Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT WONOREJO MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN CYMBOSAVON (HANDWASH SERAI WANGI) SEBAGAI UPAYA PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT Henny Parida Hutapea1*. Niken Trisnawati2. Mikhael Krisnaputra3, & Yasintha Eka Yuliana4 1,3,&4 Program Studi Kimia Industri. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Duta Bangsa Surakarta. Jalan Ki Mangun Sarkoro Nomor 20. Surakarta. Jawa Tengah 57135. Indonesia Program Studi Teknik Industri. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Duta Bangsa Surakarta. Jalan Ki Mangun Sarkoro Nomor 20. Surakarta. Jawa Tengah 57135. Indonesia *Email: henny_paridahutapea@udb. Submit: 10-06-2025. Revised: 15-06-2025. Accepted: 16-06-2025. Published: 01-07-2025 ABSTRAK: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi warga Desa Wonorejo melalui pelatihan pembuatan sabun cuci tangan herbal dari serai wangi yang diberi nama Cymbosavon. Kegiatan dilatarbelakangi oleh rendahnya pemanfaatan potensi lokal dan terbatasnya keterampilan masyarakat dalam mengolah serai wangi menjadi produk bernilai jual. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, identifikasi masalah, serta pelatihan intensif tentang proses produksi, pengemasan, dan strategi pemasaran produk. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan teknis warga dalam pembuatan sabun cair yang higienis dan ramah lingkungan, serta munculnya kesadaran Program ini diharapkan menjadi pemicu terbentuknya unit usaha lokal yang berkelanjutan dan mendorong optimalisasi potensi alam desa dalam rangka pembangunan ekonomi yang inklusif. Kata Kunci: Branding Produk. Pelatihan Produksi. Pemberdayaan Desa. Sabun Cair Herbal. Serai Wangi. ABSTRACT: This community service activity aims to improve the welfare and economic independence of Wonorejo Village residents through training in making herbal hand soap from citronella named Cymbosavon. The activity was motivated by the low utilization of local potential and limited community skills in processing citronella into products with sales value. The methods used include field observation, problem identification, and intensive training on production processes, packaging, and product marketing strategies. The results of the activity showed an increase in the technical skills of residents in making hygienic and environmentally friendly liquid soap, as well as the emergence of entrepreneurial awareness. This program is expected to trigger the formation of sustainable local business units and encourage the optimization of village natural potential in the context of inclusive economic development. Keywords: Product Branding. Production Training. Village Empowerment. Herbal Liquid Soap. Citronella. How to Cite: Hutapea. Trisnawati. Krisnaputra. , & Yuliana. Pemberdayaan Masyarakat Wonorejo Melalui Pelatihan Pembuatan Cymbosavon (Handwash Serai Wang. sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Masyarakat. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5. , 104-114. https://doi. org/10. 36312/nuras. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is Licensed Under a CC BY-SA Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. PENDAHULUAN Desa Wonorejo merupakan salah satu daerah di Kecamatan Gondangrejo. Kabupaten Karanganyar. Provinsi Jawa Tengah yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, salah satunya tanaman serai wangi (Cymbopogon nardu. , namun tanaman serai ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat (Azka et al. , 2. Kondisi tersebut mengindikasikan perlunya inovasi dalam memanfaatkan hasil pertanian lokal sebagai bahan baku produk bernilai ekonomis, seperti sabun cuci tangan alami (Firdaus et al. , 2. Masyarakat Wonorejo sebagian besar bergantung pada sektor pertanian dan belum sepenuhnya terlibat dalam kegiatan wirausaha rumah tangga berbasis pengolahan hasil alam (Sudalmi & Hardiatmi, 2. Keterampilan teknis yang rendah dan pelatihan yang minim menjadi faktor penghambat pengembangan ekonomi kreatif berbasis lokal (Rakib, 2. Minimnya akses terhadap pelatihan dan pendampingan usaha menyebabkan potensi ekonomi lokal desa ini belum dikembangkan secara optimal (Mannahali et al. , 2. , sehingga kegiatan ekonomi masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian primer yang fluktuatif dan tidak stabil (Hasan et al. , 2. Pasca pandemi COVID-19, kebutuhan akan produk kebersihan tangan meningkat, sehingga membuka peluang baru untuk produk pencuci tangan alami yang ramah lingkungan (Safitri & Amalia, 2. Serai wangi menjadi bahan baku utama yang mengandung senyawa citronellal dan geraniol yang bersifat antibakteri dan aromaterapi (Dewi & Hanifa, 2021. Raslina et al. , 2. Pelatihan produksi sabun cair tidak hanya memberikan keterampilan teknis dalam proses produksi sabun cair, tetapi juga memberikan edukasi tentang standar sanitasi dan pemasaran Proses ini sejalan dengan pendekatan pemberdayaan partisipatif, dimana masyarakat dilibatkan secara langsung dalam setiap tahapan pelatihan (Udhiya et , 2. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan berbasis potensi lokal menjadi salah satu strategi penting dalam mengatasi keterbatasan akses terhadap peluang ekonomi (Hasanah et al. , 2. Oleh karena itu, pelatihan pembuatan Cymbosavon . abun cuci tangan serai wang. dinilai strategis sebagai solusi pemberdayaan yang Dengan pelatihan yang tepat, masyarakat dapat diberdayakan untuk menciptakan produk yang inovatif dan mandiri secara ekonomi (Oktaviana et al. Solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Wonorejo adalah dengan menyelenggarakan program pelatihan produksi Cymbosavon . abun cuci tangan sera. partisipatif yang melibatkan Ibu PKK Desa Wonorejo secara aktif dalam setiap tahapan, mulai dari pengenalan bahan baku lokal, teknik pembuatan sabun cair, hingga strategi pengemasan dan pemasaran produk. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan teknis warga dalam mengolah serai menjadi produk yang memiliki nilai jual, sekaligus memberikan edukasi tentang sanitasi dan kewirausahaan berbasis rumah tangga. Selain itu, pendampingan dan penguatan jaringan pasar lokal dan digital secara berkelanjutan akan diberikan untuk memastikan produk dapat dipasarkan secara luas dan berkelanjutan, sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru (Lestari & Wicaksana, 2. , tetapi juga mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan melalui kegiatan ekonomi kreatif lokal (Amarullah et al. , 2. Tujuan dari kegiatan ini Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi warga Desa Wonorejo melalui pelatihan pembuatan Cymbosavon, sabun cuci tangan herbal dari serai wangi. METODE Metode pelaksanaan pengabdian menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan secara aktif Ibu PKK Desa Wonorejo dalam pelatihan pembuatan sabun cair herbal berbahan dasar serai wangi. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari pada bulan Mei 2025 di Balai Desa Wonorejo. Kecamatan Gondangrejo. Kabupaten Karanganyar. Jawa Tengah. Diikuti oleh 25 peserta perwakilan Ibu PKK setiap RT di Desa Wonorejo, dengan rentang usia berkisar antara 28-55 tahun. Sasaran dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat Desa Wonorejo, khususnya Ibu PKK Desa Wonorejo dalam memanfaatkan serai sebagai bahan baku pembuatan sabun cair alami (Cymbosavo. Melalui pelatihan aplikatif berbasis potensi lokal, masyarakat diharapkan mampu memproduksi sabun cuci tangan secara mandiri dan memahami aspek kebersihan, keamanan produk, serta teknik pemasaran yang sederhana. Kegiatan ini dapat menjadi peluang terbentuknya kelompok usaha mikro berbasis desa yang mampu mengelola produksi dan distribusi produk secara berkelanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Metode pelaksanaannya dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu: Observasi dan Identifikasi Masalah Tahap awal dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan masyarakat Desa Wonorejo untuk mengidentifikasi potensi lokal, kendala produksi, dan kesiapan masyarakat untuk mengikuti pelatihan, sehingga dapat disusun program pemberdayaan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan serta kondisi riil di lapangan. Data yang terkumpul digunakan sebagai dasar penyusunan materi pelatihan yang kontekstual dan tepat. Analisis Penyebab dan Alternatif Solusi Tahap kedua adalah analisis penyebab permasalahan yang ditemukan, yaitu belum adanya pelatihan berbasis kearifan lokal, pendampingan pasca pelatihan yang minim, akses pemasaran yang terbatas, dan inisiatif masyarakat yang rendah, karena belum melihat contoh nyata keberhasilan. Dari hasil analisis tersebut, disusun alternatif solusi berupa edukasi pembuatan sabun dan fungsi bahan serta prosedur kerja pembuatan Cymbosavon, pelatihan pembuatan Cymbosavon dari serai wangi, pendampingan teknis pengemasan, branding, dan pemasaran. Pelaksanaan Pelatihan Pelatihan diawali dengan sosialisasi program kepada warga dan tokoh masyarakat dan kuesioner pre-test. Dilanjutkan dengan pelatihan intensif berupa teori dan praktik pembuatan sabun cuci tangan herbal, pendampingan peralatan dan bahan produksi awal, serta pendampingan aspek pengemasan dan promosi. Evaluasi dilakukan di akhir kegiatan untuk menilai perubahan pengetahuan, keterampilan, dan dampak ekonomi yang dihasilkan, serta merumuskan tindak lanjut untuk keberlanjutan program. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. Evaluasi Kegiatan Evaluasi dilakukan di akhir kegiatan untuk menilai efektivitas pelatihan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Metode evaluasi menggunakan metode observasi langsung terhadap keterampilan peserta saat praktik pembuatan sabun, dan kuesioner post-test untuk mengukur pemahaman materi sebelum dan sesudah pelatihan. HASIL DAN DISKUSI Pelatihan pembuatan Cymbosavon yang dilaksanakan di Desa Wonorejo mendapat respon positif dari masyarakat. Sebanyak 25 peserta hadir secara aktif selama kegiatan berlangsung yang terdiri dari ibu-ibu PKK Desa Wonorejo. Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan materi tentang pemanfaatan serai wangi sebagai bahan alami produk sabun cair, teknik pembuatan produk, dan wawasan dasar Melalui praktik langsung, peserta menunjukkan kemampuan yang cukup baik dalam memproduksi sabun cair. Produk Cymbosavon ditunjukkan pada Gambar 1. Evaluasi produk menunjukkan bahwa hasil akhir memiliki karakteristik fisik yang memenuhi standar, yaitu harum, berwarna menarik, dan bertekstur Gambar 1. Produk Cymbosavon. Selain aspek teknis, kegiatan ini juga memberikan dampak edukatif terkait pentingnya nilai tambah produk lokal. Peserta menyatakan minat untuk melanjutkan produksi Cymbosavon secara berkelompok. Selama kegiatan berlangsung, terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengolah bahan lokal menjadi produk bernilai tambah. Minat peserta dalam mengembangkan usahanya pasca pelatihan cukup tinggi, terlihat dari diskusi kelompok yang menghasilkan inisiatif untuk membentuk unit usaha kecil rumahan. Selain itu, beberapa peserta menunjukkan ide-ide kreatif, seperti variasi aroma, inovasi kemasan, dan strategi penamaan produk. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong kreativitas dan orientasi kewirausahaan di masyarakat. Kegiatan ini memiliki dampak edukasi yang signifikan dan menjadi fondasi awal untuk mengembangkan usaha berbasis sumber daya lokal. Kegiatan ini sejalan dengan hasil pengabdian Wulandari et al. yang menyatakan bahwa hasil kegiatan pelatihan diversifikasi serai wangi menunjukkan Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. adanya peningkatan pemahaman mitra sasaran mengenai manfaat dan potensi diversifikasi produk berbahan dasar serai wangi. Selain itu, terjadi peningkatan kemampuan peserta dalam mengolah serai wangi menjadi sabun cair, serta keterampilan dalam menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual produk. Kegiatan ini memiliki peran penting, karena mampu membekali masyarakat dengan keterampilan praktis dalam mengolah sumber daya lokal menjadi produk bernilai Tahap pertama pada saat kegiatan ialah tahap edukasi materi dalam pelatihan pembuatan Cymbosavon meliputi pengenalan berbagai bahan dasar, dan pendukung dalam pembuatan sabun cair herbal (Gambar . Pada tahap pertama ini, materi disampaikan oleh Mikhael Krisnaputra. Peserta diperkenalkan dengan bahan utama, yaitu serai yang memiliki kandungan antibakteri alami yang berfungsi sebagai pewangi alami dan antiseptik pada sabun (Nurcholis et al. , 2. Selain itu, bahan pendukung seperti texapone sebagai surfaktan dan juga berperan sebagai bahan pembersih utama, aquades digunakan untuk mengencerkan campuran, gliserin berfungsi sebagai pelembab, dan emulsifier untuk menggabungkan bahan dasar minyak dan air (Hutapea et al. , 2. Pewarna alami dan pengawet juga dijelaskan sebagai bahan opsional untuk meningkatkan tampilan dan daya simpan Pada sesi ini, peserta juga diajak untuk mengamati pentingnya keamanan bahan dan takaran yang tepat agar sabun tidak menimbulkan iritasi kulit. Gambar 2. Tahapan Edukasi Materi dalam Pelatihan Pembuatan Cymbosavon. Tahapan kedua yaitu tahapan praktik pembuatan Cymbosavon diawali dengan menyiapkan semua bahan dan peralatan yang telah diperkenalkan pada sesi Pada tahap kedua ini, materi disampaikan oleh Henny Parida Hutapea. Si. Sc. Bahan-bahan seperti texapone, natrium sulfat, air suling, minyak atsiri serai wangi, gliserin, serta pewarna dan pengawet alami ditimbang sesuai takaran yang ditentukan. Selanjutnya, peserta dipandu untuk mengikuti setiap tahapan secara bertahap sesuai arahan pemateri, sehingga proses pencampuran bahan menjadi lebih mudah dan hasilnya maksimal. Setelah itu, bahan-bahan dimasukkan perlahan-lahan sambil diaduk terus-menerus hingga larut sempurna. Pada tahap ini, peserta juga dilatih untuk menjaga konsistensi campuran agar tidak terbentuk busa berlebih yang dapat mempengaruhi kualitas akhir sabun (Nurmalasari, 2. Langkah selanjutnya adalah mencampurkan gliserin dan minyak atsiri serai wangi ke dalam larutan sabun. Pengadukan dilakukan perlahan-lahan hingga semua bahan Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. tercampur merata. Pewarna dan pengawet dimasukkan terakhir dengan penekanan pada penggunaan bahan-bahan alami dan aman untuk kulit. Setelah campuran merata, larutan didiamkan sejenak untuk memastikan kestabilan emulsi dan menghindari endapan. Sabun cair yang sudah jadi, kemudian dituangkan ke dalam botol transparan, diberi label nama produk Cymbosavon, dan dikemas secara Semua tahapan ini dilakukan dengan pendekatan praktik langsung, sehingga peserta mampu menguasai keterampilan secara mandiri dan dapat mempraktikkan kembali proses tersebut di rumah sebagai upaya berkelanjutan (Hutapea & Sembiring, 2. Proses Tahapan Praktik Pembuatan Cymbosavon ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 3. Tahapan Praktik Pembuatan Cymbosavon. Tahapan ketiga yaitu tahapan teknik pengemasan produk Cymbosavon merupakan langkah penting dalam menjaga kualitas produk dan meningkatkan daya tarik konsumen (Gambar . Dalam pelatihan, peserta diajarkan untuk memilih wadah yang tepat, seperti botol plastik transparan ukuran 100 ml yang tahan terhadap bahan kimia ringan dan mudah digunakan. Proses pengisian sabun dilakukan menggunakan corong agar tidak tumpah, kemudian botol ditutup rapat menggunakan tutup flip-top agar higienis dan praktis. Setelah botol ditutup rapat, setiap botol diperiksa secara visual untuk memastikan tidak ada kebocoran atau kotoran pada bagian luar maupun tutupnya. Peserta juga dikenalkan cara membuat label sederhana yang mencantumkan nama produk, komposisi, tanggal produksi, dan kontak produsen. Gambar 4. Tahapan Teknik Pengemasan Produk Cymbosavon. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. Dalam hal pemasaran dan branding, peserta dipandu pemateri Niken Trisnawati. , untuk mengenali pentingnya nilai jual dan keunikan produk Branding diawali dengan penentuan nama produk, seperti Cymbosavon yang memadukan unsur ilmiah dan komersial, serta penggunaan desain label yang Peserta dilatih menyusun narasi promosi sederhana yang menonjolkan keunggulan produk, seperti bahan citronella alami, manfaat antibakteri, dan ramah Untuk pemasaran, strategi yang dibahas meliputi penjualan langsung ke tetangga, pemanfaatan media sosial seperti WhatsApp dan Instagram, hingga promosi melalui pasar desa atau koperasi setempat. Edukasi ini bertujuan agar peserta tidak hanya mampu berproduksi, tetapi juga mampu menjual produknya secara mandiri dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini ditutup dengan sesi foto bersama dengan seluruh peserta. Sesi foto bersama peserta kegiatan ditunjukkan oleh Gambar 5. Gambar 5. Foto Bersama Peserta Kegiatan. Tahap terakhir dalam kegiatan ini adalah dilakukan evaluasi kegiatan, yaitu pembagian kuesioner post-test. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, capaian indikator menunjukkan keberhasilan yang cukup tinggi di beberapa indikator, seperti kehadiran, pemahaman materi, kemampuan produksi, kualitas produk, dan minat berwirausaha. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, capaian indikator menunjukkan keberhasilan yang cukup tinggi di beberapa indikator, seperti kehadiran, pemahaman materi, kemampuan produksi, kualitas produk, dan minat Namun masih terdapat tantangan dalam hal keberlanjutan pemasaran dan produksi. Peserta belum sepenuhnya memahami strategi penjualan digital atau pencatatan keuangan usaha. Oleh karena itu, diperlukan sesi lanjutan berupa pelatihan pemasaran daring dan pendampingan usaha mikro. Kegiatan ini menjadi titik awal terbentuknya usaha berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Dengan dukungan berkelanjutan dari mitra dan pemerintah desa. Cymbosavon berpotensi menjadi produk unggulan desa yang bernilai ekonomi tinggi. Berdasarkan hasil grafik evaluasi kegiatan, capaian indikator menunjukkan keberhasilan yang cukup tinggi. Grafik tersebut menunjukkan perbandingan antara target dan hasil aktual dari keenam indikator penilaian kegiatan pelatihan pembuatan sabun tangan cair di Desa Wonorejo. Pada indikator kehadiran peserta, capaian 100% sesuai target yang ditetapkan, hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi. Pemahaman terhadap materi melebihi target awal, yaitu Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. 80% dengan capaian aktual mencapai 87%, hal ini menunjukkan keberhasilan metode penyampaian materi yang digunakan dalam pelatihan. Kemampuan peserta dalam membuat sabun cair juga melebihi harapan dengan capaian 80% dari target 70%, hal ini menunjukkan efektivitas sesi praktik langsung. Kualitas produk sabun yang dihasilkan peserta memenuhi standar kelayakan dengan capaian 100%, setara dengan target yang ditetapkan, baik dari segi aroma, warna, maupun tekstur. Minat peserta dalam membentuk kelompok usaha juga sangat tinggi dengan capaian maksimal 100%, hal ini menunjukkan adanya potensi pengembangan usaha yang berkelanjutan di masa mendatang. Namun pada indikator pemahaman pemasaran dan branding terdapat selisih negatif dari target sebesar 60%, karena realisasinya hanya mencapai 55%. Hal ini menunjukkan bahwa aspek pemasaran masih perlu diperkuat melalui pelatihan lebih lanjut agar potensi produk mampu bersaing secara komersial di pasar lokal maupun digital (Sukanda et al. , 2. Hasil evaluasi pelatihan Cymbosavon disajikan pada Gambar 6. Gambar 6. Hasil Evaluasi Pelatihan Cymbosavon. SIMPULAN Kegiatan pelatihan pembuatan Cymbosavon . abun tangan cair herbal berbahan serai wang. memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan jiwa wirausaha masyarakat Desa Wonorejo. Peserta berhasil menguasai proses pembuatan sabun cair dari serai wangi secara mandiri dengan kualitas yang layak dipasarkan. Program ini juga mendorong munculnya inisiatif pembentukan kelompok usaha kecil berbasis rumah tangga yang berfokus pada produk herbal lokal. Hasil evaluasi menunjukkan persentase capaian yang tinggi mencapai 100% pada beberapa indikator, antara lain kehadiran, kualitas produk, dan minat berkelompok. Selain itu juga, terdapat peningkatan pemahaman peserta dari aspek materi yaitu 87%, dan kemampuan mengolah sabun cair mencapai 80%. Akan tetapi, tidak tercapainya target indikator pemasaran dan branding yang hanya menghasilkan nilai persentase 60%, sehingga aspek ini menjadi fokus pengembangan lanjutan. Dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan ini menghasilkan teknologi tepat guna yang sederhana, dan modul pelatihan yang dapat direplikasi secara luas. Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi terhadap upaya peningkatan perekonomian masyarakat berbasis potensi lokal yang berkelanjutan. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 104-114 Email: nurasjournal@gmail. SARAN Saran untuk kegiatan ini dapat terus berlanjut, maka perlu dilakukan pendampingan lebih lanjut, terutama dalam hal pengelolaan usaha dan pemasaran Pemerintah desa dan lembaga mitra diharapkan dapat memberikan dukungan fasilitasi, seperti alat produksi sederhana, label kemasan, dan promosi Kegiatan serupa juga dapat diperluas ke desa-desa sekitar dengan memanfaatkan Cymbosavon sebagai produk unggulan daerah. Selain itu, kolaborasi dengan UMKM, koperasi, dan lembaga pendidikan tinggi dapat memperkuat ekosistem inovasi dan kewirausahaan desa. Dengan langkah berkelanjutan ini, masyarakat diharapkan mampu mengelola usaha berbasis produk lokal secara mandiri dan profesional. UCAPAN TERIMA KASIH