EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 DOI: https://doi. org/10. 31933/eej. Received: 01/12/2023. Revised: 10/12/2023. Publish: 13/12/2023 MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU MENGAJAR DI SMA XI DALAM MENGEFEKTIFKAN PEMBELAJARAN MELALUI PROGRAM PEMBINAAN PROFESIONALGURU DAN SUPERVISI KELAS SMA NEGERI 1 SITIUNG Yunita SMA Negeri I Sitiung. Dharmasraya Sumatera Barat, itayunita1967@gmail. Abstrak Berdasarkan hasil diskusi terbatas dengan para guru mengajar di kelas XI SMA Negeri 1 Sitiung, diketahui bahwa rendahnya wawasan profesionalisme guru disebabkan antara lain oleh beberapa alasan, yaitu: rendahnya kesadaran guru untuk memperbaharui pengetahuan, terbatasnya kesempatan guru mengikuti pelatihan-pelatihan profesional, kurang aktifnya pertemuan antar guru, supervisi yang dilakukan lebih cenderung menitikberatkan pada aspek administrasi, dan pemberian kredit jabatan fungsional guru yang ditunjukan untuk memacu kinerja guru pada prakteknya hanya bersifat formalitas. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) adalah jenis penelitian yang dilakukan oleh kepala sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kombinasi pendekatan profesi dan pendekatan penulis pada supervisi pengajaran menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Saran penulis agar guru-guru harus mendapat kepercayaan dari siswa yang mana akan bermuara pada kepercayaan dari masyarakat. Kata kunci: Kemampuan Guru. Pembinaan Profesional. Supervisi PENDAHULUAN Perkembangan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan hal-hal yang harus segera direspon di dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Beberapa perubahan yang terjadi di Indonesia dan berpengaruh terhadap penyelenggaraan Pertama, pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pembagian Kewenangan antara Pusat dan Daerah telah membawa perubahan pada system pengelolaan pendidikan nasional, dari Page 138 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 sentralistik kepada desentralistik. Kedua, penetapan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta beberapa peraturan perundang-undangan lainnya telah menjadi arah baru bagi pengelolaan pendidikan nasional sebagai suatu sistem. perubahan global dalam berbagai sektor kehidupan yang terjadi demikian cepat, merupakan tantangan dan peluang nasional bagi upaya peningkatan mutu pendidikan. Keempat, ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja perlu segera dikaji secara serius, konsisten, dan berkelanjutan. Dengan demikian diperlukan adanya paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang mampu mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi multi dimensial. Salah satu upaya strategis yang dilakukan pemerintah dimasa mendatang adalah pengembangan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pendidikan merupakan kebutuhan dan hak asasi setiap manusia untuk mempersiapkan kehidupannya, baik sebagai makhluk pribadi maupun sosial. Kebutuhan dasar manusia dalam peran pribadinya berkaitan dengan kebutuhan mempertahankan hidup, dan memerankan diri dalam system sosialnya. Pada tingkat persekolahan, pelaksanaan pendidikan menuntut kemampuan guru dapat mengelola proses pembelajarannya secara efektif. Tingkat produktivitas sekolah dalam memberikan pelayanan secara efisien kepada pengguna . eserta didik/masyaraka. akan sangat tergantung pada kualitas guru-gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan pada keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab individual dan kelompok. Guru harus mampu berperan sebagai desainer . Implementor . , dan evaluator . kegiatan pembelajaran. Guru merupakan faktor yang paling dominan, karena ditangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya. Peran strategis guru tersebut menuntut pembinaan dan pengembangan yang terusmenerus dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang mengglobal dewasa Upaya meningkatkan kemampuan professional guru memerlukan pembinaan yang terusmenerus melalui supervise atau pengawasan. Pelaksanan pengawasan yang ditekankan pada proses pembelajaran lebih dikenal dengan istilah supervise pengajaran . ducational supervision atau instructional supervisio. Mengajar merupakan suatu pekerjaan yang kompleks, terutama bagi seorang guru muda yang belum banyak pengalaman. Pada saat guru sedang mengajar, pusat perhatiannya harus tertuju pada dua hal, yakni: . siswa yang harus aktif berpartisipasi dalam proses belajar mengajar, dan . guru itu sendiri yang sedang mengajar dengan menerapkan strategi mengajar yang dipilihnya. Pada umumnya guru hanya memusatkan perhatian kepada siswanya saja, sehingga ia mengabaikan unjuk kerja mengajarnya sendiri yang dimungkinkan menjadi penyebab terjadinya kegagalan dalam proses belajar mengajar di kelas. Sebaliknya, jika guru terlalu memusatkan perhatian pada unjuk kerja mengajarnya sendiri dan mengabaikan proses belajar siswanya, maka dimungkinkan guru mengajar dengan baik, tetapi siswanya tidak belajar dengan aktif. Jadi perhatian guru harus simultan tertuju pada dirinya sendiri dan siswanya dalam proses interaksi belajar dan mengajar yang efektif agar dapat mencapai tujuan Page 139 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 pembelajaran seperti yang telah direncanakan. Disamping hal tersebut di atas, perkembangan IPTEK dewasa ini juga menuntut guru selalu meningkatkan kemampuannya untuk menguasai IPTEK, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Sehingga kemampuan profesionalnya tidak jauh tertinggal, dan unjuk kerja mengajarnya selalu up to Masih banyak lagi faktor-faktor lain yang menyebabkan terbatasnya kemampuan guru dalam melaksanakan fungsi dan tugas pokoknya, padahal guru merupakan ujung tombak keberhasilan penididikan dan pengajaran di sekolah. Jadi guru memerlukan bantuan supervise pengajaran, terutama dari kepala sekolah, pengawas sekolah, maupun supervise pengajaran, terutama dari kepala sekolah, pengawas sekolah, maupun dari guru yang lebih senior . aik pengalaman maupun kemampuanny. Supervise pengajaran perlu diarahkan pada upayaupaya yang sifatnya memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk berkembang secara Sehingga mereka lebih mampu melaksanakan tugas pokoknya, yaitu memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. Supervise pengajaran merupakan kegiatan-kegiatan yang AumenciptakanAy kondisi yang layak bagi pertumbuhan profesional guru-guru secara terus-menerus. Kegiatan supervise memungkinkan guru-guru memperoleh arah diri dan belajar memecahkan sendiri masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran dengan imajinatif, penuh inisiatif dan kreativitas, bukan konformitasAy (DjamAoan Satori, 2. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya supervisi-pengajaran. Pertama, supervisi pengajaran bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Kedua, supervisi pengajaran dapat memadukan perbaikan pengajaran secara relative menjadi lebih sempurna secara bertahap. Ketiga, supervisi pengajaran relevan dengan nuansa kurikulum yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar secara tuntas, sehingga supervisi pengajaran memberikan dukungan langsung pada guru di dalam mengupayakan tercapainya tingkat kompetensi tertentu pada siswa. Keempat, supervisi pengajaran merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan para guru. Dalam konsep supervisi pengajaran tercakup dua konsep yang berbeda, walaupun pada pelaksanaanya saling terkait, yaitu supervisi kelas dan supervisi klinis. Supervisi kelas dimaksudkan sebagai upaya untuk mengidentifikasi permasalahan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas dan menyusun alternative pemecahannya. Supervisi klinis merupakan layanan professional dari kepala sekolah dan pengawas, karena adanya masalah yang belum terselesaikan dalam pelaksanaan supervisi kelas. Sergiovanni dan Starrat . menyebutkan bahwa supervisi kelas bersifat top-down, artinya perbaikan pengajaran ditentukan oleh pengawas/kepala sekolah, sedangkan supervisi klinis bersifat bottom-down, yaitu kebutuhan program ditentukan oleh persoalan-persoalan otentik yang dialami para guru. Ketika seorang guru menjelaskan pelajaran di depan kelas, maka pada saat itu terjadi kegiatan mengajar, tetapi dalam kegiatan itu tak ada jaminan telah terjadi kegiatan belajar pada setiap siswa yang diajar. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dikatakan efektif hanya apabila dapat mengakibatkan atau menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa. Ada tiga komponen utama yang paling berkaitan dan memiliki kedudukan strategis dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Ketiga komponen tersebut adalah kurikulum, guru Page 140 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 dan pembelajaran, ketiga komponen dimaksud, guru menduduki posisi sentral sebab peranannya sangat menentukan. Seorang guru diharapkan mampu menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum melalui pembelajaran untuk siswa secara optimal. Guru harus selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya, pengetahuan, sikap dan keterampilannya secara terus-menerus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk paradigma baru pendidikan yang menerapkan Manajemen Barbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru diarahkan untuk peningkatan mutu pembelajaran dan diharapkan berdampak pada hasil belajar siswa. Tinggi rendahnya mutu pembelajaran dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk rendahnya wawasan profesionalisme guru. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa guru cenderung kurang kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran, terbukti dari pengakuan guru-guru yang menjadi subjek dalam penelitian dengan menjadikan ceramah sebagai pilihan utama strategi mengajarnya. Strategi yang monoton kurang mampu memotivasi siswa dalam belajar serta kurang mampu menggali dan mengoptimalkan potensi siswa. Rahman . mengemukakan bahwa rendahnya kualitas proses pembelajaran kerena penggunaan metode mengajar yang monoton dan tidak bervariasi. Berdasarkan hasil diskusi terbatas dengan para guru mengajar di SMA XI SMA Negeri 1 Sitiung, diketahui bahwa rendahnya wawasan profesionalisme guru dimungkinkan karena beberapa alasan antara lain: . rendahnya kesadaran guru untuk memperbaharui pengetahuannya meskipun telah lama diangkat menjadi guru, . kesempatan bagi guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan profesional sangat terbatas, baik dari segi jumlah maupun dari intensitasnya, . pertemuan-pertemuan guru sejenis kurang aktif, . supervisi pendidikan yang bertujuan memperbaiki proses pembelajaran cenderung menitikberatkan pada aspek administrasi, dan . pemberian kredit jabatan fungsional guru yang ditunjukan untuk memacu kinerja guru pada prakteknya hanya bersifat formalitas. Berkaitan dengan keadaan di atas. Glickman . alam Depdikbud ,1999:. membagi perilaku guru berdasarkan pada dua hal yaitu komitmen dan kemampuan guru memecahkan masalah pembelajaran. Maka untuk mengatasi rendahnya wawasan professional guru disusun upaya-upaya yang terencana, sistematis dan berkesinambungan dalam program pembinaan profesionalisme guru yang diarahkan untuk meningkatkan komitmen dan kemampuan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran, sehingga diharapkan pembelajaran dapat lebih efektif dengan mengacu pada pencapaian hasil belajar oleh siswa. Program tersebut merupakan salah satu program pengembangan sekolah sehingga manajemen sekolah dikembangkan pada pemberdayaan potensi yang dimiliki sesuai kondisi sekolah termasuk penyediaan sarana dan prasarana pengembangan diri guru. METODE PENELITIAN Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penekatan kuliatatif dan pendekatan kuantitatif. Dimana pendekatan kuantitatif data berupa angka Ae angka dan pendekatan kualitatif data berupa tulisan, gambar dan grafik. Page 141 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Jenis Penelitian Adapun penelitian yang akan diterapkan adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) adalah jenis penelitian yang dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah. Seperti yang dikemukakan Mulyasa bahwa Penelitian Tindakan Sekolah merupakan upaya peningkatan kinerja sistem pendidikan dan meningkatkan menejemen sekolah agar menjadi produktif, efektif dan efisien. jenis penelitian ini perlu diperkenalkan kepada kepala sekolah dan pengawas sekolah nelalui pendidikan dan pelatihan . PTS. Dalam pelaksanaan diklat PTS, diharapkan kepala sekolah dan pengawas sekolah dapat . memahami PTS sebagai bagian dari penelitian ilmiah, . memahami makna PTS, . memahami penyusunan usulan PTS, . melaksanakan dan melaporkan hasil PTS yang dilakukannya. HASIL Deskripsi Penelitian Siklus I Perencanaan. Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan oleh penulis saat akan memulai Agar perencanaan mudah dipahami dan dilaksanakan oleh penulis yang akan melakukan tindakan, maka penulis membuat rencana tindakan sebagai berikut : Merumusan masalah yang akan dicari solusinya. Dalam penelitian ini masalah yang akan dicari solusinya adalah masih banyaknya guru yang wawasan profesionalismenya rendah dalam proses pembelajaran. Merumusan tujuan penyelesaian masalah / tujuan menghadapi tantangan /tujuan melakukan inovasi/tindakan. Dalam penelitian ini penulis mengambil rencana untuk melakukan tindakan melakukan pembinaan dan supervisi kelas untuk meningkatkan kemampuan guru pada proses pembelajaran. Merumusan indikator keberhasilan pembinaan dan supervisi kelas dalam meningkatkan kemampuan guru pada proses pembelajaran. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini penulis tetapkan sebesar 75% Merumusan langkah-langkah masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan tindakan. Langkah-langkah yang diambil penulis dalam melakukan tindakan antara lain adalah melakukan sosialisasi kepada para guru mengenai penelitian yang akan dilaksanakan, serta menyampaikan tujuan dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh penulis. Kepada para guru disampaikan mengenai pembinaan dan supervisi kelas yang akan diterapkan dalam penelitian ini, sebagai berikut: Berkoordinasi dengan guru yang dipakai sebagai sampel penelitian melalui surat ijin dari pengawas SMA Negeri 1 Sitiung. Menyiapkan instrumen Komitmen guru-guru dalam melaksanakan tugas guru Menyiapkan instrumen Supervisi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM ) guru Menyiapkan instrumen Supervisi di kelas dalam proses belajar mengajar ( PBM ). Menyiapkan instrumen pembinaan profesionalitas guru Page 142 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain : Pada tahap awal setelah berkoordinasi dengan guru, dilakukan pertemuan awal terhadap seluruh guru yang telah dirancang oleh kepala sekolah dalam rapat koordinasi . Pada kesempatan ini peneliti menjelaskan tentang pentingnya guru yang professional antara lain dalam pembuatan RPP dan pelaksanaannya pembelajaran di kelas. Menyiapkan lembar angket untuk komitmen guru-guru dalam melaksanakan tugas Menyiapkan lembar angket untuk Supervisi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM ) guru Menyiapkan lembar angket untuk Supervisi di kelas dalam proses belajar mengajar ( PBM ). Menyiapkan lembar angket untuk pembinaan profesionalitas guru. Observasi Pengamatan atau observasi dilakukan oleh penulis dengan menggunakan lembar observasi selama 16 hari kerja . atu siklu. , untuk semua guru yang mengajar di SMA XI SMA Negeri 1 Sitiung. Selama pengamatan penulis dibantu atau berkolaborasi dengan guru Pengamatan oleh peneliti meliputi proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dengan menggunakan RPP yang telah dibuatnya dengan metode supervisi kelas oleh Tabel. Komposisi Komitmen Guru Pada Akhir Siklus I Skor Penilaian Nama Guru SYAFRIYANTI,S. Pd. 2 NURUL HANIFAH INDRIANI Oo LESTARI. RIA AFNIDA. Dra. NURTIWILIS SARIF MUNANDAR. UPI DEFRIYANI ANWAR. YUSWARNI. Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo SATRIA DEWITA. APRIYENTI. Sos MELLY JUFRIANTI. TRI KARTINI. MP. DEWI YANTI SURYANINGSIH, HIDAYATUL M. Page 143 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 14 CANDRIZAL. DITA AFELA MAHESA RANI, Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Oo Oo MELDA ASNIDAR. Total Persentase 56,25% 6,25% Oo 37,50% Skor Penilaian : NIlai A = 9 Ou 10 Nilai B = 7 Ou 8 Nilai C = 5 Ou 6 Nilai D = 0 Ou 4 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar/grafik diagram berikut ini. Grafik Diagram Tabung 1 : Komitmen Guru Pada Siklus I Berdasarkan tabel dan grafik di atas dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada guru diperoleh komitmen guru pada akhir siklus I, masih ada guru yang memperoleh nilai cukup (C). Guru yang mendapat nilai cukup (C) sebesar 47,50% atau 6 orang guru dan disusul nilai amat baik (B) diperoleh guru sebesar 6,25% atau 1 orang guru. dan nilai sangat baik (A) diperoleh guru sebesar 56,25% atau 9 orang guru. Namun demikian tidak terdapat guru yang memperoleh nilai kurang (D). Jadi peneliti berkesimpulan harus diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya atau siklus kedua. Tabel 4:2 Supervisi KBM Guru Pada Akhir Siklus I Skor Penilaian Uraian Kegiatan 1 Menentukan identitas mata pelajaran 2 Menentukan kompetensi inti 3 Menentukan kompetensi dasar 4 Menentukan indikator pencapaian 5 Menentukan tujuan pembelajaran 6 Menentukan materi ajar 7 Menentukan alokasi waktu 8 Menentukan metode pembelajaran Page 144 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 9 Menentukan kegiatan pembelajaran 10 Menentukan penilaian hasil belajar 11 Menentukan sumber belajar Jumlah Jumlah Skor Skor Ideal ( 4 x 11 ) x 16 Persentase Keterangan 1 : Kurang 2 : Cukup 3 : Baik 4 : Sangat Baik Volume 3. Issue 2. Juli 2023 0% 8,5% 16,6% 60,8% Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar/grafik diagram berikut ini. Grafik Diagram Tabung 2: Supervisi KBM Guru Pada Siklus I Berdasarkan tabel dan grafik diatas dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada guru diperoleh supervise kegiatan belajar mengajar pada akhir siklus I masih ada guru yang memperoleh nilai cukup (C). Mayoritas nilai sangat baik ( SB ) sebesar 60,8% ,disusul nilai baik (B) diperoleh guru sebesar 16,6% dan nilai Cukup (C) diperoleh guru sebesar 8,5%. Namun demikian tidak terdapat guru yang memperoleh nilai kurang (K). Jadi peneliti berkesimpulan harus diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya atau siklus kedua. Tabel 4:3 Hasil Proses Belajar Mengajar ( PBM ) Guru di kelas Pada Akhir Siklus I Skor Penilaian Aspek Pengamatan A Kegiatan Awal 1 Membuka pelajaran dengan salam 2 Guru memberi apersepsi dan 3 Guru memberitahu kompetensi ujuan B Kegiatan Inti 4 Guru tampak menguasai materi Page 145 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 pembelajaran . ateri pembelajaran disampaikan dengan jela. 5 Guru mengelola kelas dengan baik 6 Metode/pendekatan yang digunakan 7 Guru menggunakan alat bantu/ media pembelajaran . lat peraga, peta, ds. 8 Guru berperan sebagai fasilitator kesulitan peseta didik 9 Guru menggunakan teknik bertanya dengan bahasa yang baik dan benar 10 Guru mendorong peserta didik untuk memanfaatkan teknologi 11 Peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran 12 Pada nampak ada proses : eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi 13 Peserta didik tampak ceria dan antusias dalam belajar 14 Ada penilaian untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajara. 15 Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP 16 Pembelajaran diselesaikan tepat C Kegiatan Penutup 17 Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman hasil pem4 18 Guru memberi tugas untuk pertemuan berikutnya. Jumlah Jumlah Skor Skor Ideal ( 4 x 18 ) x 16 Persentase 0% 4,5% 30,7% 50% Keterangan 1 : Kurang 2 : Cukup 3 : Baik 4 : Sangat Baik Page 146 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar/grafik diagram berikut ini. Grafik Diagram Tabung 3 : Hasil Proses Belajar Mengajar Pada Siklus I Berdasarkan tabel dan grafik diatas dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada guru diperoleh hasil proses belajar mengajar ( PBM ) pada akhir siklus I masih ada guru yang memperoleh nilai cukup (C). Mayoritas nilai sangat baik ( SB ) sebesar 50% ,disusul nilai baik (B) diperoleh guru sebesar 39,7% dan nilai Cukup (C) diperoleh guru sebesar 4,5%. Namun demikian tidak terdapat guru yang memperoleh nilai kurang (K). Jadi peneliti berkesimpulan harus diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya atau siklus kedua. Tabel 4:4 Pembinaan Profesionalitas Guru Pada Akhir Siklus I Skor Penilaian Indikator 1 Memahami konsep, prinsip, teori/ teknologi, karakteristik, dan kecen2 derungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran di SMA 2 Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran di SMA sesuai Kurikulum 2013 3 Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/ metode /teknik melihat RPP 4 Membimbing guru dalam melaksa8 nakan kegiatan pembelajaran di kelas/di lapangan untuk mengembangkan potensi siswa 5 Membimbing guru dalam mengem7 bangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran di SMA Memotivasi guru untuk meman6 faatkan teknologi informasi dalam pembelajaran tiap mata pelajaran di SMA Page 147 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Jumlah Jumlah Skor Skor Ideal ( 4 x 6 ) x 16 Persentase Keterangan 1 : Kurang 2 : Cukup 3 : Baik 4 : Sangat Baik Volume 3. Issue 2. Juli 2023 8,3% 30,5% 42,7% Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar/grafik diagram berikut ini. Grafik Diagram Tabung 4 : Pembinaan Profesionalitas Guru Pada Siklus I Berdasarkan tabel dan grafik diatas dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada guru diperoleh hasil pembinaan professional guru pada akhir siklus I masih ada guru yang memperoleh nilai cukup (C). Mayoritas nilai sangat baik ( SB ) sebesar 42,7%, disusul nilai baik (B) diperoleh guru sebesar 30,5% dan nilai Cukup (C) diperoleh guru sebesar 8,3%. Namun demikian tidak terdapat guru yang memperoleh nilai kurang (K). Jadi peneliti berkesimpulan harus diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya atau siklus kedua. Refleksi siklus I Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisa dalam tahap refleksi ini. Disamping data hasil observasi dipergunakan pula jurnal yang dibuat saat guru selesai melaksanakan kegiatan pengajaran sebagai acuan bagi guru untuk dapat mengevaluasi diri. Hasil analisa dipergunakan sebagai acuan untuk merencanakan pada siklus berikutnya. Peneliti mengidentifikasi masalah yang terjadi pada tindakan siklus I ini adalah karena pada siklus I guru mendapatkan nilai rata Ae rata dengan kategori cukup maka penelitian dilanjutkan pada siklus II Deskripsi Penelitian Siklus II Perencanaan. Pada siklus II perencanaan lebih diutamakan kepada perbaikan perencanaan yang dilakukan pada siklus I atas dasar refleksi. Pada siklus II tidak ada lagi penjelasan dari Page 148 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 peneliti tentang komitmen guru dalam pembelajaran di kelas. Namun lebih fokus pada supervisi kelas. Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah pada siklus yang kedua ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain : Pada tahap awal setelah berkoordinasi dengan guru, dilakukan pertemuan awal terhadap seluruh guru yang telah dirancang oleh kepala sekolah dalam rapat koordinasi . Pada kesempatan ini peneliti menjelaskan tentang pentingnya guru yang professional antara lain dalam pembuatan RPP dan pelaksanaannya pembelajaran di kelas. Menyiapkan lembar angket untuk Komitmen guru-guru dalam melaksanakan tugas Menyiapkan lembar angket untuk Supervisi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM ) guru Menyiapkan lembar angket untuk Supervisi di kelas dalam proses belajar mengajar ( PBM ). Menyiapkan lembar angket untuk Pembinaan profesionalitas guru. Observasi Observasi dilakukan oleh peneliti terhadap proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dengan menggunakan RPP yang telah diperbaiki . Observasi dilakukan dengan metode supervisi kelas oleh peneliti dan format yang digunakan sama pada siklus I. Tabel. Komposisi Komitmen Guru Pada Akhir Siklus II Skor Penilaian Nama Guru 1 SYAFRIYANTI,S. Pd. NURUL HANIFAH INDRIANI LESTARI. RIA AFNIDA. Dra. NURTIWILIS SARIF MUNANDAR. UPI DEFRIYANI ANWAR. YUSWARNI. Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo SATRIA DEWITA. APRIYENTI. Sos MELLY JUFRIANTI. TRI KARTINI. MP. DEWI YANTI SURYANINGSIH, Oo Oo Oo HIDAYATUL M. Page 149 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 14 CANDRIZAL. DITA AFELA MAHESA RANI, Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Oo Oo MELDA ASNIDAR. Total Persentase Oo 81,25% 18,75% Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar/grafik diagram berikut ini. Grafik Diagram Tabung 5 : Komitmen Guru Pada Siklus II Berdasarkan tabel dan grafik diatas dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada guru senior diperoleh bahwa akhir siklus II tidak ada guru yang memperoleh nilai cukup (C). Mayoritas nilai Sangat baik (A sebesar 81,25% atau 13 orang gur. dan disusul nilai amat baik (B) diperoleh guru sebesar 18,75 % atau 3 orang guru ). Tidak terdapat guru yang memperoleh nilai Cukup ( C ) dan kurang (D). Jadi peneliti berkesimpulan tidak diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya Tabel. Supervisi KBM Guru Pada Akhir Siklus II Skor Penilaian Uraian Kegiatan 1 Menentukan identitas mata pelajaran 2 Menentukan kompetensi inti 3 Menentukan kompetensi dasar 4 Menentukan indikator pencapaian 5 Menentukan tujuan pembelajaran 6 Menentukan materi ajar 7 Menentukan alokasi waktu 8 Menentukan metode pembelajaran 9 Menentukan kegiatan pembelajaran 10 Menentukan penilaian hasil belajar 11 Menentukan sumber belajar Jumlah Jumlah Skor Page 150 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Skor Ideal ( 4 x 11 ) x 16 Persentase Volume 3. Issue 2. Juli 2023 0% 10,2% 86,4% Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar/grafik diagram berikut ini Grafik Diagram Tabung 6 : Supervisi KBM Guru Pada Siklus II Berdasarkan tabel dan grafik diatas dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada guru senior diperoleh bahwa akhir siklus II tidak ada guru yang memperoleh nilai cukup (C). Mayoritas nilai sangat baik ( SB ) sebesar 86,4% ,disusul nilai baik (B) diperoleh guru sebesar 10,2%. Namun demikian tidak terdapat guru yang memperoleh nilai cukup(C) dan kurang (K). Jadi peneliti berkesimpulan tidak diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya Tabel 4:7 Proses Belajar Mengajar ( PBM ) Pada Akhir Siklus II Skor Penilaian Aspek Pengamatan Kegiatan Awal 1 Membuka pelajaran dengan salam 2 Guru memberi apersepsi 3 Guru memberitahu kompetensi yang akan dicapai . ujuan pembelajara. Kegiatan Inti 4 Guru tampak menguasai materi pembelajaran . ateri pembelajaran disampaikan dengan jela. 5 Guru mengelola kelas dengan baik 6 Metode/pendekatan yang digunakan 7 Guru menggunakan alat bantu/ media pembelajaran . lat peraga, peta, ds. 8 Guru berperan sebagai fasilitator kesulitan peseta didik 9 Guru menggunakan teknik bertanya dengan bahasa yang baik dan benar 10 Guru mendorong peserta didik untuk memanfaatkan teknologi informasi Page 151 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 11 Peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran 12 Pada kegiatan pembelajaran nampak ada proses : eksplorasi, elaborasi dan 13 Peserta didik tampak ceria dan antusias dalam belajar 14 Ada penilaian untuk mengetahui pencapaian kompetensi ketercapaian tujuan pembelajara. 15 Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP 16 Pembelajaran diselesaikan tepat C Kegiatan Penutup 17 Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman hasil pembelajaran 18 Guru memberi tugas untuk pertemuan berikutnya. Jumlah Jumlah Skor Skor Ideal ( 4 x 18 ) x 16 Persentase Volume 3. Issue 2. Juli 2023 90,6% Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar/grafik diagram berikut ini. Grafik Diagram Tabung 7 : Hasil Proses Belajar Mengajar Pada Siklus II Berdasarkan tabel dan grafik diatas dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada guru diperoleh bahwa akhir siklus II tidak ada guru yang memperoleh nilai cukup (C). Mayoritas nilai sangat baik ( SB ) sebesar 90,6% ,disusul nilai baik (B) diperoleh guru sebesar 7%. Namun demikian tidak terdapat guru yang memperoleh nilai Cukup ( C ) dan kurang ( K ). Jadi peneliti berkesimpulan tidak diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya Page 152 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Tabel 4:8 Pembinaan Profesionalitas Guru Pada Akhir Siklus II Skor Penilaian Indikator 1 emahami konsep, prinsip, teori/ teknologi, karakteristik, dan kecen2 derungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran di SMA 2 Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran di SMA sesuai Kurikulum 2013 3 Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/ metode /teknik melihat RPP 4 Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas/di lapangan untuk mengembangkan potensi siswa 5 Membimbing guru dalam mengem7 bangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran di SMA Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran tiap mata pelajaran di SMA Jumlah Jumlah Skor Skor Ideal ( 4 x 6 ) x 16 Persentase 12,5% 66,7% Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar/grafik diagram berikut ini. Grafik Diagram Tabung 8 : Pembinaan Profesionalitas Guru Pada Siklus II Page 153 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Berdasarkan tabel dan grafik diatas dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada guru diperoleh hasil pembinaan professional guru pada akhir siklus II tidak ada guru yang memperoleh nilai cukup (C). Mayoritas nilai sangat baik ( SB ) sebesar 66,7% ,disusul nilai baik (B) diperoleh guru sebesar 12,5%. Namun demikian tidak terdapat guru yang memperoleh nilai Cukup ( C ) dan kurang ( K ). Jadi peneliti berkesimpulan tidak diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya. PEMBAHASAN Komitmen Guru Dari siklus I ke siklus II terlihat adanya kenaikan komitmen guru-guru yaitu yang memperoleh nilai A meningkat 56,25% pada siklus I naik secara signifikan pada siklus II menjadi 81,25% ( terjadi kenaikan sebesar 25% ), yang memperoleh nilai B turun, 6,25% pada siklus I naik menjadi 18,75% ( terjadi kenaikan sebesar 12,5% ) dan yang memperoleh nilai C pada siklus I sebesar 37,50% turun pada siklus II menjadi 0% ( terjadi penurunan sebesar 37,50%). Jika dihitung individu yang mengalami kenaikan nilai . berdasarkan tabel 1 dan 5 misalnya dari nilai B ke nilai A jumlahnya 4 orang guru dan dari nilai C ke nilai A jumlahnya 3 orang dan Nilai C ke nilai B jumlahnya 3 orang guru. Supervisi KBM Guru Dari siklus I ke siklus II terlihat adanya kenaikan Supervisi KBM guru-guru yaitu yang memperoleh nilai sangat baik meningkat 60,8% pada siklus I naik secara signifikan pada siklus II menjadi 86,4% . erjadi kenaikan sebesar 25,6% ), yang memperoleh nilai baik turun 16,6% pada siklus I turun menjadi 10,2% pada siklus II . erjadi penurunan sebesar 6,4%) dan yang memperoleh nilai C pada siklus I sebesar 8,5% turun pada siklus II menjadi 0% . erjadi penurunan sebesar 8,5%). Proses Belajar Mengajar ( PBM ) Dari siklus I ke siklus II terlihat adanya kenaikan Proses Belajar Mengajar ( PBM ) guru di kelas yaitu yang memperoleh nilai sangat baik meningkat 50% pada siklus I naik secara signifikan pada siklus II menjadi 90,6% ( terjadi kenaikan sebesar 40,6% ), yang memperoleh nilai baik turun, 30,7% pada siklus I turun menjadi 7% pada siklus II ( terjadi penurunan sebesar 23,7% ) dan yang memperoleh nilai C pada siklus I sebesar 4,5% turun pada siklus II menjadi 0% ( terjadi penurunan sebesar 4,5% ). Pembinaan Profesionalitas Guru Dari siklus I ke siklus II terlihat adanya kenaikan pembinaan profesional guru yaitu yang memperoleh nilai sangat baik meningkat 42,7% pada siklus I naik secara signifikan pada siklus II menjadi 66,7% . erjadi kenaikan sebesar 24%), yang memperoleh nilai baik turun, 30,5% pada siklus I turun menjadi 12,5% pada siklus II . erjadi penurunan sebesar 18%) dan yang memperoleh nilai C pada siklus I sebesar 8,3% turun pada siklus II menjadi 0% ( terjadi penurunan sebesar 8,3% ). Beberapa hal yang menarik untuk disimak lebih lanjut terhadap pelaksanaan dari hasil penelitian ini yaitu : Page 154 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Beberapa alasan guru tidak melihat hasil angket. Alasan pertama bahwa yang menilai guru semestinya hanya kepala sekolah kurang tepat, sebab kepala sekolah yang setiap hari dapat menilai guru adalah siswa, bahkan orang tua siswa atau masyarakat. Guru tersebut bernilai C pada siklus pertama dan mengalami kenaikan pada siklus kedua. Pendapat guru itu juga kontradiktif dengan apa yang telah dilakukannya. Sebelum guru tersebut juga menggunakan pendapat siswa menonjol pada guru tersebut adalah rasa tak senang dinilai atau Alasan lain bahwa yang seharusnya menjadi respon adalah siswa yang disiplinnya baik, ini kurang berdasar karena pertentangan dengan atas random. Guru tersebut bernilai C pada siklus pertama dan pada siklus kedua sudah naik, sementara itu guru yang mempercayakan kepada kepala sekolah untuk menilai menandakan guru tersebut sudah paham akan tujuan penelitian ini. KESIMPULAN Penerapan kombinasi pendekatan profesi dan pendekatan penulis pada supervisi pengajaran dengan menggunakan teknik pertemuan formal dan teknik menggunakan pendapat siswa dapat meningkatkan secara optimal komitmen guru-guru yang mengajar di SMA XI SMA Negeri 1 Sitiung dalam melaksanakan proses belajar Melalui analisis deskriptif didapat hasil sebanyak 81,25% guru dengan nilai sangat baik dan 18,75% guru yang mendapatkan nilai baik Penerapan kombinasi pendekatan profesi dan pendekatan penulis pada supervisi pengajaran dengan menggunakan teknik pertemuan formal dan teknik menggunakan pendapat siswa dapat meningkatkan secara optimal Supervisi KBM Guru yang mengajar di SMA XI SMA Negeri 1 Sitiung dalam melaksanakan proses belajar Melalui analisis deskriptif didapat hasil sebanyak 86,4% guru dengan nilai sangat baik dan 10,2% guru yang mendapatkan nilai baik Penerapan kombinasi pendekatan profesi dan pendekatan penulis pada supervisi pengajaran dengan menggunakan teknik pertemuan formal dan teknik menggunakan pendapat siswa dapat meningkatkan secara optimal Proses Belajar Mengajar ( PBM ) yang mengajar di SMA XI SMA Negeri 1 Sitiung dalam melaksanakan proses belajar Melalui analisis deskriptif didapat hasil sebanyak 90,6% guru dengan nilai sangat baik dan 7% guru yang mendapatkan nilai baik Penerapan kombinasi pendekatan profesi dan pendekatan penulis pada supervisi pengajaran dengan menggunakan teknik pertemuan formal dan teknik menggunakan pendapat siswa dapat meningkatkan secara optimal pembinaan profesional guru yang mengajar di SMA XI SMA Negeri 1 Sitiung dalam melaksanakan proses belajar Melalui analisis deskriptif didapat hasil sebanyak 66,7% guru dengan nilai sangat baik dan 12,5% guru yang mendapatkan nilai baik REFERENSI Anas Sudijono. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta : PT Raja Grafindo Persada Abror. Abd Rachman. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya. Page 155 EISSN: 2774-5112. PISSN: 2774-5120 Volume 3. Issue 2. Juli 2023 Bafadal. Ibrahim. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Bumi Aksara. Depdikbud,1992. Sistem Pengembangan Profesi Tenaga Kependidikan. Padang : Depdikbud. DjamAoan Satori, 2016. Pengawasan dan Penjaminan Mutu Pendidikan. Bandung: Penerbit Alfabeta Usman,Nurdin . Konteks Implementasi Berbaisis Kurikulum. Yogyakarta :Bintang Pustaka