Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 BHUMI BAMBU: DESTINASI WISATA ALAM BERBASIS LINGKUNGAN DI BANYUMAS Sekar Aprilia AzahroA. Atiqah Nur SaAoidahA. Siti Salsabila YulissaA. Agung KurniawanA 1,2,3,4 Universitas Jenderal Soedirman Jl. Profesor DR. HR Boenyamin No. Jawa Tengah Email Correspondence: sekar. azahro@mhs. ABSTRAK Bhumi Bambu adalah destinasi wisata alam baru di Banyumas yang menyuguhkan berbagai objek wisata di dalamnya dan berfokus untuk menonjolkan hutan bambu yang jarang ditemui pada wisata alam lainnya di Banyumas. Terletak di lereng Gunung Slamet. Bhumi Bambu memiliki beberapa objek wisata alam di dalamnya seperti Curug Tirto Widodari. Curug Kracakan. Green Stone Waterfall, dan Curug Temon. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh secara langsung melalui wawancara dan observasi. Didapati bahwa wisatawan yang berkunjung ke Bhumi Bambu masih menganggap bahwa objek wisata yang menarik di Bhumi Bambu adalah curug-curug yang berada di dalamnya, bukan hutan bambu. Wisatawan tertarik berwisata ke Bhumi Bambu karena keasrian alamnya yang masih terjaga, tidak terlalu banyak ornamen Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan studi-studi terdahulu yang belum menekankan pada destinasi wisata alam hutan bambu di Banyumas dan menjawab pertanyaan penelitian mengenai gambaran umum Bhumi Bambu, perbedaan Bhumi Bambu dengan destinasi wisata alam lainnya, strategi pengembangan, dan perspektif masyarakat mengenai Bhumi Bambu. Kata kunci: Wisata Alam. Hutan Bambu. Bhumi Bambu Baturraden ABSTRACT Bhumi Bambu is a new natural tourism destination in Banyumas that serves various tourist attractions inside and focused on showing bamboo forest which is rarely found in other natural tourism destinations in Banyumas. Located on the slopes of Mount Slamet. Bhumi Bambu has several natural tourist attractions in it, such as Tirto Widodari Waterfall. Kracakan Waterfall. Green Stone Waterfall, and Temon Waterfall. Research method used in this research is a descriptive qualitative method. The data source is primary data, obtained directly through interviews and observations. Tourists in Bhumi Bambu took interest in the waterfalls, not the bamboo forest. They are interested to travel to Bhumi Bambu because of its natural beauty that is still preserved, and with not too many artificial ornaments. This research aim to fill the gaps in previous studies which have not emphasized natural bamboo forest tourism in Banyumas and answers research questions regarding the general description of Bhumi Bambu, differences between Bhumi Bambu and other natural tourist destinations, development strategies and societal perspective regarding Bhumi Bambu. Keywords: Natural Tourism. Bamboo Forest. Bhumi Bambu Baturraden Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keindahan alam dan keanekaragaman budaya, sehingga perlu adanya peningkatan sektor pariwisata. Sektor pariwisata tersebut merupakan sektor yang ikut berperan penting dalam usaha peningkatan pendapatan untuk Indonesia. Hal ini dikarenakan pariwisata merupakan sektor yang dianggap menguntungkan dan sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu aset yang digunakan sebagai sumber yang menghasilkan bagi Bangsa dan Negara. (Roslin. , 2. Dengan memanfaatkan potensi alam yang dimiliki. Indonesia memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan pariwisata alam sebagai salah satu daya tarik utama dalam industri pariwisata. Salah satu atraksi wisata yang menjadi kekuatan utama di Indonesia adalah wisata alam dengan keanekaragaman hayatinya (Manalu. , 2. Hampir seluruh bagian di wilayah Indonesia memiliki potensi alam yang dapat dimanfaatkan sebagai wisata alam, salah satunya di Kabupaten Banyumas. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki tempat wisata alam yang sangat menarik dan terletak di lereng selatan Gunung Slamet (Ramadhan. , 2. Lokasi tersebut menawarkan berbagai destinasi wisata alam yang dapat menarik daya tarik wisatawan, mulai dari pegunungan hingga beberapa curug yang ada. Kawasan wisata alam yang menarik minat wisatawan di Banyumas yaitu Kecamatan Baturraden, dikenal sebagai salah satu kawasan wisata alam terpopuler di Banyumas. Baturraden memiliki banyak air terjun atau curug. Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Pemuda. Olahraga. Kebudayaan, dan Pariwisata (DINPORABUDPAR) Banyumas, pada tahun 2022 jumlah desa wisata yang terdapat di wilayah Banyumas berjumlah 21 desa-wisata. Setiap desa memiliki karakteristik potensi masing-masing yang berbeda, baik itu termasuk potensi yang sudah berkembang ataupun belum dimanfaatkan, selain itu pengelolaan dan tingkat perkembangan wilayah desa-wisata pun juga berbeda (Kurniawan dkk. , 2. Kecamatan Baturraden terletak di kaki Gunung Slamet yang membuat wilayah ini dipenuhi lereng Ae lereng dan juga berhawa dingin (Diwangkara dkk. , 2. Sehingga menjadikan kawasan tersebut memiliki banyak potensi alam yang dapat dijadikan sebagai sebuah wisata. Terdapat banyak tempat wisata alam yang berada di Kawasan Baturraden, seperti lokawisata Baturraden. Hutan Pinus. Baturraden Adventure Forest, dan lain Banyaknya tempat wisata yang ada di kawasan Baturraden, sangat jarang ditemukan wisata yang hanya berfokus pada keaslian alamnya saja dan tidak terlalu menonjolkan destinasi buatannya. Namun, tempat wisata alam bernama Hutan Bhumi Bambu Baturraden, menyajikan hal yang berbeda dari wisata alam lainnya. Wisata ini memiliki banyak destinasi curug yang menarik para wisatawan untuk berkunjung. Tak hanya menawarkan keindahan dari curug-curugnya saja. Bhumi Bambu menawarkan keindahan hutan bambu yang sengaja ditanam di tempat wisata tersebut karena dapat memberikan nuansa alam yang berbeda dari wisata alam lain di Banyumas. Wisata Hutan Bhumi Bambu sengaja tidak menambahkan artifisial karena ingin menonjolkan keaslian alamnya dari tanaman bambu yang ada di sana. Tanaman bambu merupakan salah satu jenis rumput-rumputan yang termasuk ke dalam famili Gramineae dan merupakan bagian dari komoditas hasil hutan bukan kayu. Dalam pertumbuhannya, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa tanaman bambu hanya dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan seperti untuk perabotan rumah tangga, mebel, serta tanaman bambu juga dapat digunakan sebagai tanaman penahan terjadinya erosi (Ritonga. , 2. Dari pernyataan tersebut, masyarakat hanya berpikir untuk Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 memanfaatkan tanaman bambu dari segi pengolahannya saja. Serta, tidak banyak yang menjadikan tanaman bambu sebagai sebuah wisata. Hutan bambu yang terdapat di sepanjang jalan area Bhumi Bambu ini awalnya ditanam sebanyak 60 spesies bambu pada tahun 1997 oleh pemilik wisata ini. Dalam pertumbuhannya pun tidak mudah, ada yang dapat berkembang dengan baik dan ada pula yang sulit untuk berkembang. Wisata Bumi Bhambu menjadi salah satu bukti bahwasanya hutan bambu dapat dijadikan sebagai sebuah tempat wisata yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan studistudi terdahulu yang belum menekankan pada destinasi wisata alam hutan bambu di Banyumas dan menjawab beberapa pertanyaan penelitian yaitu memberikan gambaran umum Bhumi Bambu, menjelaskan perbedaan Bhumi Bambu dengan wisata alam lainnya di Banyumas, menjelaskan strategi pengembangan Bhumi Bambu, serta menjelaskan bagaimana persepsi masyarakat mengenai Bhumi Bambu. Bhumi Bambu dapat dikatakan sebagai ekowisata. Ekowisata adalah bentuk perencanaan wisata yang tepat untuk potensi-potensi yang dimiliki oleh sebuah wilayah. Wisata hutan bambu menjadi sebuah ekowisata dengan memanfaatkan hasil alam berupa tanaman bambu dengan menyajikan berbagai spesies atau jenis dari tanaman bambu. Wisata hutan bambu di samping memberikan manfaat bagi ekonomi, dapat memberikan keberlanjutan dalam ekologi atau dari segi alamnya. Wisata hutan bambu dijadikan sebagai tempat kunjungan atau kegiatan rekreasi yang dilakukan para pengunjung di area hutan yang ditumbuhi oleh bambu. Tempat wisata yang menjadikan tanaman bambu menjadi sebuah destinasi wisata menjadi sesuatu yang unik dan langka. Hal tersebut terdapat dalam penelitian oleh Rahayu . , yang berjudul "Strategi Pengembangan Ekowisata Hutan Bambu di Kabupaten Lumajang" menjelaskan bahwa di Kabupaten Lumajang memiliki ekowisata berupa wisata hutan Kabupaten tersebut menjadikan hutan bambu sebagai tempat wisata karena menganggap bahwa tanaman bambu memiliki daya tarik tersendiri, karena usia dari tanaman bambu yang dapat bertahan puluhan tahun dan membuat suasana tenang dan METODE PENELITIAN Pada penelitian ini, pendekatan yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan data primer. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan data primer yang diperoleh langsung dari lokasi penelitian melalui sumber pertama yang peneliti dapatkan melalui hasil wawancara dari informan, serta yang didapatkan langsung melalui pengamatan langsung di lapangan. Informan yang dijadikan sasaran penelitian ini yaitu pengelola Bhumi Bambu dan beberapa pengunjung dari Bhumi Bambu. Pengelola Bhumi Bambu dijadikan sasaran penelitian karena beliau memahami sejarah awal bagaimana Bhumi Bambu terbentuk, apa saja keunggulan dan kelemahan yang dimiliki Bhumi Bambu, dan apa saja tantangan yang dihadapi dalam pengelolaannya. Sedangkan, pengunjung dijadikan sebagai sasaran penelitian karena peneliti ingin melihat bagaimana persepsi dari masyarakat terhadap Bhumi Bambu yang meliputi keunggulan, kekurangan, serta saran untuk ditujukan pada tempat wisata tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan Teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Purposive sampling digunakan pada penelitian ini karena peneliti ingin mengetahui sejarah awal mula Bhumi Bambu Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 terbentuk dan persepsi pengunjung, sehingga peneliti mengambil sampel pengelola dan pengunjung Bhumi Bambu sebagai sumber data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi tak terstruktur. Observasi ini dilakukan di Bhumi Bambu, untuk melihat ketertarikan atau minat pengunjung akan jenis keberagaman beberapa destinasi yang tersedia dan untuk mendapatkan informasi terkait alasan pengunjung tertarik untuk mengunjungi destinasi wisata tersebut. Wawancara semi-terstruktur juga dilakukan kepada pengelola Bhumi Bambu, karyawan dan beberapa pengunjung untuk mengetahui persepsi, pengetahuan, dan pengalaman mereka selama mengunjungi, mengawasi dan mengelola di wisata tersebut. Tinjauan pustaka juga digunakan sebagai informasi tambahan yang di dapat dari sumber jurnal, artikel, buku maupun internet. Teknis analisis kualitatif yang digunakan yaitu meliputi tiga alur, yaitu reduksi data yang dilakukan dengan membuat koding berdasarkan transkrip wawancara dengan pengelola dan pengunjung Bhumi Bambu, penyajian data yang disajikan dalam bentuk narasi dan tabel, dan penarikan kesimpulan yang dihasilkan dari hasil reduksi transkrip wawancara dan berdasarkan pertanyaan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Wisata Alam Bhumi Bambu Bhumi Bambu menjadi satu-satunya objek wisata di Kabupaten Banyumas yang menjadikan hutan bambu sebagai destinasi wisata bernuansa alam. Bhumi Bambu berlokasi di Dusun II. Karangsalam. Kecamatan Baturraden. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah. Bhumi Bambu Baturraden buka dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Berjarak sekitar 15 kilometer sebelah Utara dari Alun-alun Purwokerto. Bhumi Bambu terletak di lereng Gunung Slamet, memiliki lahan seluas 6 hektar yang mayoritas ditanami bambu. Pada awalnya, lokasi tersebut merupakan lahan yang tidak terpakai. Kemudian, pemilik lahan tersebut menanami 60 spesies bambu pada tahun 1997. Seiring berjalannya waktu, ada spesies bambu yang akhirnya berkembang dan ada pula yang tidak. Menurut penelitian (Afafi. , 2. , terdapat 39 jenis nama lokal bambu yang ditanam di area tersebut seperti bambu linjing, bambu kuning, bambu petung, bambu wulung, bambu merak dan jenis bambu lainnya. Bhumi Bambu tidak hanya menyajikan objek wisata berupa hutan bambu saja, tetapi juga beberapa objek wisata lain sebagai berikut. Tabel 1. Objek Wisata. Atraksi. Amenitas. Aksesibilitas, dan Ancillary Bhumi Bambu Objek Wisata Atraksi Jenis Nama Keterangan Alam Hutan bambu Tanaman bambu yang terdapat di Bhumi Bambu Baturraden tumbuh secara bebas dan tidak beraturan, menciptakan wisata yang memiliki nuansa alami. Tanaman bambu yang tumbuh secara bebas dan tidak beraturan ini membuat area Bhumi Bambu Baturraden sejuk dan teduh. Curug Temon memiliki air yang berwarna jernih dan unik karena terdapat pertemuan dua aliran air yang menyatu menjadi sebuah curug yang indah. Curug Temon Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 Objek Wisata Jenis e-ISSN : 2620-9322 Nama Keterangan Curug Kracakan Curug Kracakan memiliki kedalaman yang cukup dangkal sehingga cocok untuk anakanak bermain. Selain itu, di sekitar curug ini terdapat dataran rumput yang cukup luas, sehingga pengunjung dapat berpiknik membawa makanan sendiri. Green Stone Waterfall yang memiliki ketinggian 5 meter dan kedalaman 1,5 - 2 meter ini mulanya dinamakan dengan Curug Pendak, tetapi karena bebatuan yang terdapat di area curug tertutup dengan lumut, air terjun ini berganti nama menjadi Green Stone Waterfall. Curug Tirto Widodari adalah curug yang paling ramai dikunjungi. Curug ini memiliki kedalaman kurang lebih 3 meter dan memiliki undakan yang cukup tinggi, sehingga cocok untuk dipakai berenang dan melompat. Tidak hanya itu, pada golden time, sekitar jam 8-11 pagi, terdapat pelangi yang muncul akibat pembiasan cahaya matahari dan percikan air. Camping ground yang terdapat pada Bhumi Bambu cukup luas dan bersih. Camping ground berada di area depan Bhumi Bambu dan di luar pintu masuk atau loket. Kolam Natural Bhumi Bambu adalah kolam renang buatan yang terdapat di area depan Bhumi Bambu, dekat dengan Camping ground. Namun, kolam ini belum beroperasi. Bhumi Bambu memiliki kolam ikan alami yang cukup besar. Di dalamnya terdapat berbagai macam ikan, tidak hanya ikan hias. Terdapat kedai di dalam Bhumi Bambu yang menjual makanan dan minuman dengan harga Bhumi Bambu memiliki Cafe di luar pintu Cafe ini menjual berbagai macam makanan, dari ringan hingga berat, kopi, es krim, dan sebagainya. Selain itu, cafe ini juga memiliki balkon yang menghadap ke arah parkiran bawah dan memiliki pemandangan yang asri. Bhumi Bambu memiliki beberapa fasilitas penunjang keamanan yang terjamin seperti 20 kamera CCTV yang terpasang di area curug, menyediakan pelampung dan alat keselamatan lainnya, mushola, kamar mandi dan tempat bilas yang berada di setiap lokasi curug. Wi-Fi, area parkir yang luas, serta set perlengkapan Jarak tempuh dari Purwokerto sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas . epatnya Alun-Alun Purwokert. menuju Bhumi Bambu Baturraden sekitar 15 km dengan waktu tempuh 27 menit menggunakan kendaraan Kondisi jalan menuju Bhumi Bambu Green Stone Waterfall Curug Tirto Widodari Buatan Camping ground Kolam Natural Kolam ikan Amenitas Tempat makan dan Keamanan dan fasilitas Aksesibilitas Infrastruktur Kedai Bhumi Bambu Silver Roof Cafe Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 Objek Wisata Jenis Transportasi Ancillary Fasilitas Umum Informasi e-ISSN : 2620-9322 Nama Keterangan Baturraden cukup menanjak dan beberapa berlubang walaupun sudah ter aspal. Belum adanya transportasi umum yang menuju spesifik ke arah Bhumi Bambu Baturraden. Rute bus Trans Banyumas hanya sampai di Terminal Baturraden, tidak sampai area Bhumi Bambu yang berada di dataran tinggi. Untuk menuju Bhumi Bambu dengan menggunakan bus Trans Banyumas, dari Terminal Baturraden masih terdapat jarak sekitar 2. 2 km dengan waktu tempuh 6 menit menggunakan kendaraan bermotor dan 36 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Bank. ATM, dan rumah sakit terletak di Baturraden bagian bawah, di sekitar area Terminal Baturraden, berjarak kurang lebih 2. km atau dengan waktu tempuh 6 menit dengan kendaraan bermotor dari Bhumi Bambu. Informasi mengenai Bhumi Bambu Baturraden Instagram @bhumi_bambu dan laman resmi yang dikelola oleh Bhumi Bambu melalui link Penelitian yang dilakukan oleh (Diwangkara dkk. , 2. mengungkapkan bahwa Baturraden termasuk di dalam kawasan pariwisata yang cukup banyak diminati, sehingga diperlukan fasilitas yang memadai untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan berdasarkan segi pengaplikasian 4A (Attraction. Amenity. Accessibility, dan Ancillar. Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa Bhumi Bambu sedikit demi sedikit memenuhi pengaplikasian 4A. Bhumi Bambu pernah dikelola oleh warga sekitar tahun 2017. Akhirnya masyarakat tersebut bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) untuk mengelola Bhumi Bambu agar hasilnya tidak untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk sekumpulan masyarakat sekitar. Aset yang ada pada wisata tersebut terpelihara dengan maksimal karena masyarakatnya mampu mengelola dengan baik. Namun ketika puncak pandemi. Bhumi Bambu dikelola secara perseorangan karena sepinya pengunjung, tetapi tetap menggunakan sistem kolaborasi atau bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS). Dalam pembangunannya, yang dimulai dari set up hingga running, membutuhkan waktu sekitar lebih dari satu tahun. Perbedaan Bhumi Bambu dengan Wisata Alam Lainnya di Banyumas Bhumi Bambu menawarkan keindahan alami seperti hutan bambu, curug, suarasuara angin dari hutan bambu, dan gradasi warna dari daun bambu. Oleh karena itu. Bhumi Bambu ini tidak banyak menambahkan ornamen buatan atau artifisial, hanya sebatas fasilitas-fasilitas penunjang saja. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara peneliti dengan pengelola, bahwa beliau ingin Bhumi Bambu menjadi destinasi wisata bernuansa alam dengan fasilitas pendukung yang komplit dan berbasis lokal dengan bahan baku Oleh karena itu. Bhumi Bambu memiliki perbedaan dengan wisata-wisata alam lainnya di Banyumas yang didominasi dengan wisata alam curug. Di daerah yang sama yakni Baturraden, terdapat tempat wisata dengan konsep AuhutanAy yang sedikit mirip Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 dengan Bhumi Bambu, yakni Hutan Pinus Limpakuwus. Walaupun memiliki konsep yang berdekatan, tetapi dua tempat wisata ini berbeda. Hutan Pinus Limpakuwus memiliki pohon pinus yang tumbuh tertata, juga memiliki banyak ornamen buatan dalam bentuk wahana, seperti wahana mountain slide, playground, flying fox, paintball, dan ATV. Sedangkan. Bhumi Bambu berfokus pada pelestarian tanaman bambu yang tumbuh secara liar, bebas, dan tidak beraturan. Hal ini disebabkan tanaman bambu bukanlah pohon, tetapi rumput yang tumbuh secara bebas. Selain itu. Bhumi Bambu tidak banyak menambahkan ornamen artifisial seperti halnya pada wisata Hutan Pinus Limpakuwus. Adanya perbedaan konsep Bhumi Bambu dengan Hutan Pinus Limpakuwus membuktikan bahwa. Bhumi Bambu ingin menjadi sebuah tempat wisata sebagai lokasi konservasi bambu. Hal tersebut disebabkan fokus utama dari Bhumi Bambu adalah pada pelestarian tanaman dan mengutamakan keasrian lingkungan. Secara definisi, konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam (Christanto. , 2. Pengelola Bhumi Bambu telah berhasil mewujudkan konservasi tanaman bambu. Sedangkan, keasrian lingkungan dilihat dari tanaman yang dijaga, dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa dirusak demi kepentingan perluasan objek destinasi wisata. Serta, tidak diberikan akses internet di lokasi curug agar memberikan nuansa alami hutan bambu. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pengelola Bhumi Bambu, dijelaskan bahwa awal mula wisata ini dirikan yaitu selain ingin menjadi lokasi konservasi bambu, tetapi juga ingin menjadikan hutan bambu sebagai wisata edukasi bagi Namun, yang menjadi permasalahannya yaitu pengunjung justru lebih tertarik mengeksplorasi dan menganggap destinasi utama dari Bhumi Bambu yaitu terletak pada curugnya. Melalui keindahan alami dari beberapa curug tersebut, membuat pemandangan terlihat lebih memikat hati pengunjung dibandingkan dengan konsep wisata hutan bambu yang sebenarnya menjadi daya tarik utama di wisata tersebut. Faktor utama yang memicu terjadinya permasalahan tidak terwujudnya tujuan awal didirikannya Bhumi Bambu, yaitu disebabkan kurangnya perawatan tanaman bambu. Selain itu, tidak adanya media edukasi terkait tanaman bambu di kawasan wisata tersebut. Adanya fenomena tersebut dapat menimbulkan kontroversi, karena dianggap kurang mampu dalam meningkatkan daya tarik wisata hutan bambu dibandingkan dengan destinasi lainnya yang ada di Bhumi Bambu. Selain itu, yang menyebabkan kurangnya minat dari pengunjung terhadap hutan bambu di wisata ini, yaitu pengelola kurang memanfaatkan potensi dari hutan bambu dengan maksimal, sehingga terkesan kurang menarik minat pengunjung. Padahal, tanaman bambu di kawasan tersebut sebenarnya dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi berbagai produk kreatif, seperti kerajinan tangan untuk kesenian, peralatan rumah tangga, serta dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan untuk cenderamata pengunjung wisata (Hidayah. , 2. Namun sayangnya, pemanfaatan tanaman bambu di wisata tersebut hanya sebatas pada pembuatan jembatan penyeberangan, pegangan tangan, saung atau gubuk yang tidak terpakai, loket, kedai, dan tiang lampu yang terkesan kurang inovatif. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat permasalahan atau kontroversi yaitu tidak terwujudnya tujuan awal didirikannya Bhumi Bambu ini seperti yang diharapkan oleh owner dan pengelola wisata tersebut. Strategi Pengembangan Bhumi Bambu Bhumi Bambu memiliki kelebihan dalam hal keamanan yaitu terpasangnya 20 kamera CCTV di hampir semua titik lokasi curug. Dipasangnya kamera CCTV tersebut Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 penting untuk memantau setiap pengunjung yang berada di Bhumi Bambu, karena jumlah penjaga tidak cukup banyak untuk mengawasi di setiap titik lokasi. Selain itu, selalu ada penjaga yang berada di Curug Tirto Widodari untuk mendampingi dan mengawasi para pengunjung yang berenang. Tidak hanya itu, pelampung dan alat keselamatan lainnya yang memenuhi standar keamanan juga tersedia. Serta, terdapat kamar mandi dan tempat bilas yang berada hampir di setiap lokasi curug. Meskipun memiliki kelebihan, terdapat kekurangan yang ada di Bhumi Bambu yaitu pengelola kurang memanfaatkan lahan di sekitar wisata tersebut. Masih adanya lahan kosong di wisata tersebut seharusnya bisa dikembangkan menjadi sebuah destinasi baru. Salah satu destinasi di Bhumi Bambu memiliki potensi menarik dengan adanya saung atau gubug yang atapnya terbuat dari anyaman jerami di sekitar camping area. Meskipun saat ini terbengkalai, saung-saung tersebut memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi yang menarik jika dikelola secara lebih maksimal. Kekurangan dari Bhumi Bambu yang lainnya yaitu terdapat jalan yang terjal dan perlu untuk diperbaiki, karena hal ini akan membuat pengunjung merasa kurang nyaman pada saat melewati jalanan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan agar Bhumi Bambu mampu bersaing dengan wisata alam lainnya di Banyumas. Pengelola harus melakukan pembangunan secara cepat dan terarah dengan bantuan kolaborasi antara beberapa pihak stakeholder. Serta, diperlukan juga strategi pemasaran yang harus dilakukan sebagai cara mengembangkan Bhumi Bambu. Strategi pemasaran yang dilakukan oleh Bhumi Bambu, salah satunya melalui media sosial dengan sasaran utama generasi milenial. Generasi milenial merupakan generasi yang memiliki tingkat kepekaan tinggi terhadap perkembangan teknologi khususnya pada media sosial yang semakin canggih (Osin. , 2. Oleh karena itu. Bhumi Bambu aktif dalam promosi di berbagai media sosial serta menyediakan laman resmi dari Bhumi Bambu agar mempermudah masyarakat mencari informasi seputar wisata mereka. Persepsi Masyarakat Mengenai Bhumi Bambu Bhumi Bambu masih tergolong wisata baru di Banyumas. Data ini dapat dibuktikan dengan hasil wawancara peneliti dengan beberapa pengunjung Bhumi Bambu. Mereka mengatakan bahwa mereka baru pertama kali datang ke Bhumi Bambu dan mengetahui tempat wisata alam ini dari mulut ke mulut serta melalui internet. Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber Hana, ia baru pertama kali berwisata ke Bhumi Bambu dan mengetahui bahwa di Wisata Bhumi masih menonjolkan dari keasrian alam yang tidak terlalu banyak ornamen buatan. Dari kebanyakan persepsi pengunjung juga mengatakan bahwa mereka lebih tertarik dengan wisata alam dibanding dengan wisata dengan ornamen buatan seperti fasilitas mal maupun museum. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber, banyak dari mereka yang mengatakan bahwa mereka lebih suka dengan destinasi wisata curug dibanding dengan tanaman hutan bambu, karena banyak dari mereka beranggapan bahwa destinasi wisata curug yang ada di Bhumi Bambu lebih menarik dibanding dengan tanaman bambu itu Hal ini disebabkan tanaman bambunya tumbuh secara tidak terstruktur dan kurang dimanfaatkan dengan baik, seperti bambunya tidak dijual ke pengepul bambu dan dibuat lebih kreatif dengan membuat gazebo untuk tempat berteduh di beberapa lokasi curug atau kincir angin yang terbuat dari bambu. Menurut salah satu narasumber bernama Ayu, jika memikirkan nama AuBhumi BambuAy, maka yang terlintas adalah sebuah ekosistem bambu. Menurutnya. Bhumi Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Bambu kurang memperlihatkan sebuah ekosistem bambu karena kurangnya pemanfaatan bambu sebagai ornamen di tempat tersebut. Padahal, bambu-bambu yang sudah dipanen bisa dimanfaatkan menjadi sebuah kerajinan bambu seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Budiawan dkk. , . Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu narasumber yang bernama Weni, ia menyatakan bahwa lokasi Bhumi Bambu terdapat beberapa fasilitas yang disediakan seperti pelampung yang khusus disediakan bagi pengunjung yang ingin berenang di Curug Tirto Widodari maupun Curug Green Stone yang lokasinya berdekatan dengan Curug Tirto Widodari. Namun, fasilitas seperti tempat makan maupun warung masih kurang memadai. Hal tersebut yang dirasakan oleh Weni ketika ia berkunjung ke beberapa curug yang mana fasilitas makan masih kurang diperhatikan oleh pihak pengelola maupun karyawannya. Seperti ia mengungkapkan bahwa di dekat Curug Tirto Widodari hanya terdapat warung mie dan kopi, untuk minuman yang lain seperti mineral masih belum tersedia dan menu yang disajikan masih kurang komplit. Selain itu, dari beberapa narasumber mengungkapkan bahwa Bhumi Bambu terkelola dengan baik terkait perawatan hingga kebersihan, mulai dari tidak terdapatnya sampah plastik, tetapi hanya sampah organik atau dedaunan, hingga kamar mandi yang sudah mengalami perubahan dibandingkan dari bulan Januari yang belum di KESIMPULAN Kawasan Baturraden menjadi sebuah Kawasan di Kabupaten Banyumas yang memiliki banyak wisata alam. Namun, dalam penelitian ini membuktikan bahwa hanya di Bhumi Bambu Baturraden yang menjadikan hutan bambu sebagai destinasi wisata bernuansa alam. Terdapat empat pembahasan dalam penelitian ini yaitu gambaran umum Bhumi Bambu, perbedaan Bhumi Bambu dengan wisata alam lainnya di Banyumas, strategi pengembangan Bhumi Bambu, serta persepsi masyarakat mengenai Bhumi Bambu. Bhumi Bambu terletak di Dusun II. Karangsalam. Kecamatan Baturraden. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah. Tak hanya menyajikan keindahan alami dari hutan bambu, di wisata tersebut terdapat beberapa destinasi wisata alam lainnya berupa Curug Temon. Curug Kracakan. Green Stone Waterfall, dan Curug Tirto Widodari. Lalu, perbedaan Bhumi Bambu dengan wisata alam lainnya di Banyumas yaitu terletak di keaslian dari wisatanya. Wisata Bhumi memfokuskan pada keaslian alamnya dengan tidak menambahkan ornamen buatan atau artifisial. Ornamen buatan di wisata tersebut hanya sebatas fasilitas penunjang saja seperti tempat duduk dan ayunan, dan pegangan kayu di setiap anak tangga. Strategi pengembangan yang dilakukan pengelola untuk mengembangkan Bhumi Bambu yaitu dengan menyediakan fasilitas keamanan, dan fasilitas yang cukup baik. Terdapat permasalahan yaitu bahwasanya tujuan awal didirikannya Bhumi Bambu yaitu ingin menjadikan hutan bambu di wisata tersebut sebagai wisata edukasi bagi para pengunjung. Namun, yang membuat tujuan awal tersebut tidak tercapai yaitu karena kurangnya media edukasi terkait tanaman bambu di wisata tersebut, serta kurangnya perawatan dari tanaman bambu. Dampaknya, beberapa pengunjung tidak dapat merasakan tujuan Bhumi Bambu sebagai wisata edukasi. Justru, pengunjung lebih tertarik pada keindahan curug-curug yang ada di wisata tersebut. Hal tersebut, sesuai dengan hasil wawancara dengan pengunjung terkait persepsi masyarakat mengenai Bhumi Bambu. Terdapat persepsi dari pengunjung yang menyebutkan bahwa tujuan mereka ke Bhumi Bambu yaitu karena ingin mengunjungi curugnya bukan hutan bambunya. Mereka Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 mengatakan seperti itu, karena mereka beranggapan bahwa destinasi wisata curug yang ada di Bhumi Bambu lebih menarik dibanding dengan tanaman bambu itu sendiri, yang mana banyak dari tanaman bambunya tumbuh secara tidak terstruktur dan kurang dimanfaatkan dengan baik. Namun, terdapat pengunjung yang memiliki persepsi bahwa hutan bambu di Bhumi Bambu menjadi sebuah tempat wisata yang unik. Penelitian ini tidak luput dari kekurangan dan keterbatasan. Salah satunya dalam memperoleh informasi dan data dalam menunjang penelitian. Untuk dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan referensi untuk penelitian selanjutnya, peneliti memberikan beberapa saran diantaranya. Pertama, peneliti kurang mengulik informasi lebih dalam dan rinci terkait hutan bambu yang dijadikan tempat wisata di Bhumi Bambu pada saat turun lapangan. Kedua, penelitian ini memiliki keterbatasan dalam mengakses literature review dari penelitian terdahulu terkait hutan bambu di wisata tersebut. Hal tersebut membuat peneliti kesulitan dalam memvalidasi data yang diperoleh dari Adanya kekurangan dan keterbatasan dalam penelitian ini, diharapkan dalam penelitian selanjutnya dapat memperbaiki teknik pengumpulan data, dan memperbanyak kajian literatur sehingga data yang didapatkan lebih banyak dan dapat mencapai tujuan penelitian dengan lebih baik. DAFTAR PUSTAKA