PENINGKATAN KESADARAN KESEHATAN RONGGA MULUT PADA KOMUNITAS TAMAN EDUKASI ANAK PEMULUNG GAMPONG JAWA BANDA ACEH INCREASING AWARENESS OF ORAL HEALTH IN THE SCAVENGERS EDUCATIONAL PARK COMMUNITY, GAMPONG JAWA BANDA ACEH Yuli Fatzia Ossa1*. Maulidia Indah Sari1. Maida Fitri2 1 Departemen Penyakit Mulut. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Indonesia 2 Departemen Konservasi Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Indonesia *Penulis korespondensi: yulifatziaossa@usk. Abstrak Kesehatan rongga mulut dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh, namun masih banyak masyarakat yang tidak peduli akan kondisi kesehatan rongga mulutnya. Banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, termasuk di antaranya adalah kurangnya pengetahuan dan kendala biaya dalam menjaga kesehatan rongga Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan rongga mulut pada komunitas taman edukasi anak pemulung. Metode pengabdian yang dilakukan adalah dengan mengadakan penyuluhan pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut, mengajarkan cara untuk menyikat gigi, dan melakukan pemeriksaan kesehatan rongga mulut. Dari pemeriksaan rongga mulut terdapat 38 anak yang diperiksa dengan kondisi gigi desidui yang berlubang yaitu sebanyak 139 gigi. Sedangkan jumlah gigi permanen yang berlubang sebanyak 74 gigi. Indeks karies gigi permanen yang didapatkan pada skrining rongga mulut anak komunitas taman edukasi usia 6-12 tahun adalah 1,73 indeks karies gigi susu yaitu 5,35. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian ini didapatkan data awal skrining kesehatan rongga mulut anak-anak komunitas taman edukasi anak pemulung Gampong Jawa. Indeks karies yang cukup tinggi pada anak-anak tersebut dapat menjadi masukan bagi pelayanan kesehatan terutama Gampong Jawa bahwa anak-anak di area tersebut patut mendapatkan perhatian khusus. Kata kunci: kesehatan rongga mulut. sikat gigi Abstract Oral health can affect overall body health, but there are still many people who do not care about the condition of their oral health. Many factors influence this, including lack of knowledge and cost constraints in maintaining oral This service aims to increase awareness of the importance of oral health in the scavenger children's educational park community. The method of service carried out is by counseling on the importance of maintaining oral health, teaching how to brush teeth, and conducting oral health checks. From the oral cavity examination, 38 children were examined with the condition of deciduous teeth with cavities, namely 139 teeth. While the number of permanent teeth with cavities was 74 teeth. The permanent tooth caries index obtained in screening the oral cavity of educational park community children aged 6-12 years is 1. 73 the caries index of milk teeth is 5. The conclusion of this service activity was to obtain initial data on oral health screening of the children of the Jawa Village scavenger children's educational park community. The high caries index in these children can be an input for health services, especially in Jawa Village where children in the area deserve special attention. Keywords: oral health. brush teeth Article ID 35927 | Submitted 07-12-2023 | Revision 14-01-2024 | Accepted 05-02-2024 Copyright . 2024 Pendahuluan keterkaitan secara langsung dengan status kesehatan secara umum (Baiju et al. Di Indonesia, status kesehatan gigi dan mulut masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang belum mendapatkan prioritas tinggi, hal ini terbukti pada masyarakat yang terkadang sering tidak terlalu peduli pada masalah gigi dan mulut. Kondisi ini dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya Kesehatan rongga mulut dapat dilihat dari kesehatan pada jaringan lunak maupun jaringan Kesehatan rongga mulut memiliki peranan penting terhadap kualitas hidup individu dalam hal proses pengunyahan, berbicara, dan juga dalam melakukan interaksi sosial terhadap Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dan memiliki Bull. Community. Serv. :30-36 https://doi. org/10. 24815/bulpengmas. Ossa et al. Bull. Community. Serv. :30-36 kesehatan rongga mulut, pengetahuan mengenai cara menjaga kesehatan rongga mulut yang kurang, biaya pengobatan ke dokter gigi yang mahal, dan juga dapat dipengaruhi oleh sikap dari dokter gigi yang pasif dan hanya cenderung dibandingkan pelayanan preventif (Utami et al. Adapun masalah kesehatan rongga mulut yang paling umum terjadi adalah gigi berlubang . , penyakit pada jaringan pendukung . aringan periodonta. , maupun penyakit pada jaringan lunak mulut seperti seriawan. Kondisi kesehatan rongga mulut baik itu penyakit pada jaringan lunak maupun jaringan keras dapat memengaruhi kehidupan sosial individu terutama pada lingkungan siswa, hal ini dapat mempengaruhi 67,5-80% siswa di beberapa negara dan merupakan salah satu masalah kesehatan yang berat. Kesadaran untuk menjaga kesehatan rongga mulut yang rendah dapat menjadi salah satu sumber penyebab munculnya masalah kesehatan rongga mulut (Alfitrasari et Status kesehatan rongga mulut juga dapat dipengaruhi oleh faktor perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Perilaku kesehatan gigi antara lain pengetahuan, sikap, dan tindakan yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan gigi dan rongga mulut. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. pada tahun 2018 menunjukkan prevalensi karies gigi di Indonesia mencapai 88,8%, prevalensi penyakit pada jaringan penyangga gigi . 74,10% dan proporsi individu yang memiliki masalah kesehatan rongga mulut sebesar 57,60%. Sedangkan hasil riset provinsi Aceh, proporsi masalah gigi dan mulut yang terjadi sebanyak 55,3% dan hanya 13,9% menerima perawatan oleh tenaga medis bidang kedokteran gigi. Hal ini menunjukkan dengan proporsi kasus kesehatan gigi mulut yang terjadi masih banyak masyarakat yang tidak mendapatkan perawatan mengenai permasalahan kasus gigi dan mulut (Riskesdas Data Riskesdas menunjukkan angka kebutuhan perawatan untuk masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah sebesar 74,9-80%. Sedangkan kebutuhan perawatan gigi dan mulut untuk kelompok umur 10-14 tahun di Indonesia juga masih tinggi sebesar 66,9%. Hal ini dikaitkan dengan kemampuan ekonomi yang menjadi salah satu hambatan dari masyarakat untuk mencari perawatan untuk masalah kesehatan di rongga mulut. Berdasarkan analisis situasi mengenai permasalahan kesehatan rongga mulut yang telah diuraikan di atas, maka diperlukan kegiatan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut, terutama untuk kalangan anak-anak. Hal ini dikarenakan semakin dini anak-anak diajarkan untuk menjaga kesehatan rongga mulut, maka kebiasaan itu akan bertahan sampai lama. Adapun sasaran untuk kegiatan pengabdian ini adalah anak-anak pada komunitas Taman Edukasi Anak Pemulung Gampong Jawa. Banda Aceh Indonesia. Melalui kegiatan ini, anak-anak komunitas akan diajarkan untuk mengetahui pentingnya cara menjaga kesehatan gigi dan mulut dan juga kesehatan pada umumnya, anak-anak juga akan dilakukan skrining mengenai kondisi rongga mulut anak, serta mengajarkan anak-anak untuk membiasakan diri menjaga kesehatan rongga mulut dengan program menyikat gigi dalam 21 Metode Untuk membantu kegiatan pengabdian terlebih dahulu tim pengabdian melakukan penjajakan tahap awal dengan pendiri komunitas taman edukasi anak pemulung Gampong Jawa Banda Aceh. Pada tahapan ini dilakukan dengan cara berdiskusi terkait permasalahan kesehatan yang terjadi pada anak-anak di komunitas Selanjutnya dilakukan rencana pelaksanaan kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan dilakukan dalam dua kali kunjungan, yaitu kunjungan pertama dilakukan edukasi kepada anak-anak dengan memberikan materi edukasi terkait kesehatan rongga mulut, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkan anak-anak cara menyikat gigi dan langsung mempraktikkan secara bersama-sama Tim pengabdian juga telah menyusun satu buku rapor kesehatan rongga mulut yang memuat tentang cara menjaga kesehatan rongga mulut serta adanya kalender sikat gigi yang diberikan untuk memotivasi anak-anak agar dapat melakukan kegiatan sikat gigi pada pagi dan malam hari. Selanjutnya, kegiatan evaluasi menyikat gigi dilakukan pada kunjungan ke 2, setelah 21 hari. Kegiatan ini bertujuan melakukan cross check terhadap kalender yang telah diberikan. Pada kunjungan kedua juga dilakukan skrining kondisi rongga mulut anakanak komunitas taman edukasi anak pemulung Gampong Jawa Banda Aceh (Gambar . Page 31 Ossa et al. Bull. Community. Serv. :30-36 Gambar 1. Skema alur pelaksanaan kegiatan pengabdian Hasil dan Pembahasan Pengabdian masyarakat ini berfokus pada upaya kegiatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan rongga Setelah melakukan diskusi dengan pendiri komunitas taman baca, maka upaya yang dilakukan adalah membuat suatu buku bacaan yang memuat tentang cara melakukan kesehatan rongga mulut. Buku tersebut diberikan nama sebagai Buku Rapor Kesehatan Rongga Mulut. Buku ini terdiri dari 13 halaman yang memuat edukasi terkait kesehatan rongga mulut yang dibuat dengan ilustrasi menarik agar anak-anak senang membacanya (Gambar 2 dan Gambar Gambar 2. Materi edukasi yang disusun dalam bentuk buku rapor kesehatan rongga mulut Page 32 Ossa et al. Bull. Community. Serv. :30-36 Gambar 3. Buku rapor kesehatan rongga mulut Kunjungan kedua dilakukan setelah 21 hari mendekati hari ke 30 dari kunjungan pertama. Pada kunjungan kedua anak-anak dari komunitas di undang lagi untuk dilakukan pengecekan kalender sikat gigi yang terdapat pada buku rapor kesehatan rongga mulut, kemudian anak-anak ini dilakukan pemeriksaan kesehatan rongga mulut dengan mencatat temuan kondisi rongga mulut anak-anak tersebut (Gambar . Gambar 4. Pemeriksaan rongga mulut Pada kegiatan pengabdian ini turut dilakukan pemeriksaan awal kondisi rongga mulut anakanak yang turut serta pada kegiatan pengabdian Total jumlah anak-anak dari Komunitas Taman Edukasi Anak Pemulung Gampong Jawa Banda Aceh yang dilakukan pemeriksaan rongga mulut sebanyak 38 anak terdiri dari 19 orang laki-laki dan 19 perempuan. Rentang usia anak yang ikut dari usia 2 tahun-17 tahun. Data responden pengabdian dapat dilihat pada Tabel Tabel 1. Data responden pemeriksaan rongga mulut pada kegiatan pengabdian Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 2-5 tahun 6-12 tahun 13-18 tahun n (%) 19. %) 19. %) 2. ,26%) 29. ,3%) 7. ,4%) Pemeriksaan pemeriksaan gigi geligi dari responden, pengecekan ini bertujuan untuk melihat indeks DMF-T (Decay. Missing. Filling- Toot. pada gigi permanen dan juga def-t . ecay, extracted, fillingtoot. pada gigi sulung. Indeks DMF-T pada gigi permanen dihitung berdasarkan jumlah gigi yang terdapat karies yang ditandai dengan adanya kavitas yang dapat dilihat pada saat sondasi. Secara visual dapat ditandai dengan kondisi gigi berwarna coklat sampai dengan hitam (Deca. , gigi yang hilang karena karies gigi (Missin. , jumlah gigi yang sudah ditambal (Fille. Indeks DMFT populasi berasal dari jumlah total D M F/jumlah total sampel yang diperiksa. Indeks def-t diperiksa pada gigi sulung dihitung berdasarkan jumlah gigi yang terkena karies, secara visual ditandai oleh warna coklat sampai dengan hitam dan masih bisa ditambal . , gigi yang diindikasikan untuk dicabut karena karies gigi . ndicated for extractio. , dan jumlah gigi yang sudah ditambah . Indeks DMF-T populasi adalah indeks def-t= jumlah total d e f/jumlah total sampel yang diperiksa. Nilai indeks DMFT dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4, dan Tabel 5. Page 33 Ossa et al. Bull. Community. Serv. :30-36 Tabel 2. Komponen D-T. M-T. F-T pada anakanak Komunitas Taman Edukasi Anak Pemulung Gampong Jawa Kelompok Jumlah Decay Missing Filled Tabel 3. Komponen d-t, e-t, f-t . igi desidu. pada anak komunitas taman edukasi anak pemulung Gampong Jawa Banda Aceh Kelompok Jumlah Decay . Indicated for Filled Total Tabel 4. Nilai indeks berdasarkan usia anak DMF-T dan def-t Indeks Usia Jumlah 2-5 tahun 6-12 tahun 1,73 5,35 13-17 tahun 3,57 DMF-T Indeks def-t Tabel 5. Nilai indeks DMF-T dan def-t berdasarkan jenis kelamin anak Indeks Usia Jumlah Laki-laki 2,42 3,89 Perempuan 1,68 4,16 DMF-T Indeks def-t Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam 2 kali kunjungan yang berjarak 2 bulan dari kunjungan awal. Setelah melakukan edukasi terkait kesehatan rongga mulut, kemudian pada kunjungan ke dua dilakukan skrining awal terkait status kesehatan rongga mulut untuk menilai indeks karies pada gigi anak-anak yang ikut kegiatan pengabdian ini. Karies merupakan salah satu permasalahan kesehatan rongga mulut. Karies merupakan kondisi gigi berlubang. Pemeriksaan indeks karies dapat menjadi salah satu indikator dalam menilai kesehatan rongga mulut (Dewi et al. Pada hasil pemeriksaan kunjungan kedua, hanya ada 38 anak yang kembali ikut Jumlah anak yang hadir pada kunjungan ke dua ini lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anak yang hadir pada kunjungan Rentang usia anak-anak yang dilakukan pemeriksaan adalah dari usia 2-17 tahun. Terdapat 19 orang anak laki-laki dan 19 orang anak perempuan. Dari rentang usia anak-anak tersebut diperoleh data bahwa dua orang anak sedang pada masa gigi desidui . sia 2-5 tahu. , 29 anak sedang berada pada fase gigi bercampur . -12 tahu. , dan 7 orang anak memasuki masa gigi permanen . -17 tahu. Kondisi gigi desidui yang berlubang ditemukan sangat banyak pada anak-anak tersebut, yaitu sebanyak 139 gigi. Sedangkan jumlah gigi permanen yang berlubang sebanyak 74 gigi (Tabel . Indeks DMF-T yang didapatkan pada skrining rongga mulut anak komunitas taman edukasi pada anak usia 6-12 tahun adalah 1,73 yang menurut WHO termasuk dalam kategori rendah . ,2-2,. Angka 1,73 ini memiliki arti bahwa rata-rata dalam setiap mulut anak yang dilakukan pemeriksaan memiliki 2 gigi permanen yang berlubang. Sedangkan pada untuk indeks def-t pada kelompok usia 6-12 tahun yaitu 5,35 yang termasuk kategori sedang . ,7-4,. Angka 5,35 ini memiliki arti bahwa rata-rata dalam setiap mulut anak yang diperiksa terdapat 5 gigi desidui yang mengalami karies. Sedangkan untuk kategori usia 13-17 tahun, indeks DMF-T yang didapat adalah 3,57 yang termasuk dalam kategori sedang . ,7 - 4,. Pada kelompok anak usia tersebut rata-rata ditemukan ada sekitar 4 gigi permanen yang telah mengalami karies (Tabel . Hasil pemeriksaan ini juga didapatkan kalau komponen gigi desidui yang terindikasi untuk pencabutan ada sekitar 12 gigi tetapi belum ada tindak lanjut dari gigi yang telah mengalami Begitu juga untuk gigi yang sudah mendapatkan penambalan, dari seluruh gigi yang diperiksa, hanya 2 gigi desidui yang baru mendapatkan perawatan dari total gigi yang berlubang 139 gigi. Sedangkan untuk gigi permanen dari 74 gigi belum ada satu pun gigi yang mendapatkan perawatan. Hal ini tentu saja dapat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi dari anak-anak di komunitas tersebut. Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di seluruh dunia. Persentase anak-anak di antara keluarga kurang mampu yang mengalami karies dini dilaporkan sebesar 70% (Ramos-Gomez et al. Kegiatan pengabdian ini mendapatkan data bahwa indeks karies pada anak-anak yang telah diperiksa juga masih tinggi. Selain faktor risiko proksimal yang menjadi penyebab terjadi nya karies, kondisi sosial ekonomi . mumnya diukur dengan pendapatan keluarga, pekerjaan, pendidikan orang tua, dan area pinggira. juga Page 34 Ossa et al. berperan dalam meningkat nya indeks karies. Kondisi sosial ekonomi yang rendah, pendapatan keluarga yang rendah, dan tingkat pendidikan ibu yang rendah juga saling berhubungan dengan faktor pendukung terjadinya karies dan masalah kesehatan rongga mulut lainnya (Peres 2. Kesulitan untuk mengakses ke layanan kesehatan gigi mulut, penggunaan produk kebersihan mulut yang tidak memadai, pengetahuan akan kesehatan rongga mulut yang rendah, kebersihan mulut buruk juga menjadi faktor pencetus tingginya angka indeks karies (Shen et al. Arifin et al. Perilaku dan pengetahuan seseorang mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut. Perilaku dan pengetahuan seseorang mengenai kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut akan mempengaruhi baik buruknya status kesehatan demikian juga angka prevalensi karies seseorang (Suratri et al. Pada pemeriksaan ini juga didapatkan hasil indeks DMFT anak laki-laki Perempuan, sedangkan untuk indeks def-t lebih tinggi pada Perempuan. Hasil ini menunjukkan bahwa untuk masalah gigi permanen lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dan untuk gigi desidui lebih banyak terjadi pada anak perempuan dari komunitas ini. Dukungan dan pengasuhan keluarga kesejahteraan dan kesehatan anak termasuk kesehatan rongga mulut. Anak-anak memiliki kecenderungan untuk meniru orang tuangnya dalam menjaga kesehatan rongga mulut. Selain itu status karies anak juga dapat dipengaruhi oleh budaya dan sikap pengasuhannya terhadap Karies dapat dicegah dengan berbagai cara, antara lain pola makan yang seimbang dan menjaga kebersihan rongga mulut dengan cara menyikat gigi dan kedua hal tersebut harus diawasi oleh orang tua, agar anak dapat menikmati kesehatan rongga mulut yang baik (Khattab dan Abd-Elsabour 2. Mayoritas anak-anak yang dilakukan pemeriksaan rongga mulut pada kegiatan pengabdian ini berusia 6-12 tahun. Rentang usia ini merupakan salah satu indikator yang disebutkan oleh badan kesehatan dunia dapat memantau karies secara global. Hal ini dikarenakan pada anak usia 12 tahun terjadi periode gigi bercampur, sehingga perlu adanya perhatian khusus mengenai kesehatan gigi agar pertumbuhan dan perkembangan gigi dapat terjaga dengan baik (Hutami et al. Pada komunitas ini didapatkan bahwa kecenderungan anak Perempuan memiliki indeks gigi berlubang lebih tinggi pada gigi desidui tetapi untuk gigi permanen lebih rendah jika dibandingkan dengan anak laki-laki di komunitas ini. Hal ini dapat dipengaruhi oleh Bull. Community. Serv. :30-36 beberapa hal antara lain adalah frekuensi mengonsumsi makanan yang bersifat kariogenik atau makanan yang memicu untuk terjadinya karies, dan juga kegiatan menyikat gigi yang sangat mempengaruhi untuk terjadi risiko karies pada anak. Status ekonomi yang rendah cenderung mengabaikan perilaku hidup sehat. Tingkat pendapatan orang tua juga menjadi salah saru aspek yang banyak memengaruhi status kesehatan rongga mulut pada anak-anak. Kondisi ekonomi orang tua menengah ke bawah cenderung berpikir untuk melakukan kunjungan dan melakukan perawatan terhadap kesehatan rongga mulut anaknya (Jumriani 2. Selain itu penghasilan orang tua memiliki pengaruh langsung untuk perawatan medis, jika penghasilan meningkat maka biaya untuk perawatan kesehatan jugan ikut meningkat (Todor 2014. Andayani, 2. Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan rongga mulut yang umum terjadi dan insidensi kasus yang cenderung bertambah setiap tahunnya. Tindakan pencegahan dapat dilakukan untuk menekan indeks karies terutama pada anak-anak. Adapun beberapa langkah strategi yang dapat dilakukan untuk menekan angka karies antara lain dapat dimulai dari lingkungan keluarga terlebih dahulu dengan menerapkan pola diet rendah gula, menjaga kesehatan rongga mulut dengan menyikat gigi. Pada tahapan profesional dapat dilakukan dengan cara mendeteksi dini karies gigi, konsultasi diet, pemberian topical fluoride, dan juga perawatan pit dan fisur sealants. Sedangkan untuk kelompok komunitas kegiatan pencegahan dapat dilakukan dengan cara memberikan edukasi kepada kelompok, dan fluoridasi air minum (Anil dan Anand 2. Pada komunitas anak-anak dengan latar belakang dari keluarga sosio ekonomi menengah ke bawah, tindakan edukasi mengajarkan cara untuk menyikat gigi terutama pada anak-anak usia dimulai dari 5 tahun akan efektif dalam menekan indeks karies dan permasalah rongga mulut lainnya (Skeie dan Klock 2. Pada kegiatan pengabdian yang sudah dilakukan, tindakan pencegahan dilakukan dengan metode pendekatan pada komunitas anak-anak pemulung. Kegiatan pencegahan yang prevalensi permasalahan kesehatan rongga mulut pada anak-anak dengan kondisi sosio ekonomi menengah ke bawah dan anak-anak juga diajarkan untuk melakukan kegiatan pencegahan secara mandiri, yaitu dengan cara sikat gigi 2 kali sehari, mengedukasi terkait penyebab masalah kesehatan rongga mulut, sehingga diharapkan kegiatan pengabdian ini memberikan pemahaman kepada anak-anak Page 35 Ossa et al. tersebut tentang pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut. Kesimpulan Dari kegiatan pengabdian ini didapatkan data awal skrining kesehatan rongga mulut anak-anak komunitas taman edukasi anak pemulung Gampong Jawa. Indeks karies yang cukup tinggi pada anak-anak tersebut dapat menjadi masukan bagi pelayanan kesehatan terutama Gampong Jawa bahwa anak-anak di area tersebut patut mendapatkan perhatian khusus. Kegiatan pembiasaan menyikat gigi yang telah dilakukan dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka risiko karies sehingga dapat menurunkan permasalahan rongga mulut pada anak-anak komunitas tersebut yang berasal dari sosial dan ekonomi menengah ke bawah. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada LPPM Universitas Syiah Kuala yang telah membiayai kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis produk dengan nomor 528/UN11. 1/PT. 01/PNBP/2023 Tanggal 3 Mei 2023. Daftar Pustaka