ISLAM & CONTEMPORARY ISSUES https://doi. org/10. 57251/ici. Vol. No. 1, 2023 | 32-39 Konflik Interpersonal Pasca Konversi Agama di Yayasan Bina Mualaf Medan Fajar Dermawan Solin*. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia ABSTRACT ARTICLE HISTORY This article discusses the interpersonal conflicts experienced by individuals after converting to a different religion at the Bina Mualaf Foundation in Medan. The article highlights the importance of religion in society and the freedom to choose oneAos own The article also explores the contributing factors to religious conversion and the challenges faced by converts, including conflicts with their families and social The purpose of this article is to analyze the development of interpersonal conflicts experienced by converts and how they seek solutions. The research methodology mploye dis qualitative, with data collected through interviews and literature reviews. This study focuses on two families at the Bina Mualaf Foundation in Medan. The findings of this study will be analyzed and interpreted to draw conclusions. Received Revised Accepted Published 25/03/2023 27/03/2023 29/03/2023 31/03/2023 KEYWORDS Interpersonal Conflict. Religious Conversion. Bina Mualaf Foundation Medan. *CORRESPONDENCE AUTHOR fajar1608@gmail. PENDAHULUAN Hampir semua masyarakat Indonesia memiliki satu pedoman hidupnya masing-masing yakni agama yang dianutnya. di Indonesia Agama menjadi suatu hal yang sangat penting. Ragam agama di Indonesia sangat banyak. Walaupun hanya ada enam agama yang diakui di Indonesia, yakni Islam. Kristen. Protestan. Hindu. Buddha dan Konghucu. Dari keragaman agama tersebut masyarakat Indonesia dapat dikatakan sebagai masyarakat yang multikultural. bebas untuk memilih suatu agama yang ia yakini dan itu adalah hak masing-masing warga negara. Hal ini juga didukung di dalam deklarasi universal hak asasi manusia pada akhirnya, kebebasan dalam beragama membuat banyak situasi konversi agama pada masyarakat Agama merupakan sistem kepercayaan, praktek-praktek . , dan aturan-aturan moral yang hadir berdasarkan suatu keyakinan terhadap suatu hal yang suci. Agama dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu sistem nilai yang memuat norma-norma tertentu dan membentuk sistem nilai dalam diri (Sukatin. Qadafi. Ariani. Patimah, & Apriyanto, 2. Adanya fenomena konversi agama di Indonesia sudah menjadi hal yang biasa terutama sejak kebebasan beragama dijamin oleh Undang-undang. Menurut Zakiyah Daradjat, konversi agama berarti berlawanan arah, yang dengan sendirinya terjadi suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula. Bagi para mualaf, ketika mereka memutuskan berpindah agama maka tentu mereka telah memilih jalan yang terbaik bagi mereka (Mulyadi, 2. Pada umumnya, iman mereka masih belum teguh dan kuat. Konversi agama juga dibahas oleh para ahli psikologi. Mereka berpendapat bahwa yang mendorong terjadinya konversi agama dilatarbelakangi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor intern yang mempengaruhi yaitu dari kepribadian dan faktor pembawaan. Sedangkan faktor ekstern penyebab konversi agama adalah faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, perubahan status dan kemiskinan (Hidayat, 2. Faktor keluarga mencakup keretakan keluarga, ketidakserasian, berlainan agama dan lain sebagainya. Kondisi ini menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga terjadi konversi agama dalam meredakan tekanan batin tersebut. Faktor lain yang mempengaruhi konversi agama adalah adanya perubahan status. Salah satu bentuk perubahan status yang dimaksud yaitu menikah dengan orang yang berlainan agama (Shof, 2. Perasaan saling tertarik antar pria dan wanita yang berbeda agama tidak bisa dihindari, hingga mempunyai keinginan untuk melanjutkan ke dalam hubungan pernikahan. Dengan adanya dorongan ingin menjalin hubungan bersama dalam ikatan pernikahan, perbedaan agama sering kali menjadi penghalang bagi seorang individu untuk dapat mempersatukan cintanya (Azzahra. Safira. Fatimah, & Rejeki, 2. Banyak masyarakat di Indonesia yang melakukan konversi agama agar bisa menjalankan pernikahan dan menjadi pasangan suami istri. Hal ini juga dikarenakan di Indonesia tidak memfasilitasi pernikahan beda agama. A 2023 The Author. Islam & Contemporary Issues. ISSN: 2798-3307. Published by Medan Resource Center This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Common Attribution License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. Islam & Contemporary Issues | 33 Sulitnya mengurus pernikahan beda agama pada akhirnya menjadi penyebab konversi agama Ada pasangan yang mempertahankan agama masing-masing yang dianutnya, ada pula pasangan yang berpindah ke salah satu agama dengan terpaksa dan ada juga yang berpindah secara sukarela. Konversi agama yang dialami mualaf dapat dilihat dari sisi normatif dan historis. Secara normatif. Dutton menyimpulkan bahwa motif para mualaf melakukan konversi agama tak terbatas, sehingga hasilnya pun tidak dapat dijamin ketulusannya. Setelah berkomitmen dan secara resmi memeluk agama Islam, fenomena yang unik ditunjukkan dengan keterikatan para mualaf dengan umat muslim lainnya cenderung tumbuh semakin kuat (Ritonga, 2. Secara historis, konversi agama dapat dilihat pada konteks. Istilah konteks yang merupakan kesatuan superstruktur dan infrastruktur konversi yang meliputi dimensi, sosial, budaya, agama, dan personal. Dalam penelitian ini, konteks lebih cenderung merujuk kepada kesatuan infrastruktur yang meliputi mikro-konteks atau latar belakang kehidupan beragama para mualaf, seperti keluarga, sahabat, dan lingkungan masyarakat. Pada tahap krisis, mualaf lebih cenderung memusatkan kesadaran diri mereka kepada pengalaman beragama sebelumnya yang dibenturkan dengan pengalaman yang baru. Pengambilan keputusan untuk melakukan konversi merupakan perpaduan antara kondisi emosional, intelektual, dan sosial (Abdillah & Sjafe, 2. Para mualaf tidak hanya mengalami konflik psikologis dalam mengambil keputusan untuk konversi, melainkan juga mendapatkan pertentangan dari lingkungan agama sebelumnya. Konversi agama yang dialami para mualaf berdampak pada interaksi mereka dengan lingkungan masyarakat, terutama lingkungan keluarga (Dariyo, 2. Pasca pembacaan syahadat, mualaf mendapatkan reaksi yang beraneka ragam dari lingkungan keluarga maupun kerabat, seperti ancaman yang berupa intimidasi, dikucilkan, dan diputus hubungan dari ikatan keluarga. Sehingga, pertentangan yang terjadi menimbulkan konflik yang disebabkan oleh prasangka negatif dari keluarga maupun kerabat dari lingkungan agama sebelumnya. Prasangka tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pengertian tentang hidup orang lain, adanya kepentingan individu maupun kelompok dan menganggap bahwa konversi merupakan tindakan menyimpang (Dwisaptani & Setiawan, 2. Berdasarkan riset awal atas salah satu keluarga di Mualaf Yayasan Bina Mualaf Kota Medan. Fendi Kosasi . dan Lasminin . keduanya merupakan pasangan yang melakukan konversi agama, merupakan mualaf dari kultur Cina Jawa yang sudah memeluk agama Islam selama 3 tahun pasca menikah. keduanya menjelaskan bahwa ketika awal mula masuk Islam adanya pertentangan dari pihak keluarga, dimana keluarga khususnya orang tua tidak terima pindahnya ke agama Islam karna orang tua merupakan pemeluk agama yang taat. Salah satu penyebab keinginan memeluk agama dikarenakan anggapan Islam agama yang benar. Berlandaskan dari apa yang sudah dipelajari dari Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad merupakan manusia yang luar biasa dan tidak akan ada yang bisa sepertinya dan juga informan beranggapan bahwa Islam dulu agama yang Kemudian informan dari 1 keluarga selanjutnya yaitu Atifah . , mualaf bukan karena mau nikah, awalnya ia bergerak dibidang politik dan keagamaan. Ia tidak terlalu peduli agama Islam pada masa itu, namun lambat laut ia merasa ada yang salah dan ada keraguan dalam agama yang dianut. Ia bermimpi pada masa itu bahwasanya melihat cahaya terang. Gurunya berkata bahwa ia bermimpi Rasulullah dan dibakar di api neraka sekaligus mendengarkan suara bahwa ini yang diterima nantinya. Setelah itu minta dipanggilkan ustad. Namun hidayah yang ia dapat tidak terlalu cepat, karena ia tetap berusaha juga dan belajar. Kesimpulannya keluarga tidak terima karena keluarga menentang perpindahan agama tersebut karena sampai dikurung serta dibawa ke dukun, dipukul dan diseret dan sampailah pada akhirnya diusir dari rumah. Melalui keterangan para informan dari 2 keluarga di atas menunjukkan bahwa pelaku konversi agama identik dengan konflik interpersonal. dari itu, penelitian ini ingin menggali lebih dalam terkait dua hal, pertama. Bagaimana proses berkembangnya konflik interpersonal yang dialami pelaku pasca konversi. kemudian, bagaimana cara mereka mengupayakan resolusi atas konflik tersebut. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik menganalisis penelitian dengan judul AuKonflik Interpersonal Pasca Konversi Agama di Yayasan Bina Mualaf Medan. METODE Jenis pendekatan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan induktif yaitu dengan mengumpulkan, menyusun dan mendeskripsikan berbagai data, dan informasi yang Materi yang diperoleh akan di interpretasikan dalam bentuk pemaparan dan analisis sehingga tujuan dari 34 | Fajar Dermawan Solin penelitian ini dapat tercapai (Sugiyono, 2. Penelitian ini memfokuskan pada studi kasus yang merupakan penelitian rinci mengenai suatu obyek selama periode tertentu yang dilakukan secara seutuhnya, menyeluruh dan mendalam dengan menggunakan berbagai sumber data (Yusuf, 2. Lokasi penelitian ini pada Yayasan Bina Mualaf Kota Medan. Adapun subjek pada penelitian ini meliputi para mualaf yang pernah terlibat dan mengalami konflik interpersonal dengan keluarga dan orang sekitarnya setelah melakukan konversi agama. Berdasarkan semua mualaf yang di sana saya membatasi hanya beberapa informan yaitu 1 orang pembina mualaf dan 4 orang para mualaf pasangan suami istri. Teknik pengumpulan data merupakan cara mendapatkan data-data yang dilakukan oleh peneliti, adapun teknik yang dilakukan dalam penelitian dengan dua cara yaitu wawancara dan studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif mencakup transkrip hasil wawancara, reduksi data, analisis, interpretasi data dan triangulasi. Dari hasil analisis data yang kemudian dapat ditarik kesimpulan (Yin, 2. PEMBAHASAN Proses Berkembangnya Konflik Interpersonal yang Dialami Dua Keluarga di Yayasan Bina Mualaf Pasca Konversi Agama merupakan sistem kepercayaan, praktek-praktek . , dan aturan-aturan moral yang hadir berdasarkan suatu keyakinan terhadap suatu hal yang suci. Agama dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu sistem nilai yang memuat norma-norma tertentu dan membentuk sistem nilai dalam diri. Agama menjadi suatu hal yang sangat penting di Indonesia. Hampir semua masyarakat Indonesia memiliki satu pedoman hidupnya masingmasing yakni agama yang dianutnya. Ragam agama di Indonesia sangat banyak. Walaupun hanya ada enam agama yang diakui di Indonesia, yakni Islam. Kristen. Protestan. Hindu. Buddha dan Konghucu. Dari keragaman agama tersebut masyarakat Indonesia dapat dikatakan sebagai masyarakat yang multikutural. Di Indonesia masyarakat bebas untuk memilih suatu agama yang ia yakini dan itu adalah hak masing-masing warga negara. Hal ini juga didukung di Pada akhirnya, kebebasan dalam beragama membuat banyak situasi konversi agama pada masyarakat (Sucianing & Heriyanti, 2. Fenomena konversi agama di kota Medan sudah menjadi hal yang biasa terutama sejak kebebasan beragama dijamin oleh Undang-Undang. Konversi agama berarti berlawanan arah, yang dengan sendirinya terjadi suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula. Bagi para mualaf, ketika mereka memutuskan berpindah agama maka tentu mereka telah memilih jalan yang terbaik bagi mereka. Pada umumnya, iman mereka masih belum teguh dan kuat. Konversi agama dalam keluarga dapat membawa pengaruh yang besar. Hal ini dikarenakan seseorang yang mengalami konversi agama, segala bentuk kehidupan batinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya . , maka setelah mengalami konversi agama akan timbul gejala-gejala baru. Gejala-gejala baru tersebut bisa menjadikan seseorang mempunyai perasaan yang serba tidak sempurna, yaitu cemas terhadap masa depan dan bisa menimbulkan tekanan batin yang disebabkan oleh tidak diakunya sebagai keluarga dan merasa tersingkir dari lingkungan (PS & Mafazah, 2. Kondisi yang demikian, secara psikologis membuat kehidupan batin seseorang menjadi kosong dan tidak berdaya sehingga mencari perlindungan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang tenang dan tenteram. Proses konversi agama yang dialami seseorang berjalan menurut proses kejiwaan seseorang dalam usaha mencari ketenangan batin. Orang-orang yang mengalami konversi agama, baik dewasa maupun remaja merupakan gejala jiwa sebagai hasil interaksi sosial. mengemukakan bahwa tingkah laku individu tidak terlepas dari lingkungan hidupnya. Tingkah laku dapat dipandang sebagai interaksi antar manusia dengan lingkungannya (Tarni. Widyastuti, & Nur, 2. Berdasarkan wawancara kepada informan pertama. Lasmini menjelaskan bahwa awal sekali masuk Islam ada merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hati ketika mendengar azan dan lantunan ayat QurAoan menjadi pengalaman rasa di luar dirinya yang membuat seseorang tertarik ke dalam emosinya. Hal yang hampir sama dalam emosi, dirasakan, yaitu ketika ia melakukan shalat dan pada gerakan sujud dia merasakan ada sesuatu yang menyesakkan dadanya dan menangis, kelegaan dalam hatinya yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. merasa diberikan kemudahan dalam prosesnya mencari kebenaran tentang Islam. Sehingga membuatnya yakin untuk memutuskan masuk ke Islam. Kemudian ia memulai shalat untuk pertama kali, saya tidak tahu bacaan shalat saat itu, yang saya tahu baru gerakannya, saat itu saya merasa benar-benar kesentuh hati saya. saya nangis terus-terusan sampai saya mau tidur. Islam & Contemporary Issues | 35 Merasakan sesuatu yang rasanya yang luar biasa dan dianggap sebagai cara Allah SWT dalam menuntunnya menuju Islam dengan mudah, selain itu Yulish melihat Youtube tentang Islam, bertanya dan berdiskusi dengan temannya yang muslim. Sebelumnya Yulish dalam mencari identitas agamanya, ia mempelajari dulu Al-Kitab dan juga mempelajari Al-QurAoan. Namun setelah itu adanya pertengkaran di keluarga yang bermula masuk ia ke dalam agama Islam, namun ya tetap diam saja namanya juga orang tua susah untuk dilawan. Adanya konflik itu setelah masuknya ke dalam Islam dimana keluarga orang tua bermula kurang terima namun kami akan membantah ketika yang kami anggap itu benar. Dan berkembangnya konflik itu juga diawali kami sering difitnah. Ada juga putus hubungan dari keluarga yang sudah berbeda agama. Kalau ancaman tidak ada. Kalau pun ada kami juga tetap diam. Konflik lain seperti orang tua tidak memberikan pulang ke rumah. Kalau pun mau ke rumah harus buka jilbab. Dan hubungan juga sudah renggang dengan keluarga yang masih di agama sebelumnya termasuk orang tua. Jadi sudah kurang perhatiannya sudah tidak sama dengan yang dulu. Dan banyak isu-isu fitnah yang dilontarkan banyak yang membenci. Karna kami masuk Islam banyak yang tidak senang. Proses pencarian yang informan keluarga kedua, lakukan hampir sama dengan proses yang dilakukan Lain halnya yang melatarbelakangi perempuan asal yang bernama untuk masuk Islam. Atifah mulai menyadari identitas keagamaannya sejak berteman dengan muslim, beberapa kali ia berpacaran tapi hanya satu kali ia berteman dengan orang yang seagama dengan dirinya namun tidak menemukan kecocokan. Seringnya ia berkomunikasi dengan muslim, yang membuatnya sering terlibat dalam komunikasi yang mengarah kepada pertanyaan-pertanyaan terkait agama. Kemudian lebih banyak dan intens terlibat diskusi. Sebelumnya, dalam berdiskusi tentang agama dengan orang lain, ia sering kali berujung dengan sebuah perdebatan. Namun beda halnya dengan diskusinya dengan mantanya, banyak menanyakan tentang apa saja terkait ajaran Islam dan mantannya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan baik dan dengan bahasa yang baik pula. Kemudian ia mulai bertanya tentang sejarahnya Islam, sejarah Nabi Muhammad. Kita chattingan juga lebih sering membahas tentang agama, saling bertanya. Saya minta penjelasan tentang Allah dan Nabi Muhammad itu siapa. Teman sesama muslim juga menjelaskan tentang Yesus itu siapa dalam Al-QurAoan. Semakin lama saya semakin tertarik ingin belajar lebih dalam lagi tentang agama Islam. Setelah banyak mempelajari tentang Islam kemudian mencari informasi tempat kajian Islam. Ia tidak hanya mencari kebenaran Islam melalui diskusi dengan mantannya, namun juga lewat pengajian. Setelah itu konflik dengan keluarga berawal dari ia mulai masuk Islam, karena keluarga itu sangat fanatik dengan agamanya. Jadi hubungan keluarga kami hancur. Kami disiksa diseret dipukul, kemudian kabur dan kami kembali lagi baru kami kabur lagi. Begitu seterusnya. Jadi kami itu disiksa. Jadi hubungan keluarga sudah tidak baik. Kemudian perang keluarga sendiri yang menganggap saya dicuci otaknya, diguna-guna atau dianggap ISIS. Dan orang tua sampai datang ke semua tempat yang dianggapnya kami ada. Seperti ke rumah ustad membawa parang bersama orang kira-kira sepuluh orang. Dijelaskan bahwa konflik interpersonal sebagai pertentangan antara setidaknya dua pihak yang saling bergantung, yang merasakan tujuan yang tidak sesuai, keterbatasan sumber daya dan gangguan orang lain dalam mencapai tujuan masing-masing pihak yang sedang berkonflik. konflik interpersonal a yang muncul ketika dua orang atau lebih mengalami ketidaksetujuan. Perselisihan ini disebabkan oleh kesalahpahaman kecil atau sebagai hasil dari tujuan-tujuan, nilai-nilai, sikap atau keyakinan yang tidak sama. Konflik interpersonal merupakan konflik yang muncul di antara dua individu. Konversi agamanya yang dialami para mualaf berdampak pada interaksi mereka dengan lingkungan masyarakat, terutama lingkungan keluarga. Pasca pembacaan syahadat, mualaf mendapatkan reaksi yang beraneka ragam dari lingkungan keluarga maupun kerabat, seperti ancaman yang berupa intimidasi, dikucilkan, dan diputus hubungan dari ikatan keluarga. Sehingga, pertentangan yang terjadi menimbulkan konflik yang disebabkan oleh prasangka negatif dari keluarga maupun kerabat dari lingkungan agama sebelumnya. Prasangka tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pengertian tentang hidup orang lain, adanya kepentingan individu maupun kelompok dan menganggap bahwa konversi merupakan tindakan menyimpang. Perubahan yang terletak pada tahap konsekuensi mualaf dapat dilihat pada perkembangan kognitif, perubahan emosional, perubahan keyakinan yang didasarkan pada iman kepada Allah, perubahan perilaku berdasarkan etika dan norma sesuai dengan ajaran Islam, dan perubahan kebiasaan sosial di kehidupannya seharihari. Perubahan yang dialami mualaf inilah yang mendapatkan pertentangan dari pihak keluarga dan kerabat dekat. 36 | Fajar Dermawan Solin Sehingga, para mualaf memiliki konsekuensi interpersonal dalam merubah kebiasaan sosial mereka demi menjalan syariat ajaran Islam. Kenyataannya ia dan keluarga sering terjadi perselisihan dan pertengkaran. Pada akhirnya, keadaan ini membuat suasana dalam keluarga tidak lagi menyenangkan. Dalam keluarga harmonis, setiap anggota keluarga berusaha menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan mencari penyelesaian terbaik dari setiap permasalahan. Selain proses penyelesaian masalah yang efektif, keharmonisan dalam keluarga juga dapat terwujud dengan adanya ikatan yang erat antar anggota keluarga. Apabila dalam suatu keluarga tidak tercipta hubungan yang erat, maka antar anggota keluarga tidak ada lagi rasa saling memiliki. Selain itu, rasa kebersamaan juga akan terasa kurang. Dan akhirnya perdamaian seiring berjalannya waktu mereka saling memahami dan bersilaturahmi kembali. Upaya resolusi yang Dilakukan Para Mualaf di Yayasan Bina Mualaf dalam Menghadapi Konflik Interpersonal Pasca Konversi Resolusi merupakan bagian dari cerita yang memuat mengenai jalan keluar yang diambil si tokoh dalam menyelesaikan masalahnya. Agama Islam dalam pandangan non muslim yang belum mengenal Islam adalah agama yang membuat orang menjadi miskin dan terbelakang. Seseorang keluarga non muslim yang menjadi mualaf . asuk Isla. , ada keluarga yang mengucilkannya, diusir dari rumah, bahkan disiksa. Oleh karena itu perlu adanya resolusi (Muharis & Akhda, 2. Berdasarkan wawancara kepada informan pertama. Lasmini menjelaskan kalau suami dengan cara diam saja karena kami beranggapan nantinya juga aman sendiri dengan orang tua. Kalau dengan keluarga yang lain ikuti arus Namun kalau istri dengan cara membantah apa bali yang dianggap itu benar. Contoh terkait hukum mana halal dan mana haram. Jadi lebih menjelaskan ke keluarga mana yang diperbolehkan dalam agama dan mana yang tidak Dan pada saat itu ia mencoba bicara dengan ibu saya, karena memang saya dekat sama ibu saya. Awalnya saya hanya bercandaan tapi ternyata kedua orang tuanya menanggapinya dengan serius. Tapi respons kedua orang tuanya baik. Mereka mengizinkan saya untuk masuk Islam, menurut mereka kalau memang itu hal yang terbaik buat Atika ya tidak apa-apa. Akhirnya setelah itu Atika semakin mantap. AuKetika sudah syahadat ia bicara dengan orang tuanya, jadi ia bicara sama orang tuanya pakai drama-drama dululah, awalnya memang enggak diizini, tapi ia ngomong tapi gimana pak aku sudah enggak cocok lagi di agama yang sekarang. Ya sudah intinya kedua orang tua bilang terserah, orang tuanya enggak ngijinin tapi bilang terserah kamu, namanya orang tua kan, jadi enggak ada persetujuan dari beliau. Ay Kemudian resolusi yang dilakukan Lasmini dalam menghadapi konflik interpersonal pasca konversi dimana perlu dilakukan hubungan yang erat antar anggota keluarga dapat diwujudkan dengan adanya kebersamaan, komunikasi yang baik, dan saling menghargai satu sama lain. Selain itu. Keharmonisan keluarga juga akan terwujud apabila masing-masing unsur dalam keluarga dapat berfungsi dan berperan dengan wajar dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Keluarga dengan komitmen agama yang kuat menempati peringkat tinggi tercapainya kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga, tetapi sebaliknya keluarga yang tidak memiliki komitmen agama akan memiliki resiko empat kali lebih besar mengalami kegagalan dan ketidakharmonisan. Berdasarkan wawancara kepada informan kedua Atifah menjelaskan bahwa resolusi yang dilakukan yaitu dengan cara diam saja karena keluarga itu merupakan fanatik dengan agama yang dianutnya. Jadi cuman bisa diam dan berdoa kepada tuhan. Kemudian dengan cara menjauh yaitu kabur dari rumah. AuKan aku menggunakan kerudung ketika atifah udah syahadat besoknya berangkat ke ke rumah keluarganya aku langsung nekat pakek kerudung. Nah itu maksudnya ibu kok yak langsung ya kok kamu pakek kerudung. Tapi disitu ia berani aja disitu ia kayak ngomong iya kan atifa beranggapan udah masuk Islam. oleh karena atifah enggak mau basa-basi biar orang tuanya juga tahu kalo anaknya udah masuk Islam. Namanya orang tua ya pasti kecewa, pasti ya menyakitkan, tapi dari pada akunya ngerasa bahwa yang ia pelajari selama ini adalah hal yang sia-sia kan namanya hidayah. Atifah ayak berani ajalah bismillah aja, disitu aku kuncinya cuman yakin sama Allah, dan ia bener-bener yakin pasti akan ditolong sama Allah, pastinya bakal dimudahkan, pasti ya orang tuanya paling itu nanti fase lah pasti ada waktunya mereka bakal menerima, buktinya sekarang juga mereka udah menerima. Ay Atifah sudah merasa yakin dengan agama Islam yang dipilihnya sehingga setelah masuk Islam dia mengupayakan untuk mengikuti semua tuntunan dan syariat yang ada dalam agama Islam. karena ia merasa agama ini agama yag benar agama yang selama ini ia cari tahu kebenarannya. Ketika Atifah Melakukan proses konversi agama Islam & Contemporary Issues | 37 pada akhirnya ia mempunyai perasaan serba salah, cemas terhadap masa depan dan juga mengalami tekanan batin. Perasaan-perasaan tersebut muncul disebabkan adanya rasa penolakan, rasa tidak diakui bahkan perasaan tersingkir dari lingkungan keluarga. Pada akhirnya keadaan tersebut akan mempengaruhi proses keharmonisan dalam rumah tangga pasangan tersebut. Oleh karena Atifah perlu melakukan resolusi dengan menghindarkan konflik. Dari pernyataan-pernyataan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa lebih memilih dia dan pergi demi mereda konflik interpersonal pasca konversi agama yang berkepanjangan. Proses transformasi spiritual dalam konversi dapat berlangsung dalam rentang waktu yang bervariasi, karena seseorang harus kembali beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Proses pemaknaan dan pemahaman ajaran Islam yang mereka anut sekarang, membutuhkan waktu yang berbeda antar setiap mualaf. Namun, setelah mereka berpindah agama, tentunya kepribadian dalam diri akan berubah pula. Begitu juga halnya agar para mualaf terlepas dari pada konflik interpersonal harus ada yang bisa diminimalisir dengan cara resolusi yang dilakukan para mualaf di Yayasan Bina Mualaf dalam menghadapi konflik interpersonal pasca konversi. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh pengurus terkait upaya resolusi yang dilakukan para mualaf di Yayasan Bina Mualaf dalam menghadapi konflik interpersonal pasca konversi dijelaskan bahwa resolusi yang dilakukan para mualaf di Yayasan Bina Mualaf dalam menghadapi konflik interpersonal pasca konversi sebenarnya konflik ini ada dua katagori yaitu konflik internal dan eksternal. Kalau yang internal biasanya konflik keluarga seperti halnya tidak kesuakaan terhadap pindah agama Islam. Tetapi sejauh yang kami pantau nanti si anak . balik lagi ke keluarga ketika dia sudah berumah tangga atau pun punya anak. Kalau terkait eksternal, konflik yang menggunakan jalur hukum. Seperti halnya dimana keluarga mualaf merasa/seolah olah keluarganya masuk ke agama Islam di Namun konflik seperti ini belum pernah terjadi. Dan kita berjalan saja pasti konflik-konflik seperti bisa saja Pembina Bina Mualaf di Bumi Asri medan menjelaskan bahwa pola pemberdayaan mualaf pasca konversi sangat penting untuk membantu pemantapan keberagamaan mualaf. Pola seperti ini merupakan proses internalisasi ajaran agama Islam yang ditujukan kepada para mualaf, selain itu untuk membantu pengembangan mental dan keberagamaan pasca konversi. Interaksi sosial dengan lingkungan muslim melibatkan tingkat pembelajaran yang lebih intens untuk menghubungkan para mualaf dengan agama yang baru melalui pembinaan dengan materi-materi dasar seperti, akidah tentang rukun iman dan rukun Islam, kajian Islam di luar perihal hukum Fiqh, ibadah shalat, wudhu, dan puasa, serta Fiqh wanita . husus untuk wanit. , kajian tentang Perbandingan Agama, dsb. Pemberdayaan mualaf yang dilakukan tidak hanya sebagai tahap proses pemantapan keyakinan, melainkan juga ditujukan untuk meredam konflik dan tekanan psikologis. Para mualaf membutuhkan dukungan sosial dari lingkungan muslim dengan tujuan untuk membantu menangani konflik interpersonal pasca konversi. Dukungan sosial dari lingkungan muslim terdiri dari dukungan emosional, dukungan, dukungan instrumental, dan dukungan informatif. Dukungan emosional dan dukungan informatif yang berupa rasa empati, kepedulian, perhatian, serta saran positif sangat membantu para mualaf dalam meredamkan tekanan psikologis akibat konflik interpersonal pasca konversi. Dukungan instrumental yang berupa bantuan secara langsung seperti perlindungan hukum dari tim pembina, rumah lindung, dan pemberdayaan pekerjaan untuk membantu perekonomian setelah pemutusan hubungan dengan pihak keluarga. Dalam penanganan konflik mualaf pasca konversi, beberapa penelitian mengaitkannya dengan istilah filantropi Islam. Hal ini disebabkan praktik pemberdayaan mualaf tidak dapat terpisah dari kerja sama dengan lembaga amal dan zakat sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi mualaf. Hasil penelitian ini berusaha membahas sisi dari pemberdayaan mualaf dari segi penguatan ekonomi. Bina Mualaf di Bumi Asri medan dalam melakukan pembinaan dan pendampingan walaupun bekerja sama dengan lembaga lain lebih melakukan pembinaan dalam aspek spiritual dan psikologi mualaf. Selain itu, pembinaan dan pendampingan secara hukum juga berkaitan dengan pemberian perlindungan hak kebebasan mualaf pasca konversi. Hal ini bertujuan supaya tidak mudah dimurtadkan kembali. Konflik interpersonal yang dialami mualaf merupakan tahap konsekuensi yang memerlukan upaya penanganan konflik agar kebutuhan beragamanya dapat terpenuhi sesuai ajaran Islam. Kehidupan beragama para mualaf pasca konversi tidak dapat terhindar dari konflik dalam hubungan interpersonal, terutama dengan pihak Terdapat hubungan yang positif antara nilai keagamaan ekstrinsik dengan prasangka, sedangkan nilai keagamaan intrinsik memiliki hubungan yang negatif dengan prasangka. Prasangka juga terdapat dalam anggota kelompok agama yang memiliki kepribadian otoriter dan fundamentalis. 38 | Fajar Dermawan Solin Proses penyelesaian konflik interpersonal yang dilakukan mualaf dengan cara memahamkan kepada keluarga maupun kerabat melalui mediasi secara kekeluargaan. Adapun mualaf mendapatkan intimidasi dari pihak keluarga meminta bantuan mediasi dari tim advokasi Bina Mualaf Bumi Asri Medan beserta lembaga terkait. Hal ini bertujuan agar mualaf mendapatkan kebebasan dalam beragama sesuai dengan ajaran Islam. Bina Mualaf Bumi Asri Medan dalam memberikan bantuan perlindungan hukum terhadap hak-hak para mualaf yang mengalami konflik dengan keluarga berupa tempat tinggal, sumber kebutuhan hidup, dan bantuan hukum dengan menggunakan pengacara ketika seorang mualaf menghadapi permasalahan sampai pada tingkat hukum. Mualaf di kehidupannya pasca konversi sangat memerlukan dukungan sosial dari lingkungan muslim. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami konflik interpersonal yang dialami mualaf dan mengetahui usaha yang dilakukan mualaf dalam menghadapi konflik interpersonal pasca konversi. Setelah mengalami keadaan tentram dan tenang, tahapan terakhir yang terjadi pada pelaku konversi melibatkan ekspresi konversi dalam hidup. Tahap ini menunjukkan bahwa pada akhirnya pelaku konversi agama akan melibatkan perkataan, sikap, dan kelakuan mengalami perubahan mengikuti aturan yang diajarkan oleh agamanya . Dalam tahap ini, terlihat pentingnya perilaku saling menghargai antar anggota keluarga, terkhusus keluarga yang melakukan konversi agama. Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang memberikan tempat bagi setiap anggota keluarganya, saling menghargai perubahan yang terjadi dan mengajarkan keterampilan berinteraksi pada anak dengan lingkungan yang luas. Keluarga harmonis terjadi apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai oleh berkurangnya ketegangan, kekecewaan dan menerima seluruh keadaan dan keberadaan dirinya . ksistensi, aktualisasi dir. yang meliputi aspek fisik, mental dan sosial. Keluarga harmonis juga dapat terbentuk dengan meluangkan waktu secara bersama-sama. Waktu luang dapat digunakan hanya sekedar berkumpul, makan bersama, menemani anak bermain serta mendengarkan masalah maupun keluhan anak. Situasi ini membuat anak merasa dirinya dibutuhkan dan diperhatikan oleh orang tua. Situasi ini juga berkaitan dengan suasana rumah. Suasana rumah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga. Suasana rumah menjadi menyenangkan ketika anak melihat ayah dan ibunya pengertian, bekerja sama serta mengasihi satu sama lain. Dengan kondisi ini, anak merasa orang tua mengerti akan dirinya, merasakan bahwa saudara- saudaranya menghargai dan merasakan kasih sayang yang diberikan saudaranya kepada SIMPULAN Proses berkembangnya konflik interpersonal yang dialami dua keluarga di Yayasan Bina Mualaf pasca konversi berawal dari masuk Islam, namun Adanya konflik itu setelah masuknya ke dalam Islam dimana keluarga orang tua bermula kurang terima. Dan berkembangnya konflik itu juga dari banyaknya isu-isu fitnah yang dilontarkan banyak yang membenci. Karna kami masuk Islam banyak yang tidak senang. Kemudian perang keluarga sendiri, para mualaf dianggap dicuci otaknya diguna-guna atau dianggap ISIS. Dan orang tua sampai data ke semua tempat yang dianggapnya para mualaf ada. Seperti halnya ke rumah ustad dengan membawa parang bersama dengan orang Upaya resolusi yang dilakukan para mualaf di Yayasan Bina Mualaf dalam menghadapi konflik interpersonal pasca Dan sesekali membantah apabila yang dianggap itu benar dan berdoa kepada tuhan. Kemudian dengan cara menjauh dari rumah. Kemudian resolusi yang dilakukan oleh pengurus/pembina mualaf yaitu tetap memantau dan mendampingi, apalagi sekira konflik sampai ke ranah/jalur hukum juga tetap dibantu dalam penyelesaiannya. Karena para pengurus/pembina lebih menengahi menjadi fasilitator ke arah jalan damai. REFERENSI