Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik. Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Volume. 3 Nomor. 4 Oktober 2025 e-ISSN: 3031-4089. p-ISSN: 3031-5069. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/konstruksi. Tersedia: https://journal. id/index. php/Konstruksi Analisis Persepektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan Dwi Rizky Cahyani1*. Rahman2. Ega Apridian3. Arian Syahri4. Dwi Rizka Zulkia5 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Jurusan Teknik Sipil. Perencanaan, dan Perancangan. Universitas Bangka Belitung. Indonesia Penulis korespondensi: dwirica41@gmail. Abstract. This study aims to analyze the multi-stakeholder perspectives on the development of the Pelawan Forest Biodiversity Park (Taman Kehati Hutan Pelawa. through the healing forest concept as an innovation in sustainable tourism in Central Bangka Regency. Indonesia. A mixed-method approach was employed, combining interviews, observations, and questionnaires involving 45 respondents from local government, tourism managers, communities, and visitors. The findings indicate a high level of understanding and support toward the healing forest concept, with Likert scale scores ranging from 4. 1 to 4. 4, reflecting strong agreement on the integration of conservation-based and mental-wellness tourism. Environmental comfort and tourist interest in the healing concept emerged as the main factors promoting the siteAos development potential. Stakeholder perspectives reveal aligned objectives among the government, community, and tourism actors to establish Pelawan Forest as an environmentally friendly quality tourism destination. This research emphasizes the importance of multistakeholder collaboration and sustainable governance to ensure tourism development that provides economic benefits while maintaining ecological balance and enhancing visitorsAo mental and physical well-being. Keywords: Community Empowerment. Healing Forest. Multi-Stakeholder. Pelawan Forest. Sustainable Tourism Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif multi-stakeholder terhadap pengembangan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehat. Hutan Pelawan dengan konsep healing forest sebagai inovasi pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Bangka Tengah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah mixed method dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan kuesioner kepada 45 responden yang terdiri dari pemerintah daerah, pengelola wisata, masyarakat lokal, dan pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman dan dukungan masyarakat terhadap konsep healing forest tergolong tinggi, dengan nilai skala likert rata-rata 4,1Ae4,4, menandakan adanya persetujuan kuat terhadap pengembangan wisata berbasis konservasi dan kesehatan mental. Faktor kenyamanan lingkungan dan minat wisatawan terhadap konsep ini juga menjadi aspek dominan yang mendorong potensi pengembangan kawasan. Perspektif para stakeholder menunjukkan keselarasan tujuan antara pemerintah, pengelola, dan masyarakat dalam mengembangkan Hutan Pelawan sebagai destinasi quality tourism yang ramah lingkungan dan berbasis konservasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya kolaborasi multi-stakeholder dan tata kelola berkelanjutan . ood governanc. dalam mewujudkan pariwisata yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mendukung keseimbangan ekologi serta kesehatan fisik dan mental wisatawan. Kata Kunci: Healing Forest. Hutan Pelawan. Multi-Stakeholder. Pariwisata Berkelanjutan. Pemberdayaan Masyarakat LATAR BELAKANG Konsep Pembangunan pariwisata terus berkembang dan bergerak dinamis, diiringi dengan dinamika elemen-elemen yang mempengaruhinya seperti isu keberlanjutan, isu ekonomi global, dan isu-isu tersebut mempengaruhi pendekatan-pendekatan dan konsep pengembangan pariwisata pada negara-negara maju, tren pariwisata secara perlahan mulai bergeser ke arah pegembangan wisata yang memberatkan pada isu berkelanjutan (Yohanes Sulistyadi, 2. Namun Perkembangan ini juga memunculkan tantangan serius, khusunya terkait dampak lingkungan, sosial, dan budaya yang dihasilkan, dalam hal ini gagasan Naskah Masuk: 06 September, 2025. Revisi: 19 September, 2025. Diterima: 05 Oktober, 2025. Terbit: 07 Oktober, 2025 Analisis Persepektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan pariwisata berkelanjutan muncul dengan tujuan agar pembangunan pariwisata dapat memberikan manfaat jangka panjang tanpa merusak lingkungan dan kehidupan sosial budaya setempat (Bambang Suharto, 2. Pembangunan pariwisata berkelanjutan harus dapat dipenuhi dengan produk wisata yang didorong ke produk berbasis lingkungan (I Gede Maharta Fujihasa, 2. Berorientasi pada konteks pembangunan keberlanjutan, pariwisata berkelanjutan dapat diartikan sebagai pembangunan pariwisata yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan dengan tetap memperlihatkan pelestarian lingkungan dan memberi manfaat baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang, dimana hal ini hanya dapat terlaksana melalui sistem penyelenggaraan pemerintah yang . ood governanc. dengan partisipasi aktif seimbang antar pemerintah,swasta, masyarakat (Yohanes Sulistyadi, 2. Dalam konteks ini, pengembangan wisata alam berbasis konservasi memiliki potensi besar untuk menggabungkan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial budaya masyarakat. Tren global menunjukan bahwa wisatawan semakin tertarik pada destinasi yang memakai prinsip keberlanjutan, dimana perubahan perilaku wisatawan yang semakin sadar dampak perjalanan juga berkontribusi pada peningkatan, permintaan, pengalaman wisata yang lebih bertanggung jawab, dengan perubahan tren ini dapat dikatakan bahwa pariwisata berkelanjutan menjadi tren pariwisata masa kini dan masa depan (Iwan Harsono, 2. Salah satu konsep yang mulai berkembang ditingkat global adalah healing forest, dimana healing memiliki 6 orientasi aktivitas, dimana salah satunya adalah untuk peningkatan kesehatan/promotif, tapak dan program wisata disediakan untuk terapi kesehatan yang bertujuan untuk memberikan manfaat penyembuhan bagi wisatawan (Hermawan, 2. Konsep healing forest atau hutan untuk kesehatan kini menjadi fokus pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melalui pernyataan Wakil Menteri Alue Dohong April 2021 menegaskan bahwa healing forest merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan sebagai bentuk ekowisata di kawasan Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat mendukung pengembangan ini, dengan lebih dari 102 titik gunung dan pendakian, 1. 200 panorama alam, 274 gua, 820 air terjun, 160 danau, serta 51 wisata bahari yang tersebar di berbagai wilayah (Kementerian LHK. Di Kabupaten Bangka Tengah, terdapat kawasan Hutan Pelawan yang dikenal sebagai Taman Kehati (Taman Keanekaragaman Hayat. dengan potensi ekologis yang tinggi. Kawasan ini memiliki begitu banyak spesies flora dan fauna endemik yang menjadikannya bukan hanya tempat wisata saja, namun juga sebagai sumber pencaharian bagi masyarakat KONSTRUKSI - VOLUME 3. NOMOR 4. OKTOBER 2025 e-ISSN: 3031-4089. p-ISSN: 3031-5069. Hal. Terdapat beragam tujuan yang berpotensi menyebabkan pertentangan oleh masyarakat lokal, dan tujuan konservasi agar tetap berlanjut, tujuan pemanfaatan oleh masyarakat lokal dan tujuan sebagai tempat wisata (Boentoro, 2. Pengembangan wisata berbasis healing forest di Hutan Pelawan memerlukan keterlibatan multi-stakeholder, yaitu pemerintah daerah, masyarakat lokal, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas pecinta alam. Keterlibatan banyak pihak ini penting karena pengembangan wisata berkelanjutan tidak dapat berjalan hanya dengan pendekatan top-down, melainkan harus memperhatikan kepentingan dan persepsi semua pihak. Perspektif multistakeholder juga memastikan bahwa pengelolaan kawasan wisata tidak hanya mengutamakan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekologi dan memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar. Alasan utama pemilihan penelitian ini adalah karena Hutan Pelawan memiliki posisi strategis sebagai kawasan konservasi yang bisa menjadi model nasional dalam pengembangan wisata berbasis healing forest. Kajian berbasis multi-stakeholder menjadi krusial karena setiap pihak memiliki peran berbeda yang harus dipadukan agar inovasi pariwisata ini berjalan efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian berjudul AuAnalisis Perspektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata BerkelanjutanAy dilakukan dengan tujuan tidak hanya membahas potensi ekologis dan wisata Taman Kehati Hutan Pelawan, tetapi juga menyatukan persepsi berbagai stakeholder guna merumuskan model pengembangan pariwisata berbasis healing forest yang berkelanjutan, berkeadilan, serta memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat, pemerintah, dan lingkungan. TINJAUAN LITERATUR Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan Healing forest tidak hanya dilihat sebagai bentuk terapi alam, tetapi juga sebagai produk pariwisata khusus . pecial interest touris. yang dapat memperkuat keunikan destinasi, meningkatkan durasi menginap, dan memicu pendapatan tambahan bagi masyarakat lokal. Pendekatan ini menuntut integrasi antara konservasi ekologis, pengalaman wisata berkualitas, serta manfaat sosial ekonomi bagi komunitas sekitar. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut bahwa healing forest dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat lokal apabila dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan konservasi, sehingga tidak hanya sebagai kegiatan wisata, tetapi juga sebagai fungsi pendidikan lingkungan dan pelestarian (Kementerian LHK, 2. Analisis Persepektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan Peran dan Persepsi Multi-Stakeholder Dalam konteks destinasi wisata konservasi seperti taman kehati atau taman nasional, banyak aktor terlibat: pemerintah daerah dan pusat, pengelola kawasan, masyarakat lokal atau adat. LSM, akademisi, pelaku usaha pariwisata, hingga pengunjung. Persepsi mereka terhadap manfaat, risiko, dan potensi konflik sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan konsep healing forest. Studi di Mount Rinjani, mengungkap bahwa persepsi dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya stakeholder berbeda-beda dan bahwa kesadaran terhadap pariwisata ekowisata serta persepsi dampak ekonomi berperan besar dalam membentuk sikap stakeholder terhadap pengembangan ekowisata (Shine Pintor Siolemba Patiro, 2. Studi lain di Pati (Jawa Tenga. menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis lokalitas atau kearifan lokal terhambat oleh ego lembaga, tumpang tindih kebijakan, dan kolaborasi stakeholder yang kurang optimal (Prajanti. Octavianto & Widiyanto 2. Model kolaborasi stakeholder yang baik, seperti yang diterapkan di Batu City (Jawa Timu. , menggunakan pendekatan Penta-helix . emerintah, usaha swasta, masyarakat, akademisi, medi. , dan menerapkan triple bottom line . konomi, sosial, lingkunga. sebagai kerangka keberlanjutan. Namun studi ini juga menemukan bahwa kolaborasi antar stakeholder masih AuinferiorAy atau belum optimal, misalnya komunikasi satu arah dan kurangnya kapasitas lokal (Sentanu et al. Relevansi untuk Taman Kehati Hutan Pelawan Taman Kehati Hutan Pelawan, dengan status kawasan keanekaragaman hayati dan potensi spesies pelawan merah, menawarkan lokasi yang sangat cocok untuk pengembangan healing forest. Nilai konservasi yang tinggi, keunikan jenis lokal, dan keterkaitan dengan fungsi edukasi menjadikannya kandidat ideal untuk menerapkan inovasi pariwisata berkonsep healing Karena itu, analisis multi-stakeholder sangat diperlukan untuk mengeksplorasi harapan dan ekspektasi dari berbagai aktor: apakah pemerintah daerah melihat peluang ekonomi, apakah masyarakat lokal mengharapkan manfaat langsung, apakah ada kekhawatiran dampak ekologis atau aksesibilitas, dan bagaimana pengunjung akan merespons pengalaman healing forest di lokasi tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus- September 2025 pada lokasi penelitian Taman Keanekaragaman Hayati (Kehat. Taman Kehati Hutan Pelawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-kuantitatif atau mixed method untuk mengeksplorasi. KONSTRUKSI - VOLUME 3. NOMOR 4. OKTOBER 2025 e-ISSN: 3031-4089. p-ISSN: 3031-5069. Hal. mengukur, dan mendeskripsikan persepsi stakeholder, wisatawan yang pernah berkunjung dan masyarakat sekitar di desa Namang. Objek pada penelitian ini adalah masyarakat desa Namang Kabupaten Bangka Tengah, wisatawan yang pernah berkunjung dan para stakeholder terkait. Populasi dan Sampel Sampel pada penelitian didapatakan dengan melakukan wawancara langsung kepada wawancara langsung kepada masayrakat terpilih menjadi responden serta pihak yang terkait. Teknik pengambilan sampel responden menggunakan Simple random sampling atau sampel acak sederhana. Simple random sampling adalah sebuah teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel yang dilakukan secara acak serta berasal dari anggota populasi yang ada. Jumlah reponden dalam penelitian ini ditentukan dari jumlah populasi di Desa Namang. Kabupaten Bangka Tengah. Untuk menentukan responden dari jumlah populasi di Desa Namang Kabupaten Bangka Tengah digunakan rumus slovin. Menurut Arikunto dkk. , . Jika populasinya besar atau lebih dari 100 maka dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih, dari jumlah penduduk 3. 035 jiwa di Desa Namang Kabupaten Bangka Tengah maka peneliti mengambil jumlah sampelnya sebanyak 15% atau 45 responden. Menggunakan rumus slovin dengan tingkat kesalahan 15 % hal ini didukung oleh 45 responden dari perhitungan menggunakan rumus slovin sebagai berikut: ycu = 1 Ne2 Keterangan: n= Jumlah Sampel N= Jumlah populasi e= Standar eror sebesar 15 % maka didapatkan, jumlah sampel pada penelitian ini adalah: ycu = 1 . 035 ycu. ,15%)2 = 69,2875 = 43,8 dibulatkan menjadi 44 responden Dengan rumus slovin, diperoleh sampel sekitar 44 responden, dimana ini sangat dekat dengan pendekat 15 % dari populasi, jadi keputusan mengmabil responden sebanyak 45. Jumlah responden tersebut selanjutnya dibagi ke dalam beberapa kategori sesuai dengan kebutuhan penelitian dan keterkaitan dengan pengelolaan wisata di desa Namang. Kabupaten Bangka Tengah. Adapun pembagian responden adalah sebagai berikut. Analisis Persepektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan Tabel 1. Responden dalam Penelitian. Responden Metode Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Wawancara /Pengelola Wisata Kepala Desa Namang Wawancara Kepala Kecamatan Namang Wawancara Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wawancara Bangka Tengah Dinas Kebudayaan. Pariwisata, pemuda. Wawancara dan olahraga Kabupaten Bangka Tengah Masyarakat Sekitar Kuesioner Pengunjung Kuesioner Jumlah Jumlah Pembagian ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa responden dari pihak pemerintah dan pengelola berperan sebagai key informant yang memahami kebijakan, pengelolaan, serta regulasi, sedangkan masyarakat dan pengunjung dipilih dalam jumlah lebih besar karena memiliki peran penting dalam memberikan persepsi dan pengalaman langsung terkait wisata Taman Kehati Hutan Pelawan. Dengan demikian, komposisi responden yang terdiri dari berbagai unsur stakeholder dapat memberikan data yang lebih komprehensif untuk mendukung hasil penelitian. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer berupa wawancara, kuesioner dan observasi. Wawancara dilakukan kepada pihak pengelola, pemerintah desa, masyarakat lokal. Untuk kategori pengunjung wisata Taman Kehati Hutan Pelawan, pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner daring melalui Google Form yang disebarkan kepada 20 orang responden, dengan pertimbangan mobilitas tinggi dan keberagaman asal pengunjung sehingga metode daring dianggap paling Sementara itu, pada kategori masyarakat sekitar Desa Namang, pengumpulan data dilakukan secara tatap muka dengan kuesioner tertutup kepada 20 orang responden, sehingga peneliti dapat memberikan penjelasan apabila terdapat pertanyaan yang kurang dipahami serta memastikan keakuratan jawaban. Observasi dilakukan untuk menilai kondisi eksisting kawasan, termasuk keanekaragaman hayati, fasilitas, serta aktivitas wisata, sedangkan data sekunder meliputi laporan desa, data dinas pariwisata, serta jurnal ilmiah terkait dijadikan sebagai data sekunder. KONSTRUKSI - VOLUME 3. NOMOR 4. OKTOBER 2025 e-ISSN: 3031-4089. p-ISSN: 3031-5069. Hal. Metode Analisis Data Analisis data dilakukan untuk mengolah informasi yang diperoleh dari hasil observasi lapangan, wawancara, kuesioner, sehingga dapat ditarik kesimpulan yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Hartik, 2. Data dari hasil observasi lapangan, wawancara dengan stakeholder, direduksi dengan cara menyortir informasi yang relevan dengan fokus penelitian, yaitu pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan konsep healing forest. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif, tabel distribusi jawaban, serta kutipan hasil wawancara yang menggambarkan secara rinci persepsi, kebutuhan, dan potensi yang ada di lapangan. Penarikan kesimpulan dilakukan setelah data dianalisis secara kualitatif melalui proses reduksi, penyajian, dan verifikasi, serta diperkuat dengan hasil telaah literatur dan jurnal terkait, sehingga menghasilkan persepsi stakeholder pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan konsep healing forest. Pengolahan data kuesioner menggunaka skala likert untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi responden terhadap indikator penelitian. Skala Likert yang digunakan memiliki rentang nilai 1-5 dengan bobot sebagai berikut: Tabel 2. Bobot Opsi Jawaban. Opsi Jawaban Bobot Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Skor Likert untuk setiap pernyataan dihitung dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah responden pada masing-masing kategori jawaban dengan bobotnya, yaitu NL= . STS x . TS x . N x . S x . n6 x . Kemudian untuk menghitung rata-rata skor per indikator dapat dihitung menggunakan rumus: ycE = X Ket: NL = Skor likert = Jumlah Responden pada setiap kategori jawaban Q = Rata-rata skor pernyataan x = Jumlah Responden Analisis Persepektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan Rata-rata skor yang diperoleh kemudian dikategorikan menurut rentang skor berikut: Skor Rataan 1,00-1,80 1,81-2,60 2,61-3,40 3,41-4,20 4,21-5,00 Tabel 3. Interpretasi Rentang Skor Jawaban. Jawaban Responden Interpretasi Hasil Sangat Tidak Setuju Penolakan yang kuat terhadap Tidak Setuju Ketidaksetujan Netral Sikap tidak setuju maupun Setuju Persetujuan Sangat Setuju Persetujuan yang sangat kuat terhadap pernyatan HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan proporsi partisipasi dalam penelitian ini. Dari total responden yang terlibat, sebanyak 60% adalah perempuan dan 40% adalah laki-laki. Temuan ini mengindikasikan bahwa responden perempuan lebih dominan dalam memberikan pandangan dan persepsi terhadap pemanfaatan dan pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Perempuan laki-laki Gambar 1. Diagram Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. Sumber: Hasil Olah Data, 2025. Berdasarkan distribusi usia responden, kelompok dewasa muda . Ae29 tahu. mendominasi dengan persentase tertinggi yaitu 55%, diikuti oleh remaja (<20 tahu. sebesar 30%, kemudian dewasa pertengahan . Ae49 tahu. sebesar 13%, dan yang paling sedikit adalah kelompok dewasa usia 30Ae39 tahun dengan 2%. Pola ini memperlihatkan bahwa mayoritas pengunjung atau partisipan berasal dari kalangan usia muda yang cenderung KONSTRUKSI - VOLUME 3. NOMOR 4. OKTOBER 2025 e-ISSN: 3031-4089. p-ISSN: 3031-5069. Hal. memiliki mobilitas tinggi, ketertarikan terhadap aktivitas rekreatif maupun edukatif, serta daya konsumsi yang besar. Sementara itu, proporsi responden yang lebih tua relatif rendah, yang dapat disebabkan oleh keterbatasan waktu dan preferensi kegiatan yang berbeda. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa segmen usia muda menjadi target utama yang paling potensial dalam pemanfaatan dan pengembangan kawasan penelitian. Responden Berdasarkan Usia 13% 0% <20 Tahun (Remaj. 20-29 Tahun (Dewasa Mud. 30-39 Tahun (Dewas. 40-49 Tahun (Dewasa Pertengaha. >50 Tahun (Dewasa Akhi. Gambar 2. Diagram Responden Berdasarkan Usia. Sumber: Hasil Olah Data, 2025. Perspektif Masyarakat dan Wisatawan Pengukuran persepsi masyarakat dan wisatawan terhadap pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan konsep healing forest dilakukan menggunakan skala likert. Data diperoleh melalui kuesioner yang kemudian diolah sehingga dapat menggambarkan tingkat persetujuan responden terhadap berbagai indikator yang diteliti. Hasil penelitian kemudian dibahas secara mendalam untuk mengetahui minat wisatawan, pengalaman kunjungan, kualitas lingkungan, nilai keberlanjutan, hingga persepsi masyarakat terhadap fasilitas, daya tarik wisata, serta potensi pengembangan konsep healing forest di kawasan Taman Kehati Hutan Pelawan. Persepsi Masyarakat dan Wisatawan Terhadap Taman Kehati Hutan Pelawan Untuk mengetahui tingkat peminatan berkunjung dan pandangan masyarakat maupun wisatawan terhadap Taman Kehati Hutan Pelawan, data hasil kuesioner dianalisis berdasarkan beberapa indikator yaitu minat wisata, pengalaman kunjungan, kualitas lingkungan, nilai keberlanjutan, serta pengembangan wisata alam. Analisis Persepektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan Tabel 4. Hasil Analisis Indikator Persepsi Masyarakat dan Wisatawan Terhadap Taman Kehati Hutan Pelawan. Indikator Skor Jawaban Responden Nilai Tingkat Skala Persepsi STS Likert Minat Wisata 4,03 Persetujuan Pengalaman 3,53 Persetujuan Kunjungan Kualitas 3,88 Persetujuan Lingkungan Nilai 4,05 Persetujuan Keberlanjutan Pengembangan 0 Persetujuan Wisata Alam sangat kuat Sumber: Hasil Olah Data, 2025. Berdasarkan tabel. 1 dapat dilihat bahwa Indikator paling tinggi terdapat pada Pengembangan Wisata Alam dengan nilai 4,3 yang masuk kategori Aupersetujuan sangat kuatAy. Hal ini menegaskan adanya dukungan penuh dari responden terhadap pengembangan wisata alam yang berbasis konservasi dan edukasi, sekaligus menjadi peluang besar untuk meningkatkan daya tarik Taman Kehati Hutan Pelawan. Indikator minat wisata memperoleh nilai skala likert 4,03 yang menunjukkan tingkat persepsi AuPersetujuan terhadap pernyataanAy. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat maupun wisatawan memiliki minat yang cukup tinggi untuk mengunjungi Taman Kehati Hutan Pelawan, kemudian Indikator Pengalaman Kunjungan memperoleh nilai 3,53 yang masih dalam kategori AupersetujuanAy, namun untuk nilai skala likert relatif lebih rendah dibanding indikator lain. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun pengalaman berkunjung dinilai positif, masih terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan, seperti kualitas pelayanan, keterjangkauan akses, serta ketersediaan aktivitas wisata yang lebih beragam. Untuk indikator Kualitas Lingkungan memperoleh nilai 3,88 yang menandakan persetujuan terhadap pernyataan bahwa kondisi lingkungan Taman Kehati Hutan Pelawan masih terjaga. Hal ini menunjukkan apresiasi terhadap kelestarian hutan, kualitas udara, serta keberadaan flora dan fauna yang khas, kemudian untuk indikator Nilai Keberlanjutan memperoleh skor 4,05 yang masuk dalam kategori tingkat persepsi AuPersetujuan terhadap KONSTRUKSI - VOLUME 3. NOMOR 4. OKTOBER 2025 e-ISSN: 3031-4089. p-ISSN: 3031-5069. Hal. pernyataanAy, pada hal ini dapat dikatakan bahwa masyarakat dan wisatawan menyadari pentingnya aspek keberlanjutan dalam pengelolaan kawasan ini, baik dari sisi konservasi maupun pemanfaatan wisata berbasis ekologi. Persepsi Masyarakat terhadap Fasilitas dan Daya Tarik Wisata Taman Kehati Hutan Pelawan Persepsi masyarakat terhadap fasilitas dan daya tarik wisata Taman Kehati Hutan Pelawan dibutuhkan untuk memahami bagaimana masayarakat memandang kelayakan sarana pendukung dan daya tarik wisata yang tersedia, sehingga dapat menjadi dasar bagi pengembangan dan peningkatan kualitas wisata di kawasan tersebut. Untuk mengetahu persepsi masyarakat terhadap fasilitas dan daya tarik wisata Taman Kehati Hutan Pelawan, data hasil kuesioner dianalisis berdasarkan beberapa indikator yaitu kualitas dasar fasilitas, kenyamanan lingkungan dan potensi atraksi kreatif dan inovatif. Tabel 5. Hasil Analisis Indikator Persepsi Masyarakat terhadap Fasilitas dan Daya Tarik Wisata Taman Kehati Hutan Pelawan. Indikator Skor Jawaban Responden Nilai Tingkat Skala Persepsi STS Likert Kualitas Dasar Persetujuan Fasilitas Kenyamanan Persetujuan Lingkungan sangat kuat Potensi 3,83 Persetujuan Atraksi Kreatif dan Inovatif Sumber: Hasil Olah Data, 2025. Berdasarkan Tabel dapat dilihat bahwa Indikator Kenyamanan Lingkungan memperoleh nilai yang sangat tinggi yaitu 4,2, dengan tingkat persepsi persetujuan sangat kuat. Hal ini mengindikasikan bahwa wisatawan merasa nyaman berada di kawasan Hutan Pelawan karena suasana alami, udara segar, serta ketenangan lingkungan yang mendukung aktivitas Indikator Kualitas Dasar Fasilitas memperoleh nilai 4,0, menunjukkan bahwa fasilitas dasar seperti area jalan setapak, gazebo, mushola, tempat parkir, ruko, homestay, dan papan informasi sudah cukup memadai, namun untuk kualitas dasar fasilitas masih memerlukan peningkatan dan pemeliharaan . Untuk Indikator Potensi Atraksi Kreatif dan Inovatif memperoleh skor 3,83 yang mana nilai ini masih berada pada kategori persetujuan, namun menunjukkan perlunya pengembangan lebih lanjut pada atraksi yang inovatif, seperti wisata Analisis Persepektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan dengan konsep healing forest, kegiatan berbasis budaya lokal, serta program ekowisata yang lebih interaktif. Persepsi Masyarakat terhadap Potensi dan Pengembangan Wisata dengan Konsep Healing Forest Konsep healing forest menjadi salah satu inovasi dalam pengembangan wisata berbasis kesehatan mental, spiritual, dan keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini juga menilai bagaimana masyarakat dan wisatawan memahami, menaruh minat, serta mendukung pengembangan konsep tersebut di Taman Kehati Hutan Pelawan. Penilaian responden dirangkum dalam tabel berikut Tabel 6. Hasil Analisis Indikator Persepsi Masyarakat terhadap Potensi dan Pengembangan Wisata dengan Konsep Healing Forest. Indikator Skor Jawaban Responden Nilai Tingkat Skala Persepsi STS Likert Pemahaman Persetujuan Konsep Healing Forest Minat 4,48 Persetujuan Wisatawan sangat kuat Healing Forest Partisipasi 3,98 Persetujuan Konsep Healing Forest Dukungan 4,08 Persetujuan Pengembangan Healing Forest Sumber: Hasil Olah Data, 2025. Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa Indikator Minat Wisatawan terhadap Healing Forest mendapatkan skor paling tinggi yaitu 4,48, dengan tingkat persepsi Aupersetujuan sangat kuatAy. Hal ini menegaskan bahwa wisatawan memiliki ketertarikan besar terhadap konsep wisata berbasis kesehatan mental dan spiritual, sehingga menjadi peluang strategis bagi pengembangan produk wisata baru di Taman Kehati. indikator Pemahaman Konsep Healing Forest memperoleh nilai 4,1, yang berarti responden cukup memahami konsep wisata berbasis penyembuhan alami melalui interaksi dengan alam. Indikator Partisipasi dalam Konsep Healing Forest memperoleh nilai 3,98, menunjukkan adanya keinginan responden untuk terlibat, meskipun masih membutuhkan dorongan berupa edukasi, program yang terstruktur, serta dukungan fasilitas yang sesuai. KONSTRUKSI - VOLUME 3. NOMOR 4. OKTOBER 2025 e-ISSN: 3031-4089. p-ISSN: 3031-5069. Hal. Terakhir, indikator Dukungan terhadap Pengembangan Healing Forest memperoleh skor 4,08, yang menandakan dukungan masyarakat dan wisatawan cukup kuat terhadap pengembangan konsep ini. Dukungan tersebut menjadi modal sosial penting dalam mewujudkan program healing forest sebagai bagian dari strategi pariwisata berkelanjutan. Perspektif Stakeholder Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan berbagai pihak terkait, diperoleh beberapa perspektif penting mengenai pemanfaatan dan pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan. Pertama, dari sisi pengelola wisata/anggota Pokdarwis, terdapat kebutuhan yang mendesak akan keberadaan pemandu wisata yang terlatih ketika menerima kunjungan. Mereka juga memiliki harapan besar agar Hutan Pelawan dapat kembali dilestarikan dan Hal ini didasari oleh pengalaman sebelumnya, ketika kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat objek wisata Jembatan Merah masih beroperasi. Namun, setelah fasilitas tersebut hilang, jumlah kunjungan menurun drastis, sehingga banyak pengunjung merasa kecewa. Saat ini, pengunjung yang datang lebih banyak berorientasi pada Pada masa jayanya, masyarakat bahkan aktif berjualan produk lokal seperti sayur, nanas, dan hasil perkebunan di sekitar kawasan wisata. Hal ini menunjukkan adanya potensi besar keterlibatan ekonomi masyarakat apabila kunjungan wisatawan dapat ditingkatkan Kedua, dari perspektif kepala desa. Hutan Pelawan telah memiliki rekam jejak yang cukup kuat sebagai destinasi wisata unggulan. Tercatat kawasan ini telah dikunjungi wisatawan dari lebih dari 80 negara, bekerja sama dengan 150 agen perjalanan, serta menawarkan berbagai paket wisata seperti paket hisap madu pelawan,wisata malam hari, dan paket wisata bedulang. Selain itu, kawasan Desa Namang juga memiliki destinasi pendukung seperti sawah pelawan, wisata madu kelulut, wisata ngelimbang timah, gurun pelawan, serta kegiatan budaya murok Keberadaan produk wisata yang beragam ini menunjukkan bahwa Desa Namang telah memiliki fondasi yang cukup kuat untuk pengembangan pariwisata berbasis quality tourism. Ketiga, dari pihak Kecamatan Namang, dukungan penuh akan diberikan terhadap setiap kegiatan maupun inisiatif yang dapat mendorong pengembangan destinasi wisata Hutan Pelawan. Selama kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat dan tidak merusak lingkungan, kecamatan siap memberikan bantuan dalam bentuk fasilitasi maupun Keempat, dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka Tengah, ditegaskan pentingnya memperkuat branding Hutan Pelawan sebagai destinasi quality tourism yang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (SDG. Pihak dinas juga menilai bahwa konsep healing Analisis Persepektif Multi-Stakeholder terhadap Pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan Konsep Healing Forest sebagai Inovasi Pariwisata Berkelanjutan forest yang saat ini menjadi tren di luar negeri sangat relevan untuk diterapkan di Hutan Pelawan, mengingat kawasan ini memiliki ekosistem yang mendukung aktivitas wisata kesehatan seperti forest bathing dan refleksi alam. Selama pengembangan tersebut tetap menjaga kelestarian lingkungan, pemerintah daerah menyatakan siap memberikan dukungan Terakhir, dari pihak Dinas Lingkungan Hidup, perhatian utama terletak pada aspek DLH menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar pengembangan pariwisata tidak menimbulkan degradasi lingkungan. Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa terdapat keselarasan antara kepentingan pengelola, pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas terkait. Semua pihak mendukung pengembangan Hutan Pelawan menuju destinasi healing forest berbasis quality tourism, dengan catatan harus menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat local. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan Taman Kehati Hutan Pelawan dengan konsep healing forest memiliki potensi besar sebagai inovasi pariwisata berkelanjutan yang memadukan aspek konservasi, kesehatan mental, dan pemberdayaan masyarakat. Sebagian besar responden berasal dari kelompok usia muda yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap wisata alam dan kesehatan, menandakan peluang besar untuk mengembangkan destinasi berbasis eco-wellness. Tingkat penerimaan masyarakat terhadap konsep healing forest juga tinggi, terutama pada aspek keberlanjutan dan kenyamanan lingkungan yang menjadi daya tarik utama kawasan. Dari sisi fasilitas dan daya tarik wisata, hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Hutan Pelawan dinilai memiliki keunggulan pada suasana alami dan kenyamanan lingkungan, meskipun peningkatan fasilitas pendukung seperti aksesibilitas, atraksi kreatif, dan layanan wisata masih diperlukan. Sinergi antar pemangku kepentingan pemerintah, pengelola, dan Masyarakat telah terbangun cukup baik dengan visi bersama untuk menjadikan kawasan ini sebagai model wisata alam yang berdaya saing dan ramah lingkungan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya strategi kolaboratif berbasis multistakeholder governance untuk memperkuat tata kelola kawasan secara berkelanjutan. Kajian lanjutan juga disarankan untuk mengevaluasi daya dukung lingkungan, dampak psikologis pengunjung, serta model pemberdayaan masyarakat berbasis eco-entrepreneurship. Dengan demikian, pengembangan konsep healing forest di Hutan Pelawan diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, tetapi juga mendukung keseimbangan ekologis dan kesehatan mental wisatawan. KONSTRUKSI - VOLUME 3. NOMOR 4. OKTOBER 2025 e-ISSN: 3031-4089. p-ISSN: 3031-5069. Hal. DAFTAR PUSTAKA