JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 1 JUNI 2025 ISSN ONLINE: 3047-2857 PENGEMBANGAN DESA WISATA SUNGSANG IV BANYUASIN II UNTUK MENINGKATKAN DAYA TARIK DAN DAYA SAING PEDESAAN Destiana Komaria. Hala Haidir. Zenal MutaqinA) . , . Perencanaan Wilayah dan Kota. Universitas Indo Global Mandiri . Jendral Sudirman No. 629 Km. Palembang 30. Email :2020280057@students. , halahaidir@uigm. *, zenal. mutaqin@uigm. ABSTRAK Pembangunan desa wisata merupakan salah satu pendekatan pembangunan berbasis lokal yang bertujuan memperkuat identitas budaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendorong daya saing wilayah. Penelitian ini mengkaji Desa Wisata Sungsang IV di Kecamatan Banyuasin II untuk mengidentifikasi potensi unggulan, permasalahan yang dihadapi, serta merumuskan strategi pengembangan yang tepat. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungsang IV memiliki potensi wisata bahari, kuliner hasil laut khas, serta ekosistem mangrove yang masih alami dan menarik. Namun, pengembangan desa wisata ini juga menghadapi sejumlah kendala seperti keterbatasan infrastruktur pendukung . istrik, jalan, parkir, dan tempat ibada. , aksesibilitas yang cukup sulit, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan wisata yang berkelanjutan. Strategi pengembangan yang disarankan meliputi peningkatan fasilitas dan sarana pendukung wisata, pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan edukasi pariwisata, serta optimalisasi promosi dan pemasaran digital guna meningkatkan visibilitas destinasi. Implementasi strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik dan daya saing Desa Wisata Sungsang IV, sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat. Kata Kunci : Pengembangan desa wisata, daya tarik wisata, strategi pengelolaan. Sungsang IV. Banyuasin II ABSTRACT Tourism village development is one of the local-based development approaches that aims to strengthen cultural identity, improve community welfare, and encourage regional competitiveness. This study examines Sungsang IV Tourism Village in Banyuasin II District to identify superior potential, problems faced, and formulate appropriate development strategies. The study was conducted qualitatively with a descriptive approach through field observations, in-depth interviews, and SWOT analysis. The results of the study indicate that Sungsang IV has the potential for marine tourism, typical seafood cuisine, and a natural and attractive mangrove ecosystem. However, the development of this tourism village also faces a number of obstacles such as limited supporting infrastructure . lectricity, roads, parking, and places of worshi. , quite difficult accessibility, and low public awareness of sustainable tourism management. The recommended development strategies include improving tourism facilities and supporting infrastructure, empowering communities through tourism training and education, and optimizing digital promotion and marketing to increase destination visibility. The implementation of these strategies is expected to increase the attractiveness and competitiveness of Sungsang IV Tourism Village, while providing economic and social benefits to the local community. Keywords : Tourism village development, tourism attraction, management strategy. Sungsang IV. Banyuasin II PENDAHULUAN Desa wisata merupakan suatu kesatuan tempat, akomodasi dan kawasan penunjang yang tersaji dalam suatu struktur kehidupan sosial yang terpadu dengan adat dan tradisi yang diperlukan. Indonesia merupakan Negara yang kaya akan alam yang sangat baik jika diolah dan dikembangkan untuk sektor pariwisata. Saat ini, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang memberika kontribusi paling besar terhadap peningkatan pendapatan daerah. Namun masih banyak tempat yang mempunyai peluang wisata namun kurang mendapatkan perhatian dan sering terabaikan. Perkembangan sektor pariwisata tentunya berkaitan erat dengan JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 1 JUNI 2025 ISSN ONLINE: 3047-2857 peningkatan kehidupan sosial masyarakat daerah dan merupakan bagian dari pembangunan itu sendiri. (Ningsih, 2. Pengembangan desa wisata bertujuan untuk mengubah daerah tersebut menjadi tujuan wisata yang menarik. Ini dilakukan dengan menggabungkan daya tarik alam dan budaya, menyediakan fasilitas umum yang memadai, serta memperhatikan desa. Melalui pengembangan ini, tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui sektor pariwisata telah mencapai. Pengembangan desa wisata diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya bagi penduduk desa tersebut. (Rani, 2. Keberlanjutan industri pariwisata tidak hanya tergantung pada pembangunan seperti infrastruktur, bisa juga pengembangan kualitas individu pelaku kepariwisataan dan respons positif masyarakat sekitarnya, berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan, seperti orientasi jangka panjang, kesesuaian dengan karakter wilayah, keselarasan sinergis antara wisatawan dan masyarakat lokal, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, dan tanggap terhadap perubahan, diterapkan untuk mencapai keefektifan ekologi dan ekonomi. (Rani, 2. Masyarakat desa membutuhkan peningkatan pedapatan dan kesejahteraan, pengembangan Desa Wisata dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Diakui bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu sektor utama dan merupakan salah satu program pembangunan daerah utama negara dan meningkatnya kesejahteraan penduduk setempat telah didorong oleh pertumbuhan destinasi wisata dan Sektor pariwisata telah menjadi pendorong utama pendapatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, dan perkembangan bisnis serta infrastruktur. Dengan pertumbuhan ini, sektor pariwisata terus menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar dan paling cepat berkembang didunia. ita, 2. Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 isi dari Undang-Undang ini yang mengatur pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Didalam otonomi daerah, daerah dibagi menjadi daerah provinsi dibagi atas kabupaten dan kota yang masing Aemasing dari mereka sudah dapat perintah daerahya. Hal ini menciptakan tanggung jawab dan arahan untuk mengoptimalkan pengembangan dan pemanfaatan seluruh potensi sumber daya guna mendukung pembangunan di daerah. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, kepariwisataan menjadi bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan secara terpadu, terencana, sistematis, berkelanjutan, dan memperhatikan kepentingan nasional dalam pengembangan sektor pariwisata. Tujuan pengembangan ini melibatkan upaya mengurangi ketimpangan, kemiskinan, melestarikan alam, meningkatkan citra bangsa, dan memperkuat hubungan dengan negara lain. Peningkatan infrastruktur, promosi wisata, serta variasi mata pencaharian masyarakat merupakan upaya Setiap perkembangan dalam sektor pariwisata berpotensi meningkatkan pendapatan daerah dan ekonomi masyarakat setempat. Oleh karena itu, keberhasilan kepariwisataan seharusnya diikuti oleh peningkatan Anggaran Pendapatan Daerah (APD) dan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar. Selain berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat, pariwisata memiliki potensi untuk meningkatkan mutu kehidupan dan memengaruhi berbagai aspek lainnya, seperti memberikan peluang untuk memperoleh pendidikan tinggi, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, dan memperkaya kehidupan sosial budaya (Anisah dkk, 2. Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya tarik desa, pemerintah telah memperkenalkan inisiatif yang disebut Desa Unggulan. Konsep ini bertujuan untuk mengembangkan potensi desa di Indonesia melalui pendekatan yang terstruktur dan komprehensif. Desa Unggulan diharapkan dapat mengurangi kesenjangan dan keterbelakangan yang sering dialami oleh desa-desa dengan mengoptimalkan potensi unik mereka, sehingga dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan destinasi wisata yang menarik. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi aspek penting dalam pengembangan Desa Unggulan, karena dengan sistem informasi desa, desa-desa dapat mengelola data dan informasi dengan lebih efisien, membuat keputusan yang lebih akurat, serta mempromosikan potensi desa untuk menarik wisatawan dan investor. (Yaji, 2. Pada tahun 2015. World Economic Forum menyusun indikator untuk mengukur daya saing wisata, yang kemudian banyak negara mengadaptasinya. Namun, pendekatan ini dianggap kurang relevan di negara Oleh karena itu, negara-negara emerging sepakat bahwa kombinasi keunggulan komparatif dan kompetitif . onsep yang berkaitan dengan persainga. memainkan peran kunci dalam menilai daya saing destinasi wisata mereka. (Yaji, 2. Keunggulan komparatif merujuk pada kemampuan suatu wilayah dalam menghasilkan produk/jasa dengan biaya oportunitas yang lebih rendah dari pesaingnya, sedangkan keunggulan kompetitif adalah efektivitas penggunaan sumber daya untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada konsumen JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 1 JUNI 2025 ISSN ONLINE: 3047-2857 dibandingkan dengan pesaingnya. Oleh karena itu, pemahaman tentang daya saing dari perspektif pemangku kepentingan dan pengguna . menjadi penting. (Yaji, 2. Sungsang IV adalah salah satu desa terdekat dari Taman Nasional (TN) sembilang. Selain dari itu, berkat ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dan pekerjaan utama penduduknya sebagai nelayan. Sungsang IV juga banyak menyimpan makanan khas daerah antara lain, pempek udang, pindang udang, kemplang udang dan masih banyak lagi yang diolah dengan udang. Desa Sungsang IV juga memiliki tempat wisata yang ideal untuk ekonomi kelautan dan kemaritiman karena berdekatan dengan pulau Bangka. (Angga, 2. Desa Sungsang IV Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin masuk dalakategori Desa Wisata Terbaik Indonesia pada tahun 2023 dan menerima Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari menteri Sandiaga Uno . entri pariwisata dan ekonomi kreati. dimana desa Sungsang IV memiliki potensi daya tarik wisata, kuliner khas, hutan mangrove, wisata bahari, kehidupan nelayan, budaya lokal, dan juga mempunyai keunikan burung migran untuk menjadi destinas wisata baru. Penganugerahan Desa Wisata Sungsang IV, menurut pemerintah Banyuasin hasil kerja stakeholder ditingkat provinsi, kabupaten dan Pemerintah desa. Selain itu. Desa Sungsang berpeluang menjadi desa terbaik se- Indonesia, yang menginpirasi bagi desa lain di Banyuasin untuk berkembang. (Sibersumsel. com, 2. Berdasarkan hasil tangkapan laut dan rawa warga seperti udang, dan berbagai jenis ikan laut, termasuk kepiting rawa yang ditemukan didaerah ini, seperti kampung nelayan desa Sungsang. Hal itulah yang membuat desa ini menjadi menarik wisatawan. Maka dari Pemerintah daerah setempat berniat mengembangkan potensi sumber daya Desa Sungsang IV menjadi tempat wisata bahari, dimana sebelumnya kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif menetapkan Desa Sungsang IV salah satu dari 500 Desa Wisata Anugerah Desa Wisata Indonesia tahun 2022. (Melki dkk, 2. Program tersebut merupakan salah satu inisiatif utama kreatif untuk meningkatkan potensi desa-desa wisata di Indonesia menjadikan Desa Sungsang IV sebagai Desa Wisata Bahari yang mandiri melalui pengelolaan sumber daya laut, sungai, rawa termasuk pemberdayaan manusia sebagai pelaku pembangunan. Maka dari itu diperlukan upaya untuk mengembangkan potensi desa, terutama sektor pariwisata sebagai ekonomi lokal desa Sungsang, yang selama ini belum optimal pengelolaan sehingga memerlukan pengembangan serta hasil potensi yang belum dipasarkan secara luas karena kurangnya pengetahuan sumber daya manusia dalam mengelola potensi didesanya. Tidak hanya itu, untuk akses jalan menuju Desa Sungsang IV belum memadai, sarana dan prasarana untuk memudahkan wisatawan masih kurang memadai, seperti toilet umum, akses air bersih, tempat sampah, dan tempat parkir, atraksi atau daya tarik wisata masih sedikit sehingga pilihan kegiatan bagi wisatawan yang berkunjung menjadi terbatas, dan membuat kurangnya minat wisatawan untuk berkunjung kesana. Untuk mengembangkan potensi wisata yang dimaksud, identifikasi masalah dan potensi yang ada diperlukan. (Melki dkk 2. Berdasarkan permasalahan diatas bahwa Desa wisata Sungsang VI merupakan salah satu destinasi wisata populer di Kecamatan Banyuasin II karena destinasi wisata ini termasuk dalam kategori destinasi wisata unik terpopuler API (Anugerah Pesona Indonesi. , kemudian juga di desa wisata sungsang masih terdapat masalah pengembangan serta hasil alam yang belum dipasarkan secara luas karena kurangnya pengetahuan sumber daya manusia dalam mengelola potensi didesanya. Berdasarkan permasalahan tersebut. Peneliti tertarik untuk menganalisis "Bagaimana Strategi Pengembangan desa wisata Sungsang VI Banyuasin ll untuk Meningkatkan Daya Tarik dan Daya Saing Pedesaan". Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi dan menganalisis pengembangan Desa Wisata Sungsang IV Banyuasin II untuk meningkatkan daya tarik dan daya saing pedesaan. DATA DAN METODE Lokasi Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam potensi, permasalahan, dan strategi pengembangan Desa Wisata Sungsang IV di Kecamatan Banyuasin II. Penelitian dilakukan langsung di lokasi melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam untuk memperoleh data yang sesuai dengan kondisi nyata di desa tersebut. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan informan yang dianggap paling mengetahui, memahami, dan terlibat langsung dalam pengembangan desa wisata. Informan utama meliputi kepala desa, perangkat desa, pengelola desa wisata, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, serta wisatawan yang pernah berkunjung. Selain itu, digunakan juga teknik snowball sampling, yaitu mencari JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 1 JUNI 2025 ISSN ONLINE: 3047-2857 informan tambahan berdasarkan rekomendasi dari informan sebelumnya, untuk memperkaya data dan memperluas sudut pandang yang diperoleh. Jumlah narasumber yang diwawancarai sekitar 12Ae15 orang, terdiri dari unsur pemerintah desa, pengelola wisata, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, dan wisatawan. Lokasi observasi dilakukan di beberapa titik penting Desa Wisata Sungsang IV, seperti kawasan wisata mangrove, lokasi wisata kuliner khas berbahan dasar udang, makam ulama yang menjadi destinasi wisata religi, serta kawasan pesisir yang menjadi daya tarik wisata bahari. Prosedur analisis data dilakukan secara sistematis melalui beberapa tahap. Pertama, pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi seperti foto serta catatan lapangan. Kedua, reduksi data untuk menyaring data yang relevan dan sesuai dengan fokus penelitian, yaitu potensi, permasalahan, dan strategi pengembangan. Ketiga, penyajian data dalam bentuk narasi, tabel, dan matriks SWOT agar lebih mudah dipahami dan dianalisis. Terakhir, dilakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi dengan triangulasi data untuk memastikan keakuratan temuan. Tabel 1 Ringkasan Tahapan Penelitian Tahap Penelitian Kegiatan Utama Perumusan masalah Penentuan informan Pengumpulan data Menentukan fokus penelitian Purposive & snowball sampling Observasi, wawancara, dokumentasi Reduksi data Penyajian data Analisis data Kesimpulan & rekomendasi Hasil yang Diharapkan Fokus masalah yang jelas dan terarah Informasi yang mendalam dan relevan Data kualitatif terkait potensi, masalah, dan Menyaring dan menyeleksi data Data yang lebih terstruktur dan fokus Menyusun narasi, tabel, matriks SWOT Gambaran yang lebih jelas dan mudah Analisis SWOT Identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman Menarik kesimpulan dan merumuskan Strategi pengembangan desa wisata Sungsang HASIL DAN PEMBAHASAN POTENSI WISATA Desa Wisata Sungsang IV memiliki potensi wisata yang cukup beragam dan khas. Wisata alamnya berupa ekowisata hutan mangrove seluas A100 hektar yang selain menjadi daya tarik visual, juga berperan penting menjaga ekosistem pesisir dan kehidupan nelayan setempat. Wisata budaya hadir melalui makam ulama yang menjadi pusat ziarah dan simbol sejarah penyebaran Islam, seperti Syekh Abdul Rahman dan Syekh Haji Abdullah. Selain itu, wisata unik lain adalah pengamatan burung migran yang hanya muncul pada periode tertentu (OktoberAeDesembe. Potensi wisata kuliner juga memperkuat daya tarik desa melalui berbagai olahan khas hasil laut seperti pempek udang, otak-otak udang, pindang udang, dan terasi udang. Temuan ini sejalan dengan pendapat Hidayatullah & Windhyastiti . yang menyatakan bahwa daya tarik wisata yang berbasis alam dan budaya dapat memperkuat citra dan identitas desa wisata. Potensi tersebut menjadi kekuatan dan peluang dalam mengembangkan Desa Wisata Sungsang yang dapat dilihat pada Tabel 2 dan Titik Sebaran potensi wisata dapat dilihat pada Gambar 2. Tabel 2 Potensi Wisata Desa Sungsang IV STRENGTH (KEKUATAN) Desa Sungsang IV memiliki potensi wisata alam yang Terdapat hutan mangrove yang berfungsi sebagai pemecah ombak dan tempat berkembang biaknya berbagai biota laut Desa ini memiliki kuliner khas seperti aneka pempek olahan udang, pindang udang, kemplang udang, kerupuk udang, tekwan udang, dan terasi udang. Lokasinya strategis karena berbatasan langsung dengan Pulau Bangka, mendukung ekonomi kelautan dan kemaritiman. Desa Sungsang IV terpilih menjadi salah satu dari 75 Desa Wisata Terbaik Indonesia pada tahun 2023. OPPORTUNITIES (PELUANG) Pemanfaatan ekosistem mangrove sejalan dengan minat wisatawan terhadap wisata yang mengedepankan unsur pendidikan dan konservasi. Pengembangan wisata mangrove dapat menarik peneliti dari berbagai negara. Adanya program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dapat mempromosikan desa wisata Sungsang IV. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 1 JUNI 2025 ISSN ONLINE: 3047-2857 Gambar 2. Peta Titik Sebaran Objek Wisata PERMASALAHAN Meski potensinya besar. Desa Wisata Sungsang IV menghadapi beberapa tantangan signifikan. Pertama, keterbatasan infrastruktur seperti jalan yang belum memadai, fasilitas publik terbatas . oilet, tempat sampah, tempat ibadah, parki. , dan akses yang relatif jauh dari pusat kota (A2,5 ja. Kedua, rendahnya partisipasi dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan wisata yang berkelanjutan. Ketiga, hambatan lingkungan seperti abrasi dan potensi pencemaran jika pengelolaan sampah tidak ditingkatkan. Permasalahan ini sesuai dengan temuan Soleh . mengenai kendala umum pembangunan desa, seperti rendahnya sarana dan prasarana, kualitas lingkungan yang menurun, dan partisipasi masyarakat yang masih terbatas. Tabel 3 Permasalahan Wisata Desa Sungsang IV WEAKNESS (KELEMAHAN) Ekowisata hutan mangrove kurang dimanfaatkan dan dipelihara untuk menarik pengunjung. Desa Sungsang IV tidak terlalu besar sebagai desa yang masih dalam tahap kajian untuk dijadikan desa wisata. THREATS (ANCAMAN) Abrasi tanah. Aksesibilitas menuju desa yang membutuhkan waktu 5 jam dari kota Palembang melalui jalur darat. STRATEGI PENGEMBANGAN Strategi pengembangan yang diusulkan berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan analisis SWOT antara lain: JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 1 JUNI 2025 ISSN ONLINE: 3047-2857 Strategi SO (StrengthAeOpportunit. C Pengembangan Wisata Edukasi Mangrove: Mengembangkan wisata edukatif berbasis ekosistem mangrove, didukung oleh potensi hutan mangrove yang telah ada (S2. O1. C Promosi Desa melalui Kuliner Khas: Mengangkat kuliner lokal . empek udang, pindang, dl. sebagai bagian dari paket wisata untuk mendukung branding dan promosi ADWI (S3. C Paket Wisata Tematik: Menyusun paket wisata alam, bahari, dan budaya yang menonjolkan keunikan lokasi strategis Sungsang IV dekat Pulau Bangka (S4. C Kampanye Wisata Nasional: Memanfaatkan status sebagai salah satu dari 75 Desa Wisata Terbaik tahun 2023 untuk promosi digital nasional dan internasional (S5. Strategi WO (WeaknessAeOpportunit. C Revitalisasi Ekowisata Mangrove: Meningkatkan perawatan dan daya tarik hutan mangrove melalui bantuan CSR atau program kementerian pariwisata (W1. O1. C Kolaborasi dengan Akademisi dan Peneliti: Mengundang peneliti dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk melakukan riset pengembangan desa wisata (W2. C Pemanfaatan Program ADWI: Mengajukan proposal penguatan kelembagaan dan infrastruktur ke program ADWI untuk mengatasi kelemahan kapasitas kelembagaan desa wisata (W2. Strategi ST (StrengthAeThrea. C Pemanfaatan Hutan Mangrove untuk Mitigasi Abrasi: Menjadikan hutan mangrove sebagai zona penyangga abrasi dengan melibatkan wisatawan dalam program penanaman (S2. C Optimalisasi Akses Laut sebagai Alternatif Transportasi: Mengembangkan rute wisata bahari dari Palembang atau Pulau Bangka untuk mengurangi ketergantungan akses darat (S4. C Diversifikasi Produk Wisata: Meningkatkan daya tarik agar wisatawan tetap tertarik meskipun akses tidak ideal, dengan promosi event dan festival budaya/laut (S1. S3. Strategi WT (WeaknessAeThrea. C Peningkatan Infrastruktur Dasar: Mendorong pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi umum melalui dukungan kabupaten atau provinsi (W1. C Pelatihan SDM dan Penguatan Kapasitas: Memberikan pelatihan bagi pengelola dan masyarakat agar siap menghadapi tantangan abrasi dan minimnya kunjungan (W2. C Program Rehabilitasi Mangrove: Bekerjasama dengan LSM dan instansi lingkungan untuk memperbaiki kawasan mangrove rusak yang rawan abrasi (W1. Strategi ini sejalan dengan konsep Community Based Tourism (CBT) yang menekankan pengembangan wisata berbasis partisipasi masyarakat. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa Desa Wisata Sungsang IV memiliki potensi wisata alam seperti hutan mangrove dan burung migran, wisata budaya berupa makam ulama, serta kuliner khas olahan udang yang mendukung daya tarik desa sebagai destinasi wisata. Namun, pengembangan desa masih menghadapi kendala berupa keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas yang sulit, rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata berkelanjutan, serta ancaman abrasi dan pencemaran lingkungan. Melalui analisis SWOT, strategi yang disarankan mencakup peningkatan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan, optimalisasi promosi digital, serta kerja sama dengan BUMN dan pemerintah daerah. Dengan penerapan strategi ini. Desa Wisata Sungsang IV berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal. Rekomendasi yang dapat diajukan untuk pengembangan Desa Wisata Sungsang IV. yaitu: pengembangan sumber daya manusia untuk melakukan pelatihan bagi masyarakat lokal, terutama kepada pemuda yang dapat meningkatkan kapasitas untuk pengelolaan pariwisata. Pengembangan ekonomi yang dapat membangun seperti usaha kecil dan menengah (UKM) yang masih menyangkut potensi wisata desa. Pengembangan lingkungan untuk mengembangkan program konservasi lingkungan tetap terjaga kelestariannya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 1 JUNI 2025 ISSN ONLINE: 3047-2857 DAFTAR PUSTAKA