Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 PERENCANAAN TERMINAL BARANG STASIUN PALANRO UNTUK MENDUKUNG LOGISTIK KERETA API TRANS SULAWESI PALANRO STATION FREIGHT TERMINAL PLANNING TO SUPPORT TRANS SULAWESI RAILWAY LOGISTICS. Muhammad Ali Akbar 1, *. Siti Malkhamah 2. Imam Muthohar 3 Magister Sistem dan Teknik Transportasi. Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan. Fakultas Teknik Universitas Gadjah mada Jl. Grafika No. 2 Kampus UGM. Yogyakarta 55281. Indonesia *Email korespondensi: muhammad. akbar@mail. Abstract Makassar-Parepare Railway project is designed to support passenger and freight transportation to support the economic improvemen of South Sulawesi Region. In ensuring the smoothness of the logistic operation, itAos necessary to plan the particular facilities that integrates between railway network and land transport network. Featured commodities that will be the focus of the research are rice, seaweed, and cement. The planning is done by gathering literature review regarding the land transport terminal and railway station design. The next step is to analize the demand commodities to be sent by rail. The main and supporting facilities are then determined and then determine the total area needed for the warehousing and container storing area. The need for integration facilities is divided into 3 zones. The railway zone serves as a operation zone for rail freight Goods and warehousing zone serve as a loading and unloading, storing, and operating zone for the goods. The land transport zone serves as a operation zone for land transport such as trucks, pickups, and operational vehicle. Identification of needs in every zone is necessary to ensure that logistic operation can be run smoothly. Keywords: Multimodal Terminal. Transport Integration. Railway Freight Terminal Abstrak Proyek Kereta Api Makassar-Parepare dirancang untuk mendukung angkutan penumpang mau pun logistik yang dapat meningkatkan perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam menjamin kelancaran proses logistik maka perlu direncanakan fasilitas intermoda yang mengintegrasikan antara angkutan kereta api dengan angkutan darat. Komoditas unggulan yang menjadi fokus studi adalah beras, rumput laut, dan semen. Perencanaan dilakukan dengan mengumpulkan literatur mengenai perencanaan terminal barang mau pun perencanaan Kemudian mengetahui demand komoditas yang akan dikirim menggunakan moda kereta api. Selanjutnya menentukan kebutuhan fasilitas utama mau pun pendukung serta menganalisis kebutuhan luasan gudang dan lapangan Kebutuhan fasilitas integrasi terbagi menjadi 3 zona. Pertama adalah zona kereta api yang berfungsi untuk melayani segala operasi kereta api. Kedua adalah zona barang dan pergudangan untuk melayani penanganan barang seperti bongkar muat, penyimpanan, dan lain-lain. Ketiga adalah zona angkutan darat untuk melayani operasi angkutan darat seperti truk, pickup, dan kendaraan operasional. Identifikasi kebutuhan dilakukan di setiap zona agar terjamin pelayanan angkutan logistik yang maksimal. Kata Kunci: Terminal Multimoda. Integrasi Transportasi. Terminal Barang Kereta Api PENDAHULUAN Kelancaran logistik merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan perekonomian. Sulawesi Selatan memiliki jangkauan logistik yang luas. Fitriah . menjelaskan bahwa peralihan moda truk ke moda kereta api akan efisien jika jarak antar melebihi 50km. Untuk itu diperlukan pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan karakter dari logistik tersebut. Kereta Api Trans Sulawesi Koridor Makassar-Parepare merupakan langkah awal kebangkitan perkeretaapian di Pulau Sulawesi. Tahap awal pembangunan terbentang sepanjang 145 kilometer yang menghubungkan Kota Makassar. Maros. Pangkep. Barru, hingga ke Parepare. Proyek Kereta Api Makassar-Parepare telah tertuang pada Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS). Rencana Pengembangan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024, dan Rencana Strategis (Renstr. Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Kereta api Trans-Sulawesi merupakan proyek perkeretaapian yang dapat berperan sebagai sarana transportasi pendukung permintaan angkutan penumpang dan perpindahan barang. Rencananya Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 jalur kereta api Makassar-Parepare akan melintas di pesisir barat dari Makassar-Maros-PangkepBaru-Parepare dengan total 16 stasiun. Ke-16 stasiun ini dalam pembangunannya dibagi menjadi 7 segmen yaitu Segmen A 23 Km. Segmen B 26,1 Km. Segmen C 16,1 Km. Segmen D 60 Km. Segmen E 13,6 Km. Segmen Akses Garongkong 4,7 Km, dan Segmen Akses Tonasa 9,7 Km. Ketujuh segmen tersebut sudah dikerjakan baik baru mulai pembebasan lahan mau pun sudah tahap selesai konstruksi. Harapannya kereta api harus bisa memberikan kontribusi untuk meningkatkan perekonomian dari segi ekspor mau pun impor. Perlu dipertimbangkan apa saja komoditas logistik yang efisien apabila menggunakan kereta api sebagai alat transportasi utama. Kereta Api Trans Sulawesi diharapkan dapat menjadi transportasi logistik mau pun penumpang yang dapat meningkatkan perekonomian. Angkutan logistik menggunakan kereta api tidak dapat berdiri sendiri, perlu ada kegiatan alih moda dikarenakan sifat moda kereta api yang point to point. Untuk menjamin kelancaran operasi logistik, maka diperlukan fasilitas alih moda sebagai titik untuk perpindahan barang dari satu moda ke moda lainnya. Menurut Dwiatmoko . Pembangunan kereta api Trans Sulawesi diharapkan dapat berperan dalam mengangkut penumpang dan barang. Manfaat tersebut diuraikan sebagai berikut: Mempersingkat waktu perjalanan penumpang Angkutan barang dapat lebih maksimal dikarenakan tingginya kapasitas kereta api Meningkatkan keamanan dalam berlalu lintas jalan raya Mengurangi beban jalan raya ke kereta api Efisiensi dalam penggunaan bahan bakar Ramah lingkungan karena emisi rasio kereta api lebih kecil dari pada angkutan jalan Pemicu tumbuhnya sektor ekonomi di sepanjang koridor Makassar-Parepare Penghematan lahan berbanding dengan kapasitas angkut dengan jalan raya Menghubungkan simpul transportasi untuk efesiensi logistik Sebelumnya. Qadrie . melakukan analisis perpindahan moda angkutan semen menyambut dibangunnya Kereta Api Trans Sulawesi. Kemudian penelitian dilanjutkan oleh Yani . yang menganalisis Ability To Pay dan Willingness To Pay dari perpindahan angkutan semen tersebut. METODE PENELITIAN Metode pengumpulan data Data demand dan tujuan angkutan barang Data demand dan tujuan angkutan barang didapatkan dari hasil survei data sekunder yang dilakukan di instansi Pemerintah Pusat mau pun Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan. Data juga dapat direferensikan dari penelitian serupa yang memiliki lokasi dan komoditas yang sama. Demand yang dikumpulkan berupa data tahunan komoditas beras, rumput laut, dan juga semen. Kondisi lokasi terminal barang Survei kondisi rencana pembangunan stasiun dilakukan dengan cara menggunakan citra satelit yang dikombinasikan dengan data sekunder lokasi pembangunan Stasiun Palanro. Penentuan lokasi terminal barang perlu memperhatikan akses siding kereta api dan koneksi dengan jalur darat Penentuan lokasi terminal barang juga perlu memperhatikan kebutuhan lahan untuk pengembangan terminal. Daerah Sulawesi Selatan memiliki keunggulan belum berkembangnya daerah-daerah di sekitaran stasiun sehingga memiliki kemudahan dalam penentuan lahan. Penentuan karakteristik angkutan barang Untuk merancang fasilitas integrasi yang dapat terhubung dengan infrastruktur eksisting maka diperlukan data mengenai jalur kereta api agar fasilitas yang dirancang dapat tersinkronisasi Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 dengan baik. Karakteristik kereta api didapatkan dari Balai Pengelola Kereta Api Sulawesi Selatan sebagai penanggung jawab pembangunan Jalur Kereta Api Makassar-Parepare. Perencanaan karakteristik termasuk menentukan tipe peralatan yang efisien dan optimal. Menutur Naish dan Baker . , langkah pendekatan dalam evaluasi peralatan terdiri dari Asesmen peralatan Distribusi peralatan Kerangka keputusan Perbandingan biaya Analisis sensitivitas Simulasi komputer Identifikasi rantai pasok Kegiatan utama dalam proses logistik antara lain adalah pengambilan barang, perjalanan, dan penyerahan kepada konsumen (Marliana, 2. Untuk merencanakan terminal barang maka perlu perencanaan gudang logistik yang akan menjadi pusat kegiatan. Menurut Frazelle . , profil gudang dapat dijabarkan sebagai berikut Profil kemasan yang akan digunakan oleh komoditas yang akan dilayani . ontainer, palet, curah, dl. Volume barang yang akan dilayani Proses dan cara pengelolaan barang Waktu distribusi dari barang (Bulanan, mingguan, haria. Integrasi dengan moda lainnya baik sebelum mau pun sesudahnya Profil investasi untuk menentukan tipe penanganan barang Menurut Boile et al, . pada terminal barang ditemukan beberapa fitur infrastukrut antara lain Pusat distribusi Area penyimpanan Fasiltias penyimpanan Garasi perawatan Komponen-komponen tersebut dianalisis secara bersamaan untuk mendapatkan pertimbangan desain yang akan digunakan. Metode pengolahan data Parameter desain terminal barang Menurut Pustral . , atribut terminal abrang merupakan fokus yang menjadi dasar dalam perencanaan terminal barang. Atribut tersebut diantaranya Lokasi Lokasi terminal barang penting ditentukan sebagai pelengkap dari jaringan logistik transportasi untuk mendukung kelancaran proses logistik. Lokasi terminal barang ditempatkan di lokasi khusus seperti Pelabuhan, bandara, mau pun stasiun. Aksesibilitas Aksesibilitas menjadi atribut penting dalam mendukung kelancaran operasional logistik selain dari lokasi terminal barang itu sendiri. Aksesibilitas difokuskan pada keterjangkauan dengan moda lainnya sehingga dapat tercipta intermodalitas yang baik. Infrastruktur Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 Fungsi terminal sebagai angkutan barang perlu dirancang dengan infrastruktur pendukung untuk menunjang kelancaran operasi logistik. Pertimbangan infrastruktur sangat penting untuk mengakomodasi kebutuhan terminal sekarang dan masa yang akan datang. Kebutuhan fasilitas integrasi Kebutuhan fasilitas integrasi tidak hanya menentukan fasilitas untuk kelancaran transfer barang saja namun juga mempertimbangkan operasional terminal secara keseluruhan. Menurut MOUD , pembagian luas lahan untuk fasilitas Integrated Container Terminal dinyatakan dalam persen dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini Tabel 1 Fasilitas Integrated Container Terminal TIPE PENGGUNAAN Area grosir/penjualan Pergudangan Agen Fasilitas komersial dan area publik/semipublik Utilitas dan layanan Layanan Parkir Sirkulasi Lainnya Total LUAS LAHAN Menurut Peraturan Menteri Perhubungan No. 102 Tahun 2018 fasilitas utama pada terminal barang adalah sebagai berikut Jalur keberangkatan Loket Jalur kedatangan Fasilitas dan tempat bongkar muat barang Tempat parkir kendaraan Fasilitas penyimpanan barang Fasilitas pengelolaan lingkungan hidup Fasilitas pergudangan Perlengkapan jalan Fasilitas pengepakan barang Media informasi Fasilitas penimbangan Kantor penyelenggara terminal Sedangkan untuk fasilitas penunjang adalah sebagai berikut. Pos kesehatan Rumah makan Fasilitas kesehatan Fasilitas telekomunikasi Fasilitas peribadatan Fasilitas pereduksi pencemaran udara Pos polisi Fasilitas kebersihan Alat pemadam kebakaran Fasilitas perdagangan Toilet Fasilitas penginapan Kebutuhan sisi kereta Kebutuhan pada sisi kereta harus mengikuti kondisi eksisting yang ada di Jalur Kereta Api Makassar-Parepare. Di dalam merencanakan fasiltas bongkar muat kereta maka harus menganalisis panjang efektif peron yang akan digunakan. Kemudian menentukan konfigurasi wesel yang berkaitan langsung dengan panjang lintasan kereta. Perencanaan teknis kereta api mengikuti Peraturan Menteri Perhubungan No. 60 Tahun 2012. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 Kebutuhan sisi darat Kebutuhan sisi darat yang paling utama adalah sirkulasi kendaraan mau pun tempat parkir Perancangan sirkulasi mengikuti Pedoman Desain Geometrik Jalan. Direktorat Jenderal Bina Marga. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2020. Sedangkan untuk parkir menggunakan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir. Departemen Perhubungan. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 1997. Kebutuhan pergudangan Pergudangan baik dengan tipe kontainer mau pun palet memiliki perhitungan yang sama. Luas gudang mau pun lapangan penumpukan dihitung dengan mempertimbangkan demand, tinggi tumpukan, lama waktu penumpukan, faktor barang, dan lain-lain. Frazelle . menjelaskan mengenai 5 tahap perencanaan gudang yaitu Perencanaan kebutuhan luasan Perencanaan alur material Perencanaan lokasi alat Lokasi proses Perencanaan pengembangan PEMBAHASAN Perencanaan terminal barang yang terkoneksi dengan jalur kereta api memiliki beberapa zona utama yaitu zona kereta, pergudangan, dan angkutan darat. Tiap zona yang direncanakan memiliki fasilitasnya sendiri-sendiri sesuai dengan karakteristik moda yang dilayani. Zona pergudangan juga mencakup lapangan penumpukan, jembatan timbang, bengkel, serta fasilitas lainnya untuk melayani kelancaran logistik angkutan barang. Skema zona terminal barang terintegrasi dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini. Gambar 1 Skema Zona Fasilitas Integrasi Kondisi tata guna lahan Lokasi Stasiun Palanro masih didominasi oleh persawahan sehingga meminimalisir konflik lahan untuk pembangunan. Area yang masih belum menjadi pemukiman juga masih luas sehingga dapat direncanakan pengembangan stasiun kedepannya. Akses yang akan dibuat nantinya harus memperhatikan konflik antara jalur masuk kereta api dengan jalan akses menuju stasiun. Kebutuhan lahan Kebutuhan luas lahan didapatkan dari total lahan yang dibutuhkan dalam perencanaan desain fasilitas intermodal. Luasan lahan juga dibagi menjadi luas lahan utama yang mana luasan lahan tersebut dibutuhkan pada saat pembangunan, serta luas lahan pengembangan yang dibutuhkan pada saat ekspansi. Total kebutuhan luas lahan dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini Tabel 2 Kebutuhan Lahan Utama dan Pengembangan Keterangan Luas Lahan Utama Luas . Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 Luas Lahan Pengembangan Kebutuhan fasilitas pendukung Kebutuhan fasilitas pendukung dan ruang komersial didapatkan dari penggambaran di gambar basic design. Total luasan yang dibutuhkan dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini Tabel 3 Fasilitas Pendukung dan Utilitas Fasilitas Pendukung dan Utilitas Fasilitas Jumlah Luas . A) Kantor Penyelenggara Terminal Fasilitas Penimbangan Pos Kesehatan Fasilitas Peribadatan Pos Keamanan Pos Pemadam Kebakaran Toilet Rumah Makan/Kantin Tempat Istirahat Parkiran Alat Berat Kios Total Total Perancangan jumlah jalur kereta api Stasiun Barang Palanro harus mengakomodir kegiatan bongkar muat semen mau pun komoditas Pada perencanaan Stasiun Palanro, direncanakan terdapat dua jalur utama yaitu untuk langsung masuk ke gudang semen dan jalur yang menuju lapangan penumpukan. Selain itu dipersiapkan juga lajur untuk kegiatan langsiran kereta api. Jadi, total lajur yang direncakan adalah 3 lajur. Konfigurasi tata letak jalur stasiun Perancangan tata letak jalur stasiun direncanakan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kondisi konfigurasi jalur kereta api di Stasiun Palanro adalah sebagai berikut. Jumlah jalur kereta api : 4 jalur kereta api Sepur raya : Sepur raya diletakkan di posisi paling timur dari stasiun dan direncanakan tidak mengganggu operasi kereta api pada jalur utama Jalur sayap : Berjumlah 2 jalur yaitu menuju gudang semen dan menuju lapangan penumpukan Jalur simpan : berjumlah 1 jalur yang dapat dipergunakan untuk menyimpan sarana mau pun dijadikan lokasi langsir Konfigurasi wesel Wesel merupakan hal yang penting untuk menjamin kelancaran dan keselamatan pola operasi kereta api. Pada perencanaan ini terdapat 8 wesel dengan konfigurasi 1:12 yang mana memiliki batas kecepatan 45km/jam sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No 60 Tahun 2012. Skema wesel dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 Gambar 2 Skema Jalan Rel dan Wesel Geometri jalan rel Pelayanan Stasiun Palanro disesuaikan dengan jalur utama Kereta Api Makassar-Parepare. Data geometrik yang digunakan adalah sebagai berikut (Tabel 5. Tabel 4 Geometri Kereta Api Trans Sulawesi (Sumber: BPKA) Tabel 4 Karakteristik Kereta Api Trans Sulawesi Deskripsi 1 Kecepatan Desain 2 Lebar Sepur 3 Beban Gandar 4 Radius Lengung Vertikal 5 Radius Lengkung Horizontal 6 Gradient Lintas Bebas 7 Gradient Emplasemen 8 Jenis Rel 9 Tebal Balas/Lebar Bahu Balas Lebar Bahu Badan Jalan KA . ari ujung balas 11 Lebar Badan Jalan KA . ari sumbu jalan re. 12 Fasilitas Operasi Desain 160 km/jam 1435 mm 22,5 Ton Min 8000 m Min 1800 m Maks. 0-1,5% 300 mm/ 600 mm 700 mm - 1500 mm 4260 mm Elektrik Panjang jalur efektif Panjang jalur efektif diperlukan untuk mendapatkan layout emplasemen yang optimal agar operasi bongkar muat dapat berjalan maksimal. Panjang jalur dapat mengikuti standar operasi di stasiunstasiun yang sudah ada mau pun dapat dihitung menggunakan Persamaan 1 berikut ini. yaycaycycnycaycu y ycE. ycIycaycycaycuyca ycEycEya = . yaycuyco y ya. ( ya. ycIycaycuyciycoycaycnycaycu y ycI yayca Dimana: PPE Efektif = Panjang Peron Efektif Lok = Jumlah lokomotif Lok = Jumlah lokomotif Volume harian barang Harian yang diangkut Panjang sarana Sarana = Kapasitas gerbong Rangkaian . Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 Ritase Faktor aman . Di Pulau Jawa, stasiun-stasiun besar memiliki panjang jalur efektif minimal 600 meter untuk mengakomodasi panjang kereta barang maksimal yang ada di Pulau Jawa. Panjang kereta barang maksimal yang ada di pulau jawa memiliki total 30 gerbong ditambah dengan 1 atau 2 lokomotif sehingga total panjang rangkaian A600m. Data-data yang didapatkan masih diasumsikan sesuai dengan rangkaian yang beroperasi di Pulau Jawa. Lokomotif diasumsikan menggunakan CC206 dan gerbong kereta menggunakan GD 54 Ton. Gerbong untuk semen dan komoditas lain dianggap sama dikarenakan sarana yang sama bisa digunakan untuk mengangkut kontainer mau pun difungsikan sebagi gerbong datar semen dan kontainer curah. Variabel yang disesuaikan dalam perhitungan ini adalah jumlah ritase atau perjalanan dari kereta. Hal ini mempertimbangkan ketersediaan lahan yang ada di lokasi sehingga tidak terlalu luas untuk mengakomodasi panjang rangkaian. Hasil hitungan dapat dilihat pada Tabel 5. 19 di bawah ini. Tabel 5 Panjang Jalur Efektif Tabel 5 Panjang Jalur Efektif Panjang Jalur Efektif PPE 243,2148 Lok Lok Harian Sarana Rangkaian Panjang jalur efektif yang didapatkan adalah 243m kemudian dibulatkan menjadi 300m. Layout jalur kereta api berdasarkan parameter desain di atas dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini Gambar 3 Layout dan Dimensi Jalur Kereta Api Kebutuhan gudang semen Sesuai dengan demand semen yang dilayani pada waktu satu tahun, maka perhitungan kebutuhan gudang semen adalah sebagai berikut (Tabel . Tabel 6 Kebutuhan Fasilitas Gudang Semen Kebutuhan Fasilitas Gudang Semen Total Muatan Per Tahun (To. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 Waktu Transit Barang Rata-Rata Volume untuk Setiap Satuan Berat Komoditas Stacking Height Broken Stewage of Cargo Jumlah Hari Luas Gudang 0,6667 814,7074 Luas gudang kemudian dibulatkan menjadi 1000m2. Gudang semen kemudian akan beroperasi untuk menangani semen dengan pengepakan menggunakan palet semen. Kebutuhan lapangan penumpukan Lapangan penumpukan berfungsi untuk menampung kontainer yang tidak langsung dibawa oleh truk pengangkut. Luas lapangan penumpukan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut (Tabel . Tabel 7 Kebutuhan Lapangan Penumpukan Kebutuhan Fasilitas Lapangan Penumpukan Total Muatan Per Tahun (To. Waktu Transit Barang Rata-Rata Volume untuk Setiap 0,6667 Satuan Berat Komoditas Stacking Height Broken Stewage of Cargo Jumlah Hari Luas Lapangan 6694,00476 Penumpukan Luas lapangan penumpukan kemudian dibulatkan menjadi 6000m2 dengan asumsi okupansi maksimal adaah 80% sesuai dengan skenario. Perhitungan Parkir Truk Perhitungan kebutuhan ruang parkir dapat dilihat pada Persamaan 2 berikut ini. yaycaycycnycaycu ycIycIycE = ya. ycNycycyco y ycI Dimana SRP = Satuan Ruang Parkir Harian = Volume harian komoditas yang akan dibawa Truk = Kapasitas truk = Ritase . Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 Perhitungan kebutuhan parkir truk dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini Tabel 8 Kebutuhan Parkir Truk Kebutuhan Parkir Truk Volume Harian Kapasitas Truk Ritase SRP 37,31667 Luas SRP 1585,958 Kebutuhan Parkir Karyawan Nilai Satuan Ruang Parkir dapat dihitung menggunakan Persamaan 3 berikut ini yaycycayc yaAycaycuyciycycuycaycu ycIycIycE = 100 y . Kebutuhan parkir karyawan dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini . Tabel 9 Kebutuhan Parkir Karyawan Kebutuhan Parkir Karyawan Luas Bangunan Faktor Parkir SRP Luas SRP Geometrik sirkulasi kendaraan Sirkulasi kendaraan keluar masuk terminal didesain dengan skema grid satu arah. Hal ini untuk meminimalisir konflik kendaraan yang berpapasan. Jalur truk sudah terbagi antara kendaraan yang menuju gudang semen, lapangan penumpukan, mau pun rest area yang disediakan. Setiap alur sirkulasi juga diarahkan untuk menuju jembatan timbang untuk penimbangan kendaraan sebelum masuk ke jalan raya agar terhindar dari Over Dimension and Over Load (ODOL). Pola sirkulasi dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4 Alur Sirkulasi Kendaraan Basic Design Terminal Barang Stasiun Palanro Hasil dari perhitungan di atas kemudian menjadi dasar untuk basic design dari Terminal Barang Stasiun Palanro. Dimensi yang menjadi hasil dari desain tidak sepenuhnya akan sama dengan Yang menjadi patokan di dalam desain adalah kebutuhan minimal yang dibutuhkan untuk beroperasi. Dari hasil perhitungan maka didapatkan denah yang dirancang adalah sebagai berikut (Gambar . Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 13 Nomor 1 Hal 1 - 12 Gambar 5 Basic Design Terminal KESIMPULAN Perencanaan desain terminal barang ini memiliki tipe alih moda dari moda kereta api ke moda truk mau pun sebaliknya. Untuk itu diperlukan perencanaan akses kereta api mau pun peron yang akan melayani transfer barang. Total panjang rel kereta api yang dibutuhkan untuk membuat stasiun adalah sepanjang 3,469 km. Total panjang rel sudah termasuk alur arah ke lapangan penumpukan, gudang semen, mau pun jalur simpan/langsir. Menentukan luasan bangunan, sirkulasi, dan kebutuhan alat berat dihitung menggunakan dasar demand yang akan dilayani oleh terminal barang. Gudang semen, lapangan penumpukan, dan lainlain dihitung berdasarkan jumlah barang yang akan dilayani dalam satu tahun. Kemudian diperlukan juga fasilitas pendukung seperti perkantoran, komersil, utilitas, keamanan, kebersihan, dan lain-lain untuk menunjang kelancaran operasi terminal barang. DAFTAR PUSTAKA