BALANCE : JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS Vol 10. No 2. November 2025. Hal 205 - 222 Pengaruh Kompetensi Teknologi Informasi. Professional Judgement, dan Task Specific Knowledge terhadap Pendeteksian Fraud dengan Budaya Organisasi sebagai Pemoderasi Oleh : Info Artikle : Nadya Annisa Nasruddin Universitas Negeri Makassar. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia annisa@unm. Diterima : 12 Agustus 2025 Direview : 8 September 2025 Disetujui : 17 September 2025 Nurkholifah Burhanuddin2 Universitas Negeri Makassar. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia nurkholifah@unm. Nurul Emil Safitri3 Universitas Negeri Makassar. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia nurulemilsafitri@unm. Co Author *nadya. annisa@unm. ABSTRACT This study aims to examine the influence of information technology competence, professional judgment, and task-specific knowledge on fraud detection, as well as the role of organizational culture as a moderating variable. Data were collected through questionnaires completed by 103 internal auditors of PT Pegadaian in Makassar. Manado. Balikpapan, and Bali using purposive sampling. The analysis was conducted using partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM). The results show that all three independent variables have a positive effect on fraud detection. Furthermore, organizational culture significantly moderates the relationship between information technology competence, professional judgment, and task-specific knowledge with fraud detection. These findings highlight the importance of internal auditors' competencies and the role of organizational culture in enhancing the effectiveness of fraud detection. Keywords: Organizational Culture. Information Technology Competency. Fraud Detection. Professional Judgement. Task Specific Knowledge ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh kompetensi teknologi informasi, professional judgement, dan task specific knowledge terhadap pendeteksian kecurangan, serta peran budaya organisasi sebagai variabel moderasi. Data diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh 103 auditor internal PT Pegadaian di Makassar. Manado. Balikpapan, dan Bali dengan teknik purposive sampling. Analisis dilakukan menggunakan partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga variabel independen berpengaruh positif terhadap deteksi kecurangan. Selain itu, budaya organisasi terbukti secara signifikan memoderasi hubungan antara kompetensi teknologi informasi, professional judgement, dan task specific knowledge dengan Pendeteksian Fraud. Temuan ini menekankan pentingnya kemampuan auditor internal serta peran budaya organisasi dalam meningkatkan efektivitas deteksi kecurangan. Kata Kunci: Budaya Organisasi. Kompetensi Teknologi Informasi. Pendeteksian Fraud. Professional Judgement. Task Specific Knowledge *Corresponding AuthorAos ISSN PRINT : 2548-7523 | E-ISSN : 2613-8956 https://ojs. um-palembang. id/index. php/balance. Email : balance. aktfeb@gmail. Nadya. Nurkholifah. Nurul PENDAHULUAN Percepatan bisnis di era digital membawa kemudahan sekaligus tantangan, terutama dalam penguatan pengendalian internal yang kini menjadi isu global (Mansour et al. , 2020. Wu et al. , 2. Pengendalian internal merupakan tanggung jawab auditor internal untuk memastikan laporan keuangan sesuai standar yang berlaku. Efektivitas pengendalian ini sangat dipengaruhi oleh kompetensi auditor, khususnya dalam mendeteksi risiko. Auditor internal, sebagai lini pertahanan terakhir, perlu memiliki KTI, professional judgement, dan task specific knowledge agar lebih efektif dalam mendeteksi fraud (Pramono, 2. Kecurangan dapat bersifat internal maupun eksternal, dan melalui fraud hexagon (Vousinas, 2. , diketahui bahwa faktor-faktor seperti stimulus, kapabilitas, dan kesempatan mendorong terjadinya kecurangan. Dampaknya tak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga merusak reputasi perusahaan (Petracu & Tieanu, 2. Dalam rangka menekan potensi risiko, perusahaan mulai menerapkan sistem teknologi informasi pada proses auditnya (Sandi Marsuni et al. ) sehingga KTI menjadi kompetensi kunci bagi Namun, studi menunjukkan bahwa banyak auditor internal belum menguasai teknologi dengan optimal (Chang et al. , 2022. ), dan pelatihan KTI direkomendasikan untuk meningkatkan kualitas audit (Bonsyn & Bednyrovy, 2. Pelatihan dan pengalaman yang membentuk PJ menjadi tolok ukur penting profesionalisme auditor (Alias et al. , 2. Sejalan dengan hal tersebut. TSK yang diperoleh melalui pengalaman langsung terbukti dapat kecurangan (Bonner, 1990. Goldman et al. , 2. Meskipun demikian, kajian mengenai TSK masih tergolong terbatas. Kondisi ini terutama terlihat dalam konteks peran auditor internal pada sektor jasa keuangan yang masih jarang diteliti secara Terrdapat beberapa kesenjangan dalam literatur yang perlu dikaji lebih lanjut. Pertama, sebagian besar penelitian masih terbatas pada KTI dan PJ, sedangkan kajian mengenai TSKAi khususnya pada auditor internal sektor jasa keuangan di IndonesiaAimasih jarang ditemukan. Kedua, belum banyak studi yang mengintegrasikan ketiga kompetensi tersebut secara bersamaan untuk mengukur efektivitas deteksi kecurangan. Ketiga, faktor kontekstual seperti budaya organisasi belum banyak diposisikan sebagai variabel moderasi, padahal budaya kerja dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh kompetensi auditor dalam mendeteksi kecurangan (Dewanata & Putra, 2. Studi sebelumnya seperti Said & Munandar . masih menggunakan moderasi berupa tekanan anggaran waktu . ime budget pressur. , belum menggali lebih dalam bagaimana budaya organisasiAiterutama dalam kerangka nilai-nilai AuAKHLAKAy di BUMNAiberperan dalam mendukung integritas dan kinerja auditor internal. PJ yang dibentuk dari pelatihan dan profesionalisme auditor (Alias et al. , 2. Demikian pula. TSK sebagai hasil pengalaman langsung terbukti meningkatkan kemampuan auditor dalam mendeteksi kesalahan penyajian dan kecurangan (Goldman et al. , 2. , meski studi terkait TSK masih minim, terutama dalam konteks internal auditor di sektor jasa keuangan. Pada tahun 2024. PT Pegadaian menghadapi kasus kredit fiktif yang dilakukan oleh oknum karyawan di Cabang Syariah Karina Batam, dengan nilai kerugian mencapai Rp3,9 miliar (Haq, 2. Kasus ini memicu langkah tegas dari manajemen, termasuk pelaporan ke aparat penegak hukum dan penerapan kebijakan zero tolerance terhadap fraud. Pada 2025, perusahaan memperkuat komitmen antifraud dengan mendeklarasikan budaya integritas melalui program internal seperti seminar AuScaling Up Risk CultureAy dan penandatanganan Deklarasi AntiFraud. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun sistem pengendalian telah diterapkan, kemampuan auditor internal dalam mendeteksi fraud serta dukungan budaya organisasi masih perlu Penelitian ini difokuskan pada auditor internal PT Pegadaian di wilayah Indonesia tengah dan timur, mengingat laporan audit tahun 2024 menunjukkan risiko operasional pada wilayah tersebut berada di kategori sedang. Hal ini diduga berkaitan dengan kurang optimalnya deteksi kecurangan oleh auditor internal. Dengan demikian, populasi ini relevan untuk menguji pengaruh kompetensi auditor terhadap deteksi kecurangan. Kompetensi individu tentu penting namun belum cukup untuk memastikan efektivitas auditor dalam mendeteksi kecurangan. Dalam konteks ini, budaya organisasi juga berperan penting karena dapat memengaruhi idealisme, profesionalisme, dan pertimbangan etis auditor (Halim Harahap et al. Melalui konsep "tone at the top", organisasi dituntut menciptakan lingkungan kerja yang mendukung integritas auditor (Mahadeo, 2. Nadya. Nurkholifah. Nurul Sebagai BUMN. PT Pegadaian menjunjung nilai AuAKHLAKAy sebagai dasar etika dan budaya kerja. Penelitian ini mengembangkan studi Said & Munandar . dengan menambahkan variabel TSK dan mengganti moderasi time budget pressure dengan budaya organisasi. Tujuannya adalah menguji pengaruh KTI. PJ, dan TSK terhadap deteksi kecurangan, dengan budaya organisasi sebagai variabel moderasi. Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini ialah: apakah kompetensi teknologi informasi, professional judgement, dan task specific knowledge berpengaruh terhadap deteksi kecurangan oleh auditor internal? dan apakah budaya organisasi memoderasi pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap deteksi kecurangan? KAJIAN PUSTAKA Teori Atribusi Teori atribusi menjelaskan bahwa perilaku dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal melalui tiga dimensi: kekhususan . erilaku berubah tergantung situasi, menunjukkan faktor eksterna. , konsensus . ika banyak orang bertindak serupa, menunjukkan faktor eksterna. , dan konsistensi . erilaku yang stabil, menunjukkan faktor interna. (Bernard Weiner, 1. Teori ini relevan untuk menjelaskan bahwa pengetahuan auditor . dan profesionalisme yang terbentuk dari lingkungan kerja . berperan dalam mendeteksi Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model (TAM) menjelaskan penerimaan teknologi melalui dua faktor utama: perceived usefulness dan perceived ease of use (Davis, 1. Jika teknologi dirasa bermanfaat dan mudah digunakan, maka individu terdorong Dalam konteks audit. TAM mendukung bahwa kompetensi teknologi informasi membantu auditor dalam mendeteksi kecurangan secara lebih efektif. Pendeteksian Fraud Fraud merupakan tindakan curang yang disengaja, dibedakan dari kesalahan biasa (ISA 240. Teori Fraud Hexagon yang dikembangkan oleh (Vousinas, 2. merupakan pengembangan dari teori sebelumnya seperti fraud triangle dan fraud Teori ini menjelaskan bahwa kecurangan . tidak hanya disebabkan oleh tekanan, peluang, dan rasionalisasi, tetapi juga melibatkan kemampuan . , arogansi . , dan kolusi . Keenam elemen ini dirangkum dalam akronim SCORE: Stimulus . Capability . Opportunity . Rationalization . Ego . , dan Collusion . Setiap mendorong individu untuk melakukan kecurangan. Tekanan mencerminkan dorongan personal atau kesempatan muncul akibat lemahnya sistem pengawasan. rasionalisasi merupakan justifikasi atas tindakan curang. kemampuan merujuk pada keterampilan individu dalam mengeksploitasi ego menggambarkan perasaan superior dan keyakinan tidak akan tertangkap. sedangkan kolusi menunjukkan keterlibatan lebih dari satu individu dalam kecurangan. Teori ini relevan dalam memahami kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan curang dalam organisasi, serta pentingnya pendekatan holistik dalam Pendeteksian fraud menantang karena sifatnya tidak terstruktur (Libby & Tan, 1. , serta membutuhkan kemampuan khusus seperti data mining dan machine learning (Abbasi et al. , 2. Auditor internal harus memiliki kompetensi yang tepat untuk melakukan mitigasi risiko fraud. Pendeteksian menggunakan enam indikator yang dikembangkan oleh Widiyastuti & Pamudji . dimana indikator-indikator pendeteksian fraud ialah antara lain: sistem kontrol internal, karakteristik fraud, lingkungan audit, metode audit, bentuk fraud, dan pengujian bukti. Kompetensi Teknologi Informasi KTI mencakup kemampuan teknis dan nonteknis auditor dalam memanfaatkan TI. Keahlian ini mencakup penggunaan perangkat lunak, basis data, serta keterampilan interpersonal dan etika (Ku Bahador & Haider, 2. KTI meningkatkan efektivitas audit dengan memungkinkan analisis sistem dan data secara otomatis, yang membantu dalam pendeteksian fraud (Thottoli & K. V, 2. Variabel Kompetensi Teknologi Informasi (KTI) diukur melalui empat indikator utama, yaitu keahlian teknis, organisasional, pribadi, dan konseptual (Carnaghan, 2004. Greenstein & McKee, 2. Keahlian teknis berhubungan mengoperasikan sistem TI, sementara keahlian organisasional berkaitan dengan pemanfaatan infrastruktur teknologi dalam mendukung tujuan Keahlian pribadi mencerminkan Nadya. Nurkholifah. Nurul perkembangan teknologi, sedangkan keahlian konseptual menekankan pemahaman peran TI dalam sistem bisnis secara menyeluruh. Variabel Kompetensi Teknologi Informasi (KTI) dapat diukur melalui empat indikator utama. Pertama, keahlian teknis yang mencerminkan kemampuan auditor dalam mengoperasikan perangkat, sistem, serta aplikasi teknologi yang mendukung proses audit. Kedua, keahlian organisasional yang berkaitan dengan pemahaman auditor terhadap infrastruktur dan tata kelola teknologi informasi dalam lingkup Ketiga, keahlian pribadi yang menggambarkan kemampuan individu, seperti adaptasi terhadap perkembangan teknologi, sikap proaktif, serta keterampilan belajar mandiri. Keempat, keahlian konseptual yang menekankan pemahaman auditor mengenai peran strategis teknologi informasi dalam keseluruhan sistem bisnis dan proses pengambilan keputusan organisasi (Julian et al. , 2. Professional Judgement PJ adalah penerapan pengetahuan dan pengalaman dalam membuat keputusan audit (ISA (UK) 200, 2. Auditor dengan pengalaman dan sertifikasi cenderung lebih mampu mendeteksi risiko fraud (Hammersley, 2. , meskipun pengalaman jangka panjang juga dapat menimbulkan bias (Ta et , 2. Dalam konteks fraud. PJ dibentuk dari pengalaman praktis dan profesionalisme. Variabel professional judgment (PJ) dalam penelitian ini diukur melalui lima indikator utama. Pertama, dedikasi terhadap profesi mencerminkan sejauh mana auditor menunjukkan komitmennya terhadap integritas dan tugas audit. Kedua, independensi auditor menjadi tolok ukur kemampuan mereka bekerja tanpa tekanan Ketiga, rasa percaya diri dalam menjalankan tugas audit menunjukkan kesiapan dan kapabilitas auditor dalam mengambil keputusan Keempat, relasi dengan kolega menjadi refleksi atas kemampuan bekerja dalam tim dan berkolaborasi secara efektif. Kelima, pengalaman kerja dan sertifikasi profesional auditor turut menjadi ukuran penting dalam menunjukkan kompetensi dan kredibilitas mereka. (Marisca et al. , 2024. Odukoya & Samsudin, 2021. Rusnindita & Putri Utami, 2. Task Specific Knowledge TSK adalah pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman tugas tertentu. Auditor dengan pengalaman langsung dalam kontrol internal lebih efektif mendeteksi kelemahan sistem (Bonner, 1. TSK memengaruhi akurasi penilaian risiko fraud dan membantu mengidentifikasi skema kecurangan secara lebih tepat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yusrianti . Task Specific Knowledge (TSK) dapat diukur melalui tiga indikator utama. Indikator pertama adalah pengetahuan umum yang dimiliki oleh auditor. Indikator kedua adalah pengetahuan spesifik auditor yang berkaitan langsung dengan tugas pemeriksaan. Sementara itu, indikator ketiga adalah peningkatan pengetahuan auditor yang diperoleh melalui program pelatihan. Budaya Organisasi Budaya organisasi mencerminkan nilai-nilai, norma, dan perilaku kolektif dalam lingkungan kerja (Louis, 1. Budaya yang baik mendorong profesionalisme, produktivitas, dan pengembangan kompetensi individu (Fleury, 2009. Heromi & Usop. Budaya ini juga mempengaruhi moral dan efektivitas auditor dalam mendeteksi fraud. Tujuh indikator yang digunakan untuk mengukur variabel budaya organisasi ialah sebagai berikut: inovasi dan pengambilan risiko, perhatian terhadap detail, orientasi hasil, orientasi individu, orientasi tim, agresivitas, stabilitas. Nilai-nilai tersebutAyselaras dengan nilai AKHLAK (Amanah. Kompeten. Harmonis. Loyal. Adaptif, dan Kolaborati. Ayyang dijunjung tinggi oleh PT Pegadaian. Pengembangan Hipotesis Pengaruh Kompetensi Teknologi Informasi terhadap Pendeteksian Fraud Berdasarkan teori Technology Acceptance Model (TAM), kemampuan individu yang didasari dengan asas dan norma berjalan beriringan dengan kemampuannya dalam menjalankan sistem informasi guna mengoptimalkan kualitas pekerjaannya. Dengan kata lain, tingkat kompetensi TI seseorang berbanding lurus dengan kemampuannya dalam pendeteksian fraud. Oleh karena itu, teori tersebut dapat mendukung penelitian ini yang menyatakan bahwa level kompetensi teknologi informasi seseorang mampu meningkatkan akurasi dan efisiensi dalam pelaksanaan tugasnya dan dalam hal ini ialah pendeteksian kecurangan. Analisis dan evaluasi data yang berjumlah besar diperlukan untuk mendalami kerangka yang mungkin dilakukan individu atau perusahaan untuk mendeteksi risiko fraud (Donning et al. , 2. Dalam Nadya. Nurkholifah. Nurul proses analisis dan evaluasi data yang besar itulah auditor internal mendayagunakan bantuan teknologi seperti analisa perkiraan mesin, machine learning, dan teknik kecerdasan buatan lainnya untuk menganalisa dan mempelajari perilaku manusia. (PWC, 2. Disinilah peran perusahaan khususnya auditor internal itu sendiri dibutuhkan agar teknologi-teknologi Blockchain (Meiryani et al. , 2. , analitik big data (Chiang et al. , 2. , artificial intelligence (AI) (Noordin et al. , 2. , visualisasi data dan ekstraksi data (Mat Ridzuan et al. , 2. dapat dijalankan tanpa hambatan. Beriku beberapa literatur yang telah mengonfirmasi peran keahlian TI berkontribusi dalam peningkatan kemampuan auditor untuk mendeteksi fraud (Mat Ridzuan et al. , 2022. Oktaviani & Kuntadi, 2024. Wahidahwati & Asyik, 2. Di tengah kegiatan audit saat ini yang sangat bergantung dengan ekosistem teknologi yang mumpuni. KTI menjadi kompetensi yang akan selalu Oleh karena itu, jika merujuk pada penelitian-penelitian tersebut maka, dapat diketahui bahwa kompetensi teknologi informasi membantu dalam penyelesaian tugas audit. Oleh karena itu, maka hipotesis penelitian ini adalah: H1: Kompetensi Teknologi Informasi berpengaruh positif dalam pendeteksian fraud Pengaruh Professional Judgement terhadap Pendeteksian Fraud Teori atribusi mengungkapkan bagaimana perilaku suatu individu timbul atas dasar pengaruh faktor internal ataupun eksternal individu tersebut. Faktor internal dan eksternal tersebut dimaksudkan sebagai faktor yang berasal dari dalam diri maupun luar suatu individu. Oleh karena itu, teori atribusi menjadi landasan yang mendukung asumsi yang menyatakan bahwa professional judgement atau kemampuan auditor dalam membuat keputusan dapat timbul baik dikarenakan oleh faktor internal dalam dirinya untuk bertindak profesional maupun sebab faktor eksternal di lingkungan ia bekerja yang membentuknya untuk dapat memutuskan suatu perkara secara profesional dan akurat. Profesionalisme umumnya diuji melalui kinerja yang ia berikan dalam melaksanakan tugas audit mulai dari tahap perencanaan hingga pelaporan audit (Suyono & Farooque, 2. Sebaliknya,auditor yang tidak berpengalaman dapat berkontribusi terhadap kesalahan yang lebih banyak dibandingkan auditor yang berpengalaman sehingga kualitas audit sangat dipengaruhi oleh pengalaman auditor dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat (Mabruri & Winarna, 2010. Zarefar et al. , 2. Di dalam penelitian (Mui, 2. dan (Odukoya & Samsudin, 2. dinyatakan bahwa sertifikasi seorang auditor menjadi simbol profesionalisme dan tolak ukur kemampuan seorang auditor. Hal ini disebabkan karena sertifikasi mampu mengukur profesionalitas auditor melalui elemen kompetensi, ketekunan, skeptisisme profesional, dan tingkat kelalaian sedangkan untuk pengalaman tidak berpengaruh signifikan (Phan et al. , 2020. Riadi et , 2025. Mencuatnya perbedaan ini sebab pengalaman menguatkan subjektifitas seorang auditor (Ta et al. , 2. Meski demikian, beberapa literatur berikut mengamini bahwa variabel PJ seperti pengalaman praktis dan sertifikasi layak diaplikasikan (Grenier, 2017. Mui, 2018. Suyono & Farooque. Wahidahwati & Asyik, 2. Melalui penelitian-penelitian tersebut maka dapat diketahui bahwa PJ suatu individu mempengaruhi kemampuannya dalam melaksanakan suatu tugas Sehingga hipotesis penelitian ini adalah: H2: Professional judgement berpengaruh positif terhadap pendeteksian fraud. Pengaruh Task Specific Knowledge terhadap Pendeteksian Fraud Teori atribusi menjelaskan karakter seseorang dengan TSK mampu ia peroleh dari dalam maupun luar dari pribadinya. Selain itu, selayaknya keahlian lainnya. TSK dihasilkan melalui proses pembelajaran yang dengannya maka seseorang mampu menguasai kemampuan pendeteksian fraud. Teori atribusi inilah yang mendukung penjelasan hubungan antara TSK dengan kemampuan seseorang dalam mendeteksi fraud. Kecenderungan suatu individu yang cenderung lebih mampu berkonsentrasi untuk melakukan sesuatu di dalam lingkup penguasaannya adalah suatu hal yang tidak terelakkan (Arifin et al. Penguasaan pengetahuan terperinci dalam hal ini ditunjukkan melalui TSK mengindikasikan kemampuannya dalam membantu kinerja auditor berpengalaman baik dalam pemilihan isyarat dan komponen pembobotan isyarat dalam analisis penilaian risiko (S. Bonner, 1. selain itu. TSK yang didukung dengan meningkatnya pengalaman auditor mampu membentuk kemampuannya dalam menentukan penilaian (Agoglia et al. , 2009. Bonner & Sando, 2008. Goldman et al. , 2. dalam tulisan (Shepardson, 2. , ia menyampaikan seberapa kompleks tugas yang dikerjakan oleh seorang auditor sehingga pengalaman dan TSK Nadya. Nurkholifah. Nurul seorang auditor mampu memengaruhi laporan yang Seorang auditor yang dibekali dengan keahlian TSK dan pengalamannya dalam melakukan evaluasi lingkungan audit perusahaan sudah seharusnya dapat menciptakan persiapan lembar kerja yang lebih baik dan terstruktur serta dalam pengumpulan bukti auditnya ia dapat secara spesifik mampu secara spesifik mengidentifikasi sifat-sifat dari faktor risiko fraud (Agoglia et al. , 2009. Biggs. Shelton, 1. Jika diartikan, maka kurangnya pengalaman relevan yang dimiliki seorang auditor Dengan ketidakmampuan auditor dalam mendeteksi fraud berhubungan dengan kurangnya pengalaman relevan yang dapat membentuk keahliannya terkait fraud (Arifin et al. , 2. Di dalam skenario untuk mengenali faktor risiko fraud, auditor tidak hanya perlu dibekali dengan pengalaman namun juga dengan pengetahuan spesifik agar dapat secara tepat merespon risiko fraud (Hammersley, 2011. Petracu & Tieanu, 2. Pada temuan lainnya diketahui bahwa semakin baik kemampuan pengetahuan spesifik seorang auditor, maka semakin baik kemampuannya untuk menilai risiko fraud (Rose, 2. Oleh karena itu, peneliti dapat membangun hipotesis berikut: H3: Task specific knowledge berpengaruh positif terhadap pendeteksian fraud. Budaya Organisasi Memoderasi Pengaruh Kompetensi Teknologi Informasi terhadap Pendeteksian Fraud Berdasarkan teori atribusi, kecurangan dipengaruhi oleh faktor internal seperti kapabilitas individu dan faktor eksternal seperti lingkungan kerja dan kesempatan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan membangun budaya organisasi yang menanamkan nilai loyalitas dan kejujuran guna mencegah kecurangan. Budaya organisasi mencerminkan nilai-nilai yang terbentuk dari perilaku individu dalam lingkungan kerja dan sejalan dengan teori fraud hexagon, yang menyatakan bahwa kecurangan dapat timbul dari faktor eksternal. Budaya yang mendukung pengembangan SDM, khususnya auditor internal, berperan dalam meningkatkan efektivitas deteksi Penelitian sebelumnya (Alsabahi et al. , 2021. Donning et al. , 2. menunjukkan bahwa budaya organisasi mendukung optimalisasi kompetensi teknologi auditor dan mencegah penyalahgunaan teknologi untuk kecurangan. Nilai moral yang terkandung dalam budaya kerja mendorong peningkatan kompetensi auditor (Fleury, 2. untuk mendukung proses deteksi fraud. Dengan demikian, peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut. H4: Budaya organisasi memperkuat pengaruh KTI terhadap pendeteksian fraud. Budaya Organisasi Memoderasi Pengaruh Professional Judgement terhadap Pendeteksian Fraud Teori atribusi mengungkapkan kemungkinan terjadinya kecurangan yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Kedua faktor tersebut mampu menjadi unsur penilaian kinerja anggota perusahaan yang dipengaruhi oleh budaya Budaya organisasi yang terintegrasi dengan baik mampu menciptakan karakter auditor yang berintegritas tinggi sehingga mampu membuat professional judgement. Budaya organisasi yang mendukung kondisi ideal seperti corporate governance, sistem kontrol internal, dan manajemen risiko untuk dilakukan oleh auditor internal menandakan sinyal positif bahwa profesional di dalam aktivitas operasional perusahaan (GhiuE, 2. Budaya organisasi yang menumbuhkan lingkungan yang jujur dan berkomitmen profesional dapat menghindarkan suatu entitas atau organisasi dari risiko fraud selama didukung dengan adanya kebijakan prinsipal, ketelitian, dan akurasi yang sesuai dengan standar pedoman dan regulasi (Putri et al. , 2. Nilai-nilai yang terpatri di dalam budaya organisasi inilai yang kemudian akan terus digenggam dan diaplikasikan di dalam menjalankan kegiatan organisasi. Berdasarkan penelitianpenelitian tersebut dapat diketahui bahwa budaya organisasi memiliki peranan penting dalam mendorong profesionalitas di dalam tubuh organisasi serta memberikan kepastian bahwa hal-hal yang terkait dengan kecurangan dapat dideteksi melalui asas-asas profesionalisme. Oleh karena itu, hipotesis penelitian ini adalah: H5: Budaya organisasi memperkuat pengaruh professional judgement terhadap pendeteksian Budaya Organisasi Memoderasi Pengaruh Task Specific Knowledge terhadap Pendeteksian Fraud Teori atribusi menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor internal seperti kemampuan, dan eksternal seperti kesempatan. Nadya. Nurkholifah. Nurul yang keduanya dapat mendorong tindakan Ini menunjukkan bahwa budaya organisasi yang tertanam dalam diri individu atau kelompok dapat membentuk perilaku dan tercermin dalam kultur organisasi. Sebagai contoh, budaya organisasi yang mendukung auditor akan meningkatkan kualitas kerja auditor melalui keterampilan spesifik yang dibutuhkan untuk mendeteksi kecurangan. Pengalaman dan lamanya seseorang dalam profesi audit tidak selalu menjamin kompetensi. Dalam beberapa kasus, orang awam bisa lebih unggul dari ahli karena kemampuan pada tugas tertentu atau karena karakteristik tugas yang menghambat kinerja ahli (Bonner, 1990. Marchant, 1. Keahlian terbagi dua: keahlian khusus yang digunakan dalam konteks tugas tertentu, dan keahlian umum yang digunakan secara terus-menerus (Marchant, 1. Pendeteksian fraud dan kontrol internal bersifat tak terstruktur dan terus berkembang, sehingga memerlukan keahlian khusus (TSK) dari auditor. Menurut (S. Chang & Lee . , membangun iklim belajar dalam organisasi penting untuk mendukung pengembangan pengetahuan Budaya organisasi mendorong minat pegawai untuk berkembang dan berbagi ilmu secara lebih mudah (Sulistiyanto & Murtini, 2. Budaya organisasi yang mendukung pertukaran pengetahuan akan meningkatkan TSK auditor dalam mendeteksi fraud. Oleh karena itu, peneliti membangun hipotesis berikut: H6: Budaya organisasi memperkuat pengaruh task specific knowledge terhadap pendeteksian fraud. Berdasarkan penjelasan dan penelitian terdahulu, maka dapat disusun kerangka pemikiran sebagai berikut Kompetensi Teknologi Informasi (X. Pendeteksian Fraud (Y) Professional Judgement (X. Task Specific Knowledge (X. Budaya Organisasi (Z) Sumber: Penulis . Gambar 1. Kerangka Pemikiran METODOLOGI PENELITIAN primer yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner berbasis skala Likert untuk mengukur Penelitian ini merupakan penelitian variabel kompetensi auditor, profesionalisme, kuantitatif dengan pendekatan kausalitas . ebabbudaya organisasi, dan efektivitas deteksi Populasi penelitian mencakup 116 auditor Analisis data dilakukan dengan pada Kantor Wilayah PT. Pegadaian di Makassar, bantuan perangkat lunak SmartPLS menggunakan Manado. Bali, dan Balikpapan. Sampel ditentukan statistik inferensial, yang mencakup uji validitas dan dengan metode purposive sampling berdasarkan reliabilitas, evaluasi model pengukuran . uter kriteria auditor yang memiliki pengalaman kerja mode. , evaluasi model struktural . nner mode. , minimal tiga tahun, sehingga diperoleh 103 serta uji moderasi. Data yang digunakan adalah data Tabel 1. Daftar Hasil Penyebaran Kuesioner No. No. Wilayah Makassar Jabatan Auditor Pertama Auditor Muda Auditor Madya Auditor Utama Wilayah Manado Jabatan Auditor Pertama Auditor Muda Jumlah Jumlah Nadya. Nurkholifah. Nurul Tabel 1. Daftar Hasil Penyebaran Kuesioner (Lanjuta. Auditor Madya Auditor Utama Wilayah Bali No. Jabatan Auditor Pertama Auditor Muda Auditor Madya Auditor Utama Wilayah Balikpapan No. Jabatan Auditor Pertama Auditor Muda Auditor Madya Auditor Utama Jumlah Responden Jumlah Jumlah Sumber: Data Diolah . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Statistik Deskriptif Secara keseluruhan, hasil deskriptif ini menunjukkan bahwa para responden memiliki persepsi yang sangat positif terhadap semua variabel yang diteliti. Kompetensi teknologi, penilaian profesional, pengetahuan tugas spesifik, dan budaya organisasi dinilai berada pada tingkat yang tinggi dan diyakini berkontribusi positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi Temuan ini menjadi indikasi awal bahwa faktor-faktor tersebut memang relevan dan penting dalam konteks pekerjaan audit internal, khususnya dalam lingkungan perusahaan seperti PT Pegadaian. Tabel 2. Analisis Statistik Deskriptif Variabel Variable KTI (X. PJ (X. TSK (X. Pendeteksian Fraud (Y) Budaya Organisasi (Z) Minimum Maximum Mean Sumber: Data Diolah . Uji Outer Model Validitas Konvergen Tabel 3 menunjukkan hasil estimasi dari uji outer loading menggunakan PLS untuk setiap indikator variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat diamati. Tabel-tabel tersebut menunjukkan bahwa semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan indikator reflektif karena memiliki nilai loading factor lebih dari 0,7. Validitas konvergen juga dapat dinilai dari nilai Average Variance Extracted (AVE). Syarat validitas konvergen adalah nilai AVE untuk setiap konstruk harus lebih dari 0,5. Dengan demikian, berdasarkan Tabel 3, ditemukan bahwa semua konstruk memiliki nilai AVE > 0,5. Nadya. Nurkholifah. Nurul Table 3. Nilai Outer Loading Variable Indicator Statement Item Loading Factor Value X1. Keahlian Teknis X1. X1. Keahlian Keorganisasian X1. Kompetensi TI X1. Keahlian Personal X1. X1. Keahlian Konseptual X1. Dedikasi terhadap Profesi X2. X2. Independensi X2. Professional Kepercayaan Diri dalam X2. Judgement Tugas X2. Relasi Bersama Kolega X2. Pengalaman dan X2. Sertifikasi X2. Pengetahuan Umum X3. Auditor X3. Task Specific Pengetahuan Spesifik X3. Knowledge Auditor X3. Perbaikan Pengetahuan X3. Auditor Melalui Pelatihan Sistem Kontrol Internal Karakteristik Fraud Lingkungan Audit Pendeteksian Fraud Metode Audit Bentuk Fraud Pengujian Bukti Inovasi dan Pengambilan Z. Risiko Perhatian Terhadap Detail Orientasi Hasil Budaya Organisasi Orientasi Individu Orientasi Tim Agresivitas Stabilitas Sumber: Data Diolah . Validity Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Nadya. Nurkholifah. Nurul Tabel 4. Nilai Average Variance Extracted (AVE) Variabel Average Variance Extracted (AVE) Kompetensi TI (X. Professional Judgement (X. Task Specific Knowledge (X. Pendeteksian Fraud (Y) Budaya Organisasi (Z) Sumber: Data Diolah . Tabel 4 menunjukkan hasil uji validitas konvergen menunjukkan bahwa seluruh indikator penelitian telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Setiap indikator memiliki nilai loading factor lebih dari 0,7. Selain itu, nilai AVE yang dihasilkan juga lebih besar dari 0,5 sehingga mendukung terpenuhinya syarat validitas konvergen. Tabel 5. Nilai Kriteria Fornell-Larcker Variable Kompetensi TI (X. Professional Judgement (X. Task Specific Knowledge (X. Pendeteksian Fraud (Y) Budaya Organisasi (Z) Sumber: Data Diolah . Validitas Diskriminan Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai loading pada Kriteria Fornell-Larcker . untuk setiap konstruk lebih tinggi dibandingkan dengan nilai Variabel loading terhadap konstruk lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa semua konstruk memiliki validitas diskriminan yang baik. Tabel 6. Nilai Realibilitas dan Validitas Konstruk Cronbach's Alpha Kompetensi TI (X. Professional Judgement (X. Task Specific Knowledge (X. Pendeteksian Fraud (Y) Budaya Organisasi (Z) Composite Reliability Sumber: Data Diolah . Validitas Konstruk Tabel 6 menunjukkan bahwa konstruk dalam penelitian ini dianggap reliabel jika nilai Cronbach's Alpha dan Composite Reliability lebih besar dari 0,7 (> 0,. Tabel menunjukkan bahwa semua konstruk dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, yaitu memiliki nilai Cronbach's Alpha dan Composite Reliability di atas 0,7. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semua variabel menunjukkan tingkat akurasi dan konsistensi yang baik dalam hal reliabilitas. Tabel 7. Nilai R-Square R Square R Square Adjusted Pendeteksian Fraud (Y) 0. Sumber: Data Diolah . Nadya. Nurkholifah. Nurul Uji Inner Model Tabel 7 menunjukkan nilai R-square untuk variabel deteksi kecurangan dalam penelitian ini adalah sebesar 0,790. Hal ini menunjukkan bahwa variabel deteksi kecurangan dapat dijelaskan oleh Kompetensi Teknologi Informasi. Professional judgement, dan task specific knowledge, dengan budaya organisasi sebagai variabel moderator, sebesar 79,0%. Sisanya sebesar 21,0% kemungkinan dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian ini. Tabel 8. Uji Hipotesis Berdasarkan pada Path Coefficient RataT Koefisien STDEV P Value Rata Statistics KTI x Pendeteksian Fraud PJ x Pendeteksian Fraud TSK x Pendeteksian Fraud Sumber: Data Diolah . Hipotesis Diterima Diterima Diterima Uji Hipotesis Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Kompetensi Teknologi Informasi (KTI). Professional Judgement (PJ), dan Task Specific Knowledge (TSK) terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Uji hipotesis dilakukan dengan mempertimbangkan nilai signifikansi . -value < 0,. dan arah koefisien Uji Hipotesis Kedua Hipotesis kedua menyatakan bahwa professional judgement berpengaruh positif terhadap deteksi kecurangan, dengan nilai signifikansi sebesar 0,030 dan koefisien sebesar 0,115. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan auditor dalam menggunakan pertimbangan profesional dapat meningkatkan efektivitas dalam mendeteksi tindakan kecurangan. Uji Hipotesis Pertama Hasil menunjukkan bahwa Kompetensi Teknologi Informasi (KTI) berpengaruh positif dan signifikan terhadap deteksi kecurangan, dengan nilai signifikansi sebesar 0,042 dan koefisien sebesar 0,103. Artinya, semakin tinggi kompetensi auditor dalam teknologi informasi, semakin besar kemampuannya dalam mendeteksi kecurangan. Uji Hipotesis Ketiga Hipotesis ketiga menyatakan bahwa Task Specific Knowledge (TSK) memiliki pengaruh paling kuat terhadap deteksi kecurangan. Nilai signifikansi sebesar 0,000 dan koefisien sebesar 0,613 menunjukkan bahwa pengetahuan spesifik auditor terhadap tugas-tugas audit secara signifikan mengidentifikasi kecurangan. Tabel 9. Uji Hipotesis Berdasarkan Efek Moderasi BO Memoderasi Efek KTI terhadap Pendeteksian Fraud BO Memoderasi Efek PJ terhadap Pendeteksian Fraud BO Memoderasi Efek TSK terhadap Pendeteksian Fraud Koefisien RataRata STDEV Statistics P Values Hipotesis Diterima Diterima Diterima Sumber: Data Diolah . Pengujian Efek Moderasi Uji Hipotesis Keempat Hipotesis keempat menyatakan bahwa budaya organisasi terbukti memperkuat pengaruh Kompetensi Teknologi Informasi (KTI) terhadap deteksi kecurangan, dengan nilai signifikansi 0,000 dan koefisien positif 0,044. Artinya, semakin tinggi KTI auditor yang didukung oleh budaya organisasi yang baik, semakin efektif pula deteksi kecurangan yang dilakukan. Uji Hipotesis Kelima Hipotesis kelima menyatakan bahwa budaya organisasi memoderasi pengaruh Professional Nadya. Nurkholifah. Nurul Judgement (PJ) terhadap deteksi kecurangan, dengan signifikansi 0,010 dan koefisien positif 0,067. Hal ini menunjukkan bahwa budaya organisasi yang mendukung akan memperkuat kemampuan auditor dalam menggunakan pertimbangan profesional untuk mendeteksi Uji Hipotesis Keenam Hipotesis keenam menyatakan bahwa memperkuat pengaruh Task Specific Knowledge (TSK) terhadap deteksi kecurangan, dengan signifikansi 0,002 dan koefisien positif 0,069. Ini mengindikasikan bahwa pengetahuan tugas yang tinggi akan semakin efektif dalam mendeteksi kecurangan jika didukung oleh lingkungan organisasi yang kondusif. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga hipotesis moderasi dinyatakan diterima. Temuan ini menegaskan bahwa budaya organisasi memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung efektivitas auditor dalam mendeteksi kecurangan. Peran tersebut kompetensi teknologi informasi (KTI), penilaian profesional (PJ), dan pengetahuan spesifik tugas (TSK) terhadap kinerja auditor. PEMBAHASAN Pengaruh Kompetensi TI terhadap Pendeteksian Fraud Hasil pengujian hipotesis pertama (H. menunjukkan bahwa. Kompetensi Teknologi Informasi (KTI) berpengaruh positif terhadap deteksi Temuan ini menunjukkan bahwa auditor dengan KTI yang tinggi akan memiliki kemampuan deteksi kecurangan yang lebih baik dibandingkan auditor dengan kompetensi teknologi informasi yang lebih rendah. (Mat Ridzuan et al. menunjukkan bahwa variabel kompetensi TI (KTI) dapat berkontribusi dalam meningkatkan efektivitas proses deteksi kecurangan melalui indikator seperti keahlian teknis, keahlian konseptual, keahlian organisasi, keahlian personal, dan program audit umum. Selain itu, keahlian auditor dalam pengelolaan data melalui audit digital secara signifikan memengaruhi mitigasi risiko kecurangan (Lois et al. , 2. Hal ini karena KTI memberikan kemampuan yang lebih besar bagi auditor untuk menjalankan tugas deteksi kecurangan, karena keahlian tersebut membantu dalam mengoperasikan teknologi informasi yang mempermudah tugas mereka. Hasil penelitian ini sejalan dengan Technology Acceptance Model (TAM), yang menyatakan bahwa individu yang didorong oleh norma perilaku dan keyakinan akan termotivasi memanfaatkan kemampuan sistem informasi guna mengoptimalkan tugas deteksi kecurangan. KTI memungkinkan pemrosesan informasi yang lebih luas dan akurat, yang bersifat efisien dan cepat. Lebih lanjut. KTI akan mengoptimalkan kualitas audit, sehingga meningkatkan efisiensi dan kinerja auditor terhadap perusahaan. Pengaruh Professional Judgement terhadap Pendeteksian Fraud Hasil pengujian hipotesis kedua (H. menunjukkan bahwa, semakin baik professional judgement (PJ) yang dimiliki oleh seorang auditor, maka semakin baik pula kemampuannya dalam mendeteksi kecurangan, begitu pula sebaliknya. dianggap sebagai tolok ukur profesionalisme seorang auditor, yang diyakini dapat meningkatkan efektivitas dalam kegiatan audit. Hasil serupa juga disampaikan oleh (Alias et al. , 2. , yang menyatakan bahwa integritas dan objektivitas seorang auditor yang tercermin dalam setiap keputusan profesional akan memengaruhi kemampuannya dalam mendeteksi kecurangan. yang baik akan menumbuhkan kepercayaan perusahaan bahwa auditor telah melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, termasuk memberikan keyakinan bahwa seluruh risiko kecurangan dapat terdeteksi dengan lebih efektif (Rahim, 2024. Temuan penelitian ini sejalan dengan teori atribusi, yang mengungkapkan bahwa perilaku seseorang dapat timbul dari faktor-faktor yang berasal baik dari dalam maupun luar individu Faktor dari dalam individu akan menentukan perilakunya. Dalam konteks ini, keputusan profesional yang diambil oleh auditor berasal dari pembelajaran dan pengalaman sepanjang kariernya. Dengan keputusan profesional tersebut, kemampuan auditor dalam mendeteksi kesalahan dan kecurangan akan meningkat. Keputusan profesionalisme sangat memengaruhi hasil akhir dari suatu aktivitas, termasuk keputusan yang dibuat dalam proses audit. Jika seluruh proses audit dilakukan sesuai dengan standar, maka setiap Nadya. Nurkholifah. Nurul Pengaruh Task Specific Knowledge terhadap Pendeteksian Fraud Hasil pengujian hipotesis ketiga (H. menunjukkan bahwa, semakin baik task specific knowledge (TSK) yang dimiliki oleh seorang auditor, maka semakin baik pula kemampuannya dalam Pengetahuan atau keahlian khusus yang dimiliki oleh auditor dianggap sebagai aset berharga dalam menjalankan tugas audit. Karena deteksi kecurangan merupakan tugas yang bersifat abstrak, maka diperlukan keahlian khusus dalam Auditor yang terbiasa dan mahir menangani kecurangan dapat secara signifikan memperlancar proses audit. Hasil ini diperkuat oleh (Yusrianti, 2. yang menyatakan bahwa TSK memiliki pengaruh positif dalam meningkatkan kemampuan mendeteksi kecurangan. Oleh karena itu. TSK berpengaruh positif terhadap deteksi Temuan penelitian ini konsisten dengan teori atribusi, yang menjelaskan bahwa perilaku pengambilan keputusan individu dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Pengetahuan spesifik yang dimiliki oleh seorang auditor membantu mereka dalam merumuskan strategi, membimbing, dan melaksanakan tujuan audit yang telah ditetapkan. Kehadiran auditor dengan keahlian khusus, terutama dalam hal deteksi kecurangan, dalam tim audit turut berkontribusi terhadap penyelesaian tugas audit secara efisien dengan kualitas informasi yang tinggi. Pengaruh Kompetensi TI terhadap Pendeteksian Fraud jika Dimoderasi oleh Budaya Organisasi Hasil pengujian hipotesis kempat (H. menunjukkan bahwa, budaya organisasi secara positif memoderasi pengaruh kompetensi teknologi informasi terhadap deteksi kecurangan. Artinya, kehadiran variabel budaya organisasi memperkuat dampak positif kompetensi teknologi informasi terhadap deteksi kecurangan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya organisasi yang baik dalam sebuah perusahaan akan memberdayakan anggotanya, kompetensinya di bidang teknologi informasi. Seperti yang diketahui, teknologi informasi merupakan topik yang berkembang sangat pesat, dan tanpa diimbangi dengan kemampuan sumber daya manusia, penggunaan teknologi tidak dapat Penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh (Alsabahi et al. , 2. yang menunjukkan bahwa budaya organisasi dapat memperkuat pengaruh kompetensi TI auditor dalam meningkatkan kemampuan audit terhadap Selain itu, penelitian ini juga didukung oleh (Donning et al. , 2. yang menyatakan bahwa peningkatan teknologi yang berguna untuk mendeteksi kecurangan tidak akan berjalan secara efisien jika budaya organisasi memungkinkan munculnya tekanan, peluang, dan rasionalisasi untuk melakukan kecurangan. Oleh karena itu, kompetensi teknologi informasi terhadap deteksi Pengaruh Professional Judgement terhadap Pendeteksian Fraud jika Dimoderasi oleh Budaya Organisasi Hasil pengujian hipotesis kelima (H. menunjukkan bahwa, budaya organisasi secara positif memoderasi pengaruh professional judgement terhadap deteksi kecurangan. Artinya, kehadiran variabel budaya organisasi memperkuat dampak positif professional judgement terhadap deteksi kecurangan. Seorang auditor yang terbiasa diharapkan untuk bertindak secara profesional dalam aktivitas organisasinya akan memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan tugas Dalam hal ini, budaya organisasi berkontribusi dalam membentuk kepribadian karyawannya sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan oleh organisasi. Ketika budaya organisasi tidak memberikan aturan yang jelas dan tegas, maka akan muncul celah bagi perilaku tidak profesional, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terjadinya kecurangan. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh (Urumsah et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh positif terhadap perilaku kecurangan. Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa perilaku individu sangat dipengaruhi oleh budaya di sekitarnya, dalam hal ini adalah nilai-nilai yang berlaku di dalam organisasi. Ketika nilai-nilai yang terus ditanamkan dalam perusahaan bersifat etis, maka profesionalisme individu akan cenderung mengarah pada perilaku yang positif, sehingga dapat membantu perusahaan menghindari terjadinya kecurangan. Hasil serupa juga didukung oleh penelitian Putri et al. , . yang Nadya. Nurkholifah. Nurul berpengaruh dalam memperkuat hubungan positif antara independensi, profesionalisme, dan pengalaman auditor internal dalam mencegah Pengaruh Task Specific Knowledge terhadap Pendeteksian Fraud jika Dimoderasi oleh Budaya Organisasi Hasil pengujian hipotesis keenam (H. menunjukkan bahwa, budaya organisasi secara positif memoderasi pengaruh Pengetahuan Spesifik (TSK) terhadap deteksi kecurangan. Artinya, kehadiran variabel budaya organisasi memperkuat dampak positif TSK terhadap deteksi kecurangan. Budaya organisasi yang baik adalah budaya yang memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk bekerja dalam lingkungan yang sehat. Lingkungan organisasi yang sehat adalah lingkungan yang tidak hanya menuntut anggotanya untuk berkontribusi secara maksimal terhadap organisasi, tetapi juga memberikan kesejahteraan bagi seluruh individu yang berada di dalamnya. Melalui penelitian ini, dapat dilihat bahwa budaya organisasi memiliki efek moderasi yang memperkuat pengaruh TSK. Dalam budaya organisasi yang ideal, seluruh individu dalam organisasi, atau dalam konteks ini auditor keterampilan, saling bertukar pengetahuan, dan memperoleh pengalaman guna menguasai keahlian khusus yang mendukung penyelesaian tugas audit sebagaimana yang diharapkan oleh organisasi. Penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Alalawi et al. , . yang menyatakan bahwa budaya organisasi dapat menyebarkan pengetahuan melalui komunikasi, kepercayaan, sistem informasi, dan penghargaan yang diberikan oleh organisasi. Hasil ini juga selaras dengan penelitian Sulistiyanto & Murtini, . , yang menyatakan bahwa budaya organisasi penting untuk mendorong minat karyawan dalam pengembangan diri serta mempermudah pertukaran Hal ini menunjukkan bahwa dengan budaya organisasi yang terbuka terhadap pengembangan bersama, semakin banyak auditor yang akan memiliki keterampilan teknis dan pengetahuan (TSK), sehingga kemampuan mereka dalam mendeteksi kecurangan akan meningkat. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi teknologi informasi, pertimbangan profesional, dan pengetahuan tugas spesifik berpengaruh positif dan signifikan terhadap deteksi Auditor yang menguasai teknologi informasi, memiliki profesionalisme tinggi, dan memahami tugas spesifik mampu mendeteksi kecurangan dengan lebih efektif. Selain itu, budaya organisasi terbukti memperkuat pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap deteksi kecurangan. Artinya, lingkungan organisasi yang mendukung akan meningkatkan efektivitas auditor dalam melaksanakan proses pendeteksian kecurangan. Rekomendasi Penelitian ini telah memberikan hasil yang valid dan bermanfaat dalam memahami faktor-faktor deteksi kecurangan auditor. Namun, agar hasil penelitian lebih komprehensif dan aplikatif, studi selanjutnya disarankan untuk memperluas sampel dari berbagai institusi atau wilayah yang berbeda guna meningkatkan generalisasi temuan. Selain itu, penggunaan metode campuran . ixed method. dapat menambah kedalaman analisis dengan menggali faktor-faktor kualitatif yang mungkin belum Penambahan variabel lain, seperti tekanan kerja atau etika profesi, juga dapat memperkaya pemahaman tentang dinamika deteksi kecurangan auditor. DAFTAR PUSTAKA