PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. Pengembangan Professionalisme Guru pada Sekolah Luar Biasa Bonita Bilqis Supryady1. Arismunandar2. Ansar3 123Universitas Negeri Makassar Email: Bonitabilqis@gmail. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tentang Pengembangan Profesionalisme Guru (Studi Kasus Pada SLBS YPAB Mare dan SLBS Amana. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan gambaran pengembangan profesionalisme guru dan menganalisis faktor pendukung dan penghambat pengembangan profesionalisme guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Bone, khususnya di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan kepala sekolah, guru, dan staf administrasi sebagai informan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian pada SLBS YPAB Mare Kabupaten Bone menunjukkan bahwa dari ke tiga belas bentuk program pengembangan profesionalisme guru hanya ada sembilan program yang berjalanan dengan baik, sementara untuk program peningkatan kualifikasi guru atau program studi lanjut, program supervisi pendidikan program tradisional lainnya masih terbatas. SLBS Amanah Kabupaten Bone menunjukkan ada dua belas program pengembangan profesionalisme yang berjalan, baik yang bersifat modern maupun tradisional, meskipun menunjukkan antusiasme dalam program pengembangan profesionalisme, partisipasi guru dalam program magang dan studi banding masih terbatas. Faktor yang mendukung pengembangan profesionalisme guru di kedua SLB ini, yakni pelatihan khusus yang berkelanjutan, fasilitas dan sumber daya yang memadai . eskipun dengan beberapa keterbatasa. , dukungan administratif dari manajemen sekolah, komunitas pembelajaran atau kelompok diskusi, motivasi dan penghargaan bagi guru, serta kurikulum yang dinamis. Penghambat pengembangan profesionalisme guru yakni minimnya dukungan finansial, keterbatasan pelatihan khusus yang relevan dengan kebutuhan guru SLB, kurangnya tenaga ahli dan pendamping, sarana dan prasarana yang masih kurang memadai, kendala administrasi yang tinggi, kebutuhan akan pengetahuan multidisiplin, kurangnya motivasi dan dukungan psikologis, kebijakan yang kurang mendukung pendidikan khusus, serta pandangan sosial dan apresiasi yang rendah terhadap profesi guru SLB. Kata Kunci: Profesionalisme. Guru. Sekolah Luar Biasa. ABSTRACT This study examines the Development of Teacher Professionalism (Case Study at SLBS YPAB Mare and SLBS Amana. The aim of this research is to describe the state of teacher professionalism development and to analyze the supporting and inhibiting factors of professional development among teachers in Special Needs Schools (SLB) in Bone Regency, particularly at SLBS YPAB Mare and SLBS Amanah. This research uses a descriptive qualitative approach, involving principals, teachers, and administrative staff as informants. Data were collected through observation, interviews, and The research findings at SLBS YPAB Mare. Bone Regency, show that out of thirteen types of teacher professional development programs, only nine are running effectively. Meanwhile, programs aimed at improving teacher qualifications, further studies, and traditional educational supervision are still limited. SLBS Amanah in Bone Regency shows that twelve professional development programs are being implemented, both modern and traditional. Although there is enthusiasm for professional development programs, teacher participation in internships and comparative studies remains limited. Supporting factors for teacher professional development in both Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 167 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. SLBs include ongoing specialized training, adequate facilities and resources . espite some limitation. , administrative support from school management, learning communities or discussion groups, teacher motivation and recognition, as well as a dynamic curriculum. Inhibiting factors include limited financial support, a lack of specialized training relevant to SLB teachers' needs, a shortage of experts and mentors, insufficient facilities and infrastructure, high administrative burdens, the need for multidisciplinary knowledge, lack of motivation and psychological support, policies that are not supportive of special education, and low societal appreciation and recognition for the SLB teaching Keywords: Professionalism. Teachers. Special Education School A 2025 Bonita Bilqis Supryady. Arismunandar. Ansar Under the license CC BY-SA 4. PENDAHULUAN Profesi guru harus terus dikembangkan sesuai dengan jabatan fungsional guru. Selain itu, untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab yang terkait dengan jabatan fungsional guru, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka diperlukan Penilaian Kinerja guru yang menjamin mutu pembelajaran pada semua jenjang pendidikan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen. Pasal 1 Ayat 1 menjelaskan bahwa Guru merupakan tenaga profesional yang memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia sekolah pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Hasil dari penilaian kinerja guru dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk Menyusun profil kinerja sebagai input dalam penyusunan program pembinaan profesionalisme, hasil penilaian ini juga yang nantinya akan menjadi dasar penetapan perolehan angka kredit guru dalam rangka pengembangan karier guru sebagaimana yang telah tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Jika semua itu dilakukan secara tepat dan objektif, maka tujuan pemerintah untuk mencetak Auinsan yang cerdas komprehensif dan berdaya saing tinggiAy akan lebih cepat terwujud. Guru juga memikul tanggung jawab penuh atas tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Guru adalah pembimbing bagi peserta didik agar keduanya dapat membangun hubungan emosional yang bermakna sekaligus menyerap nilai-nilai dari lingkungannya. Kondisi ini dapat memudahkan mereka berdaptasi dengan kehidupan sosial. Syarat guru sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia tentang Guru dan Dosen yakni Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat Jasmani dan Rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Lembaga pendidikan SLB adalah lembaga pendidikan yang profesional, yang bertujuan membentuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan. Tanggung jawab pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah terletak ditangan pendidik, yaitu guru SLB. Itu sebabanya para pendidik harus dididik dalam profesi kependidikan, agar memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efisien dan efektif. Keterbatasan sekolah untuk menyediakan tenaga pendidik dengan kompetensi pada bidang pendidikan kebutuhan khusus merupakan hambatan utama yang ditemui sebagian besar sekolah dalam melaksanakan pendidikan inklusif dengan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 168 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. Salah satu upaya yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah pengembangan sumber daya manusia yang telah ada di sekolah luar biasa. Ada dua hal penting mengapa pengembangan terhadap tenaga pendidik ini sangat perlu Pertama, perkembangan kurikulum yang merupakan gejala kemajuan Perkembangan inilah yang sering menimbulkan perubahan-perubahan struktur maupun fungsi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum tersebut memerlukan penyesuaian yang terus menerus dengan keadaan nyata di lapangan. Hal ini berarti bahwa guru senantiasasenangtiasa harus berusaha mengembangkan kreativitisanya agar pendidikann berdasarkan kurikulum itu dapat terlaksana secra baik. Kedua, pengembangan personal, pegawai, atau karyawan senantiasa merupakan upaya yang terus menerus terjadi dalam sebuah Demikian juga sama halnya dengan sekolah. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lainnya memerlukan peningkatan karirernya, pengetahuan serta Pengembangan profesionalisme guru Sekolah Luar Biasa sangat penting dalam menjamin mutu pendidikan dengan memperhatikan dua hal yakni perubahan kurikulum baik dari struktur maupun fungsi kurikulum itu sendiri serta kepala sekolah dan guru yang senantiasa memerlukan peningkatan dari segi karier, pengetahuan dan keterampilannya. Beberapa alternatif program pengembangan profesional guru menurut Ditjen Dikdasmen Kementrian Pendidikan Nasional, yaitu: . program peningkatan kualifikasi guru atau program studi lanjut, . program penyetaraan dan sertifikasi, . program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi, . program supervisi pendidikan, . Program pemberdayaan KKG, . lokakarya/workshop, seminar dan simposium guru, . Program tradisional lainnya, misalnya CTL. PTK, penulisan karya ilmiah, . membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah, . berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah, . magang, . mengikuti berita aktual dari media pemberitaan, . berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi, dan . menggalang kerjasama dengan teman sejawat. Lokasi pada penelitian ini adalah SLBS YPAB Mare yang berakreditasi A dan SLBS Amanah berakreditasi B. Ketercapaian mutu pendidikan tidak lepas dari pengembangan profesionalisme guru, dari data guru yang didapatkan peneliti kualifikasi pendidikan guru pada sekolah tidak memenuhi syarat dalam profesionalisme guru. Selain melihat akreditasi sekolah dan data guru tersebut, lokasi sekolah juga yang menjadi salah satu alasan peneliti memilih kedua sekolah tersebut. SLBS YPAB Mare berada di Kec. Mare yang berjarak 36 Km dari pusat kota Kab. Bone sementara SLBS Amanah berada di Kec. Tanete Riattang yang berjarak sekitar 2,4 Km dari Pusat Kota Kab. Bone. Berdasarkan penjabaran di atas maka calon peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul AuPengembangan Profesionalisme Guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten BoneAy Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan yaitu sebagai berikut: . Untuk mengetahui pengembangan profesionalisme guru di Sekolah Luar Biasa Kabupaten Bone dan Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pengembangan profesionalisme guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Bone. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Pada penelitian ini calon peneliti berkeinginan memperoleh informasi yang mendalam tentang pengembangan profesionalisme guru yang dilakukan oleh kepala sekolah dan guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Bone. Waktu penelitian akan dimulai pada bulan April - Juni 2024. Adapun tempat penelitian di Kabupaten Bone yang direncanakan pada SLB YPABS Mare dan SLBS Amanah. Prosedur dalam mengumpulkan data, sebagai berikut . Observasi, yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 169 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. Apabila objek penelitian bersifat perilaku, tindakan manusia, dan fenomena alam, proses kerja, penggunaan responden kecil. Wawancara, adalah salah satu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Dokumentasi, yaitu ditujukan untuk meperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan -peraturan laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang relevan dengan penelitian. Adapun data yang telah ditemukan dilapangan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis data kualitatif dari Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. HASIL Berdasarkan hasil penelitian di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Bone dalam hal ini di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah ditemukan bahwa terdapat beberapa program pengembangan profesionalisme guru yang di terapkan yaitu . Program peningkatan kualifikasi guru atau program studi lanjut, . Program penyetaraan dan sertifikasi, . Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi, . Program supervisi pendidikan, . Program pemberdayaan MGMP/KKG, . Lokakarya/ Workshop, seminar dan simposium guru, . Program tradisional lainnya, misalnya CTL. PTK, penulisan karya ilmiah, . Membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah, . Berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah, . Magang, . Mengikuti berita aktual dari media pemberitaan, . Menggalang kerjasama dengan teman sejawat. Berikut ini gambaran pengembangan profesionalisme guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah di kabupaten Bone: Gambar 1. Pengembangan profesionalme guru SLB YPAB Mare dan SLBS Amanah Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 170 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. Berdasarkan hasil penelitian juga ditemukan beberapa faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi pengembangan profesionalisme guru di SLB YPAB Mare dan SLBS Amanah Kabupaten Bone yang dapat dilihat pada gambar 2 berikut: Gambar 2. Faktor yang mempengaruhi pengembangan profesionalisme guru diSLB YPAB Mare dan SLBS Amanah PEMBAHASAN Pengembangan Profesionalisme Guru di SLB YPAB Mare dan SLBS Amanah Kabupaten Program Peningkatan Kualifikasi Guru atau Program Studi Lanjut Para guru yang terlibat melalui siklus pelatihan pembelajaran profesionalisme guru TPL menjadi lebih bertanggung jawab terhadap pembelajaran siswa, dan tanggung jawab ini tumbuh ketika mereka melihat dampak positif dari pengajaran mereka terhadap siswa (Muhayimana, 2. Pengembangan profesionalisme guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah merupakan proses yang dinamis dan terus berkembang. Meskipun telah menunjukkan kemajuan, masih ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan. Program Penyetaraan dan Sertifikasi. Penelitian ini membandingkan program pengembangan profesionalisme guru pada aspek program penyetaraan dan sertifikasi di dua SLB di Kabupaten Bone, yaitu SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah. Hasil penelitian menunjukkan komitmen kedua sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru, namun dengan pendekatan yang berbeda. SLBS Amanah tampak lebih terstruktur dan sistematis, selaras dengan pendapat Mulyasa . 0, . bahwa "Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan profesi. " Ini terlihat dari program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi yang berkelanjutan, serta dukungan untuk melanjutkan studi, magang, studi banding, dan publikasi karya ilmiah. Program Pelatihan Terintegrasi berbasis kompetensi. Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi muncul sebagai respons terhadap kebutuhan pengembangan profesionalisme guru yang berkelanjutan. Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru secara holistik, meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Penelitian ini menunjukkan bahwa program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi memberikan dampak positif pada kompetensi guru. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 171 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. motivasi, dan kepercayaan diri dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Salah satu kompetensi yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas peserta didik ialah kompetensi pedagogik guru. kompetensi pedagogik guru merupakan kemampuan guru dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik sesuai dengan karakter masing -masing peserta didik, sehingga potensi yang ada dalam diri peserta didik dapat berkembang dengan (Ansar et al. , 2. Program Supervisi Pendidikan. Program supervisi pendidikan merupakan elemen kunci dalam pengembangan profesionalisme guru dan peningkatan mutu pendidikan. Penelitian ini mendalami implementasi program supervisi di dua SLB, yaitu SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah, dengan fokus pada metode yang digunakan, dampaknya terhadap guru dan tenaga kependidikan lainnya, serta persepsi mereka tentang program tersebut. The National Professional Development Center . menekankan pentingnya supervisi yang berkelanjutan dan bersifat kolaboratif. Suparman . menambahkan bahwa supervisi yang efektif menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan profesional Program Pemberdayaan MGMP/KKG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MGMP dan KKG memiliki peran yang sangat signifikan dalam meningkatkan profesionalisme guru. Melalui berbagai kegiatan yang diadakan, guru-guru dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas pengajaran di kelas. guru di tuntut harus memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Arismunandar et al. , 2. Lokakarya/ Workshop. Seminar dan Simposium Guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru di SLB Negeri Semarang dan SLB Swasta di Kabupaten Semarang aktif mengikuti kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan seperti lokakarya/workshop, seminar, dan simposium. Partisipasi aktif ini sejalan dengan pandangan bahwa pengembangan profesionalisme guru merupakan proses berkelanjutan yang mencakup pembelajaran sepanjang hayat dan peningkatan kompetensi secara terus-menerus (Suyanto, 2. Keaktifan guru dalam mengikuti kegiatan ilmiah seperti lokakarya, seminar, dan simposium tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka, tetapi juga memperluas wawasan dan jaringan profesional mereka (OECD, 2. Program Tradisional lainnya, misalnya CTL. PTK, penulisan karya ilmiah. Dalam konteks pendidikan yang terus berkembang, penting bagi guru untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka. Program pelatihan yang dirancang dengan baik dapat menjadi sarana yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Kepala Sekolah dari SLBS Amanah menekankan pentingnya program pelatihan ini. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pendekatan praktis dalam pelatihan sangat penting untuk meningkatkan kompetensi guru. Kepala Sekolah di SLBS YPAB Mare, juga menekankan dampak positif dari program pelatihan. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan yang efektif dapat meningkatkan kepercayaan diri guru dan kemampuan mereka dalam mengajar. Membaca dan Menulis Jurnal atau Karya Ilmiah. Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, penting bagi guru untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka. Membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Kepala Sekolah dari SLBS Amanah menekankan pentingnya literasi bagi peningkatan profesionalisme guru ini menunjukkan komitmen sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru di bidang literasi dan penelitian, yang diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Kepala Sekolah di SLBS YPAB Mare, juga menekankan pentingnya membaca Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 172 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. jurnal untuk pengembangan profesionalisme. ini menunjukkan bahwa beliau memiliki kesadaran dan kebiasaan untuk terus memperbarui pengetahuan dan wawasannya di bidang pendidikan melalui jurnal ilmiah. Namun, tidak semua guru memiliki kebiasaan yang sama. Lestari . menambahkan, "Dengan membaca dan menulis, guru tidak hanya memperluas wawasan mereka, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan". Ini menunjukkan bahwa kegiatan literasi tidak hanya bermanfaat bagi individu guru, tetapi juga bagi komunitas pendidikan secara keseluruhan. Berpartisipasi dalam Pertemuan Ilmiah Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah di Kabupaten Bone memiliki tingkat partisipasi yang beragam dalam pertemuan ilmiah seperti seminar, konferensi, simposium, dan lokakarya. Beberapa guru aktif mengikuti pertemuan ilmiah, sementara yang lain belum pernah mengikuti kegiatan Meskipun demikian, baik kepala sekolah maupun guru menyadari bahwa partisipasi dalam pertemuan ilmiah merupakan salah satu cara yang efektif bagi guru untuk mengembangkan profesionalismenya. Magang Hasil penelitian menunjukkan bahwa program magang, meskipun memiliki banyak manfaat, belum banyak dimanfaatkan oleh guru-guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah di Kabupaten Bone. Beberapa guru dan kepala sekolah menyatakan belum pernah mengikuti program magang, meskipun mereka menyadari manfaatnya dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru. Mengikuti Berita aktual dari media pemberitaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah di Kabupaten Bone secara aktif mengikuti berita aktual dari berbagai media, baik media cetak seperti koran dan majalah, maupun media elektronik seperti televisi, radio, dan Guru menyadari bahwa mengikuti perkembangan informasi dan berita terkini merupakan bagian penting dari pengembangan profesionalisme guru di era digital. Kemampuan literasi media yang baik, yaitu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan pesan dalam berbagai bentuk media, menjadi krusial bagi guru (Hobbs, 2. Berpartisipasi dan Aktif dalam Organisasi Profesi Berdasarkan hasil penelitian, guru-guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah di Kabupaten Bone menunjukkan bahwa partisipasi aktif dalam organisasi profesi sangat penting bagi pengembangan profesionalisme guru. Organisasi profesi berfungsi sebagai wadah bagi para pendidik untuk berkumpul, berinteraksi, dan saling mendukung dalam meningkatkan kompetensi mereka. Keterlibatan dalam organisasi ini tidak hanya memberikan akses kepada guru untuk memperluas jaringan profesional, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Menggalang Kerjasama dengan Teman Sejawat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah di Kabupaten Bone menunjukkan bahwa kolaborasi antar guru dan staf di sekolah sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan meningkatkan kualitas Kerja sama yang baik antar guru tidak hanya memperkuat hubungan profesional, tetapi juga menciptakan atmosfer kerja yang positif. Kolaborasi ini berfungsi sebagai pendorong utama dalam pengembangan praktik pengajaran yang lebih efektif dan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 173 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. Faktor-Faktor yang Mmepengaruhi Pengembangan Profesionalisme Guru di SLB YPAB Mare dan SLBS Amanah Kabupaten Bone Faktor Pendukung Penelitian ini mengungkapkan bahwa pengembangan profesionalisme guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah didukung oleh berbagai faktor penting yang saling berinteraksi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang optimal bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Pelatihan khusus yang berkelanjutan merupakan fondasi bagi pengembangan profesionalisme guru di SLB. Guru- Program pelatihan yang berkala dapat membantu guru agar selalu up-to-date terhadap metode dan teknologi terbaru yang dapat membantu mereka dalam mengajar dengan lebih efektif (Darling-Hammond et al. , 2. SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah telah melaksanakan dan mengikutkan guru-gurunya dalam berbagai pelatihan, seperti pelatihan public speaking, pelatihan bahasa isyarat. Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka. Workshop P5, dan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar Pramuka Berkebutuhan Khusus. Fasilitas dan sumber daya yang memadai merupakan faktor penting lainnya dalam mendukung pengembangan profesionalisme guru di SLB. Sekolah yang memiliki alat bantu khusus, teknologi adaptif, dan sumber daya pendukung lainnya akan sangat membantu guru dalam melaksanakan tugasnya. SLBS YPAB Mare memiliki ruang perpustakaan yang luas, sementara SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah sama-sama memiliki sarana Wifi serta LCD proyektor beserta layarnya yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran (Kompri, 2. Kebijakan yang mendukung, seperti alokasi anggaran yang cukup untuk pelatihan dan pengembangan, penyediaan fasilitas yang memadai, serta kebijakan yang memberikan waktu bagi guru untuk mengikuti program pengembangan profesional, sangat membantu dalam menciptakan lingkungan yang kondusif (Saputra, 2. SLBS YPAB Mare dan SLB Amanah selalu mengalokasikan sebagian persen anggaran dana bantuan operasional sekolahnya untuk mengadakan pelatihan atau mengikutkan para guru pada seminar, workshop, dan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan peningkatan mutu. Komunitas pembelajaran atau kelompok diskusi memfasilitasi interaksi antar guru, sehingga mereka dapat berbagi pengalaman, saling memberikan dukungan, dan bertukar ide tentang strategi pengajaran yang efektif. Interaksi semacam ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan guru, tetapi juga menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas (OECD, 2. Di SLBS YPAB Mare belum memiliki komunitas belajar formal, sementara di SLBS Amanah sudah memiliki komunitas belajar (KOMBEL) yang dibuktikan dengan adanya Surat Keputusan (SK) Kepala Sekolah. Akan tetapi, semua tenaga pendidik dari kedua sekolah ini telah bergabung di Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB Wilayah V Bone. Soppeng, dan Wajo. Ikatan Guru Pendidikan Khusus Indonesia (IGPKhI) Wilayah Bone, dan Ikatan Guru Pendidikan Khusus Indonesia (IGPKhI) Provinsi Sulawesi Selatan. Pemberian insentif, penghargaan, dan pengakuan atas prestasi dan dedikasi guru dapat meningkatkan semangat dan komitmen mereka dalam menjalankan tugas. Program penghargaan yang adil dan transparan tidak hanya akan meningkatkan motivasi, tetapi juga dapat menarik lebih banyak individu berkualitas untuk bergabung dan bertahan dalam profesi ini (Hariyanto, 2. Kurikulum yang fleksibel dan adaptif merupakan kunci utama dalam memenuhi kebutuhan beragam peserta didik, terutama di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB). Kurikulum jenis ini dirancang untuk menyesuaikan dengan kemampuan, minat, dan kebutuhan khusus setiap peserta didik, memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang bermakna dan relevan. Di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah selalu mengadakan evaluasi dan revisi kurikulum operasional satuan pendidikan di setiap tahun ajaran baru agar kurikulum ini menyesuaikan metode pengajaran dan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik. Kurikulum ini juga diharapkan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 174 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. dapat diintegrasikan kepada semua kekhususan/ketunaan peserta didik agar mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berpartisipasi (Mulyasa, 2. Faktor Penghambat Penelitian ini mengungkapkan bahwa pengembangan profesionalisme guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah menghadapi berbagai faktor penghambat yang cukup Faktor-faktor tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, tetapi juga dengan kurangnya dukungan dari berbagai pihak dan tantangan yang melekat pada profesi guru SLB itu sendiri. Faktor-faktor penghambat tersebut antara lain minimnya dukungan finansial, keterbatasan pelatihan khusus, kurangnya tenaga ahli dan pendamping, sarana dan prasarana yang kurang memadai, kendala administrasi yang tinggi, perlunya pengetahuan multidisiplin, kurangnya motivasi dan dukungan psikologis, kebijakan yang kurang mendukung pendidikan khusus, serta pandangan sosial dan apresiasi yang rendah terhadap profesi guru SLB. Keterbatasan dana menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam pengembangan profesionalisme guru di SLB. Guru-guru sering mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana untuk mengikuti pelatihan khusus, membeli alat bantu pengajaran, atau mengikuti kegiatan pengembangan profesional lainnya. Hal ini berdampak pada kesempatan guru untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuannya (Kompri, 2. Rendahnya upah/gaji yang diterima juga menjadi faktor penghambat bagi guru untuk meningkatkan kualifikasi akademik dan profesionalnya. Banyak guru yang enggan untuk melanjutkan studi atau mengikuti program sertifikasi guru karena terkendala biaya. Guru-guru di SLB YPAB Mare dan SLBS Amanah mengalami kendala dalam mendapatkan dukungan dari tenaga ahli, seperti psikolog dan terapis. Padahal, kehadiran tenaga ahli tersebut sangat penting dalam membantu guru untuk memahami kondisi dan kebutuhan peserta didik, menyusun program pembelajaran individual, dan melakukan intervensi yang tepat. Ketersediaan tenaga ahli yang memadai akan sangat membantu guru dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran dan mengatasi berbagai tantangan dalam mengajar peserta didik berkebutuhan khusus (Suyanto, 2. Faktor-faktor penghambat tersebut menunjukkan bahwa pengembangan profesionalisme guru di SLB memerlukan perhatian dan dukungan yang lebih besar dari berbagai pihak. Pemerintah, dinas pendidikan, sekolah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan profesionalisme guru SLB. Dengan mengatasi faktor-faktor penghambat tersebut, diharapkan guru-guru di SLB dapat terus meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi peserta didik berkebutuhan khusus. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pengembangan profesionalisme guru di SLBS YPAB Mare menunjukkan dari ke tiga belas bentuk program pengembangan profesionalisme guru hanya ada sembilan program yang berjalanan dengan baik di sekolah ini yakni program penyetaran dan sertifikasi, program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi, program pemberdayaan MGMP/KKG. Lokakarya/workshop, seminar dan simposium guru, membaca jurnal, atau karya ilmiah, berpartisispasi dalam pertemuan ilmiah, mengikuti berita actual dari media pemberitaan, berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi, dan menggalang Kerjasama dengan teman sejawat. Sementara untuk program peningkatan kualifikasi guru atau program studi lanjut, program supervisi pendidikan program tradisional lainnya seperti CTL. PTK penulisan karya ilmiah dan magang di sekolah ini masih terbatas. Sementara itu gambaran pengembangan profesionalisme guru di SLBS Amanah menunjukkan bahwa dari ke tiga belas program pengembangan profesionalisme guru tersebut sekolah ini hanya partisipasi aktif dalam dua belas program pengembangan profesionalisme, baik yang Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 175 PEDAGOGIKA Volume 16 (Nomor . 2025 HaL. bersifat modern maupun tradisional. Program modern yang diikuti antara lain pelatihan khusus, pemanfaatan fasilitas dan sumber daya yang tersedia, serta keikutsertaan dalam komunitas pembelajaran seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Ikatan Guru Pendidikan Khusus Indonesia (IGPKhI). Sementara itu, program tradisional seperti Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dan penulisan karya ilmiah belum diterapkan. Meskipun menunjukkan antusiasme dalam program pengembangan profesionalisme, partisipasi guru dalam program magang dan studi banding masih terbatas. Terdapat faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pengembangan profesionalisme guru di SLBS YPAB Mare dan SLBS Amanah Kabupaten Bone, beberapa faktor yang mendukung pengembangan profesionalisme guru di kedua SLB ini antara lain pelatihan khusus yang berkelanjutan, fasilitas dan sumber daya yang memadai . eskipun dengan beberapa keterbatasa. , dukungan administratif dari manajemen sekolah, komunitas pembelajaran atau kelompok diskusi, motivasi dan penghargaan bagi guru, serta kurikulum yang dinamis. Di sisi lain, terdapat beberapa faktor yang menghambat pengembangan profesionalisme guru di kedua SLB tersebut. Faktor-faktor penghambat tersebut antara lain minimnya dukungan finansial, keterbatasan pelatihan khusus yang relevan dengan kebutuhan guru SLB, kurangnya tenaga ahli dan pendamping, sarana dan prasarana yang masih kurang memadai, kendala administrasi yang tinggi, kebutuhan akan pengetahuan multidisiplin, kurangnya motivasi dan dukungan psikologis, kebijakan yang kurang mendukung pendidikan khusus, serta pandangan sosial dan apresiasi yang rendah terhadap profesi guru SLB. REFERENSI