Jurnal Ilmiah Pamenang - JIP E-ISSN : 2715-6036 P-ISSN : 2716-0483 DOI : 10. Vol. 6 No. Desember 2024, 141 - 147 HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KEJADIAN PRE MENSTRUASI SINDROM (PMS) PADA MAHASISWI KEPERAWATAN TINGKAT AKHIR (Di STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagun. THE RELATIONSHIP OF ANXIETY LEVEL AND THE EVENT OF PREMENSTRUATION SYNDROME (PMS) IN FINAL LEVEL NURSING STUDENTS (At STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagun. Aesthetica Islamy1*. Nurhidayati2. Amita Audilla3. Binti Munawaroh4 1, 3, 4 Prodi Sarjana Keperawatan. STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung 2 Prodri D-i Keperawatan. STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung *Korespondensi Penulis : tika. aesthetica@gmail. Abstrak Kecemasan sering menjadi masalah pada mahasiswi tingkat akhir karena beban tugas yang Kecemasan yang berlebihan akan membuat seseorang mahasiswi mengalami masalah dalam menstruasi, salah satunya adalah pre menstrual sindrom (PMS). Tujuan penelitian mengidentifiasi hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung. Penelitian dilaksanakan tanggal 17-22 April 2017. Jenis penelitian observasional, desain analitik dengan pendekatan cross sectional dan instrument penelitian berupa kuesioner. Populasi penelitian seluruh mahasiswi tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung sejumlah 66 orang. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling sejumlah 40 orang. Variabel independent tingkat kecemasan mahasiswi, variabel dependent pre menstruasi sindrom. Data dianalisis dengan uji Spearman rho. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar dari responden tidak mengalami kecemasan yaitu sebanyak 22 responden . %) dan sebagian besar responden tidak mengalami PMS, yaitu sebanyak 30 responden . %). Uji statistik Spearman Rho didapatkan P Value = 0,000 < 0,05 sehingga H1 diterima, yang berarti ada hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung tahun 2017. Kecemasan yang dialami mahasiswa akan mengganggu keseimbangan hormone estrogen dan progesterone menyebabkan terjadinya PMS. Tenaga kesehatan dan instansi pendidikan keperawatan diharapkan lebih banyak lagi menyampaikan informasi tentang hubungan antara kecemasan dengan terjadinya PMS sehingga dapat dilakukan antisipasi kecemasan pada mahasiswa Kata kunci : Kecemasan. Pre Menstrual Sindrom (PMS). Mahasiswi Abstract Anxiety is often a problem with late-stage students because of the workload they face. Excessive anxiety will make a female student experience problems in menstruation, one of which is pre menstrual syndrome (PMS). The objectives of the study identified the relationship between anxiety level and pre-menstrual syndrome (PMS) incidence in late-stage nursing undergraduates at STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung District. The study was conducted on 17-22 April 2017. This type of observational research, analytic design with cross sectional approach and research instrument in the form of questionnaire. The research population of all female students at STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung is 66 people. The sample is taken by simple random sampling technique of 40 people. Independent variable of female anxiety level, dependent variable of pre menstrual syndrome. Data were analyzed by Spearman rho test. The result of the research showed that most of respondents did not experience anxiety as many as 22 respondents . %) and most respondents did not experience STD, that is 30 respondents . %). Spearman Rho statistic test obtained P Value = 0,000 <0,05 so that H1 is accepted, which means there is relationship of anxiety level with the occurrence of pre menstrual syndrome (PMS) at S1 student of nursing level Submitted Accepted Website : 15 Agustus 2024 : 14 Oktober 2024 : jurnal. di | Email : jurnal. pamenang@gmail. Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kejadian Pre Menstruasi. (Aesthetica Islamy, dk. final at STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung Regency 2017. Anxiety experienced by students will disrupt the balance of estrogen and progesterone hormone where estrogen hormone more than the hormone progesterone that cause PMS. Symptoms of pre menstrual syndrome will be more intense if in a woman continuously experience anxiety Keywords : Mother Assistance. Child Independence. Pre-School A Pendahuluan Kecemasan sering menjadi masalah pada mahasiswi tingkat akhir jurusan keperawatan. Kecemasan tersebut muncul karena beban tugas yang dihadapinya seperti beban kerja praktik di rumah sakit atau puskesmas, penulisan tugas akhir, maupun beban keluarga Kecemasan tersebut justru akan mengganggu, misalnya kecemasan yang mahasiswi mengalami pola menstruasi yang tidak teratur. Pola menstruasi yang tidak teratur dapat mengganggu sistem hormon tubuh yang dapat mempengaruhi fungsi hormon yang dapat menyebabkan gangguan mood termasuk mood dalam menghadapi tugas akhir perkuliahan (Mareti and Nurasa. Menstruasi yang normal tidak mengalami gejala apapun, namun demikian ada faktor yang menyebabkan menstruasi menjadi Salah satu masalah dalam menstruasi adalah pre menstrual sindrom (PMS). PMS merupakan suatu gejala yang sering dialami oleh wanita menjelang menstruasi dangan dampak yang dialami bisa menjadi lebih ringan seperti bingung, pelupa, timbul jerawat ataupun lebih berat seperti diare, konstipasi, insomnia, depresi, bahkan kadang muncul rasa ingin bunuh diri. Sedangkan gangguan mental dapat berupa mudah tersinggung dan sensitif, sedangkan gangguan fisik berupa acne, nyeri perut, pusing, sakit punggung, nyeri payudara. Pre penderitanya merasa sangat sengsara (Islamy and Farida, 2. Insiden kecemasan yang dialami mahasiswi tingkat akhir menurut Ulum . dalam penelitiannya didapatkan dari 73 mahasiswi tingkat akhir diketahui bahwa 20 orang . ,4%) memiliki tingkat kecemasan normal, 30 orang . ,4%) memiliki kecemasan tingkat ringan, 17 orang . ,3%) memiliki kecemasan tingkat sedang, dan 6 orang . ,2%) memiliki kecemasan tingkat Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan pada 10 mahasiswi S1 Keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung didapatkan 6 mahasiswi atau 60% di antaranya menyatakan mengalami pre menstruasi syndrom dengan ciri-ciri merasa cemas, sensitif, labil dan nyeri disebabkan kecemasan karena kegiatan menghadapi serangkaian ujian serta kegiatan penyusunan skripsi, sedangkan 4 mahasiswi atau 40% mahasiswi lainnya menyatakan tidak mengalami PMS. Menurut Nurwana et al . kondisi yang diyakini sebagai penyebab PMS adalah tingginya progesterone, tertahannya cairan, kekurangan vitamin, tingkat glukosa rendah, alergi hormone, tingkat prolaktin lebih tinggi. Sementara itu adapun faktor yang bisa mempengaruhi kejadian pre menstruasi syndrom diantaranya adalah diet, defisiensi zat gizi makro . nergi, protei. dan zat gizi mikro, seperti kurang vitamin dalam tubuh, usia, kebiasaan merokok dan minum alkohol, kecemasan serta kurangnya aktivitas olah Pre menstruasi sindrom jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya akan menganggu aktivitas sehari-hari, menganggu hubungan dengan orang-orang terdekat, bahkan sampai ada yang ingin bunuh diri, bila kondisi tersebut berlangsung selama tiga kali siklus menstruasi berturut-turut, bisa jadi merupakan gejala sindrom premenstruasi. Jika dibiarkan maka akan menimbulkan gangguan yang lebih parah, yang disebut dengan disforia pramenstruasi (PMDD) (Mareti and Nurasa. Pencegahan dan penanganan PMS antara lain dapat dilakukan dengan edukasi dan konseling yaitu meyakinkan seorang wanita bahwa wanita lainnya pun ada yang memiliki keluhan yang sama ketika menstruasi. Pencatatan secara teratur siklus menstruasi setiap bulannya dapat memberikan gambaran seorang wanita mengenai waktu terjadinya premenstrual syndrome. Sangat berguna bagi Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kejadian Pre Menstruasi. (Aesthetica Islamy, dk. syndrome untuk mengenali gejala yang akan terjadi sehingga dapat mengantisipasi waktu setiap bulannya ketika ketidakstabilan emosi sedang terjadi. Juga dapat dilakukan dengan modifikasi gaya hidup dan komunikasi, yaitu mendiskusikan masalahnya dengan orang terdekatnya, baik pasangan, teman, maupun Terkadang konfrontasi atau pertengkaran dapat dihindari apabila pasangan maupun teman mengerti dan mengenali penyebab dari kondisi tidak stabil wanita Diet . ola konsums. dan olah raga juga menurunkan keluhan pre menstrual Berolahraga dapat menurunkan stres dengan cara memiliki waktu untuk keluar dari rumah dan pelampiasan untuk rasa marah atau kecemasan yang terjadi. Beberapa wanita mengatakan bahwa berolah raga ketika mereka mengalami pre menstrual syndrome dapat membantu relaksasi dan tidur di malam hari (Agustin, 2. Metode Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 17-22 April 2017 di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung. Desain penelitian yang digunakan analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional dimana tiap subyek penelitian hanya diobservasikan sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap variabel subjek pada saat Hal ini tidak berarti bahwa semua subyek penelitian diamati pada waktu yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswi tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung sejumlah 66 orang. Sampel sebagian mahasiswi tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sejumlah 40 orang dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian adalah : Mahasiswi yang kooperatif dan bersedia menjadi responden, sedangkan kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah: mahasiswa yang mengalami fase gangguan patologis, yaitu: Depresi Menstruasi. Mastalgia dan Gangguan Tidur Pramenstruasi. Variable independen penelitian adalah tingkat kecemasan mahasiswi. Variable dependen penelitian adalah pre menstruasi Pengumpulan data menggunakan alat ukur penelitian kuesioner. Teknik uji statistik yang dipilih berdasarkan tujuan uji yaitu hubungan . orelasi/asosias. dan skala data variabel kecemasan dan pre-menstruasi adalah ordinal. Kuesioner kuesioner baku dengan Skala Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Berdasarkan acuan tersebut maka digunakan tehnik korelasi tata jenjang (Spearman Rh. Ada tidaknya korelasi dinyatakan dalam angka indeks berapapun kecilnya indeks korelasi jika bukan 0,000 dapat diartikan bahwa antara kedua variabel yang korelasi terlambat adanya korelasi. Penarikan hipotesanya adalah sebagai berikut bila P value < . maka H0 ditolak yang berarti ada hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung tahun 2017, sebaliknya bila P value > . maka H0 diterima yang berarti tidak ada hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung tahun 2017. Hasil Tabel 1. Karakteristik Responden berdasarkan Umur Umur Tabel diatas menunjukkan bahwa dari total 40 responden, sebagian besar responden berumur 22-23 tahun yaitu sebanyak 30 responden . %). Tabel 2 Distribusi frekuensi tingkat kecemasan mahasiswi S1 Keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung Tingkat Kecemasan Tidak Cemas Cemas Ringan Cemas Sedang Cemas Berat Panik Jumlah Frekuensi Persentase Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kejadian Pre Menstruasi. (Aesthetica Islamy, dk. Berdasarkan tabel 1 diatas didapatkan bahwa dari total 40 responden sebagian besar dari responden tidak mengalami kecemasan yaitu sebanyak 22 responden . %), hampir kecemasan ringan yaitu sebanyak 12 responden . %), dan sebagian kecil dari responden mengalami kecemasan sedang yaitu sebanyak 6 responden . %). rho dengan signifikan 0,05 menghasilkan nilai P Value = 0,000 lebih kecil dari nilai A = 0,05 . ,000 < 0,. sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti ada hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung tahun Tabel 3 Distribusi frekuensi kejadian PMS pada mahasiswi S1 Keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung Pembahasan Tingkat kecemasan mahasiswi S1 Keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung Berdasarkan tabel 4. 1 didapatkan bahwa dari total 40 responden sebagian besar dari responden tidak mengalami kecemasan yaitu sebanyak 22 responden . %), dengan tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 12 responden . %), dan sebagian kecil dari responden mengalami kecemasan sedang yaitu sebanyak 6 responden . %). Menurut Dwihestie . kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai. Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberisinya kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan. Fakta di tempat penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden di tempat penelitian tidak mengalami kecemasan. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dalam menghadapi perkuliahan tingkat akhir tidak mengalami kecemasan. Namun demikian ada hampir setengah responden yang mengalami kecemasan. Cemas yang dialami responden di tempat penelitian tersebut berkaitan dengan perkulian tingkat akhir dengan jadwal perkulian yang semakin padat. Cemas pada mahasiswa S1 keperawatan tingkat akhir tersebut timbul karena perasaan takut terhadap perkuliahan tingkat akhir yang dihadapinya yang menyebabkan individu yang bersangkutan menjadi cemas. Selain itu kecemasan selama perkuliahan tingkat akhir dapat juga terjadi karena ketidaktahuan dan pengalaman pertama dalam menghadapi tugas akhir termasuk praktik keperawatan dan skripsi, dimana individu belum menemukan jalan PMS Tidak PMS PMS Tipe A PMS Tipe H PMS Tipe C PMS Tipe D Jumlah Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel 2 diatas didapatkan bahwa dari total 40 responden sebagian besar responden tidak mengalami PMS yaitu sebanyak 30 responden . %), sebagian kecil responden mengalami PMS tipe A yaitu sebanyak 9 responden . ,5%) dan sebagian kecil responden mengalami PMS tipe H yaitu sebanyak 1 responden . ,5%). Tabel 4 Distribusi tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung Kecema Tidak Cemas Cemas Ringan Cemas Sedang Jumlah Uji statistik speraman rho Tidak PMS Tekanan Darah PMS PMS Tipe A Tipe H P Value = 0,000 Total A = 0,05 Hasil penelitian pada tabel 3 dapat diinterpretasikan bahwa dari total 40 responden sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan dan tidak mengalami PMS, yaitu sejumlah 22 . %). Hasil analisa data kuantitatif dengan uji statistic Spearman Rho dengan berbantuan SPSS diinterpretasikan hasil uji statistik spearman Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kejadian Pre Menstruasi. (Aesthetica Islamy, dk. keluar dengan tugas yang akan dihadapinya Kejadian PMS pada mahasiswi S1 Keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung Berdasarkan tabel 4. 2 didapatkan bahwa dari total 40 responden sebagian besar responden tidak mengalami PMS yaitu sebanyak 30 responden . %), sebagian kecil responden mengalami PMS tipe A yaitu sebanyak 9 responden . ,5%) dan sebagian kecil responden mengalami PMS tipe H yaitu sebanyak 1 responden . ,5%). Hasil penelitian bahwa dengan kategori usia 22-23 tahun sebanyak 30%. Seorang perkembangan yang usianya 18 sampai 25 Tahap ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal dan dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan pendirian hidup. Premenstrual syndrome (PMS) adalah kombinasi gejala yang terjadi sebelum haid dan menghilang setelah haid keluar (Hamdiyah, 2. Pre menstruasi sindrom adalah gejala yang dialami wanita sehingga fungsi normal wanita dan hubugan antar pribadinya terganggu . erutama dilingkungan keluarg. (Hamzah. , & B, 2. PMS adalah sekelompok gejala yang terjadi menjelang periode Gejala ini bisa fisik, perilaku atau Setiap wanita mengalami gejala yang berbeda. Kenyataan, ada lebih dari seratus lima puluh gejala terkait dengan sindrom pre menstruasi ini. Gejala Pada beberapa kasus, gejala ini juga muncul pada hari pertama atau kedua menstruasi (Islamy and Farida, 2. Kenyataan di tempat penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan mahasiswa tidak mengalami pre menstruasi syndrom. Responden yang mengalami pre menstruasi syndrom lebih sedikit dibandingkan yang tidak mengalami pre menstruasi syndrom. Banyaknya responden yang tidak mengalami pre menstruasi syndrome tersebut dikarenakan responden sudah dewasa awal sehingga pertumbuhan organ reproduksinya sudah maksimal dan siklus menstruasinya sudah terjadinya pre menstruasi syndrome lebih Namun demikian ada sebagian kecil responden yang mengalami PMS tipe A yaitu 9 . ,5%) responden. Menurut Hikma. Yunus. , & Hapsari . gejala PMS tipe A adalah rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil, bahkan beberapa wanita mengalami defresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat haid, ketidak seimbangan hormon estrogen dan progesteron dimana hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormone progesteron. Responden yang mengalami PMS tipe H yaitu sebanyak 1 responden . ,5%). PMS tipe H . memiliki gejala edema . , perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. Menurut peneliti, terjadinya PMS pada sebagian kecil responden tersebut dikarenakan adanya pemicu khususnya dari dalam diri responden seperti stress dan cemas, sehingga mengganggu keseimbangan hormone estrogen terjadinya PMS. Untuk itu perlu dilakukan pengawasan dan deteksi dini kemungkinan terjadinya pre menstruasi syndrom agar tidak terjadi dampak yang lebih buruk lagi pada Hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung Hasil penelitian pada tabel 4. 3 dapat diinterpretasikan bahwa dari total 40 responden sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan dan tidak mengalami PMS, yaitu sejumlah 22 . %). Hasil analisa data kuantitatif dengan uji statistic Spearman Rho dengan berbantuan SPSS diinterpretasikan hasil uji statistik speraman rho dengan signifikan 0,05 menghasilkan nilai P Value = 0,000 lebih kecil dari nilai A = 0,05 . ,000 < 0,. sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti ada hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung tahun Kecemasan dan stres dapat berasal dari internal maupun eksternal dalam diri wanita. Kecemasan dan stres merupakan predisposisi pada timbulnya beberapa penyakit, sehingga Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kejadian Pre Menstruasi. (Aesthetica Islamy, dk. diperlukan kondisi fisik dan mental yang baik untuk menghadapi dan mengatasi serangan stres tersebut. Stres mungkin memainkan peran penting dalam tingkat kehebatan gejala PMS (Mareti and Nurasa, 2. Kecemasan sering menjadi masalah pada mahasiswi tingkat akhir jurusan keperawatan. Kecemasan tersebut muncul karena beban tugas yang dihadapinya seperti beban kerja praktik di rumah sakit atau puskesmas, penulisan tugas akhir, maupun beban keluarga Kecemasan tersebut justru akan mengganggu, misalnya kecemasan yang mahasiswi mengalami pola menstruasi yang tidak teratur. Pola menstruasi yang tidak teratur dapat mengganggu sistem hormon tubuh yang dapat mempengaruhi fungsi hormon yang dapat menyebabkan gangguan mood termasuk mood dalam menghadapi tugas akhir perkuliahan (Hutasuhut, 2. Fakta dan teori diatas sudah sesuai bahwa secara umum lebih banyak mahasiswa yang tidak mengalami kecemasan dan tidak mengalami PMS. Namun demikian ada sebagian kecil responden yang mengalami kecemasan dan mengalami PMS. Responden yang mengalami kecemasan akan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami pre menstruasi syndrome. Kecemasan yang dialami mahasiswa akan mengganggu progesterone dimana hormone estrogen lebih banyak dari hormone progesterone yang menyebabkan terjadinya PMS. Gejala pre menghebat jika di dalam diri seorang perempuan terus menerus mengalami rasa Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya adalah meneliti faktor-faktor lain yang terkait PMS, diantaranya adalah genetik . aktor Dalam penelitian ini tidak menganalisis riwayat PMS pada ibu. PMS adalah suatu sindrom yang berhubungan dengan hormon sedangkan faktor hormon memiliki kemungkinan untuk diturunkan dari orang tua terutama ibu. Kesimpulan Hasil uji statistik spearman rho dengan signifikan 0,05 menghasilkan nilai P Value = 0,000 lebih kecil dari nilai A = 0,05 . ,000 < 0,. sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti ada hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian pre menstruasi sindrom (PMS) pada mahasiswi S1 keperawatan tingkat akhir di STIKes Hutama Abdi Husada Kabupaten Tulungagung tahun 2017. Ucapan Terima Kasih Terima Kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah mendukung dan mensupport kegiatan penelitia ini sehingga berjalan dengan lancar. Daftar Pustaka