KASUS ABSES RONGGA MULUT PADA KUNJUNGAN PASIEN DI UPTD PUSKESMAS TABANAN II PERIODE DESEMBER 2023 - FEBRUARI 2024 I Nyoman Panji Triadnya Palgunadi. Nisrina Khansa Salsabila Aritonang. Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Masyarakat. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Email : khansaaritonang@gmail. ABSTRAK Abses adalah kumpulan nanah yang terletak di dalam kantung yang terbentuk di jaringan yang disebabkan oleh proses infeksi bakteri, parasit, atau benda asing lainnya. Keterlibatan bakteri pada jaringan periapikal tentunya mengundang respon inflamasi untuk datang pada jaringan yang terinfeksi, hal ini dikarenakan kondisi inang yang kurang baik, dan virulensi bakteri yang cukup tinggi maka akan menimbulkan kondisi abses. Upaya menurunkan kasus abses rongga mulut dapat dilakukan dengan insisi dan drainase, pemberian antibiotik dan analgesik serta menghilangkan faktor etiologi. Tujuan dari prosedur sayatan dan drainase adalah untuk mencegah perluasan abses atau infeksi ke jaringan lain, mengurangi rasa sakit, mengurangi jumlah populasi mikroba dan toksinnya, meningkatkan vaskularisasi jaringan sehingga tubuh lebih mampu mengatasi infeksi yang dan memberikan antibiotik dengan lebih efektif dan mencegah timbulnya jaringan parut di sepanjang drainase abses secara spontan. Berdasarkan hasil, prevalensi abses rongga mulut yang terjadi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabanan II selama bulan Desember 2023 hingga Februari 2024 adalah sebesar 0,24%. Bulan Desember 2023 sebesar 0,06%, bulan Januari 2024 sebesar 0,14%, dan bulan Februari 2024 sebesar 0,04%. Sehingga prevalensi abses rongga mulut bulan Desember 2023 sampai Februari 2024 mengalami peningkatan pada bulan Januari 2024 dan menurun pada bulan Februari Kata kunci : Abses. Prevalensi. Puskesmas Tabanan II PENDAHULUAN Manusia biasanya hidup berdampingan secara mutualistik dengan mikrobiota rongga mulut. Gigi dan mukosa yang utuh merupakan pertahanan yang pertama yang hampir tidak tertembus apabila sistem kekebalan hopes dan pertahanan seluler berfungsi dengan baik. Apabila sifat mikroflora berubah baik kualitas maupun kuantitasnya, mukosa mulut dan pulpa gigi terpenetrasi, sistem kekebalan serta sistem pertahanan seluler terganggu maka infeksi dapat terjadi. Infeksi bisa juga terjadi apabila keseimbangan mikroflora berubah yang memugkinkan bakteri resisten mengalami Saliva merupakan komponen yang penting dalam sistem pertahanan rongga mulut, selain memberikan efek self cleansing yang merupakan proses mekanik dalam membersihkan mikroorganisme pada permukaan mukosa mulut, gigi, gingiva dan lidah, saliva juga mempunyai efek anti mikroba karena adanya komponen imun didalam Komponen itu antara lain IgA, lysozim, peroxidase, laktoferin, dan leukosit. Abses adalah kumpulan pus yang terletak dalam satu kantung yang terbentuk dalam jaringan yang disebabkan oleh suatu proses infeksi bakteri, parasit atau benda asing lainnya. Abses merupakan reaksi pertahanan yang bertujuan untuk mencegah agen - agen infeksi menyebab ke bagian tubuh lainnya. Pus adalah kumpulan sel dari jaringan lokal yang mati, sel darah putih, serta penyebab infeksi . ikroorganisme atau benda asin. dalam jumlah besar. Pus memiliki warna putih kekuningan yang berasal dari organisme dan sel darah. Infeksi merupakan proses masuknya mikroorganisme kedalam tubuh. Mikroorganisme tersebut secara perlahan akan menghancurkan inang dan akan terus berkembang biak. Gambar 1. Abses Rongga Mulut Kebiasaan buruk pasien seperti bruxism dapat mengakibatkan trauma oklusi pada periodontal yang sehat dan dapat memicu peningkatan resorbsi dan mobilitas serta berperan sebagai faktor resiko yang dapat memperparah kerusakan jaringan dan periodontitis serta menyebabkan komplikasi berupa abses. Menurut penelitian dari Salim dkk. 2023 tingginya prevalensi abses pada laki laki diduga berhubungan dengan etiologi tersering abses leher dalam yaitu infeksi odontogenik terutama pada perilaku oral hygine yang buruk. Perempuan diketahui lebih rajin dalam menyikat gigi dan melakukan pemeriksaan gigi secara rutin ke dokter gigi dibandingkan laki - laki. Selain itu, adanya kebiasaan hidup yang tidak baik seperti merokok dan minum alkohol juga meningkatkan angka kejadian infeksi pada gigi terhadap laki - laki. Seiring bertambahnya usia, aktivitas proliferasi sel T akan semakin menurun dan jenis kelamin laki - laki cenderung akan menurun lebih cepat dibandingkan Adanya keterlibatan bakteri dalam jaringan periapikal, tentunya mengundang respon inflamasi untuk datang ke jaringan yang terinfeksi tersebut, namun karena kondisi host tidak terlalu baik, dan virulensi bakteri cukup tinggi akan menciptakan kondisi abses. Selain S. mutans yang merusak jaringan yang ada di daerah periapikal. aureus dengan enzim koagulasenya mampu mendeposisi fibrin di sekitar wilayah kerja S. mutans, untuk membentuk sebuah pseudomembran yang terbuat dari jaringan ikat, yang dikenal sebagai membran abses. Membran ini melindungi dari reaksi inflamasi dan terapi antibiotika. Pola penyebaran abses dipengaruhi oleh tiga kondisi yaitu virulensi bakteri, ketahanan jaringan, dan perlekatan otot. Virulensi bakteri yang tinggi mampu menyebabkan bakteri bergerak secara leluasa ke segala arah, ketahanan jaringan sekitar yang tidak baik menyebabkan jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak, sedangkan perlekatan otot mempengaruhi arah gerak pus. Perjalanan pus ini mengalami beberapa kondisi, karena sesuai perjalanannya, dari dalam tulang melalui cancelous bone, pus bergerak menuju ke arah korteks tulang. Tulang yang dalam kondisi hidup dan normal, selalu dilapisi oleh lapisan tipis yang tervaskularisasi dengan baik guna menutrisi tulang dari luar yang disebut periosteum. Memiliki vaskularisasi yang baik ini, maka respon inflamasi juga terjadi ketika pus mulai mencapai korteks dan melakukan eksudasinya dengan melepas komponen inflamasi dan sel plasma ke rongga subperiosteal dengan tujuan menghambat laju pus yang kandungannya berpotensi destruktif tersebu. Menurut Saleh . terdapat macam-macam abses meliputi : Abses periodontal : Terdapat kumpulan pus di sepanjang akar gigi yang disebabkan infeksi jaringan periodontal dan keadaan gigi masih vital. Acute Dentoalveolar Abscess : Terdapat infeksi akut purulen yang berkembang pada bagian apikal gigi pada tulang cancellous. Abses Subperiosteal : hasil akumulasi pus purulen antara periorbita dan lamina papiracea dan penyebab paling umumnya yaitu inflamasi sinus etmoid. Abses Submukosa : Abses ini tepat terletak di bawah mukosa vestibular bukal maupun palatal atau lingual gigi yang menjadi sumber infeksi. Abses Fosacanina : salah satunya infeksi odontogenik yang terletak di ruang kecil antara elevator labii superior otot levator anguli oris. Abses Vestibular : Pemeriksaan klinis biasanya memperlihatkan pembengkakan yang terasa sakit dalam vestibulum bukal dekat gigi yang menyebabkan kondisi . Abses pada Pipi : Abses vestibular dari rahang atas, serta dari mandibula, dapat menyebar ke jaringan lunak pipi. Abses Mental : Akumulasi pus pada regio anterior mandibula, mendekati tulang, lebih tepatnya pada muskulus mentalis, dengan penyebaran infeksi melalui symphysis menti. Abses Sublingual : abses yang terbentuk pada spasia sublingual di atas musculus mylohyoid kanan atau kiri. Abses Submandibula : peradangan pada area submandibula yang disertai pembentukan pus. Abses submandibula dapat terjadi pada rongga atau ruang yang ada di dalam tubuh, antara lain ruang submandibula, peritonsil, parafaring, retrofaring, submental, parotid, viseral anterior, karotid, dan masseter. Cellulitis : kondisi inflamasi difus akut yang menginfiltrasi jaringan ikat longgar di bawah kulit. LudwigAos Angina (Phlegmo. : infeksi cellular akut yang secara bilateral melibatkan ruang submandibular, sublingual, dan submental serta dapat berakibat fatal ditidak dilakukan perawatan. METODE Penelitian ini berjenis penelitian deskriptif dengan menggunakan data yang diambil dari buku daftar pasien di poli gigi UPTD Puskesmas Tabanan II. Data yang dikumpulkan sudah dikategorikan berdasarkan masing - masing kasus yang ditangani di poli gigi UPTD Puskesmas Tabanan II selama periode Desember 2023 - Februari 2024. Populasi penelitian ini adalah seluruh jumlah penduduk di Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan. Provinsi Bali sejumlah 20. 637 jiwa. Sedangkan sampel pada penelitian ini didapatkan melalui data sekunder jumlah kasus abses rongga mulut di poli gigi UPTD Puskesmas Tabanan II selama periode bulan Desember 2023 hingga Februari HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Kasus Abses Rongga Mulut di Poli Gigi UPTD Puskesmas Tabanan II Tabel 4. 1 Jumlah Kasus Abses Rongga Mulut di Poli Gigi UPTD Puskesmas Tabanan II Bulan/Tahun Jumlah Abses Rongga Mulut Desember 2023 Januari 2024 Februari 2024 Total Jumlah Kasus Abses Rongga Mulut Desember 2023 Januari 2024 Februari 2024 Gambar 2. Jumlah Kasus Abses Rongga Mulut diPoli Gigi UPTD Puskesmas Tabanan Berdasarkan Tabel 4. 1 dan Gambar 4. 1 dapat dilihat bahwa kasus abses rongga mulut di UPTD Puskesmas Tabanan II sebanyak 51 kasus dari total 20. 637 jumlah penduduk selama Desember 2023 - Februari 2023. Sehingga prevalensi yang di dapatkan Dari hasil perhitungan epidemiologi di dapatkan prevalensi abses rongga mulut yang telah dirawat di UPTD Puskesmas Tabanan II sebanyak 0,24%. Prevalensi Abses Rongga Mulut di UPTD Puskesmas Tabanan II Prevalensi abses rongga mulut pada wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabanan II merupakan proporsi pasien yang mengalami abses rongga mulut dari suatu populasi pada wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabanan II. Pada kasus ini mengambil kurun waktu 3 bulan dari bulan Desember 2023 hingga bulan Februari 2024. Hasil perhitungan prevalensi abses rongga mulut sebesar 0,24%. Pada bulan Desember tahun 2023 didapatkan hasil sebesar 0,06%, pada bulan Januari tahun 2024 di dapatkan hasil 0,14%, dan pada bulan Februari tahun 2024 di dapatkan hasil 0,04%. Sehingga dapat dilihat prevalensi abses rongga mulut dari bulan Desember tahun 2023 sampai bulan Februari tahun 2024 mengalami kenaikan pada bulan Januari 2024 dan penurunan pada bulan Februari 2024. Berdasarkan dari segi epidemiologi tingginya angka abses rongga mulut di UPTD Puskesmas Tabanan II terjadi berkaitan dengan ketidakseimbangan interaksi antara faktor host, faktor agent . , dan faktor lingkungan. Gangguan keseimbangan yang memungkinkan terjadinya penyakit berkaitan dengan host yang rentan, terpaparnya oleh faktor agent yang potensial beresiko dan perubahan lingkungan yang mendukung keterpaparan oleh agent dan host yang semakin rentan terkena penyakit. Menurut Aryani. dkk 2022 abses adalah kumpulan pus yan terisolasi dibawah dermis dan jaringan kulit yang lebih dalam, ditimbulkan oleh infeksi dari bakteri, parasit, atau benda asing lainnya. Infeksi ini dapat terjadi akibat perubahan kualitas dan kuantitas mikroflora alami rongga mulut atau masuknya patogen dari luar tubuh melalui jejas yang didapat di rongga mulut. Abses merupakan rongga patologis yang berisi pus yang disebabkan oleh infeksi bakteri campuran. Bakteri yang berperan dalam proses pembentukan abses yaitu Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Staphylococcus aureus dalam proses ini memiliki enzim aktif yang disebut koagulase yang fungsinya untuk mendeposisi Sedangkan Streptococcus mutans memiliki 3 enzim utama yang berperan dalam penyebaran infeksi gigi, yaitu streptokinase, streptodornase, dan hyaluronidase. Dilihat dari kunjungan pasien ke UPTD Puskesmas Tabanan II dengan kasus penyakit abses rongga mulut, hal tersebut dapat disebabkan oleh tingkat pendidikan masyarakat yang terbilang rendah. Pendidikan yang masih rendah dapat mempengaruhi kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut. Beberapa keadaan yang dapat mendorong masyarakat untuk berkunjung ke poli gigi UPTD Puskesmas Tabanan II adalah gigi berlubang yang tidak di obati, hal tersebut dapat menyebabkan rasa sakit yang menjalar ke gusi, adanya karang gigi yang menumpuk dan lama tidak dibersihkan atau keadaan gigi goyang yang menyebabkan keluhan pada masyarakat, dan adanya bau mulut yang tidak sedap dari penderita. Maka dari itu, hal tersebut yang mendorong masyarakat untuk berkunjung ke poli gigi UPTD Puskesmas Tabanan II sehingga menambah angka kejadian terjadinya abses rongga mulut. Abses terbentuk dari flora normal yang berkembang di dalam tubuh. Lokasi abses dapat diprediksi berdasarkan kekhasan dari flora normal di setiap bagian tubuh. Menurut etiologi abses dibagi menjadi dua yaitu abses yang berhubungan dengan periodontitis dan tidak berhubungan dengan periodontitis. Penyebab abses yang berhubungan dengan periodontitis adalah adanya poket periodontal yang salam dan berliku, penutupan marginal poket periodontal yang dapat mengakibatkan perluasan infeksi ke jaringan periodontal sekitarnya karena tekanan pus di dalam poket tertutup, sedangkan abses tidak berhubungan dengan periodontitis karena abses dapat disebabkan oleh impaksi dari benda asing seperti potongan dental floss, biji popcorn, potongan tusuk gigi, tulang ikan, atau objek yang tidak diketahui, perforasi dari dinding gigi oleh instrumen endodontik infeksi lateral kista, faktor - faktor lokal yang mempengaruhi morfologi akar dapat menjadi predisposisi pembentukan abses. Adanya cervical cemental tears dapat memicu pekembangan yang cepat dari periodontitis dan perkembangan abses. Pencegahan untuk menekan penyebaran abses rongga mulut pada UPTD Puskesmas Tabanan II adalah meningkatkan usaha promotif, preventif, dan kuratif pada masyarakat yang berada pada wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabanan II. Memberikan penyuluhan yang menarik dan menekankan masyarkat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pada saat berkunjung ke poli gigi, dokter gigi dan perawat gigi diharapkan dapat memberikan DHE (Dental Health Educatio. kepada pasien agar dapat menurunkan persentase abses rongga mulut UPTD Puskesmas Tabanan II. Penatalaksanaan Kasus Abses Rongga Mulut Di Poli Gigi UPTD Puskesmas Tabanan II Gambar 3. Penatalaksanaan Kasus Abses Rongga Mulut Di Poli Gigi UPTD Puskesmas Tabanan II SIMPULAN Abses adalah kumpulan pus yang terletak dalam satu kantung yang terbentuk dalam jaringan yang disebabkan oleh suatu proses infeksi bakteri, parasit atau benda asing Adanya keterlibatan bakteri dalam jaringan periapikal, tentunya mengundang respon inflamasi untuk datang ke jaringan yang terinfeksi tersebut, namun karena kondisi host tidak terlalu baik, dan virulensi bakteri cukup tinggi akan menciptakan kondisi abses. Selain S. mutans yang merusak jaringan yang ada di daerah periapikal. aureus dengan enzim koagulasenya mampu mendeposisi fibrin di sekitar wilayah kerja S. mutans, untuk membentuk sebuah pseudomembran yang terbuat dari jaringan ikat, yang dikenal sebagai membran abses. Hasil perhitungan didapatkan prevalensi abses rongga mulut yang terjadi di wilayah kerja di UPTD Puskesmas Tabanan II selama periode bulan Desember 2023 hingga bulan Februari 2024 yaitu sebanyak 0,24%. Penatalaksanaan abses rongga mulut dapat dilakukan dengan insisi dan drainase, peresepan obat antibiotik dan analgesik serta eliminasi faktor etiologi. DAFTAR PUSTAKA