Persona. Jurnal Psikologi Indonesia September 2012. Vol. No. 2, hal 105-113 Konsep Diri. Intensitas Komunikasi Orang Tua-Anak, dan Kecenderungan Perilaku Seks Pranikah Faizatul Munawaroh SMA Wisnu Wardhana Malang Alumni Program Magister Psikologi Pascasarjana Ae Untag 1945 Surabaya Abstract. This study aimed to explore the relationship between self-concept and the intensity of parent-child communication with premarital sex trend. Total subjecs of study were 97 students aged 17-19 years, consisted of 31 male students and 66 female. The data was collected using a scale of 3 pieces each scale trend of premarital sex, self-concept and the intensity of communication among parents and children. The collected data were analyzed with a statistical technique of regression analysis and then parcial Results of analysis of data showed no significant association between self-concept and the intensity of parent-child communication with the trend of premarital sex. The results of partial analysis showed no correlation between self-concept and tendency of premarital sex behavior. There was a negative correlation between the intensity of parent-child communication and the tendency of premarital sex. Key words: premarital sex behavior, self-concept, intensity of parent-child Intisari. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak dengan kecenderungan perilaku seks pranikah. Subjek penelitian ini adalah 97 siswa dengan rentang usia antara 17-19 tahun, terdiri dari 31 laki-laki dan 66 perempuan. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala kecenderungan perilaku pranikah, konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan teknik statistic regresi dan korelasi parsial. Hasil analisis regresi menunjukkan ada korelasi antara konsep diri dan intensitas komunikasi dengan kecenderungan perilaku seks pranikah. Secara parsial hasil analisis menunjukkan tidak ada korelasi antara konsep diri dengan kecenderungan perilaku pranikah, namun untuk intensitas komunikasi orang tua-anak ditemukan korelasi negatif dengan kecenderungan perilaku seks Kata kunci: konsep diri, intensitas komunikasi orang tua-anak, perilaku seks pra nikah Gejala terjadinya hubungan seks sebelum menikah sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan dan fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kota-kota besar namun sudah mulai merambah ke kota-kota kecil. Suatu fenomena yang menarik adalah bahwa hubungan seksual sebelum menikah justru banyak dilakukan oleh remaja yang berpacaran. Meskipun tidak semua remaja berpacaran melakukan hal tersebut, tetapi dari fakta tersebut menunjukan kecenderungan yang mengkhawatirkan dan memprihatinkan. Ironisnya, bujukan atau permintaan pacar me- Faizatul Munawaroh rupakan motivasi untuk melakukan hubungan seksual dan hal ini menempati posisi keempat setelah rasa ingin tahu, agama atau keimanan yang kurang kuat serta terinspirasi dari film dan media massa (Laily dan Matulessy, 2. Remaja yang mengalami suatu keraguan karena norma yang diperoleh dari keluarga tidak lagi sesuai dengan norma mana yang akan dianut atau dipakai. keadaan bimbang seperti ini, mereka mudah sekali mengikuti suatu pengaruh baru yang diperoleh dari teman sebaya dan sesuatu yang baru dikenalkan lewat surat kabar, internet, film, majalah dan lain Adanya perubahan nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat telah menggeser berbagai nilai dan pandangan tentang hubungan hetero-seksual. Penggeseran dan perubahan terjadi dalam siklus dan pandangan remaja mengenai kaidah-kaidah dan kebiasaan hubungan antar jenis. Hubungan antara laki-laki dan perempuan dinilai sebagai sesuatu yang lebih bebas dan terbuka (Achir, 1. Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin yang berbeda, kiranya dapat dengan mudah bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kotakota besar. Orang tua sendiri baik dengan ketidaktahuannya dan kurang luasnya wawasan menganggap bahwa pendidikan seks masih sangat tabu dan tidak bisa bersifat terbuka mengenai masalah seksual remaja yang sesungguhnya. Dengan tidak adanya pendidikan seks yang memadai dan pandangan orang tua yang masih menganggap tabu hal-hal yang berhubungan dengan seks maka anak lebih cenderung terkena imbas seks dari pergaulan bebas, baik dengan teman sebaya maupun lingkungan masyarakat (Panuju, 1. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya perilaku seks pra nikah dikalangan remaja, diantaranya konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak. Konsep diri merupakan suatu penilaian individu tentang dirinya Konsep diri ini bukan hanya sekedar gambaran deskriptif melainkan meliputi apa yang seseorang pikirkan dan rasakan tentang dirinya, semua keyakinan, kepercayaan dan sikap seseorang pegang tentang dirinya. Persepsi tentang diri kita ini boleh bersifat psikologis, sosial dan fisik (Jalaluddin, 1. Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya, sehingga merupakan inti dari pola kepribadian. Artinya, banyak kondisi dalam kehidupan remaja yang turut membentuk pola kepribadian sehingga berpengaruh pada konsep diri seperti perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja. (Hurlock, 1. Beck,dkk (Keliat, 1. menjelaskan konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh: fisikal, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Perilaku seksual yang menyimpang, seperti perilaku seks pranikah, pada umumnya merupakan kegagalan sistem kontrol diri terhadap impuls-impuls yang kuat dan dorongan-dorongan instinktif. Remaja tidak mampu mengendalikan naluri . dan dorongan seksualnya, dan tidak bisa menyalurkannya ke dalam perbuatan yang bermanfaat dan lebih Oleh karena itu diperlukan oleh suatu mekanisme yang dapat mengatur dan mengarahkannya perilakunya menuju Salah satu mekanisme yang perlu dimiliki adalah konsep diri yang Konsep diri yang dimiliki remaja akan mempengaruhi perilakunya dalam hubungan sosial dengan individu lain. Konsep diri tinggi atau positif akan berpengaruh pada perilaku positif. Sebaliknya Konsep diri rendah atau negatif akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi perilaku individu. Dijelaskan oleh Rogers . bahwa konsep diri yang negatif akan ditunjukkan dengan perilaku negatif, pengetahuan yang tidak tepat tentang diri, pengharapan yang tidak realistis, harga diri yang rendah, takut tidak berhasil atau kondisi ini menunjukkan bahwa remaja memiliki kepribadian yang belum matang dan emosi yang labil, sehingga mudah terpengaruh melakukan hal-hal negatif, misalnya yaitu melakukan hubungan seks pranikah. Menyimak kondisi seperti dipaparkan diatas, maka sangat disadari bahwa keluarga memberikan pengaruh yang sangat Konsep Diri. Intensitas Komunikasi Orang Tua Anak dan Kecenderungan Perilaku Seks Pra Nikah besar dalam menentukan pembentukan konsep diri remaja. Keluarga juga merupakan unit terkecil yang memberikan stempel dan fondasi primer bagi perkembangan Oleh karena itu, baik buruknya struktur keluarga yang melingkupi remaja memberikan efek yang baik atau yang buruk pula terhadap pertumbuhan remaja (Kartini,1. Komunikasi yang dilakukan remaja dan orang tua biasanya berkaitan dengan masalah yang dihadapi remaja, serta menjadi tanggung jawab orang tua. Termasuk dalam berkomunikasi tentang masalah seksual, peran orang tua menjadi penting dalam memberikan wawasan yang tepat bagi berbagai pertanyaan atau rasa ingin tahu anak tentang hal itu. Sebab bila orang tua tidak memberikan penjelasan yang tepat mengenai organ-organ seks dan fungsinya kepada anak remaja maka mereka akan mencari tahu informasi diluar rumah misalnya melalui internet, film, dan Tentu saja apabila anak tidak cukup mendapat bimbingan dari orang tua, maka informasi yang mereka dapatkan bisa saja disalahgunakan sehingga akhirnya mendorong dilakukannya perilaku seksual yang belum waktunya mereka lakukan seperti misalnya seks bebas yang berbuntut kehamilan di luar pernikahan. Berdasarkan penjelasan diatas, nampak bahwa dalam kehidupan remaja pasti akan dilalui tahapan perubahan fisik, psikis, sosial, seksual dan lain-lain. Perubahan itu seringkali memicu munculnya berbagai konflik atau permasalahan yang harus dihadapi oleh remaja. Namun dengan kehadiran orang dewasa terutama orang tua yang mampu memahami dan memperlakukan remaja secara bijaksana serta membantu mereka memecahkan masalah, besar kemungkinannya remaja akan mampu melewati permasalahan atau konflik tersebut dengan baik. Oleh karenanya, orang tua merupakan pilihan pertama bagi remaja dalam membimbing mereka menghadapi masa-masa sulit dalam perubahan perkembangannya. Artinya, orang tua mempunyai arti penting bagi perkembangan remaja yang selanjutnya, terutama dalam pembentukan pribadi remaja. Orang tua yang sangat jarang menghabiskan waktu bersama anak-anaknya menjadikan remaja lebih mengalami kecenderungan melakukan seks pranikah. Selain itu dengan meningkatkan kualitas komunikasi antara orang tua dan anak yaitu menjalin komunikasi secara terbuka serta menunjukkan cinta dan perhatian pada anak juga dapat menghindarkan remaja dari perilaku seksual pranikah, karena remaja memerlukan seseorang yang dapat dipercaya dan dapat diajak membicarakan masalah-masalah yang menekan mereka (Tjahyono, 1. Begitu besar fungsi komunikasi bagi perkembangan remaja dan akibat yang ditimbulkannya, maka komunikasi dalam keluarga harus dilakukan dengan baik dan dengan intensitas yang cukup tinggi. Hal ini dapat dicapai bila diantara remaja dan orang tuanya berusaha aktif untuk melakukan komunikasi (Jalaluddin, 1. Sehingga melalui komunikasi tersebut diharapkan muncul keterbukaan, rasa percaya dalam menghadapi permasalahan. Metode Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMK Wisnuwardhana Malang yang berjumlah 163 siswa. Sampel Penelitian Sampel penelitian adalah siswa-siswi kelas 2 dan kelas 3 yang bersekolah di SMK Wisnuwardhana Malang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive non random sampling. Adapun ciri-ciri sampel yang diambil adalah para remaja atau pelajar yang berusia 17- 19 tahun, yang bersekolah di SMK Wisnuwardhana Malang dan peneliti menggunakan 97 responden yang terdiri dari 31 siswa lakilaki dan 66 siswa perempuan. Variabel Penelitian dan Pengukurannya Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga yaitu: Variabel Tergantung: Kecenderungan Seks Pra Nikah (Y) Faizatul Munawaroh Seks pra nikah adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun sesama jenis. Dan juga terdapat bentukbentuk dari tingkah laku seksual ini yang bermacam-macam dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berduaan, bermesraan, berciuman, bercumbu dan bersenggama yang obyek seksualnya bisa bersama orang lain, orang dalam hayalan atau diri sendiri atau suatu proses peningkatan aktivitas seksual yang diawali dari ciuman, percumbuan ringan, percumbuan berat, dan juga hubungan kelamin sebagai aktivitas akhir sebelum dua individu tersebut melakukan pernikahan yang resmi atau Pengembangan Alat Ukur Seks Pra Nikah Variabel seks pra nikah dalam penelitian ini akan diungkap atau diukur dengan menggunakan skala yaitu suatu daftar pertanyaan yang harus dijawab atau daftar isian yang harus diisi oleh sejumlah subyek yang akan diteliti berdasar atas jawaban atau isian itu peneliti mengambil kesimpulan mengenai kondisi subyek yang diteliti (Suryabrata, 2. Variabel kecenderungan seks pra nikah akan diungkap atau diukur dengan menggunakan skala yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan tahapan kecenderungan perilaku seksual yang dikemukakan Simanjuntak . yaitu belum melakukan sesuatu, berciuman, bercumbuan dan Untuk menghasilkan data yang relevan sehingga tujuan penelitian tercapai dan memiliki validitas dan reliabilitas yang baik maka penelitian ini menggunakan skala sebagai alat pengumpulan data. Hasil skala tersebut akan dimanifestasikan dalam angka-angka, tabel analisa statistik dan uraian serta kesimpulan hasil penelitian. Data yang diambil dikaitkan dengan butirbutir yang relevan dengan masalah yang akan diteliti dan dituangkan menjadi butirbutir favorabel dan unfavorabel dengan menggunakan skala yang terdiri dari 4 kategori jawaban. Pemberian skor pada aitem jawaban pertanyaan favorabel diberi nilai: sangat setuju . , setuju . , tidak setuju . dan sangat tidak setuju . , dan sebaliknya untuk nilai pernyataan unfavorabel. Validitas dan Reliabilitas Kecenserungan Seks Pra Nikah Validitas didefinisikan sebagai ukuran seberapa kuat suatu alat tes melakukan fungsi ukurnya (Hadi, 2. Sehubungan dengan itu sebelum digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, skala diuji coba dulu untuk mengetahui kesahihan Apabila validitas yang diperoleh tinggi, maka alat ukur tersebut butirbutirnya valid dan dapat digunakan sesuai dengan sasaran yang akan diukur. Uji validitas butir dimaksudkan untuk menguji apakah tiap-tiap butir benar-benar telah mengungkapkan indikator yang ingin diteliti dengan suatu asumsi bahwa tiap butir dalam indikator berbicara mengenai indikator yang bersangkutan (Hadi, 2. Dalam penelitian ini validitas butir skala kecenderungan seks pra nikah dilakukan dengan menggunakan program statistik SPSS seri 17. Setelah dilakukan uji validitas berikutnya dilakukan uji reliabilitas untuk menguji keajegan hasil pengukuran skala. Uji reliabilitas erat hubungannya dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dikatakan mempunyai taraf kepercayaan bila tes tersebut memberikan hasil ajeg/andal. Uji reliabilitas dimaksudkan untuk melihat tingkat keandalan, tingkat konsistensi butir secara interval dalam satu indikator. Uji reliabilitas butir untuk skala kecende-rungan seks pra nikah menggunakan kri-teria: Jika nilai hitung Alpha > dari nilai tabel r maka angket dinyatakan reliabel, atau jika nilai hitung Alpa < dari nilai tabel r maka angket dinyatakan tidak reliable. Nilai tabel r dapat dilihat pada a=5% dan db= n2. Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas dengan program SPSS seri 17 diketahui nilai koefisien Alpha sebesar 0,894 dan nilai r tabel adalah 0,195. Dengan demikian nilai hitung Alpha lebih besar dari nilai tabel r atau 0,894 > 0,195. Artinya instrument angket dinyatakan reliabel dan Konsep Diri. Intensitas Komunikasi Orang Tua Anak dan Kecenderungan Perilaku Seks Pra Nikah dapat dipergunakan sebagai alat pengumpul data. Variabel Bebas: Konsep Diri (X. Intensitas Komunikasi (X. Konsep diri dalam penelitian ini didefinisikan sebagai konsep diri adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri, dimana pandangan itu merupakan hasil bagaimana seseorang melihat dirinya dan sikap terhadap dirinya sendiri. Persepsi tentang diri ini memiliki aspek persepsi fisik, persepsi psikis dan persepsi sosial sebagai hasil dari pengalaman dan interaksinya dengan orang lain. Pengembangan Alat Ukur Konsep Diri Variabel Konsep Diri akan diungkap atau diukur dengan menggunakan skala yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan indikator yang dikemukakan Jalaluddun . yaitu: Penilaian secara fisik. Penilaian secara psikis. Penilaian secara sosial. Validitas dan Reliabilitas Konsep Diri Penyelesaian perhitungan validitas butir terhadap penelitian ini dikerjakan dengan menggunakan program statistik SPSS seri Untuk menafsirkan uji reliabilitas butir untuk skala Skala Konsep Diri menggunakan kriteria: Jika nilai hitung Alpha > dari nilai tabel r maka angket dinyatakan reliabel, atau jika nilai hitung Alpha < dari nilai tabel r maka angket dinyatakan tidak Nilai tabel r dapat dilihat pada a=5% dan db=n-2. Hasil pengujian reliabilitas dengan program SPSS seri 17, diketahui nilai koefisien Alpha sebesar 0,912 dan nilai tabel r adalah 0,195. Dengan demikian nilai hitung Alpha lebih besar dari nilai tabel r atau 0,912 > 0,195 artinya instrument angket sinyatakan reliabel dan dapat dipergunakan sebagai alat pengumpul data. keluarga yang lain terjadi. Komunikasi adalah adanya dialog dan kerjasama dalam segala hal dan hubungan timbal balik antara anggota keluarga, misalnya antara orang tua dan anaknya. Komunikasi sebagai proses sosial perlu didukung oleh unsur pokok yang tidak bisa dilepaskan yaitu terutama peran komunikator sebagai sumber, komunikan sebagai penerima dan aspek komunikasi. Aspek komunikasi meliputi informasi, pesan, pendapat dan pengungkapan perasaan. Pengembangan Alat Ukur Intensitas Komunikasi Orang Tua-Anak Variabel intensitas komunikasi orang tua-anak akan diungkap atau diukur dengan menggunakan skala yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan indikator yang dikemukakan Pikunas . Pemberian informasi. Pemberian pendapat. Pemberian pesan. Pengungkapan perasaan. Validitas dan Reliabilitas Intensitas Komunikasi Orang Tua-Anak Penyelesaian perhitungan validitas butir terhadap penelitian ini dikerjakan dengan menggunakan program statistik SPSS seri Untuk menafsirkan uji reliabilitas butir untuk skala Skala Intensitas Komunikasi menggunakan kriteria: Jika nilai hitung Alpha > dari nilai tabel r maka angket dinyatakan reliabel, atau jika nilai hitung Alpha < dari nilai tabel r maka angket dinyatakan tidak reliable. Nilai tabel r dapat dilihat pada a=5% dan db=n-2. Hasil pengujian reliabilitas dengan program SPSS seri 17, diketahui nilai koefisien Alpha sebesar 0,889 dan nilai tabel r adalah 0,195. Dengan demikian nilai hitung Alpha lebih besar dari nilai tabel r atau 0,889 > 0,195. instrumen angket dinyatakan reliabel dan dapat dipergunakan sebagai alat pengumpul data. Analisis Data Intensitas Komunikasi (X. Intensitas adalah keadaan tingkatan atau ukuran yang menggambarkan seberapa sering suatu komunikasi antara anggota keluarga yang satu dengan anggota Uji Normalitas Sebaran Uji normalitas sebaran dapat dilakukan hanya pada 1 variabel saja yaitu variable Dalam penelitian ini uji Faizatul Munawaroh normalitas dilakukan pada variabel kecenderungan perilaku seks pra nikah (Y). Kaidah yang digunakan adalah jika p<0,05 maka sebarannya tidak normal. Hasil dari uji asumsi dengan program menggunakan program SPSS seri 17 pada teknik kolmogorov-smirnov menunjukkan data distribusi adalah normal dimana p = 790 berarti p > 0,05 . Uji Linearitas Hubungan Uji linearitas hubungan dilakukan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara X dan Y. Pengujian linearitas hubungan menggunakan program SPSS seri 17. Kaidah yang digunakan adalah jika p<0,05 maka sebarannya dinyatakan linier dan sebaliknya jika p>0,05 maka sebarannya dinyatakan tidak linier. Hasil dari uji linieritas menunjukkan bahwa pada variabel konsep diri dengan kecenderungan seks pra nikah dinyatakan tidak linier, dimana nilai p = 0,792 berarti p>0,05 . idak linie. Sedangkan pada variabel intensitas komunikasi dengan kecenderungan seks pra nikah linier, dimana nilai p = 0,004 < 0,05 . memiliki hubungan yang signifikan dengan kecenderungan seks pra nikah. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan AuAda hubungan antara konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak dengan kecenderungan seks pra nikahAy Dapat diterima. Analisis data parsial menunjukkan koefisien korelasi parsial rx1y = 0,027 pada p= 0,396 . >0,. sehingga tidak Artinya variabel konsep diri tidak berkorelasi secara signifikan terhadap kecenderungan perilaku seks pra nikah. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan AuTerdapat korelasi negatif antara konsep diri dengan kecenderungan seks pra nikahAy. Ditolak. Analisis data parsial juga menunjukkan koefisien korelasi parsial rx1y = -0,287 pada p= 0,002 . < 0,. sehingga ada hubungan yang signifikan antara intensitas komunikasi orang tua-anak dengan kecenderungan perilaku seks pra nikah. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan AuTerdapat korelasi negatif antara intensitas komunikasi orang tuaanak dengan kecenderungan seks pra nikahAy. Dapat diterima. Teknik Analisis Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif karena berkaitan dengan Uji Hipotesis dan teknik statistik yang digunakan adalah teknik analisis regresi dan korelasi parsial. Kriteria pengujian hipotesis didasarkan pada kaidah: . jika p < 0,010 korelasi sangat signifikan, . jika p < 0,050 korelasinya signifikan dan . jika p > 0,050 korelasinya tidak signifikan. Untuk menganalisis data dikerjakan dengan menggunakan program SPSS seri 17. Hasil Hasil analisis dengan regresi menunjukkan hasil seperti dibawah ini: Analisis data dengan statistik regresi menghasilkan harga F= 6,139 dengan p= 0. < 0,. yang berarti signifikan, artinya variabel konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak Pembahasan Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak dengan kecenderungan seks pra nikah. Semakin tinggi konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak, maka semakin rendah kecenderungan seks pra nikah. Hasil penelitian ini senada dengan teori yang dikemukakan oleh Beck,dkk (Keliat, 1. menjelaskan konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh: fisikal, emosional, intelektual, sosial dan Perilaku seksual yang menyimpang, seperti perilaku seks pranikah, pada umumnya merupakan kegagalan sistem kontrol diri terhadap impuls-impuls yang kuat dan dorongan-dorongan instinktif. Oleh karena itu diperlukan oleh suatu mekanisme yang dapat mengatur dan mengarahkannya perilakunya menuju Salah satu mekanisme yang Konsep Diri. Intensitas Komunikasi Orang Tua Anak dan Kecenderungan Perilaku Seks Pra Nikah perlu dimiliki adalah konsep diri yang Konsep diri yang dimiliki remaja akan mempengaruhi perilakunya dalam hubungan sosial dengan individu lain. Konsep diri tinggi atau positif akan berpengaruh pada perilaku positif. Sebaliknya Konsep diri rendah atau negatif akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi perilaku individu. Ditambahkan oleh Rogers . bahwa konsep diri yang negatif akan ditunjukkan dengan perilaku negatif, pengetahuan yang tidak tepat tentang diri, pengharapan yang tidak realistis, harga diri yang rendah, takut tidak berhasil atau kondisi ini menunjukan bahwa remaja memiliki kepribadian yang belum matang dan emosi yang labil, sehingga mudah terpengaruh melakukan hal-hal negatif, misalnya yaitu melakukan hubungan seks pranikah. Agar pengetahuan tentang masalah seks yang diberikan optimal, maka diperlukan komunikasi yang efektif antara orang tua dengan remaja. Menurut Rakhmat . komunikasi orang tuaAeanak dikatakan efektif bila kedua belah pihak saling dekat, saling menyukai dan komunikasi diantara keduanya merupakan hal yang menyenangkan dan adanya keterbukaan sehingga tumbuh sikap percaya. Komunikasi yang efektif dilandasi adanya kepercayaan, keterbukaan, dan dukungan yang positif pada anak agar anak dapat menerima dengan baik apa yang disampaikan oleh orang tua. Terdapat korelasi negatif antara konsep diri dengan kecenderungan seks pra nikah. Sehingga semakin rendah konsep diri maka kecenderungan seks pra nikah semakin Artinya, hasil penelitian tidak sesuai dengan teori-teori yang dikemukakan oleh Rogers . alam Burns, 1. bahwa konsep diri disusun dari unsur-unsur seperti persepsi dari karakteristik dan kemampuan seseorang, hal-hal yang dipersepsikan dan konsep-konsep tentang diri yang ada hubungannya dengan orang lain, lingkungan, kualitas nilai yang dipersepsikan, dihubungkan dengan pengalaman, obyekobyek, tujuan-tujuan dan ide-ide yang dipersepsikan sebagai nilai positif atau nilai negatif. Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Artinya, banyak kondisi dalam kehidupan remaja yang turut membentuk pola kepribadian melalui pengaruhnya pada konsep diri seperti perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja (Hurlock. Hal ini menun-jukkan bahwa konsep diri tidak menurun-kan tingkat kecenderungan seks pra nikah. Artinya ada faktor lain yang mem-pengaruhi selain Fakta di-lapangan pengetahuannya kurang mengenai seksualitas cenderung melakukan hubungan seksual pra-nikah karena tidak tahu akan dampak yang akan dialami (Basri, 1. Selain itu tingkat relijiusitas yang rendah dan tingkat kepercayaan diri yang rendah mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan hubungan seksual pranikah (Suryoputro. Ford. Shaluhiyah. Serta remaja lebih banyak mengetahui masalah seksual melalui Televisi. Radio. Internet. VCD. Film. Majalah. Koran. Buku. Tabloid (Adnani dan Widowati, 2. Terdapat korelasi negatif antara intensitas komunikasi orang tua-anak dengan kecenderungan seks pra nikah. Semakin rendah intensitas komunikasi orang tua-anak, maka kecenderungan seks pra nikah semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan sebagian literatur yang mengatakan bahwa informasi atau pengetahuan mengenai seksualitas yang diberikan pada remaja lebih baik dan tepat jika dilakukan dalam keluarga, karena anak dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga, sehingga cara lain yang dapat diusahakan untuk mengurangi perilaku seksual pranikah pada remaja adalah dengan meningkatkan kualitas komunikasi orang tua-anak (Laily dan Matulessy, 2. Gunarsa . mengemukakan bahwa komunikasi efektif antara orang tua dengan anak membentuk pola dasar kepribadian anak secara normal dan perkembangan psikologis yang sehat bagi anak, karena merupakan hakekat seorang anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya membutuhkan uluran tangan dari orang tua, orang tualah yang bertanggung jawab Faizatul Munawaroh dalam mengembangkan keseluruhan eksistensi anak termasuk kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikis sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang ke arah kepribadian yang matang dan harmonis. Kualitas komunikasi antara orang tua dan anak dapat menghindarkan remaja dari perilaku seksual pranikah, hal ini dikarenakan antara orang tua dan anak terjalin hubungan atau komunikasi yang intensif sehingga memungkinkan terjadinya diskusi, sharing, dan pemecahan masalah secara bersama (Laily dan Matulessy, 2. Kesimpulan Penelitian ini tentang hubungan konsep diri dan intensitas komunikasi orang tuaanak dengan kecenderungan seks pra Tujuan utama penelitian ini ingin mengetahui adanya korelasi antara konsep diri dengan kecenderungan seks pra nikah, intensitas komunikasi orang tua-anak dengan kecenderungan seks pra nikah dan hubungan konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak dengan kecenderungan seks pra nikah. Penelitian ini akan mengkaji apakah konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak benar-benar berhubungan dengan kecenderungan seks pra nikah. Subyek pada penelitian ini adalah para remaja atau pelajar yang berusia 17- 19 tahun, yang bersekolah di SMK Wisnuwardhana Malang dan peneliti menggunakan 97 responden yang terdiri dari 31 siswa laki-laki dan 66 siswa perempuan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive non random sampling. Variabel penelitian adalah kecenderungan seks pra nikah, konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak. Pengambilan data dilakukan dengan alat ukur berupa skala sebanyak 3 buah. Skala tersebut masingmasing untuk mengukur kecenderungan seks pra nikah, konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak. Penelitian ini akan menggunakan analisis regresi dan analisis parsial untuk mengolah datanya. Beberapa hasil analisa data adalah sebagai Konsep diri dan intensitas komunikasi orang tua-anak secara bersama-sama ternyata sangat berperan dengan kecenderungan seks pra nikah. Konsep diri dengan kecenderungan seks pra nikah ternyata tidak menunjukkan hubungan yang positif namun sebaliknya menunjukkan hubungan yang Jadi semakin semakin tinggi konsep diri yang dimiliki remaja tidak selanjutnya menurunkan kecenderungan seks pra nikah. Intensitas komunikasi orang tua-anak berhubungan positif yang signifikan dengan kecenderungan seks pra nikah. Semakin rendah intensitas komunikasi orang tua-anak, maka kecenderungan seks pra nikah semakin tinggi. Daftar Pustaka