AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Tradisi Agraris dan Hasil Pertanian Komang Maney Di Desa Taramana Kecamatan Alor Timur Laut Gladys Itunde1 Devita Triana Mabilehi2. Esriyanti Lakapada3. Elsa Miranda Lanmai4. Dewishinta Maleikari5. Petrus Mau Tellu Dony6 Pendidikan Universitas Tribuana Kalabahi Email: gladysitunde@gmail. com1, defitatriana@gmail. esriyantilakapada@gmail. com3, melsa3809@gmail. dewishintamaleikari@gmail. com5, petrusdony2@gamil. Abstrak Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji tradisi agraris Komang Maney sebagai praktik budaya yang kaya akan nilai adat, spiritualitas, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Penelitian ini mendokumentasikan tahapan-tahapan tradisi Komang Maney, mulai dari persiapan lahan, ritual penanaman, hingga panen dan pembagian hasil, yang sarat dengan nilai-nilai adat dan keagamaan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, yang menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman teknis dalam bercocok tanam tetapi juga sebagai manifestasi rasa syukur, penghormatan, dan kebersamaan dalam Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tradisi ini dimulai dengan peran kepala suku dalam mengatur persiapan lahan, melibatkan doa dan musyawarah yang mencerminkan keharmonisan antara manusia dan alam. Proses ritual penanaman melibatkan integrasi antara adat dan kepercayaan agama, menekankan pentingnya doa dan gotong royong. Pada tahap panen, tradisi makan baru menjadi momen untuk berbagi, memperkuat solidaritas, dan menjaga keseimbangan sosial. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti adaptasi modern dari tradisi Komang Maney, khususnya integrasi nilai-nilai adat dengan kepercayaan agama, yang memastikan keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman. Temuan ini memberikan wawasan tentang bagaimana praktik budaya dapat bertahan dan relevan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai intinya. Kata Kunci: tradisi pertanian komang maney PENDAHULUAN Tradisi agraris merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Pulau Alor. Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini tidak hanya mencakup aspek pertanian sebagai mata pencaharian utama, tetapi juga mencerminkan hubungan yang erat antara masyarakat dengan alam, serta dengan sistem sosial dan budaya yang ada. Menurut Soerjono Soekanto . , yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 tradisi agraris menggambarkan pola kehidupan yang berfokus pada aktivitas pertanian sebagai landasan utama, yang menghubungkan masyarakat dengan tanah dan sumber daya alam. Sementara itu. Clifford Geertz . menyatakan bahwa tradisi semacam ini membentuk identitas masyarakat dan mempengaruhi struktur sosial dalam suatu komunitas. Dalam konteks ini, masyarakat yang menganut tradisi agraris berinteraksi dengan lingkungan sekitar melalui kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Terkait dengan hal ini. Anthony Giddens . berpendapat bahwa tradisi agraris juga berfungsi sebagai cara bagi masyarakat untuk menjaga keseimbangan dengan alam serta membentuk pola kehidupan yang berkelanjutan. Menurut Abdul Azis . , kondisi geografis dan ekonomi yang relatif terisolasi di daerah ini menciptakan peluang bagi masyarakat untuk lebih menghayati dan melestarikan tradisi mereka. Masyarakat yang sebagian besar masih bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian utama terus menjaga tradisi Komang Maney sebagai bagian dari identitas dan kelangsungan hidup mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh Benedict Anderson . , tradisi yang berkembang di daerah terpencil sering kali mengandung nilai-nilai yang lebih dalam dan menjadi perekat sosial bagi masyarakat. Dengan adanya integrasi antara adat dan agama, tradisi ini tidak hanya bertahan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memperkuat kedudukan budaya lokal dalam menghadapi globalisasi dan modernisasi yang semakin berkembang. Sejarah desa masih menarik sejarahwan untuk ditelusuri karena hampir semua peristiwa sejarah berawal atau terjadi didaerah pedesaan. Desa sebagai kesatuan terkecil di Indonesia, memiliki karakter tersendiri. Hal ini disebabkan karena masingmasing wilayah di Indonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang dan berbedabeda. Petrus Dony . Demikian juga dengan Kampung Komang Maney Desa Taramana. Kecamatan Alor Timur Laut. Kabupaten Alor. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Budaya Komang Maney merupakan salah satu warisan tradisional yang kaya akan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis dalam kehidupan masyarakat agraris. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Tradisi ini mengatur seluruh tahapan kegiatan agraris, mulai dari persiapan lahan, pemilihan benih, hingga pembagian hasil panen. Dalam budaya ini, kepala suku memegang peranan penting sebagai pemimpin adat yang memberikan arahan, menentukan lokasi, dan memimpin berbagai ritual penting yang menjadi inti dari kegiatan bercocok tanam masyarakat. Komang Maney adalah sebuah desa yang terletak di wilayah agraris dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Masyarakatnya sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian, di mana nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal masih dipertahankan secara kuat dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan tradisi agraris seperti Komang Maney mencerminkan harmoni yang terjalin antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dalam konteks ini, masyarakat menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan tanpa meninggalkan nilai-nilai inti yang diwariskan leluhur. Menurut Soerjono Soekanto, perubahan sosial di masyarakat dapat terjadi melalui kontak budaya dengan pihak luar serta melalui pengaruh pendidikan formal yang membawa gagasan baru. Hal ini relevan dengan kondisi masyarakat Komang Maney yang berhasil mengintegrasikan kepercayaan agama modern dengan adat istiadat yang telah lama berlangsung. Selain itu. Riko Yohanes menyebutkan bahwa integrasi antara tradisi lokal dan agama mencerminkan fleksibilitas budaya dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus memperkuat identitas komunitas. Dalam hal ini, masyarakat Komang Maney tidak hanya berhasil menjaga tradisi tetapi juga menjadikannya sebagai medium untuk memperkuat hubungan sosial dan spiritual di tengah perubahan zaman. METODE PENGABDIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang sesuai dengan pendapat Moleong . yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif berfokus pada pemahaman fenomena dalam konteks alami dan memberikan penekanan pada makna yang terkandung dalam situasi sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menggali yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 informasi secara mendalam mengenai tradisi Komang Maney yang berkembang di Desa Taramana. Alor Timur Laut, dengan menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan fenomena tersebut secara rinci dan mendalam. Selanjutnya, menurut Denzin dan Lincoln . , metode kualitatif menekankan pada pengumpulan data dalam bentuk narasi, yang memungkinkan peneliti untuk menggali pandangan, persepsi, dan makna yang terkandung dalam suatu kejadian atau fenomena yang sedang diteliti. Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data langsung dari informan, dalam hal ini, masyarakat Desa Taramana, yang memiliki pengetahuan langsung mengenai tradisi Komang Maney. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif, yang mengacu pada pendapat Creswell . yang menjelaskan bahwa analisis deskriptif kualitatif bertujuan untuk mengorganisir dan menggambarkan data yang diperoleh agar dapat memahami makna dari fenomena yang sedang dikaji. Melalui pendekatan ini, peneliti tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga melakukan interpretasi yang mendalam terhadap data yang diperoleh untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang tradisi tersebut. HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN Tradisi Komang Maney menjadi salah satu praktik budaya agraris yang kaya akan nilai-nilai adat, spiritualitas, dan solidaritas sosial. Tradisi ini memandu masyarakat dalam berbagai tahapan bercocok tanam, mulai dari persiapan lahan hingga pembagian hasil panen. Dari data wawancara, diperoleh gambaran mendalam mengenai praktik budaya ini yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan teknis dalam pertanian, tetapi juga sebagai manifestasi rasa syukur, penghormatan, dan kebersamaan di tengah-tengah Persiapan Lahan: Tahapan Awal yang Sarat Makna Adat yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Persiapan lahan dalam tradisi Komang Maney bukanlah sekadar aktivitas fisik. Tahapan ini diawali dengan pengaturan oleh kepala suku yang memiliki otoritas penuh dalam menentukan lokasi lahan yang akan digunakan oleh masyarakat. Pemilihan lokasi oleh kepala suku menjadi langkah penting, karena mencerminkan tanggung jawab adat terhadap pengelolaan sumber daya alam. Proses ini diawali dengan pertemuan seluruh masyarakat yang dipimpin oleh kepala suku. Pada kesempatan tersebut, kepala suku menyampaikan arahan terkait waktu, lokasi, dan tata cara pembersihan lahan. Arahan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mengandung nilai-nilai adat yang harus dipatuhi oleh seluruh Tradisi ini menunjukkan bahwa kepala suku memegang peran sebagai penjaga adat sekaligus pemimpin yang mengatur harmoni antara manusia dan alam. Dalam perkembangannya, tradisi ini telah beradaptasi dengan kepercayaan agama. Sebelum memulai pembersihan lahan, masyarakat mempersiapkan parang yang akan digunakan, untuk didoakan oleh majelis gereja. Kepala suku akan menyampaikan beberapa hal terkait dengan parang dan lokasi yang akan dibersikan. Setelah semuanya sudah di sampaikan oleh kepala suku maka kepala suku akan menyerahkan semua kepada majelis gereja untuk di doakan. Doa ini melambangkan penyelarasan antara aktivitas fisik dan spiritual. Setelah proses doa selesai, masyarakat bergotong royong membersihkan lahan kepala suku terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan penghormatan terhadap kepala suku sebagai simbol persatuan dan hierarki adat. Barulah setelah lahan kepala suku selesai, masyarakat diperbolehkan membersihkan lahan masing-masing. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sumber Foto Tahapan Pertemuan Awal Yang Sarat Makna Adat Ritual Penanaman: Penghormatan terhadap Alam dan Komunitas Setelah pembersihan lahan selesai, masyarakat memasuki tahap persiapan benih dan penanaman. Sebelum benih ditanam, tradisi mengharuskan adanya doa bersama yang dipimpin oleh majelis gereja. Doa ini tidak hanya bertujuan untuk memohon keberkahan atas hasil panen, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur. Tahapan ini diawali dengan musyawarah antara orang tua adat dan pihak gereja untuk menentukan waktu pelaksanaan doa. Kepala suku kembali memegang peran penting dengan memberikan pengarahan terkait kualitas benih dan teknis penanaman. Setelah semua persiapan selesai, kepala suku menyerahkan benih kepada majelis gereja untuk didoakan. Doa ini menjadi simbol pengharapan agar hasil panen melimpah dan bermanfaat bagi seluruh komunitas. Penanaman dimulai dari kebun kepala suku sebagai bentuk penghormatan terhadap pemimpin adat. Setelah kebun kepala suku selesai ditanami, masyarakat baru diperbolehkan menanam di lahan masing-masing. Proses ini mencerminkan nilai gotong royong yang kuat dalam masyarakat, di mana kerja kolektif menjadi prioritas sebelum kepentingan individu. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Panen dan Pembagian Hasil: Tradisi Makan Baru Pada tahap panen, masyarakat kembali melaksanakan ritual adat yang disebut makan baru. Ritual ini diawali dengan pengumpulan sebagian hasil panen untuk diserahkan kepada kepala suku dan majelis gereja. Prosesi ini melambangkan penghormatan kepada pemimpin adat dan tokoh agama, sekaligus wujud rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen. Setelah doa panen selesai, hasil panen yang telah dikumpulkan dibagi secara adil antara kepala suku dan majelis gereja sebagai bentuk rasa syukur kepada tuhan dan penghargaan terhadap kepala suku. Tradisi ini tidak hanya menjaga keseimbangan sosial, tetapi juga memperkuat hubungan antaranggota komunitas. Melalui pembagian hasil panen, masyarakat diajarkan untuk berbagi, menghormati, dan menjaga solidaritas. Ritual makan baru juga menjadi momen penting untuk memperkuat ikatan sosial. Pada prosesi ini, seluruh anggota masyarakat berkumpul untuk makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan Hal ini mencerminkan nilai-nilai kolektivitas yang menjadi inti dari budaya Komang Maney. Sumber Foto: Panen Dan Pembagian Hasil Tradisi Makan Baru Integrasi Adat dan Agama: Sebuah Adaptasi Modern Seiring waktu, tradisi Komang Maney mengalami berbagai penyesuaian untuk tetap relevan dalam konteks modern. Salah satu bentuk adaptasi yang signifikan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 adalah integrasi antara adat dan kepercayaan agama. Doa yang dipimpin oleh majelis gereja menjadi bagian integral dari tradisi ini, tanpa menghilangkan nilai-nilai adat yang telah lama diwariskan. Integrasi ini tidak hanya memperkuat tradisi, tetapi juga mencerminkan fleksibilitas budaya dalam menghadapi perubahan zaman. Meskipun modernisasi membawa tantangan, tradisi Komang Maney tetap mampu bertahan karena nilai-nilai inti yang terkandung di dalamnya tetap relevan. Sumber Foto: Integrasi Adat Dan Agama: Sebuah Adaptasi Modern Kesimpulan Tradisi Komang Maney mencerminkan kearifan lokal yang kaya akan nilainilai spiritual, sosial, dan ekologis. Setiap tahapan dalam tradisi ini, mulai dari persiapan lahan hingga pembagian hasil panen, memiliki makna yang mendalam dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai adat dan agama, tradisi ini mampu bertahan sebagai warisan budaya yang relevan dalam menghadapi tantangan modernisasi. Pelestarian tradisi Komang Maney menjadi penting, tidak hanya untuk menjaga identitas budaya, tetapi juga sebagai inspirasi dalam membangun hubungan yang yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 harmonis antara manusia dan alam di era modern. Tradisi ini mengajarkan bahwa keberhasilan agraris tidak hanya ditentukan oleh usaha fisik, tetapi juga oleh rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur. SARAN Pelestarian tradisi Komang Maney memerlukan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, dan generasi muda. Program pendidikan dan kegiatan berbasis komunitas dapat digunakan untuk memperkenalkan nilai-nilai tradisi ini kepada generasi penerus. Selain itu, penelitian lebih lanjut mengenai tradisi ini perlu dilakukan untuk menggali potensi penerapannya dalam pengelolaan agraris berkelanjutan dan pembangunan ekologis yang selaras dengan tantangan UACAPAN TERIMA KASIH Dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami panjatkan terima kasih atas selesainya jurnal ini yang tidak terlepas dari dukungan berbagai Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada dosen mata kuliah senibudaya daerah bapak Petrus Mau Tellu Dony atas arahan, ilmu, dan kesabarannya selama proses penyusunan jurnal ini. narasumber bapak Nataniel Itunde yang dengan ikhlas berbagi informasi dan wawasan berharga. teman-teman kelompok yang telah bekerja sama dengan penuh semangat dan tanggung jawab. serta orang tua dan keluarga yang senantiasa memberikan doa, dukungan moral, dan Tidak lupa, kami juga berterima kasih kepada sahabat dan teman-teman atas masukan serta dorongan semangat yang sangat berarti. Kami haturkan pula penghargaan kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, namun telah memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Semoga semua kebaikan yang diberikan mendapatkan balasan terbaik dari Tuhan Yang Maha Esa. DAFTAR PUSTAKA