GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. HUBUNGAN ANTARA KELELAHAN DAN KUALITAS TIDUR DENGAN DEPRESI PASCA PERSALINAN PADA IBU NIFAS THE RELATIONSHIP BETWEEN FATIGUE AND SLEEP QUALITY WITH POSTPARTUM DEPRESSION AMONG POSTNATAL MOTHERS Dwi Rahmawati*1. Devi Arista2. Gustien Siahaan3. Margareta Pratiwi4 1,2,3 Universitas Adiwangsa Jambi (Email:dwirahmawati. jmb@gmail. ABSTRAK Depresi postpartum merupakan gangguan psikologis yang umum terjadi pada ibu setelah melahirkan, dengan prevalensi global yang cukup tinggi. Di Amerika Serikat, prevalensinya mencapai 14%, sementara di Asia berkisar antara 2685%. Di Indonesia sendiri, risiko depresi postpartum dilaporkan sebesar 5070%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelelahan dan kualitas tidur dengan kejadian depresi pasca persalinan pada ibu nifas. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2024 dengan desain deskriptif analitik dan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 31 responden ibu nifas diikutsertakan sebagai sampel. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang meliputi aspek kelelahan, kualitas tidur, dan gejala depresi postpartum, lalu dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan sebagian besar responden tidak mengalami depresi postpartum . ,7%), seluruh responden mengalami kelelahan ringan . %), dan mayoritas memiliki kualitas tidur yang buruk . ,5%). Terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan dan kualitas tidur dengan kejadian depresi postpartum . = 0,. Studi ini merekomendasikan perlunya intervensi berupa edukasi dan konseling bagi ibu nifas untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama masa postpartum. Kata kunci : Depresi Postpartum. Kelelahan. Kualitas Tidur. Ibu Nifas. Kesehatan Mental ABSTRACT Postpartum depression is a common psychological disorder among mothers after childbirth, with a relatively high global prevalence. In the United States, the prevalence reaches 14%, while in Asia it ranges from 26% to 85%. In Indonesia, the risk of postpartum depression is reported to be between 50% and 70%. This study aimed to examine the relationship between fatigue and sleep quality with the incidence of postpartum depression among postpartum mothers. The study was conducted in March 2024 using a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach. A total of 31 postpartum mothers were selected as respondents. Data were collected using questionnaires that assessed fatigue levels, sleep quality, and postpartum depression symptoms, and were analyzed using the Chi-Square test. The results showed that most respondents did not experience postpartum depression . 7%), all experienced mild fatigue . %), and the majority had poor sleep quality . 5%). A significant relationship was found between fatigue and sleep quality with the incidence of postpartum depression . = 0. This study JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. highlights the importance of providing education and counseling interventions to postpartum mothers in order to maintain physical and mental health during the postpartum period. Keywords : Postpartum Depression. Fatigue. Sleep Quality. Postpartum Mothers. Mental Health PENDAHULUAN Depresi pasca persalinan . ostpartum depression/PPD) merupakan gangguan mental yang umum terjadi pada ibu setelah melahirkan. Kondisi ini ditandai oleh gejala seperti kesedihan kecemasan, dan kurangnya minat dalam aktivitas, termasuk merawat bayi (Association 2. PPD berdampak negatif terhadap kesehatan ibu, ikatan dengan bayi, serta tumbuh kembang anak. Jika tidak ditangani. PPD dapat menyebabkan gangguan psikologis jangka panjang hingga meningkatkan risiko bunuh diri pada ibu (OAoHara & McCabe, 2. Di Indonesia, penanganan PPD menjadi bagian dari kebijakan layanan kesehatan ibu dan Deteksi dini dilakukan melalui skrining menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) di fasilitas kesehatan. Jika ditemukan gejala PPD, intervensi dapat berupa konseling, terapi psikologis, atau pemberian antidepresan bila diperlukan (Huth-Bocks et al. Dukungan keluarga, khususnya dari pasangan, sangat penting dalam proses Pemerintah mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan tentang pentingnya deteksi dan penanganan PPD secara menyeluruh (Chaudron et al. , 2010. Wisner et al. , 2. PPD dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik biologis, psikologis, maupun sosial. Riwayat gangguan mental, ketidaksiapan emosional, pengalaman melahirkan yang traumatis, serta stres dalam hubungan keluarga dan ekonomi menjadi faktor risiko yang signifikan (Cohen et al. , 2. Selain itu, perubahan hormonal dan kurangnya dukungan sosial turut memperburuk kondisi ibu. Faktor fisik seperti kelelahan ekstrem dan gangguan tidur juga terbukti berkontribusi terhadap munculnya gejala depresi (McQueen & Mander. Corwin et al. , 2005. Sharkey et al. , 2. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Secara global, prevalensi PPD mencapai 17,7%, berdasarkan meta-analisis terhadap 291 studi dari 56 negara (Hahn-Holbrook et al. Di Amerika Serikat, angkanya sekitar 14%, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, prevalensinya cenderung lebih tinggi. Studi Gelaye et al. melaporkan angka 19,7% di negara-negara Di Indonesia sendiri, risiko PPD diperkirakan mencapai 50Ae70% (Basri. Agustin. , & Arifin 2. , menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap kondisi ini. Kelelahan postpartum, baik fisik maupun emosional, dan gangguan tidur menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap PPD. Kelelahan dapat memicu peradangan melalui peningkatan sitokin proinflamasi, sedangkan gangguan tidur berdampak pada disrupsi sirkadian dan hormon stres yang memperparah kondisi depresi (Corwin et al. , 2005. Okun et al. Meski demikian, penelitian lokal yang menilai peran spesifik dari kelelahan dan kualitas tidur terhadap PPD masih terbatas. Studi sebelumnya, seperti oleh Syafrianti . di Padang dan Mardiyyah . di RSUD Raden Mattaher Jambi, menunjukkan lebih dari 50% ibu postpartum berisiko mengalami depresi berdasarkan EPDS. Namun, hubungan antara kelelahan dan kualitas tidur belum dikaji secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan keduanya terhadap kejadian PPD sebagai dasar evidence-based dalam deteksi dan intervensi dini, serta untuk merancang layanan yang lebih holistik bagi ibu nifas. BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. kelelahan dan kualitas tidur dengan kejadian depresi pasca persalinan pada ibu nifas. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2024 dan dilakukan di dua tempat praktik mandiri bidan (PMB) di Kota Jambi, yaitu PMB Azimah dan PMB Zulfiatun Rangkuti. Lokasi ini dipilih karena memiliki jumlah kunjungan ibu nifas yang tinggi dan memberikan akses yang memungkinkan untuk pelaksanaan penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas yang berada dalam masa nifas hari ke-29 hingga ke-42 dan melakukan kunjungan ke kedua PMB selama waktu Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling, yaitu seluruh anggota populasi yang memenuhi kriteria inklusi dijadikan sampel. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi ibu nifas yang dapat membaca dan menulis, berada dalam kondisi fisik dan mental yang stabil, dan bersedia menjadi responden. Ibu dengan riwayat gangguan tidur atau gangguan depresi sebelum hamil dikeluarkan dari penelitian. Jumlah responden yang diperoleh sebanyak 31 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga kuesioner baku. Untuk mengukur depresi pasca persalinan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS), yang terdiri dari 10 item dengan skor 0 hingga 3 untuk masing-masing item. Total skor berkisar antara 0 hingga 30. Dalam penelitian ini, ibu dengan skor EPDS Ou10 dikategorikan mengalami depresi, sementara yang mendapat skor <10 dikategorikan tidak mengalami depresi. Untuk mengukur tingkat kelelahan postpartum sebagai variabel independen pertama, digunakan Postpartum Fatigue Scale (PFS) yang terdiri dari 12 pernyataan dengan skala Likert 1 sampai 5. Skor total diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu kelelahan ringan . Ae. , sedang . Ae. , dan berat . Ae. Sedangkan untuk mengukur kualitas tidur ibu nifas sebagai variabel independen kedua, digunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), yang terdiri dari 19 item dan mencakup tujuh komponen kualitas tidur. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Skor total PSQI berkisar antara 0 hingga 21, dengan interpretasi bahwa skor O5 menunjukkan kualitas tidur yang baik dan >5 menunjukkan kualitas tidur yang buruk. Pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan memberikan kuesioner kepada responden dan memberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai maksud dan tujuan penelitian. Responden mengisi kuesioner secara mandiri, dan peneliti memastikan kelengkapan serta keakuratan jawaban saat pengumpulan data Data yang terkumpul dianalisis dalam dua tahapan. Pertama, analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan karakteristik responden dan distribusi masing-masing variabel penelitian, seperti usia, paritas, tingkat kelelahan, kualitas tidur, dan status depresi. Tahap kedua adalah analisis bivariat yang dilakukan untuk independen dan dependen. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square. Nilai signifikansi ditetapkan pada p-value < 0,05. Hasil analisis disajikan dalam bentuk narasi dan tabel silang . , untuk menunjukkan ada atau tidaknya hubungan yang bermakna antara tingkat kelelahan dan kualitas tidur dengan kejadian depresi pasca persalinan. Penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan aspek etika penelitian, seperti informed consent, menjaga kerahasiaan identitas responden, dan menjamin hak partisipasi secara sukarela tanpa paksaan. Semua responden diberikan informasi mengenai manfaat dan risiko penelitian, serta diberi kesempatan untuk mengundurkan diri kapan saja tanpa konsekuensi apa pun. Penelitian ini juga telah mendapatkan izin dari institusi tempat penelitian dilakukan dan disesuaikan dengan prinsip-prinsip etika penelitian yang berlaku. I ILM e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. HASIL Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan karakteristik Umur Karakteristik Kategori Umur 20-35 Tahun <20 atau >35 Tahun Paritas Dari tabel 1 diketahui bahwa usia responden dalam penelitian ini sebagian besar rentang 2035 tahun yaitu 54. 83 % dan paritas responden dalam penelitian ini sebagian besar memiliki paritas 1 sebanyak 10 . 3%) responden. Analisis Univariat Gambaran depresi pasca persalinan pada ibu nifas Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan depresi pasca persalinan pada ibu nifas Depresi Pasca Persalinan Tidak Jumlah Berdasarkan tabel 3 didapatkan sebagian besar responden mengalami kelelahan ringan sebanyak 21 . 7%) responden. Gambaran Kelelahan pasca persalinan pada ibu nifas Tabel 3 Distribusi Frekuensi kelelahan pasca persalinan pada ibu nifas Jumlah Berdasarkan tabel 3 didapatkan sebagian besar responden mengalami kelelahan ringan sebanyak 21 . 7%) responden. Ringan Sedang Berat Kelelahan JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Gambaran Kualitas tidur pasca persalinan pada ibu nifas Tabel 4 Distribusi Frekuensi kelelahan pasca persalinan pada ibu nifas Kualitas Tidur Baik Buruk Jumlah Berdasarkantabel 4 didapatkan sebagian besar responden mengalami kualitas tidur baik sebanyak 20 . 5%) responden. Hubungan Kelehan dengan kejadian depresi pasca persalinan pada ibu nifas Tabel 5. Hubungan kelelahan kejadian depresi pasca persalinan pada ibu nifas Keleleahan Resiko Depresi p- value Tidak Ringan Sedang 3 Berat Jumlah Hasil analisis hubungan kelelahan kejadian depresi pasca persalinan pada ibu nifas diperoleh bahwa sebanyak 1 . 8%) responden yang mengalami depresi memiliki tingkat kelelahan Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value=0. 000<0. 005 maka dapat disimpulkan ada hubungan kelelahan kejadian depresi pasca persalinan pada ibu nifas. Hubungan Kualitas tidur dengan kejadian depresi pasca persalinan pada ibu Tabel 6 Hubungan kualitas tidur kejadian resiko depresi pasca persalinan pada ibu nifas Kualitas Tidur Resiko Depresi p- value Tidak 1 Baik 2 Buruk Jumlah Hasil analisis hubungan kualitas tidur kejadian depresi pasca persalinan pada ibu nifas diperoleh bahwa sebanyak 20 responden yang memiliki kualitas tidur buruk terdapat 2 . yang tidak mengalami depresi sedangkan pada kualitas tidur baik sebanyak 1 . 0%) responden mengalami depresi. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value=0. 000<0. 005 maka dapat disimpulkan ada hubungan kualitas tidur kejadian depresi pasca persalinan pada ibu nifas. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kelelahan dan kualitas tidur dengan kejadian depresi pasca Kelelahan mengganggu proses pemulihan fisik dan menurunkan kapasitas emosional ibu dalam memperbesar risiko munculnya depresi. Secara fisiologis, kelelahan yang berkepanjangan neurotransmitter, seperti serotonin dan melatonin, yang berperan dalam pengaturan suasana hati dan tidur. Gangguan ini kemudian menurunkan kualitas tidur ibu, yang apabila berlangsung terus-menerus, menyebabkan gangguan emosi dan rentan terhadap depresi. Hal ini diperkuat oleh Giallo et al. yang menyatakan bahwa kelelahan postpartum berdampak langsung pada ketidakmampuan ibu menjalani perannya, serta Okun et al. yang menemukan bahwa kualitas tidur yang buruk merupakan prediktor kuat depresi postpartum dibandingkan dengan faktor hormonal. Studi Phillips et al. juga menghambat praktik menyusui, memperburuk stres, dan menurunkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayi. Lebih lanjut, kehamilan yang tidak direncanakan, status ekonomi rendah, kekerasan dalam rumah tangga, dan kurangnya dukungan sosial terbukti berkontribusi signifikan terhadap kejadian depresi postpartum (Gammeltoft, 2018. Yim et al. , 2015. Silverman et al. , 2. Ibu dengan kehamilan tidak diinginkan cenderung merasa terbebani secara ekonomi dan emosional, sehingga sulit menyesuaikan diri dengan peran Konflik dalam rumah tangga, terutama kurangnya dukungan dari pasangan, dapat menghambat proses adaptasi peran ibu. Dukungan sosial dari pasangan dan keluarga terbukti menjadi faktor pelindung yang dapat meningkatkan self-efficacy dan menurunkan risiko depresi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ibu primipara memiliki potensi lebih besar JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 mengalami kecemasan dan ketidakpastian dalam menjalani peran keibuan karena minimnya pengalaman, sebagaimana dijelaskan Fatmawati & Gartika . Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi dan pendampingan intensif untuk ibu baru. Selain itu, kualitas tidur buruk kecenderungan munculnya simtom depresi Bayer et al. menyatakan bahwa gangguan tidur akibat tangisan bayi, jadwal menyusui, serta tekanan sosial membuat ibu sulit memenuhi kebutuhan tidur yang Kondisi ini meningkatkan risiko depresi yang lebih berat jika tidak segera Temuan penelitian ini sejalan dengan studi Tania . , yang menemukan bahwa sebagian besar ibu postpartum mengalami tingkat kelelahan yang tinggi dan berhubungan dengan peningkatan risiko depresi. Sementara itu. Armstrong et al. menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk pada minggu-minggu awal postpartum menjadi prediktor kuat gangguan mood jangka panjang. Namun, tidak semua studi mendukung hubungan langsung Penelitian oleh Garthus-Niegel et al. menyatakan bahwa beberapa ibu dengan kualitas tidur baik tetap mengalami depresi, yang menunjukkan adanya peran mediasi dari variabel psikososial lain seperti tekanan budaya, harapan terhadap peran ibu, atau trauma persalinan. Peneliti berasumsi bahwa dukungan emosional dari pasangan dan keluarga berperan penting dalam menjaga stabilitas psikologis ibu selama masa nifas. Dorongan dan motivasi dari orang terdekat dapat menurunkan kecemasan, memperkuat kesiapan mental ibu dalam menjalani peran keibuan. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual perlu dioptimalkan dalam upaya pencegahan dan penanganan depresi pasca persalinan. I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelelahan dan kualitas tidur berhubungan signifikan dengan depresi pasca persalinan. Ibu yang mengalami kelelahan sedang hingga berat dan kualitas tidur buruk memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi. Faktor lain seperti kehamilan tidak direncanakan, rendahnya status ekonomi, dan minimnya dukungan sosial juga turut memperburuk kondisi psikologis ibu nifas. Oleh karena itu, diperlukan upaya komprehensif melalui deteksi dini, peningkatan peran keluarga, dan akses layanan kesehatan mental yang Disarankan agar tenaga kesehatan diberikan pelatihan dalam mengenali gejala awal depresi, mendorong keterlibatan keluarga dalam proses pemulihan ibu nifas, serta dilakukan penelitian lanjutan untuk mengkaji peran faktor psikososial lainnya dalam memengaruhi depresi pasca persalinan. DAFTAR PUSTAKA