Hamdani. Pengendalian Kualitas Dengan Menggunakan Metode Seven ToolsA ISSN: 2460-8114 . 2656-6168 . Pengendalian Kualitas Dengan Menggunakan Metode Seven Tools Pada PT X Deni Hamdani STIE Ekuitas Bandung Deni. hamdani@ekuitas. Abstract This research seeks to examine the process of evaluating and improving production quality standards. X, which is engaged in convection, was chosen as the context for this research. The analysis is based on the application of seven tools consisting of flow charts, check sheets, histograms, control charts, scatter diagrams, fishbone diagrams and Pareto diagrams. Based on the results of the analysis of the data that has been collected, the results show that the 4 types of defects obtained on the check sheet are stitching defects, screen printing color defects, inappropriate patterns and charred defects. Of the four types of defects, the highest percentage is charred defects. Based on the analysis of the U Chart of the number of nonconformities, there are no points that cross the limits, either the limit or the lower limit, this means that the level of non-conformance of defective products in PT X is still normal and can still be controlled. With the level of incompatibility of defective products in the company that can still be controlled by the company, the company does not have to improve the level of nonconformity of defective products in the company because the company can still control the level of product defects so that it does not arrive. Keywords: Check sheet, pareto, chart Abstrak Penelitian ini berupaya untuk menelaah proses evaluasi dan peningkatan standar kualitas produksi. PT X yang bergerak di bidang konveksi dipilih sebagai konteks pada penelitian ini. Analisis didasarkan pada aplikasi seven tools yang terdiri dari flow chart, check sheet, histogram, control chart, scatter diagram, fishbone diagram dan diagram pareto. Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang berhasil dihimpun diperoleh hasil bahwa 4 jenis kecacatan yang diperoleh pada check sheet adalah cacat jahitan, cacat warna sablon, pola tidak sesuai dan juga cacat gosong. Dari keempat jenis kecacatan, yang paling tinggi presentasenya yaitu Cacat gosong. Berdasarkan analisis atas U Chart of jumlah ketidaksesuaian tidak terdapat titik-titik yang melewati batas baik batas atau maupun batas bawah, ini berarti bahwa tingkat ketidaksesuaian produk cacat di perusahaan PT X masih normal dan masih dapat dikendalikan. Dengan tingkat keridaksesuaian produk cacat diperusahaan tersebut yang masih dapat dikendalikan oleh pihak perusahaan, maka perusahaan tidak harus memperbaiki tingkat ketidaksesuaian produk cacat diperusahaan tersebut karena pihak perusahaan masih dapat mengendalikan tingkat kecacatan produknya sehingga tidak sampai. Pendahuluan Produk cacat yang terjadi di PT. X tidaklah menentu dan bersifat fluktuatif. Ini dikarenakan produk cacat terjadi karena beberapa faktor yang menyebabkan produk tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Faktor-faktor tersebut biasanya terjadi pada proses produksi yang dikerjakan PT. Dalam proses produksi tersebut biasanya ada kegiatan yang tidak sesuai dengan prosedur sehingga hasil akhir dari proses tersebut mengalami cacat. Oleh karena itu. PT. X harus benar-benar mengerti apa yang diinginkan dari spesifikasi konsumen dan mengetahui sejauh mana mesin produksi mereka dapat memenuhi spesifikasi konsumen tersebut. Pada Tabel 1 disajikan data perbandingan total produksi dan jumlah produksi yang cacat pada PT. Dari data jumlah produksi, data perbandingan total produksi dan jumlah produksi yang cacat pada PT. X dapat dilihat pada table 1. Berdasarkan data diatas. PT. X setiap bulannya mengalami pemborosan dikarenakan adanya produk cacat yang menyebabkan kerugian pada perusahaan. Standar toleransi yang ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 4% perbulan, namun pada kenyataannya masih banyak produk cacat yang setiap bulannya melampaui batas toleransi perusahaan. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian kualitas yang lebih efektif pada perusahaan PT. X guna mengurangi kuantitas sehingga mampu mencapai standar atau batas toleransi yang ditetapkan oleh Kegiatan pengendalian kualitas tersebut dapat dimulai dengan menganalisis masalah mengapa dapat terjadi produk cacat tersebut dengan menggunakan metode Seven Tools. Dari uraian latar belakang yang dipaparkan, rumusan masalah dari penelitian ini adalah: AuBagaimana implementasi pengendalian kualitas Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol 6. No. 3 Desember 2020: 139-143 Tabel 1. Jumlah Produksi Cacat Periode Januari Ae Agustus 2019 Jenis Cacat Periode Jumlah Produksi Jumlah Ditolak Gosong Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Jumlah Rata-Rata Warna Sablon Pola Tidak Sesuai 68,45 Salah Jahitan 40,95 4,6% 8,1% 4,5% 5,6% 5,7% 10,4% 5,2% 5,8% 6,1% 10,9% 6,7% 7,3% 10,3% 136,2% 6,81% Sumber : Data Produksi PT. X Periode 2019 dengan menggunakan metode seventoolsAu. Penelitian ini didasarkan pada data dan informasi serta penggunaan seven tools di PT X. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu perusahaan dalam mengevaluasi dan memperbaiki standar kualitas yang sudah ditetapkan perusahaan. Kajian Pustaka Menurut Zulian Yamit . keberhasilan organisasi untuk menjadikan manajemen kualitas sebagai unggulan daya saing harus memiliki empat kriteria persyaratan. Pertama, manajemen kualitas harus didasari oleh kesadaran akan kualitas dan dalam semua kegiatan harus selalu berorientasi pada kualitas, baik proses maupun produk. Kedua, manajemen kualitas harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dengan memberlakukan, mengikutsertakan dan memberi inspirasi kepada karyawan. Ketiga, manajemen kualitas harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan wewenang disemua tingkat, terutama pada garis depan sehingga antusiasme keterlibatan karyawan untuk mencapai tujuan bersama menjadi kenyataan, bukan hanya slogan kosong. Keempat, manajemen kualitas harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip dan kebijakasanaan dapat mencapai setiap tingkat dalam organisasi. Pengendalian Kualitas Pengendalian kualitas dalam perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur perlu dilakukan. Ini bertujuan untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki kualitas yang baik guna memenuhi kepuasan dari para konsumennya. Serta juga dapat memperbaiki kualitas dari produk-produk sebelumnya. Selain itu, bisa juga untuk tetap mempertahankan kualitas yang sudah memenuhi standar dari perusahaan. Terdapat beberapa pengendalian kualitas yang di paparkan oleh para ahli. Pengendalian kualitas pada perusahaan dapat dilakukan dengan teknik atau tahapan yang berbeda -beda. Untuk memperoleh hasil pengendalian kualitas yang efektif, maka pengendalian terhadap kualitas suatu produk dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik-teknik pengendalian kualitas, karena tidak semua hasil produksi akan sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Mesin, tenaga kerja dan fasilitas lainnya yang dipakai dalam proses produksi harus juga diawasi sesuai dengan standar kebutuhan. Apabila terjadi penyimpangan, harus segera dilakukan koreksi agar produk yang dihasilkan memenuhi standar yang direncanakan. Pada dasarnya terdapat 7 alat yang biasa disebut seven quality control tools yang dapat dipergunakan dalam pengendalian kualitas yaitu Hamdani. Pengendalian Kualitas Dengan Menggunakan Metode Seven ToolsA ISSN: 2460-8114 . 2656-6168 . Lembar Periksa (Check shee. Grafik. Pemisahan Masalah (Stratifikas. Peta Kendali. Diagram Pencar. Diagram Pareto. Diagram Sebab Ae Akibat. Berdasarkan pengertian tersebut dapaat disimpulkan bahwa seven tools adalah tujuh alat yang terdiri dari flow chart, check sheet, histogram, control chart, scatter diagram, fishbone diagram dan diagram pareto, yang digunakan untuk mengidentifikasi dan meganalisis permasalahan kualitas, pemecahan masalah, dan perbaikan proses. Flow Chart Menurut penelitian Haming dan Nurnajamuddin . bagan arus proses . rocess flow char. merupakan gambar yang menjelaskan langkahlangkah utama, cabang-cabang, dan keluaran nyata dari suatu proses. Sedangkan menurut Heizer dan Render . flow chart atau diagram alur adalah diagram yang menggambarkan langkah dalam sebuah proses. Secara grafik menyajikan sebuah proses atau sistem dengan menggunakan kotak bernotasi dan garis yang berhubungan. Check Sheet Menurut Heizer dan Render . Check Sheet adalah suatu formulir yang didesain untuk mencatat Pencatatan dilakukan sehingga pada saat data diambil pola dapat dilihat dengan mudah. Lembar pengecekan membantu analisis menentukan fakta atau pola yang mungkin dapat membantu analisis Histogram Menurut Bounds . alam Nasution 2015:. Histogram adalah alat untuk menunjukkan variasi data pengukuran, seperti berat badan sekelompok orang, tebal plat besi, dan sebagainya. Seperti halnya dengan pareto charl, histogram berbentuk bar graph yang menunjukan distribusi frekuensi. Tetapi, histogram berbeda dengan pareto chart karena bar graph tidak digambar menurun dari kiri ke Histogram menunjukan data pengukuran, seperti berat, temperature, tinggi, dan sebaginya. Dengan cara demikian, histogram dapat digunakan untuk menunjukan variasi setiap proses (Nasution 2015:. Scatter Diagram Menurut Hunt . alam Nasution 2015:. Scatter diagram adalah gambaran yang menunjukkan kemungkinan hubungan . antara pasangan dua macam variabel. Walaupun terdapat hubungan, namun tidak berarti bahwa satu variabel menyebabkan timbulnya variabel lain. Diagram ini menjelaskan adanya hubungan antara dua variabel dan menunjukan keeratan hubungan tersebut yang diwujudkan sebagai koefisien korelasi. Fishbone Diagram Heizer dan Render . Diagram Sebab Akibat juga dikenal sebagai diagram Ishikawa dan Fishbone diagram karena bentuknya menyerupai tulang ikan. Dimana setiap tulang mewakili kemungkinan sumber kesalahan. Diagram ini berguna untuk memperlihatkan faktor-faktor utama yang berpengaruh pada kualitas. Faktor-faktor penyebab utama ini dapat dikelompokkan antara lain: Bahan baku (Materia. Mesin (Machin. Tenaga Kerja (Ma. Metode (Metho. serta Lingkungan (Environmen. Metode Penelitian Menurut Zulian Yamit . keberhasilan organisasi untuk menjadikan manajemen kualitas sebagai unggulan daya saing harus memiliki empat kriteria persyaratan. Pertama, manajemen kualitas harus didasari oleh kesadaran akan kualitas dan dalam semua kegiatan harus selalu berorientasi pada kualitas, baik proses maupun produk. Kedua, manajemen kualitas harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dengan memberlakukan, mengikutsertakan dan memberi inspirasi kepada karyawan. Ketiga, manajemen kualitas harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan wewenang disemua tingkat, terutama pada garis depan sehingga antusiasme keterlibatan karyawan untuk mencapai tujuan bersama menjadi kenyataan, bukan hanya slogan kosong. Keempat, manajemen kualitas harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip dan kebijakasanaan dapat mencapai setiap tingkat dalam organisasi. Pengendalian kualitas dalam perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur perlu dilakukan. Ini bertujuan untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki kualitas yang baik guna memenuhi kepuasan dari para konsumennya. Serta juga dapat memperbaiki kualitas dari produk-produk sebelumnya. Selain itu, bisa juga untuk tetap mempertahankan kualitas yang sudah memenuhi standar dari perusahaan. Terdapat beberapa pengendalian kualitas yang di paparkan oleh para ahli. Pengendalian kualitas pada perusahaan dapat dilakukan dengan teknik atau tahapan yang berbeda -beda. Untuk memperoleh hasil pengendalian kualitas yang efektif, maka pengendalian terhadap kualitas suatu produk dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik-teknik pengendalian kualitas, karena tidak semua hasil produksi akan sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Mesin, tenaga kerja dan fasilitas lainnya yang dipakai dalam proses produksi harus juga diawasi sesuai dengan standar kebutuhan. Apabila terjadi penyimpangan, harus segera dilakukan koreksi agar produk yang dihasilkan memenuhi standar yang direncanakan. Pada dasarnya terdapat 7 alat yang biasa disebut seven quality control tools yang dapat dipergunakan dalam pengendalian kualitas yaitu Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol 6. No. 3 Desember 2020: 139-143 Lembar Periksa (Check shee. Grafik. Pemisahan Masalah (Stratifikas. Peta Kendali. Diagram Pencar. Diagram Pareto, dan Diagram Sebab Ae Akibat. Berdasarkan pengertian di atas maka dapaat disimpulkan bahwa seven tools adalah tujuh alat yang terdiri dari flow chart, check sheet, histogram, control chart, scatter diagram, fishbone diagram dan diagram pareto. Ke tujuh instrumen tersebut digunakan untuk mengidentifikasi dan meganalisis permasalahan kualitas, pemecahan masalah, dan perbaikan proses. Hasil Penelitian Dan Pembahasan Pada perusahaan PT X terdapat beberapa permasalahan yang dapat menyebabkan produk yang dihasilkan mengalami kecacatan. Bagitu juga yang terjadi pada perusahaan PT X, terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan produk mengalami kecacatan,baik pada saat proses produksi maupun karena hal lain sehingga dapat menyebabkan produk mengalami kecacatan. Di bawah ini merupakan tahapan-tahapan produksi di perusahaan PT Diagram paretto produk rusak perusahaan PT X periode Januari 2018 - Agustus 2019 diolah Sumber : Output Minitab data PT. Gambar 1. Pareto chart produk ditolak menggunakan Minitab. Dalam tabel check sheet total jumlah produk yang dihasilkan perusahaan PT X pada periode tersebut adalah sebanyak 85. 996 produk dengan 4 jenis kecacatan yang diperoleh pada check sheet yaitu cacat jahitan, cacat warna sablon, pola tidak sesuai dan juga cacat gosong dengan presentase kerusakan 135,5% dari total kerusakan sebanyak 716 dan jumlah produksi sebanyak 85. 996 unit. Presentase kerusakan tertinggi yaitu pada bulan Januari 2019 dimana kerusakan yang terjadi yaitu sebesar 10,9% yaitu sebanyak 398 unit dari total Sumber : Output Minitab data PT. Gambar 2. NP chart jumlah ditolak produksi sebanyak 3. Sedangkan presentase kerusakan paling rendah yaitu terjadi pada bulan April yaitu sebanyak 4,5% yaitu sebanyak 194 dari total produksi sebanyak 4279 unit. Dilihat dari diagram paretto, dari keempat jenis kecacatan, yang paling tinggi presentasenya yaitu Cacat gosong. Cacat gosong mencapai angka 33. 88% dan itu merupakan jumlah presentase tertinggi dari semua jenis cacat karena tidak ada yang menginjak angka 30% selain cacat gosong. Selain itu tingkat kecacatan yang kedua yaitu dari warna sablon yang menginjak angka 28. 11%, sedangkan untuk pola yaitu menginjak angka 23,78, dan yang terakhir cacat jahitan yaitu sebesar 14. Pada gambar 2. NP Chart jumlah di tolak, terdapat beberapa titik yang melewati batas garis baik bagian bawah maupun atas, itu berarti terdapat hal yang harus diperbaiki oleh pihak perusahaan pada saat proses produksi berlangsung. Jumlah ketidaksesuaian di perusahaan PT X tidak terdapat titik-titik yang melewati batas baik batas atau maupun batas bawah, ini berarti bahwa tingkat ketidaksesuaian produk cacat di perusahaan PT X masih normal dan masih dapat dikendalikan. Dengan tingkat keridaksesuaian produk cacat diperusahaan tersebut yang masih dapat dikendalikan oleh pihak perusahaan, maka perusahaan tidak harus memperbaiki tingkat ketidaksesuaian produk cacat diperusahaan tersebut karena pihak perusahaan masih dapat mengendalikan tingkat kecacatan produknya sehingga tidak sampai. Hamdani. Pengendalian Kualitas Dengan Menggunakan Metode Seven ToolsA ISSN: 2460-8114 . 2656-6168 . Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan telaah atas 85. 996 produk, dapat diidentifikasi 4 jenis kecacatan yang diperoleh pada check sheet yaitu cacat jahitan, cacat warna sablon, pola tidak sesuai dan juga cacat gosong dengan presentase kerusakan 135,5% dari total kerusakan sebanyak 5. 716 dan jumlah produksi 996 unit. Presentase kerusakan tertinggi yaitu pada bulan Januari 2019 dimana kerusakan yang terjadi yaitu sebesar 10,9% yaitu sebanyak 398 unit dari total produksi sebanyak Sedangkan presentase kerusakan paling rendah yaitu terjadi pada bulan April yaitu sebanyak 4,5% yaitu sebanyak 194 dari total produksi sebanyak 4279 unit. Dilihat dari diagram paretto, dari keempat jenis kecacatan, yang paling tinggi presentasenya yaitu Cacat gosong. Cacat gosong mencapai angka 33. 88% dan itu merupakan jumlah presentase tertinggi dari semua jenis cacat karena tidak ada yang menginjak angka 30% selain cacat Selain itu tingkat kecacatan yang kedua yaitu dari warna sablon yang menginjak angka 11%, sedangkan untuk pola yaitu menginjak angka 23,78, dan yang terakhir cacat jahitan yaitu Saran