JURNAL AGROSAINS VOL 16 N0 2 2023 ISSN: 1693-5225 Nilai Tukar Petani Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2020-2022 Hardi Dominikus Bancin1*) Sigit Sugiardi. Ekawati. Rosalina Yuliana Ayen. Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Sains dan Teknologi. Universitas Panca Bhakti Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Sains dan Teknologi. Universitas Panca Bhakti Email: *hdbancin14@upb. Sigit. sugiardi@upb. ekawatiupb@gmail. rosalinayulianaayen95@upb. Abstract This research aims to analyze farmer exchange rates in West Kalimantan Province over the period 2020 to 2022. The research includes surveys and analysis of agricultural economic data to assess how farmers' exchange rates have evolved over the past three years. The method used involves secondary data collection from the Central Bureau of Statistics. The research method uses the Central Bureau of Statistics' Farmer Exchange Rate (NTP) formula and is described according to There are 5 subsectors in this study, namely food crops, horticulture, smallholder plantations, livestock and fisheries subsectors. The results of this study indicate that the highest NTP is in the smallholder plantation subsector and the lowest is in the food crop subsector. Keywords: Farmer Exchange Rate. Secondary Data. West Kalimantan PENDAHULUAN Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013 telah melakukan pendataan Sensus Pertanian (ST2. yang mencakup enak sub sektor pertanian. Tahun 2018 BPS melakukan Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS), melalui survei tersebut rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan pada Provinsi Kalimantan Barat berjumlah 616,894 pada tahun 2013 dan pada tahun 2018 menjadi 671,725. Rumah tangga pertanian pengguna lahan dapat digolongkan menjadi 2 kelompok besar yaitu, rumah tangga petani gurem . umah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan kurang dari 5000 m. dan rumah tangga petani non gurem . umah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan lebih dari atau sama dengan 5,000 m. Hasil SUTAS 2018 menunjukan bahwa rumah tangga usaha pertanian penguna lahan masih didominasi oleh rumah tangga petani non gurem berjumlah 565,357 . %) rumah tangga dan rumah tangga petani gurem berjumlah 106,368 . %). Kondisi saat ini menjadi relevan dan strategis untuk diupayakan pembangunan dalam rangka peningkatan pendapatan petani dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan petani. Belakangan ini pelaksanaan pembangunan pertanian telah berjalan dan banyak keberhasilan yang tercapai seperti, peningkatan hasil produksi, pembangunan sarana prasarana pertanian. Akan tetapi berbicara tentang sektor pertanian, kiranya tidak hanya membicarakan tentang kuantitas dan kualitas produksi, kemampuan dalam pembentukan nilai tambah maupun kemampuan dalam penyerapan tenaga kerja. Faktor kesejahteraan petani kiranya juga ikut diperhatikan. Tingkat kesejahteraan rumah tangga erat kaitannya dengan tingkat kemiskinan. Tingkat kemiskinan merupakan indikator yang dapat menggambarkan taraf kesejahteraan kehidupan masyarakat secara umum. Kemiskinan dan kesenjangan sosial merupakan permasalahan yang banyak dihadapi oleh negaraAenegara berkembang termasuk Indonesia. Sektor pertanian yang identik dengan daerah pedesaan, menghadapi masalah kemiskinan. Kondisi tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan dengan mata pencarian utama disektor pertanian sebagian besar kiranya masih dibawah rata-rata pendapatan nasional. Banyak orang di daerah pedesaan bekerja sebagai petani skala kecil, dan mereka seringkali kesulitan memenuhi kebutuhan hidup karena rendahnya produktivitas, terbatasnya akses terhadap sumber daya, dan kurangnya pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan praktik pertanian mereka (Abror et al. BPS Provinsi Kalimanta Barat mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 350,25 Ribu Jiwa dan terbanyak di Kabupaten Ketapang sebanyak 49,92 Ribu Jiwa pada tahun 2022 (Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat 2. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani, baik dari sisi peningkatan nilai poduksi maupun penyedian sarana dan prasana produksi. Mengingat dominasi petani yang rata-rata tinggal di wilayah perdesaan. Nilai tukar petani yang disebut juga Nilai Tukar Petani (NTP) mencerminkan daya beli rumah tangga petani dan berkaitan dengan perilaku perekonomiannya. Proses pengambilan keputusan rumah tangga untuk memproduksi, membelanjakan, dan mengkonsumsi suatu komoditas merupakan bagian dari perilaku Nilai tukar petani yang tinggi akan mendorong petani untuk lebih bersemangat dalam bertani JURNAL AGROSAINS VOL 16 N0 2 2023 ISSN: 1693-5225 (Adriani. Hasminidiarty, and Fahmi 2. Tulisan ini akan mengalisis dinamika nilai tukar petani Provinsi Kalimantan Barat menurut subsektor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. METODE PENELITIAN Nilai Tukar Petani (NTP) NTP (Farmers Term of Trad. merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar . erm of trad. dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumahtangganya maupun untuk biaya produksi produk pertanian. Peningkatan kesejahteraan dapat diukur dari peningkatan daya beli pendatapan untuk memenuhi pengeluarannya tersebut. Semakin tinggi daya beli petani terhadap kebutuhan konsumsi maka semakin tinggi nilai tukar petani dan berarti secara relative lebih sejahtera. Menurut Simatupang, et al, . , bahwa penanda kesejahteraan yang unik bagi rumah tangga tani praktis tidak ada, sehingga NTP menjadi pilihan satu-satunya bagi pengamat pembangunan pertanian,BPS merumuskan Nilai Tukar Petani (NTP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (I. terhadap indeks harga yang dibayar petani (I. yang dinyatakan dalam persentase. Indeks harga yang diterima petani (I. didefinisikan sebagai indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil prouksi petani. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani (I. didefinisikan sebagai indeks harga yang menunjukkan perkembangan haga kebutuhan rumah tangga petani, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun proses produksi pertanian. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Menurut (Badan Pusat Statisitik 2. secara matematis NTP dapat diformulasikan sebagai berikut, ya Rumus : ycAycNycE = yc y 100% yayca Dimana NTP : Nilai Tukar Petani : Indeks harga yang diterima petani : Indeks harga yang dibayar petani NTP sebagai berikut : A NTP>100: Indeks Harga yang Diterima oleh Petani lebih besar daripada Indeks Harga yang Dibayar oleh Petani. Petani mengalami kenaikan dalam hal perdagangan ketika rata-rata tingkat harga yang mereka terima mengalami kenaikan yang lebih cepat daripada tingkat rata-rata harga yang A NTP=100: Ketika hubungan secara umum antara tingkat harga komoditas yang dijual petani dan harga barang yang dibeli petani sama. Harga pertanian secara umum dianggap setara antara tingkat harga komoditas yang dijual petani dan harga barang yang dibeli petani. A NTP<100: Indeks Harga yang Diterima oleh Petani lebih kecil daripada Indeks Harga yang Dibayar oleh Petani. Petani mengalami penurunan dalam hal perdagangan ketika harga yang mereka bayar mengalami kenaikan yang lebih cepat daripada harga yang mereka terima. Indikator NTP yang dibangun BPS mempunyai unit analisis nasional dan regional . NTP nasional merupakan agregasi dari NTP regional sehingga di samping analisis yang bersifat nasional. NTP dapat didisagregasi menjadi unit NTP provinsi. Dengan demikian, di samping dapat diketahui indicator kesejahteraan petani nasional juga dapat diketahui dan diperbandingkan tingkat kesejahteraan petani antarregional provinsi. Dengan metode disagregasi juga dapat dilakukan analisis NTP dari komponen/unsur dari sisi pembentuknya, yaitu sub sektor maupun komoditas. Dengan demikian. NTP dapat pula diturunkan dalam NTP sub sektor (NTP sub sektor tanaman pangan. NTP sub sektor hortikultura. NTP sub sektor perkebunan. NTP sub sektor peternakan, dan NTP sub sektor perikana. dan NTP komoditas penyusun sub sektor . ontohnya NTP padi. NTP palawija. NTP sayur-sayuran. NTP ternak unggas, dan sebagainy. Di samping sebagai komponen penyusun NTP. NTP merupakan parameter penting bagi kebijakan pembangunan pertanian. NTP merupakan indikator harga yang diterima petani atas produk pertaniannya, dan merupakan faktor penting dalam menentukan kesejahteraan petani (Solana 2. Sumber Data JURNAL AGROSAINS VOL 16 N0 2 2023 ISSN: 1693-5225 Analisis dalam penelitian ini menggunakan data kuantitatif, berupa data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data hasil Survei Nilai Tukar Petani. Lokasi penelitian ini dilakukan di Provinsi Kalimantan Barat. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling, yakni suatu metode penentuan lokasi penelitian yang ditentukan dengan secara sengaja didasarkan pada pertimbangan Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah yang akan menjadi lumbung pangan di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) Berdasarkan data series NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) tahun 2020-2022 (Gambar . tercatat secara garis besar berada pada posisi dibawah 100, yakni 96,92, 94,26, 92,59. Namun pada Januari 2020 NTP berhasil berada pada nilai 100,34, dengan hasil pengolahan data tersebut maka bisa dipastikan bahwa petani subsektor pangan mengalami defisit atau dengan kata lain tingkat kesejahteraan petani dan daya beli petani Kalimantan Barat subsektor pangan dibawah standar. Secara teori NTP subsektor tanaman pangan diartikan nilai yang diterima dari hasil pertanian tanaman pangan masih belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan biaya produksinya. Pada Gambar 1 dapat dilihat bawah NTP-P paling ekstrem berada pada September 2022. Penurunan ekstrem ini dapat dipengaruhi dari banyak hal seperti Penurunan harga yang diterima petani. Kenaikan harga yang dibayar petani. Fluktuasi produksi dan harga (Firmansyah and Asriadi 2022. Gunawan Hamjaya et al. Gambar 1. Perkembangan Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2020 Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2023 (Diola. Subsektor Tanaman Hortikultura (NTP-H) Berdasarkan data series NTP Subsektor Tanaman Hortikultura (NTP-H) tahun 2020-2022 (Gambar . tercatat bahwa NTP-H mengalami fluktuasi namun pada tahun 2022 NTP-H mencapai nilai 102,01 namun secara rata-rata dalam 3 tahun nilai NTP-H 99,82 maka dapat disimpulkan NTP-H masih berada dibawah nilai 100 maka petani subsektor hortikultura di Kalimantan Barat masih defisit. Nilai NTP tertinggi terjadi pada Desember 2020 dengan nilai 105,30 dan terendah terjadi pada Juli 2020 di angka 93,84. Pada subsektor ini dapat dilihat NTP fluktuatif meningkat hal ini dapat terjadi dikarenakan distribusi dan biaya (Gunawan et al. Liska. Novita, and Masithoh 2. NTP dihitung dengan membagi harga jual produk pertanian dengan harga beli input pertanian, kemudian dikalikan 100. Jika NTP lebih besar dari 100 berarti petani mengalami surplus, sedangkan NTP sama dengan 100 berarti petani mencapai titik impas, dan NTP kurang dari 100 berarti petani mengalami defisit (Setiawan. Fitriana, and Indah 2. JURNAL AGROSAINS VOL 16 N0 2 2023 ISSN: 1693-5225 Gambar 2. Perkembangan Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Hortikultura (NTP-H) Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2020-2022 Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2023 (Diola. Subsektor Perkebunan Rakyat (NTP-Pe. Berdasarkan data series NTP Subsektor Perkebunan Rakyat (NTP-Pe. tahun 2020-2022 (Gambar . tercatat bahwa NTP-Per mengalami fluktuasi, namun rata-rata meningkat dari tahun 2020-2022 dan menjadi subsektor yang memiliki nilai NTP tertinggi di Kalimantan Barat dengan NTP 114,67, 146,95, dan 167, 76 dalam kurun waktu 2020-2022. Dengan nilai yang berada pada >100 maka subsektor perkebunan rakyat dapat disimpulkan memberikan kesejahteraan kepada para petani subsektor perkebunan rakyat di Kalimantan Barat. Kesejahteraan petani subsektor perkebunan membaik yang diukur dengan Nilai Tukar Petani (NTP). Tingginya harga komoditas yang dihasilkan subsektor perkebunan dapat menyebabkan pendapatan petani menjadi lebih tinggi (Muslim 2. Gambar 3. Perkembangan Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pe. Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2020-2022 Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2023 (Diola. Subsektor Peternakan (NTP-P. Berdasarkan data series NTP Subsektor Peternakan (NTP-P. tahun 2020-2022 (Gambar . tercatat bahwa NTP-Pt mengalami fluktuasi, namun rata-rata meningkat dari tahun 2020-2022 dan menjadi subsektor yang memiliki nilai NTP tertinggi kedua di Kalimantan Barat dengan NTP 100,00, 94,32, dan 100, 53 dalam kurun waktu 2020-2022. Pada tahun 2020 nilai NTP adalah 100 maka dapat disimpulkan subsektor peternakan nilai impas, namun pada tahun 2021 subsektor peternakan mengalami defisit. Dengan nilai yang berada pada >100 maka subsektor peternakan dapat disimpulkan subsektor peternakan memberikan kesejahteraan di Kalimantan Barat pada tahun 2022. JURNAL AGROSAINS VOL 16 N0 2 2023 ISSN: 1693-5225 Gambar 5. Perkembangan Nilai Tukar Petani Subsektor Peternakan (NTP-P. Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2020-2022 Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2023 (Diola. Subsektor Perikanan (NTP-P. Berdasarkan data series NTP Subsekor Perikanan (NTP-P. tahun 2020-2022 (Gambar . tercatat bahwa NTP-Pi mengalami peningkatan dari tahun 2020-2022 yang dimana pada tahun 2020 ada pada angka 98,22 dimana hal ini dapat disimpulkan subsektor perikanan memberikan defisit namun pada tahun 2021-2022 NTPPi berada pada nilai >100 hal ini dapat menyimpulkan bahwa para petani subsektor perikanan sejahtera. Gambar 6. Perkembangan Nilai Tukar Petani Subsektor Perikanan (NTP-P. Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2020-2022 Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2023 (Diola. Nilai Tukar Petani 2020-2022 Perhitungan disemua sektor menunjukan bagaimana kondisi NTP dari tahun 2020-2022 mendapatkan perhitungan disemua subsektor pertanian menunjukan perubahan indeks nilai tukar petani dari tahun 2020-2022 yang fluktuatif yang dimana pada sektor tanaman pangan menjadi subsektor dengan penurunan paling ekstrim dari tahun 2020-2022 dan peningkatan paling ekstrem terjadi pada subsektor perkebunan rakyat. NTP yang lebih tinggi berarti petani menerima bagian yang lebih besar dari nilai hasil panen mereka, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan meningkatkan penghidupan (Liska et al. Melalui gambar 6 dapat dilihat bahwa gabungan dari NTP pada Provinsi Kalimantan Barat berada pada nilai >100 maka dari itu dapat dipastikan petani mendapatkan surplus dari kegiatan usahatani mereka. JURNAL AGROSAINS VOL 16 N0 2 2023 ISSN: 1693-5225 Tabel 1. Rata-Rata Nilai Tukar Petani Menurut Subsektor Provinsi Kalimantan Barat 2020-2022 Rata-Rata NTP Rata-Rata Persentase NTP Subsektor NTP 2020Perubahan 2020 - 2022 Tanaman -4,33 96,92 94,26 92,59 94,59 Pangan Tanaman 2,97 99,05 98,39 102,02 99,84 Hortikultura Tanaman 53,09 Perkebunan 114,67 146,95 167,76 143,13 Rakyat Peternakan 100,00 94,32 100,53 98,28 0,53 Perikanan 98,22 103,78 102,37 5,56 11,57 NTP Gabungan 101,77 107,80 113,34 107,64 Gambar 7. Perkembangan Nilai Tukar Petani Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2020-2022 Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2023 (Diola. Kesimpulan Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa melalui perhitungan Nilai Tukar Petani, subsektro Tanaman Pangan. Hortikultura. Peternakan masih meberikan defisit bagi para petaninya dikarenakan nilai NTP masih berada pada posisi <100, sedangkan NTP subsektor tanaman perkebunan, perikanan memiliki NTP >100 yang menunjukan bahwa petani di subsektor ini mendapatkan surplus. Namun secara perhitungan NTP keseluruhan subsektor pertanian yang ada di Provinsi Kalimantan Barat dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2020-2022 berada pada nilai >100. REFERENSI