AL-HUDA JURNAL PENDIDIKAN DASAR Penerbit: Prodi Pendidikan Guru MI STAI Miftahul Huda Subang Jl. Raya Rancasari Dalam No. B33. Rancasari. Kec. Pamanukan. Kabupaten Subang. Jawa Barat 41254 E-ISSN: P-ISSN: https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/alhuda/index PERAN ORANG TUA DALAM PERKEMBANGAN MORAL PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR Noven Kusainun1 1STAI Darul Huda. Sumatera Selatan. Indonesia Email: novenkusainun@gmail. ARTICLE HISTORY Received: Januari 2025 Revised: Februari 2025 Accepted: Maret 2025 Abstrak Perkembangan moral anak usia sekolah dasar berada pada tahap prakonvensional dan konvensional. Orang tua sebagai pendidik bertanggungjawab terhadap tumbuh kembang anak, termasuk dalam perkembangan moral. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran orang tua dalam perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara. Subjek dalam penelitian ini adalah lima orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua dalam perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar adalah . member pesan atau nasihat, . mengajak berdiskusi atau tanya jawab, . mengajak anak untuk merasakan suatu peristiwa atau kondisi, . member contoh atau keteladanan, dan . mengikutsertakan anak ke Taman Pendidikan Alquran (TPA). Hambatan yang ditemukan orang tua dalam mendidik moral anak adalah pengaruh lingkungan, gadget, dan karakter anak. Polaasuh yang lebihv banyak digunakan orang tua dalam mendidik moral anak adalah pola asuh demokratis dan otoriter. Kata Kunci: peran orang tua, perkembangan moral, anak usia sekolah dasar Abstract Moral development becomes one of the important studies that need to be understood by educators, especially parents. Moral development of elementary school age children is at the conventional and conventional stages. Parents as educators are responsible for children's development, including moral The purpose of this study is to describe the role of parents in moral development in elementary school age children. Data collection is done by interview method. The subjects in this study were five parents. The results showed that the role of parents in moral development in elementary school age children is . giving a message or advice, . inviting discussion or questioning, . inviting children to feel an event or condition, . giving an example or AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 53 example, and . include children in the Qur'an Education Park. The obstacles found by parents in educating children's morals are environmental influences, gadgets, and character of children. Parenting is more widely used by parents in educating children's morals is a democratic and authoritarian parenting. Keywords: the role of parents. moral development. elementary school age AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 54 A. PENDAHULUAN Perkembangan pada anak meliputi banyak aspek. Ada perkembangan kognitif, perkembangan bahasa, moral, emosional, dan sebagainya. Perkembangan moral menjadi salah satu kajian penting yang perlu dipahami oleh pendidik baik orang tua maupun guru. Moral dapat dipahami sebagai rangkaian nilai-nilai yang mendasari seseorang dalam bersikap atau Seperti pada perkembangan lainnya, perkembangan moral pada anak juga terdiri dari beberapa tahap. Menurut teori perkembangan moral Kohlberg, ada tiga tingkat perkembangan moral pada anak. Tiga tingkat tersebut meliputi prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Orang tua perlu memahami perkembangan moral pada anak. Tujuannya adalah agar orang tua dapat mengoptimalkan perannya dalam mendidik, mengarahkan, membimbing, dan memfasilitasi anak. Orang tua sebagai pendidik bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak, termasuk dalam perkembangan moral. Moral anak terbentuk karena adanya aktivitas internal yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Aktivitas internal yang dimaksud merupakan proses berpikir atau pemahaman anak tentang moral. Pemahaman tersebut diawali dengan penerimaan pengetahuan tentang moral. Pengetahuan diproses menjadi sebuah konsep yang menggambarkan tentang moral. Faktor eksternal dapat diartikan sebagai segala hal yang ada di luar diri anak yang turut berpengaruh dalam perkembangan moral. Faktor eksternal dapat dikatakan sebagai faktor yang berasal dari lingkungan. Faktor lingkungan dapat meliputi keluarga, sosial, budaya, dan lain-lain. Orang tua dapat dikatakan sebagai faktor eksternal dalam perkembangan moral anak. Sebagai role model bagi anak, orang tua seharusnya menjadi teladan bagi anak. Teladan dalam hal ini dimaknai sebagai contoh bagi anak dalam melakukan tindakan moral. Teladan dari orang tua diperlukan karena perkembangan moral anak tidak hanya pada pemahaman moral saja, tetapi juga tindakan moral yang diwujudkan dalam sikap atau perilaku. Peran yang optimal dari orang tua akan mendukung dan mewujudkan perkembangan moral yang baik pada anak. Anak tidak hanya paham tentang moral tetapi juga mampu mengambil keputusan dan tindakan yang tepat dalam bermoral. Anak dapat membedakan perilaku yang bermoral dengan yang tidak bermoral dalam kehidupan sehari-harinya. Globalisasi dan perkembangan zaman tidak selalu memberikan pengaruh yang positif. Ada pula pengaruh negatifnya. Perilaku menyimpang dan kenakalan yang terjadi pada anak merupakan contoh dan pengaruh negatif Anak berani melawan kepada orang tua dan guru, membolos sekolah, melakukan tindakan bullying verbal maupun nonverbal, dan lainlain. Selain karena pengaruh globalisasi, kenakalan atau penyimpangan moral yang terjadi pada anak dapat diakibatkan oleh faktor orang tua. Kesibukan orang tua pada pekerjaan kadang membuat orang tua lupa akan perannya dalam perkembangan moral anak. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 55 orang tua juga dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan moral pada Penyimpangan moral tidak hanya terjadi pada anak-anak remaja atau pelajar SMA, tetapi juga pada anak-anak usia sekolah dasar (SD). Anak pada usia SD biasanya berada pada rentang usia 6-12 tahun. Usia tersebut merupakan tahap operasional konkret dan tahap awal operasional formal. Anak usia SD mempelajari banyak hal melalui lingkungan. Begitu pula pada proses perkembangan moralnya. Peran dari orang-orang di sekitarnya, khususnya orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral anak. Orang tua sebagai pendidik utama bagi anak diharapkan dapat memberikan pendidikan moral yang baik. Orang tua harus mengupayakan cara yang tepat dalam mendidik anak agar anak tidak terpengaruh hal-hal yang mengakibatkan penyimpangan moral. Setiap tingkat atau tahap perkembangan moral pada anak terdapat tugastugas perkembangan. Orang tua berperan dalam menciptakan kondisi yang mendukung anak agar tugas-tugas perkembangan dapat terpenuhi. Tahaptahap perkembangan moral yang dialami anak merupakan proses agar terbentuk moral yang utuh dalam diri anak. Sikap dan perilaku orang tua yang menunjukkan moral yang baik akan menjadi contoh yang baik pula bagi anak. Anak belajar mengambil keputusan dalam menentukan sikap atau perilakunya melalui hal-hal yang dilihat dan dipelajarinya dari orang tua. Pengalaman yang didapat anak dari orang tuanya berpengaruh dalam perkembangan moralnya. Anak yang tinggal dan terbiasa di lingkungan keluarga dengan moral yang baik akan cenderung memiliki moral yang baik. Begitu pula sebaliknya. Adanya perilaku yang menyimpang atau moral yang kurang baik dalam keluarga memungkinkan hal yang sama terjadi pada anak. Keluarga merupakan tempat pertama pembentukan moral dan karakter Kemampuan anak dalam menjalani kehidupan sangat dipengaruhi oleh berhasil tidaknya orang tua dalam menanamkan ajaran moral. Keluarga tidak hanya tentang interaksi antara orang tua dan anak saja, tetapi juga berkaitan dengan nilai-nilai moral yang ada dalam interaksi tersebut (Agustin. Suarmini, & Prabowo, 2. Orang tua memiliki kewajiban terkait perannya dalam keluarga yaitu merawat, mengasuh, dan membimbing anak agar dapat mencapai kualitas hidup sebagaimana mestinya (Apriyanti, 2. Moral anak terus berkembang hingga anak mencapai usia remaja dan Usia SD menjadi tahap atau salah satu masa yang penting dalam perkembangan moral anak. Perkembangan moral pada anak usia SD akan berpengaruh dan menentukan perkembangan moral pada tahap berikutnya. Rentang usia SD yang cukup panjang menjadi sebuah potensi sekaligus tantangan bagi orang tua untuk mengoptimalkan perannya dalam perkembangan moral anak. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran orang tua dalam perkembangan moral pada anak usia SD. Peran orang tua menjadi faktor penting agar anak dapat memiliki moral yang baik. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tentang peran orang tua dalam AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 56 perkembangan moral anak usia SD. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi kajian bagi penelitian berikutnya yang relevan. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan mini riset dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara. Wawancara merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada responden. Pertanyaan yang diajukan tujuannya adalah untuk memperoleh informasi berdasarkan sudut pandang responden (Creswell, 2. Tahap-tahap wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menyusun pertanyaan, menentukan subjek . , menentukan jenis wawancara, menentukan waktu dan tempat wawancara, serta pelaksanan Subjek dalam penelitian ini adalah lima orang tua yang memiliki anak usia SD. Adapun objeknya adalah peran orang tua dalam perkembangan moral anak usia sekolah dasar (SD). HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Moral pada Anak Usia Sekolah Dasar Menurut Santrock (Nida, 2. perkembangan moral merupakan proses perubahan perilaku pada individu terhadap tata cara, kebiasaan, serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Proses dalam perkembangan moral terdiri dari proses berpikir, merasakan, dan berperilaku. Berpikir dalam perkembangan moral berarti proses pemahaman tentang konsep moral. Merasakan berarti proses individu menerima perilaku moral dari orang-orang di sekitarnya. Proses berperilaku dalam perkembangan moral berarti perwujudan dari proses berpikir dan merasakan. Perwujudan yang dimaksud adalah dalam bentuk sikap atau tindakan. Perkembangan moral terdiri dari beberapa tahap atau tingkat. Teori perkembangan moral yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perkembangan moral menurut Kohlberg. Perkembangan moral menurut Kohlberg terdiri dari tingkatan, yaitu prakonvensional . -10 tahu. , konvensional . -13 tahu. , dan pascakonvensional . tahun ke ata. Setiap tingkat tersebut memiliki dua tahap, sehingga perkembangan moral anak keseluruhan adalah enam tahap. Prakonvensioanl terdiri dari tahap orientasi kepatuhan dan hukuman serta tahap relativis instrumental. Konvensional terdiri dari tahap orientasi anak manis atau anak baik dan tahap orientasi hukum dan ketertiban. Pascakonvensional meliputi tahap orientasi kontrak sosial legalistis dan orientasi prinsip etika universal (Nida, 2. Penelitian lainnya juga menjelaskan bahwa perkembangan moral menurut Kohlberg teridiri dari tiga tingkat. Setiap tahapnya terdiri dari dua tahap. Prakonvensional terdiri dari tahap orientasi kepatuhan dan hukuman, serta tahap relativistik hedonosme. Tingkat konvensional terdiri dari tahap orientasi tentang anak baik dan tahap mempertahankan norma sosial serta otoritas. Tingkat pascakonvensional terdiri dari tahap orientasi terhadap perjanjian diri dengan lingkungan serta tahap universal (Maharani, 2. Berikut adalah penjelasan dari setiap tahap perkembangan moral menurut Kohlberg (Suhada, 2. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 57 a. Orientasi kepatuhan dan hukuman (Prakonvensional I) Kepatuhan anak terhadap peraturan pada tahap ini sangat bergantung kepada penilaian orang lain. Biasanya peran orang-orang terdekat, khususnya orang tua sangat berpengaruh. Anak mematuhi suatu peraturan karena temotivasi oleh penilaian orang lain. Orientasi minat pribadi (Prakonvensional II) Maksudnya adalah anak akan mematuhi aturan jika menguntungkan dan membuat dirinya senang. Tahap ini disebut juga dengan relativis instrumental atau relativistik hedonosme. Orientasi anak tidak hanya pada kepatuhan dan hukuman, tetapi juga karena kesenangan dan kebutuhan. Orientasi anak baik (Konvensional I) Anak mulai memiliki peran sosial, sehingga mencoba untuk menjadi anak yang baik agar dapat diterima. Orientasi tentang anak baik berarti anak mengerti tentang perilaku yang diterima dan perilaku yang tidak dapat diterima di masyarakat. Dapat dikatakan pula bahwa pada tahap ini anak belajar membedakan perilaku yang baik dan buruk di lingkungannya. Orientasi norma sosial (Konvensional II) Perkembangan moral anak pada tahap ini adalah mulai menilai dan mengawasi sendiri sikap dan perilakunya agar sesuai dengan norma. Anak tidak hanya belajar tentang perilaku yang dapat diterima tetapi juga ikut mempertahankan norma sosial. Perkembangan moral dalam tahap ini berarti munculnya rasa tanggung jawab pada anak untuk melaksanakan serta menjaga norma yang ada di masyarakat. Orientasi perjanjian diri dengan lingkungan sosial (Pascakonvensional I) Perjanjian diri dengan lingkungan disebut juga sebagai kontrak sosial Anak telah memahami bahwa dengan cara berbuat baik, orang lain juga akan memperlakukannya dengan baik. Anak belajar melaksanakan tanggung jawabnya sebagai bagian dari anggota masyarakat. Perjanjian diri dengan lingkungan adalah tahap di mana anak merasa terikat dengan lingkungan, termasuk dalam melaksanakan norma atau aturan. Prinsip universal (Pascakonvensional II) Perkembangan moral anak pada tahap ini semakin meningkat. Anak berusaha menyesuaikan setiap tindakannya agar sesuai dengan norma-norma yang bersifat umum. Anak memahami bahwa ada norma-norma yang berlaku secara umum atau universal, melewati batas-batas kedaerahan, suku, ras, dan lainnya. Moral telah dilaksanakan oleh anak dalam lingkungan yang lebih luas. Uraian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan moral adalah proses yang bertahap dan berkelanjutan. Anak usia SD rata-rata berada pada usia 6-12 Jika dilihat dari tahap-tahap perkembangan moral, anak usia SD berada dalam perkembangan moral tingkat prakonvensional dan tahap konvensional. Seperti yang telah dijelaskan, tingkat prakonvensional terdiri dari tahap orientasi kepatuhan dan hukuman serta orientasi minat pribadi. Anak dalam tahap ini cenderung patuh karena pengaruh orang lain. Orientasi kepatuhan dan hukuman sangat dipengaruhi dengan peran orang-orang di lingkungan terdekat Ketika berada di rumah, berarti kepatuhan anak dipengaruhi oleh orang AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 58 tua dan anggota keluarga lainnya. Anak melihat dan belajar tentang moral dari sikap maupun interaksi antar anggota keluarga. Saat di sekolah, peran guru dan teman sebaya turut berpengaruh dalam membentuk moral anak. Perkembangan moral anak pada tahap orientasi minat pribadi adalah tidak hanya karena kepatuhan dan hukuman tetapi juga karena faktor kebutuhan. Maksudnya adalah anak mulai memahami bahwa suatu aturan atau norma bagian dari kebutuhannya. Selain itu adalah adanya faktor kesenangan. Anak mematuhi suatu aturan karena membuat dirinya senang atau ada sesuatu yang Kesenangan yang dimaksud bukan terbatas pada benda atau hadiah, tetapi juga apresiasi dari orang-orang di sekitarnya. Kebutuhan dan kesenangan tersebut menjadi dorongan bagi anak dalam perkembangan moralnya. Perkembangan moral anak usia SD pada tingkat konvensional berarti tahap orientasi anak baik dan orientasi norma sosial. Anak pada tahap orientasi anak baik adalah mulai membedakan perilaku yang baik dan yang tidak. Anak memahami perilaku yang seharusnya dilakukan agar diterima di Anak belajar dan berusaha menjadi anak yang baik. Anak juga melihat perilaku orang-orang di sekitarnya yang bisa dicontoh untuk berperilaku yang baik. Perkembangan moral anak usia SD pada tahap orientasi norma sosial adalah adanya rasa tanggung jawab untuk ikut menjaga dan mempertahankan Anak pada tahap ini memahami bahwa norma adalah bagian dari kehidupan di masyarakat. Anak memiliki rasa tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat dalam mematuhi dan menjaga norma yang ada. Tanggung jawab juga mempengaruhi diri anak untuk berhari-hati serta mengawasi setiap perilakunya sendiri. Peran Orang Tua dalam Perkembangan Moral pada Anak Usia Sekolah Dasar Hasil wawancara tentang peran orang tua dalam perkembangan moral anak usia SD terdiri dari beberapa pokok bahasan, yaitu peran orang tua dalam perkembangan moral anak, hambatan orang tua dalam mendidik moral anak, dan pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik moral anak. Peran orang tua dalam perkembangan moral anak usia sekolah dasar dapat diuraikan sebagai berikut. Memberi pesan atau nasihat Memberi pesan atau nasihat dilakukan oleh semua orang tua dalam perkembangan moral anak. Pemberian nasihat dilakukan agar anak memahami tentang moral. Orang tua menyampaikan bahwa nasihat yang biasa diberikan adalah berupa pesan agar selalu berperilaku yang baik. Orang tua juga menjelaskan tentang perilaku yang baik dan perilaku yang kurang baik. Tujuannya adalah agar memahami dan dapat membedakan perilaku yang baik dan perilaku yang kurang baik. Pemberian nasihat dilakukan oleh orang tua secara berulang. Maksudnya adalah nasihat tidak cukup hanya sekali, tetapi juga berkelanjutan agar anak selalu ingat dan paham. Mengajak anak berdiskusi atau tanya jawab Orang tua memahami bahwa komunikasi yang baik antara anak dan orang tua dapat menumbuhkan kedekatan. Salah satu cara yang dapat dilakukan AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 59 adalah dengan mengajak anak berdiskusi. Melalui diskusi atau tanya jawab, orang tua dapat memberikan pemahaman moral. Orang tua memulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana, seperti Aumengapa kita tidak boleh berbohong?Ay dan lain-lain. Diskusi dilakukan orang tua untuk membangun pengertian dan pemahaman anak terhadap moral. Mengajak anak untuk merasakan suatu peristiwa dan kondisi Peristiwa atau kondisi tertentu dalam lingkungan dijadikan orang tua sebagai sarana untuk mendidik moral anak. Maksudnya adalah agar anak dapat mengambil pelajaran atau pesan dari peristiwa tersebut. Beberapa orang tua menyampaikan bahwa sering menasihati anak dengan memanfaatkan peristiwa Contohnya adalah ketika ada teman sekolah anak yang sering berbuat nakal dan tidak mematuhi aturan sehingga harus diberi sangsi oleh sekolah. Orang tua mengajak anak untuk merasakan dan menumbuhkan kesadaran anak bahwa peristiwa tersebut merupakan contoh perilaku yang kurang baik. Melalui cara tersebut orang tua meyakini bahwa anak dapat merasakan dan lebih berhati-hati agar hal yang sama tidak dilakukannya. Memberi contoh atau keteladanan Keteladan orang tua dalam keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan moral anak. Orang tua memberikan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari agar anak memiliki moral yang baik. Keteladanan yang diberikan orang tua di antaranya adalah sopan santun, menyapa, jujur, disiplin, tidak membedakan teman, mengucapkan salam, berpamitan ketika bepergian, tanggung jawab, dan mandiri. Contoh konkret yang telah dilakukan orang tua misalnya dalam mendidik anak untuk mandiri. Orang tua memberikan tugas untuk anak ketika di rumah. Tugas tersebut berupa kegiatan sederhana atau aktivitas sehari-hari seperti membersihkan kamar, menjaga adik, dan sebagainya. Tidak jarang orang tua juga melibatkan anak dalam pekerjaan kemudian memberikan apresiasi. Keterlibatan anak dalam kegiatan atau aktivitas orang tua diyakini dapat memberikan pengalaman berharga yang berpengaruh positif dalam perkembangan moralnya. Mengikutsertakan anak ke Taman Pendidikan Alquran (TPA) Taman Pendidikan Alquran (TPA) dipilih orang tua sebagai salah satu cara untuk mendidik moral anak. Menurut orang tua. TPA menjadi lingkungan positif dalam mendukung perkembangan moral anak. Anak belajar nilai-nilai keagamaan dan sosial. Orang tua percaya bahwa interaksi anak dengan teman dan pendidik di TPA dapat membentuk moral yang baik bagi anak. Selain itu, keikutsertaan anak di TPA juga membiasakan anak untuk disiplin dan bertanggung jawab. Berdasarkan hasil wawancara, hambatan atau kesulitan yang ditemukan orang tua dalam mendidik moral anak adalah pengaruh lingkungan, gadget, dan karakter anak. Pengaruh lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan teman sebaya dan pergaulan anak. Anak cenderung akan mengikuti perilaku teman sebayanya. Jika orang tua tidak melakukan pengawasan dan arahan yang benar, maka berakibat anak dapat melakukan hal-hal yang kurang baik. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 60 Gadget berpengaruh dalam perkembangan moral anak karena menyebabkan ketergantungan. Anak sulit mendengarkan nasihat dari orang tua dan sulit diajak berdiskusi karena lebih menyibukkan diri dengan gadget. Orang tua juga mengkhawatirkan adanya konten-konten yang tidak sesuai dengan perkembangan anak. Hambatan berikutnya adalah berkaitan dengan karakter anak. Ada anak yang cenderung pemarah dan mudah tersinggung. Kesulitan yang orang tua temukan dengan karakter tersebut adalah mengajari anak untuk berbicara yang santun karena jika anak merasa kecewa sulit menerima nasihat. Anak bahkan merespon nasihat orang tua dengan teriakan. Kesulitan-kesulitan tersebut sering oranng tua temukan ketika hendak menasihati atau mengingatkan anak. Terkait pola asuh, sebagian besar orang tua menyampaikan bahwa cenderung menerapkan pola asuh demokratis dan otoriter. Pola asuh demokratis digunakan orang tua untuk memberikan kebebasan pada anak, namun diiringi dengan bimbingan dan arahan orang tua. Kemudian, orang tua menyampaikan bahwa pola asuh otoriter tetap diperlukan untuk menumbuhkan kepatuhan kepada anak. Alasannya adalah pada kondisi tertentu orang tua perlu memberi ketegasan agar anak tidak berperilaku semena-mena. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak sejak anak lahir ke dunia. Seorang anak yang baru dilahirkan memiliki ketergantungan kepada orang lain, belum mampu melakukan suatu tindakan, bahkan untuk kebutuhannya Seiring bertambahnya usia, anak mengalami pertumbuhan dan Anak memiliki potensi jasmani dan rohani (Yanizon, 2. Proses pertumbuhan dan perkumbungan anak sangat dipengaruhi oleh peran orang tua di dalamnya. Orang tua baik ayah maupun ibu menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. Orang tua mengupayakan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya. Tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak dalam hal ini tidak terbatas pada memilih sekolah atau madrasah yang terbaik untuk anak. Lebih luas dari itu, pendidikan anak meliputi banyak aspek. Termasuk dalam mendidik kepribadian Penanaman nilai-nilai dan karakter pada anak penting dilakukan agar anak memiliki kepribadian yang utuh. Menurut ajaran Islam, orang tua bertanggung jawab dalam menjaga anak dan Menjaga dalam hal ini dilakukan dengan mendidik anak baik dari segi tauhid, ibadah, akhlak, dan lain-lain. Baik buruknya perilaku orang tua akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak dilahirkan dengan fitrah atau potensi yang bisa dikembangkan. Tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan fitrah tersebut juga berada di tangan orang tua. Contohnya adalah perkembangan aktivitas keagamaan anak. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua tidak cukup hanya dengan teori saja melainkan harus ada tindakan nyata. Perkembangaan anak dalam aktivitas keagamaan meliputi proses mempelajari, memahami, dan mengimplementasikan dalam bentuk perilaku (Folandra, 2. Tiga proses dalam perkembangan moral anak adalah membangun pemahaman, perasaan atau penerimaan, serta perilaku moral pada anak (Yanizon. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, ada lima peran orang tua AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 61 dalam perkembangan moral anak usia SD. Peran tersebut adalah . memberi pesan atau nasihat, . mengajak berdiskusi atau tanya jawab, . mengajak anak untuk merasakan suatu peristiwa atau kondisi, . memberi contoh atau keteladanan, dan . mengikutsertakan anak ke Taman Pendidikan Alquran (TPA). Lima peran tersebut dapat dijelaskan berdasarkan tiga proses dalam perkembangan moral anak. Pemahaman moral pada anak Pemahaman moral berarti berkaitan dengan aspek kognitif anak. Orang tua berupaya agar anak memahami tentang moral. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengenalkan nilai-nilai moral dan melibatkan anak dalam permasalahan Peran orang tua yang termasuk dalam proses pemahaman moral pada anak adalah memberi pesan atau nasihat dan mengajak anak berdiskusi. Penerimaan moral pada anak Penerimaan moral pada anak berarti berada pada aspek afektif yang meliputi sikap dan perasaan. Tugas orang tua dalam hal ini adalah membuat anak memiliki rasa menerima tentang moral dan perilaku moral. Cara yang dapat dilakukan oleh orang tua yaitu menanamkan sikap penuh kasih sayang, menumbuhkan rasa tanggung jawab, membiasakan pola asuh disiplin, dan membiasakan anak untuk mendengarkan kata hati. Mengajak anak merasakan suatu peristiwa atau kondisi dapat dikatakan bagian dari peran yang dilakukan orang tua dalam proses penerimaan moral pada anak. Perilaku moral pada anak Proses perilaku moral adalah bentuk penerapan atau perwujudan dari pemahaman dan penerimaan moral pada diri anak. Peran orang tua dalam proses ini lebih tepat dikatakan sebagai teladan moral bagi anak. Upaya yang dapat dilakukan orang tua di antaranya adalah mendorong anak untuk suka menolong, memberikan contoh perilaku moral yang baik, dan membiasakan anak untuk disiplin. Beberapa cara tersebut dapat dilaksanakan orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan moral anak. Kunci dari keberhasilan orang tua dalam mendidik anak adalah keteladanan. Perilaku moral orang tua yang dilihat oleh anak dalam kehidupan sehari-hari menjadi contoh bagi anak. Baik dan buruknya perilaku anak dapat dikatakan sebagai hasil proses meniru terhadap perilaku orang tua. Perilaku orang tua yang meliputi perkataan, perbuatan, tata cara pergaulan, dan sebagainya yang diamati oleh anak membentuk pengalaman yang mempengaruhi anak dalam berperilaku (Rakhmawati, 2. Keteladanan jauh lebih berpengaruh dari sekadar kata-kata atau kalimat. Sering kali orang tua menasihati dan menginginkan anaknya memiliki perilaku yang baik. Nasihat tidak akan berhasil tanpa diiringi dengan keteladanan. Anak akan melihat dan termotivasi jika perilaku yang diharapkan oleh orang tua telah dicontohkan secara langsung dan nyata. Jika nasihat tidak diiringi dengan keteladanan, bisa jadi anak tidak mengindahkan dan justru mengabaikan orang tua. Contoh sederhananya yaitu orang tua menginginkan anaknya bertutur kata yang baik dan sopan. Orang tua selalu berpesan dan mengingatkan anaknya, namun ternyata orang tua melakukan melakukan hal yang sebaliknya. Misalnya yaitu anak melihat dan mendengar orang tua berkata kasar, sering marah, mengancam, dan Perilaku orang tua yang tidak sesuai dengan nasihatnya kepada anak akan berakibat pada ketidakpatuhan anak terhadap orang tua. Hal ini penting AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 62 dipahami oleh orang tua bahwa untuk memiliki anak yang baik harus menjadi orang tua yang baik telebih dahulu. Keteladanan dari orang tua terhadap anak dapat didukung dengan memilih dan menerapkan pola asuh yang tepat. Hambatan-hambatan yang ditemukan orang tua dalam mendidik moral anak dapat dihadapi dengan keteladanan. Ketika nasihat dan peringatan sulit diterima oleh anak, maka contoh nyata memiliki kekuatan yang lebih besar dalam mendidik moral anak. Keteladanan orang tua dilihat dan dirasakan langsung oleh anak, sehingga membangun kesadaran pada diri anak untuk meneladani kebaikan-kebaikan orang tuanya. Orang tua juga perlu memperhatikan pola asuh yang diterapkan dalam Pola asuh penting bagi orang tua dalam perkembangan moral anak. Secara umum, ada tiga jenis pola asuh yang digunakan orang tua dalam mendidik anaknya (Rakhmawati, 2. Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang cenderung penuh paksaan, mengatur, dan kekerasan. Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter lebih banyak menggunakan hukuman jika anak tidak mematuhi perintah orang tua. Dapat dikatakan bahwa dalam hal ini orang tua memaksakan seluruh kehendaknya terhadap anak. Pola asuh otoriter akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak. Anak akan sulit berinteraksi dengan orang lain karena kurang percaya diri. Selain itu anak juga akan sulit mengatur dan mengendalikan diri serta Pola asuh permisif Pola asuh permisif merupakan kebalikan dari pola asuh otoriter. Pola asuh permisif adalah orang tua memberikan kebebasan kepada anaknya tanpa disertai kepedulian dari orang tua. Anak bebas melakukan apapun sesuka hatinya. Kebebasan yang demikian akan menumbuhkan sifat egois pada anak. Kegoisan ini akan menghambat kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuannya dalam hubungan sosial juga dapat dikatakan kurang baik karena cenderung egois. Pola asuh demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memberikan kebebasan kepada anak namun disertai dengan bimbingan dari orang tua. Orang tua mengarahkan anak terhadap hal-hal yang baik, sehingga kebebasan yang diberikan tetap disertai rasa tanggung jawab. Bimbingan dari orang tua akan menciptakan hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Suasana yang demikian juga akan sifat terbuka dan bijaksana pada anak dalam berkomunikasi. Melalui pola asuh demokratis, akan akan belajar menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki kemandirian dalam menyelesaikan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis dan otoriter lebih dipilih orang tua dalam mendidik moral anak. Pola asuh demokratis dapat diterapkan orang tua untuk membangun kedekatan dan hubungan yang baik dengan Pola asuh demokratis yang disertai dengan kasih sayang akan menciptakan kondisi yang baik untuk perkembangan moral anak. Orang tua tidak hanya menjadi pemberi pesan tetapi juga menjadi pendengar bagi anak. Anak akan terbiasa untuk percaya diri, tanggung jawab, dan mandiri. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 1 Tahun 2025 | 63 Adapun pola asuh otoriter digunakan untuk memberi ketegasan pada anak. Contohnya adalah dalam hal membatasi anak untuk bermain gadget. Pola asuh otoriter lebih cocok digunakan pada masalah tersebut untuk menumbuhkan kepatuhan pada anak. Perlu diingat bahwa penggunaan pola asuh otoriter harus sesuai dengan kondisi dan permasalahan. Jika pola suh otoriter sering dan lebih dominan diterapkan, anak akan tumbuh menjadi individu yang sulit percaya diri. Hal tersebut juga dapat berpengaruh dalam perkembangan moral anak. Anak cenderung melakukan sesuatu karena rasa takut atau paksaan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa peran orang tua dalam perkembangan moral anak usia sekolah dasar (SD) adalah . memberi pesan atau nasihat, . mengajak berdiskusi atau tanya jawab, . mengajak anak untuk merasakan suatu peristiwa atau kondisi, . memberi contoh atau keteladanan, dan . mengikutsertakan anak ke Taman Pendidikan Alquran (TPA). Hambatan yang ditemukan orang tua dalam mendidik moral anak adalah pengaruh lingkungan, gadget, dan karakter anak. Pola asuh yang lebih banyak digunakan orang tua dalam mendidik moral anak adalah pola asuh demokratis dan otoriter. REFERENSI