ISSN: 2746-3656 Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui Pembelajaran Berbasis Masalah: Refleksi Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 15 Palu Ratih Nurhaliza1*. Sukayasa2. Zahariati3 Pendidikan Profesi Guru Matematika. Univeristas Tadulako. Palu, 94119. Indonesia 3Matematika. SMPN 15 Palu. Palu, 94119. Indonesia *Coresponding author: ratih. nurhaliza@gmail. Submit: 24 Juli 2025, disetujui untuk publikasi 25 Oktober 2025 Abstrak. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar dan aktivitas peserta didik pada materi kesebangunan melalui penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berbasis model Kemmis & McTaggart yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII C SMP Negeri 15 Palu semester genap tahun ajaran 2024/2025. Instrumen yang digunakan berupa tes esai untuk mengukur pemahaman konsep dan kemampuan berpikir matematis, serta lembar observasi untuk menilai aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL mampu meningkatkan pemahaman konsep kesebangunan, partisipasi aktif, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa menjadi lebih mandiri, terlibat dalam diskusi kelompok, serta mampu mengaitkan konsep matematika dengan situasi nyata. Temuan ini membuktikan bahwa PBL dengan dukungan LKPD kontekstual, pengelompokan kecil, dan media visual efektif menciptakan suasana belajar yang kolaboratif, partisipatif, dan bermakna, sehingga layak diterapkan sebagai strategi pembelajaran rutin di SMP. Namun, penelitian ini masih terbatas pada satu kelas dengan waktu pelaksanaan yang relatif singkat, sehingga generalisasi hasil perlu diuji melalui penelitian lanjutan pada konteks dan jenjang yang lebih beragam . Kata Kunci: Problem Based Learning, hasil belajar, kesebangunan. PTK Citation: Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui Pembelajaran Berbasis Masalah: Refleksi Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 15 Palu. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika. , hal. 118 Ae 127. 24114/jfi. keterampilan, dan sikapAy. Pandangan ini sejalan Pendahuluan Pendidikan dengan taksonomi Bloom revisi Anderson dan Krathwohl . , yang menegaskan bahwa hasil pengetahuan peserta didik guna meningkatkan faktual, tetapi juga keterampilan berpikir tingkat mempersiapkan mereka menghadapi tantangan tinggi seperti analisis, evaluasi, dan kreasi. Oleh masa depan, yang keberhasilannya tercermin dari karena itu, peningkatan hasil belajar menjadi hasil belajar mencakup aspek kognitif, afektif, dan tujuan utama dalam setiap proses pembelajaran. Hasil belajar yang baik mencerminkan Matematika merupakan mata pelajaran inti tidak hanya penguasaan materi, tetapi juga yang berperan penting dalam melatih kemampuan berpikir logis, kritis, dan sistematis peserta didik. pemecahan masalah. Menurut Sudjana . Namun, banyak siswa menganggapnya sulit dan Auhasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki abstrak, sehingga minat dan hasil belajar mereka Peserta Didik setelah menerima pengalaman belajar, yang mencakup perubahan pengetahuan. Afriyanti dkk. yang menyatakan bahwa Hal Aurendahnya literasi matematika peserta didik di Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui Pembelajaran Berbasis. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 Indonesia disebabkan oleh kurangnya keterlibatan aktif Peserta Didik dalam proses pembelajaranAy. berkomunikasi, dan berkreasi. Oleh karena itu. Salah satu materi yang sering dianggap sulit oleh penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk Peserta Didik kelas VII adalah kesebangunan, meningkatkan hasil belajar peserta didik pada karena menuntut pemahaman konsep geometri materi kesebangunan melalui penerapan PBL yang menekankan pada keterlibatan aktif, refleksi, dan dalam kehidupan nyata, seperti pada peta, skala, pemecahan masalah kontekstual. atau rancangan bangunan. Menurut Soedjadi . Metode Penelitian Penelitian Peserta Didik, namun banyak yang mengalami Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berbasis kelas kesulitan karena sifatnya yang abstrak. Untuk diperlukan strategi pembelajaran inovatif seperti refleksi tindakan pembelajaran, mengacu pada Problem Based Learning (PBL) yang mampu model empat tahap Kemmis dan McTaggart . meningkatkan keterlibatan aktif dan hasil belajar planning, acting, observing, dan reflecting. Artinya peserta didik. Menurut Arends . PBL setiap siklus meliputi perencanaan . , menekankan pemecahan masalah nyata melalui yaitu peneliti menyusun modul ajar berbasis PBL, menyiapkan instrumen observasi, soal tes, serta . Hosnan . juga menyebutkan menerapkan langkah-langkah PBL berupa orientasi AuPBL pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik dalam sehingga dapat Peserta Didik, . , tinggiAy. Penelitian terbaru juga menunjukkan mengamati aktivitas, keterlibatan, serta respon efektivitas PBL dalam konteks Indonesia, misalnya peserta didik selama pembelajaran berlangsung. penelitian yang dilakukan. Pertiwi dkk. serta refleksi . , yaitu menganalisis hasil observasi dan tes untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan tindakan pada siklus tersebut yang meningkatkan pemahaman konsep sekaligus hasil selanjutnya digunakan sebagai dasar perbaikan belajar peserta didik. Kemudian penelitian lain pada siklus berikutnya. Teknik pengumpulan data yang dilakukan Supriadi dkk. menemukan menggunakan observasi dan tes tertulis. PBL SMP bahwa penerapan PBL berbasis kearifan lokal Setiap siklus penelitian dilaksanakan secara mampu meningkatkan motivasi belajar karena memperbaiki proses pembelajaran dari siklus menemukan solusi dari permasalahan kontekstual. Subjek penelitian ini adalah seluruh Dengan peserta didik kelas VII C SMP Negeri 15 Palu tahun pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada ajaran 2024/2025, dengan jumlah Peserta Didik materi kesebangunan diharapkan menjadi solusi sebanyak 32 orang. Penelitian dilaksanakan di efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta ruang kelas SMP Negeri 15 Palu selama satu bulan didik kelas VII SMP Negeri 15 Palu. Melalui model penuh, tepatnya pada bulan Mei semester genap ini, siswa tidak hanya dilibatkan secara aktif tahun ajaran 2024/2025. dalam membangun pemahaman konsep dan mengaitkannya dengan situasi nyata, tetapi juga Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. - 10. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 Instrumen rentang skor 1,00Ae1,74 sebagai kategori rendah, 1,75Ae2,49 sebagai cukup, 2,50Ae3,24 sebagai baik, pemahaman konsep, penalaran, dan kemampuan dan 3,25Ae4,00 sebagai sangat baik. aplikasi peserta didik dalam konteks pemecahan Indikator observasi terdiri atas lima aspek masalah matematika. Terdapat lima indikator utama, yaitu: . keaktifan belajar, yang mengukur utama yang diukur, yaitu: . menjelaskan konsep partisipasi siswa dalam bertanya, menjawab, dan kesebangunan dan syarat dua bangun dikatakan menanggapi selama kegiatan belajar. kolaborasi, sebangun, . mengidentifikasi pasangan bangun yang menilai kemampuan siswa bekerja sama dan pendapat anggota kelompok. bersesuaian, . menghitung panjang sisi yang inisiatif dan kemandirian, yang mencerminkan . keberanian siswa dalam mengambil peran dan kesebangunan dalam situasi kehidupan nyata, serta . menyusun langkah penyelesaian masalah secara memahami masalah dan menentukan solusi yang logis dan sistematis. Setiap butir soal bernilai serta . komunikasi dan refleksi, yang maksimal 10 poin dengan kriteria penskoran menilai kemampuan siswa mengemukakan hasil mencakup pemahaman konsep . , ketepatan prosedur . , serta ketepatan hasil dan proses belajar. Kelima indikator tersebut dipilih penalaran . , sehingga total skor keseluruhan Validitas isi instrumen dikaji melalui menekankan pembelajaran aktif, kolaboratif, dan expert judgment untuk memastikan kesesuaian (Hmelo-Silver. PBL Barrows. Justifikasi penggunaan instrumen ini mengacu pada pandangan Arikunto . bahwa observasi metode inter-rater reliability dengan hasil koefisien merupakan metode yang efektif untuk menilai Ou 0,80, menunjukkan tingkat konsistensi dan perilaku belajar, interaksi sosial, serta keterampilan keandalan instrumen yang tinggi. berpikir siswa secara autentik dalam konteks . Instrumen observasi dalam penelitian ini pembelajaran bermakna. digunakan untuk memperoleh data mengenai Data aktivitas dan respon peserta didik selama proses pembelajaran berbasis Problem Based Learning dinyatakan berhasil jika minimal 80% peserta didik (PBL) berlangsung. Observasi dilakukan oleh dua mencapai nilai Ou 75 sesuai Kriteria Ketuntasan observer yang telah melalui proses pelatihan untuk Minimal (KKM). Menurut Masitoh dkk. menyamakan persepsi dalam melakukan penilaian, indikator penting dalam menentukan keberhasilan . nter-rater (Persamaan suatu tindakan pembelajaran di kelas. Instrumen disusun dalam bentuk lembar observasi aktivitas belajar siswa dengan menggunakan skala penilaian Likert 1Ae4, yang menggambarkan tingkat KK = jumlah Peserta didik yang nilai Ou 75 Jumlah peserta didik keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, mulai dari kategori Ausangat kurangAy hingga Ausangat baikAy. Pengamatan Hasil Penelitian Hasil beberapa tahap pembelajaran, seperti diskusi pelaksanaan tindakan kelas melalui penerapan kelompok, penyelidikan masalah, dan presentasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) hasil, untuk memperoleh data perilaku belajar pada materi kesebangunan di kelas VII SMP Negeri Kriteria 15 Palu. Data hasil belajar peserta didik dianalisis berdasarkan ketuntasan klasikal pada setiap siklus Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui Pembelajaran Berbasis. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 Perbandingan hasil antara siklus I akademik, di mana setiap kelompok terdiri atas 6Ae7 dan siklus II disajikan pada Gambar 1, yang Strategi ini dimaksudkan agar siswa dapat saling melengkapi kemampuan dan pengalaman dalam persentase ketuntasan hasil belajar setelah Selain itu, guru merancang kegiatan diskusi kelompok untuk melatih keterampilan komunikasi matematis, tanggung jawab sosial, 81,25 Alasan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan beradaptasi dengan pembelajaran berbasis masalah, sekaligus mengidentifikasi kendala yang mungkin muncul pada penerapan awal PBL di Melalui rencana tindakan ini, guru berharap Siklus I Siklus II Gambar 1. Persentasi Ketuntasan 30 Peserta Didik pada setiap siklus Rencana Siklus I Pada siklus pertama, rencana tindakan menunjukkan peningkatan partisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Tindakan pada Siklus I Learning difokuskan pada tahap awal penerapan model (PBL) peserta didik pada pembelajaran berbasis masalah memperkenalkan siswa pada pola pembelajaran yang menuntut keterlibatan aktif dan kolaboratif. berbasis masalah yang menuntut keterlibatan aktif Proses pembelajaran diawali dengan kegiatan dan kolaboratif. Guru merancang Modul Ajar serta orientasi masalah, di mana guru menyajikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi masalah-masalah Problem Based Learning (PBL) kesamaan dua segitiga atau menghitung panjang kesamaan dua segitiga atau menghitung panjang sisi yang belum diketahui melalui perbandingan sisi yang tidak diketahui melalui perbandingan sisi-sisi sebangun. Selanjutnya, siswa dibagi ke sisi-sisi dalam kelompok besar yang terdiri dari enam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan hingga tujuh orang secara heterogen agar setiap logis dengan mengacu pada langkah-langkah kelompok memiliki variasi kemampuan. Kegiatan utama model PBL, yaitu: . orientasi pada belajar diarahkan pada penyelidikan kelompok, di masalah, . pengorganisasian peserta didik dalam mana siswa mendiskusikan masalah yang terdapat kelompok, . penyelidikan mandiri maupun pada Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan kelompok, . presentasi hasil penyelidikan, dan . mencari solusi melalui pemahaman konsep yang refleksi terhadap hasil pembelajaran. LKPD Dalam tahap perencanaan ini, guru juga Setelah masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka menyiapkan instrumen pendukung seperti lembar observasi aktivitas siswa, rubrik penilaian, serta komunikasi matematis. Pada tahap akhir, guru alat evaluasi berupa tes esai untuk mengukur memfasilitasi refleksi bersama untuk meninjau proses dan hasil belajar yang telah diperoleh. Pengelompokan siswa dilakukan secara heterogen Alasan dilaksanakannya tindakan ini adalah dengan mempertimbangkan variasi kemampuan untuk memberikan kesempatan bagi peserta didik Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan PBL Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. - 10. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 menumbuhkan kemampuan berpikir kritis serta keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. kerja sama dalam konteks pembelajaran yang Berdasarkan hasil pengamatan terhadap lima Penggunaan LKPD berbasis masalah dipilih untuk melatih siswa mengidentifikasi, keseluruhan sebesar 2,26 dari skala 4. Keaktifan menganalisis, dan menyelesaikan masalah secara siswa dalam bertanya, menjawab, dan menanggapi selama diskusi kelompok masih terbatas, dengan dikemukakan Barrows . PBL Pengelompokan rata-rata 2,3. rata-rata Kolaborasi pada tahap awal dimaksudkan untuk kelompok juga belum optimal. beberapa kelompok menciptakan suasana kerja sama yang lebih luas, masih didominasi oleh satu atau dua siswa yang agar guru dapat mengamati bagaimana interaksi lebih aktif, sementara anggota lainnya cenderung sosial dan dinamika kelompok terbentuk secara pasif . kor rata-rata 2,. Inisiatif dan kemandirian Melalui tindakan ini, diharapkan guru ketergantungan tinggi terhadap arahan guru dalam kemampuan berpikir, komunikasi, dan keterlibatan menyelesaikan tugas. Kemampuan pemecahan siswa dalam kegiatan belajar berbasis masalah masalah dan komunikasi reflektif siswa juga masih sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya. tergolong rendah . ,2 dan 2,. , terlihat dari . , kesulitan mereka dalam mengidentifikasi inti Observasi pada Siklus I masalah dan mengemukakan hasil diskusi secara Hasil tes belajar pada siklus I menunjukkan Secara umum, suasana kelas menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning bahwa siswa memerlukan bimbingan dan motivasi (PBL) mulai memberikan dampak positif terhadap tambahan agar lebih percaya diri dan aktif dalam peningkatan pemahaman siswa, meskipun hasilnya diskusi kelompok. belum memenuhi target ketuntasan klasikal yang Dari 32 peserta didik, sebanyak 20 ,50%) Refleksi pada Siklus I Kriteria Hasil siklus I menunjukkan PBL mulai Ketuntasan Minimal (KKM) Ou 75, sedangkan 12 menggerakkan pemahaman siswa, tetapi belum siswa . ,50%) masih berada di bawah KKM. Nilai mencapai target ketuntasan klasikal . ,50% tuntas. rata-rata kelas pada siklus I adalah 61,0 yang rerata 61,. Analisis butir memperlihatkan dua tergolong kategori cukup. Analisis per indikator simpul kelemahan: . keterampilan proseduralAe menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam diketahui, dan . transfer konsep ke konteks nyata. mengindikasikan keterlibatan yang masih AucukupAy: Dari mengidentifikasi bangun sebangun sudah mulai mengalami kesulitan dalam menghitung sisi yang bertanya/menanggapi 2,26/4 . , kesebangunan pada konteks kehidupan nyata. didominasi siswa tertentu . , inisiatif dan Kondisi ini mengindikasikan bahwa siswa masih memerlukan bimbingan intensif, contoh soal yang masalah dan komunikasi reflektif masih lemah lebih kontekstual, serta latihan yang berfokus pada . ,2Ae2,. penerapan konsep dalam pemecahan masalah scaffolding pada LKPD belum cukup menuntun alur pikir siswa, materi masih abstrak bagi Kemudian Indikasi sebagian siswa, dan ukuran kelompok terlalu besar menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa masih sehingga guru sulit memberi umpan balik personal. berada pada kategori cukup aktif. Sebagian besar Berdasarkan temuan tersebut, perbaikan siswa tampak belum terbiasa dengan model Problem Based Learning (PBL) yang menuntut penyempurnaan LKPD dengan petunjuk langkah- Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui Pembelajaran Berbasis. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 langkah yang lebih rinci, contoh terstruktur, dan jumlah anggota menjadi 4Ae5 orang per kelompok, visualisasi . lustrasi segitiga sebangun, bayangan agar komunikasi dan partisipasi lebih merata serta bend. agar konsep lebih konkret. penambahan guru dapat memberikan bimbingan yang lebih media presentasi visual (PPT) untuk memodelkan intensif kepada setiap kelompok. Pada tahap strategi penyelesaian dan menguatkan koneksi orientasi masalah, guru memulai pembelajaran konsepAekonteks. penataan ulang kelompok dengan menghadirkan permasalahan yang lebih menjadi lebih kecil . Ae5 sisw. dengan peran kontekstual dan menantang, seperti menghitung anggota yang jelas agar partisipasi merata dan tinggi pohon atau menara menggunakan prinsip memudahkan bimbingan intensif. penggunaan masalah pembuka yang lebih kontekstual dan motivasi dan apresiasi juga diperkuat agar setiap menantang . mengukur tinggi pohon/menara siswa terdorong untuk berpartisipasi aktif dan melalui prinsip kesebangunan bayanga. untuk percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Strategi . Rencana tindakan pada siklus kedua ini penguatan motivasi dan budaya apresiasi agar dirancang dengan tujuan memperbaiki kelemahan siswa lebih percaya diri bertanya, berargumen, dan dari siklus sebelumnya, sekaligus mengoptimalkan Rangkaian keputusan ini diharapkan penerapan prinsip utama PBL, yakni pembelajaran langsung menutup celah yang teridentifikasi pada kolaboratif dan berorientasi pada pemecahan siklus I dan mendorong lonjakan aktivitas serta masalah nyata. Melalui pendekatan ini, diharapkan capaian hasil belajar pada siklus II. siswa tidak hanya mampu memahami konsep Rencana pada Sklus II Rencana tindakan pada siklus kedua disusun berdasarkan hasil refleksi dari pelaksanaan siklus nilai-nilai berpikir kritis, dan kerja sama dalam konteks pembelajaran yang bermakna. pertama, yang menunjukkan bahwa sebagian siswa masih pasif dan kesulitan dalam memahami Tindakan pada Siklus II konsep kesebangunan secara mendalam. Oleh Tindakan pada siklus kedua merupakan karena itu, pada siklus ini dilakukan perbaikan hasil pengembangan dan penyempurnaan dari strategi pembelajaran untuk menciptakan proses tindakan pada siklus pertama, dengan tujuan belajar yang lebih aktif, kontekstual, dan terarah. utama meningkatkan partisipasi aktif, pemahaman Guru memperbaiki Lembar Kerja Peserta Didik konseptual, dan motivasi belajar siswa. Pada tahap (LKPD) dengan menambahkan petunjuk langkah- ini, guru memperbaiki dan memperkaya Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan petunjuk visualisasi yang menarik, seperti ilustrasi segitiga langkah-langkah penyelesaian yang lebih jelas, sebangun, gambar bayangan benda, dan contoh ilustrasi visual, dan konteks permasalahan yang penerapan dalam kehidupan sehari-hari . isalnya lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan skala pada peta, denah, atau model penggunaan kesebangunan dalam peta, denah. Perbaikan ini dimaksudkan agar siswa, menambahkan media PowerPoint (PPT) untuk Selain abstrak matematika dengan situasi konkret di kesebangunan agar siswa lebih mudah memahami sekitar mereka. hubungan antara sisi dan sudut pada bangun yang Selain Pengelompokan menjadi 4Ae5 orang per kelompok agar diskusi PowerPoint (PPT) untuk mendukung pemahaman berjalan lebih efektif dan setiap siswa memiliki konsep secara lebih interaktif. Pengelompokan kesempatan lebih besar untuk berkontribusi. Guru Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. - 10. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 kontekstual, serta penggunaan LKPD berbasis mengalami kesulitan, serta memberikan apresiasi terhadap partisipasi aktif siswa selama diskusi dan presentasi untuk memperkuat motivasi belajar. berpikir kritis siswa secara menyeluruh. Alasan tindakan ini dilakukan adalah untuk Pada II, mengatasi kelemahan yang ditemukan pada siklus pertama, di mana sebagian siswa masih pasif dan dalam aktivitas dan keterlibatan siswa selama Dengan pembelajaran berlangsung. Rata-rata skor observasi meningkat menjadi 3,22, yang termasuk dalam Siswa perhatian dan pendampingan yang lebih intensif, antusiasme yang lebih tinggi dalam mengikuti sesuai dengan temuan Russo, dkk. bahwa kegiatan pembelajaran, terutama setelah LKPD diperbaiki dengan petunjuk langkah yang lebih bimbingan yang lebih efektif. Penambahan konteks jelas dan visualisasi menarik. Keaktifan siswa masalah yang dekat dengan kehidupan siswa didasarkan pada pandangan Hmelo-Silver . , meningkat menjadi 3,2, sedangkan kolaborasi yang menyatakan bahwa PBL menjadi lebih efektif kelompok juga membaik dengan skor rata-rata 3,3 menunjukkan interaksi dan kerja sama yang lebih Selain itu, penggunaan media visual efektif di antara anggota kelompok. Inisiatif dan kemandirian siswa juga mengalami peningkatan konsep abstrak menjadi lebih konkret (Lowrie et . , terlihat dari kemampuan mereka mengambil , 2. Melalui tindakan ini, pembelajaran menjadi lebih menarik, interaktif, dan adaptif Kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi reflektif meningkat masing-masing menjadi 3,2 dan keterlibatan aktif dalam proses 3,3, di mana siswa mampu menjelaskan hasil diskusi secara lebih sistematis dan percaya diri saat Secara keseluruhan, peningkatan ini menunjukkan bahwa penerapan PBL yang disertai Observasi pada Siklus II Pada siklus II, hasil belajar siswa mengalami LKPD berhasil menciptakan suasana belajar yang lebih peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Nilai rata-rata kelas meningkat mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta menjadi 80,0 dengan tingkat ketuntasan klasikal keterampilan sosial siswa. mencapai 81,25%, yang berarti telah melampaui target minimal ketuntasan sebesar 75%. Sebagian menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai menerapkan prosedur, serta menalar langkah- rata-rata 80,0 dan ketuntasan klasikal 81,25%, langkah penyelesaian soal secara sistematis. Siswa juga tampak lebih percaya diri dalam mengerjakan Siswa soal-soal aplikasi dan mampu mengaitkan konsep konsep kesebangunan secara prosedural, tetapi kesebangunan dengan permasalahan sehari-hari, juga mampu mengaitkannya dengan situasi nyata seperti peta, denah, dan model bangunan. Hal ini Peningkatan ini menunjukkan bahwa sejalan dengan temuan Alreshidi &Lally . perbaikan strategi pembelajaran melalui penguatan bahwa PBL sangat bergantung pada kemampuan Pelaksanaan Refleksi pada Siklus II langkah-langkah Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui Pembelajaran Berbasis. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 pembelajaran yang jelas dan bermakna, termasuk pembelajaran kolaboratif dengan konteks yang penggunaan media visual yang membantu siswa dekat dengan kehidupan siswa dapat memperkuat memahami konsep abstrak secara konkret. pemahaman konseptual dan meningkatkan rasa Selain peningkatan hasil belajar, aktivitas ingin tahu siswa terhadap matematika. pembelajaran juga menunjukkan perubahan positif. Secara keseluruhan, refleksi menunjukkan Skor rata-rata observasi meningkat menjadi 3,22 bahwa penerapan PBL yang disertai dengan . ategori bai. , menandakan keterlibatan siswa modifikasi LKPD kontekstual, penggunaan media yang lebih tinggi dalam bertanya, berdiskusi, dan bekerja sama. Keaktifan bertanya dan memberikan 3,2, kelompok mencapai 3,3, sementara inisiatif dan partisipatif, dan efektif. Hasil ini mendukung kemandirian juga meningkat menjadi 3,1. Hal ini memperlihatkan bahwa strategi pengelompokan keberhasilan PBL tidak hanya ditentukan oleh kecil yang diterapkan guru memberikan dampak desain masalah, tetapi juga oleh bagaimana guru positif terhadap partisipasi dan interaksi antar memfasilitasi interaksi, refleksi, dan dukungan yang mendorong kemandirian berpikir siswa. Studies in Educational Evaluation juga menegaskan Dengan demikian, tindakan pada siklus II dapat dikatakan berhasil mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, dan tidak diperlukan siklus Penelitian Bonesrynning . individual yang lebih optimal dari guru. Alreshidi Lally . tercapai secara optimal. Dari sisi proses berpikir dan komunikasi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa matematis, kemampuan siswa dalam memecahkan masalah serta menjelaskan hasil diskusi meningkat berimplikasi positif terhadap peningkatan hasil secara signifikan, masing-masing dengan skor 3,2 belajar dan aktivitas peserta didik pada materi dan 3,3. Siswa menunjukkan kemampuan bernalar Temuan ini menegaskan bahwa secara sistematis, berargumentasi secara logis, dan pembelajaran berbasis masalah mampu mengatasi berani mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. kesulitan belajar matematika yang bersifat abstrak Temuan ini sejalan dengan penelitian Calor, dkk. dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses . yang menunjukkan bahwa scaffolding pada berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif. Guru Problem Based Learning PBL (PBL) kualitas diskusi matematis dan mengembangkan memanfaatkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) kemampuan berpikir reflektif siswa. Dukungan kontekstual, media visual interaktif, serta strategi pengelompokan kecil agar partisipasi dan interaksi menstimulasi ide menjadi faktor penting yang penerapan PBL dalam penelitian ini menunjukkan Selain relevansinya dengan tuntutan Kurikulum Merdeka Selain itu, keberhasilan penerapan tindakan yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa dan pengembangan keterampilan abad ke-21, kontekstual dalam LKPD. Pemberian contoh- seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, kreativitas, sehingga dapat dijadikan acuan dalam seperti menghitung tinggi pohon melalui bayangan meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar atau penggunaan skala pada peta, mampu menarik matematika di sekolah. minat siswa dan meningkatkan motivasi belajar. Penelitian Hal ini sejalan dengan penelitian Rahman & Abdullah generalisasi hasilnya. Pertama, penelitian hanya . Nurhaliza. Sukayasa. , & Zahariati. Meningkatkan Hasil Belajar Kesebangunan melalui. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. - 10. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 melibatkan satu kelas dengan jumlah peserta didik terbatas, sehingga temuan ini masih bersifat Berdasarkan hasil tersebut, guru dapat menjadikan kontekstual dan mungkin berbeda jika diterapkan PBL pada populasi yang lebih luas atau dengan matematika, khususnya pada materi yang bersifat Kedua, pelaksanaan penelitian dalam dua siklus dengan lingkungan belajar yang kondusif agar penerapan dampak jangka panjang penerapan PBL terhadap PBL dapat berjalan optimal. Penelitian ini juga perkembangan kemampuan berpikir kritis dan dapat dikembangkan lebih lanjut pada materi atau pemecahan masalah siswa. Selain itu, peran ganda mata pelajaran lain, serta diperluas kajiannya tidak guru sebagai pelaksana dan peneliti berpotensi hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada ranah menimbulkan bias subjektif dalam observasi dan refleksi meskipun telah diminimalkan melalui gambaran yang lebih komprehensif mengenai keterlibatan observer independen. Faktor eksternal efektivitas PBL. Dengan demikian, penelitian ini seperti variasi kemampuan awal, motivasi belajar, menegaskan bahwa penerapan model Problem dan ketersediaan sarana pembelajaran juga dapat Based Learning merupakan strategi yang tepat memengaruhi hasil penelitian. Oleh karena itu, untuk meningkatkan hasil belajar Peserta Didik, penelitian lanjutan disarankan untuk melibatkan sekaligus membekali mereka dengan keterampilan abad 21 yang sangat relevan untuk menghadapi tindakan, serta menggunakan pendekatan mixed tantangan masa depan. methods guna memperoleh temuan yang lebih komprehensif dan valid. Daftar Pustaka