Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catapp. DAUN PISANG (Musa sp. DAN DAUN JATI (Tectona grandi. TERHADAP PENINGKATAN WARNA IKAN CHANNA MARU (Channa marulioide. Effectiveness of Ketapang Leaf (Terminalia catapp. Banana Leaf (Musa sp. ), and Teak Leaf (Tectona grandi. Extracts on Enhancing the Color of Channa Maru Fish (Channa Rizka Rahmana Putri1*). Ahmad Qurtuby. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2 Kamal. Bangkalan-Madura *)Korespondensi: rizka. putri@trunojoyo. Received: 27 Agustus 2025. Received in revised form: 1 November 2025. Accepted: 4 November 2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak daun ketapang (Terminalia catapp. , daun pisang (Musa sp. ), dan daun jati (Tectona grandi. dalam meningkatkan warna ikan Channa maru (Channa marulioide. Warna tubuh ikan hias merupakan salah satu faktor estetika penting yang memengaruhi nilai jual dan daya tarik di pasar akuakultur ornamental. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan . ontrol, ekstrak daun ketapang, ekstrak daun pisang, dan ekstrak daun jat. serta dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi intensitas warna menggunakan Toca Colour Finder (TCF), kandungan karotenoid pada tubuh ikan, tingkat kelulushidupan, pertumbuhan panjang dan berat mutlak, serta kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun ketapang memberikan peningkatan warna paling signifikan dengan skor TCF tertinggi dan kandungan karotenoid sebesar 0,32 AAg/g, diikuti daun jati sebesar 0,22 AAg/g, daun pisang 0,07 AAg/g, dan kontrol 0,06 AAg/g. Pemberian ekstrak daun tidak memberikan dampak signifikan terhadap tingkat kelulushidupan maupun pertumbuhan panjang dan berat mutlak pada ikan. Kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran optimal, sehingga tidak menjadi faktor pembatas. Dengan demikian, ekstrak daun ketapang dapat direkomendasikan sebagai bahan alami terbaik untuk meningkatkan intensitas warna dan kandungan karotenoid ikan Channa maru, diikuti oleh daun jati, sementara daun pisang kurang Kata Kunci: Channa marulioides, ekstrak daun, ketapang, karotenoid, warna ikan ABSTRACT This study aimed to evaluate the effectiveness of Ketapang (Terminalia catapp. Banana (Musa sp. ), and Teak (Tectona grandi. leaf extracts on enhancing the coloration of Channa maru (Channa marulioide. Body coloration in ornamental fish is an important aesthetic trait that significantly influences market value and consumer preference in the ornamental aquaculture industry. The experiment was conducted using a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments . Ketapang extract. Banana leaf extract, and Teak leaf extrac. with three replications. Parameters observed included color intensity using the Toca Colour Finder (TCF), carotenoid content in fish tissues, survival rate, absolute growth in Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. length and weight, and water quality. The results showed that Ketapang leaf extract significantly improved fish coloration, yielding the highest TCF scores and carotenoid content . 32 AAg/. , followed by Teak leaf extract . 22 AAg/. Banana leaf extract . 07 AAg/. , and the control . 06 AAg/. Leaf extracts had no significant effect on survival rate or absolute growth in length and weight. Water quality remained within the optimal range throughout the experiment and did not act as a limiting factor. In conclusion. Ketapang leaf extract is recommended as the most effective natural additive to enhance the coloration and carotenoid content of Channa maru, followed by Teak leaf extract, while Banana leaf extract showed less Keywords: Channa marulioides, leaf extract. Ketapang, carotenoid, fish coloration PENDAHULUAN Ikan ini merupakan ikan gabus yang awalnya ikan lokal yang umum dikonsumsi, namun kini menjelma menjadi ikan hias yang banyak diminati karena Keindahan warnanya telah menarik perhatian para pecinta ikan hias, baik dari dalam maupun luar negeri . Ikan yang biasa disebut Aosnakehead fishAo ini dikenal memiliki corak tubuh yang mencolok dan dapat berubah sesuai dengan lingkungan, pakan, serta faktor fisiologis lainnya. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kualitas warna tubuh Channa maru menjadi penting, tidak hanya untuk meningkatkan daya jual, tetapi juga untuk mempertahankan performa visual ikan tersebut. Sebuah strategi yang semakin populer dalam pengaturan warna ikan hias adalah penggunaan bahan alami yang kaya akan pigmen bioaktif, seperti flavonoid, tanin, dan antosianin. Tanaman seperti daun ketapang (Terminalia catapp. , daun pisang (Musa sp. ), dan daun jati (Tectona grandi. telah dilaporkan mengandung senyawa-senyawa bioaktif yang berpotensi mempengaruhi fisiologi ikan, termasuk sintesis dan distribusi pigmen warna . Menurut Fujii . , pada banyak spesies ikan, melanofor berperan utama dalam perubahan warna fisiologis, tetapi terdapat pula jenis kromatofor dendritik lain di kulit, yaitu xanthophores. Karuppiah & Mustaffa tahun 2013 menyatakan ekstrak daun pisang Warna tubuh ikan hias merupakan salah satu karakteristik fenotipik yang memiliki nilai estetika tinggi dan menjadi daya tarik utama dalam industri akuakultur ornamental, sehingga dapat meningkatkan harga jual ikan hias. Beberapa literatur menyebutkan bahwa warna tubuh merupakan salah satu faktor komersial paling krusial yang menentukan nilai jual ikan hias. Semakin tajam intensitas warna dan semakin jelas pola atau corak pada tubuh ikan, maka semakin tinggi pula kualitas penampilan visualnya. Hal ini peningkatan daya tarik dan harga jual ikan di pasaran . Keberadaan sel kromatofor menyebabkan ikan memiliki warna yang menawan. Kromatofor adalah sel pigmen khusus pada vertebrata rendah seperti ikan, yang memungkinkan pergerakan pigmen secara seluler. Kromatofor paling banyak ditemukan di lapisan dermis, namun juga dapat terdapat pada epidermis maupun bagian tubuh Warna yang dihasilkan kromatofor ditentukan oleh kemampuan pigmen untuk menyerap cahaya atau oleh fenomena interferensi cahaya yang disebabkan oleh zat pemantul cahaya . Salah satu jenis ikan hias yang hidup di air tawar yang semakin populer dan diminati oleh para penghobi dan kolektor adalah ikan Channa maru (Channa Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. (Musa sp. ) memiliki sifat antibakteri dan antioksidan yang dapat mendukung kesehatan ikan secara umum . Beberapa menunjukkan bahwa pemberian ekstrak tanaman tertentu dapat merangsang produksi pigmen melanin atau karotenoid, yang berperan dalam pewarnaan kulit ikan, seperti daun ketapang. Beberapa artikel berita populer menyebutkan bahwa daun pisang kering dapat meningkatkan kecerahan warna pada ikan hias dan belum ada penelitian ilmiah untuk membuktikan hal tersebut. Daun jati juga mengandung pewarna alami, namun penggunaannya untuk meningkatkan warna pada ikan hias masih belum banyak diteliti. Dengan kata lain, penelitian ilmiah tentang pengaruh daun jati dan daun pisang terhadap warna ikan hias belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, kajian mengenai perbandingan efektivitas antara ekstrak daun ketapang, daun pisang, dan daun jati terhadap perubahan warna pada ikan Channa maru penting untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian ekstrak daun ketapang, daun pisang, dan daun jati terhadap perubahan warna tubuh ikan Channa maru, serta untuk mengetahui perlakuan mana yang paling efektif dalam meningkatkan intensitas warna. Hasil pengembangan teknologi pakan atau perlakuan alami untuk peningkatan kualitas ikan hias secara berkelanjutan. yang mana setiap perlakuan diisi dengan 4 unit percobaan. Perlakuan dalam penelitian ini antara lain: Perlakuan P0: Kontrol . anpa pemberian ekstrak dau. Perlakuan P1: Pemberian ekstrak daun Perlakuan P2: Pemberian ekstrak daun Perlakuan P3: Pemberian ekstrak daun jati Pengambilan Ekstrak Daun Pengambilan ekstrak daun jati, daun pisang, dan daun ketapang dilakukan dengan metode ekstraksi sederhana secara tradisional, yaitu metode perendaman air Metode ini sering digunakan dalam pembuatan larutan ekstrak daun untuk tujuan praktis seperti akuarium hias atau penggunaan pertanian organik. Adapun prosedurnya antara lain daun sebanyak 600 gram dicuci menggunakan air mengalir Kemudian, daun dijemur di bawah sinar matahari langsung selama 2 benar-benar Selanjutnya, pembuatan larutan air garam dengan cara memanaskan 1 liter air bersih hingga suhu A60-70AC, menambahkan 33 gram garam, aduk hingga larut sempurna, dan dinginkan hingga suhu ruang (A2730AC). Langkah berikutnya adalah proses ekstraksi yaitu memasukkan daun yang telah dijemur ke dalam galon bersih . apasitas 15 lite. , menambahkan larutan air garam ke dalam galon berisi daun, menambahkan 13 liter air bersih sehingga total volume menjadi 14 liter, aduk atau homogenkan selama A5 menit agar larutan dan daun tercampur rata. Kemudian galon ditutup rapat dan disimpan di tempat sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung. Pada proses maserasi dan ekstraksi, mendiamkan selama 3 hari . untuk proses perendaman dan pelarutan senyawa aktif secara alami. Setelah 3 hari, buka tutup galon selama A5 menit untuk membuang uap yang terbentuk, tutup rapat dan didiamkan selama 4 hari berikutnya. Pada METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Perairan Universitas Trunojoyo Madura mulai bulan Desember 2023 sampai dengan bulan Februari 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Rancangan Acak lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. proses penyaringan dan penyimpanan, setelah total 7 hari galon dibuka dan larutan disaring menggunakan kain bersih untuk memisahkan ampas daun. Hasil ekstrak daun disimpan dalam botol kaca atau plastik bersih yang tertutup rapat dan dapat disimpan di tempat sejuk atau dalam lemari es jika ingin memperpanjang masa simpan. pada kertas TCF, dengan gradasi warna dari kuning ke oranye-merah. Pemberian Ekstrak Daun pada Air Sebanyak 5 liter air dimasukkan ke dalam galon berkapasitas 15 liter, kemudian dicampurkan dengan 2 liter ekstrak daun. Campuran tersebut dihomogenkan hingga merata, sehingga diperoleh volume akhir sebanyak 7 liter larutan ekstrak daun. Selanjutnya, larutan tersebut didiamkan selama tiga hari untuk memberikan waktu Setelah masa pengendapan, ikan Channa maru diaklimatisasi selama satu jam agar dapat beradaptasi dengan suhu air sebelum dimasukkan ke dalam wadah perlakuan. Setiap perlakuan dilakukan dengan tiga kali ulangan. Menurut Hanafiah . , umumnya jumlah minimal pengulangan pada penelitian laboratorium adalah cukup 3 kali ulangan . Selama penelitian, air campuran ekstrak diganti setiap satu bulan sekali, sedangkan pengamatan mutasi warna dilakukan setiap minggu selama delapan minggu masa pemeliharaan. Pengamatan dan pemberian skor warna ikan Channa maru dilakukan oleh 5 orang untuk menghindari bias. Sofriyadi et . menyatakan lima panelis dilibatkan dalam penetapan standar warna sebagai upaya mengurangi bias penilaian, dilakukan pada fase awal, pertengahan, dan akhir penelitian . Gambar 1. Skala Toca Colour Finder Uji Karotenoid pada Ikan dan Maggot Preparasi Sampel Karotenoid Sampel dari ikan yang diambil adalah bagian sisik dan sirip ikan Channa maru pada bagian kepala, tubuh, dan ekor, lalu disimpan dalam wadah tertutup dan terlindung dari cahaya, demikian juga dengan sampel pakan ikan berupa maggot disimpan dalam wadah tertutup dan terlindung dari cahaya. Sebanyak 40Ae50 mg jaringan ditimbang dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Ekstraksi dilakukan dengan menambahkan 5 mL aseton dingin . %, 4AC), kemudian dihomogenkan hingga larutan berwarna merata. Volume pelarut aseton ditambahkan hingga mencapai 10 ml, lalu diaduk perlahan. Filtrat jernih diperoleh melalui proses Whatman, dan pengukuran absorbansi spektrofotometer pada panjang gelombang 380, 450, 475, dan 500 nm. Hasil yang paling tinggi digunakan dalam perhitungan nilai total karotenoid. Rumus karotenoid yang digunakan adalah sebagai berikut . Ae Amax ycOycy ycu yaycy ycu 100 Total Karotenoid = ya x yaAycuycaycuyc ycIycaycoycyyceyco . Pemberian Pakan Ikan Pemberian pakan untuk ikan Channa maru dilakukan sehari dua kali secara ad Pakan yang diberikan adalah maggot kering. Maggot merupakan salah satu larva dari lalat yang kaya akan kandungan protein hewani yaitu sekitar 3045%. Pengamatan Mutasi Warna Setiap tujuh hari selama 60 hari perlakuan, warna ikan Channa maru dinilai dengan membandingkannya dengan kertas TCF (Toca Colour Finde. Penilaian dimulai dengan skor terkecil 1 hingga 11 Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Keterangan: Amax= Absorban maksimum Fp = Faktor pengenceran Vp = Vpume aseton K = Konstanta . Konstanta K = 250, umumnya digunakan untuk sampel biologis kompleks . aringan P = Pt Ae Po Keterangan : P = Pertumbuhan panjang mutlak . Pt = Panjang ikan di akhir pemeliharaan . Po = Panjang ikan di awal pemeliharaan . Analisis Data Untuk perlakuan terhadap parameter pengamatan, maka data penelitian seperti tingkat kelulushidupan, kecerahan warna dan pertumbuhan mutlak dianalisis ragam. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, seperti data total karotenoid dari ekstrak daun ketapang, daun pisang, daun jati, dan pakan maggot serta hasil skoring menggunakan kertas TCF dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan, jika dengan Uji DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%. Sedangkan data kualitas air yang didapatkan berdasarkan hasil pengukuran dianalisis secara deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata dan rentang untuk menggambarkan kondisi air budidaya selama penelitian. Tingkat Kelulushidupan (Survival Rate/SR) Tingkat kelangsungan hidup atau Survival Rate adalah proporsi ikan yang masih hidup di akhir studi dibandingkan ycAyei SR = ycAyeax 100% Keterangan: SR = Survival Rate Nt = Jumlah ikan di akhir penelitian . No = Jumlah ikan di awal penelitian . Panjang dan Berat Mutlak Pengukuran panjang ikan dilakukan dengan cara mengukur ikan Channa maru dari ujung mulut terluar hingga ujung ekor Pengukuran berat dilakukan dengan cara menimbang berat total ikan menggunakan timbangan digital. Kedua pengukuran tersebut dilakukan setiap 10 hari sekali. Adapun rumus untuk mengukur berat mutlak adalah menurut Effendie . dalam Balqis et al. sebagai berikut: HASIL DAN PEMBAHASAN Mutasi Warna pada Ikan Menggunakan Kertas TCF Berdasarkan penelitian yang telah peningkatan kecerahan warna ikan Channa maru dilakukan setiap satu minggu sekali selama 60 hari. Pada setiap perlakuan dilakukan dengan cara membandingkan warna ikan Channa maru dengan kertas TCF. Pemberian nilai dimulai dengan pemberian skor pada kertas TCF yaitu dari skor terkecil 1 hingga skor terbesar, yaitu 11 dengan gradasi warna dari kuning hingga oranye-kuning. W = Wt Ae Wo Keterangan: W = Pertumbuhan berat mutlak . Wt = Berat rata-rata akhir . Wo = Berat rata-rata awal . Adapun rumus untuk mengukur panjang mutlak menurut Effendie . dalam Balqis et al. , yaitu sebagai berikut: Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Tabel 1. Hasil pengukuran warna ikan dengan skor kertas TCF Perlakuan Pengamatan Minggu ke1 2,33 1,75 2,00 a 2,50 a 9,44 a 9,56 a 9,42 9,42 2,33 1,50 8,67 b 9,55 b 10,61 b 10,72 b 10,72 10,81 2,75 2,50 3,36 ab 4,47 ab 9,44 a 9,53 a 9,56 9,83 2,67 1,58 6,05 b 8,67 b 9,89 a 9,33 a 9,33 9,67 ANOVA 5% Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 95%, * = berbeda nyata, ns = tidak berbeda nyata. P0: P1: ekstrak daun ketapang. P2: ekstrak daun pisang. P3: ekstrak daun jati Berdasarkan Tabel 1, pengamatan warna dengan indikator Toca Colour Finder (TCF) menunjukkan skor tertinggi pada perlakuan ekstrak daun ketapang dari minggu ke-3 hingga ke-6, dengan pengaruh signifikan terhadap perubahan warna ikan Channa maru. Pada minggu ke-1 dan ke-2, tidak terjadi peningkatan warna akibat fase adaptasi ikan terhadap lingkunga. Pada minggu ke-3 sampai minggu ke-6 terjadi signifikansi peningkatan warna hingga sampai di batas kemampuan fisiologis ikan dalam peningkatan warna. Oleh karena itu, minggu ke-7 dan ke-8 menunjukkan tidak ada peningkatan atau penurunan kecerahan warna . Pengamatan dilakukan oleh lima orang untuk meminimalkan bias, sesuai dengan standar observasi warna . Skor warna TCF berkisar dari 1 . buabu kehijaua. hingga 11 . uning-orany. , signifikan terjadi pada perlakuan ekstrak daun ketapang hingga minggu ke-8. Kandungan karotenoid dalam daun ketapang diduga menjadi faktor utama peningkatan warna pada ikan Channa maru, selain faktor genetik. Peningkatan intensitas warna ikan Channa maru pada perlakuan ekstrak daun ketapang (Terminalia catapp. diduga erat kaitannya dengan keberadaan pigmen karotenoid dan senyawa turunannya yang berfungsi sebagai pewarna alami dan Beberapa melaporkan bahwa daun T. mengandung pigmen fotosintetik seperti lutein, -karoten, dan violaxanthin dalam jumlah relatif kecil, di samping senyawa bioaktif lain seperti flavonoid, tanin, fenolik, dan saponin . Meskipun kadar karotenoid dalam daun ketapang tidak setinggi sumber karotenoid murni seperti spirulina atau astaxanthin, pigmen tersebut tetap dapat diserap oleh ikan dan disimpan dalam kromatofor kulit, yang berperan penting dalam pembentukan warna tubuh ikan . Karotenoid, terutama lutein dan karoten, merupakan pigmen lipofilik yang berperan dalam menghasilkan warna kuning hingga oranye pada tubuh ikan. Ikan tidak mampu mensintesis karotenoid secara de novo, sehingga ketersediaan pigmen dari lingkungan atau pakan alami menjadi faktor penentu utama dalam pembentukan warna Kandungan karotenoid dalam ekstrak daun ketapang berfungsi sebagai astaxanthin yang dapat memperkuat warna ikan secara fisiologis. Selain flavonoid, dan tanin pada daun ketapang memiliki aktivitas antioksidan yang mampu melindungi pigmen karotenoid dari Mekanisme ini membantu mempertahankan kestabilan warna tubuh ikan agar tetap cerah dan tidak mudah memudar akibat stres atau perubahan lingkungan . Ae. Kombinasi pigmen karotenoid dan senyawa pelindung pigmen Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. tersebut menjadikan daun ketapang sebagai bahan alami potensial untuk meningkatkan kualitas warna ikan hias secara non-toksik dan ramah lingkungan. Kandungan senyawa dalam daun ketapang, seperti tanin, saponin, klorofil, flavonoid, alkaloid, dan fenol, diketahui memiliki kemampuan sebagai sumber pewarna alami . Daun ketapang juga dapat meningkatkan daya tetas telur ikan cupang . , mencegah dan mengobati infeksi jamur pada ikan . Tabel 2. Nilai standar warna ikan Channa maru pada kertas TCF No. Kode TCF Warna 133 PC 105 PC 119 PC 112 PC 126 PC 111 PC 118 PC 104 PC 103 PC 109 PC 110 PC Skoring Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Intensitas warna ikan meningkat maka nilai jual ikan Channa maru semakin seiring dengan penambahan sumber Pada penelitian ini ikan Channa karotenoid pada pakan, khususnya maru pada perlakuan ekstrak daun ketapang Senyawa karotenoid yang dan perlakuan ekstrak daun jati muncul terkandung dalam pakan diserap langsung cabung atau calon bunga. Penelitian ini oleh ikan dan dimanfaatkan sebagai pigmen menemukan bahwa pada perlakuan ekstrak untuk membentuk warna pada tubuhnya daun ketapang dan daun jati, muncul motif . alon bung. pada tubuh ikan Sebaliknya, skor terendah diperoleh Channa maru, yang dapat meningkatkan dari kelompok kontrol pada minggu ke-3 nilai estetika dan ekonomisnya. Menurut dan ke-4. Ekstrak daun jati menunjukkan Puspitasari et al. , pigmentasi ikan peningkatan skor lebih tinggi dibandingkan dipengaruhi oleh penyerapan senyawa ekstrak daun pisang pada minggu ke-6 metabolit seperti karotenoid. hingga ke-8. Dengan demikian, ekstrak daun ketapang merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan kecerahan warna ikan Channa maru. Kandungan Karotenoid pada Ikan Berdasarkan analisis ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%, perlakuan berupa ekstrak daun ketapang, daun jati, dan daun pisang terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kandungan karotenoid pada ikan Channa maru. Gambar 3 menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak karotenoid tertinggi . ,32 AAg/. , diikuti oleh daun jati . ,22 AAg/. , daun pisang . ,07 AAg/. , dan kontrol . ,06 AAg/. Perbedaan ini diduga disebabkan oleh kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin dalam ekstrak. Senyawa peningkatan warna tubuh ikan yang berpengaruh terhadap nilai estetika dan harga jual. Warna merupakan indikator daya tarik dan nilai jual ikan Channa maru, di mana warna yang cerah lebih diminati Perubahan warna pada ikan dipengaruhi oleh stres, lingkungan, dan kandungan pigmen dalam pakan. Penelitian ini menunjukkan bahwa stres menyebabkan warna ikan menjadi lebih gelap. Tidak hanya warna, bunga dan cabung . alon bung. pada ikan Channa maru juga mempengaruhi nilai jualnya. Bunga dan cabung . alon bung. adalah motif yang ada di bagian tubuh ikan Channa maru. Semakin banyak cabung . alon bung. Gambar 2. Motif bunga pada ikan Channa maru (Sumber: Instagram KKP, 2. Gambar 3. Diagram Uji Karotenoid pada Ikan Channa maru Tingkat Kelulushidupan Hasil Analysis of Variance (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak daun ketapang, daun jati, daun pisang, dan pakan ikan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelulushidupan ikan Channa maru. Nilai kelulushidupan tertinggi diperoleh dari perlakuan ekstrak daun ketapang sebesar 83%, sedangkan Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. terendah pada kontrol dan ekstrak daun pisang sebesar 50%. Secara mempengaruhi kelulushidupan pada ikan budidaya antara kualitas air seperti pH. DO, dan suhu, kemampuan adaptasi ikan terhadap lingkungan, kepadatan ikan, dan nafsu makan ikan, serta kebutuhan nutrisi Beberapa menyatakan bahwa kualitas air memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan ikan di perairan budidaya. Apabila kualitas air menurun maka ikan akan lemas dan bisa berakibat kematian mendadak . udden deat. Ae. Kelulushidupan organisme dipengaruhi oleh faktor biotik, meliputi keberadaan kompetitor, tingkat kepadatan, ukuran populasi, umur, serta kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan . bergerak, sehingga kurang menarik bagi Ikan Channa maru lebih tertarik mengkonsumsi pakan hidup dan bergerak dikarenakan pakan hidup lebih menarik dan menambah nafsu makan ikan. Penelitian yang dilakukan oleh Septiawan et al. menemukan bahwa ikan jalai (Channa marulioide. tidak merespon pakan komersil yang tidak bergerak karena tidak menarik bagi ikan. Ikan jalai akan lebih tertarik mengkonsumsi pakan yang hidup . Pertumbuhan panjang dan berat ikan dipengaruhi oleh kepadatan ikan dalam kolam budidaya . Gambar 5. Diagram Pertumbuhan Panjang Mutlak Ikan Channa maru Parameter Kualitas Air Kualitas air merupakan salah satu keberhasilan budidaya ikan, termasuk spesies Channa marulioides. Parameter fisikokimia seperti suhu, pH, dan kadar oksigen terlarut berperan penting dalam mendukung kelangsungan hidup serta optimalisasi pertumbuhan ikan. Suhu air pada kolam budidaya merupakan faktor penting yang sangat mempengaruhi aktifitas dan nafsu makan ikan. Suhu air mempengaruhi berbagai reaksi kimia yang terjadi di dalam perairan, termasuk kelarutan oksigen dan laju metabolisme Perubahan suhu ini secara langsung berdampak pada proses fisiologis ikan. Gambar 4. Diagram Kelulushidupan (SR) Panjang dan Berat Mutlak Pertumbuhan ikan merupakan aspek krusial dalam menunjang keberhasilan kegiatan budidaya, yang didefinisikan sebagai peningkatan panjang dan bobot tubuh dalam kurun waktu tertentu . Hasil ANOVA menunjukkan bahwa padat tebar dan perlakuan pakan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan mutlak ikan Channa marulioides selama 60 hari pemeliharaan. Nilai pertambahan panjang dan berat tidak berbeda signifikan antar perlakuan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pakan maggot mati yang tidak Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat Selama penelitian, suhu air berkisar 25Ae26AC, masih dalam rentang optimal untuk pertumbuhan ikan Channa maru. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pemeliharaan ikan Channa berkisar 25Ae 30AC, dengan toleransi sekitar 20Ae32AC. Stabilitas suhu sangat penting untuk menjaga pertumbuhan, kesehatan, dan kelulushidupan ikan . Nilai pH tercatat antara 7,8Ae8, sesuai dengan Muslim . yang menyatakan bahwa pH optimal untuk pemeliharaan ikan gabus adalah 6Ae8. pH di bawah 6 . dapat menekan pertumbuhan dan mempengaruhi fisiologi ikan, sedangkan pH terlalu tinggi (>8,. dapat menimbulkan stres. Menjaga kestabilan pH pada kisaran optimal mendukung pertumbuhan, daya tahan tubuh, dan tingkat kelangsungan hidup ikan Kandungan oksigen terlarut berkisar antara 5,93Ae6,34 mg/l, lebih tinggi dari ambang minimum yang dibutuhkan. Menurut Muslim . , oksigen terlarut yang ideal untuk pemeliharaan ikan channa . adalah di atas 3 mg/L, meskipun spesies ini masih mampu bertahan pada kondisi oksigen rendah berkat organ labirin. Ikan Channa maru dapat bertahan dalam kadar oksigen rendah berkat organ labirin pengambilan oksigen langsung dari udara. Gambar 6. Diagram Pertumbuhan Berat Mutlak Ikan Channa maru Ambang batas suhu mematikan bagi ikan adalah di bawah 6AC dan di atas 42AC . Siegers et al. menambahkan bahwa suhu ideal bagi pertumbuhan dan aktifitas optimal ikan budidaya berkisar antara 28-32AC. Ketika suhu turun di bawah 25AC, ikan mulai menunjukkan penurunan aktifitas dan nafsu makan. Jika suhu menurun hingga di bawah 12AC, ikan berisiko mengalami kematian akibat Sebaliknya, pada suhu di atas 35AC, ikan dapat mengalami stres dan kesulitas bernafas karena kebutuhan oksigen meningkat, sementara kemampuan air untuk melarutkan oksigen menurun. Tabel 3. Hasil pengukuran kualitas air pada setiap perlakuan Parameter Suhu (C) Oksigen terlarut . 7,80 Ae 8,14 25 Ae 26 6,34 Ae 5,37 Perlakuan 7,81 Ae 8,19 7,81 Ae 8,14 25 Ae 26 25 Ae 26 6,34 Ae 5,93 6,29 Ae 5,18 Penelitian yang dilakukan oleh Sirodiana et al. mencatat hasil pengukuran parameter kualitas air yang digunakan sebagai data pendukung dalam kegiatan pemeliharaan benih ikan gabus 7,80 Ae 8,14 25 Ae 26 6,74 Ae 5,37 meliputi: nitrit dengan kisaran 0,07Ae0,033 mg/L. amonia 0,03Ae0,13 mg/L. 80,08Ae88,09 mg/L. total fosfat 0,025Ae0,095 mg/L. nitrat 0,239Ae1,355 mg/L. 33,4Ae45,30 NTU. total padatan Putri. /Barakuda 45 7 . , 282-295 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. tersuspensi (TSS) 6,00Ae30,00 mg/L. 3,24Ae5,20. dan alkalinitas 15,00Ae20,00 mg/L . menunjukkan efektivitas yang lebih rendah. Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan dilakukan penelitian mengenai formulasi ekstrak daun ke dalam pakan fungsional agar penyerapan pigmen lebih optimal, serta pengujian dengan variasi dosis dan lama perlakuan yang lebih luas untuk menentukan dosis paling efektif. Selain itu, analisis lanjutan seperti histologi kromatofor dan ekspresi gen pigmen perlu dilakukan guna memperjelas mekanisme biologis peningkatan warna yang terjadi. KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian ekstrak daun berpengaruh nyata terhadap kecerahan warna dan kandungan karotenoid pada ikan Channa maru. Ekstrak daun ketapang (P. terbukti paling efektif berdasarkan kertas TCF serta menghasilkan kandungan karotenoid tertinggi pada tubuh ikan maupun ekstrak daunnya. Ekstrak daun jati (P. juga memberikan efek positif terhadap peningkatan warna, meskipun tidak sekuat ketapang, sedangkan ekstrak daun pisang (P. menunjukkan pengaruh paling rendah. Pemberian ekstrak daun tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelulushidupan maupun pertumbuhan panjang dan berat mutlak ikan, yang lebih dipengaruhi oleh jenis pakan serta preferensi makan ikan Channa maru. Kualitas air selama penelitian tetap berada dalam kisaran optimal sehingga tidak Dengan demikian, ekstrak daun ketapang dapat direkomendasikan sebagai bahan alami terbaik untuk meningkatkan intensitas warna dan kandungan karotenoid pada ikan Channa maru, diikuti oleh daun jati, sedangkan daun pisang kurang efektif. DAFTAR PUSTAKA SARAN