Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. WACANA RADIKALISME ISLAM DI TENGAH PERSPEKTIF OKSIDENTALISM DAN POSKOLONIALISM Gigih Wahyu Pratomo IAIN KEDIRI Email: gihwahyu@iainkediri. Info Artikel Submit : 11 September 2024 Revisi : 12 September 2024 Diterima : 14 September 2024 Publis : 17 September 2024 Abstrak Secara garis besar, pokok masalah orientalism adalah pada kerangka metodologis keilmuwan barat, mereka berusaha mendoktrinasi perspektifnya kepada kaum timur supaya pandangannya lebih diterima, bahkan lebih dari itu mereka juga percaya bahwa ternyata kaum timur mereka aggab telah menyepakati pandangannya, sebab masih minimnya metodologi pengetahuan orang timur yang diangab belum bisa atau mampu untuk membantah dari hasil kajian dan teori barat tersebut. Menggunakan metode kajian pustaka kita bisa melihat dimana letak dasar singkronisasi dan awal mula terjadinya pembeda dari makna radikalisme. Melalui konsep yang dibangun sebelumnya oleh para tokoh keilmuan sebelumnya, maka akan memberikan langkah runut untuk menarasikan letak masalah yang terjadi. Sehingga memunculkan kaidah yang sesuai untuk menjawab persoalan Seiring dengan minimnya wacana tandingan dari Negara Timur terkait radikalisme, kerangka perpektif ilmiah barat seolah menjadi kebenaran atas fakta yang terjadi. Kerangka yang menempatkan alasan radikalisme sebagai perilaku yang keras dan identik dengan karakter dunia Islam sangatlah tidak mendasar secara ilmiah. Bahwasanya upaya mensimbolkan orang-orang timur sebagai manusia yang arogan dan kasar, bahkan tidak suka menerima perbedaan sebagai tindakan radikalisme. Kajian poskolonial dan oksidentalism dapat menjadi pilihan logis untuk membongkar makna radikalisme yang sudah hadir. Secara metodologis dengan meletakkan kembali makna awal radikalisme, bisa didapatkan sebuah gambaran sepihak dominasi wacana radikalisme yang sering kali paradoks, hingga memunculkan kekuatan yang masif dan mendominasi Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 460 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 sebagai efek latency-nya . Kata kunci Radikalisme. Orientalisme. Oksidentalism. Postkolonialisme. Pendahuluan Sekiranya sudah dimulai sejak abad ke 6 M kita di ajak untuk melihat image diri kita sendiri sebagai orang timur melalui kacamata orientalism. Sebaliknya, orang barat juga begitu, mereka kita . rang timu. bicarakan melalui narasi occidentalism. Telah banyak pemikir yang berusaha mendokumentasikan bagaimana hubungan kedua perpsektif tersebut melalui karya-karya pemikirannya. Kita bisa melacak bagaimana perjalanan pemikir barat yang awalnya ingin mempelajari pesona dunia timur, dimana saat itu Yunani dan Romawi pada masa Alexander Agung menguasai Mesir dan kemudian menamakan daerah tersebut dengan nama AuAlexandriaAy, namun setelahnya berubah perpektif saat memahami peradaban Islam di kurun waktu 8-15 M, dimana pada masa itu Islam sedang . menguasai wilayah Andalusia, hingga benar-benar tajam perspektifnya untuk membuat doktrin AupembedaAy melalui label narasi, citra, steretype antara Negara Eropa khususnya Inggris serta Amerika dan sekutunya terhadap Negara Timur. Islam. Ras Kulit hitam, dan kelompok minoritas 1 Dunia Timur dalam citra yang tergambarakan di orientalism terlihat sebagai daerah yang subur dengan mitos-mitos, obsesi-obsesi dan tuntutan-tuntutan pribadi mereka, yang merindukan untuk mendapatkan kenyamanan melalui energi yang mistis. Tergambarkan pula bagaimana para tokoh orientalism mempresentasikan image bangsa Timur dengan posisi yang lemah, bodoh, tidak rasional, bahkan kurang beradab, dan suka dengan hal-hal mistis2, seolah mereka sedang memberikan pesan kepada dunia, bahwa dunia mereka berkebalikan dengan dunia Timur. Padahal yang sebenarnya disebut dengan mistis dan itu diartikan sebagai hal gaib . ang itu artinya tidak bisa dijangkau dengan aka. , maka sangat jelas konsep itu hadir dalam setiap kepercayaan agama-agama, bahkan mitos dewa pun tumbuh subur dan lahir di wilayah Maka, jika toh kemudian mereka lebih bisa mengatur secara nyata administrasi Baca Richard King, 1999. AuAgama Orientalisme dan Poskolonialisme. )Ay. Yogyakarta: Qalam , hlm. Budianta. ,2017. AuCulture, power, and identity: The case of Ang Hien HooAy Malang. Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya. WACANA. Vol. No. 2 hlm. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 461 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 kemajuan dunia melalui legalitas teritorial ilmu dan rasionalitas pengetahuan yang mereka miliki, jelas itu belum bisa menghilangkan sisi metafisik yang sebenarnya juga ada dikehidupan mereka . rang bara. Artinya, pada perspektif ini memang citra kekuatan aktual dunia barat seolah hanya berupa rasionalitas administrasi, yang menjadikan asumsi bahkan orientalism syarat bermuatan kekuasaan politis, sebab anggapan atas kehidupan masyarakat di dunia timur, hanya menjadi imajinasi kepemilikan material sang penulis orientalism saja. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa saat kita menentukan perspektif untuk menganalisa fenomena atau masalah, maka akan muncul suatu standart motodologisnya, yang sebenarnya itu sama saja dengan secara tidak langsung kita diharuskan fokus pada batasan kerangka legal metodologis dari satu logika kerja, dan secara tidak langsung menafikkan metode kerja lainnya. Kondisi ini pula yang digambarkan dalam narasi orientalism, dimana mereka sebenarnya belum secara utuh menyajikan atau menggambarkan dunia timur. Secara garis besar, pokok masalah orientalism adalah pada kerangka metodologis keilmuwan barat, mereka berusaha mendoktrinasi perspektifnya kepada kaum timur supaya pandangannya lebih diterima, bahkan lebih dari itu mereka juga percaya bahwa ternyata kaum timur mereka aggab telah menyepakati pandangannya, sebab masih minimnya metodologi pengetahuan orang timur yang diangab belum bisa atau mampu untuk membantah dari hasil kajian dan teori barat tersebut. Disinilah letak masalahnya, tidak berlebihan jika kemudian mengatakan, bahwasanya menulis Timur . berarti tidak ada ubahnya dengan menjelajahi kawasan-kawasan yang sudah berada dalam kekuatan politis, manajemen politis, dan definisi politis pemikir barat. Dalam memoar Edward Said AuOut of PlaceAy di tahun 1999, dia berusaha menjelaskan betapa telah terjadi penggambaran dunia yang asing dan penuh kontradiktif terhadap duniadunia yang telah menjadi tempat kelahiran dan hidup dia hingga dewasa3. Penggambaran yang mengkaji kebudayaan, gagasan, sejarah, kekuasaan, politik timur tengah, sering menjadi sebuah isyarat untuk dibenturkan dengan peradaban barat melalui justifikasi-justifikasi rasionalitas pengetahuannya, dimana masih jauh dari unsur nilai-nilai kemanusian dan kesetaraan umat manusia. Seperti pernyataannya yang merefleksikan kondisi pertarungan orientalism dengan oksidentalism membawa konsekwensi luar biasa Edward said lahir di Yerusalem pada 1 November 1935 dan besar di Negara Timur diantarnya Palestina. Mesir, dan Libanon, sebelum kemudian pergi ke Amerika, menjadi dosen di Columbia University dan akhirnya meninggal di New York. Amerika pada 25 September 2003. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 462 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Ausaya menegaskan secara bersamaan, bahwa tidak ada satupun dari istilah Timur ataupun konsep barat yang memiliki stabilitas ontologis, masing-masing kedua entitas ini sama-sama dibuat oleh manusia, sebagian dengan mengafirmasi . dan sebagian lagi dengan mengidentifikasi . keberadaan Authe otherAy. Bahwa fiksi-fiksi yang AuagungAy tersebut justru menggiring keduanya dalam manipulasi hasrat kolektif, bisa kita lihat konsekwensinya pada masa sekarang ini, ketika mobilisasi ketakutan, kebencian, kejijikan, dan kebanggaan serta arogansi ysng dimiliki oleh Islam dan Arab disatu sisi dan oleh kita orang-orang barat di sisi yang lain, telah mendarah daging dalam setiap individu masyarakat secara umum4. Ay (E. Said,2. Begitupun juga dengan pandangan Hasan Hanafi melalui bukunya Muqaddimah fi Ilm al-Istighrab, berkeyakinan bahwa orientalisme hanya merupakan alat untuk mempropaganda-kan kepentingan dunia Barat supaya bisa menjadi pusat Aukebudayaan kosmopolitAy dunia. Bahkan pada akhirnya, menurut Hanafi, orientalisme terlihat dijadikan kedok untuk melancarkan motif ekspansi kolonialisme Barat (Erop. terhadap dunia Timur (Isla. Dari sini bisa kita mengerti mengapa Hasan Hanafi lebih berani menggunakan dan mengkonotasikan orientalism sebagai topeng atas invasi Negara barat ke timur. Setidaknya dia mendasarkan hal itu pada bagaimana pengaruh pemikiran Negara barat berhasil menguasai Negara lain, serta fakta sebuah eksploitasi hasil kekayaan alam dari Negara lain terjadi dihasilkan melalui kekuatan politiknya . olitic powe. dan kekuatan militernya . ilitary powe. yang itu ditunjang dengan narasi pengetahuan para intelektualnya 6. Hal yang sama juga diutarakan para pemikir postkolonialism, dimana paradigma mereka bergerak sistematis dan secara tidak langsung menemukan bagaimana dunia ternyata masih diatur berdasarkan sebuah system tata struktur global, yang itu dilegitimasi oleh kekuatan ilmu pengetahuan dari Negara-negara yang dulunya adalah Negara ekspansif atau Bagaimana wacana budaya, narasi konsumtif, perilaku universal, kemandirian ekonomi dari Negara bekas jajahan, yang sebenarnya itu semua masih merupakan duplikasi dari wajah barat, yang sebenarnya mereka lakukan . untuk tetap dapat mempengaharui Negara-negara bekas jajahannya. Walaupun setelah secara terang-terangan Negara jajahan tersebut melakukan perlawanan atas nama kebebasan dan demokrasi terhadap Negara-negara aggressor tersebut di pertengahan abad 207. Bisa kita lihat bagaimana konotasi pemikir orientalism terhadap dunia timur, hingga memunculkan para pemikir timur untuk membuat counter . berupa sebuah gagasan Said. Edward, 2002,AuOut of PlaceAo. Yogyakarta. Jendela, hal 11-12 Hanafi. Hassan, 2000,AyOksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi BaratAy. Jakarta. Paramadina. Buchori. Mannan, 2006. AuMenyingkap Tabir OrientalismeAy. Jakarta: Amzah, hlm. Baca Fauzi. Noer . ,2005. AuGerakan Gerakan Rakyat Dunia KetigaAy. Yogayakarta. Resist Book Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 463 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 perspektif untuk mengkritisi kajian orientalism, dan berusaha membuka dialog melalui halhal yang bersifat dunia barat melalui kerangk oksidentalism. Para pemikir Timur dalam kerangka oksidentalimsm mendeskripsikan corak kehidupan barat mulai soal ekonominya, institusi sosialnya, hingga politiknya, bahkan pada tingkatan bahasa lebih seriusnya adalah Hegemoni dunia barat. Pun demikian pula, para pemikir postkolonial berkembang melalui metode kritiknya terhadap realitas dominasi yang sebenarnya juga masih terjalin antara dunia aggressor kepada Negara wilayah bekas jajahannya, yang juga dilakukan melalui institusi sipil maupun institusi politik . erjanjian antar Negar. dengan desain kekuatan struktur Berangkat dari kondisi tersebut, baik oksidentalism maupun postcolonial mempunyai peran atas dialogis pada wacana dan refleksi pengetahuan orientalsm, maka melalui pertanyaan besar apakah memang ada relasi yang terjadi antara pemikiran Occidentalism dan postcolonial? Jika memang ada dalam hal apa? Dan sejauh sejauh mana perpspektif keduanya menjawab pemikiran orientalism? Bisa menjadi skema berpikir dalam memahami konteks ketiganya dalam berebut narasi ilmu pengetahuan. Metode dan definisi konsep Untuk menjawab persoalan dari fenomena tersebut, langkah yang diambil adalah dengan mengusahakan pemaparan ulang secara definitif pada pemaknaan radikalisme dalam kerangka ilmiah. Melalui metode kajian pustaka kita bisa melihat dimana letak dasar singkronisasi dan awal mula terjadinya pembeda dari makna radikalisme. Melalui konsep yang dibangun sebelumnya oleh para tokoh keilmuan sebelumnya, maka akan memberikan langkah runut untuk menarasikan letak masalah yang terjadi. Sehingga memunculkan kaidah yang sesuai untuk menjawab persoalan tersebut. Sejak awal konsep oksidentalism yang secara epistemologi berasal dari kata 'oksident' yang berarti 'barat'. Sementara 'oksidental' merupakan bentuk kata sifat yang dirujuk pada segala sesuatu yang 'kebarat-baratan', baik dari sisi ideologi, budaya, pemikiran, maupun praktik. Oksidentalisme ini merupakan sebuah kajian ilmu yang mempelajari aspek sosial secara menyeluruh yang berkaitan dengan barat dan peradabannya, seperti kebudayaan. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 464 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 bangsa, ide dan model-model pemikirannya, tingkah lakunya, sudut pandangnya, baik itu di Eropa maupun yang mereka kembangkan di Asia ataupun Afrika 8. Oksidentalisme mengungkapkan fase-fase sejarah Barat yang dimulai dari abad pertengahan . asa dominasi gereja, masa skolastik lama, dan masa skolastik bar. , masa reformasi agama dan kebangkitan . bad 15 dan 16 Maseh. Beberapa tokoh dari oksidentalisme diantaranya dalah Hasan Hanifi. Mohammad Arkun. Iqbal. Nurcholis Madjid. Edward Said. Harun Nasution, muhammad Abduh, dll. Hasan Hanafi sendiri memahami oksidentalisme sebagai sebuah strategi atau sikap Timur-lslam menginvestigasi hal-hal yang berhubungan dengan Barat, baik itu merupakan budaya dan ilmu, ataupun yang berkenaan dengan aspek-aspek sosialnya, sebagai pengimbang dari pemikiran orientalisme. Walaupun secara geografis Barat bisa diidentikkan dengan wilayah yang terdiri dari daratan Eropa secara keseluruhan. Amerika. Kanada, dan Australia, namun ukuran untuk menentukan Barat dalam konteks oksidentalisme, bukanlahlah menitik beratkan pada sisi geografis semata, melainkan lebih dari sisi kebudayaannya. Peradaban Barat yang dimaksud di sini, terutama, meliputi bidang-bidang Pemikiran Barat. Filsafat Barat. Sosiologi Barat. Antropologi Barat. Sejarah Barat. Agama-agama Barat, tradisi-tradisi Barat, mulai dari masa awal perkembangan sampai dengan masa kini10. Sebagai tandingannya, yaitu Timur yang meliputi: Afrika. Cina, dan India beserta segenap bagian-bagian wilayah masing-masing. Dimana masing-masing belahan dunia ini memang memiliki perbedaan-perbedaan secara intenal dan eksternal. Para ahli telah mengemukakan berbagai perbedaan yang substansial/esensial antar keduanya, yang berproses semenjak penghujung abad pertengahan sampai era modern sekarang ini. Dunia Barat sekarang ini menganggap dirinya sebagai pemilik kekuatan yang sangat unggul bahkan merasa sebagai pemilik kekuatan dunia yang sah . ower of legitimat. Melalui kepemilikan bidang ilmu dan teknologi, ekonomi, politik dan kekuasaan, serta persaudaraan dan solidaritas keimanan yang lebih baik dari dunia Timur, dengan berbagai keunggulan yang sangat strategis itu, mereka bahkan dengan mudah memaksakan Daya,Burhanuddi, 2008. AuPergumulan Timur Menyikapi Barat : Dasa Dasar OkidentalismeAy. Yogyakarta. SUKA Press, hal 10 Azwar. Asrudin & Maliki. Musa. AuOksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi Terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional BaratAy. Ibid, hal 8 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 465 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 kehendaknya kepada dunia Timur. Hingga mereka melakukan berbagai invasi kemanusiaan berupa tindakan kekerasan terhadap dunia Timur atas nama perdamaian dunia, seperti: melakukan penyerangan terhadap Afghanistan dan Irak, melakukaan pemecah belahan, seperti diderita oleh Libya, negara-negara Timur Tengah. Asia Tenggara dan lain sebagainya. Sebaliknya Dunia Timur kelihatan semakin lemah dan kemungkinan tidak mampu melepaskan diri dari ketergantungan dunia tehnologi dan pengetahuan dari Barat. Maka, agenda wacana oksidentalisme oleh Hasan Hanafi lebih dimaksudkan sebagai pertama mempertegas posisi ego . ebudayaan masyarakat Timur. Isla. di hadapan the orther . ebudayaan masyarakat Bara. , kedua sebagai upaya menghidupkan kembali semangat agama Islam, ketiga proyek intelektual sebagai upaya penyikapan terhadap realitas kekinian, atau upaya melakukan rekonstruksi tradisi lama berkenaan masyarakat Timur di hadapan kebudayaan Barat melalui sikap kritis terhadap realitas kekinian11. Selanjutnya adalah AupostcolonialAy, perspektif ini muncul dari metode yang dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern, dengan dasar mengacu pada objek sebelum terjadinya kolonialisme. Inti dari pemahaman dan kritik dari postkolonial sesungguhnya bukan dalam bentuk penjajahan secara fisik yang telah melahirkan berbagai kesengsaraan dan penghinaan hakekat kemanusiaan belaka, melainkan juga lebih pada bangunan wacana serta pengetahuan termasuk melalui tatanan bahasabahasa12, yang itu digunakan oleh Negara Kolonial kepada kegara jajahannya. Ciri khas dari poskolonialisme setidaknya dapat dilihat dari empat hal, yaitu: . mengkaji refleksi penjajahan kolonial, . mengkaji refleksi ideologi, . mengkaji hegemoni kekuasaan, dan . mengkaji hegemoni dari aspek gender 13. Pada Kolonialisme memunculkan pandangan bahwa negara- negara Dunia Ketiga sulit bahkan tidak akan bisa maju menandingi bangsa barat, dan hanya negara-negara Dunia Pertama-lah yang mampu menjadi pemimpin atau kiblat peradaban dunia. Ada banyak contoh kolonialisme yang terjadi, seperti penjajahan di daerah India. Australia. Amerika Utara. Aljazair. Brazil yang memang dikuasai oleh bangsa Eropa. Hanafi. Hassan. Ay Oksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi BaratAy. Jakarta: Paramadina. Ashcroft. Bill, dkk, 2003. AuMenelanjangi Kuasa Bahasa (Teori dan Praktik Sastra Poskolonia. Ay,Yogyakarta. Qalam, hal: xii Baca Ashcroft B. Griffiths B. Tiffin H. , 1989. AuThe empire writes back: Theory and practice in post-colonial literaturesAy. London: Routledge. Hal 101 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 466 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Menurut Edward Said bangsa Eropa pada tahun 1914 telah dapat menguasai 85% wilayah bumi ini sebagai tempat koloninya, sebagai wilayah perlindungan, jajahan, dominion dan persemakmuran yang diciptakannya. Melalui pendekatan pengertian dan perilaku yang tercermin dari tindakan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa secara garis besar dari tujuan kolonialisme adalah untuk menguasai suatu wilayah tertentu. Secara spesifik. Negara yang melakukan kolonialisme mempunyai tujuan untuk mendominasi kekuasaan dari berbagai sektor termasuk politik, ekonomi, penduduk, hingga sumber daya alam 14. Melalui pemikiran kritis Foucault sebagai dasarnya. Edward Said memberikan narasi untuk teori poskolonialnya. Edward Said menggunakan pemikiran Focault untuk membongkar narsisme dan terjadinya kekerasan epistemology Barat terhadap Timur, dengan menunjukkan bias kepentingan serta kuasa yang terkandung dalam berbagai teori yang dikemukakan oleh kaum kolonialis dan orientalis. Edward Said merasakan bagaimana penderitaan rakyat Palestina yang terjajah karena kesetiaannya pada tanah airnya Palestina, melalui ketajaman analisisnya Edward Said berhasil AumenyingkapAy dan mengantarkan kajian pascakolonial yang semula terfokus pada masalah kolonialisme, kemudian melebar memasuki dunia ilmiah melalui kajian-kajian teks-teks para orientalism15. Poskolonial ingin menggugat praktek-praktek kolonialisme yang dianggab telah melahirkan kehidupan yang penuh dengan rasisme, hubungan kekuasaan yang tidak seimbang, serta budaya sub-altern, hibriditas dan kreofisasi, bukan dengan propaganda peperangan dan kekerasan fisik, akan tetapi di-dialektika-kan melalui kesadaran atau Dengan kata lain, poskolonial sebagai alat atau perangkat kritik untuk melihat secara jernih bagaimana sendi-sendi budaya, sosial dan ekonomi digerakkan untuk kepentingan kelas dominan atau pusat. Postkolonial mencoba membongkar mitos-mitos yang AumengerdilkanAy daya kritis, mulai dari penguasaan secara hegemonik melalui gerakan budaya dan kesadaran yang sub-altern. Untuk itu bisa dikatakan bahwa poskolonial adalah perlawanan sehari-hari, sebagaimana menurut oleh Ben Anderson bahwa sebentuk mode atau siasat perlawanan massa . akyat keci. tanpa politik yang dilakukan dengan gerakan AupicisanAy Baca Allen A. Forst R. Haugaard M,2014. AuPower and reason, justice and domination: A conversationAy . Sage:Journal of Political Power, vol 7,hal 7 Ahmad Baso, 2005. AuIslam Pasca Kolonial: Perselingkuhan Agama. Kolonialisme dan LiberalismeAy. Bandung. Mizan, hlm :59 Benedict Anderson, 1999. AuKomunitas Imajiner: Renungan Tentang Asal-Usul dan Penyebaran NasionalismeAy . Yogyakarta: Pustaka Pelajar- Insist, hal : 12 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 467 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 untuk mengkaji ulang Aupolitik modernAy identitas adiluhung di kalangan elite yang . Relevansi makna AuRadikalismeAy Secara bahasa, radikalisme berasal dari bahasa Latin. AuradixAy yang berarti AuakarAy, yang mana adalah paham yang menghendaki adanya perubahan dan perombakan besar . eakar-akarny. untuk mencapai kemajuan. Radikalisme merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung yang muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan, atau bahkan perlawanan terhadap ide, asumsi, kelembagaan, atau nilai 18. Dalam perspektif ilmu sosial, radikalisme bisa diartikan dan dihubungkan erat kaitannya dengan sikap atau posisi yang mana mendambakan perubahan dari kondisi status quo, dengan cara menggantinya melalui sesuatu yang sama sekali baru dan berbeda19. Secara sederhana, radikalisme adalah pemikiran atau sikap yang ditandai oleh empat hal yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: Pertama, sikap tidak toleran dan tidak mau menghargai pendapat atau keyakinan orang Kedua, sikap fanatik, yakni sikap yang membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Ketiga, sikap eksklusif, yakni sikap tertutup dan berusaha berbeda dengan kebiasaan orang banyak. Keempat, sikap revolusioner, yakni kecenderungan untuk menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan. Dalam bahasa Arab, kekerasan dan radikalisme disebut dengan beberapa istilah, antara lain al Aounf, at-tathorruf, al-ghuluw, dan al-irhab. AlAounf adalah antonim dari ar-rifq yang berarti lemah lembut dan kasih sayang. Abdullah an-Najjar mendefiniskan al-unf dengan penggunaan kekuatan secara ilegal . ain hakim sendir. untuk memaksanakan kehendak dan pendapat 20. Kata at-tathorruf, secara bahasa berasal dari kata at-tarf yang mengandung arti ujung atau pinggir. Maksudnya berada di ujung atau pinggir, baik di ujung kiri maupun kanan. Oleh karenanya, dalam bahasa Arab modern kata at-tathorruf, berkonotasi makna radikal, ekstrem, dan berlebihan. Dengan demikian, at-tatarruf ad-dini berarti segala perbuatan yang berlebihan dalam beragama, yang merupakan lawan kata dari al-wasat . engah/modera. yang memiliki makna terbaik dan terpuji. Adapun kata al- ghuluw yang secara bahasa berarti berlebihan atau melampaui batas sering digunakan untuk Ibid, hal 13 Edi Susanto, 2007. Kemungkinan Munculnya Paham Islam Radikal Di Pesantren. Tadris 2, no. 1, hal: 3 AsyAoarie. Musa, 2002. AuFilsafat Islam :sunnah Nabi dalam BerpikirAy. Yogyakarta Lesfi, hal 3-4 Kementerian Agama,2014. AuTafsir Al-QurAan TematikAy. Jakarta,Kamil Pustaka,hal : 97. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 468 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 menyebut praktik pengamalan agama yang ekstrem sehingga melebihi batas kewajaran 21. Dari penggunaan berbagai kata yang menunjuk radikalisme dan kekerasan dalam teks keagamaan . l-QurAoan dan hadi. , terlihat dengan jelas bahwa pada prinsipnya Islam sangat menentang kekerasan dan radikalisme dalam berbagai bentuknya. Bahkan sedari awal kemunculan Islam, ajaran ini telah memproklamirkan dirinya sebagai ajaran agama rahmatan lil alamin untuk kehidupan manusia dan alam, yang tentunya kondisi ini tentu sesuai dengan ajaran moderat . yang dipunyai oleh Islam, yang mana juga senantiasa mengajarkan perdamaian melalui dakwah damai dan ko-eksistensi, sebagaimana merujuk pada kebaikan perilaku Nabi dan Kitab kepercayaanya. Menurut Azyumardi Azra, radikalisme merupakan bentuk ekstrem dari revivalisme. Revivalisme merupakan intensifikasi ke-islaman yang lebih berorientasi ke dalam . nward oriente. , dengan artian aplikasi dari sebuah kepercayaan yang hanya diterapkan untuk diri Namun bentuk radikalisme yang sekarang ditemui telah bergesar dan cenderung berorientasi keluar . utward oriente. , atau kadang dalam penerapannya cenderung menggunakan aksi kekerasan yang lazim disebut dengan gerakan fundamentalisme22. Islam sejatinya dari awal sejarah, telah memposisikan dirinya sebagai ummatan wasatan . mat yang modera. , mengutamakan nilai-nilai kedamaian serta gerakan moral, bahkan menjadi spirit dalam menentang bentuk-bentuk penindasan . dengan melahirkan narasi pembebasan bagi kaum lemah dan tertindas. Sayangnya, nilai-nilai yang sedemikian ideal dalam kondisi saat ini telah tereduksi oleh oknum yang memonopoli tafsir agama secara kaku dan anti universalistis. Akibatnya agama malah dijadikan justifikasi atas tindakan kekerasan dan radikalisme. Agama telah dipenjara dan dieksploitasi sesuai dengan tendensi ideologis mereka. Walhasil, yang mencuat ke permukaan adalah truth claim . laim kebenara. dengan indikasi memunculkan sikap reaksioner-destruktif atas segala perbedaan . Menurut Yusuf al-Qaradhawi, faktor utama munculnya radikalisme dalam beragama adalah kedangkalan saat memahami nilai ajaran agama, disebabkan kurangnya pemahaman yang benar dan mendalam atas esensi ajaran agama Islam itu sendiri, dan pemahaman yang hanya literalistik atas teks-teks agama23. Bahkan, menurut Arkoun sebagian ayat Al QurAoan telah dimanfaatkan segelintir muslim Muchlis M. Hanafi. AiKonsep Al-Wasathiyyah Dalam Islam,Harmoni 8, no. : 39. Azyumardi Azra,1999,AyIslam Reformis: Dinamika Intelektual Dan GerakanAy. Jakarta: Raja Grafindo Persada,),hal 46Ae47. Al-Qaradhawi. Yusuf, 2001. AuAs-Sahwah Al-Islamiyyah Bayna Al-Juhud Wa atTatarrufAo. Kairo: Dar asySyuruq, hal: 51Ae57. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 469 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 untuk mengabsahkan tindakan atau perilaku organisasinya, menjustifikasi tindakan peperangan, melandasi berbagai apresiasi, kemudian memelihara berbagai harapan eksklusif, dan memperkukuh identitas kolektif sebagian kelompok kepentingan. Fakta latency dan kekaburan konsep Radikalisme dalam perspektif global Kita bisa melihat terjadi fakta terjadinya kondisi yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan mengaburkan fakta atas wacana dan tuduhan serius terkait Radikalisme terhadap dunia Timur khususnya Islam. Melalui pendeskripsian metode yang digunakan oleh kaum orientalis, justifikasi AuimageAy terhadap dunia Islam terus di propagandakan sedemikian rupa melalui sistem organisasi Negara dunia. Seiring dengan minimnya wacana tandingan dari Negara Timur, terus berdengung kerangka perpektif ilmiah barat seolah menjadi kebenaran atas fakta yang terjadi. Walaupuun kemudian kerangka yang menempatkan alasan radikalisme sebagai perilaku yang keras dan identik dengan karakter dunia Islam sangatlah tidak mendasar, sebagaimana yang telah kita pahami dari metode pengartian konsep diatas. Bahwasanya upaya mensimbolkan orang-orang timur seolah adalah sebagai manusia yang arogan dan kasar, bahkan tidak menerima perbedaan, inilah yang keliru, kaum orientalism seolah telah menisbikan kebaikan yang dimiliki oleh kehidupan ajaran Islam yang mewarnai dunia Timur, yang punya makna memberikan rahmat untuk alam dan menjauhi kekerasan serta pemaksaan atau menyakiti penghuni alam. Perilaku pewacanaan tersebut sangat mudah dijumpai pada era kolonialis sebagaimana para akademisi memaparkan kondisi saat terjadi ekspansi terhadap daerahdaerah yang menjadi tujuan penguasaanya. Lebih lanjut juga Ashcroft menunjukkan bahwa melalui sastra dan teori poskolonial memiliki dua kunci utama untuk melihat ada sebuah ketimpangan, yaitu Audominasi-subordinasiAy dan Auhibriditas-kreolisasiAy dalam pewacanaan yang digunakan kepada dunia Timur. Sebenarnya kolonial adalah bentuk imprealisme, sebagaimana merujuk pandangan Linda Tuhiwai Smith seorang akademisi yang berkonsentrasi pada Postkolonial. Linda mendeskripsikan bentuk imprealisme Eropa awal abad ke-19 setidaknya dalam empat kecenderungan atau mempunyai cara yang berbeda antara lain: . imprealisme sebagai ekspansi ekonomi. imprealisme sebagai pendudukan negara lain . he Othe. Mohammed Arkoun,1997. Berbagai Pembacaan Al-Quran, . Machasi. ,Jakarta: INIS, hal :9 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 470 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 imprealisme sebagai bidang ilmu pengetahuan diskursif 25. Pengalaman imprealisme dan kolonialisme selama ratusan tahun inilah yang telah menimbulkan implikasi pada kehidupan system masyarakat di semua penjuru dunia saat ini, baik di pihak penjajah maupun yang dijajah, berkaitan dengan representasi . ras, etnisitas dan pembentukan negaraAebangsa. Melalui kajian poskolonial Linda, kita bisa melihat ada suatu masalah ketikadilan dalam bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan yang diakibatkan oleh hegemoni colonialism, disebabkan narsisme, kekerasan epistemology dunia Barat, dimana sudah berkembang sejak awal abad modern, yang itu bersamaan saat munculnya kekuasaan kolonialisme terjadi26. Seperti halnya Gayatri Spivak yang juga seorang tokoh pemikir postcolonial. Spivak yang juga menyoroti konsekwensi dari sebuah penjajahan, bahwa setiap kelompok dominan mampu menguasai sub-dominan lainnya, bahkan membumkam kelompok sub altern, hingga mereka lambat laun tak mempunyai cara berbicara . ialog/wacan. menghadapi situasi yang Melalui tulisannya AuCan Subtaltern Speak?Ay. Spivak menjelaskan bahwa golongan subaltern tidak bisa berbicara. Perhatian utamanya adalah Gender, yakni para kaum perempuan dalam berbagai konteks kolonial ternyata hanya memiliki bahasa konseptual . on verba. untuk berbicara, karena tidak ada telinga dari kaum lelaki kolonial maupun pribumi untuk mendengarkannya melalui bahasa ferbal27. Dari analisa ini, kita melihat bagaimana sebuah wacana melalui bahasa mampu menjadi control bagi kehidupan manusia. Menjadi pencipta bagi munculnya ruang pembeda antar kelompok ordinat dan sub-ordinat. Pada kondisi lain Edward Said juga melihat ada pembedaan . ifferent-sias. antara keturunan kulit hitam Afrika dengan kulit putih sebagai warisan wujud rasialisasi dan dominasi kolonialisme, bahkan dalam pengobatan tradisional cina yang lebih disebut kuno dan kurang modern. Melalui gagasan Antonio Gramsci, kita bisa melihat bagaimana tentang hegemoni dan kelas AusubalternAy . elas paling bawah, rendah dan terpinggirka. , sehingga menjadi inspirasi bagi Edward Said untuk melihat subjek yang terjajah oleh bangsa kolonial. Bahwa sifat pemalu, rendah diri, penakut, peragu, bisa jadi itu semua terlahir adalah hasil dari Linda Tuhiwai Smith, 1999. AuDecolonizing Methodologies. Research and Indigenous PeopleAy . London: Zed Books, hlm. Lubis. Akhyar Yusuf, 2006. AuDekonstruksi Epistemologi ModernAy. Jakarta: Pustaka Indonesia Baca Ashcroft. Bill, dkk, 2003. AuMenelanjangi Kuasa Bahasa (Teori dan Praktik Sastra Poskolonia. Ay. Yogyakarta. Qalam, hal 169-236 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 471 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 pengekangan oleh bangsa kolonial yang sudah berlangsung secara terstruktur dan sistematis secara bertahun-tahun atau beberapa abad lamanya. Rekonstruksi sebagai Upaya mencapai jalan Tengah Melalui konsep Auhibridisasi dan kreolisasi bahasaAy. Ausastra dan identitas culturalAy, yang dipunyai oleh teori Postkolonial, serta melalui kritik teoritik atas essensialisme yang dilakukan oleh pemikir oksidentalism, kita bisa melihat bagaimana sebuah wacana berlangsung dalam ruang yang dikontrol, tertata sedemikian rupa, hingga memunculkan sebuah kebenaran. Tentu saja berangkat dari itu semua, dengan pertemuan budaya dan tehnologi, kepercayaan dan imajinasi, serta berbagai praktik kehidupan berbagai masyarakat Negara jajahan dan Negara Agresor, telah membawa implikasi pada seluruh gagasan terkait kemajuan Ilmu pengetahaun, sastra, etnik, dan nasionalisme ke batas alam dialogis, yang berangkat dari dasar keraguan untuk mencari batasan kebenaran yang selama ini dimunculkan oleh kaum pemikir orientalism. Radikalisme telah membentuk suatu system wacana dengan streretype negative pada masyarakat dunia ketiga, dengan pilihan makna kerja yang konfrontatif. Pola identitas radikalime yang seharunya menjadi sub mayor dalam proses pondasi pemikiran telah menjadi tampilan utama dalam bangunan megah namun menyeramkan akibat perspektif satu pihak. Kondisi demikian mempengarui idealitas dalam tolak ukuran sebuah wacana radikalisme. Untuk itu mengembalikan konsepsi standar pada wacana dialog radikalisme merupakan hal positif yang harus dibangun. Dalam realitas dunia sosial yang dipengaharui bentukan wacana, secara ilmiah kondisi ini membentuk pola perpsektif dan pola perilaku sebagai identitasnya. Upaya untuk membongkar makna radikalisme yang saat ini banyak dipakai oleh pihak berkuasa harus dikembalikan pada komposisi makna awal. Dengan kata lain bangunan yang muncul dari wancana radikalisme saat ini, harus di dekonstruksi melalui meletakkan Kembali konteks awal pemahaman radikalisme melalui identitas filosofis. Bahwa radikalisme bukan sekedar dalam pemahaman actor pemikir orientalism, namun juga melalui kesesuaian dan standart yang sama dengan perspektif actor poskolonialsm dan oksidentalism. Sehingga bangunan tidak nampak baik disatu perspektif namun sebenarnya berusaha mendominasi dan menghilangkan akar atau esensi dari hadirnya komponen lain dari realitas yang terbangun. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 472 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Radikalisme yang seharusnya menjadi landasan utama untuk mengungkakan esensi berpikir dari ilmu pengetahuan telah nampak menakutkan dan menjadi hal yang mengkhawatirkan akibat hanya di akui oleh kajian politis saja. Disatu sisi, kelemahan dalam mereduksi wacana tekstual hingga melanggengkan dominasi pada konstruksi makna radikalisme yang menjadi akar persoalannya tidak tersentuh, padahal secara tidak langsung kondisi tersebut telah mendistorsi makna akarnya. Kondisi ini tentu menjadi spirit untuk mengembalikan kembali makna tekstual radikalisme, sebagai bentuk obyek pada kajian materiil maupun non materiil pada komponen bangunan keilmuan. Radikalisme punya peran penting untuk mengupayakan adanya bentuk kekuatan dan kekokohan dalam suatu kesempurnaan pada konstruksi bangunan gagasan. Sehingga tidak menjadikan kesan momok dan delusi di masyarakat, di tengah bentuk latency makna yang dilahirkan akibat pelabelan terhadap tindakan patologi global. Penutup Dari sini maka kajian poskolonial dan oksidentalism mempunyai beberapa kesaman, pertama adalah lahir dan sama-sama mengkaji tentang orientalism, namun dari karakternya apabila oksidental hanya sebatas pada mengkaji dunia barat dari sisi kebiasaan budaya dan pengetahuan masyarakatnya saja, postkolonial bersifat lebih kritis dengan memahami dunia barat sebagai bagian atas strutur kekuatan penjajahan yang mengakibatkan ketimpangan di Negara-negara hasil jajahan atau imperialismnya. Disisi lain keduanya juga punya misi untuk mengangkat kembali sejarah ilmu, teknologi dan pengobatan barat, seperti ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam. India. Cina maupun pengetahuan pribumi dan pengetahuan dari budaya lain melalui kajian ilmiah, empiris, dan histories. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 473 Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Daftar Pustaka