PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Tantangan Komunikasi Pemimpin Rohani pada Generasi Milenial Hendryson Sekolah Tinggi Teologi Berea Pontianak hendryson1488@gmail. Abstract: This study aims to review and find out the challenges and communication strategies of spiritual leaders in facing the millennial generation. Thus. Christian leaders can build good communication in every generation. To answer these topic questions, the research in this article uses literature research with a descriptive qualitative approach. The sources of data in this study are the Bible, books, journals, and other relevant literature. Research findings that leaders for the digital generation need to build bridges between generations, look for similarities, get to know more about the character of the digital mindset, become friends and value humans more than tradition. Keywords: Communication. spiritual leaders. millennial generation. communication strategy Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau dan mengetahui tantangan dan strategi komunikasi pemimpin rohanni dalam menghadapi generasi milenial. Dengan demikian, pemimpin Kristen dapat membangun komunikasi yang baik di setiap generasi yang ada. Untuk menjawab pertanyaan topik tersebut penelitian dalam artikel ini menggunakan penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah Alkitab, buku, jurnal, serta literatur lain yang relevan. Temuan penelitian bahwa pemimpin untuk generasi digital perlu membangun jembatan antar generasi, mencari kesamaan, mengenal lebih dalam karakter digital mindset, menjadi sahabat dan lebih menghargai manusia daripada tradisi. Kata kunci: Komunikasi. pemimpin rohani. generasi milenial. strategi komunikasi Pendahuluan Gereja hadir bukan hanya sebagai tempat peribadatan orang percaya. Jauh daripada itu, gereja juga adalah lembaga pembinaan iman yang hadir menjawab semua persoalan zaman Sebagai lembaga pembinaan iman bagi setiap warganya, tentu saja gereja harus bisa menjawab setiap tantangan demi tantangan iman di setiap generasi terkhusus dalam hal gaya komunikasi generasi muda milenial saat ini. Setiap generasi memiliki tantangan dan penyelesaiannya sendiri. Untuk itulah gereja harus bisa mengoptimalkan kepemimpinannya, tanpa terkecuali generasi milenial yang hidup saat ini. Sangat penting ketika setiap pemimpin rohani mau mengenal keunikan setiap generasi yang ada, terutama generasi muda yang hidup pada saat ini. Pemimpin rohani mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik, lebih berfaidah bagi Allah dan sesamanya, karena pemimpin rohani adalah agen perubahan di era milenial, yang membawa generasi mengerti literasi baru, tidak buta teknologi, sekaligus juga tidak buta iman. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dipaparkan tantangan pemimpin rohani salah satunya adalah tantangan komunikasi iman pada generasi milenial. Mengapa komunikasi iman antar generasi menjadi tantangan pemimpin Kristen saat ini? Sebab manusia adalah mahluk sosial, rata-rata menghabiskan waktunya sampai dengan 70% PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 untuk berkomunikasi. Tapi ironisnya sebagian besar dari komunikasi kita . %) tidak diterima dengan baik, atau disalah-artikan. (Tuahatu 2. Salah persepsi, salah komunikasi ini menimbulkan pertikaian, permusuhan, perkelahian, cerai dan perang. padahal sebagian besar dari pemenuhan kebutuhan kita berasal dari luar . ihak lai. sehingga kita membutuhkan suatu cara untuk mendapatkan kebutuhan kita itu. Dan cara mendapatkannya adalah dengan komunikasi iman yang baik. Apa yang menjadi tangang pemimpin rohani dalam berkomunikasi dengan kaum milenial? Langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi dengan generasi milenail saat ini? Itulah yang menjadi pertanyaan dalam penulisan ini. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau dan mengetahui peran strategi komunikasi dalam menghadapi generasi milenials. Dengan demikian pemimpin Kristen dapat membangun komunikasi yang baik di setiap generasi yang ada. II. Metode Penelitian Untuk menjawab pertanyaan topik tersebut penelitian dalam artikel ini menggunakan penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. (Zaluchu 2. Metode dalam artikel ini adalah deskripsi analitik dengan sarana melalui studi literatur, dimana penulis memberikan deskripsi tentang kepemimpinan secara umum yang telah banyak mempengaruhi pola kepemimpinan sekuler hingga sekarang serta dampaknyadi era milenial. Penulis juga mengikuti prinsip literatur review yang dimaksud oleh Denney bahwa: Audalam melakukan penelitian literatur argumentatif, kita harus memeriksa secara selektif untuk mendukung atau membantah argumen, asumsi yang tertanam kuat, atau masalah filosofi yang sudah ada dalam Ay Hal ini juga berlaku dalam mendeskripsikan kepemimpinan rohani sehingga hasil pembahasan disusun secara deskriptif dengan menganalisis sumber-sumber utama dan sumber lainnya yang berkaitan dengan pembahasan topik artikel tersebut yang sumber-sumber literatur tersebut diolah menjadi rangkaian analisis. (Denney and Tewksbury 2. Penulis juga menggunakan sumber-sumber acuan yang dapat melengkapi penelitian ini yang masih dianggap menjadi sumber penunjang. Penulis menggunakan beberapa sumber tambahan artikel jurnal maupun dari buku-buku yang membahas tentang kepemimpinan yang relevan dengan tema dan topik yang dibahas dalam penulisan tersebut. Hasil dan Pembahasan Mengenal Generasi Saat Ini: Pendekatan Para Ahli Sifat dan tingkah laku manusia terbentuk sesuai dengan lingkungan dan masa di mana mereka berada. Bentuk-bentuk tersebutlah yang kemudian dikelompokkan dengan istilah William Strauss dan Neil Howe secara luas dianggap sebagai pencetus penamaan Milenial. Mereka menciptakan istilah ini pada tahun 1987, di saat anak-anak yang lahir pada tahun 1982 masuk pra-sekolah, dan saat itu mediamulai menyebut sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru di saat lulus SMA pada tahun tahun 2000. (Strauss and Howe Untuk mengenal generasi saat ini, tidak terlepas dari kelompok generasi sebelumnya. Maka dari pada itu para ahli meneliti dan mengelompokan generasi dengan periode masingmasing. Pengelompokan generasi ini dicetuskan pertama kali oleh Karl Mannheim. Penelitian PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 yang pertama tentang perkembangan nilai-nilai generasi dilakukan oleh Manheim pada tahun Penelitian tersebut didasarkan pada tulisan-tulisan dalam bidang sosiologi tentang generasi pada kisaran tahun 1920 sampai dengan tahun 1930. (Mannheim 1. Dalam hal ini ditunjukkan perbedaan karakteristik dari 3 kelompok generasi, yaitu generasi baby boomers, generasi X dan generasi Y (Millennia. (Surya 2. Generasi X adalah generasi yang lahir pada tahun Aetahun awal dari perkembangan teknologi dan informasi seperti penggunaan PC . ersonal compute. , video games, tv kabel, dan internet. Ciri - ciri dari generasi ini adalah: mampu beradaptasi, mampu menerima perubahan dengan baik dan disebut sebagai generasi yang tangguh, memiliki karakter mandiri dan loyal, sangat mengutamakan citra, ketenaran, dan uang, tipe pekerja keras, menghitung kontribusi yang telah diberikan perusahaan terhadap hasil kerjanya. (Jurkiewicz 2. Generasi yang menerima diversifitas . dan suka menolak peraturan. Generasi Y dikenal dengan sebutan generasi millenial atau milenium. Ungkapan generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email. SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter, dengan kata lain generasi Y adalah generasi yang tumbuh pada era internet booming. Lebih lanjut ia mengungkapkan ciri Aeciri dari generasi Y adalah: hidup di era internet Ae digital globalisasi, hidup penuh dengan informasi, suka pada hal-hal yang realistis dalam hidup, hidup penuh ambisius, cara berpikir fleksibel . pen minde. , generasi yang lebih suka menuliskan kembali peraturan. Generasi paling muda yang baru memasuki angkatan kerja adalah generasi Z, disebut juga generasi internet. Generasi Z memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi generasi Z mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu . ulti taskin. menjalankan sosial media menggunakan ponsel, browsing menggunakan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil generasi ini sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian. Adapun karakteristik Generasi Z, yakni: suka hidup independen, hidup adalah teknologi, sangat menyukai media sosial atau social networking secara online, banyak yang menjadi influencer, generasi yang terbiasa hidup di dalam lingkungan beragam, generasi yang suka menyesuaikan peraturan. Mannheim mengungkapkan bahwa generasi yang lebih muda tidak dapat bersosialisasi dengan sempurna karena adanya gap antara nilai-nilai ideal yang diajarkan oleh generasi yang lebih tua dengan realitas yang dihadapi oleh generasi muda tersebut, lebih lanjut dikatakan bahwa lokasi sosial memiliki efek yang besar terhadap terbentuknya kesadaran individu. (Mannheim 1. Mengenal Generasi saat ini: Current Trend Perbedaan generasi dalam lingkungan gereja menjadi salah satu subyek yang selalu muncul dalam perkembangan gereja, dan konsep perbedaan generasi terus berkembang dari waktu ke waktu. Karakter generasi digital menimbulkan tantangan tersendiri dalam memimpin mereka. Tidak semua pemimpin dari generasi sebelumnya misalnya generasi baby PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 boomer atau yang lebih tua . enerasi perang dunia ke-. bahkan generasi X . ang lahir tepat sebelum generasi digita. dapat menerapkan cara kepemimpinan ke lingkungan generasi Cara memimpin dengan contoh . eadership by exampl. belum tentu sesuai dengan karakter digital yang suka mengeskpresikan diri dan berpikiran terbuka. (Horovitz 2. Disisi lain karena masih berusia muda . ahir setelah tahun 1. generasi digital memerlukan pemimpin untuk mengarahkan sehingga dapat mencapai pencapaian pribadi yang lebih baik. Selain itu generasi digital akrab dengan perkembangan teknologi dan sudah menikmati hasil kemajuan teknologi. Internet dan gawai . merupakan keseharian Akan tetapi penekanannya adalah pada teknologi terbarukan yang berkembang pesat mengikuti perkembangan mikro prosesor. Berbeda dengan kondisi Agenerasi shut inAatau yang disebut masyarakat yang terkurung. Generasi AuShut inAy ini adalah seseorang yang tidak suka berurusan dengan orang sepanjang waktu. Tantangan Pemimpin Rohani bagi Generasi Milenial Kesenjangan antar generasi . ap generatio. Pengaruh generasi milenial telah mengubah pemetaan kehidupan saat ini. Hal ini juga menjadi tantangan besar pemimpin Kristen terhadap etika, moralitas, sistem nilai dan evaluasi, sehingga segala sesuatu dipertanyakan dan fondasi-fondasi kehidupan masyarakat yang berabad-abad mulai dibongkar dan dihancurkan. Mereka ialah kelompok yang ingin segera mengubah pola hidup dunia karena mereka yakin bahwa generasi sebelumnya sedang merusak planet Bumi dan menghancurkan masa depan mereka. Indonesia pun tidak bisa menghindar dari dampak ini, karena pada zaman elektronik ini, semua informasi adalah instan dan masif. Saat ini komunikasi antargenerasi . ommunication ga. merupakan salah satu problem yang banyak dihadapi dalam dunia profesional. Communication gap hanyalah salah satu persoalan yang lahir dalam generation gap. Generation gap merupakan istilah yang mengacu pada perbedaan antar generasi, khususnya antara anak-anak dengan orang tua mereka. Perbedaan-perbedaan itu antara lain adalah mengenai bahasa, communication style, penampilan, dan teknologi. (Binus 2. Saat ini generation gap juga terjadi dalam lingkungan pelayanan, sehingga banyak gereja dan pemimpin Kristen yang mulai menghadapi tantangan generation gap terutama persoalan komunikasi antar pengurus dan jemaat berbeda Menurut salah satu corporate communication (Menconi 2. Seringkali tantangan terbesar pemimpin Kristen adalah bagaimana agar setiap generasi mampu mengatasi masalah perbedaan cara pandang dan bekerja bersama mencapai satu tujuan yaitu visi dan misi gereja. Dalam komunikasi, menyamakan persepsi antar generasi dalam gereja menjadi wajib untuk menghindari semakin besar komunikasi gap yang ada. Disinilah masalah bermula, ketika jarak generasi memunculkan jurang pemisah kesamaan persepsi. Interaksi yang dibangun bukan lagi untuk saling memahami interpretasi, tetapi justru menggiring opini dengan banyak asumsi. Salah satu contohnya adalah pengurus senior yang berasumsi bahwa pengurus junior tidak memiliki etos kerja yang tinggi dan cenderung memilih-milih pelayanan padahal tidak memiliki banyak pengalaman secara profesional. Sedangkan generasi milenial PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 menilai seniornya merupakan generasi yang kaku, lambat dalam adaptasi dan tidak menyukai inovasi dalam hal apapun, juga gagap teknologi. Merealisasikan iman Kristen lewat komunikasi (Hutchcraft and Hutchcraft 2. menjelaskan dalam bukunya berjudul perjuangan untuk sebuah generasi bahwa cara terbaik untuk melayani generasi muda diawali dengan memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan kaum muda juga harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan anggotanya sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini gereja juga harus memerhatikan kebutuhan tubuh, jiwa dan roh dari generasi muda dengan seimbang. Jika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi dengan baik dan seimbang bagi generasi muda, maka mereka dapat mengalami pertumbuhan yang tidak seimbang. Dan hal ini dapat merugikan generasi muda itu sendiri, gereja dan lingkungan dimana mereka Wahyudi menjelaskan hasil survei tentang kualitas pemimpin yang dikagumi, yaitu mampu memberi visi yang memaksimalkan seluruh individu, mampu untuk memotivasi dan menginspirasi untuk bertindak, mendengar bawahan, mengenal bawahan secara personal masing-masing individu, membela tim. (Wahyudi 2. Berdasarkan survei tersebut kita melihat bahwa kenyataan bahwa seorang pemimpin yang berkualitas bukanlah pemimpin yang memiliki kemampuan teknis yang luar biasa, tetapi yang dituntut dari seorang pemimpin yang berkualitas adalah apakah seorang pemimpin dapat menjadi dampak bagi yang Gereja pun saat ini tidaklah kebal terhadap krisis kepemimpinan. Gereja yang seharusnya menghasilkan pemimpin yang memiliki iman yang benar, ilmu yang memadai, dan pengabdian yang sungguh-sungguh, justru dipengaruhi dengan berbagai masalah Peneliti George Barna menyimpulkan hasil studinya selama 15 tahun tentang kehidupan dalam gereja secara global dengan konklusi sebagai berikut: Gereja telah kehilangan pengaruh karena absennya kepemimpinan yang efektif. (Senjaya 2. Yang dimaksud pemimpin efektif adalah sosok pemimpin Kristen yang mampu berkomunikasi dengan baik di setiap generasi yang ada. Menurut Anne Puidk Horan (Horan 2. saat ini yang harus dilakukan pemimpin Kristen adalah mengevaluasi dan memilih program pembinaan rohani untuk generasi milenium, maka penting untuk mempertimbangkan data dan tren yang tersedia saat ini berkenaan dengan spiritualitas mereka. Banyak hal yang menunjukkan perbedaan penting antara generasi yang millennial, dan generasi sebelumnya. Generasi Millenial mempertanyakan keyakinan masa lalu, dan sebagian besar . %) tidak lagi mengikat identitas mereka dengan keyakinan agama seperti yang dilakukan orang tua mereka. Pentingnya Komunikasi bagi Generasi Milenial Pengertian komunikasi iman Istilah AukomunikasiAy berasal dari akar kata communis (Lati. Dari kata kerja communicare yang berarti masuk ke dalam relasi, menjalin ikatan atau membuat menjadi Communicatio adalah bentuk kata benda dari communicare, yang berarti PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 pemberitahuan atau hal mengambil bagian dalam. (Vardiansyah 2. Kata AukomunikasiAy kemungkinan berasal dari beberapa versi gabungan kata bahasa Latin, yakni cum dan munus, cum dan munire, serta cum dan unus. Cum adalah kata depan yang berarti Audengan, bersama denganAy. Cum munus berarti saling memberi sesuatu. Sedangkan, munire berarti Aumembangun tembok atau kubu pertahananAy. Maka, cum munire dapat Auberarti membangun pertahanan bersamaAy. (Prent et al 1. Lebih lanjut (Parwito and C. Sardjono 2. mendefiniskan komunikasi sebagai suatu proses dengan mana suatu pesan dipindahkan atau dioperkan . ewat suatu salura. dari suatu sumber kepada penerima dengan maksud mengubah perilaku, perubahan dalam pengetahuan, sikap dan perilaku over lainnya. Dari sana kita dapatkan bahwa tujuan intrinsik komunikasi adalah untuk merangkul segala yang berbeda-beda ke dalam satu gelombang/wadah yang sama. Dengan kata lain komunikasi pada hakekat-nya bertujuan untuk meciptakan persatuan dengan memperhatikan intisari yang ter-kandung dalam segala bentuk perbedaanyang ada. Karena itu komunikasi harus merupakan proses yang berlangsung terus dari yang bersifat pribadi kepada yang lebih umum dan sebaliknya. Sehingga pada akhirnya tujuan profetis komunikasi, yaitu transformasi manusia baik secara pribadi maupun bersama-sama. Komunikasi, baik secara spotan maupun terencana selalu memiliki tujuan tertentu. Menurut (Effendy 1. tujuan komunikasi dapat diketegorikan ke dalam empat jenis, yaitu: komunikasi bertujuan untuk terjadinya perubahan pendapat . pinion chang. seseorang, komunikasi juga bertujuan untuk mempengaruhi dalam rangka perubahan sikap . ttitude chang. seseorang, komunikasi bertujuan untuk merangsang seseorang untuk berbuat sesuatu, yaitu dalam rangka perubahan pe-rilaku . ehaviour chang. , komunikasi bertujuan untuk memperbaiki keadaan sosial dalam rangka perubahan sosial . ocial chang. Pandangan Alkitab tentang komunikasi Allah yang dipercayai dalam kekristenan adalah Allah yang AusukaAy berkomunikasi. Seluruh karya penciptaan, penebusan, dan pengudusan merupakan perpanjangan dari prosesi batin di dalam Allah Tritunggal. Seperti terdapat dalam Surat Rasul Paulus kepada orangorang Ibrani: AuSetelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir iniIa telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Tuhan memakai setiap generasi ke generasi dengan keunikan yang berbeda-beda. Keunikan tersebut terjadi karena setiap generasi memiliki ciri khas tersendiri yang tidak akan didapatkan di generasi selanjutnya atau generasi sebelumnya. Oleh karena itu. Tuhan hadir dan terus berkomunikasi di setiap generasi ke generasi untuk dapat menunjukkan bahwa betapa Dia adalah Tuhan yang punya tujuan, hidup dan terus berkarya. Hal itu dapat dibuktikan dengan hasil karya-Nya dalam dunia sampai saat ini. Kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan dampak bagi seluruh aspek kehidupan manusia itu sendiri. Tak bisa dipungkiri bahwa dampak dosa juga merusak komunikasi antara Allah dengan manusia. Namun Allah sudah merancang komunikasi baru dengan satu tujuan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 agar manusia bisa lagi berkomunikasi dengan baik, sehingga manusia bisa kembali kepada tujuan Allah yang sesungguhnya yaitu keselamatan. Allah telah menjadikan alam semestaAy(Ibr 1:1-. Pelayanan dan misi Gereja adalah mengkomunikasikan Kabar Baik tentang keselamatan serta cinta kasih Allah kepada makhluk ciptaan-Nya. Gereja perlu melanjutkan komunikasi tersebut dalam rengkuhan Tritunggal Mahakudus, yakni pewahyuan dan penjelmaan komuni-kasi Allah ke dalam Ausini dan kiniAynya kehidupan sehari-hari melintasi abad demi abad. Franz-Josef Eilers mengutip Gisbert Greshake, seorang teolog Jerman, memper-lihatkan bahwa sudah dalam sejarah teologi Kristen sendiri, yang bermula dengan Kon-sili Nicea. Allah dilihat sebagai suatu Aukesa-tuan relasionalAy yang berkomunikasi dalam diri-Nya sendiri dan akhirnya berkomuni-kasi kepada ciptaan-Nya. Hingga akhirnya Eilers mengutip Greshake, menyimpulkan berdasarkan berbagai teori dan perkembangan komunikasi modern, yaitu bahwa AuAllah itu sendiri adalah Ia mengkomunikasikan diri-Nya kepada dunia dan memampukan dunia agar bisa berko-munikasi sehingga ciptaan dalam komunikasinya itu menjadi serupa dengan Allah dan menggapai persekutuan paling mesra dengan-Nya. Ay (SVD 2. Lebih lanjut Gisbert Greshake bahwa AuAllah orang-orang Kristen bukanlah monad tunggal yang tersendiri, bukan kemahakuasaan yang tersusun rapat, bukan seorang bapa monarkis super yang hidup entah bagaimana dan di mana, di atas bintang gemintang. Sebaliknya. Allah yang esa dan unik adalah komunitas, komunio, dan komunikasi di dalam diri-Nya sendiri dan dalam relasi-Nya dengan umat manusia. Ay(SVD 2. Berdasarkan pandangan di atas, maka komunikasi dalam teologi dilihat sebagai sebuah dimensi hakiki untuk seluruh teologi. Sehingga seluruh teologi merupakan komunikasi diri Allah kepada Strategi Komunikasi Pemimpin Rohani Membangun jembatan antar generasi . ap generatio. Lingkungan yang dibutuhkan generasi digital juga memiliki hirarki-struktural yang baku, tetapi memungkinkan untuk saling berinteraksi satu dengan lainnya secara bebas. Selain itu responsif terhadap perubahan-perubahan dengan memangkas jalur-jalur birokratis yang menghabiskan waktu sehingga tidak efektif. Pemimpin yang efektif tidak mengendalikan atau berkuasa atas tujuan mereka. (Tim and C. Maxwell 2. Seorang pemimpin rohani dapat menerapkan hal tersebut dengan cara membuka diri terhadap perubahan-perubahan dan selalu mudah serta tidak membuat jarak dengan generasi digital yang dipimpin. Responsif terhadap pendapat atau usulan, dan mampu memangkas jalur birokrasi, tetapi tetap mengedepankan ajaran Kristus. Selain itu generasi milenial menginginkan keterbukaan dan trasparansi dalam informasi, baik yang bersifat umum terutama yang bersifat khusus. Untuk generasi digital tidak membuat jarak akan akses informasi tetapi berikan informasi seluas-luasnya. Bila mereka merasa ada tertutupmengenai suatu informasi, maka kecenderungan yang terjadi adalah mencari informasi yang dibutuhkan dan membandingkan dengan keadaan yang ada. Hal ini akan menimbulkan ketidakselarasan informasi dan menimbulkan kesalahpahaman terhadap suatu PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Akses yang luas akan membuat informasi menjadi lebih jelas. Kejelasan informasi juga ditentukan oleh bimbingan seorang pemimpin. Keterbukaan pemimpin atas akses informasi dan dapat menyampaikannya dengan transparan akan memuaskan generasi digital. (Tim and C. Maxwell 2. mengatakan ciri ABC dalam kepemimpinan adalah attractmenarik orang, believe-mempercayai orang lain, connect-berhubungan dengan orang lain, develop-mengembangkan orang lain. Mengenal lebih dalam digital mindset Menurut Irendy beberapa karakter dari kepemimpinan di era generasi digital yaitu digital mindset. (Community n. ) Tidak dapat dipungkiri kemajuan zaman mengubah dunia dan budaya. Budaya analog . ulisan, cetakan, buku, majala. telah tergeser oleh budaya Masyarakat lebih suka mencari dan mendapatkan informasi dari smart phone ketimbang harus membaca buku atau koran. Perubahan ini juga harus diadaptasi oleh pemimpin dalam kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang masih mengandalkan cara tradisonal . akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi dengan generasi digital. Menyampaikan pesan atau instruksi secara digital mewajibkan seorang pemimpin untuk menguasai setidaknya perangkatdan software yang mendukung. Pesan yang disampaikan juga mengalami perubahan bentuk. Bila dalam tulisan pesan dapat disampaikan panjang lebar, maka dalam era digital pesan harus disampaikan seringkas mungkin. Pesan lebih banyak berupa gambar atau grafik sehingga mudah dibaca dan dimengerti. Dengan demikian pemimpin rohani dapat menggunakan budaya digital ini untuk membimbing dan mengarahkan generasi digital. Pesan yang panjang dibuat seringkas mungkin dan disampaikan berulang-ulang. Topik yang memerlukan penjabaran yang panjang, dapat dipecah menjadi topik yang hanya memuat satu atau dua bahasan. Pemimpin rohani dapat mengirimkan pesan secara berseri sehingga menghindarkan kebosanan karena pesan terlalu panjang. Generasi digital lebih suka melihat contoh nyata ketimbang hanya mendengar kabar atau membaca informasi. Untuk itulah pemimpin rohani dapat menggunakan multi media seperti video singkat untuk memberikan bukti yang diinginkan. Seperti sudah disampaikan di atas, pesan yang disampaikan harus final dan tidak perlu membuat bantahan atau klarifikasi. Menjadi sahabat dan mencari kesamaan Pemimpin rohani bagi generasi milenial haruslah mampu menterjemahkan prinsipprinsip dasar iman dan kuasa keilahian yang mempengaruhi kehidupan di tengah derasnya arus informasi yang mungkin menentang hal tersebut. Menanamkan suatu pemahaman yang dirasakan bersifat AabstrakA atau adikodrat kepada generasi yang lebih suka melihat sesuatu yang Aurealistis dan logisAy diikuti oleh banyak orang adalah seni tersendiri. Menurut Neil Cole keahlian yang dapat diterapkan dalam suatu keadaan belum tentu dapat diterapkan dalam keadaan lainnya. (Cole 2. Hal ini senada dengan yang dikatakan (Saragih 2. bahwa kita harus menerapkan prinsip kepemimpinan model Tuhan Yesus, yang melayani bukan dilayani kepada generasi yang memandang kesetaraan, dan itu harus mutlak diterapkan pada generasi PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Menurut (Warren 2. cara terbaik untuk mengetahui budaya, pola pikir dan gaya hidup orang adalah dengan berbicara kepada mereka secara pribadi. Itu merupakan cara komunikasi kepada para kaum milenial. Mereka menginginkan persahabatan bukan permusuhan, kesamaan bukan pertentangan. Hal itu merupakan ciri khas yang ada dalam kehidupan para kaum milenial saat ini. Oleh karena itu sebagai pemimpin rohani, diharapkan mengkomunikasikan injil dengan cara menjadi sahabat dan mencari kesamaan dalam diri Lebih menghargai manusia daripada tradisi Secara tidak sadar, masih banyak gereja yang lebih mementingkan tradisi dibandingkan kebutuhan jemaatnya. Banyak gereja yang berpikir bahwa masalah keuangan, gedung gereja, dan program-program penunjang sarana prasarana itu lebih penting ketimbang pertumbuhan kualitas jemaatnya. Sayangnya ini semakin diperparah dengan kurang adanya keikutsertaan generasi muda dalam berperan membangun pelayanan di gereja. Dalam hal ini tugas pemimpin rohani adalah menggali potensi untuk mengerjakan pelayanan dengan lebih baik dan berbeda dari yang lainnya, juga menempatkan tugas atau karya mereka sebagai bagian yang penting dalam keseluruhan pelayanan. Hal ini dikatakan oleh (Wofford 2. yang mengatakan bahwa AuPemimpin rohani harus memberi perhatian sebagaimana Yesus mengajarkan kepemimpinan yang melayani dan kepemimpinan yang memperhatikan para domba secara langsung. Sesederhana apapun tugas yang dijalankan generasi digital harus dianggap sebagai tugas yang memberikan arti dalam keseluruhan IV. Kesimpulan Allah adalah sumber dan pangkal komunikasi manusia. Pada dirinya sendiri Allah adalah bersifat relasional dan komunikatif. Relasi yang bersifat komunikatif itu terjalin dalam diri Tritunggal ilahi. Relasi trinitas yang adalah misteri itu kemudian disampaikan oleh Allah kepada manusia melalui komunikasi diri-Nya yang pertama-tama disampaikan melalui perantaraan para nabi utusan Allah. Komunikasi diri Allah itu berpuncak dalam pribadi Yesus Kristus. Ia adalah pribadi Allah yang bergerak keluar dari komunikasi intra-trinitas, menjadi manusia dan mengkomunikasikan diri kepada manusia. Dalam komunikasi diri Allah, hal yang perlu diperhatikan ialah bahwa Allah menggunakan media insani dalam proses komunikasi-Nya. Allah telah memanggil manusia untuk mewartakan diri-Nya kepada dunia. Banyak pemimpin Kristen tidak lagi berperan baik dalam hal komunikasi pada saat ini. Sehinga yang terjadi adalah Kabar Baik atau injil tersebut tidak diterima dengan baik. Karena itulah maka banyaknya generasi saat ini tidak lagi memiliki karakter yang baik, lemahnya kehidupan rohani dan rapuhnya iman mereka. Hal ini secara langsung dan tidak langsung disebabkan oleh gaya komunikasi iman yang tidak baik. Ironisnya hal itu dilakukan tanpa disadari oleh pemimpin pemimpin Kristen. Sebagai pemimpin Kristen harusnya bisa memberikan kontribusi yang baik dalam kerohanian generasi saat ini. Hal itu tidak terbatas pada pemimpin muda Kristen saja, tetapi juga pemimpin Kristen yang sudah tua dalam hal ini PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 orang tua sangat berperan dalam menyelamatkan generasi saat ini dari jurang kehancuran iman dan mental rohani yang rendah. Ini merupakan penomena yang nyata dihadapai setiap gereja yang ada saat ini. Sehingga dengan komunikasi yang baik diharapkan gereja dapat menjadi lebih sehat dan generasi ini tidak menjadi generasi yang terhilang. Generasi milineal memiliki keunikan yang berbeda dengan generasi sebelumnya yaitu kemampuan dalam segi intelektual dan sangat akrab dengan tehnologi digital. Generasi milineal mempunyai ciri yang khas yang cenderung kreatif, mempunyai daya inovatif dan produktif yang sangat kreatif. Selain itu ciri yang membedakan dengan generasi sebelumnya adalah generasi milineal tidak bisa melepaskan seluruh aktivitasnya tanpa teknologi. Seorang pemimpin rohani dapat melakukan beberapa langkah dalam menghadapi kelemahan kepemimpinan rohani tersebut dengan beberapa langkah diantaranya membangun Jembatan antar generasi, mengenal lebih dalam digital mindset, menjadi sahabat dan mencari kesamaan dan lebih menghargai manusia daripada tradisi. Referensi