Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 PENGEMBANGAN E-MODUL INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SCIENTIFIC REASONING PADA PEMBELAJARAN IPA SISWA SMP Ayu Nurjannah1. Rusdianto2. Ulin Nuha3 1,2,3Program Studi Pendidikan IPA Universitas Jember. Indonesia e-mail : 1ayunurjannah772@gmail. com, 2rusdianto@unej. id, 3ulin. fkip@unej. ABSTRAK Kemampuan Scientific Reasoning siswa di Indonesia tergolong rendah karena kurangnya pemahaman terhadap materi dan konsep pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan sistem pembelajaran yang menarik dan didukung oleh media yang efektif dalam menyampaikan pesan dan tujuan pembelajaran, sehingga memudahkan guru dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah penggunaan e-modul interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul interaktif untuk meningkatkan kemampuan Scientific Reasoning pada pembelajaran IPA SMP. E-modul interaktif ini dikembangkan dengan menggunakan model ADDIE. Hasil penelitian menunjukkan persentase validitas sebesar 92,62% . angat vali. , kepraktisan sebesar 89,51% . , dan N-gain sebesar 0,59 . , sedangkan respon siswa mencapai 87,18% . angat bai. E-modul interaktif memenuhi kriteria kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan karena disusun secara sistematis dan mencakup semua indikator kemampuan Scientific Reasoning. Dengan demikian, e-modul interaktif layak untuk diimplementasikan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan Scientific Reasoning siswa SMP. Kata Kunci : Pengembangan. E-Modul Interaktif. Kemampuan Penalaran Ilmiah ABSTRACT The scientific reasoning ability of students in Indonesia was relatively low due to a lack of understanding of the material and learning concepts. Therefore, an interesting learning system was needed and supported by effective media in conveying messages and learning objectives, which facilitated teachers in the teaching process, such as the use of interactive e-modules. This study aimed to develop interactive e-modules to improve scientific reasoning abilities in junior high school science learning. This interactive e-module was developed using the ADDIE model. The results of the study showed a validity percentage of 92. 62% . ery vali. , practicality of 89. 51% . , and N-gain of 0. , while student responses reached 87. 18% . ery goo. Interactive e-modules met the criteria for validity, practicality, and effectiveness because they were arranged systematically and covered all indicators of scientific reasoning abilities. Thus, interactive e-modules were feasible to be implemented as learning media to improve junior high school students' scientific reasoning abilities. Keywords: Development. Interactive E-Modules. Scientific Reasoning Ability PENDAHULUAN Sains dan teknologi merupakan aspek perkembangan bangsa di abad ke-21. Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan disiplin ilmu yang mengeksplorasi alam semesta serta fenomenanya melalui metode Pembelajaran IPA perlu dirancang untuk mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi supaya siswa mempunyai kemampuan yang diperlukan guna menghadapi tantangan di masa depan (Antika et al. , 2. Pembelajaran dianggap efektif jika siswa aktif Pembelajaran IPA memungkinkan siswa mengembangkan sikap ilmiah dan keterampilan pemecahan masalah. Siswa pengetahuan tersebut pada masalah yang dihadapi melalui pembelajaran IPA. Fokus IPA mempengaruhi cara siswa berpikir dan mengambil keputusan dalam kehidupan nyata (Ristia et al. , 2. E-modul adalah salah satu bentuk materi ajar digital yang umum digunakan di era teknologi modern. Modul elektronik atau emodul merupakan sarana pendidikan yang memanfaatkan komputer untuk menyajikan teks, gambar, grafik, audio, animasi serta video dalam kegiatan belajar mengajar. E-modul merupakan evolusi dari modul konvensional yang mengintegrasikan teknologi informasi dan membuatnya lebih menarik serta interaktif. Keunggulan e-modul kemampuannya sebagai media pembelajaran yang menawarkan visual yang menarik serta memperkaya fasilitas pembelajaran (Junia et , 2. Menurut Astutik et al. menyatakan bahwa e-modul interaktif adalah modul yang menggabungkan teks, grafik, audio, dan gambar secara interaktif untuk membantu pemahaman konsep materi yang Pemanfaatan e-modul interaktif https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 294 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . dalam pembelajaran memungkinkan terjalinnya interaksi dua arah antara modul dan pengguna serta mendorong siswa untuk berperan aktif, mandiri, dan kreatif selama proses belajar. Penalaran ilmiah (Scientific Reasonin. adalah kemampuan berpikir siswa untuk mengevaluasi, berargumen, dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam (IPA). Kemampuan ini memudahkan siswa dalam memahami serta menilai konsep-konsep sains. Secara implisit maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan penalaran ilmiah sangat berhubungan dengan kemampuan siswa dalam mempelajari materi IPA (Wardani et al. , 2. Kemampuan Scientific Reasoning mencakup enam subkemampuan utama yaitu konservasi berat dan volume, penalaran proporsional, pengendalian variabel, penalaran probabilitas, penalaran korelasi, dan penalaran hipotesis-deduktif (Azmi et al. , 2. Pelajaran IPA penalaran ilmiah (Scientific Reasonin. seperti kemampuan berargumentasi, memecahkan masalah, berpikir logis serta menalar konsep Kemampuan Scientific Reasoning akan membantu siswa memahami materi IPA serta mengevaluasi konsep-konsep sains. Oleh karena itu, siswa yang memahami konsep IPA dengan baik dipastikan memiliki kemampuan Scientific Reasoning yang baik (Purwaningrum et al. , 2. Kemampuan Scientific Reasoning siswa di Indonesia tergolong rendah akibat kurangnya pemahaman terhadap materi dan konsep pembelajaran (Ristia et al. , 2. Penelitian oleh Wulandari et al. mengungkapkan bahwa kemampuan Scientific Reasoning siswa kelas Vi SMP Negeri 3 Jember berada pada kategori rendah dengan nilai rata-rata skor pretest sebesar 56,23 untuk kelas eksperimen dan 53,16 untuk kelas Menurut Fadlilah et al. penalaran siswa yang rendah disebabkan oleh kurangnya penerapan kemampuan penalaran dalam pengajaran oleh guru di kelas. Selain itu, penelitian yang fokus pada pengembangan kemampuan penalaran di bidang ilmu alam jarang dilakukan di Indonesia. Berdasarkan penelitian Junia et al. mengindikasikan bahwa guru membutuhkan media yang dapat mengingat saat ini hanya menggunakan media tradisional seperti buku. Sistem pembelajaran yang menarik dan didukung oleh media yang efektif dalam menyampaikan pesan serta tujuan pembelajaran akan memudahkan guru E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 dalam proses pengajaran seperti penggunaan e-modul interaktif. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti bermaksud untuk mengembangkan emodul kemampuan Scientific Reasoning pada pembelajaran IPA siswa SMP. Penerapan pembelajaran diharapkan mampu mewujudkan suasana belajar yang lebih efektif dan menarik bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat validitas, kepraktisan dan e-modul Scientific Reasoning pada pembelajaran IPA siswa SMP. METODE Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 7 Jember pada semester ganjil tahun ajaran 2024/2025 tepatnya pada bulan September hingga November. Kelas VII D dipilih sebagai subjek penelitian berdasarkan IPA pertimbangan bahwa kelas tersebut memiliki karakteristik yang representatif terhadap populasi siswa kelas VII secara umum, baik dari segi kemampuan akademik maupun partisipasi dalam pembelajaran. Oleh karena itu, teknik purposive sampling digunakan dalam pemilihan kelas yaitu teknik pengambilan pertimbangan tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Penelitian pengembangan model ADDIE yang meliputi lima tahapan yaitu Analyze. Design. Develop. Implement dan Evaluate (Branch, 2. Gambar 1. Alur Model Pengembangan ADDIE Proses e-modul interaktif ini melalui lima tahapan ADDIE. Tahap kesesuaian dengan kurikulum. Tahap desain bertujuan untuk merancang kerangka e-modul yang sesuai dengan hasil analisis. Pada tahap pengembangan, e-modul disusun secara https://ejournal. id/index. php/mp | 295 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . menyeluruh dan divalidasi oleh para ahli. Tahap implementasi dilakukan mengujicobakan e-modul kepada siswa kelas VII D di SMPN 7 Jember. Terakhir, tahap evaluasi bertujuan untuk menilai kevalidan, kepraktisan dan efektivitas e-modul yang telah Instrumen pengumpulan data terdiri atas lembar validasi oleh tiga ahli, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, tes pretest dan kemampuan scientific reasoning, serta angket respon siswa untuk menilai kepraktisan emodul. Lembar validasi digunakan untuk menilai kevalidan, sementara observasi dan keterlaksanaan dan kepraktisan e-modul. Data dianalisis menggunakan rumus persentase. Ngain, dan interpretasi kualitatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Uji validitas dilakukan oleh satu dosen dan dua guru SMP Negeri 7 Jember dengan hasil dihitung menggunakan rumus berikut. ycNycIyce ycOycaEa = y 100% ycNycIEa Keterangan: Vah: Persentase validasi TSe: Total skor empiric TSh: Total skor maksimum Kategori kelayakan atau validitas didasarkan pada kriteria berikut Tabel 1. Kriteria Hasil Validitas Persentase Capaian (PC) 82% - 100 % 63% - 81% 44% - 62% 25% - 43% Kriteria Keterangan Sangat Valid Valid Kurang Valid Tidak Valid Tidak Perlu Revisi Tidak Perlu Revisi Perlu Revisi Perlu Revisi (Amira et al. , 2. Produk dianggap valid jika nilai validitasnya antara 63% - 100%. Praktikalitas pelaksanaan pembelajaran dengan e-modul interaktif dan dihitung menggunakan rumus ycAycnycoycaycn = yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa y 100% yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco Kategori kepraktisan didasarkan pada kriteria E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Tabel 2. Kriteria Hasil Kepraktisan Skala Nilai 90% - 100% 75% - 89% 55% - 74% 25% - 54% Tingkat Kepraktisan Sangat Praktis Praktis Kurang Praktis Tidak Praktis (Amira et al. , 2. Produk kepraktisannya antara 75% hingga 100%. Analisis kemampuan scientific reasoning dilakukan melalui tes pretest dan posttest, menggunakan rumus N-gain. ycA Oe yaycaycnycu = Kategori tingkat kriteria berikut ycIycoycuyc ycyycuycyc Oe ycIycoycuyc ycyycyce ycIycoycuyc yayccyceycayco Oe ycIycoycuyc ycEycyce N-gain Tabel 3. Kriteria N-gain Rata-Rata Kriteria g > 0,7 Tinggi 0,3 O g O 0,7 Sedang 0 < g < 0,3 Rendah gO0 Gagal (Wahab et al. , 2. Produk efektif jika nilai N-Gain 0,3 O g O 0,7 dengan kategori sedang. Respon siswa dievaluasi melalui kuesioner mengenai e-modul interaktif dengan persentase dihitung menggunakan rumus ycE = ycIycoycuyc ycnycyceyco ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa y 100% ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco Kategori analisis respon siswa didasarkan pada kriteria berikut Tabel 4. Kriteria respon siswa Persentase 85% < xE O 100% 70% < xE O 85% 50% < xE O 70% 25% < xE O 50% Kriteria Penilaian Sangat baik Baik Kurang baik Tidak baik (Amira et al. , 2. Produk efektif jika persentase respon siswa antara 70% < xE O 100% HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada memperoleh data melalui wawancara yang dilakukan di sekolah tempat penelitian Hasil wawancara menunjukkan bahwa e-modul interaktif belum pernah digunakan dalam pembelajaran dan guru IPA masih mengandalkan buku teks serta praktikum sederhana yang belum mengacu https://ejournal. id/index. php/mp | 296 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . pada indikator spesifik Scientific Reasoning sehingga penilaian kemampuan siswa masih bersifat umum dan kurang optimal. Sekolah mengizinkan siswa membawa smartphone dengan pengawasan yang membuka peluang pemanfaatannya dalam pembelajaran berbasis e-modul interaktif. Analisis kebutuhan siswa menunjukkan perlunya media pembelajaran pengembangan Scientific Reasoning secara lebih terfokus karena pendekatan yang ada saat ini belum cukup efektif. Dengan dukungan kebijakan penggunaan smartphone, e-modul interaktif dinilai sebagai solusi potensial untuk mendukung pembelajaran dan penilaian yang Materi AuZat PerubahannyaAy dipilih karena merupakan topik awal Kurikulum Merdeka kelas VII yang memuat konsep konkret yang mudah divisualisasikan secara digital dan relevan Scientific Reasoning penyusunan hipotesis serta analisis perubahan fisik dan kimia melalui eksperimen. Analisis kurikulum dan data siswa juga menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka diterapkan di kelas VII dan Vi, sementara kelas IX masih menggunakan Kurikulum 2013 dengan jumlah siswa kelas VII D sebanyak 36 orang sehingga pengembangan e-modul interaktif pada materi tersebut menjadi penting untuk menunjang pembelajaran IPA yang lebih efektif dan Tahap desain merupakan langkah awal dalam menyusun perangkat pembelajaran berupa modul ajar, e-modul interaktif, serta soal pretest dan posttest yang disesuaikan dengan Kurikulum Merdeka. E-modul dirancang terlebih dahulu menggunakan Canva Pro, kemudian dikonversi menjadi lebih interaktif melalui platform Flipbook. Draft emodul interaktif dirancang menggunakan Canva Pro karena menyediakan elemen visual menarik yang disesuaikan dengan materi AuZat dan PerubahannyaAy, mencakup bagian seperti sampul, capaian dan tujuan pembelajaran, indikator, petunjuk penggunaan, indikator Scientific Reasoning serta kegiatan berupa materi, studi kasus, dan percobaan. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Gambar 2. Sampul e-modul interaktif Gambar ini menunjukkan sampul emodul kemampuan Scientific Reasoning siswa SMP kelas 7 pada materi AuZat dan PerubahannyaAy Kemendikbudristek Universitas Jember, barcode akses digital, judul yang jelas, identitas penyusun serta ilustrasi siswa melakukan eksperimen sebagai simbol pembelajaran ilmiah yang menarik dan Gambar 3. Karakteristik pembelajaran e-modul interaktif sesuai indikator Scientific Reasoning E-modul interaktif ini dirancang untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui tugas yang bisa dikerjakan langsung, video pembelajaran dan panduan praktikum yang jelas sehingga materi tersaji secara menarik dan interaktif untuk mengembangkan berbagai aspek kemampuan Scientific Reasoning secara komprehensif. https://ejournal. id/index. php/mp | 297 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 dan dua guru IPA SMPN 7 Jember untuk menguji validitasnya dalam meningkatkan kemampuan Scientific Reasoning siswa SMP, lalu direvisi sebagai bagian dari proses Tabel 5. Hasil Validasi e-modul interaktif Gambar 4. Kegiatan studi kasus dan tautan Google Form Contoh studi kasus ini dirancang untuk mengembangkan penalaran korelasi siswa dengan mengajak mereka menganalisis hubungan suhu air dan perubahan wujud zat melalui pertanyaan yang memicu Scientific Reasoning, ditempatkan strategis di Bab 1 dan Bab 2 sebagai pemantik dan evaluasi Selain itu, e-modul interaktif ini juga memuat tiga aktivitas percobaan sederhana di Bab 3 dan Bab 4 yang masingmasing fokus pada penguasaan pengontrolan variabel, penalaran hipotesis deduktif, dan penalaran probabilistik, guna memperkuat konsep sekaligus melatih siswa berpikir ilmiah secara langsung. Produk e-modul interaktif divalidasi oleh satu dosen Pendidikan IPA Universitas Jember Aspek Presentase Validator (%) Isi 75,00 95,75 100,00 Ratarata (%) 90,25 Kriteria Kontekstual (Mater. 70,00 100,00 100,00 90,00 Kemampuan Scientific Reasoning Bahasa 75,00 100,00 91,75 88,92 Sangat 100,00 100,00 91,75 97,25 Kegrafisan 100,00 95,00 95,00 96,67 Persentase rata-rata 84,00 98,15 92,62 Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Hasil validasi menunjukkan bahwa emodul interaktif tergolong sangat valid dengan rata-rata keseluruhan 92,62%, mencakup aspek isi . ,25%), kontekstual . ,00%). Scientific Reasoning . ,92%), bahasa . ,25%), dan kegrafisan . ,67%). Tahap implementasi dilakukan dengan menerapkan e-modul interaktif di sekolah pembelajaran diukur melalui observasi oleh tiga observer selama tujuh pertemuan. Tabel 6. Hasil keterlaksanaan e-modul interaktif Aspek yang diamati Mengakses tautan e-modul interaktif melalui perangkat yang tersedia Menyelesaikan tugas studi kasus di kelas melalui kerja kelompok dalam e-modul Membaca, menonton video ilustrasi dan mempelajari materi dalam e-modul interaktif Mengamati aktivitas eksperimen sederhana pada e-modul interaktif dan menonton video instruksi praktikum Melaksanakan eksperimen sesuai instruksi emodul interaktif dengan pendampingan guru Mengamati, menganalisis hasil eksperimen berdasarkan materi dalam e-modul interaktif Nilai persentase rata-rata Persentase Observer (%) 89,25 96,50 96,50 Rata-rata persentase (%) 94,08 Kriteria Sangat Praktis 75,00 87,50 100,00 87,50 100,00 87,50 87,50 91,67 75,00 75,00 83,25 77,75 100,00 100,00 100,00 100,00 75,00 100,00 83,25 86,08 Sangat Praktis 85,71 91,08 91,75 89,51 Praktis Hasil keterlaksanaan pembelajaran menggunakan e-modul interaktif menunjukkan persentase rata-rata 89,51% yang tergolong praktis, menandakan bahwa e-modul ini efektif Sangat Praktis digunakan untuk meningkatkan kemampuan Scientific Reasoning pembelajaran IPA. https://ejournal. id/index. php/mp | 298 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Tahap mengukur efektivitas e-modul interaktif melalui pretest dan posttest serta angket respons siswa dengan hasil peningkatan kemampuan Scientific Reasoning dianalisis menggunakan rumus N-Gain. Respon 36 siswa terhadap e-modul interaktif berada pada kategori sangat baik dengan rata-rata 87,18%, didukung oleh tampilan menarik, bahasa sederhana dan materi sistematis yang paling berdampak pada peningkatan kemampuan Scientific Reasoning. Tabel 7. Hasil N-gain Kemampuan Scientific Reasoning Pembahasan Uji validitas e-modul interaktif dilakukan oleh tiga ahli untuk memastikan kelayakan produk sebelum digunakan siswa, dengan penilaian mencakup aspek isi, materi, scientific reasoning, bahasa, dan kegrafikan. Proses ini sejalan dengan temuan Astutik et al. bahwa validasi mencakup aspek konten dan konstruk guna menjamin e-modul berbasis pengembangan scientific reasoning. E-modul interaktif yang dikembangkan memperoleh skor validitas sebesar 92,62% dan tergolong sangat valid yang menunjukkan bahwa modul ini layak digunakan sebagai bahan ajar dan untuk mengukur kemampuan Scientific Reasoning Hasil ini sejalan dengan temuan Astutik et al. yang menyatakan bahwa e-modul yang memenuhi kriteria valid berdasarkan penilaian para validator layak diterapkan dalam pembelajaran IPA dan didukung pula oleh Mulyana et al. yang menegaskan bahwa validitas media pembelajaran dapat diperoleh melalui kelayakan isi materi serta pemanfaatan media yang tepat selama proses pembelajaran. Aspek isi pada e-modul interaktif memperoleh skor 90,25% dengan kategori sangat valid yang menunjukkan bahwa materi telah disusun secara terpadu sehingga mendukung pembelajaran mandiri dan klasikal serta sejalan dengan pendapat Ramadhan et . yang menyatakan bahwa bahan ajar yang efektif adalah bahan ajar yang relevan dengan kompetensi dasar dan disajikan secara memudahkan pemahaman siswa. Aspek materi pada e-modul interaktif memperoleh skor 90% dengan kategori sangat valid, karena materinya sesuai dengan Kurikulum Merdeka, mudah dipahami, relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan sejalan dengan pernyataan Astutik et al. bahwa e-modul interaktif harus disusun sesuai kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran agar materi mudah dipahami siswa. Aspek kemampuan Scientific Reasoning e-modul memperoleh skor validitas sebesar 88,92% dan dinilai sangat valid karena aktivitas yang disusun mampu melatih berbagai jenis penalaran ilmiah secara terstruktur dan mendorong siswa berpikir secara ilmiah. Aspek e-modul Test Pretest Posttest Rata-Rata Skor 6,14 9,61 N-gain 0,59 Kriteria Sedang Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari 6,14 menjadi 9,61 dengan N-Gain sebesar 0,59 dalam kategori sedang. Tabel 8. Hasil N-gain Kemampuan Scientific Reasoning tiap Indikator Indikator Kemampuan Scientific Reasoning Penalaran Penalaran Pengontrolan Penalaran Penalaran Penalaran Rata-rata skor Pretest posttest Ngain Kategori 1,36 1,75 0,61 Sedang 1,42 1,83 0,71 Tinggi 0,67 0,86 0,14 Rendah 1,19 1,72 0,65 Sedang 0,97 1,56 0,57 Sedang 0,51 1,89 0,93 Tinggi Hasil perhitungan N-Gain tiap indikator Scientific Reasoning menunjukkan variasi peningkatan dari kategori rendah hingga tinggi, dengan peningkatan tertinggi pada penalaran hipotesis-deduktif . dan terendah pada pengontrolan variabel . Efektivitas e-modul interaktif juga dianalisis melalui angket respon siswa yang mencakup aspek ketertarikan, kemampuan Scientific Reasoning, dan bahasa berdasarkan pengalaman mereka selama pembelajaran. Tabel 9. Hasil Angket Respon Siswa Aspek Penilaian Ketertarikan Kemampuan Scientific Reasoning Bahasa Rata-rata Respon Siswa Persentase (%) 87,08 88,06 Kategori Sangat baik Sangat baik 86,39 87,18 Sangat baik Sangat baik https://ejournal. id/index. php/mp | 299 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . memperoleh persentase 97,25% dan tergolong sangat valid karena penggunaan bahasa yang sesuai kaidah EYD, komunikatif, serta mudah dipahami siswa, sejalan dengan pendapat Astutik et al. bahwa e-modul harus disusun dengan bahasa yang jelas dan terstruktur agar makna tersampaikan dengan Aspek kegrafisan pada e-modul interaktif memperoleh persentase validitas sebesar 96,67% dan tergolong dalam kategori sangat valid yang menunjukkan bahwa tampilan visual e-modul telah dirancang secara menarik dan proporsional meliputi warna, pemilihan font, tata letak, serta ilustrasi yang mendukung pemahaman materi dan sejalan dengan pernyataan Ramadhan et al. bahwa emodul memperhatikan ukuran, tata letak, warna, dan ilustrasi mampu menyampaikan materi secara lebih jelas dan efektif. Kepraktisan e-modul interaktif dinilai pembelajaran oleh tiga observer untuk menilai kemudahan penggunaan dan kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran. Sebuah media pembelajaran dapat dikategorikan praktis apabila seluruh aktivitas pembelajaran yang dirancang melalui media tersebut dapat dilaksanakan secara menyeluruh dalam proses (Amira Pembelajaran dengan e-modul interaktif dilaksanakan selama tujuh pertemuan sesuai dengan alur yang telah dirancang. Rata-rata keterlaksanaan pembelajaran menggunakan emodul interaktif sebesar 89,51% menunjukkan kemudahan penggunaan dan efektivitas media dalam mendukung proses belajar mengajar sesuai rencana serta sejalan dengan pendapat Bagus et al. yang menyatakan bahwa media pembelajaran hasil pengembangan dikategorikan praktis apabila dapat digunakan dengan mudah, menarik minat belajar serta tidak menimbulkan banyak kendala dalam penggunaannya, serta pernyataan Mulyana et . yang menegaskan bahwa bahan ajar dinilai praktis jika tingkat keterlaksanaan pembelajaran tergolong tinggi dan bahan tersebut mampu mendukung guru dalam menyampaikan materi serta mudah dipahami oleh siswa. Keterlaksanaan pembelajaran tertinggi pada aktivitas melaksanakan eksperimen sesuai instruksi e-modul interaktif dengan pendampingan guru mencapai 100% dengan kategori sangat praktis karena video instruksi memudahkan siswa melakukan eksperimen mandiri dengan bimbingan, sejalan dengan Amira et al. yang menyatakan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 persentase kepraktisan 90-100% termasuk sangat praktis serta Astutik et al. yang menegaskan e-modul interaktif membuat pembelajaran lebih bermakna dan efisien. Keterlaksanaan pembelajaran terendah terjadi pada kegiatan mengamati aktivitas eksperimen sederhana pada e-modul interaktif dan menonton video instruksi praktikum karena keterbatasan akses internet yang menghambat pemahaman siswa, namun tetap memberikan kesempatan bagi mereka mengembangkan keterampilan observasi dan eksperimen secara Keefektifan e-modul interaktif diukur dari peningkatan skor rata-rata N-gain sebesar 0,59 . ategori sedan. dan peningkatan nilai pretest ke posttest yang menunjukkan peningkatan kemampuan Scientific Reasoning siswa. Sejalan dengan temuan Bagus et al. bahwa peningkatan kemampuan siswa mengamati, memahami, dan berinteraksi dengan bahan ajar. Uji keefektifan e-modul kemampuan Scientific Reasoning pada enam indikator, terutama pada indikator konservasi dengan N-gain 0,61 . ategori sedan. di mana siswa mampu memahami bahwa massa lilin tetap sama meski berubah wujud yang menandakan studi kasus dalam e-modul efektif Indikator penalaran proporsional menunjukkan peningkatan tinggi dengan N-gain 0,71 yang e-modul membantu siswa memahami dan menerapkan konsep proporsional melalui perhitungan yang relevan, seperti menghitung volume air untuk melarutkan gula secara proporsional. Indikator pengontrolan variabel mengalami peningkatan rendah dengan N-gain 0,14 yang menunjukkan bahwa siswa mulai memahami pentingnya mengidentifikasi dan mengontrol variabel dalam eksperimen, seperti faktor jumlah gula, ukuran, dan kecepatan mengaduk yang memengaruhi kecepatan pelarutan gula. Indikator penalaran probabilistik meningkat dengan N-gain 0,65 . ategori sedan. yang menunjukkan sebagian besar siswa mampu memperkirakan kemungkinan hasil suatu proses meski masih kurang dalam menjelaskan alasan ilmiahnya. Indikator penalaran korelasi meningkat dengan N-gain 0,57 . ategori sedan. yang menunjukkan siswa mulai mengaitkan hubungan antar variabel meski masih kesulitan menjelaskan alasan ilmiah Indikator hipotesis-deduktif meningkat signifikan dengan N-gain 0,93 . ategori tingg. yang menunjukkan bahwa e-modul interaktif efektif melatih siswa https://ejournal. id/index. php/mp | 300 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . menguji hipotesis secara logis dan sistematis dengan panduan yang jelas. Berdasarkan hasil analisis, e-modul Scientific Reasoning siswa terutama pada aspek penalaran proporsional dan hipotesis-deduktif melalui aktivitas menarik, studi kasus, dan eksperimen sederhana, meskipun aspek penalaran konservasi, pengontrolan variabel, probabilistik, dan korelasi masih perlu Hal ini sejalan dengan pendapat Astutik et al. yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan e-modul interaktif dapat memberikan pengalaman belajar bermakna, membantu siswa memahami materi serta Selain itu. Amira et al. juga menegaskan bahwa efektivitas pembelajaran prosedur yang sesuai. Keefektifan e-modul interaktif juga terlihat dari respon siswa melalui angket dengan rerata skor total 87,18% yang terhadap materi, tampilan menarik dan kemudahan bahasa yang digunakan sehingga kemampuan Scientific Reasoning. Temuan ini sejalan dengan Dewi et al. yang menyatakan bahwa gambar dan animasi dalam e-modul interaktif memudahkan pemahaman konsep sulit, serta aspek kemampuan Scientific Reasoning dan bahasa yang komunikatif turut mendukung proses pembelajaran yang menyenangkan dan relevan. Berdasakan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa produk memperoleh respon yang sangat positif dari siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian Anisa et al. yang menunjukkan bahwa hasil angket respon siswa memperoleh persentase keseluruhan sebesar 97,5% dengan kategori "Sangat Baik". Temuan ini mengindikasikan respon positif siswa terhadap e-modul interaktif yang membuat pembelajaran lebih menarik dan memungkinkan siswa mengatur tempo belajar sesuai kebutuhan. Mulyana et al. dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa respon sangat positif dari siswa melalui angket terjadi karena e-modul yang dikembangkan berhasil mendukung kegiatan pembelajaran menjadikannya lebih menarik dengan variasi pembelajaran yang beragam sehingga memudahkan siswa dalam memahami konsep. Respon siswa secara keseluruhan membuktikan bahwa e-modul E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, e-modul interaktif yang dikembangkan dinilai layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan Scientific Reasoning siswa SMP. Aspek validitas menunjukkan persentase sebesar 92,62% yang termasuk dalam kategori sangat valid yang mencerminkan bahwa materi dan tampilan e-modul interaktif telah sesuai dengan standar pengembangan bahan ajar. Dari sisi kepraktisan, e-modul interaktif memperoleh nilai 89,51% dan tergolong praktis karena kelancaran proses pembelajaran. Sementara itu, aspek keefektifan ditunjukkan melalui peningkatan kemampuan Scientific Reasoning siswa dengan nilai N-gain sebesar 0,59 pada kategori sedang serta hasil angket respon siswa sebesar 87,18% dengan kategori sangat Secara keseluruhan, e-modul interaktif ini memiliki kualitas yang baik dan dapat pendukung pembelajaran IPA di sekolah DAFTAR PUSTAKA