SARGA : JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 18 NO 1 JANUARI 2024 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga KARAKTERISTIK KAWASAN PECINAN PADA BEKAS PUSAT PERDAGANGAN KAMPUNG MALABERO KOTA BENGKULU The Chinatown Area Character in The Ex-Trading Center Kampoong Malabero. Bengkulu City | Received September 19th 2023 | Accepted November 23th 2023 | Available online January 30th 2024 | | DOI 10. 56444/sarga. 917 | Page 61 - 72 | Mohammad AoAzam Izzuddin1. Ikaputra2 izzuddin@mail. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Indonesia1 ikaputra@ugm. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Indonesia2 ABSTRAK Kampung Malabero Kota Bengkulu memiliki satu wilayah bagian kecil yang disebut Kampung Cina. Kampung ini sudah lama dijadikan sebagai tempat tinggal bagi orang berdarah Tionghoa dan kampung ini sudah ada sejak zaman penjajahan Inggris, ketika mereka berusaha menguasai perdagangan lada sekitar abad ke-16. Sekitar tahun 1689, setelah kemitraan perdagangan Inggris East India Company (EIC) mengizinkan masuk, banyak orang keturunan Tionghoa pindah ke kota Bengkulu. Tahun 1970-an merupakan masa kejayaan Kampung ini. Di sinilah sebagian besar warga Bengkulu biasa berbelanja aneka dagangan mulai dari kelontong, pakaian, elektronik dan perabotan rumah tangga. Sejarah yang panjang dan keunikan bangunan arsitektur menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata sejarah yang cukup popular dan mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain. Namun, masa kejayaan kampung ini memudar pada 1990-an. Memudarnya kajayaan kawasan kecil ini diiringi oleh redupnya Karakter Pecinan pada Kawasan. Kemunduran daya tarik kawasan muncul pada aktifitas kepariwisataan pecinan Kota Bengkulu Dilatar belakangi oleh kemunduran tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana eksistensi kampung ini sebagai pecinan. Data penelitian ini adalah data kualitatif, yakni data yang tidak dapat dihitung seperti. gambaran umum, lokasi penelitian, karakteristik kawasan, keberadaan, dan sejarah Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Kampung Cina Kota Bengkulu masih memiliki karakter yang kuat sebagai Pecinan. Kata kunci: Kawasan Kampung Cina. Karakter Arsitektural. Karakter Kawasan ABSTRACT Malabero Village. Bengkulu City, has a small sub-region called Kampung Cina. This village has long been used as a place to live for Chinese people and this village has existed since the British colonial era, when they tried to control the pepper trade around the 16th century. Around 1689, after the British East India Company (EIC) trading partnership allowed entry, many people of Chinese descent moved to Bengkulu City. The 1970s were the heyday of this village. This is where most Bengkulu residents usually shop for various merchandise ranging from groceries, clothing, electronics, and household furniture. The long history and unique architectural buildings make this place a historical tourist destination that is quite popular and may not be owned by other regions. However, the heyday of this village faded in the 1990s. The waning of the glory of this small area is accompanied by the dimming of Chinatown's character in the area. The decline in regional attractiveness appears in the tourism activities of Bengkulu City's Chinatown. Therefore, it is necessary to conduct research on how this village exists as a Chinatown. The research data is qualitative, the thing that cannot be calculated, such as. general description, research location, regional characteristics, existence, and history of the area. The results of the study concluded that the Bengkulu City Chinese Village still has a strong character as a Chinatown. Keywords: Chinatown. Architectural Character. Urban Character SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Mohammad AoAzam Izzuddin. Ikaputra PENDAHULUAN Kampung Malabero Kota Bengkulu beralamat di Kelurahan Malabero. Kecamatan Teluk Segara. Kota Bengkulu. Provinsi Bengkulu. Kampung Malabero memiliki satu wilayah bagian kecil yang disebut Kampung Cina. Kampung ini merupakan salah satu daerah kecil dengan luas area sekitar 5,2 hektar. Disebut ia Tyngrynjie dalam Bahasa Mandarin dan Chinatown dalam Bahasa Inggris. Pecinan atau Kampung Cina banyak terdapat di berbagai negara yang di mana orangorang Tionghoa bermigrasi dan kemudian menetap di suatu daerah seperti Amerika Serikat. Eropa. Kanada, dan negara-negara Asia Tenggara. Dari hasil penelurusan lapangan, observasi dan wawancara kepada stakeholder, pada saat ini Kampung Cina ini terdiri dari 60 kepala keluarga terdiri yang dari penduduk berdarah Padang. Bengkulu dan Tionghoa yang mana sebagian besar kepemilikan bangunan oleh mayoritas keturunan tionghoa, tepatnya sejumlah 24 kepala keluarga. Dikutip dari Bengkuluekspress. Kampung Cina ini sudah lama dijadikan sebagai tempat tinggal bagi orang berdarah Tionghoa dan sudah ada sejak zaman penjajahan Inggris, ketika mereka berusaha menguasai perdagangan lada sekitar abad ke-16. Sekitar tahun 1689, setelah kemitraan perdagangan Inggris East India Company (EIC) mengizinkan masuk, banyak orang keturunan Tionghoa pindah ke kota Bengkulu. Tahun 1970-an merupakan masa kejayaan Kampung Tionghoa Bengkulu, di sinilah sebagian besar warga Bengkulu biasa berbelanja. Aneka dagangan mulai dari toko kelontong, pakaian, elektronik dan perabotan rumah tangga. Namun, tidak seperti Kampung Cina pada umumnya, terdapat permasalahan kepariwisataan pada Kampung Cina Kota Bengkulu. Perubahan pusat bisnis bengkulu membuat pelaku dagang asli kampung cina berpindah dan kampung cina hanya menjadi bangunan kosong (Abdul Aziz. Kampung Cina Kota Bengkulu tidak mampu menarik wisatawan lokal maupun Oleh sebab itu. Kawasan Kampung Cina yang dulunya ramai ini perlahan mulai Pedagang dan pembeli asli tionghoa berpindah ke tempat bisnis yang baru sebab wisatawan yang tidak lagi berminat berkunjung ke salah satu Destinasi Bersejarah Kota Bengkulu ini. Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan bahwa Kampung Cina Kota Bengkulu tidak memiliki daya tarik. Kampung Cina Kota Bengkulu tidak memiliki daya tarik wisata. Terdapat beberapa keinginan wisatawan yang belum ada di destinasi wisata Beberapa faktor yang diinginkan para wisatawan adalah faktor pendukung wisata dan sebagian besar lainnya adalah faktor originalitas dari Kawasan ini sendiri. Wisatawan menginginkan suasana cina dan perayaan asli Tionghoa sehingga kawasan ini dapat lebih menarik untuk dikunjungi. Maka dari itu, peneliti mencoba untuk mengidentifikasi Karakteristik asli dari sebuah kawasan Pecinan pada Kampung Cina Kota Bengkulu ini. Atas dasar hal tersebut, perlu dilakukan kajian terkait kekuatan yang dimiliki oleh kawasan ini. Kawasan Pecinan yang dulunya memiliki fungsi utama sebagai kawasan perdagangan dan jasa menjadikan tempat ini memiliki magnet untuk masyarakat kota Bengkulu untuk melakukan aktifitas sehari-sehari berupa aktifitas jual beli. Dikutip dari Marhendi, 2005:9, faktor penting dalam mendatangkan wisatawan adalah Daya tarik wisata, karena unsur yang terdapat Unsur-unsur tersebut meliputi orisinalitas, kelangkaan, keberagaman dan keutuhan daya tarik wisata. Keunikan Kampung Cina yang memiliki percampuran bangunan lama dan baru di Pusat kota perlu dianalisis mengenai karakter sebuah Kampung Cina. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Karakteristik Kawasan Pecinan Pada Bekas Pusat Perdagangan Kampung Malabero Kota Bengkulu Seiring berjalannya waktu, beberapa bangunan di Kampung Cina Kota Bengkulu memang masih mempertahankan bentuk bangunan Tionghoa, namun beberapa juga sudah mengalami perubahan sehingga hal ini juga merupakan faktor penguat mengapa identifikasi harus Dari hal ini muncul pertanyaan penelitian bagaimana karakter pecinan pada bekas pusat perdagangan ini? Pertanyaan penelitian ini dapat dijawab dengan mengetahui karakter pecinan pada bekas pusat perdagangan kampung malabero kota Bengkulu dengan mengkaitkan adanya aktifitas yang ada kawasan ini, penggunaan bangunan, pola jaringan jalan dan place kawasan Pecinan ini. Analisis karakter kampung Pecinan di kawasan ini dengan melihat aspek fisik dengan pendekatan morfologi Kota dengan teori figure ground theory, linkage system theory dan place Dari variabel- variabel tersebut dianalisis secara diskriptif- Kuantitatif serta dilakukan pembobotan sehingga menghasilkan temuan studi yaitu karakter pecinan pada Kampung Pecinan Kota Bengkulu. Dengan mengetahui karakter kampung Pecinan di kawasan ini di harapkan dapat digunakan untuk melestarikan karakter kampung Pecinan yang sudah dikenali oleh masyarakat Bengkulu dimana kawasan yang mayoritas adalah aktivitas perdagangan yang terus berkembang tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah yang ada serta mengendalikan dan mengatur fisik kawasan sehingga untuk kedepannya kawasan ini menjadi icon kampung Pecinan di tengah- tengah Pusat Kota serta dapat meminimalisirkan permasalahan yang ada. REVIEW LITERATUR Identitas Kota Fisik Identitas fisik adalah segala sesuatu pada suatu Kota yang bersifat fisik dan dapat digunakan untuk mengetahui ciri suatu wilayah. Identitas fisik yang dapat ditangkap oleh peneliti adalah objek yang digunakan sebagai referensi, misalnya bangunan tinggi-besar dan sangat terlihat, hal ini biasanya digunakan oleh pengamat sebagai landmark. Hal fisik lainnya seperti jalan raya, street furniture, halte bus, trotoar, jembatan, dan semua hal yang dapat menjadi identitas fisik sebuah kota (Lynch, 1. Dalam konteks pengembangan kawasan Kampung Cina sebagai obyek wisata, teori fisik dapat digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan karakteristik fisik kawasan yang khas dan memperkuat identitas kota. Misalnya, bangunan dengan arsitektur tradisional Tionghoa seperti atap bergaya pagoda, dinding dan pintu dengan ukiran yang rumit, dan dekorasi warna merah yang cerah dapat memperkuat identitas khas Kampung Cina. Kawasan Pecinan Hampir setiap negara atau kota di dunia memiliki Kawasan Pecinan. Pecinan atau Chinatown adalah kawasan perkotaan yang mayoritas penduduknya adalah keturunan Tionghoa di luar negara Tiongkok. Hong Kong. Makau, atau Taiwan. Biasanya, kawasan Chinatown berada di tengah kota. Kawasan Pecinan merupakan kawasan yang memiliki karakteristik dari segi jumlah penduduk, gaya hunian, tatanan sosial, dan iklim lingkungan. Kawasan Pecinan merupakan warisan arsitektur Tionghoa yang dapat ditemukan di banyak negara, terutama di negaranegara Asia. Pertumbuhan kawasan itu secara historis berkembang dari budaya masyarakat Tionghoa (Lilananda 1998:. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Mohammad AoAzam Izzuddin. Ikaputra Sejarah Kampung Cina Orang Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia melalui jalur perdagangan pada abad ke-7 hingga akhirnya menetap dan bercampur dengan masyarakat lokal pada abad ke-11 (Suwito. Susanto & Junaidi, 2. Mereka menyebar dan berevolusi dari pantai timur Sumatera dan Kalimantan barat dan akhirnya ke pantai utara Jawa. Orang Tionghoa di Indonesia mengalami masa-masa sulit, antara lain pembantaian oleh Belanda pada tahun 1740 dan pembatasan gerak, terutama pada masa Suharto, ketika hak-hak sipil sangat dibatasi dan adat istiadat Tionghoa dengan segala cirinya dilarang. Hal ini tertuang dalam Keputusan Pemerintah No. Tahun 1959 tentang Kawasan Perdagangan dan Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 tentang Agama. Kepercayaan dan Adat Adat Cina. Tidak mengherankan, adat istiadat dan identitas etnis Tionghoa menurun selama beberapa dekade karena mereka dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan budaya asli Indonesia. Pecinan atau Kampung Cina adalah pemukiman yang didirikan dan dihuni oleh masyarakat Tionghoa. Di banyak kota, kawasan Pecinan dikenal sebagai bagian kota yang berperan penting dalam pusat bisnis dan pertumbuhan (Kautsary, 2. Sejarah kampung Cina bermula pada abad ke-19, ketika banyak imigran Tionghoa yang datang ke berbagai kota di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Imigran Tionghoa pada saat itu datang dengan berbagai alasan, seperti untuk berdagang, mencari kesempatan kerja, atau melarikan diri dari kemiskinan dan konflik di Tiongkok. Komponen Pecinan Komponen kota yang ada di kawasan kampung Cina antara lain. Arsitektur, yaitu Kawasan kampung Cina ditandai dengan adanya bangunan-bangunan tradisional Tionghoa yang memiliki ciri khas seperti atap melengkung, dinding-dinding yang dihiasi dengan ukiran, dan ornamenornamen Tionghoa lainnya. Arsitektur tradisional Tionghoa ini dapat dilihat pada bangunanbangunan seperti rumah-rumah penduduk, kuil, dan toko-toko di kawasan kampung Cina. Jaringan jalan di kawasan kampung Cina cenderung sempit dan berliku-liku. Jalan-jalan ini biasanya berfungsi sebagai jalur pejalan kaki dan juga jalur untuk kendaraan bermotor yang Jalan-jalan sempit ini menjadi ciri khas kawasan kampung Cina yang membuatnya terasa lebih ramah bagi pejalan kaki dan mengurangi kebisingan kendaraan bermotor. Kawasan kampung Cina biasanya dilengkapi dengan elemen budaya Tionghoa seperti kuil, gerbang masuk, dan patung-patung Tionghoa. Kuil-kuil ini menjadi pusat aktivitas keagamaan dan kebudayaan masyarakat Tionghoa, sementara gerbang masuk dan patung-patung Tionghoa menjadi ikon kawasan kampung Cina yang dapat dikenali oleh pengunjung. Kawasan kampung Cina seringkali menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat Tionghoa di kota tersebut. Di kawasan ini terdapat berbagai toko dan usaha kecil-kecilan seperti toko bahan makanan, warung kopi, toko perhiasan, dan sebagainya. Fungsi ekonomi kawasan kampung Cina ini menjadi penting dalam pengembangan kawasan sebagai objek wisata yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Kawasan kampung Cina juga menjadi tempat yang merefleksikan identitas masyarakat Tionghoa di kota tersebut. Di kawasan ini, terdapat berbagai kegiatan keagamaan, seni dan budaya, serta tradisi-tradisi yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Hal ini menjadikan kawasan kampung Cina sebagai kawasan yang unik dan memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Karakteristik Kawasan Pecinan Pada Bekas Pusat Perdagangan Kampung Malabero Kota Bengkulu Gambar 1. Ilustrasi Teori Elemen atau komponen dasar Kawasan Pecinan Sumber : Penulis, 2022 Zonasi Kawasan Pecinan Fungsi bangunan dan ruang publik di Pecinan memiliki 3 zona yaitu daerah perdagangan, hunian dan pemukiman yang mendekati daerah perairan (Zahnd, 2. Zonasi adalah pembagian suatu kawasan menjadi beberapa kawasan sesuai dengan fungsi dan ciri aslinya atau dengan tujuan untuk mengembangkan fungsi lainnya. Komponen dasar Kawasan Pecinan yaitu meliputi Klenteng, pasar, pelabuhan dan aksis jalan. (Widodo 1. Terdapat klenteng tepat di sebelah Mungkin terlihat aneh bagi sebagian orang tempat ibadah berada di dekat atau dekat Namun ternyata hal tersebut tidak jauh dari sejarah klenteng yang muncul berkat pasar, sebagai klausa sebab akibat, pasar membuat klenteng yang harus dibangun. Orang Tionghoa awalnya datang ke Indonesia melalui jalur laut. Oleh karena itu, dimanapun orang Tionghoa tinggal, mereka pasti dekat dengan laut, baik itu pantai, dermaga, atau pelabuhan. Dan sudah menjadi tradisi bahwa ketika mereka tiba, dibuatkan tempat untuk mereka menetap. Maka mereka mendirikan pasar di daerah tempat tinggal orang Tionghoa untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Gambar 7. Ilustrasi Teori Zonasi Ruang Pecinan Sumber : Penulis, 2022 Pola Pemukiman Pecinan Pola pemukiman kampung Cina ini menghasilkan kawasan yang kaya akan budaya dan sejarah, dan menjadi daya tarik wisata bagi banyak orang yang ingin mengalami keindahan arsitektur, budaya, dan seni tradisional Tionghoa. Menurut Widayati . , pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Tionghoa membangun rumahnya mengikuti pola rumah Belanda sebagai SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Mohammad AoAzam Izzuddin. Ikaputra rumah sambung ujung ke ujung . , dengan atau tanpa lantai atas. Rumah menghadap ke perairan atau jalan selebar 5-8 meter. Jenis bangunan rumah ini disebut Stadswooningen, yaitu tipe townhouse yang kemudian berkembang menjadi model ruko yang terdapat di Pecinan. Menurut Zahnd . Pola pemukiman kawasan Pecinan bersifat homogen dengan susunan bangunan yang mengikuti pola grid. Menurut Widodo . Inti dari elemen dasar pemukiman pecinan tegak lurus pantai dimana ujungnya terdapat klenteng. Permukiman Lingkungan Kampung Cina berada dalam blok yang dipisahkan oleh jalan-jalan Biasanya, rumah-rumah di Pecinan tidak memiliki halaman, sehingga terlihat hampir sejajar dengan jalan utama, karena Pecinan merupakan kawasan pemukiman dan komersial serta pertokoan, perdagangan. Bentuk Kelompok Bangunan Pecinan menurut Lin dalam Widayati . merumuskan beberapa pertimbangan yang sering digunakan oleh masyarakat Tionghoa dalam penataan arsitektur pecinan yakni Jian dan Axial. Konsep Jian dan Axial adalah konsep arsitektur Tionghoa kuno yang sangat berpengaruh dalam pembangunan kota dan desain tata kota. Jian adalah konsep dasar berupa penggunaan modul yang berulang dan dapat dikembangkan dengan model yang sama hingga membentuk beberapa kelompok massa Jian merujuk pada ruangan atau bangunan tunggal dalam arsitektur Tionghoa, yang dibangun dengan menggunakan konsep modular dan simetri. Biasanya, jian memiliki ukuran yang sama dan diatur dalam pola yang berulang untuk menciptakan bangunan yang seimbang dan simetris. Penggunaan konsep Jian dalam pembangunan kota memungkinkan penciptaan lingkungan yang harmonis dan estetis. Sementara itu, axial mengacu pada poros atau sumbu simetris yang menghubungkan berbagai elemen arsitektur dalam sebuah bangunan atau kawasan. Sumbu ini biasanya dibentuk oleh bangunan utama atau taman, dan memungkinkan penciptaan kesan kedalaman dan perspektif yang kuat. Konsep Axial dalam tata kota memungkinkan penciptaan ruang terbuka yang mudah diakses dan dirancang dengan baik, sehingga memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi dan berkumpul di lingkungan yang nyaman dan aman. Axial planning adalah bentuk simetris dan adanya titik orthogonal sebagai sumbu pada penataan ruang, baik unit bangunan maupun Arsitektur Cina Arsitektur Cina mengacu pada gaya arsitektur yang memiliki pengaruh besar di Asia selama berabad-abad. Prinsip struktural arsitektur Cina sudah mendarah daging dan sulit dihapus, dan jika ada yang berubah, itu hanya karena elemen dekoratifnya. Arsitektur Cina memiliki pengaruh besar pada gaya arsitektur Korea. Vietnam, dan Jepang sejak Dinasti Tang. Era arsitektur Cina sama tuanya dengan peradaban Cina. Etnis Tionghoa selalu menggunakan sistem konstruksi asli . , menjaga dan memelihara prinsip-prinsip khasnya dari zaman dulu hingga sekarang. Bangunan dengan sistem konstruksi yang sama banyak ditemukan di daerah-daerah yang dipengaruhi budaya Tionghoa. Menurut Widayati . , pada bangunan bergaya Cina terdapat empat macam bentuk atap, yaitu: Atap pelana dengan struktur penopang atap gantung. Atap perisai. Atap pelana dengan dinding sopi-sopi. Gabungan atap pelana dan perisai. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Karakteristik Kawasan Pecinan Pada Bekas Pusat Perdagangan Kampung Malabero Kota Bengkulu Penulis buku AuChinese Architecture in The Straits Settlements and Western MalayaAy. T David G. Khol . , mengemukakan bahwa ciri langgam arsitektur pecinan sebagai berikut: A Pekarangan atau ruang terbuka. Ruang ini lebih privat, biasanya diasosiasikan dengan kebun/taman. A Bentuk atap bangunan yang khas: model Ngang Shan, yaitu atap pelana dengan ujung jurai atap yang melengkung ke atas. A Elemen struktur yang terbuka dan disertai ornamen khas arsitektur Cina A Penggunaan warna: arsitektur Cina memiliki warna kuning dan merah yang mempunyai makna simbolik. METODE Pendekatan Penelitian ini dilakukan pada aspek Fungsi dan fisik. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan berdasarkan dua jenis data, yaitu: A Data primer dilakukan dengan cara observasi dan kuesioner. Observasi dilakukan untuk memperoleh data terkait permasalahan kualitas daya tarik wisata budaya yang meliputi persepsi wisatawan, keberadaan fasilitas umum dan objek daya tarik wisata. Selain untuk mendapatkan persepsi Wisatawan. Kuesioner yang sudah diperoleh akan digunakan sebagai data. A Data sekunder diperoleh melalui dokumentasi terkait dengan peta-peta tematik Kawasan. PEMBAHASAN Sejarah Kawasan Kampung Cina Kota Bengkulu Pada tahun 1700. Inggris membuka Bengkulu sebagai pusat perdagangan rempah-rempah sehingga banyak imigran Tionghoa menetap di sana melalui pelabuhan Pantai Tapak Paderi. Saat itu, kawasan ini merupakan pusat pemerintahan Inggris dan gudang rerempah Inggris. Sehingga hal tersebut sangat mempengaruhi ekonomi daerah sekitarnya, terkhusus di Kampung Cina. Tahun 1970-an merupakan masa kejayaan Kampung Tionghoa Bengkulu, di sinilah sebagian besar warga Bengkulu biasa berbelanja. Aneka dagangan mulai dari toko kelontong, pakaian, peralatan elektronik dan perabotan rumah tangga. Periode kejayaan kampung Cina sebagai pusat ekonomi atau kegiatan perdagangan memudar pada tahun 1990-an (Bengkuluekspress. com,2. Zona dan Komponen Dasar Kawasan Kampung Cina Kota Bengkulu Kampung Cina merupakan salah satu ruang kota yang memiliki identitas dan karakter tersendiri dalam perannya sebagai salah satu bagian dari sebuah kota yang kompleks. Kampung Cina atau Pecinan mempunyai identitas dan karakter dalam bentuk fisik. Identitas fisik yang dimiliki kampung cina meliputi Komponen dasar kawasan pecinan berupa Klenteng, pasar, pelabuhan. Selain komponen dasar kawasan, identitas fisik juga ditandai dengan pola pemukiman yang khas, yakni masyarakat Tionghoa membangun rumahnya mengikuti pola rumah Belanda sebagai rumah sambung ujung ke ujung . , dengan atau tanpa lantai atas. Rumah menghadap ke perairan atau jalan selebar 5-8 meter. Pola pemukiman kawasan Pecinan bersifat homogen dengan susunan bangunan yang mengikuti pola Grid. Permukiman Lingkungan Kampung Cina berada dalam blok yang dipisahkan oleh jalan-jalan kecil. Biasanya, rumahSARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Mohammad AoAzam Izzuddin. Ikaputra rumah di Pecinan tidak memiliki halaman, sehingga terlihat hampir sejajar dengan jalan utama, karena Pecinan merupakan kawasan pemukiman dan komersial serta pertokoan, perdagangan. Gambar 8. Lokasi Kampung Cina Kota Bengkulu Sumber: Dokumen Pribadi (Azam, 2. Fungsi bangunan dan ruang publik di Kampung Cina Kota Bengkulu memiliki 3 zona yaitu daerah perdagangan, hunian dan daerah kanal, yaitu daerah pemukiman yang mendekati daerah Kampung Cina Kota Bengkulu memiliki Elemen atau komponen dasar Kawasan Pecinan meliputi Klenteng, pasar, pelabuhan dan aksis jalan. Kampung Cina Kota Bengkulu memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Sesuai dengan pendapat Widodo . , pemukiman di Kampung Cina Kota Bengkulu merupakan blok-blok yang masing-masing dipisahkan oleh jalan Pada umumnya rumah-rumah di Pecinan tidak memiliki pekarangan, sehingga terkesan hampir menyatu dengan jalan utama. Kampung Cina Kota Bengkulu memenuhi kriteria tersebut. Gambar 9. Zona. Komponen Kawasan (A) dan Ciri Lansekap (B) Kampung Cina Kota Bengkulu Sumber: Analisa (Peneliti, 2. Menyertai perkembangannya di Indonesia, dari tahun ke tahun akhirnya Kampung Cina memiliki kekuatan dan sejarah sebagai pendatang yang sangat unik. Pecinan mampu menyimpan cerita unik atas keberlangsungannya hingga mampu disebut sebagai sebuah cagar budaya dan sangat diakui oleh pemerintah Indonesia. Hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat penting dari sisi Pariwisata. Pariwisata merupakan kegiatan yang ditujukan untuk menikmati kekayaan budaya dan daya tarik wisata yang dimiliki Kampung Cina. Masyarakat lokal maupun mancanegara berbondong-bondong mendatangi Pecinan yang ada diseluruh Indonesia dengan alasan untuk melihat daya tarik nya, mempelajari sejarah budaya nya, merasakan bagaimana hidup di SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Karakteristik Kawasan Pecinan Pada Bekas Pusat Perdagangan Kampung Malabero Kota Bengkulu dalamnya, atau sekedar untuk menjadikan kawasan pecinan sebagai tempat mampir berolahraga dan berburu kuliner. Masyarakat Kampung Cina ternyata juga mampu beradaptasi dengan status mereka sebagai cagar budaya dan kawasan wisata. Kampung cina mampu melaksanakan beberapa hal penting dalam menjadi sebuah objek wisata, yaitu atraksi, aksesibilitas, amenitas dan layanan tambahan. Langgam Arsitektur Kampung Cina Kota Bengkulu Gambar 11. Ciri-ciri langgam arsitektur Kampung Cina Kota Bengkulu Sumber: Dokumen Pribadi (Azam, 2. Atap Bentuk atap bangunan yang khas: model Ngang Shan, yaitu bentuk atap pelana dengan ujung jurai atap yang sedikit melengkung ke atas. Ujung Jurai Atap yang Melengkung ke Atas Model Ngang Shan memiliki ciri khas tambahan, ini berarti bahwa bagian ujung dari sisi miring atap . memiliki lengkungan yang lembut atau kemiringan tambahan ke atas. Hal ini memberikan sentuhan estetika khusus pada atap pelana yang biasanya memiliki bentuk yang lebih sederhana dan lurus. Bentuk atap model Ngang Shan ini sering dijumpai dalam arsitektur tradisional Tiongkok, terutama pada bangunan-bangunan bersejarah seperti kuil, paviliun, rumah tradisional, atau beberapa bangunan kuno penting lainnya. Model ini memberikan kombinasi antara kesederhanaan atap pelana dengan elemen dekoratif melengkung yang memberikan ciri khas estetika Tiongkok. Dalam desain modern, model Ngang Shan masih sering diadopsi sebagai salah satu elemen arsitektur untuk memberikan nuansa tradisional atau oriental pada bangunan. Selain itu, bentuk atap ini tetap populer dalam beberapa area dengan ciri khas arsitektur Tiongkok tradisional. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Mohammad AoAzam Izzuddin. Ikaputra Gambar 12. Atap bangunan Kampung Cina Kota Bengkulu Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 Beberapa bangunan di Kampung Cina Bengkulu yang masih mempertahankan atap Ngang Shan, model atap tersebut sangat membantu dalam menghadirkan suasana asli kampung cina. Atap tersebut digunakan pada hunian, gerbang utama dan gedung vihara. Elemen Struktur dan Ornamen Beberapa bangunan di Kampung Cina Bengkulu yang masih menghadirkan struktur khas dan ornamen khas kampong cina, terlihat beberapa bangunan menggunakan struktur bangunan yang terbuka dan menghadirkan sentuhan ornament cina seperti lampion, relief naga, sentuhan pintu atau jalan masuk berbentuk setengah lingkaran. Naga dalam budaya Cina melambangkan kekuasaan, keberanian, dan perlindungan. Atap naga sering kali memiliki ujung-ujung yang melengkung dan melingkar, menciptakan siluet yang menyerupai tubuh naga. Gambar 13. Struktur dan oranmen Kampung Cina Kota Bengkulu Sumber: Dokumen Pribadi (Azam, 2. Bentuk lengkung sering kali melambangkan keharmonisan dan keseimbangan, aspek yang penting dalam filosofi Tiongkok. Lengkungan yang lembut dan simetris menciptakan kesan visual yang menyenangkan dan mencerminkan pemahaman tradisional tentang keseimbangan antara yin dan yang. Dalam feng shui, prinsip aliran energi atau "qi" sangat penting. Bentuk lengkung dapat dirancang untuk memastikan aliran energi yang lancar dan positif di sekitar Ini mencerminkan keyakinan pada harmoni antara manusia dan lingkungannya. Beberapa lengkungan pada bangunan dapat melambangkan gerbang kemakmuran dan Dalam tradisi Tiongkok, pintu gerbang yang berlengkungan dapat dianggap sebagai simbol pembukaan jalan bagi keberhasilan dan kebahagiaan. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Karakteristik Kawasan Pecinan Pada Bekas Pusat Perdagangan Kampung Malabero Kota Bengkulu Penggunaan warna Arsitektur Cina memiliki warna kuning dan merah yang mempunyai makna simbolik. Kombinasi kuning dan merah sering digunakan bersama dalam arsitektur Cina untuk menciptakan kesan yang megah dan berarti. Penggunaan kedua warna ini dalam komposisi estetika bangunan menggambarkan harmoni alam semesta, keseimbangan yin dan yang, serta keselarasan manusia dengan alam. Penggunaan warna kuning dan merah dalam arsitektur Cina mencerminkan pandangan hidup, filosofi, dan keyakinan budaya Tiongkok yang kaya. Kedua warna ini membawa makna simbolik yang mendalam, dan hingga hari ini, penggunaan mereka masih dipertahankan dan dihargai dalam arsitektur Tiongkok modern dan tradisional. Gambar 14. Warna bangunan Kampung Cina Kota Bengkulu Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 Sebagian besar bangunan dikampung cina kota Bengkulu menggunakan kombinasi warna kuning dan merah, hal tersebut didapati pada gerbang utama, interior teras pada seluruh bangunan dan pada bangunan vihara. Penggunaan warna kuning dan merah memiliki makna simbolik dalam arsitektur Cina, di mana kuning melambangkan kekaisaran, keagungan, dan kemakmuran, sementara merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan KESIMPULAN Kampung Cina Kota Bengkulu mempertahankan identitasnya melalui ciri khas arsitektur, terutama dalam bentuk atap bangunan yang disebut sebagai model Ngang Shan. Atap pelana dengan ujung jurai yang melengkung ke atas, elemen struktur terbuka yang dihiasi dengan ornamen khas arsitektur Cina, dan penggunaan warna kuning dan merah memberikan keunikan yang mencerminkan nilai-nilai simbolik dan budaya Tiongkok. Selain itu, kehidupan sehari-hari yang beragam dan ramainya aktivitas di jalanan, mulai dari tempat parkir hingga ruko yang menampung beberapa kegiatan bisnis keluarga, menciptakan atmosfer keberagaman dan vitalitas ekonomi masyarakat. Secara keseluruhan. Kampung Cina Kota Bengkulu masih memancarkan orisinalitasnya melalui arsitektur yang mencerminkan warisan budaya dan kehidupan sehari-hari yang dinamis. Diperlukan adanya perhatian dalam perencanaan dan pengembangan kawasan seperti pengembangkan potensi pariwisata budaya. Selain itu diperlukan pelestarian dan pengembangan warisan budaya yang mencakup restorasi bangunanbangunan bersejarah, dokumentasi cerita-cerita lokal, dan promosi seni dan kerajinan Pemberdauaan ekonomi lokal pun perlu diperhatikan, dengan mendukung inisiatif ekonomi lokal dengan mempromosikan bisnis keluarga di kawasan tersebut. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Mohammad AoAzam Izzuddin. Ikaputra DAFTAR PUSTAKA Bengkuluekspress. Kampung Cina Kota Bengkulu Tempo Dulu Jaya Dimasa Lalu. Ditinggalkan Dimasa Kini. https://bengkuluekspress. com/kampung-cina-kota-bengkulutempo-dulu-jaya-dimasa-lalu-ditinggalkan-dimasa-kini/ . iakses 10 Oktober 2. Made Asdhiana. Jejak Sejarah Terlindas Roda Zaman. https://travel. com/read/2012/04/03/11302850/jejak. zaman?pag e=all . iakses 9 Oktober 2. Kautsary. Jamilla. Pelapisan Ruang Berbasis Spiritual dan Kesejarahan Permukiman Pecinan Semarang. Desertasi Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. di Kawasan Kautsary. Jamilla. Penolakan warga Pecinan Semarang terhadap Kebijakan dan program Revitalisasi Kawasan Pecinan. Thesis. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Khol. David G. Chinese Architecture in the Straits Settlements and Western Malaya: Temples Kongsis and Houses. Kuala Lumpur: Heineman Asia. Lilananda. Inventarisasi Karya Arsitektur Cina di Kawasan Pecinan Surabaya. Lynch. Kevin. The Image Of The City. The MIT Press. Cambridge Marhendi. Mengku. Manajemen Wisata. Semarang: Universitas Katholic Soengijapranata Penelitian. Tidak Dipublikasikan. Surabaya: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UK Petra. Suwito. Susanto. Eko Harry. Junaidi. Ahmad. Keberadaan Etnis Tionghoa dalam Sorotan Media Massa (Analisis Bingkai Berita Imlek 2011 di Metro TV). Jurnal Komunikasi Universitas Tarumanagara Tahun i/02/2011 Widayati. Naniek. Telaah Arsitektur Berlanggam China di Jalan Pejagalan Raya Nomor 62 Jakarta Barat. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. No. Juli 2004: 42 Ae 56 Widayati. Naniek. Djauhari. Sumintardja. Permukiman Cina di Jakarta Barat (Gagasan Awal Mengenai Evaluasi SK Gubernur No. 475/1. Jurnal Kajian Teknologi. : 1-24. Widodo. Yohannes. The Urban History of The Southeast Asian Coastal Cities. PhD. Dissertation. University of Tokyo, 1996. Zahnd. Markus. Perancangan Kota Secara Terpadu. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. UCAPAN TERIMA KASIH