Nilai Filosofis Mamuli dalam Sejarah. Tradisi, dan Budaya Masyarakat Sumba Timur Yuliana Hambuwali Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni. Fakultas Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yulianahambuwali@gmail. Abstrak: Penelitian ini mengkaji artefak budaya bernama mamuli yang berasal dari Sumba Timur, sebagai bagian dari ekspresi identitas, spiritualitas, serta struktur sosial masyarakat setempat. Mamuli bukan hanya merupakan perhiasan logam berharga, melainkan simbol perempuan, kesuburan, dan hubungan kosmis dengan Fenomena ini menunjukkan adanya keberlangsungan nilai-nilai tradisional yang kompleks dalam masyarakat Sumba Timur, di tengah tekanan modernisasi dan globalisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode historiografis, penelitian ini mengungkap makna filosofis mamuli, peran sosialnya dalam sistem kekerabatan dan upacara adat, serta respons budaya terhadap transformasi zaman. Penelitian ini melibatkan wawancara dengan tokoh adat, pengrajin lokal, dan pengamatan partisipatif dalam ritus adat sebagai metode pengumpulan data utama. Hasilnya menunjukkan bahwa mamuli berfungsi sebagai jembatan antara sistem nilai tradisional dengan inovasi kontemporer yang terus berkembang, terutama dalam konteks desain dan identitas budaya visual masyarakat Sumba Timur. Penelitian ini merekomendasikan pelestarian budaya mamuli melalui integrasi dalam kurikulum lokal, promosi dalam produk seni rupa kontemporer, serta kolaborasi lintas sektor untuk mendorong keberlanjutan warisan budaya. Dengan demikian, mamuli bukan hanya representasi masa lalu, tetapi juga simbol masa depan budaya yang resilien dan dinamis. Kata Kunci : filosofi, mamuli, sejarah, tradisi budaya, sumba timur PENDAHULUAN Sumba Timur merupakan wilayah yang kaya akan warisan budaya, namun menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan artefak tradisional di tengah arus globalisasi yang kuat. Salah satu artefak yang sarat makna adalah mamuli, perhiasan simbolik yang memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama Seiring masuknya budaya konsumtif dan estetika modern, mamuli mulai kehilangan relevansi di kalangan generasi muda yang lebih memilih gaya perhiasan komersial. Padahal, dalam masyarakat Sumba, mamuli tidak hanya sekadar hiasan tubuh, melainkan simbol spiritualitas, status sosial, dan penghormatan terhadap perempuan sebagai sumber kehidupan (Kaka & Hidayat, 2. Ketidaktertarikan generasi muda terhadap warisan ini dikhawatirkan akan mempercepat proses peluruhan budaya lokal yang selama ini dijaga melalui ritual dan adat Dalam literatur budaya Sumba, mamuli sering dikaji sebagai representasi nilai kosmologis dan sosial, namun pendekatan semiotik yang mendalam terhadap makna simboliknya masih terbatas. Quincey . menyatakan bahwa dalam konteks pernikahan dan pemakaman, mamuli merupakan simbol ritus transisi yang menegaskan identitas sosial dan spiritual perempuan (Quincey, 2. Namun, pendekatan tersebut belum banyak mengelaborasi transformasi makna mamuli dalam dinamika kontemporer, seperti integrasinya dalam desain modern dan perubahan fungsional dalam masyarakat urban Sumba. Hal ini menciptakan kesenjangan pemahaman antara mamuli sebagai simbol warisan budaya dan realitas penggunaannya dalam konteks masa kini yang lebih pragmatis dan estetis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap jejak sejarah mamuli dan maknanya dalam budaya masyarakat Sumba Timur dengan menelaah bagaimana simbol ini dipertahankan, ditransformasikan, dan direspon oleh komunitas lokal. Lebih jauh, penelitian ini ingin mengkaji bagaimana mamuli diposisikan dalam kerangka nilainilai spiritualitas Marapu, struktur sosial adat, serta praktik kontemporer dalam desain dan industri kreatif. Selain itu, tujuan lain adalah untuk menelusuri bagaimana pelestarian simbol ini dapat menjadi upaya strategis dalam menjaga identitas budaya di tengah pengaruh globalisasi yang kuat (Halim et al. , 2. Dengan melihat bahwa mamuli bukan hanya artefak statis, melainkan dinamis dan adaptif terhadap perubahan zaman, maka kajian ini penting untuk memperluas perspektif akademik tentang pelestarian budaya lokal dalam konteks modernitas. Di tengah keterbatasan dokumentasi formal mengenai fungsi-fungsi simbolik mamuli dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba, penelitian ini hadir untuk menjembatani kebutuhan teoritik dan praktik pelestarian budaya. Upaya ini tidak hanya berkontribusi pada diskursus akademik keilmuan seni dan budaya, tetapi juga menjadi referensi penting dalam perumusan kebijakan pelestarian warisan budaya Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah adat seperti Sumba Timur. Penelitian ini mendasarkan pentingnya topik pada kombinasi antara 126 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l fakta realitas lapangan yang mengindikasikan ancaman terhadap keberlanjutan simbol mamuli dan kesenjangan literatur ilmiah yang belum sepenuhnya mengeksplorasi peran transformasional artefak budaya tersebut. LANDASAN TEORI Dalam kajian antropologi budaya, simbol dipandang sebagai bentuk representasi konkret dari nilai-nilai abstrak yang diyakini dan dipraktikkan oleh suatu masyarakat. Clifford Geertz mengemukakan bahwa simbol-simbol budaya seperti artefak, upacara, dan perhiasan adalah wahana yang membawa makna kolektif, memperkuat solidaritas sosial, dan menstrukturkan realitas hidup masyarakat (Geertz, 1. Dalam konteks ini, mamuli sebagai perhiasan tradisional tidak hanya memiliki fungsi dekoratif, tetapi juga memuat nilai simbolik yang mendalam yang menjadi refleksi struktur sosial, relasi gender, hingga spiritualitas masyarakat Sumba Timur. Pendekatan semiotik juga relevan dalam menganalisis makna mamuli, di mana bentuk, bahan, dan penggunaannya mencerminkan relasi makna antara tanda dan penanda dalam sistem budaya. Dalam masyarakat Sumba, bentuk mamuli menyerupai alat kelamin perempuan, yang menjadikannya sebagai lambang utama kesuburan dan penghormatan terhadap perempuan sebagai sumber kehidupan (Kaka & Hidayat, 2. Dengan demikian, kajian simbolisme budaya memberikan dasar konseptual yang kuat untuk menelaah fungsi dan makna mamuli dalam masyarakat adat. Mamuli bukan sekadar benda estetis, melainkan simbol yang mendefinisikan status sosial seseorang dalam masyarakat Sumba. Dalam struktur sosial yang bersifat stratifikatif, mamuli menandai kelas sosial, terutama melalui penggunaannya dalam upacara belis. Semakin besar dan berat mamuli, semakin tinggi derajat penghargaan terhadap perempuan dan keluarganya dalam perjodohan. Hal ini menunjukkan bahwa mamuli berfungsi sebagai Autanda prestise sosialAy yang mengikat relasi antarkeluarga dalam konteks pernikahan adat (Susanti, 2. Dalam struktur kekerabatan masyarakat Sumba yang menganut sistem patrilineal, mamuli juga menjadi alat transaksional dan simbol legitimasi hubungan sosial. Dengan menggunakan teori fungsionalisme struktural, artefak seperti mamuli dapat dianalisis sebagai bagian dari mekanisme sosial yang menjaga stabilitas masyarakat melalui simbolsimbol yang dikonsensuskan. Kajian ini penting untuk memahami bahwa makna mamuli tidak dapat dilepaskan dari peran sosialnya dalam merepresentasikan struktur dan fungsi masyarakat adat. Sebagai bagian dari sistem religi lokal Marapu, mamuli memiliki nilai spiritual yang dalam. Masyarakat Sumba percaya bahwa kehidupan manusia berada dalam hubungan kosmis dengan leluhur dan kekuatan ilahi yang tidak Dalam kepercayaan ini, mamuli menjadi media penghubung antara manusia dan roh leluhur, karena bentuk dan bahan mamuli dipercaya berasal dari alam surgawi. Tradisi lokal menyebutkan bahwa logam seperti emas dan perak yang digunakan untuk membuat mamuli diturunkan dari langit bersama cahaya matahari dan bintang, menjadikannya simbol kekuasaan spiritual (Kaka & Hidayat, 2. Hal ini sejalan dengan pandangan Durkheim bahwa simbol keagamaan memperkuat rasa kolektivitas spiritual dan menghubungkan realitas empiris dengan yang sakral. Kepercayaan Marapu menjadikan mamuli sebagai lambang keharmonisan antara manusia, alam, dan roh leluhur, yang kemudian direpresentasikan dalam ritus-ritus penting seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Dengan demikian, mamuli bukan hanya simbol budaya, tetapi juga menjadi bagian dari kosmologi yang menyatukan dimensi spiritual dan sosial. Kajian arkeologis menunjukkan bahwa bentuk mamuli berkaitan dengan tradisi perhiasan Asia Tenggara kuno, seperti Ling-ling-o dari Filipina dan Taiwan, yang digunakan sebagai simbol kesuburan dan Penemuan bentuk-bentuk serupa di wilayah Nusantara menunjukkan adanya proses akulturasi budaya melalui jalur perdagangan maritim dan pengaruh Hindu-Buddha sejak abad ke-4 Masehi. Dalam konteks Sumba, bentuk mamuli yang menyerupai yoni sebagai lambang feminin dalam tradisi Hindu kemudian diadaptasi ke dalam sistem kepercayaan Marapu, yang menjadikannya sebagai simbol kesuburan dan kekuatan perempuan (Ju, 2. Proses akulturasi ini menunjukkan bahwa artefak budaya tidak bersifat statis, tetapi mengalami evolusi makna seiring dengan interaksi budaya yang terus berlangsung. Dengan pendekatan sejarah budaya, mamuli dapat dipahami sebagai produk dari dialog peradaban dan hasil lokalisasi simbol luar menjadi bagian integral dari identitas lokal. Dalam masyarakat Sumba, mamuli juga berfungsi sebagai alat reproduksi budaya melalui pewarisan nilai secara intergenerasional. Fungsi ini terlihat nyata dalam penggunaannya dalam upacara pernikahan, pewarisan benda pusaka, dan simbol peneguhan ikatan antar-kerabat. Fungsi reproduktif ini sejalan dengan teori dari Bourdieu mengenai habitus dan capital symbolic, di mana simbol seperti mamuli menjadi modal budaya yang diwariskan dan membentuk identitas kolektif. Dalam upacara belis, misalnya, mamuli menjadi alat legitimasi atas posisi sosial perempuan dan status keluarga penerima (Quincey, 2. Nilai-nilai ini terus dipertahankan melalui pengajaran informal dari orang tua kepada anak-anak, serta pelibatan dalam upacara adat yang memiliki muatan pendidikan budaya. Maka dari itu, mamuli bukan sekadar objek, tetapi juga Auteks budayaAy yang dapat dibaca dan dipelajari sebagai bagian dari proses sosialisasi nilai tradisional. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, terjadi pergeseran makna terhadap mamuli dari simbol sakral menjadi objek estetika dan komoditas ekonomi. Banyak pengrajin dan desainer kontemporer yang mulai mengadaptasi bentuk mamuli ke dalam produk- produk modern seperti perhiasan, elemen arsitektur, dan karya 127 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l seni rupa. Adaptasi ini menjadi bagian dari strategi pelestarian dengan pendekatan rekontekstualisasi simbol ke dalam wacana desain kontemporer. Misalnya. Halim et al. meneliti bagaimana pola mamuli diadaptasi dalam lampu hias sebagai bentuk inovasi desain berbasis warisan budaya (Halim et al. , 2. Fenomena ini menciptakan peluang untuk mempertahankan relevansi simbol tradisional tanpa menghilangkan makna Dengan mengintegrasikan mamuli dalam ruang visual modern, masyarakat Sumba tidak hanya menjaga warisan leluhur tetapi juga membuka jalan bagi dialog budaya yang lebih luas melalui medium seni dan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode historiografis sebagai kerangka utama untuk mengeksplorasi makna dan fungsi simbolik mamuli dalam masyarakat Sumba Timur. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti memahami fenomena budaya secara mendalam dan holistik dalam konteks sosial dan historisnya. Dalam studi kebudayaan, pendekatan ini relevan karena fokus pada makna, narasi, dan simbol yang tidak dapat dikuantifikasi tetapi memiliki makna sosial dan budaya yang kuat (Hammersley & Atkinson, 2. Adapun metode historiografis digunakan untuk menelusuri jejak sejarah artefak mamuli dari sumber lisan, dokumentasi, hingga artefak visual yang ada, dengan mempertimbangkan konteks sosial, ekonomi, dan keagamaan yang melatarbelakanginya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga teknik utama: wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan tokoh adat, pengrajin mamuli, serta warga lokal yang terlibat dalam kegiatan adat, untuk memperoleh narasi pengalaman dan pemahaman kultural yang otentik. Observasi partisipatif dilakukan dengan mengikuti secara langsung proses upacara adat, khususnya yang melibatkan mamuli, untuk mengamati cara artefak tersebut digunakan, dirawat, dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba. Sementara itu, dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan arsip, foto, serta naskah adat yang berkaitan dengan sejarah dan penggunaan mamuli. Teknik triangulasi diterapkan untuk meningkatkan validitas temuan, yakni dengan membandingkan data dari ketiga sumber tersebut (Silverman, 2. Partisipan dalam penelitian ini dipilih secara purposif berdasarkan keterlibatan aktif mereka dalam tradisi dan budaya lokal. Mereka terdiri dari lima tokoh adat di wilayah Sumba Timur yang memiliki pengetahuan mendalam tentang fungsi dan filosofi mamuli, tiga pengrajin yang mewarisi teknik pembuatan mamuli secara turun-temurun, serta empat perempuan dan dua pemuda dari generasi muda yang memberikan perspektif terkait transformasi makna mamuli dalam konteks modern. Teknik purposive sampling digunakan untuk memastikan partisipan memiliki kompetensi dan pengalaman relevan dengan isu yang diteliti (Palinkas et al. , 2. Kriteria inklusi partisipan meliputi pemahaman terhadap nilai-nilai adat, keterlibatan aktif dalam upacara adat, serta pengalaman langsung dengan mamuli sebagai artefak budaya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis tematik yang dikembangkan oleh Braun & Clarke . , yaitu dengan cara mengidentifikasi, mengkode, dan mengelompokkan tema-tema yang muncul dari transkrip wawancara, catatan observasi, dan data dokumentasi. Proses ini melibatkan lima tahap utama: familiarisasi dengan data, pengkodean awal, pencarian tema, peninjauan tema, dan penulisan naratif. Tema utama yang dianalisis meliputi: simbolisme kesuburan, peran dalam struktur sosial, fungsi spiritual dalam kepercayaan Marapu, dan transformasi dalam desain kontemporer. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengungkap dimensi makna yang tersembunyi dalam praktik budaya terkait mamuli, serta bagaimana makna tersebut berubah atau dipertahankan dalam konteks zaman yang berbeda (Braun & Clarke, 2. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan strategi validasi data melalui triangulasi sumber dan member checking. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk menemukan kesesuaian informasi. Member checking dilakukan dengan meminta konfirmasi dari narasumber terhadap hasil interpretasi peneliti guna memastikan keakuratan representasi narasi mereka. Selain itu, aspek etika dijaga dengan memberikan informed consent secara tertulis kepada semua partisipan, menjamin kerahasiaan identitas, serta memastikan bahwa tidak ada unsur tekanan atau manipulasi dalam proses pengambilan Etika penelitian kualitatif menekankan pada relasi empatik dan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal sebagai bentuk penghormatan terhadap kebudayaan partisipan (Orb et al. , 2. Penelitian ini berkomitmen menjaga integritas ilmiah serta etika budaya dalam seluruh tahapan pelaksanaannya. HASIL PENELITIAN Mamuli ditemukan memiliki peran penting dalam konstruksi sosial masyarakat Sumba Timur. Dari hasil observasi dan wawancara dengan tokoh adat dan warga setempat, diketahui bahwa Mamuli tidak hanya dikenakan sebagai perhiasan, tetapi juga memiliki makna status dan simbol ikatan antara keluarga melalui sistem belis. Perempuan yang menerima Mamuli dari pihak laki-laki saat upacara pernikahan dianggap memperoleh penghargaan yang tinggi atas perannya sebagai sumber kehidupan dan pelanjut garis keturunan. Fungsi ini mengukuhkan posisi Mamuli sebagai simbol prestise dan identitas kultural yang kuat dalam sistem sosial patrilineal Sumba (Susanti, 2. 128 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Penelitian lapangan menunjukkan bahwa Mamuli memiliki keterkaitan erat dengan sistem kepercayaan Marapu. Simbol ini dipahami sebagai penghubung antara manusia dan roh leluhur, serta dipercaya memiliki kekuatan untuk menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan spiritual. Wawancara dengan pemuka adat mengungkapkan bahwa Mamuli melambangkan rahim perempuan yang menjadi asal mula kehidupan, menjadikannya objek sakral dalam ritus keagamaan. Hal ini sejalan dengan kajian teoritik yang menyatakan bahwa simbol keagamaan memainkan peran vital dalam mempertahankan kohesi spiritual masyarakat tradisional (Kaka & Hidayat, 2. Dalam konteks upacara adat. Mamuli ditemukan sebagai artefak utama dalam ritus transisi seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Berdasarkan observasi partisipatif yang dilakukan dalam upacara pernikahan di salah satu desa di Sumba Timur. Mamuli menjadi benda utama dalam proses tukar-menukar simbolis antara keluarga pria dan wanita. Simbol ini menjadi bentuk pengakuan resmi akan ikatan sosial dan spiritual yang terjalin melalui Tidak hanya itu, dalam upacara pemakaman. Mamuli sering disertakan dalam persembahan sebagai tanda pengiring jiwa menuju alam roh leluhur. Ini menegaskan bahwa Mamuli memiliki fungsi lintas fase kehidupan manusia dalam budaya Sumba (Quincey, 2. Hasil dokumentasi menunjukkan bahwa bentuk Mamuli menyerupai huruf C dengan ujung berbentuk spiral, yang dalam narasi lokal merepresentasikan rahim perempuan dan matahari. Penggunaan emas dan perak bukan hanya karena nilai ekonomis, tetapi karena diyakini berasal dari cahaya langit atau alam roh, yang menandakan bahwa Mamuli merupakan simbol ilahiah. Tokoh budaya menyatakan bahwa bentuk Mamuli yang terbuka ke atas melambangkan kesiapan menerima kehidupan dari kekuatan langit. Ini menunjukkan bahwa desain fisik Mamuli mencerminkan sistem kosmologi Sumba yang meyakini hubungan erat antara manusia dan kekuatan adikodrati (Kaka & Hidayat, 2. Proses pewarisan nilai-nilai Mamuli berlangsung secara turun-temurun melalui narasi lisan dan keterlibatan dalam upacara adat. Berdasarkan hasil wawancara dengan generasi tua dan pengrajin. Mamuli diwariskan bukan hanya sebagai benda pusaka tetapi juga sebagai simbol pendidikan moral, spiritual, dan sosial. Anak-anak diajarkan tentang makna Mamuli melalui dongeng, peribahasa, dan praktik ritual. Dalam konteks ini. Mamuli berfungsi sebagai Auteks budayaAy yang mengandung nilai-nilai pedagogis lokal dan membentuk identitas generasi muda dalam kerangka budaya Sumba (Quincey, 2. Hasil penelitian juga menemukan adanya proses adaptasi bentuk Mamuli ke dalam produk seni kontemporer. Misalnya, motif Mamuli digunakan sebagai dasar dalam pembuatan lampu hias, lukisan, dan produk kriya. Inovasi ini dilakukan tanpa menghilangkan makna simboliknya, melainkan melalui pendekatan rekontekstualisasi budaya. Studi desain terbaru mencatat keberhasilan integrasi pola Mamuli dalam desain lampu AuKandunnuAy yang terinspirasi dari pola tenun tradisional Sumba Timur (Halim et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa simbol tradisional dapat hidup berdampingan dengan ekspresi desain modern. Meskipun Mamuli memiliki nilai simbolik dan budaya yang tinggi, proses pelestariannya menghadapi tantangan besar dari modernisasi. Generasi muda lebih tertarik pada produk-produk komersial yang dianggap lebih praktis dan estetis dalam gaya hidup urban. Wawancara menunjukkan bahwa banyak remaja di Sumba tidak memahami makna filosofis Mamuli, meskipun pernah melihat atau bahkan memilikinya sebagai aksesoris. Situasi ini menciptakan jarak budaya yang mengancam keberlangsungan simbol-simbol tradisional. Oleh karena itu, diperlukan intervensi sistemik melalui pendidikan lokal dan strategi pelestarian berbasis komunitas untuk menghidupkan kembali makna Mamuli dalam kesadaran kolektif generasi baru (Kaka & Hidayat, 2. Beberapa strategi pelestarian telah mulai dilakukan oleh komunitas lokal dan seniman muda, seperti menjadikan Mamuli sebagai simbol visual dalam logo, mural, hingga souvenir edukatif. Di sekolah-sekolah lokal, upaya mengenalkan Mamuli sebagai bagian dari warisan budaya mulai digiatkan melalui pelajaran muatan lokal dan program ekstrakurikuler. Desainer juga bekerja sama dengan pengrajin untuk menciptakan produk-produk budaya yang memiliki daya tarik pasar tetapi tetap menghormati makna asalnya. Strategi ini menjadi titik temu antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat adat, menciptakan model pelestarian yang adaptif terhadap perubahan zaman (Halim et al. , 2. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Mamuli bukan sekadar artefak perhiasan tradisional, melainkan simbol budaya yang sarat dengan makna filosofis, spiritual, dan sosial dalam masyarakat Sumba Timur. Keberadaan Mamuli mencerminkan hubungan antara manusia dengan leluhur, serta peran sentral perempuan dalam sistem sosial dan spiritual masyarakat adat. Ia digunakan dalam berbagai ritus penting seperti pernikahan, kelahiran, dan kematian sebagai penghubung antara dunia nyata dan dunia roh. Bentuknya yang menyerupai rahim perempuan mempertegas posisinya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan, yang menjadikannya tak tergantikan dalam kosmologi dan praktik adat Sumba. 129 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Di tengah perubahan zaman dan arus globalisasi. Mamuli menghadapi tantangan signifikan dalam hal pelestarian makna. Komersialisasi simbol dan ketertarikan generasi muda terhadap budaya populer mengancam kontinuitas nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Mamuli. Namun, transformasi visual dan adaptasi desain kontemporer menjadi peluang untuk menjembatani pelestarian tradisi dengan inovasi modern. Mamuli kini dapat dihidupkan kembali dalam berbagai bentuk baru yang tetap menghormati konteks filosofis dan budaya asalnya, sehingga ia tidak kehilangan akar simboliknya meskipun tampil dalam wajah yang lebih modern. Pelestarian Mamuli tidak cukup hanya dalam bentuk fisik, tetapi harus mencakup pemahaman makna simbolik dan sistem nilai yang menyertainya. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian yang menyeluruh, berbasis komunitas, serta melibatkan pendidikan budaya secara formal maupun informal. Menghidupkan kembali Mamuli berarti menjaga identitas, spiritualitas, dan kontinuitas sejarah masyarakat Sumba Timur. Jika nilai-nilai ini berhasil ditransmisikan kepada generasi berikutnya, maka Mamuli akan terus menjadi penanda budaya yang kuat dan abadi, bukan sekadar artefak masa lalu. DAFTAR PUSTAKA