SARGA : JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 19 NO 1 JANUARI 2025 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga KAJIAN FILOSOFIS MAKNA RUANG PADA KAMPUNG NAGA Philosophical Study of The Meaning of Space in Kampung Naga | Received June 21, 2024 | Accepted November 9, 2024 | Available online January 31, 2025 | | DOI 10. 56444/sarga. 259 | Page 1 - 13 | Tri Susetyo Andadari1* andadaritri@gmail. Program Studi Arsitektur. Universitas Pandanaran. Semarang. Indonesia1* ABSTRAK Kampung Naga merupakan permukiman masyarakat tradisional yang masih memegang praktek dan budaya lokal dalam memaknai dan menciptakan tatanan ruang. Kemampuannya mempertahankan keAoruangAoan ditengah gempuran teknologi saat ini menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis wujud makna ruang di Kampung Naga melalui pendekatan filosofis yang Metode yang digunakan ialah observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh adat, dan partisipasi dalam aktivitas masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa ditemukan 11 makna ruang berdasarkan filosofis, paradigma, teori dan order. Makna tersebut meliputi makna ruang berdasarkan support system, otentifikasi pengguna, kebersihan aktifitas, simbolisasi kontur, hukum adat, gender, komunikasi vertikal, fungsi koloni, fungsi sosial, hajat hidup dasar dan jalur sirkulasi. Setiap wujud ruang, berpijak pada tiga prinsip utama yaitu kesakralan, keseimbangan, dan keberlanjutan. Kata kunci: Kampung Naga. Filosofis. Paradigma. Teori. Order ABSTRCT Kampung Naga is a traditional settlement that still adheres to local practices and culture in interpreting and creating spatial order. Its ability to maintain 'spatiality' amidst the onslaught of current technology is interesting to study. This study aims to explore and analyze the form of spatial meaning in Kampung Naga through a deep philosophical approach. The methods used are direct observation, in-depth interviews with traditional leaders, and participation in community activities. The results show that 11 meanings of space were found based on philosophy, paradigm, theory, and order. That includes the meaning of space based on the support system, user authentication, activity cleanliness, contour symbolization, customary law, gender, vertical communication, colony function, social function, basic life needs, and circulation Each form of space is based on three main principles, namely sacredness, balance, and Keywords: Kampung Naga. Philosophical. Paradigm. Theory. Order Tri Susetyo Andadari PENDAHULUAN Permukiman Kampung Naga masih berakar pada praktik dan budaya tradisional daerah Keberadaan Kampung Naga di Tasikmalaya. Jawa Barat ini mewakili keunikan masyarakat tradisional dalam memahami dan menciptakan ruang berdasarkan nilai-nilai budaya dan filosofi yang diwariskan secara turun temurun. Terkait dengan pemaknaan ruang, ruang pada Kampung Naga, seperti pada umumnya ruang yang lain, mempunyai makna yang beragam, yaitu makna fisik, makna metafisik, makna simbolik, dan makna Dalam karya arsitektur, ruang merupakan bagian terpenting, karena padanya segala aktifitas manusia akan diwadahi. Ruang merupakan sesuatu yang bisa dirasakan, namun tidak bisa kita raba (Wardani, 2. Ruang mampu mengubah kebiasaan penggunanya (Surasetja, 2. Kenyamanan pengguna ruang akan mempengaruhi lamanya waktu pengguna beraktifitas didalamnya. Oleh sebab itu peran ruang sangat dominan dalam menciptakan konsistensi bentuk dan perilaku penggunanya. Ditengah gempuran teknologi permukiman Kampung Naga masih konstan dan tidak mengalami perubahan pada tatanan ruangnya sampai dengan saat ini. Keawetan dan konsistensi nilai-nilai keAoruangAoan Kampung Naga ini menarik dikaji. Salah satunya untuk memberikan gambaran bagaimana wujud makna ruang yang ada pada Kampung Naga, sehingga keberadaannya tidak berubah di era globalisasi. Sudah banyak penelitian yang membahas tentang Kampung Naga, namun penelitian ini penting karena berusaha untuk mengeksplorasi dan menganalisis makna ruang di Kampung Naga melalui pendekatan filosofis yang mendalam. REVIEW LITERATUR Pendekaan filosofis merupakan pendekatan kelimuan yang mencoba memandang sesuatu secara luas dan makro. Pandangan tersebut dilakukan secara ilmiah, kompleks dan terukur serta dapat dipertanggungjawabkan (Bagir, 2. Dalam konteks ini, untuk memahami makna ruang pada Kampung Naga, faktor yang dijadikan dasar analisis filosofis hanya dibatasi terkait dengan paradigma, filsafat, teori dan order. Paradigma atau cara pandang, dalam hal ini dikaitkan dengan pemahaman akan ruang yang dibentuk oleh nilai-nilai adat, agama, dan kosmologi lokal. Filsafat ruang mengacu pada pemikiran mendalam terkait keberadaan . , pengetahuan . , dan nilai . yang membentuk ruang (Ginting. P, & Situmorang, 2. Teori yang digunakan melibatkan teori ruang Lefebvre . patial tria. yang mencakup ruang yang dirasakan . erceived spac. , dirancang . onceived spac. , dan dihidupi . ived spac. (Firmansyah. Order mencakup pengaturan tata letak bangunan, hubungan antar-ruang, serta orientasi terhadap elemen-elemen kosmik. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Variabel penelitian digali secara langsung pada objek penelitian. Metode kualitatif merupakan pertentangan dari pendekatan Metode ini bersifat critical realism yang menggunakan pendekatan positivis dan konstruktivis untuk memberikan penjelasan menyeluruh tentang ontologi dan epistemologi SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Kajian Filosofis Makna Ruang pada Kampung Naga (Gorski, 2. Metodenya dengan menggali makna ruang melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh adat, dan partisipasi dalam aktivitas masyarakat. Data yang digunakan mencakup data primer dan data sekunder. Data primer meliputi hasil observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, dan dokumentasi visual, sedangkan data sekunder meliputi kajian literatur tentang Kampung Naga, filosofi ruang, dan teoriteori yang relevan. HASIL TEMUAN DAN DISKUSI Makna Ruang Berdasarkan Support System Secara denah makro Kampung Naga terbagi dalam dua ruang berdasarkan support systemnya. Ruang tersebut meliputi ruang pengguna dan ruang pemasok. Batas antar ruang terlihat jelas dan nyata. Ruang pengguna dibatasi oleh pagar bambu, sedangkan ruang pemasok berada diluar pagar bambu. Ruang pengguna seperti terlihat pada gambar 1, meliputi area bentukan manusia, tempat manusia beraktifitas normal sehari-hari. Ruang pemasok merupakan area yang menyuplai kebutuhan penghuni, baik hutan yang menyuplai material bangunan, sungai yang menyuplai air dan sawah yang menyuplai pangan. Gambar 1. Makna Ruang Berdasarkan Support System Sumber: Analisis Penulis, 2024 Secara ontologi ruang support system merupakan ruang luar dan ruang dalam Kampung Naga yang masing-masing mempunyai fungsi memberi dan diberikan dukungan untuk keberlanjutan kehidupan penghuni. Epistemologinya didasarkan pada kepercayaan lokal akan material lingkungan yang menghidupi. Sedangkan aksiologinya menekankan penghormatan terhadap sumber daya alam. Paradigma ruang support system didasarkan pada batasan nilai-nilai adat dalam arti sesungguhnya, yaitu batas real teritorial antara ruang yang digunakan untuk bermasyarakat dan berkeluarga dan lingkungan sekitar yang mendukung kehidupan penghuni dalam berkeluarga dan bermasyarakat. Pemaknaan ruang berdasarkan support system ini, didasarkan pada teori representational spaces yang dikemukakan oleh Lefebvre, yaitu ruang yang nyata yang digunakan untuk berkegiatan (Lefebvre, 1. Order ruang support system mencakup aturan adat yang mengatur orientasi bangunan terhadap elemen-elemen kosmik seperti gunung dan sungai. Pembagian ruang support system ini masih dipegang teguh dan terpelihara sampai dengan SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Tri Susetyo Andadari Ini menunjukkan bahwa Kampung Naga sebagai kampung adat merupakan local genius, karena diyakini kebenarannya oleh penduduk asli Kampung Naga (Andadari & Nuzuluddin, 2. Makna Ruang Berdasarkan Otentifikasi Pengguna Berdasarkan otentifikasi pengguna. Kampung Naga dibagi dalam dua ruang yaitu ruang luar dan ruang dalam. Seperti halnya ruang berdasarkan support system, batas realnya ruang ini adalah sama, yaitu pagar bambu. Ruang yang berada dalam batas pagar bambu di sebut ruang dalam dan diperuntukkan untuk penghuni yang memang berhak menempati rumah di Kampung Naga dengan ketentuan tertentu. Sedangkan ruang luar berada di luar batas pagar bambu kawasan Kampung Naga diperuntukkan bagi penduduk dari luar Selain itu. Kampung Naga juga memiliki elemen penting seperti Sungai Ciwulan sebagai sumber air, hutan larangan yang dilindungi, pemakaman, dan kolam ikan yang menjadi bagian dari sistem kehidupan masyarakat. Tata ruang ini mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial dan alam sekitar. Gambar 2. Makna Ruang Berdasarkan Otentifikasi Pengguna Sumber: Analisis Penulis, 2024 Ontologi ruang otentifikasi merupakan ruang luar dan ruang dalam Kampung Naga yang memberikan ketetapan hukum adat atas siapa saja yang berhak menempati rumah di kawasan Kampung Naga. Epistemologinya didasarkan pada hukum adat yang berlaku di kawasan tersebut. Sedangkan aksiologinya menekankan penghormatan identitas penduduk asli kawasan Kampung Naga. Paradigma ruang otentifikasi didasarkan pada batasan hukum adat yang harus diberlakukan secara keseluruhan terkait hak dan kewajiban penduduk asli yang memenuhi syarat untuk tinggal menetap di kawasan Kampung Naga. Teori representational spaces menjadi dasar terbentuknya ruang otentifikasi ini, karena ruang otentifikasi ini merupakan ruang hidup. Tata aturan atau order ruang otentifikasi mencakup aturan adat yang mengatur tata letak bangunan di dalam batasan kawasan. Temuan ruang otentifikasi berupa ruang luar dan ruang dalam ini sejalan dengan temuan Khairunnisa, namun dalam penelitiannya ruang dalam ini masuk dalam kategori ruang pamali (Khairunnisa, 2. SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Kajian Filosofis Makna Ruang pada Kampung Naga Makna Ruang Berdasarkan Kebersihan Aktifitas Aktifitas warga kawasan Kampung Naga, seperti aktifitas warga lainnya terdiri dari aktifitas umum dan aktifitas yang bersifat privat. Aktifitas umum seperti aktifitas bersosialisasi, beribadah dan bekerja dilakukan di ruang bersih seperti dalam rumah, lapangan, masjid dan tempat-tempat lain selain kamar mandi, cuci dan kakus. Sedangkan aktifitas mandi, cuci dan kakus dilakukan di ruang kotor yaitu di area kamar mandi. WC dan di sungai di luar pagar. Ruang bersih dan kotor ini terbentuk karena aspek kebersihan aktifitas. Pembagian ruang ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Kampung Naga dalam menjaga keseimbangan antara aspek spiritual dan kebutuhan fisik sehari-hari Pembagiannya seperti terlihat pada gambar 3. Gambar 3. Makna Ruang Berdasarkan Kebersihan Aktifitas Sumber: Analisis Penulis, 2024 Secara ontologi ruang kotor merupakan ruang di luar pagar bambu di pinggir sungai Ciwulan berupa kamar madi. WC dan tempat cuci penduduk kawasan Kampung Naga. Sedangkan ruang bersihnya ialah daerah selain untuk tempat mandi, cuci dan kakus Epistemologinya didasarkan pada hukum lingkungan yang melokalisir sisa buangan pada satu area, sehingga lingkungan tetap sehat dan tidak tercemari, karena proses daur ulang yang diterapkan pada ruang kotor. Sedangkan aksiologinya menekankan penghormatan terhadap alam dan air sebagai sumber kehidupan. Paradigma ruang kebersihan aktifitas ini didasarkan pada konsep sustainability demi kelangsungan kehidupan yang tetap baik untuk penduduk saat ini dan masa datang. Teori representational spaces menjadi dasar terbentuknya ruang kebersihan ini, karena ruang ini berkaitan langsung dengan berbagai kepentingan pribadi dan bersama. Tata aturan ruang kebersihan mencakup penentuan lokasi diluar batas pagar bambu di pinggir sungai sebagai satu-satunya area yang bisa digunakan untuk keperluan mandi, cuci dan kakus bersama seluruh warga kawasan Kampung Naga. Ruang kotor ini sesuai dengan jabaran Handayani, yang menjelaskan bahwa teknologi sederhana dengan memanfaatkan kolam ikan dan balong dibawah kakus diterapkan dalam ruang kotor ini sebagai sistem daur ulang makanan (Handayani, 2. SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Tri Susetyo Andadari Makna Ruang Berdasarkan Simbolisasi Kontur Berdasarkan konturnya, kawasan Kampung Naga terbagi dalam tiga ruang yaitu dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah, seperti terlihat pada gambar 4. Ontologi dunia atas merupakan area yang secara kontur berada diatas kawasan, berupa hutan keramat dan Dunia atas ini merupakan simbol tempat leluhur, sebuah tempat yang lebih tinggi dari dunia tengah dan bawah yang dianggap lebih dekat dengan Yang Maha Kuasa. Dunia tengah berada di kontur tengah, tempat manusia berkegiatan untuk urusan duniawi. Sedangkan dunia bawah konturnya lebih rendah lagi dan dianggap sebagai tempat kotor dan roh jahat. Epistemologi ruang simbolisasi kontur ini menunjukkan kuat dan tingginya budaya menghormati leluhur dan kepercayaan pada Yang Maha Kuasa. Aksiologinya mengajarkan keseimbangan makro dan mikro kosmos. Gambar 4. Makna Ruang Berdasarkan Simbolisasi Kontur Sumber: Analisis Penulis, 2024 Paradigma ruang simbolisasi kontur didasarkan pada kosmologi Sunda yang mengintegrasikan orientasi ruang terhadap gunung . empat tingg. dan sungai . empat renda. sebagai simbol keseimbangan makro dan mikro kosmos. Terkait dengan teori, ruang simbolisasi kontur terbentuk sebagai representation of space, yaitu ruang yang terbentuk tidak secara fisik namun sebuah ruang yang dirasakan . erceived spac. dan dirancang . onceived spac. (Firmansyah, 2. Order ruang simbolisasi kontur ini didasarkan akan norma kepercayaan dan keagamaan yang mengatur hubungan penduduk dengan leluhur dan sang penciptanya. Kepercayaan yang kuat mampu terjaga sampai dengan saat ini, karena di Kampung Naga pelestarian budaya ini bersifat mutlak tidak dapat ditawar (Sudarwani et al. , 2. Makna Ruang Berdasarkan Hukum Adat Secara ontologi ruang berdasarkan hukum adat masyarakat Kampung Naga merupakan ruang pamali atau ruang larangan. Pada ruang ini tidak semua orang boleh berada dalam teritori ini, ruang ini dibatasi dengan pagar bambu yang maknanya membatasi moral, tindakan dan berlakunya adat desa. Wujud fisiknya berupa bale ageung dan tanaman serta goah dlm rumah, seperti terlihat pada gambar 5 pada halaman selanjutnya. Epistemologi ruang hukum adat didasarkan pada pengetahuan lokal akan batas sakral, dan aksiologinya SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Kajian Filosofis Makna Ruang pada Kampung Naga menegaskan pentingnya menjaga harmoni antar-entitas. Ruang Pamali mencerminkan penghormatan tinggi terhadap nilai-nilai adat dan tradisi, dengan adanya elemen penting di dalam rumah yang memiliki makna adat. Pembagian ruang ini menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Naga menjalankan sistem sosial yang ketat, di mana terdapat aturan khusus terkait siapa yang boleh berada di wilayah tersebut. Gambar 5. Makna Ruang Berdasarkan Hukum Adat Sumber: Analisis Penulis, 2024 Sebagai penanda batas sakral, paradigma ruang perbatasan menegaskan dualitas dunia . acred vs profan. dan pentingnya menjaga harmoni antar-ruang. Pembagian ruang yang didasarkan pada paradigma sakral dan profan menunjukkan bagaimana masyarakat mempertahankan identitas budaya mereka di tengah modernisasi. Ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai tradisional masih relevan dalam membentuk kehidupan sosial dan tata ruang fisik. Teori ruang ini didasarkan atas perceived space, yaitu ruang yang terbentuk karena adanya persepsi yang kemudian diwujudan dalam ruang fisik. Tatanan aturan ruang ini mengacu pada kepercayaan akan entitas lain yang tidak boleh dilanggar karena bisa menyebabkan keburukan, walaupun tanpa alasan yang rasional. Meskipun aturan ini mungkin dianggap irasional oleh logika modern, kepatuhan terhadap ruang sakral menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kepercayaan kolektif dalam membentuk perilaku sosial dan menjaga ketertiban masyarakat. Konsep ini mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga nilai-nilai kesakralan, keteraturan sosial, dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Makna Ruang Berdasarkan Komunikasi Vertikal Ruang ini merupakan sebuah ruang yang dimaknai sebagai ruang untuk berkomunikasi dengan sang Pencipta, dengan leluhur dan dengan alam semesta. Wujudnya berupa masjid, bale ageung, makam, sungai, ruang dengan elemen sawen, dan ruang tempat tumpeng dan empos pada upacara ritual, seperti terlihat pada gambar 6 di halaman selanjutnya. Ontologinya mencerminkan keberadaan manusia sebagai makhluk religius dengan hubungan vertikal (Tuha. dan horizontal . serta komunikasi dengan leluhur. Epistemologi ruang ini berakar pada nilai-nilai spiritual Islam, sementara aksiologinya menekankan keutamaan kolektif dalam peribadatan dan penghormatan akan leluhur yang telah lebih dulu meninggalkan dunia. SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Tri Susetyo Andadari Gambar 6. Makna Ruang Berdasarkan Komunikasi Vertikal Sumber: Analisis Penulis, 2024 Paradigma ruang ibadah di Kampung Naga menekankan koneksi vertikal antara manusia dengan Tuhan . dan horizontal antarwarga . man kolekti. Konsep koneksi vertikal . ubungan dengan Tuha. dan horizontal . ubungan antarwarg. dalam perancangan ruang ibadah di Kampung Naga mencerminkan keseimbangan antara aspek spiritual dan sosial dalam kehidupan masyarakat. Masjid menjadi simbol keberadaan manusia sebagai makhluk religius, sesuai pandangan ontologis bahwa Tuhan adalah pusat Teori tentang ruang ini bisa berupa spatial practise untuk ruang-ruang yang berwujud seperti masjid, bale ageung, makam dan sungai, namun ada juga yang berupa ruang perceived untuk ruang tak berwujud seperti ruang dengan elemen sawen, ruang tempat tumpeng dan empos. Tatanannya jelas mengacu pada ketentuan adat dan kaidah Islam. Adanya ruang yang bersifat spatial practice . uang fisik seperti masjid dan maka. dan perceived space . uang tak berwujud seperti sawen dan empo. menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya memahami ruang secara fisik, tetapi juga secara konseptual dan Makna Ruang Berdasarkan Gender Ruang ini berupa ruang imajiner yang dimaknai sebagai ruang yang terbentuk karena adanya pembagian tugas antara pria dan wanita pada aktifitas harian dan upacara ritual. Wujud fisiknya . eperti terlihat pada gambar . berupa masjid, sungai, sedangkan wujud imajinernya berupa batas laki-laki dan perempuan pada saat ibadah masjid dan ruang yang terbentuk pada saat ritual upacara adat di sungai, dimana pria bertugas sebagai pelaku upacara dan wanita sebagai yang menyiapkan makanan. Secara ontologi, ruang gender adalah pembatas antara dunia laki-laki dan perempuan. Pembagian ruang yang berbasis pada gender mencerminkan bagaimana identitas budaya dan nilai-nilai tradisional terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Ruang gender di Kampung Naga berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menjaga keseimbangan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam aktivitas harian maupun upacara adat. Hal ini mencerminkan pentingnya kesepahaman kolektif dalam menjalankan peran sosial berbasis gender untuk menjaga keharmonisan dalam komunitas SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Kajian Filosofis Makna Ruang pada Kampung Naga Epistemologi ruang ini dibentuk oleh mitos dan tradisi, sedangkan aksiologinya melibatkan tanggungjawab masing-masing peran. Ruang ini merefleksikan paradigma penghormatan akan tanggungjawab masing-masing aktivitas berdasarkan gender. Gambar 7. Makna Ruang Berdasarkan Gender Sumber: Analisis Penulis, 2024 Bentuk ruangnya merupakan perceived space berdasarkan aturan tradisi turun temurun. Konsep ini menunjukkan bahwa ruang tidak hanya bersifat fisik tetapi juga simbolik, mencerminkan struktur sosial yang diatur oleh mitos dan tradisi. Paradigma ruang gender di Kampung Naga merefleksikan bagaimana nilai tradisional dapat menciptakan struktur sosial yang kuat, di mana peran berbasis gender bukan sekadar pembagian tugas, tetapi juga bentuk penghormatan dan tanggung jawab dalam menjaga keseimbangan komunitas Makna Ruang Berdasarkan Fungsi Koloni Fungsi koloni disini merupakan koloni terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga. Wujud spatial practice ini adalah rumah adat yang berjumlah tetap. Secara ontologi, rumah adat adalah manifestasi keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur. Epistemologi ruang ini berbasis pada tradisi turun-temurun yang menempatkan keluarga sebagai pusat. Nilai aksiologi adat terlihat dari tata letak dan desain rumah yang dirancang untuk menciptakan keseimbangan antara fungsi privat dan komunal. Ruang hunian mencerminkan konsep keluarga sebagai unit inti masyarakat, di mana ruangruang seperti "pawon" . dan "tengah imah" . uang tenga. digunakan untuk aktivitas bersama yang memperkuat solidaritas antar anggota keluarga. Selain itu, keteraturan sosial diwujudkan melalui penempatan rumah yang mengikuti aturan adat terkait orientasi dan hierarki, yang mencerminkan penghormatan terhadap leluhur dan hubungan antarwarga yang harmonis. Aksiologi ini menekankan pentingnya menjaga tradisi, keteraturan, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Paradigma ruang hunian didasarkan pada konsep keseimbangan . antara manusia, alam, dan leluhur. Rumah adat merefleksikan epistemologi adat yang menempatkan keluarga sebagai inti kehidupan sosial. SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Tri Susetyo Andadari Gambar 8. Makna Ruang Berdasarkan Fungsi Koloni Sumber: Analisis Penulis, 2024 Makna Ruang Berdasarkan Fungsi Sosial Ruang sosial meliputi lapangan dan buruan/halaman seperti terlihat pada gambar 9. Buruan mencerminkan paradigma ruang transisi yang menjembatani ruang domestik dan publik. Secara aksiologis, halaman menjadi area "tertata namun bebas," sesuai nilai keberlanjutan dan fungsi komunal. Halaman menjadi ruang transisi antara privat dan publik. Secara ontologi, halaman adalah area liminal, sedangkan epistemologi ruang ini dipengaruhi oleh fungsi multifungsinya. Aksiologi halaman mencerminkan keteraturan yang tetap adaptif. Filosofi ruang sosial menekankan kebersamaan dan kohesi komunitas. Ruang ini menjadi simbol egalitarianisme dalam masyarakat adat. Ontologi ruang ini adalah kohesi komunitas. Epistemologi ruang sosial dibangun melalui pengalaman bersama, dan aksiologinya menonjolkan egalitarianisme dan persatuan masyarakat. Teori lived space pada ruang sosial menyoroti interaksi sehari-hari, seperti bermain atau aktivitas komunal, yang memperkuat rasa kebersamaan. Tatanan ruang sosial meliputi fungsi ruang sosial sebagai ruang transisi dan simbol adaptasi yang mencerminkan kebijaksanaan lokal dalam mengelola ruang. Gambar 9. Makna Ruang Berdasarkan Fungsi Sosial Sumber: Analisis Penulis, 2024 SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Kajian Filosofis Makna Ruang pada Kampung Naga Makna Ruang Berdasarkan Hajat Hidup Dasar Ruang ini meliputi ruang air sebagai sumber kehidupan, ruang sawah sebagai ruang mata pencaharian dan ruang leuit sebagai lumbung penyimpanan padi seperti terlihat pada Paradigma ruang air berakar pada pandangan bahwa air adalah sumber kehidupan dan simbol purifikasi. Dalam kosmologi lokal, air merepresentasikan aliran energi dan keseimbangan dunia. Epistemologinya berasal dari kepercayaan lokal akan siklus air yang menghidupi, dan aksiologinya menekankan penghormatan terhadap sumber daya Sawah melambangkan paradigma kerja kolektif dan hubungan simbiosis antara manusia dan alam. Epistemologi sawah terletak pada praktik agraris yang diwariskan, sementara aksiologinya menggarisbawahi prinsip keberlanjutan dan penghormatan atas Hal ini mencerminkan aksiologi yang menghormati alam sebagai sumber rezeki. Ontologi leuit atau lumbung padi mencerminkan kemandirian komunitas. Epistemologi ruang ini terkait dengan pengetahuan agraris lokal, sedangkan aksiologinya menegaskan pentingnya perencanaan jangka panjang. Gambar 10. Makna Ruang Berdasarkan Hajat Hidup Dasar Sumber: Analisis Penulis, 2024 Dalam pandangan teori conceived space, aliran sungai diatur secara alami dan dikelola secara adat untuk keberlanjutan. Sedangkan sebagai lived space, leuit merupakan ritual penyimpanan padi, menguatkan rasa syukur dan kebersamaan. Sedangkan ruang sawah memperlihatkan hubungan erat antara manusia, tanah, dan kosmos. Tatanan filosofis ruang air mengacu pada keseimbangan ekologis, dimana sungai sebagai sumber air diatur dengan aturan adat supaya tetap terjaga kebersihannya, yang mencerminkan penghormatan terhadap siklus alam. Sedangkan tatanan ruang sawah menggambarkan kesinambungan dalam mengikuti aturan rotasi tanam yang diwariskan dan mencerminkan harmoni dengan siklus alam. Kesakralan ruang leuit dalam tata cara masuk dan keluarnya padi diatur dengan ritual adat, menegaskan pentingnya leuit sebagai simbol kelangsungan hidup. Makna Ruang Berdasarkan Jalur Sirkulasi Ruang ini berupa jalan setapak yang menghubungkan masa bangunan seperti terlihat pada Jalan setapak mencerminkan paradigma perjalanan hidup. Filosofinya adalah kontinuitas dan keterhubungan dalam kehidupan. Secara ontologi, jalur ini adalah simbol SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Tri Susetyo Andadari perjalanan hidup. Epistemologinya berakar pada keterhubungan antar ruang, dan aksiologinya mengajarkan kesinambungan dan keteraturan. Perceived space jalur ini adalah penghubung antar-ruang kehidupan. Conceived space dirancang sesuai alur pergerakan warga dan topografi. Sedangkan lived space menunjukkan bahwa jalur ini digunakan untuk aktivitas harian yang melambangkan kesinambungan hidup. Tatanan keterhubungan jalan setapak diatur agar menghubungkan seluruh ruang dalam kampung dengan pola yang memudahkan mobilitas, tetapi tetap menjaga privasi. Jalur sirkulasi ini juga menjadi simbolisme perjalanan masyarakat bahwa setiap jalan mencerminkan perjalanan hidup dari kelahiran hingga kematian. Gambar 11. Makna Ruang Berdasarkan Jalur Sirkulasi Sumber: Analisis Penulis, 2024 KESIMPULAN Kampung Naga memberikan pelajaran mendalam tentang bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam tanpa mengorbankan nilai spiritual dan sosial. Ditemukan 11 makna ruang berdasarkan pendekatan filosofis, paradigma, teori dan order. Makna tersebut meliputi makna ruang berdasarkan support system, otentifikasi pengguna, kebersihan aktifitas, simbolisasi kontur, hukum adat, gender, komunikasi vertikal, fungsi koloni, fungsi sosial, hajat hidup dasar dan jalur sirkulasi. Keseluruhan tata ruang di Kampung Naga adalah refleksi nyata dari harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai adat. Setiap wujud ruang mencerminkan keteraturan yang berpijak pada tiga prinsip utama yaitu : Kesakralan dan Nilai Spiritual. Tata ruang Kampung Naga mencerminkan pandangan kosmologis masyarakat Sunda yang menempatkan dimensi spiritual sebagai inti Semua ruang ritual menunjukkan supremasi hubungan vertikal dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Simbolisasi kesakralan juga tercermin dalam ruang, dikelola dengan aturan adat ketat demi menjaga keseimbangan antara dunia profan dan sakral. Keseimbangan Ekologis dan Sosial. Kampung Naga adalah model harmoni ekologis yang nyata. Ruang-ruang seperti sawah, halaman, dan hutan larangan mencerminkan keselarasan antara aktivitas manusia dan siklus alam. Sistem sirkulasi air, persawahan, dan pelestarian sumber daya menunjukkan bagaimana keteraturan ekologis menjadi dasar kelangsungan hidup. Pada tingkat sosial, ruang SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Kajian Filosofis Makna Ruang pada Kampung Naga sosial, lapangan, dan balai adat memfasilitasi interaksi egaliter, mencerminkan nilainilai kolektif dan demokratis dalam kehidupan masyarakat. Keberlanjutan dan Pewarisan Nilai Lokal. Tata ruang Kampung Naga mengandung nilai keberlanjutan yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga kultural. Aturan adat yang mengatur penggunaan ruang bertujuan menjaga kelangsungan sumber daya untuk generasi mendatang. Selain itu, pewarisan nilai melalui ruang sosial memastikan bahwa tatanan filosofis tetap hidup meski menghadapi perubahan Dengan menempatkan setiap elemen ruang dalam keteraturan filosofis yang melibatkan nilai spiritual, ekologis dan sosial. Kampung Naga menunjukkan bahwa ruang bukan sekadar tempat fisik, melainkan manifestasi dari cara manusia memahami, menghormati, dan berinteraksi dengan dunia. Tata ruang Kampung Naga adalah bukti bahwa warisan lokal dapat menjadi inspirasi universal untuk menciptakan ruang-ruang hidup yang bermakna, harmonis, dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA