederhana . responden, 4%). Temuan ini memperlihatkan bahwa mahasiswa menilai platform penerjemahan berbasis AI tidak hanya membantu dari sisi teknis atau kecepatan saja, namun juga dari sisi kualitas atau kedalaman konteks. Hal ini sejalan dengan karakteristik teknologi AI berbasis neural machine translation (NMT) yang mampu melakukan pemrosesan data secara instan (San. Sujaini, and Tursina 2. Tabel 1. 5 Kekurangan Platform Penerjemahan Berbasis AI Indikator Frekuensi Persentase Hasil terjemahan kurang akurat Sulit memahami kalimat panjang Tidak bisa menerjemahkan teks tertentu, seperti idiom, kalimat religius Tidak mempertahankan gaya bahasa 62,5% Tidak mendukung file tertentu Terjemahan terlalu literal Tidak bisa menampilkan harakat untuk teks Arab 37,5% Di antara kekurangan platform penerjemahan berbasis AI ketika digunakan menurut mahasiswa PBA adalah tidak mempertahankan gaya bahasa . enurut 15 orang responden. 62,5%), hasil terjemahan yang kurang akurat . inilai oleh 13 responden, 54%), dan tidak dapat menerjemahkan teks tertentu . enurut 12 orang responden 50%). Selain itu, mereka menganggap bahwa beberapa platform penerjemahan berbasis AI tidak bisa menampilkan harakat teks Arab . enurut 9 orang responden. 37,5%), sulit memahami kalimat panjang yang dinilai oleh 7 orang responden dengan persentase 29%, terjemahan terlalu literal menurut 6 orang responden . %), dan terkadang tidak mendukung file tertentu menurut 5 orang . %). Interpretasi ini menunjukkan bahwa platfrom penerjemahan berbasis AI menawarkan berbagai kemudahan para penggunanya, ia juga memiliki beberapa kekurangan seperti akurasi terjemahan yang kurang dan kurang memahami konteks yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan literatur yang berpendapat bahwa AI juga memiliki beberapa kelemahan, sepeeti kesalahan dalam penerjemahan (Mongan et al. Selain itu, mayoritas responden merasa bahwa platform AI tidak mempertahankan gaya bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun AI mampu menerjemahkan dengan cepat, namun hasil terjemahannya cenderung bersifat literal dan kurang memperhatikan Qismul Arab: Journal of Arabic Education aspek stilistika. Aspek stilistika dalam penerjemahan bahasa Arab menekankan pada gaya dan penggunaan bahasa dalam karya sastra. Selain itu, juga mencakup beberapa aspek, seperti diksi, sturktur kalimat, dan efek retoris yang tidak hanya menyampaikan nuansa estetis dan pragmatis pada pembaca (Julian. Saryanti, and Yusliza 2. Dalam studi penerjemahan, kesepadanan makna dan gaya merupakan dua hal yang harus dijaga sehingga menghasilkan terjemahan yang berkualitas. Akan tetapi kenyatannya, platform penerjemahan berbasis AI masih menerjemahkan teks secara leksikal, sehingga kurang mampu menangkap gaya bahasa yang unik yang ada pada teks Arab (Aziz. Sopian, and Supriadi 2. Tabel 1. 6 Platform penerjemahan berbasis AI yang Paling Disukai Aplikasi AI Frekuensi Persentase Google Translate ChatGPT 12,5% DeepL Google Lens Microsoft Translator Al-AoAraby Al-MaAoany Berdasarkan tabel 1. 6 tersebut. DeepL muncul teratas sebagai platform penerjemahan berbasis AI yang paling diandalkan dengan persentase 67%. Kemudian, di urutan kedua dengan persentase 33% ditempati oleh Google Lens, diikuti ChatGPT dengan persentase 12,5%. Google Translate 8%, dan Microsoft Translator serta AlAoAraby Al-MaAoany masing-masing dengan persentase 4%. Temuan ini selaras dengan literatur yang menyatakan bahwa DeepL unggul dalam menghasilkan terjemahan yang lebih alami, mempertahankan gaya bahasa, konteks, dan struktur kalimat daripada platform penerjemahan berbasis AI yang lain (Laksana and Komara 2. Selain itu, pengukuran juga dilakukan dengan 6 pertanyaan mengenai persepsi mahasiswa terhadap platform penerjemahan berbasis AI (Q4. Q5. Q6. Q7. Q8. dengan opsi 1 jawaban dan dianalisis dengan menggunakan skala Likert. Tabel 1. 7 Persepsi Mahasiswa terhadap Penggunaan Platform Penerjemahan Berbasis AI Indikator Mean Kategori Keakuratan Cukup Baik Penilaian Umum Baik Ketergantungan Cukup Tergantung Keseringan Penggunaan Sering Menggunakan Kepuasan Penggunaan Puas Pengecekan Manual Sering Melakukan Pada tabel 1. 7, dijelaskan persepsi mahasiswa terhadap penggunaan platform penerjemahan berbasis AI yang diukur melalui enam indikator utama, yaitu keakuratan, penilaian secara umum, ketergantungan, keseringan penggunaan, kepuasan penggunaan, dan kebiasaan melakukan pengecekan manual setelah menerjemah. Analisis ini dilakukan dengan melihat skor rata-rata . dari masing-masing indikator tersebut. Pada indikator keakuratan, skor rata-rata mencapai 3,5 menunjukkan bahwa mahasiswa menilai keakuratan hasil terjemahan AI Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ Najmaya Ayu Mustika berada pada kategori cukup baik namun masih belum optimal. Responden merasa bahwa AI mampu menghasilkan terjemahan yang mendekati benar, namun masih terdapat beberapa kesalahan secara konteks dan istilah-istilah Hal ini sesuai dengan indikator kekurangan AI yang dianggap oleh para mahasiswa masih memiliki keterbatasan dalam aspek keakuratan terjemah (Rachmayanti et al. Kemudian, pada aspek penilaian umum mahasiswa menganggap bahwa platform penerjemahan berbasis AI cukup baik, sesuai dengan skor rata-rata yang ada sebesar 3,7. Mereka memandang bahwa AI sebagai teknologi yang membantu dalam meringankan pekerjaan penerjemahan dengan hasil yang cukup akurat, meskipun harus tetap melakukan peninjauan dan pemahaman mendalam untuk memastikan kualitas terjemahannya (Lutfiyatun. Kurniati, and Fajriah 2. Selanjutnya, pada indikator ketergantungan yang mencapai skor rata-rata 3,7 mengindikasikan bahwa mahasiswa cukup bergantung pada platform penerjemahan berbasis AI. Mereka cukup sering memanfaatkan AI, namun tidak sepenuhnya menggantikan metode manual. Artinya, mereka sadar bahwa AI hanyalah alat bantu bukan pengganti keterampilan penerjemahan. Pada aspek keseringan penggunaan yang mencapai skor rata-rata sebesar 3,7 menunjukkan bahwa mahasiswa cukup sering menggunakan platform penerjemahan berbasis AI ketika menerjemah. Data ini didukung dengan tabel 1. 1 yang menjelaskan jenis platform penerjemahan berbasis AI yang sering digunakan oleh mahasiswa. Skor ini mencerminkan bahwa penggunaan AI sudah menjadi bagian kebiasaan belajar mahasiswa PBA, khususnya ketika menerjemah teks yang cukup kompleks (Firdaus et al. Indikator selanjutnya adalah kepuasan penggunaan yang skor rata-ratanya mencapai 3,8. Artinya, mahasiswa puas terhadap penggunaan platform penerjemahan berbasis AI sebagai alat bantu. Skor ini merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan indikator yang lain. Hal ini menguatkan fakta bahwa AI dinilai efektif dalam membantu penyelesaian tugas akademik mahasiswa, terutama efisiensi waktu dan kemudahan penggunaan (Daryanti and Purwaningsih 2. Terakhir, yaitu indikator pengecekan manual. Indikator ini menegaskan sikap kritis mahasiswa terhadap hasil terjemahan AI. Nilai rata-rata angket mahasiswa terhadap indikator ini mencapai angka 3,7 yang artinya mahasiswa tetap melakukan pengecekan manual terhadap terjemahan yang dihasilkan oleh AI untuk menilai kesesuaian makna dengan konteks yang dibahas, struktur kalimat, dan budaya. Hal ini juga mengindikasikan bahwa mahasiswa tidak sepenuhnya bergantung pada platform AI dalam kegiatan penerjemahan. Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan perubahan nyata dalam praktik penerjemahan mahasiswa PBA melalui pemanfaatan AI. AI mempercepat proses penerjemahan dan memudahkan mahasiswa mengerjakan teks akademik panjang, namun peran manusia sebagai editor tetap kruial. Kesadaran mahasiswa terhadap kelebihan dan kekurangan AI menunjukkan bahwa transformasi ini lebih bersifat adaptif dan praktis, bukan menggantikan kemampuan linguistik secara penuh. Dengan bimbingan yang tepat, pemanfaatan AI dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kualitas terjemahan sehingga praktik penerjemahan mahasiswa menjadi lebih modern, kritis, dan Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data angket terhadap 24 responden, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan platform penerjemahan berbasis AI oleh mahasiswa PBA UIN Ponorogo mengalami transformasi yang signifikan. Mayoritas mahasiswa memilih menggunakan ChatGPT sebagai alat yang sering digunakan, diikuti oleh DeepL. Google Translate. Google Lens. Microsoft Translator, dan Al-MaAoany Al-AoAraby karena kemampuan platform ini dalam memberikan kemudahan penggunaan dan kecepatan dalam menghasilkan terjemahan. Jenis teks yang banyak diterjemahkan adalah teks akademik, seperti tugas perkuliahan. Berdasarkan hasil angket skala Likert. Qismul Arab: Journal of Arabic Education mahasiswa menilai AI cukup akurat dan mudah digunakan, namun mereka tetap melakukan pengecekan manual untuk menjaga kualitas terjemahan. Kelebihan utama platform AI tersebut adalah hasil terjemahan yang cukup akurat, mudah digunakan, gratis, dan mampu menerjemahkan konteks panjang. Sementara itu, kekurangan platform AI terlihat dari akurasi yang belum sempurna, terjemahan yang dihasilkan terlalu literal atau belum sesuai konteks yang diharapkan, dan kurang mempertahankan gaya bahasa yang digunakan. Transformasi praktik penerjemahan ini menunjukkan pergeseran praktik penerjemahan yang awalnya dari penerjemahan manual dengan kamus menjadi penerjemahan berbasis digital dengan memanfaatkan platform berbasis AI. Mahasiswa diharapkan memanfaatkan platform AI dengan bijak dan tetap melakukan pengecekan manual atas hasil terjemahan serta memperdalam pemahaman konteks teks yang diterjemahkan terutama teks akademik. Kemudian, bagi dosen dan pengembang kurikulum PBA disarankan untuk mengintegrasikan AI dalam pembelajaran tarjamah dengan etis dan terarah. Platform penerjemahan berbasis AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu awal penerjemahan, seperti untuk memahami makna teks secara umum. Sementara itu, mahasiswa tetap diarahkan untuk melakukan analisis secara manual terhadap struktur bahasa, gaya bahasa, dan kesepadanan makna. Dengan cara ini, ketergantungan mahasiswa terhadap platform penerjemahan berbasis AI dapat dikelola dengan baik daan kompetensi penerjemahan yang mereka miliki dapat terus berkembang secara optimal. Selanjutnya, penelitian berikutnya dapat mengkaji perbandingan kualitas terjemahan AI dengan terjemahan manual serta pengaruh penggunaan AI terhadap kemampuan penerjemahan jangka panjang mahasiswa. DAFTAR PUSTAKA