Dialektika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia P-ISSN : 2407-506X E-ISSN : 2502-5201 https://journal. id/index. php/dialektika/index Vol. No 2. Desember 2025, pp 6883 https://doi. org/10. 15048/dialektika. POTRET KERUSAKAN LAUT DALAM SASTRA ANAK DIGITAL: ANALISIS EKOKRITIK DALAM LITERATUR ANAK APLIKASI LET'S READ Erawati Dwi Lestari 1. Guntur Sekti Wijaya2 1 UIN Syekh Wasil Kediri erawatidwilestari@iainkediri. 2 UIN Sunan Ampel Surabaya gswijaya1986@uinsa. Dikirim: Mei 2025. Direvisi: Mei 2025. Diterima: Juni 2025 Keyword: Digital Children's Literature. Ecocriticism. Ocean Damage. Ecological Awareness. Let's Read. Abstract Kata Kunci: Sastra Anak Digital. Ekokritik. Kerusakan Laut. Kesadaran Ekologis. LetAos Read Abstrak The issue of damage to the marine environment due to pollution, especially plastic waste and global warming, is increasingly worrying and needs to be instilled with awareness from an early age. However, ecocritical studies in digital children's literature with the theme of marine degradation are still minimal. This research focuses on analyzing the representation of marine degradation in three digital children's stories from the Let's Read app: Mengapa Tidak Lepas. Gurita Kecil yang Rakus, and Terumbu Karang yang Memanas. The aim is to reveal ecological messages and social criticism conveyed to children through an ecocritical approach. The method used is descriptive qualitative with document study technique, while the underlying theory is Greg Garrard and Suwardi Endraswara's ecocriticism. The results show that the three stories utilize marine fauna characters and illustrations as symbols of environmental In addition to criticizing the exploitation of nature, these stories also instill hope through the characters' collective actions in protecting the environment. In conclusion, digital children's literature has proven to be an effective medium for education and social criticism, and can be an important tool in shaping ecological awareness and character traits. Isu kerusakan lingkungan laut akibat pencemaran, khususnya sampah plastik dan pemanasan global semakin mengkhawatirkan sehingga perlu ditanamkan kesadarannya sejak dini. Namun, kajian ekokritik dalam sastra anak digital yang mengangkat tema kerusakan laut masih minim. Penelitian ini berfokus pada analisis representasi kerusakan bahari dalam tiga cerita anak digital dari aplikasi LetAos Read: Mengapa Tidak Lepas. Gurita Kecil yang Rakus, dan Terumbu Karang yang Memanas. Tujuannya adalah untuk mengungkap pesan ekologis serta kritik sosial yang disampaikan kepada anak-anak melalui pendekatan ekokritik. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik studi dokumen, sedangkan teori yang mendasari adalah ekokritik Greg Garrard dan Suwardi Endraswara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga cerita memanfaatkan tokoh fauna laut dan ilustrasi sebagai simbol kerusakan lingkungan. Selain menyampaikan kritik terhadap eksploitasi alam, cerita-cerita ini juga menanamkan harapan melalui tindakan kolektif tokohnya dalam menjaga lingkungan. Kesimpulannya, sastra anak digital terbukti efektif sebagai media edukatif dan kritik sosial, serta dapat menjadi sarana penting dalam membentuk kesadaran ekologis dan karakter peduli lingkungan pada anak-anak sejak usia dini, terutama dalam konteks pembelajaran berbasis literasi digital. Penulis Korespondensi: erawatidwilestari@iainkediri. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license Potret Kerusakan Laut A PENDAHULUAN Sastra anak merupakan salah satu bentuk sastra yang memiliki peran penting dalam perkembangan literasi dan pembentukan karakter anak-anak. Sastra anak menawarkan dua hal utama, yaitu kesenangan dan pemahaman (Lukens, 1. Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat penting dalam pengembangan keterampilan sosial-emosional, dan bahasa pada anak. Melalui cerita dan ilustrasi yang menarik, sastra anak dapat membantu membangun empati serta pemahaman terhadap berbagai situasi kehidupan (Reading Patners, 2. Buku bergambar misalnya, memberikan dukungan visual yang memperkuat pemahaman kosakata dan struktur bahasa sehingga memudahkan proses belajar membaca bagi anak-anak. Selain itu, cerita-cerita dalam sastra anak dapat mengajarkan nilainilai moral dan sosial yang penting untuk pembentukan karakter sejak dini (Cain, n. Interaksi antara orang tua atau guru dengan anak saat membaca bersama buku sastra anak dapat meningkatkan kemampuan bahasa serta keterampilan kognitif lainnya (Almerico, 2. Dengan demikian, sastra anak menjadi media efektif untuk mengembangkan perspektif dunia pada anak sekaligus menumbuhkan rasa empati melalui pengalaman imajinatif yang disajikan. Karya sastra anak biasanya disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, cerita menarik, serta pesan moral yang mendidik. Melalui sastra anak, kita dapat mengajarkan cara berempati dan memecahkan masalah pada anak melalui pilihan karya sastra yang mengandung nilai-nilai moral tertentu (Amelia et al. Simanjuntak, 2. Sastra merupakan media efektif untuk pendidikan karakter karena mampu menanamkan nilai sosial, budaya, dan etika secara imajinatif sehingga membantu pengembangan kecerdasan emosional anak dalam memahami emosi diri sendiri maupun orang lain (Ho & Funk, 2018. Sarumpaet, 2. Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa pembelajaran karakter melalui sastra dapat menjadi bekal penting bagi masa depan anak dengan membentuk perspektif holistik terhadap lingkungan sosialnya (Astuti & Sari, 2024. Parks & Oslick, 2. Oleh karena itu, pemilihan karya sastra yang tepat sangat krusial dalam membekali anak-anak dengan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kehidupan sekaligus mendukung perkembangan kognitif dan emosional mereka secara optimal (Hafizah et al. Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sastra anak kini tidak hanya hadir dalam bentuk buku cetak tetapi juga telah merambah ke dunia digital sehingga memudahkan akses bacaan bagi anak-anak melalui perangkat elektronik seperti smartphone atau tablet (Erstad et al. , 2023. Nascimbeni & Vosloo, 2. Trasnformasi ini dapat dikatakan mampu menjadi alternatif media pembelajaran yang cocok untuk anak (Khairun Nisya & Yunizar, 2. Literasi digital semakin berkembang sebagai kemampuan esensial yang membantu anak memahami serta menggunakan informasi secara efektif dalam konteks modern (Rogow, 2. Buku cerita berbasis digital menawarkan pengalaman membaca interaktif yang dapat meningkatkan minat baca sekaligus keterampilan literasi pada anak usia dini dengan cara yang menyenangkan dan menarik perhatian (Li, 2024. Wolf, 2. Keberadaan sastra anak digital juga memberikan kesempatan untuk memperkenalkan ceritacerita yang lebih variatif dan menarik, serta memberikan pengalaman yang lebih dinamis dan menyenangkan bagi anak-anak (Kariyawan Ys, 2. Oleh karena itu, integrasi sastra anak dalam format digital menjadi sarana strategis untuk mendukung pertumbuhan literasi sekaligus memperluas wawasan budaya serta sosial sejak masa kanak-kanak. Salah satu contoh aplikasi yang menyediakan koleksi sastra anak digital adalah LetAos Read. Aplikasi digital berbasis online ini memuat cerita bergambar berkualitas dalam format digital (Syamsiyah et al. , 2. Aplikasi ini merupakan platform yang menawarkan buku-buku cerita anak yang dapat diakses secara gratis oleh anak-anak di seluruh dunia. Aplikasi ini bahkan digunakan oleh banyak pengajar dan orang tua untuk melatih kemampuan membaca anak-anak DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 69 - 83 Erawati Dwi Lestari. Guntur Sekti Wijaya (Mulyaningtyas et al. , n. Tidak hanya itu, aplikasi ini menjadi salah satu media digital yang memiliki komponen membaca yang menyenangkan (Cahya et al. , 2. , yang di dalamnya memuat ilustrasi dan narasi dengan taraf kesulitan membaca yang disesuaikan dengan kemampuan membaca anak (Dwitalia Sari et al. , 2. Hal ini terjadi karena koleksi bacaan dalam aplikasi ini sangat banyak dan dapat dipilih sesuai jenjang pembaca anak (Ermerawati. Aplikasi Let's Read sendiri diprakarsai oleh The Asia Foundation melalui program Books for Asia. Aplikasi ini menyediakan koleksi buku digital anak-anak dengan fitur multibahasa termasuk bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Fitur ini memungkinkan anak-anak mengakses materi bacaan dalam bahasa ibu sekaligus belajar bahasa asing tanpa mengesampingkan keutamaan bahasa nasional. Dengan demikian, aplikasi ini tidak hanya mendukung literasi digital tetapi juga berperan penting dalam pelestarian budaya dan pemertahanan bahasa lokal. Selain itu, aplikasi ini menyediakan akses gratis ke ribuan buku dari penulis lokal yang dikembangkan melalui lokakarya komunitas sehingga relevan secara budaya https://asiafoundation. https://w. org/). Sumber data dalam penelitian ini adalah tiga cerita anak yang tersedia dalam aplikasi LetAos Read, yaitu Mengapa Tidak Lepas. Gurita Kecil yang Rakus, dan Terumbu Karang yang Memanas. Ketiga cerita ini mengangkat tema penting mengenai kerusakan laut dan urgensi menjaga kebersihan laut dari sampah, khususnya sampah plastik. Isu pencemaran laut ini sangat relevan mengingat dampak negatifnya yang semakin meluas secara global, tidak hanya merusak ekosistem laut tetapi juga berimplikasi pada kesehatan manusia serta keberlanjutan sumber daya alam (Brooks et al. , 2018. Wang et al. , 2. Melalui narasi dan ilustrasi yang menarik, cerita-cerita ini berperan sebagai media edukatif untuk menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini pada anak-anak. Dengan demikian, anak secara tidak langsung didorong untuk menjadi agen perubahan aktif yang peduli terhadap pelestarian lingkungan, khususnya kelestarian ekosistem laut (Kollmuss & Agyeman, 2010. owiItkowski et al. , 2. Pendekatan edukasi lingkungan melalui sastra anak digital seperti ini sejalan dengan upaya global dalam membangun generasi muda yang bertanggung jawab terhadap masa depan planet bumi (Stevenson et al. , 2. Kajian yang memperhatikan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya . merupakan bentuk kajian sastra dengan pendekatan ekologi. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Atas dasar definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa ekologi sastra juga mencari hubungan timbal balik antara sastra dan lingkungannya. Hubungan resiprokal itu penting untuk melihat keterkaitan satu sama lain (Herbowo, 2. Dalam konteks ini, kajian ekokritik dalam sastra menelaah bagaimana karya-karya sastra merefleksikan serta mempengaruhi kesadaran akan isu-isu lingkungan hidup. Pada sastra anak, pendekatan ini tidak hanya mengamati representasi alam dan makhluk hidup dalam teks, tetapi juga bagaimana narasi tersebut membentuk kesadaran ekologis sejak dini melalui cerita-cerita yang menarik bagi pembaca muda (Lesnik-Oberstein. Dalam kajian ekologi sastra, tokoh penting yang sering dijadikan rujukan adalah Greg Garrard. Ia dikenal sebagai salah satu pelopor teori ekokritik modern yang menekankan hubungan timbal balik antara manusia dan alam dalam karya sastra. Garrard memandang ekokritik sebagai disiplin yang tidak hanya mengamati bagaimana alam dan isu lingkungan digambarkan dalam teks sastra, tetapi juga bagaimana sastra dapat membangkitkan kesadaran ekologis dan mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan (Garrard, 2. Dalam konteks ini, ekokritik berfungsi sebagai alat kritis untuk mengkritisi praktik destruktif manusia terhadap alam serta mengangkat nilai-nilai pelestarian lingkungan melalui narasi dan simbolisme yang ada dalam karya sastra. Garrard juga menekankan pentingnya memahami DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 70 - 83 Potret Kerusakan Laut A konteks budaya dan sejarah dalam analisis ekokritik, karena representasi alam dalam sastra selalu terkait dengan konstruksi sosial dan ideologi tertentu yang mempengaruhi cara manusia memandang dan memperlakukan lingkungan (Garrard, 2. Sejalan dengan pandangan Garrard. Suwardi Endraswara dalam bukunya Ekokritik Sastra: Konsep. Teori, dan Terapan menegaskan bahwa ekokritik merupakan kajian sastra yang menghubungkan teks sastra dengan isu-isu lingkungan hidup secara kritis dan reflektif. Endraswara menekankan bahwa ekokritik tidak hanya melihat representasi alam dalam karya sastra, tetapi juga mengkaji bagaimana karya tersebut dapat membentuk kesadaran ekologis dan mendorong sikap pelestarian lingkungan (Endraswara, 2. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks sastra anak digital, di mana narasi dan ilustrasi dapat menjadi media efektif untuk menanamkan nilai-nilai ekologis sejak usia dini. Kajian ekokritik dalam sastra anak, baik digital maupun cetak, memainkan peran penting dalam menggambarkan kerusakan lingkungan serta menanamkan kesadaran ekologis sejak Penelitian terhadap cerita anak menunjukkan bagaimana narasi dapat merepresentasikan berbagai bentuk kerusakan lingkungan, termasuk polusi dan bencana alam, secara kontekstual dan edukatif sehingga mendorong pembaca muda untuk memahami pentingnya pelestarian alam (Syah, n. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam sastra anak dapat memperkuat pesan pelestarian lingkungan melalui pendekatan ekokritik yang mengangkat isuisu seperti kelestarian hutan dan kejernihan sungai sebagai bagian dari tanggung jawab bersama (Sukowati & Ihsan, 2. Lebih jauh lagi, penanaman kesadaran ekologis melalui sastra anak di Indonesia menjadi semakin relevan di era digital saat ini. Pendekatan ekokritisisme tidak hanya berfungsi sebagai media edukasi efektif tetapi juga sebagai sarana membangun hubungan harmonis antara generasi muda dengan alam sekitar mereka (Rahayu. Melihat beberapa temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa kajian ekokritik sastra anak secara tidak langsung turut memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk pemahaman kritis tentang isu-isu lingkungan. Namun, penelitian tentang ekokritik dalam sastra anak digital yang mengangkat tema kerusakan laut masih belum banyak dilakukan, terutama terkait analisis narasi dan ilustrasi dalam aplikasi bacaan digital seperti LetAos Read. Sebagian besar studi lebih fokus pada sastra anak cetak dan belum mengkaji secara mendalam peran media digital sebagai sarana edukasi lingkungan yang interaktif dan kontekstual. Oleh sebab itu, penelitian ini akan berfokus pada bagaimana representasi kerusakan bahari dalam tiga cerita anak di aplikasi LetAos Read menggunakan pendekatan ekokritik, sekaligus membongkar kritik sosial dan kesadaran lingkungan melalui analisis sastra anak digital. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk memahami makna dan pesan ekologis dalam sastra anak digital secara mendalam dan kontekstual (Moleong. Pendekatan ini sesuai dengan karakteristik sastra anak yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi dan pembentukan kesadaran ekologis sejak Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan ekokritik, yang menurut Greg Garrard (Garrard, 2014, 2. menekankan hubungan timbal balik antara manusia dan alam dalam karya sastra. Garrard membagi ekokritik menjadi beberapa pendekatan, termasuk ekokritik hijau yang fokus pada pelestarian alam dan kritik terhadap eksploitasi sumber daya alam, serta ekokritik merah yang mengaitkan isu lingkungan dengan keadilan sosial. Pendekatan ini relevan untuk menganalisis bagaimana cerita anak digital dalam aplikasi LetAos Read merefleksikan kerusakan bahari dan menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan melalui narasi dan simbolisme pada gambar ilustrasi. Selain itu, penelitian ini mengacu pada konsep DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 71 - 83 Erawati Dwi Lestari. Guntur Sekti Wijaya ekokritik dari Endraswara (Endraswara, 2. yang menegaskan pentingnya analisis teks sastra dalam konteks lingkungan hidup, dengan menelaah representasi alam dan isu ekologis secara kritis. Data penelitian berupa teks narasi dan ilustrasi dari tiga cerita anak dalam aplikasi LetAos Read, yaitu Mengapa Tidak Lepas. Gurita Kecil yang Rakus, dan Terumbu Karang yang Memanas. Data dikumpulkan melalui studi dokumen digital dan dianalisis secara tematik berdasarkan konsep ekokritik untuk mengungkap pesan ekologis dan kesadaran lingkungan yang disampaikan kepada pembaca anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Cerita bertema lingkungan dapat menjadi media edukasi efektif untuk menanamkan nilai pelestarian alam sekaligus membangun empati terhadap makhluk lain (Juanda et al. , 2. Hal ini dapat terjadi karena cerita anak sering menggunakan simbol alam sebagai alat untuk memotret praktik destruktif manusia terhadap lingkungan (Campagnaro & Goga, 2. Tiga cerita anak dalam aplikasi Let's Read yang berjudul Mengapa Tidak Lepas. Gurita Kecil yang Rakus, dan Terumbu Karang yang Memanas memiliki benang merah yang sama dalam struktur Ketiganya menggunakan fauna laut sebagai tokoh utama. Alur cerita dari ketiganya pun juga memuat isu yang sama, yakni praktik kerusakan alam bahari yang kian hari semakin parah. Secara umum, kebanyakan sastra anak menempatkan sudut pandang anak sebagai titik utama penceritaan (Nurgiyantoro, 2. Namun dalam karya sastra yang menjadi objek penelitian ini, karakter AuanakAy tidak selalu dihadirkan dalam wujud anak-anak. Ketiga cerita yang menjadi objek penelitian ini menggunakan biota laut sebagai pembangun cerita. Pada cerita pertama. Mengapa Tidak Lepas, tokoh utama bernama Skorpi yang merupakan ikan lepu dari Ambon. Pada cerita kedua yang berjudul Gurita Kecil yang Rakus mengangkat tokoh bernama Nina yang berjenis gurita, sementara pada cerita terakhir berjudul Terumbu Karang yang Memanas mengisahkan kondisi ikan-ikan di laut yang lemah dan mengalami perubahan perilaku akibat pemanasan global. Gambar 1. Sampul Cerita Digital Mengapa Tidak Lepas. Gurita Kecil yang Rakus, dan Terumbu Karang yang Memanas di Aplikasi LetAos Read DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 72 - 83 Potret Kerusakan Laut A Sastra anak secara khusus selalu terkait pada dunia anak, dibaca anak, serta pada dasarnya dibimbing orang dewasa (Sarumpaet, 2. Sastra anak adalah sastra yang menguraikan isi dan bahasa sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual dan emosional anak (Kurniawan. Sastra anak juga mencakup buku-buku bacaan atau karya sastra yang sengaja ditulis sebagai bacaan anak, isinya sesuai dengan minat dan pengalaman anak, serta sesuai dengan tingkat perkembangan emosi dan intelektual anak (Ampera, 2. Oleh sebab itu, penggunaan binatang sebagai tokoh utama dalam tiga cerita anak ini dapat menjadi strategi efektif untuk menyampaikan pesan moral, lingkungan, dan pembelajaran kehidupan kepada pembaca anakanak. Penerapan teori ekokritik pada karya sastra anak secara tidak langsung dapat membuka ruang dialog kritis tentang kearifan lokal terkait pelestarian lingkungan di tengah tantangan modernisasi (Lanta et al. , 2. Ketiga cerita yang menjadi objek penelitian ini sama-sama mengangkat tema kerusakan laut sebagai bagian dari pesan ekologis yang ingin disampaikan. Pada masing-masing cerita, laut digambarkan sebagai ekosistem yang indah dan vital, tetapi juga rentan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh perilaku manusia. Dalam cerita Mengapa Tidak Lepas, misalnya, laut digambarkan sebagai tempat yang kaya akan kehidupan, tetapi mulai tercemar karena sampah plastik yang terbawa masuk hingga perairan dalam. Cerita kedua dengan judul Gurita Kecil yang Rakus menggambarkan sampah-sampah plastik yang tersebar di laut masuk ke dalam tubuh gurita yang kelaparan. Sementara cerita Terumbu Karang yang Memanas mengangkat isu pemanasan global yang menyebabkan kerusakan Ketiga cerita ini sepakat memotret kondisi laut yang kian mengkhawatirkan akibat ulah manusia yang secara langsung berdampak dan mengancam. Penelitian ini menjadi sangat penting mengingat isu kerusakan alam dan lingkungan hidup yang semakin mendesak untuk diperhatikan. Pencemaran laut, yang sebagian besar disebabkan oleh sampah plastik, telah menjadi salah satu isu lingkungan yang paling signifikan di masa sekarang (Akbar & Maghfira, 2. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan laut dan mengurangi sampah plastik sangatlah Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah melalui pendidikan dan literasi yang mengedepankan nilai-nilai lingkungan. Tiga cerita anak yang terdapat dalam aplikasi LetAos Read ini secara tidak langsung dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada anak dengan cara yang menyenangkan dan edukatif. Representasi Kerusakan Bahari dalam Literatur Anak di Aplikasi LetAos Read Meskipun berasal dari spesies yang berbeda, ketiga tokoh utama dalam cerita-cerita anak yang menjadi objek penelitian ini memiliki kesamaan, yaitu menghuni habitat laut yang luas dan menakjubkan. Tokoh Skorpi dalam cerita Mengapa Tidak Lepas dikisahkan sebagai ikan lepu dari Ambon yang biasa mencari mangsa di sekitar koral. Saat tengah berburu, tokoh Skorpi tidak sengaja terlilit kantong plastik yang mulanya ia kira sebagai ikan. Singkat cerita, tubuh skorpi tersangkut di dalam kantong plastik tersebut. Ia pun akhirnya kesulitan mencari makanan dan tidak bisa bergerak untuk waktu yang lama. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 73 - 83 Erawati Dwi Lestari. Guntur Sekti Wijaya Gambar 2 Tokoh Skorpi dalam Cerita Mengapa Tidak Lepas Kesulitan Bergerak Akibat Tersangkut Kantong Plastik yang Mencemari Lautan Ekokritik mencoba untuk mengeksplorasi bagaimana karya sastra dapat berfungsi sebagai alat untuk membangkitkan kesadaran ekologis dan menyampaikan pesan-pesan pelestarian Pada kutipan cerita dalam gambar di atas misalnya, dapat dilihat bahwa alam telah dicemari oleh manusia. Alam yang harusnya menjadi tempat nyaman sekaligus aman, berubah menjadi ruang paling mengancam bagi penghuninya. Tokoh Skorpi dalam cerita Mengapa Tidak Lepas menjadi salah satu gambaran makhluk hidup yang mendapat nasib sial akibat ulah manusia yang apatis terhadap lingkungan. Benda-benda asing seperti kaleng atau kantong plastik tidak diproduksi dari alam atau tidak terbentuk secara alami. Organisme alam pun tidak mengenal senyawa benda-benda anorganik ini (Utami, 2. Itulah sebabnya kaleng, plastik, atau benda-benda anorganik tidak bisa terurai atau rusak bahkan setelah lebih dari 20 tahun berada dalam laut (Tempo, 2. Dalam konteks sastra anak digital, kajian ekokritik memberikan kerangka untuk memahami bagaimana cerita-cerita yang disajikan dapat membentuk cara pandang anak-anak terhadap alam dan lingkungan sekitar mereka, serta bagaimana sastra dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan nilai-nilai ekologis dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami. Melalui cerita Mengapa Tidak Lepas, anak secara tidak langsung diajak untuk melihat sebab dan akibat yang timbul dari perilaku mencemari lingkungan, yang dalam hal ini adalah laut. Anak akan memahami situasi yang terjadi tanpa merasa seolah sedang dinasehati atau digurui. Mereka akan menangkap pesan-pesan ekologi itu melalui narasi cerita yang unik, gambar yang menarik, namun tetap bermakna. Isu pencemaran laut serupa juga dapat ditemukan dalam cerita Gurita Kecil yang Rakus. Cerita anak ini mengisahkan tentang seekor gurita bernama Nina yang selalu merasa lapar dan memakan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Singkat cerita. Nina tanpa sengaja memakan benda asing yang menyerupai ubur-ubur, yang ternyata adalah botol plastik. Akibat kebiasaan makannya yang rakus dan tidak selektif, tubuh Nina membesar dan akhirnya ia memuntahkan berbagai benda asing seperti botol plastik, kantong kresek, dan sampah lainnya yang mencemari laut. Alur cerita ini tidak hanya menghibur anak-anak dengan petualangan gurita kecil yang jenaka, tetapi juga menyampaikan pesan penting mengenai pencemaran laut dan dampaknya terhadap makhluk hidup di dalamnya. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 74 - 83 Potret Kerusakan Laut A Gambar 3 Tokoh Nina dalam Cerita Gurita Kecil yang Rakus Saat Memakan Sampah-Sampah Plastik yang Mencemari Lautan Pendekatan ekokritik dalam sastra anak sangat relevan untuk menganalisis cerita ini karena ekokritik berfokus pada hubungan antara sastra dan lingkungan hidup. Melalui cerita yang sederhana dan mudah dipahami. Gurita Kecil yang Rakus mengajak pembaca muda untuk mengenal dan memahami isu-isu lingkungan, khususnya pencemaran laut yang menjadi masalah global. Di Indonesia, pencemaran laut menjadi masalah yang serius. Tercatat sekitar 3,2 juta ton sampah plastik diproduksi setiap tahun dan sebagian besarnya berakhir di laut (Antoni, 2. Melihat hal ini, dapat disimpulkan bahwa sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai alat edukasi yang efektif untuk menanamkan kesadaran ekologis sejak dini. Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan bertanggung jawab terhadap lingkungan khususnya laut. Lebih lanjut, potret kerusakan laut juga tergambar dari cerita Terumbu Karang yang Memanas. Cerita anak ini mengangkat tema lingkungan hidup dengan fokus pada perubahan ekosistem terumbu karang akibat pemanasan air laut. Dari perspektif ekokritik, cerita ini menampilkan hubungan yang erat antara manusia dan alam, serta dampak negatif aktivitas manusia terhadap lingkungan laut. Gambar 4 Ikan-Ikan dan Ekosistem Laut yang Merasakan Dampak Pemanasan Global dalam Cerita Terumbu Karang yang Memanas DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 75 - 83 Erawati Dwi Lestari. Guntur Sekti Wijaya Cerita Terumbu Karang yang Memanas ini menggambarkan interaksi antara manusia (Maria dan keluarganya sebagai nelaya. dengan makhluk laut. Melalui tokoh Maria, cerita ini menekankan pentingnya empati dan kepedulian manusia terhadap makhluk hidup lain dan lingkungan mereka. Hal ini mencerminkan prinsip ekokritik yang menolak pandangan manusia sebagai penguasa alam dan menegaskan keterkaitan serta ketergantungan bersama. Dalam cerita Terumbu Karang yang Memanas, makhluk laut diberi suara dan karakter, seperti Rani si kerang tua. Oti si ikan buntal, dan Kali si ikan kakatua. Personifikasi ini membuat pembaca anak-anak dapat memahami dan merasakan dampak perubahan lingkungan secara emosional. Dengan cara ini, para tokoh ikan mengajak pembaca untuk melihat alam bukan hanya sebagai latar belakang, tetapi sebagai entitas hidup yang memiliki hak untuk dilindungi. Isu pemanasan air laut yang menyebabkan terumbu karang menjadi lemah, ikan-ikan berukuran kecil, dan perubahan perilaku makhluk laut merupakan gambaran nyata dari fenomena pemanasan global dan kerusakan ekosistem laut yang memang terjadi di dunia nyata (Brierley & Kingsford. Cerita ini berfungsi sebagai media edukasi yang menyampaikan pesan penting tentang perubahan iklim dan kerusakan lingkungan kepada anak-anak. Lebih lanjut, narasi pada cerita Terumbu Karang yang Memanas menampilkan bagaimana komunitas nelayan dan keluarga Maria berinisiatif untuk melindungi terumbu karang dengan berhenti mengganggu ekosistem laut selama satu tahun dan mulai menanam karang baru yang tahan panas. Hal ini menekankan pesan ekokritik tentang pentingnya tindakan kolektif dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan, serta mengajarkan bahwa perubahan positif dapat terjadi jika manusia sadar dan bertindak untuk melindungi alam. Secara keseluruhan, cerita Terumbu Karang yang Memanas tidak hanya menyoroti masalah lingkungan, tetapi juga memberikan harapan melalui upaya pelestarian dan pemulihan terumbu karang. Hal ini penting dalam sastra anak karena membangun kesadaran sekaligus optimisme bahwa manusia dapat memperbaiki kerusakan yang telah mereka ciptakan Penyampaian tema lingkungan dalam ketiga cerita di aplikasi LetAos Read dapat dikatakan efektif dalam mengenalkan isu pencemaran laut kepada anak-anak dengan cara yang sederhana namun kuat dalam pesan moralnya. Laut dalam ketiga cerita di atas tidak hanya digambarkan sebagai tempat yang penuh potensi dan keindahan, namun juga dipersonifikasikan sebagai entitas yang terancam dan membutuhkan perlindungan. Dalam analisis ekokritik, penggunaan alam sebagai latar belakang cerita memiliki peran penting dalam menggambarkan ketergantungan manusia terhadap alam, serta dampak dari eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab. Laut dalam ketiga cerita ini pada akhirnya berfungsi sebagai simbol kerusakan ekologis yang dapat disembuhkan hanya jika manusia berperan aktif dalam Sastra Anak Digital sebagai Media Kritik Sosial dan Kesadaran Lingkungan Ekokritik merupakan pendekatan dalam kajian sastra yang menelaah hubungan antara karya sastra dan lingkungan hidup, dengan fokus pada bagaimana teks-teks sastra merefleksikan, mengkritik, dan memengaruhi pemahaman manusia terhadap alam dan isu-isu ekologis (Garrard, 2014, 2. Pendekatan ini tidak hanya melihat representasi alam dalam sastra, tetapi juga menyoroti bagaimana karya sastra dapat menjadi medium kritik sosial terhadap kerusakan lingkungan dan ketidakadilan ekologis yang terjadi akibat aktivitas manusia (Endraswara, 2. Dalam konteks sastra anak, ekokritik memiliki peran penting karena sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau media pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana membentuk kesadaran ekologis sejak dini. Melalui tiga cerita anak dari aplikasi Let's Read, yaitu Mengapa Tidak Lepas. Gurita yang Rakus, dan Laut yang Memanas, pembaca DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 76 - 83 Potret Kerusakan Laut A anak diajak untuk berpikir kritis tentang hubungan manusia dengan alam sekitar sekaligus belajar tentang nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan. Cerita Mengapa Tidak Lepas menampilkan tema utama tentang keterkaitan dan ketergantungan antar makhluk hidup dalam ekosistem laut. Melalui narasi yang menggambarkan interaksi antara berbagai hewan laut seperti Skorpi, alga, dan makhluk lainnya, cerita ini menyoroti betapa rapuh dan kompleksnya keseimbangan ekosistem bawah Mengapa Tidak Lepas juga mengkritik dampak negatif aktivitas manusia yang mengganggu keseimbangan alam, khususnya ekosistem laut. Gambar 5 Kantong Plastik yang Sulit Terurai dan Menjadi Sampah Laut Gangguan seperti pencemaran dan perusakan habitat laut dapat menyebabkan ketidakseimbangan yang berujung pada kerusakan ekosistem secara keseluruhan. Cerita ini mengajak pembaca anak untuk memahami bahwa tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab dapat mengancam keberlangsungan hidup makhluk laut dan lingkungan mereka. Dengan menampilkan interaksi alami yang harmonis sekaligus rentan, cerita ini menjadi cermin kritik sosial terhadap perlunya konservasi dan perlindungan lingkungan laut. Lebih lanjut. Cerita Gurita yang Rakus mengangkat tema konsumsi berlebihan dan dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem laut melalui tokoh utama. Nina si gurita. Dalam cerita ini. Nina digambarkan sangat lapar dan terus-menerus memakan berbagai makhluk laut, mulai dari udang hingga ikan besar, hingga akhirnya perutnya sakit dan ia tidak bisa kembali ke guanya. Namun, yang menjadi sorotan penting dalam narasi ini adalah ketika Nina memuntahkan sampah-sampah dari perutnya, sebuah gambaran simbolis yang kuat tentang banyaknya sampah yang tersebar di laut. Tindakan Nina memuntahkan sampah ini menjadi metafora visual yang menyoroti polusi laut yang disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti pembuangan sampah plastik dan limbah ke perairan DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 77 - 83 Erawati Dwi Lestari. Guntur Sekti Wijaya Gambar 6 Polusi Laut di Dalam Tubuh Nina si Gurita Selain itu, tubuh Nina yang semakin membesar menjadi simbol bahwa konsumsi berlebihan tidak hanya berdampak pada keseimbangan ekosistem melalui eksploitasi sumber daya, tetapi juga melalui pencemaran yang mengancam habitat laut. Nina yang terus-menerus makan tanpa memperhatikan batas kemampuan lingkungannya menjadi representasi manusia yang mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan membiarkan sampah menumpuk di laut tanpa pengelolaan yang baik. Akibatnya, seperti Nina yang akhirnya kesulitan dan menderita, ekosistem laut juga mengalami kerusakan dan ketidakseimbangan yang berpotensi mengancam kelangsungan hidup berbagai makhluk laut. Cerita Gurita yang Rakus mengingatkan pembaca anak akan pentingnya mengelola sumber daya alam dengan bijak dan bertanggung jawab, serta menghindari sikap serakah yang dapat merusak lingkungan. Melalui gambaran Nina yang memuntahkan sampah, pembaca diajak untuk merenungkan dampak nyata dari polusi laut dan bagaimana tindakan individu maupun kolektif dapat mempengaruhi kesehatan ekosistem. Dengan demikian, cerita Gurita yang Rakus tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai alat edukasi yang efektif dalam menanamkan kesadaran ekologis dan kritik sosial terhadap perilaku manusia yang tidak berkelanjutan, sesuai dengan prinsip-prinsip ekokritik yang menyoroti hubungan antara manusia, alam, dan sastra Cerita terakhir, yakni Laut yang Memanas secara gamblang mengangkat isu perubahan iklim dan dampaknya terhadap ekosistem laut, khususnya terumbu karang. Melalui dialog antara tokoh-tokoh laut seperti Maria. Hokihoki, dan para makhluk laut lainnya, cerita ini menggambarkan bagaimana pemanasan air laut menyebabkan kerusakan terumbu karang, berkurangnya ukuran ikan, dan melemahnya kemampuan makhluk laut untuk bertahan hidup. Narasi ini menyoroti fenomena nyata seperti pemutihan karang . oral bleachin. dan penurunan keanekaragaman hayati yang menjadi konsekuensi langsung dari peningkatan suhu laut akibat aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil yang meningkatkan kadar karbondioksida di atmosfer dan lautan. Dari perspektif ekokritik. Laut yang Memanas berfungsi sebagai kritik sosial yang menyoroti tanggung jawab manusia terhadap perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Cerita ini tidak hanya menggambarkan dampak ekologis, tetapi juga mengaitkannya dengan kehidupan manusia, seperti nelayan yang harus mencari ikan di perairan lebih dalam karena sumber daya yang menipis. Hal ini menegaskan keterkaitan erat antara kesehatan ekosistem laut dan kesejahteraan manusia, serta menekankan perlunya tindakan kolektif untuk melindungi lingkungan. Upaya nelayan yang mengadakan rapat desa dan sepakat untuk tidak mengganggu terumbu karang selama satu tahun menjadi simbol harapan dan ajakan untuk bertindak bersama demi pemulihan lingkungan. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 78 - 83 Potret Kerusakan Laut A Gambar 7 Para Nelayan Bersepakat untuk Tidak Mengganggu Terumbu Karang Lagi Cerita Laut yang Memanas juga mengedukasi pembaca muda tentang proses ilmiah dan dampak lingkungan secara sederhana namun efektif, seperti penjelasan tentang bagaimana karbondioksida yang berlebihan menyebabkan laut menjadi lebih asam dan menghambat pertumbuhan cangkang makhluk laut. Dengan demikian, cerita ini mengajak anak-anak untuk memahami isu perubahan iklim secara holistik dan menginternalisasi pentingnya menjaga kelestarian laut sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekokritik yang menekankan kesadaran ekologis dan kritik terhadap praktik manusia yang merusak alam, serta mendorong literatur sebagai media edukasi dan advokasi lingkungan Gambar 7 Fakta Ilmiah dalam Narasi Cerita Laut yang Memanas Dengan menampilkan narasi yang menggabungkan fakta ilmiah dan cerita emosional. Laut yang Memanas menjadi karya sastra anak yang tidak hanya menghibur tetapi juga menginspirasi kesadaran dan tindakan nyata terhadap perubahan iklim dan perlindungan lingkungan laut. Cerita ini menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga bumi adalah tugas bersama yang harus dimulai sejak dini, dan sastra anak dapat menjadi jembatan penting dalam membangun kesadaran tersebut. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 79 - 83 Erawati Dwi Lestari. Guntur Sekti Wijaya Ketiga cerita anak dari aplikasi Let's ReadAiMengapa Tidak Lepas. Gurita yang Rakus, dan Laut yang MemanasAimenampilkan tema ekokritik yang kuat dan kritik sosial yang relevan terhadap isu lingkungan masa kini. Secara bersama-sama, ketiganya menyoroti hubungan saling ketergantungan dalam ekosistem, dampak konsumsi berlebihan, dan ancaman perubahan iklim, yang semuanya merupakan masalah lingkungan yang mendesak. Melalui narasi yang mudah dipahami dan karakter yang menarik, cerita-cerita ini mengajak pembaca muda untuk menyadari bahwa manusia dan alam tidak bisa dipisahkan, serta bahwa tindakan manusia memiliki konsekuensi langsung terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup lain dan keseimbangan alam. SIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa sastra anak, khususnya dalam format digital seperti yang disajikan dalam aplikasi LetAos Read, memiliki peran strategis dan efektif dalam menanamkan kesadaran ekologis dan nilai-nilai pelestarian lingkungan sejak usia dini. Melalui analisis ekokritik terhadap tiga cerita anak digitalAiMengapa Tidak Lepas. Gurita Kecil yang Rakus, dan Terumbu Karang yang MemanasAiterungkap bahwa narasi dan ilustrasi dalam karya-karya tersebut secara konsisten merepresentasikan isu kerusakan laut yang disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama pencemaran plastik dan pemanasan global. Adapun temuan utama penelitian menunjukkan bahwa, pertama cerita-cerita yang dianalisis dalam penelitian ini menggunakan tokoh fauna laut sebagai simbol yang efektif untuk menggambarkan dampak negatif pencemaran laut dan perubahan iklim. Tokoh Skorpi yang terjerat plastik. Nina si gurita yang memuntahkan sampah plastik, dan ikan-ikan yang terdampak pemanasan global menjadi metafora kuat yang mengkomunikasikan kerusakan ekosistem laut secara emosional dan edukatif kepada anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan bahasa, kognitif, dan sosial-emosional anak. Kedua, pendekatan ekokritik yang menekankan hubungan timbal balik antara manusia dan alam sangat relevan untuk mengkaji sastra anak digital. Cerita-cerita yang menjadi objek penelitian ini tidak hanya merefleksikan kondisi lingkungan yang rusak, tetapi juga mengkritik perilaku manusia yang merusak alam dan mengajak pembaca muda untuk berpikir kritis serta bertindak menjaga kelestarian lingkungan. Melalui narasi yang menggabungkan fakta ilmiah dan cerita emosional, sastra anak digital mampu menjadi media kritik sosial yang menyampaikan pesan penting tentang polusi laut dan perubahan iklim. Cerita-cerita dalam penelitian ini mengajarkan pentingnya tanggung jawab kolektif dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan, sekaligus memberikan harapan bahwa perubahan positif dapat dicapai melalui kesadaran dan kerja sama manusia. Aplikasi LetAos Read sebagai platform digital menyediakan akses mudah dan gratis ke koleksi sastra anak yang berkualitas, multibahasa, dan relevan secara budaya. Hal ini tidak hanya mendukung literasi digital dan pembelajaran bahasa, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya lokal dan penguatan nilai-nilai ekologis melalui cerita yang kontekstual dan Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa sastra anak digital dengan pendekatan ekokritik merupakan media yang efektif dan relevan untuk membangun kesadaran ekologis dan karakter peduli lingkungan pada anak-anak. Dengan menghadirkan isu-isu lingkungan secara kontekstual dan menarik, sastra anak digital dapat menjadi jembatan penting dalam pendidikan karakter dan advokasi lingkungan di era digital saat ini. Oleh karena itu, pengembangan dan pemilihan karya sastra anak digital yang mengandung nilai-nilai ekologis sangat penting untuk mendukung pembentukan generasi muda yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam dan masa depan planet bumi. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 80 - 83 Potret Kerusakan Laut A DAFTAR PUSTAKA