JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehata. Volume 6. No. Agustus 2022. Page 102-109 ISSN: 2579-7913 PENILAIAN PENGETAHUAN. PERSEPSI TERHADAP PARTISIPASI KESEDIAAN VAKSIN COVID-19 PADA KADER POSYANDU DI KABUPATEN JEMBER Anita Fatarona*. Achmad SyaAoid. Rida Darotin. Anita Fatarona FIK (Program Studi Ilmu Keperawata. Universitas dr. Soebandi. Jember. Indonesia email: anitafatarona4@gmail. Abstrak Coronavirus merupakan virus baru yang muncul pertama kali di Wuhan Cina, pada Desember 2019 menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-. Prevalensi angka kejadian COVID-19 terus meningkat di Indonesia. Selain memakai masker, cuci tangan, phisycal distancing, merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menurunkan angka kematian dan kesakitan COVID-19 yaitu percepatan vaksinasi COVID-19 dapat diharapkan menekan angka kejadian COVID-19 dengan didukung pentingnya pemahaman, persepsi positif pentingnya vaksin COVID-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, persepsi dengan kesediaan vaksin COVID-19 secara bersama-sama pada kader posyandu Di Jember. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Kader Posyandu Di Kelurahan Kaliwates Jember. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 50 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner untuk mengukur pengetahuan, persepsi dan kesediaan vaksin. Analisis statistik menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji T dan uji F. Hasil penelitian ini bahwa terdapat hubungan pengetahuan dan persepsi secara secara bersamasama terhadap kesediaan vaksin adalah sebesar 0,000<0,05 dan F hitung 82,224 > F tabel 3,23. Ada hubungan pengetahuan dan persepsi secara bersama-sama terhadap kesediaan vaksin kader posyandu di Jember. Kata kunci: pengetahuan, persepsi, kesedian vaksin. COVID-19 Abstract Coronavirus Disease-2019 was brought on by a fresh strain of coronavirus that first surfaced in Wuhan. China, in December 2019 (COVID-. The prevalence of the incidence of COVID-19 continues to increase in Indonesia. In addition to wearing masks, washing hands, physical distancing, is one of the government's efforts to reduce the mortality and morbidity of COVID-19, namely the acceleration of COVID-19 vaccination can be expected to reduce the incidence of COVID-19 supported by the importance of understanding, positive perceptions of the importance of the COVID-19 vaccine. The purpose of this study was to determine the relationship between the level of knowledge, perception and the willingness of the COVID-19 vaccine together on posyandu cadres in Jember. This type of research is descriptive with a cross sectional approach. The population in this study is posyandu cadre in Kaliwates Jember. The number of samples in this study were 50 respondents. To gauge knowledge, perceptions, and vaccine accessibility, data were gathered using a questionnaire. Multiple linear regression analysis was utilized in statistical analysis together with T test and F test. The findings of this study indicate that there is a relationship between shared knowledge and perception of vaccination availability, which is 0. 000 <0. 05 and F count 82. 224 > F table 3. For posyandu cadres in Jember, there is shared information and perception regarding vaccination Keywords: knowledge, perception, vaccine availability. COVID-19 PENDAHULUAN Pandemi COVID -19 WHO bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk memantau situasi dan mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut (WHO, 2. Prevalensi penyakit COVID-19 di Indonesia Anita Fatarona et. Penilaian Pengetahuan. Persepsi terhadap Partisipasi Kesediaan Vaksin Covid-19 pada Kader Posyandu di Kabupaten Jember terus meningkat. Pemerintah Indonesia telah menetapkan program wajib terkait kesiapsiagaan menghadapi COVID-19 yaitu dengan pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pakai masker dan mencuci tangan, phisycal distancin. sehingga diharapkan menekan angka kejadian COVID-19. Hal ini, . ingkat pengetahua. masya-rakat yang kurang mengenai penularan COVID-19 (Kemenkes RI, 2. Selain itu, percepatan vaksinasi COVID-19 juga menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menurunkan angka kematian dan morbiditas COVID-19. Adapun beberapa jenis vaksin yang Sinovac. AstraZeneca, dan Moderna. Pemerintah mendukung percepatan pemberian vaksinasi COVID-19 kepada masyarakat diberikan untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada kelompok masyarakat di Indonesia dapat terbentuk sehingga diharapkan dengan percepatan vaksin akan menurunkan status menjadi level 1 (Kominfo, 2. Vaksin COVID-19 diberikan untuk mendorong pembentukan kekebalan spesifik pada COVID-19 supaya dapat terhindar dari penularan ataupun mencegah gelaja penyakit semakin berat. Saat ini, vaksin dan mematuhi terhadap protokol kesehatan adalah perilaku yang bisa diterapkan agar terhindar dari penularan COVID-19. Tahap awal waksinasi akan diberikan pada orang dewasa sehat usia18-59 tahun. Untuk usia 60 tahun hingga 89 tahun akan ada uji klinis tambahan untuk identifikasi kesesuaian vaksin COVID-19. Untuk anak-anak juga sudah dilakukan di usia 6 sampai 11 tahun (KPCPEN, 2. Di amerika serikat Lanjut usia menjadi prioritas utama juga untuk mendapatkan fasilitas perawatan jangka panjang karena lansia sangat beresiko tertular terutama lansia yang tinggal di lingkungan yang padat, sehingga lansia menjadi kelompok yang rentan dan beresiko tinggi untuk terinfeksi SARS-CoV-2(Oliver et al. , 2. Salah satu tempat dalam memastikan prevalensi kasus COVID-19 ada tempat pelayanan khusus bagi lansia sehingga tempat tinggal tersebut dapat minggunya jika terjadi infeksi SARS-CoV-2 baik pada lansia maupun pada anggota staf. Analisis membedakan antara tanpa gejala dan infeksi Evaluasi tambahan diperlukan untuk memahami perlindungan terhadap penyakit parah pada penghuni panti jompo dari waktu ke waktu (Nanduri et al. , 2. Dampak vaksin terhadap pandemic COVID19 akan bergantung pada beberapa faktor antara lain, efektivitas vaksin ( seberapa cepat disetujui, diproduksi dan dikirim, dan target jumlah masyarakat yang akan divaksinasi (KPCPEN, 2. Proses merangsang pembentukan kekebalan tubuh secara spesifik terhadap virus sehingga saat seseorang terpapar seseorang tersebut akan bisa terhindar dari penularan atau sakit berat. Efek samping setelah pemberian vaksin berbagai macam antara lain demam, nyeri otot, dan ruam bekas suntikan. Efek samping gejala yang muncul pada umumnya ringan dan bersifat sementara dan tidak selalu ada kondisi tubuh seseorang. Manfaat vaksin jauh lebih besar dibandingkan resiko sakit yang ditimbulkan karena terinfeksi COVID19 bila tidak melakukan vaksin (KPCPEN. Tingginya revalensi maka edukasi masyarakat yang masih menolak dalam keikutsertaan vaksinasi COVID-19 bersama kader posyandu sangat penting dalam percepatan vaksin COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, persepsi dengan kesediaan vaksin COVID-19 pada kader posyandu di Jember. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada Agustus 2021 di Kabupaten Jember dengan mengunakan rancangan cross sectional Sampel penelitian sebanyak 50 orang, accidental sampling dengan kriteria inklusi yaitu Kader Posyandu yang ada di wilayah Jember dan Kader Posyandu yang aktif dalam kegiatan. Kriteria Eksklusi penelitian ini terdiri dari: responden yang sakit pada saat dilakukan penelitian, responden yang tidak masuk pada saat dilakukan penelitian, dan responden yang mengundurkan diri dari Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan data di olah dengan uji analisis regresi linier berganda dengan -103- Anita Fatarona et. Penilaian Pengetahuan. Persepsi terhadap Partisipasi Kesediaan Vaksin Covid-19 pada Kader Posyandu di Kabupaten Jember menggunakan uji T dan uji F. Penelitian ini mendapatkan surat layak etik dengan nomor 1418/UN25. 8/KEPK/DL/2021. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut responden penelitian seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Responden No. Karakteristik Usia Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA Pekerjaan ART Wiraswasta Pegawai Swasta Petani Ibu Rumah Tangga Riwayat Penyakit Kencing Manis Darah Tinggi Kolesterol. Asam Urat Tidak Ada Total Data karakterisitk responden pada tabel 2 menunjukkan mayotitas responden memiliki tingkat pengetahuan sedang sebanyak 27 %), didapatkan bersedia yang juga tinggi sebanyak 37 . %) dan persepsi terhadap vaksin COVID-19 mayoritas mempunyai persepsi positif 38%. Skor Kesediaan Vaksin Berdasarkan tabel 3, didapatkan hasil nilai signifikansi 0,004 yang berarti 0,004<0,05 dan nilai t hitung 3,012 > t tabel 2,012 terdapat hubungan pengetahuan terhadap kesediaan vaksin Tabel 4. Hubungan Kesediaan Vaksin COVID-19 dan persepsi pada Kader Posyandu Skor Kesediaan Vaksin Skor Persepsi Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan. Persepsi, dan Kesediaan Vaksin Karakteristik Pengetahuan Baik Sedang Kurang Kesediaan Vaksin Bersedia Tidak bersedia Ragu-Ragu Persepsi Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 30-49 tahun . %), pendidikan terbanyak SMA sebesar 22 . %), pekerjaan ibu rumah tangga 37 responden . %), dan tidak mempunyai riwayat penyakit sebanyak 34 . %). No. Positif Negatif Total Tabel 3. Hubungan Kesediaan Vaksin COVID-19 dan Pengetahuan pada Kader Posyandu Skor Pengetahuan p= 0,004 t= 3,012 n=50 p= 0,000 t= 6,681 n=50 Berdasarkan tabel 4, didapatkan hasil nilai signifikansi 0,000 yang berarti 0,000<0,05 dan nilai t hitung 6,681> t tabel 2,012 terdapat hubungan persepsi terhadap kesediaan vaksin Tabel 5. Hubungan Kesediaan Vaksin COVID-19 dan persepsi pada Kader Posyandu Skor Kesediaan Vaksin Skor Pengetahuan Dan Persepsi p= 0,000 F=82,224 n=50 Berdasarkan tabel 5 diketahui nilai signifikan untuk hubungan pengetahuan dan persepsi secara secara bersama-sama -104- Anita Fatarona et. Penilaian Pengetahuan. Persepsi terhadap Partisipasi Kesediaan Vaksin Covid-19 pada Kader Posyandu di Kabupaten Jember terhadap kesediaan vaksin adalah sebesar 0,000<0,05 dan F hitung 82,224 > F tabel 3,23 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pengetahuan dan persepsi secara secara bersama-sama terhadap kesediaan vaksin. Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa usia responden terbanyak yaitu di usia 30-49 tahun sejumlah 32 responden . %). Hal ini sejalan dengan penelitian Adio & Maria, n. bahwa usia 15 rentang 65 tahun tergolong usia produktif. Pada usia tersebut banyak sekali kegiatan yang dilakukan selama masa pandemi COVID- 19, antara lain olahraga, menjalankan hobi, sekolah, bekerja, dan beribadah dari rumah. Hal ini bermanfaat dalam mengembangkan bisa mengasah kemampuan dan kreativitas, membuat badan menjadi lebih sehat, dan bisa dilakukan dengan konsisten (Hawley et , 2. Pada pendidikan terbanyak responden yaitu SMA sebesar 22 . %). Hal ini sejalan dengan penelitan Rumahorbo. , . bahwa riwayat pendidikan tamat SMA memiliki jumlah terbanyak yaitu 22 responden . %) pendidikan SMA memiliki pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 32%. Penelitian lain menjelaskan bahwa pendidikan yang memadai dapat meningkatkan literasi (Chajaee et al. , 2. Asumsi peneliti bahwa pendidikan yang tinggi akan meninngkatkan kemampuan berfikir seseorang sehingga mempunyai pengetahuan yang bain dan dapat memilih keputusan yang baik terhadap dirinya Kemampuan dalam memperoleh pengeta-huan selain dari sekolah seperti penggunaan sosial media juga dapat menjadi salah satu faktor seseorang dalam proses belajar yang bisa didapatkan dari pengalaman orang lain. Pada penelitian ini didapatkan data pekerjaan ibu rumah tangga 37 responden . %), hal ini didukung dengan penelitian Telaumbanua & Nugraheni, . bahwa aktivitas sosial seluruh kegiatan di luar rumah yang dilakukan oleh ibu rumah tangga atau istri dalam kegiatan sosial di masyarakat dapat menjalin silahturahmi. Ibu rumah tangga dapat memiliki kegiatan untuk bersosialisasi di masyarakat melalui kegiatan seperti arisan, pengajian, posyandu dan PKK. Hal ini berdampak positif bagi ibu rumah tangga dalam menunjukkan kemam-puan untuk melakukan aktualisasi Partisipasi wanita dalam kegiatan sosial masyarakat dengan menjaga konsistensi keberlangsungan akti-vitas sosial yang ada di masyarakat sehingga dapat menambah pengetahuan dan keterampilan dengan demikian peran ibu rumah tangga sangat penting dalam membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Peran ibu rumah tangga membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan pembangunan pada umumnya. Potensi yang paling menarik untuk dikaji adalah potensi ibu rumah tangga ketika tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga di rumah melainkan bekerja untuk membantu pere-konomian keluarga (Telaumbanua & Nugraheni, 2. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan responden terbanyak mempunyai riwayat penyakit sebanyak 34 . %). Hal ini sejalan dengan sebuah penelitian bahwa hipertensi berkaitan dengan jenis kelamin, umur, tingkatan obesitas, dan riwayat keluarga. Penderita hipertensi dengan kadar asam urat tinggi terdapat pada responden dewasa, lansia, manula, dan obesitas (Febrianti et , 2. Asumsi peneliti bahwa keseluruhan responden berjenis kelamin perempuan dan usia terbanyak rata-rata pada usia 30-49 tahun dan sisanya diatas usia 50 tahun hal ini akan berpengaruh juga pada inaktif produksi hormon sehingga wanita rentan terkena penyakit degeneratif. Sebagian besar responden memasuki usia mengatakan bahwa tidak ada pantangan dalam menjaga pola makan sehingga juga berdampak pada kesehatan. Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan sedang sebanyak 27 . %) dan kesediaan vaksin responden didapatkan bersedia yang juga tinggi sebanyak 37 . %). Pada penelitian lainnya didapatkan bahwa Seluruh responden yang bersedia untuk melakukan vaksinasi (COVID-. dan sebagian besar responden . %) mempunyai pengetahuan yang baik (Rumahorbo. Hal ini juga ada penelitian Elgendy, -105- Anita Fatarona et. Penilaian Pengetahuan. Persepsi terhadap Partisipasi Kesediaan Vaksin Covid-19 pada Kader Posyandu di Kabupaten Jember . bahwa secara keseluruhan, peserta penelitian memiliki pengetahuan yang baik tentang vaksin virus corona dan akan memutuskan untuk menerima vaksin tersebut, yang menunjukkan upaya yang sangat tepat dalam mengurangi angka kesakitan dan mortalitas dalam menghadapi virus corona. Mayoritas responden . ,1%) memiliki keyakinan bahwa China akan mampu melawan COVID-19. Hal ini dibuktikan pada hampir seluruh peserta . ,0%) mengenakan masker saat keluar rumah dalam beberapa hari terakhir. Sebagian besar penduduk Tionghoa dengan status sosial ekonomi yang relatif tinggi, khususnya wanita, adalah berpengetahuan tentang (COVID-. , memiliki sikap optimis, dan memiliki praktik yang tepat terhadap (COVID-. Program pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang (COVID-. sangat membantu untuk Penduduk Cina untuk memegang sikap optimis dan mampu tertib dalam protokol kesehatan (Zhong et al. , 2. Menurut asumsi peneliti hal tersebut dipengaruhi dari latar belakang pendidikan responden dan kemampuan responden dalam mendapatkan informasi dari sosial media terkait vaksin (COVID-. dan pengalaman klien dengan anggota keluarganya ada yang pernah terpapar (COVID-. serta riwayat penyakit yang pernah diderita responden. Sebagian besar responden memiliki persepsi positif terhadap vaksin sebesar Hal ini sejalan dengan penelitian Prasetyaning Widayanti & Kusumawati, . bahwa persepsi masyarakat sebagian besar menganggap (COVID-. adalah penyakit berbahaya dan setuju terhadap efektivitas vaksin serta bersikap bersedia mengikuti vaksinasi cukup tinggi. Menurut (Farina, 2. Persepsi masyarakat sangat penting dalam mempengaruhi Kesehatan karena masyarakat akan mampu melakukan tindakan pencegahan penyakit sehingga meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan penyakit yang positif dengan melakukan vaksin akan mempengaruhi Kesehatan dimasa yang akan Persepsi yang positif tentang pentingnya vaksinasi sebagai alasan utama masayarakat dalam mempercepat kekebalan masyarakat agar Indonesia segera bebas dari pandemi (COVID-. Berdasarkan data yang didapatkan responden yang tidak bersedia 6 orang responden . %) dan ragu ragu sebanyak 7 . %). Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Kourlaba. , et al . Dari 1004 responden hanya 57,7% yang menyatakan akan divaksinasi COVID-19. Hal ini dikarenakan responden yang berusia > 65 tahun, termasuk dalam kelompok rentan didalam keluarganya, mereka yang ikut melaksanakan vaksinasi percaya bahwa virus (COVID-. tidak dikembangkan di laboratorium oleh manusia, mereka percaya bahwa coronavirus jauh lebih menular dan mematikan dibandingkan dengan virus H1N1, dan sehingga mereka bersedia (COVID-. Penelitian ini mengungkapkan bahwa Sekitar 73,0% masyarakat menunggu jadwal pelaksaanan untuk mendapatkan vaksin saat vaksin tersedia. Hal ini disebabkan peserta memiliki pengetahuan yang baik tentang penyakit dan sikap positif terhadap tindakan perlindungan diri dengan mengikuti vaksin. Kesediaan vaksin meningkat karena Sebagian pengetahuan melalui saluran media baru, yang memiliki pro dan kontra(Samir et al. Dari hasil tersebut asumsi peneliti responden yang tidak bersedia dan ragu-ragu di sebabkan banyak faktor selain dari ketidaksediaan vaksin pada responden yang menjadi alasan utama tidak bersedia mengikuti vaksinasi karena keyakinan dan ragu-ragu dengan kehalalan dan keamanan dari kandungan vaksin yang diberikan. Berdasarkan tabel 3 Hasil uji T statistic diperoleh nilai p=0,004 ( < 0,. dan nilai t hitung 3,012 > t tabel 2,012 maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang vaksinasi dengan kesediaan vaksin kader posyandu di Kelurahan Kaliwates Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Hal ini juga sejalan dengan penelitian lainnya bahwa didapatkan 53% peserta berencana untuk divaksinasi hal ini disebakan pada pengetahuan tentang manfaat vaksin yang harus mereka dapatkan, memiliki keyakinan pada vaksin untuk menghentikan pandemi, dan memahami cara -106- Anita Fatarona et. Penilaian Pengetahuan. Persepsi terhadap Partisipasi Kesediaan Vaksin Covid-19 pada Kader Posyandu di Kabupaten Jember kerja vaksin. Hal ini juga didukung karena sebagian besar peserta . ,3%) memperoleh informasi tentang vaksin COVID-19 dari media cetak dan berita langsung . ,3%) diikuti oleh media sosial . ,7%) (Chaudhary et al. , 2. Membangun pengetahuan dan nilai yang positif sebagian besar akan mempengaruhi keputusan seseorang dengan cara meningkatkan pengetahuannya sehingga yang tinggi dapat membantu klien dalam pengambilan keputusan yang dihadapi pasien di masa depan (Hawley et al. , 2. Pengetahuan yang tinggi akan secara langsung meningkatkan kesadaran seseorang terkait pengambilan keputusan dalam keikutsertaan dan kesediaan melakukan vaksinasi (COVID-. Berdasarkan tabel 4 Hasil T uji statistic diperoleh nilai p=0,000( < 0,. dan nilai t hitung 6,681> t tabel 2,012 maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara persepsi tentang vaksinasi dengan kesediaan vaksin kader posyandu di Kelurahan Kaliwates Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Hal ini sejalan dengan penelitian Prasetyaning Widayanti & Kusumawati, . bahwa masyarakat menganggap (COVID-. adalah penyakit berbahaya, setuju terhadap efektivitas vaksin sebesar dan bersikap bersedia mengikuti Hasil menunjukkan nilai p value 0,000 yang berarti terdapat hubungan signifikan antara persepsi tentang efektivitas vaksin dengan sikap kesediaan mengikuti vaksinasi. Pentingnya vaksinasi dimaksudkan untuk mempercepat kekebalan masyarakat agar Indonesia segera bebas dari pandemi (COVID-. Peneliti berasumsi bahwa terdapat psikososial dan pengalaman masa lalu. Kondisi psikososial dan pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi persepsi, emosi, kepercayaan pada vaksin, dan adanya respon gejala klinis yang ditimbulkan setelah dilakukan vaksin serta kepercayaan pada munculnya keraguan, penolakan atau penerimaan vaksin. Berdasarkan tabel 5 diketahui nilai signifikan untuk hubungan pengetahuan dan persepsi secara secara bersama-sama terhadap kesediaan vaksin adalah sebesar 0,000<0,05 dan F hitung 82,224 > F tabel 3,23 maka dapat disimpulkan bahwa Hipotesis ketiga diterima yang berarti terdapat pengaruh pengetahuan dan persepsi secara secara bersama-sama terhadap kesediaan vaksin. Penelitian lain mengungkapkan bahwa memberikan informasi terkait penyakit dan tentang persepsi masyarakat Australia terhadap pandemi (COVID-. , dipengaruhi oleh adanya sumber informasi sehingga dapat berpengaruh terhadap pengetahuan, persepsi terhadap risiko penyakit pada tahap awal wabah di Australia, dan temuan lainnya pada penelitian ini terdapat adanya hubungan dengan perilaku perlindungan kesehatan dan vaksin kesediaan melakukan vaksin (COVID-. (Faasse & Newby. Penelitian ini mengungkapkan bahwa sebanyak 63% responden memiliki persepsi positif terhadap vaksin COVID-19 dan sisanya sebanyak 37 % mempunyai persepsi Persepsi mempunyai hubungan yang Pengetahuan juga menjadi salah satu faktor berpengaruh terhadap persepsi sehingga dibutuhkan edukasi dengan pemberian informasi terkait pentingnya vaksinasi secara menyeluruh dan merata pada semua kalangan masyarakat(Argista. L, 2. Kurangnya pengetahuan, pemahaman, dan persepsi tentang risiko tidak melakukan vaksin, dapat menyebabkan rendahnya sebagian masya-rakat masyarakat Pakistan (Chaudhary et al. Dari hasil tersebut peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan secara bersamasama antara pengetahuan, persepsi dan kesediaan vaksin pada kader posyandu di wilayah Jember. Hal ini disebabkan karena sebagian besar responden sudah bersedia melaksanakan vaksinasi (COVID-. karena kader sebagian besar sudah mendapatkan (COVID-. meningkatnya kesadaran pentingnya vaksin dan peran sebagai kader yang mempunyai peran menjadi role model bagi masyarakat dan juga sebagian besar responden memiliki pengetahuan sedang meningkatkan kekebalan tubuh dalam melawan (COVID-. Hal tersebut -107- Anita Fatarona et. Penilaian Pengetahuan. Persepsi terhadap Partisipasi Kesediaan Vaksin Covid-19 pada Kader Posyandu di Kabupaten Jember dikarenakan usia responden yang Sebagian ada di tahan dewasa akhir sehingga ada keterbatasan informasi. Selain itu, sebagian besar responden juga kelompok usia produktif sehingga juga membutuhkan kartu vaksin dalam mengurus aktivitas kebutuhan mengambil raport anak, urusan pekerjaan, dan pergi ke tempat mall terdekat. Beberapa ada yang tidak bersedia dan ragu-ragu karena kondisi terkait yaitu pengetahuan, (COVID-. , kemampuan seseorang dalam mengakses terkait vaksin (COVID-. di sosial media, dan riwayat penyakit sebelumnya, riwayat pernah terpapar (COVID-. baik anggota keluarganya maupun dirinya, dan persepsi terhadap kandungan dari vaksin terkait keamanan dan Kondisi keragu-raguan pada ketakutan akan kondisi kesehatannya. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan secara bersama-sama antara pengetahuan dan persepsi dengan kesediaan vaksin pada kader posyandu di wilayah Jember. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi dan upaya untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat dari vaksinasi harus menargetkan individu dalam keluarga maupun kelompok sosial salah satunya masyarakat yang mempunyai pendidikan rendah dan masyarakat yang memiliki penyakit kronis. Saran kepada pemberi pelayanan kesehatan seperti puskesmas setempat mengoptimalkan pentingnya edukasi yang terprogram, terarah, konsisten, berkelanjutan secara merata di setiap daerah. Hal ini, akan meningkatkan pengetahuan, persepsi serta kesadaran masyarakat tentang pentingnya keikutsertaan dalam vaksinasi (COVID-. sehingga dapat melancarkan kesuksesan dari percepatan vaksin (COVID-. REFERENSI