Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 9. No 1. Mei 2025 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: : https://10. 32696/ajpkm. v%vi%i. Penguatan Kapasitas Kader Dan Optimalisasi Pusat Edukasi Gizi Untuk Meningkatkan Kesehatan Balita Mudarifa Wulandari1. Putri Amelda2. Amelia Nur Sayida3. Putri Kusuma Cahyani4. Annif Munjidah5* 2,3,4 Program Studi Kebidanan. Univesitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Kota Surabaya. Indonesia Program Studi Keperawatan. Univesitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Kota Surabaya. Indonesia *Email Korespondensi: 1230022018@student. Abstrak Permasalahan utama yang diangkat adalah tingginya angka gangguan gizi pada balita di Indonesia, seperti stunting, wasting, dan underweight, yang menunjukkan bahwa upaya peningkatan status gizi anak belum optimal. Meskipun masa balita merupakan 'periode emas' untuk tumbuh kembang, nutrisi yang tidak tercukupi dapat menyebabkan gangguan gizi yang memengaruhi perkembangan organ, fungsi saraf, dan sistem kekebalan tubuh, serta menurunkan intelegensia. Selain itu, masih ditemukan keterbatasan kapasitas kader kesehatan dalam deteksi status gizi dan pemberian konseling, termasuk konseling ASI eksklusif dan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA). Akses masyarakat terhadap pusat edukasi gizi yang efektif juga masih terbatas Kata Kunci: Kader. Kesehatan Balita. Nutrisi Balita Abstract The main issue raised is the high rate of nutritional disorders among toddlers in Indonesia, such as stunting, wasting, and underweight, which indicates that efforts to improve children's nutritional status have not been optimal. Although the toddler period is the 'golden period' for growth and development, inadequate nutrition can lead to nutritional disorders that affect organ development, nerve function, and the immune system, as well as decrease intelligence. In addition, there are still limitations in the capacity of health cadres in detecting nutritional status and providing counseling, including exclusive breastfeeding counseling and Infant and Young Child Feeding (IYCF). Community access to effective nutrition education centers is also still limited. Keywords: Toddler nutrition. Stunting. Health cadres. Nutrition education centers. Exclusive breastfeeding. IYCF. Nutrition counseling. Keywords: Cadre. Toddler Health. Toddler Nutrition Submit: Mei 2025 Diterima: Mei 2025 Publish: Mei 2025 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) PENDAHULUAN Periode penting dalam tumbuh kembang anak berada pada masa balita, karena pada masa inilah perkembangan saraf otak sangat bagus dan kritis, sehingga sering disebut dengan periode Periode emas akan tercapai jika kebutuhan gizi terpenuhi secara optimal(Idayanti et al. , 2. Namun sebaliknya periode emas akan menjadi periode kritis jika nutrisi bayi atau balita tidak tercukupi, yang mana hal ini akan berpengaruh pada tunbuh kembang Gizi yang baik sangat penting untuk pertumbuhan bayi dan balita pembentukan organ dan fungsinya, serta fungsi saraf, dan sistem kekebalan Terdapat kaitan yang sangat erat antara status gizi dengan konsumsi makanan(Aryani & Syapitri, 2. Pemberian makanan yang kurang baik akan menyebabkan gangguan gizi pada bayi seperti obesitas, gizi kurang, gizi buruk, dan stunting. Gangguan gizi dapat menurunkan intelegensia pada bayi dan balita serta menurunkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit, terutama penyakit nfeksi, seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Aku. , diare, typus (Anandita & Gustina, 2. Kesehatan balita merupakan pokok utama pengembangan SDM yang berkualitas, di mana status gizi yang optimal menjadi fondasi utama dalam perkembangan anak, namun sayangnya masalah gizi pada balita masih menjadi Indonesia. Prevalensi stunting, wasting, menunjukkan bahwa upaya peningkatan status gizi anak belum sepenuhnya Data masalah gizi pada balita, seperti wasting . dan underweight . erat badan Vol. 9 No. Mei 2025 kuran. masih menjadi tantangan di banyak daerah, yang dapat berdampak jangka panjang pada kualitas hidup anak dan produktivitas bangsa. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 Capaian prevalensi stunting turun menjadi 19,8% pada tahun 2024, yang mana hal ini menunjukkan lebih baik dari target Bappenas sebesar 20,1% dan menurun dari 21,5% pada tahun 2023 namun ini masih menjadi tantangan mengingat target penurunan stunting pada 2025 adalah 18,8%, sehingga membutuhkan upaya lebih keras dan kolaborasi lebih erat. ( Kementerian Kesehatan RI. Ada beberapa faktor yang diantaranya meliputi pola pemberian makan, pengetahuan ibu, akses terhadap layanan kesehatan, dan juga edukasi gizi yang memadai(Eka Oktavia et al. Kader kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan di tingkat komunitas yang memiliki peran strategis dalam deteksi dini masalah gizi serta pemberian konseling kepada ibu dan keluarga(Kostania et al. , 2. (Erowati & Marlina, 2. Namun masih ditemukan keterbatasan kapasitas kader dalam deteksi status gizi dan pemberian konseling, termasuk konseling ASI eksklusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA)(Sukmawati et al. Beberapa peneliti menyoroti pentingnya penguatan kapasitas kader melalui pelatihan terstruktur dan pendampingan berkelanjutan. Studi oleh Abdimas . menunjukkan bahwa pelatihan dan mentoring kader secara signifikan meningkatkan pengetahuan penanganan masalah gizi balita, serta mendukung penurunan angka stunting melalui pembentukan pusat edukasi gizi berbasis komunitas(Kostania et al. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) 2. Model pelatihan partisipatif yang diterapkan di beberapa daerah terbukti efektif dalam meningkatkan cakupan ASI eksklusif dan memperkuat peran kader sebagai konselor. Selain itu, pengembangan pusat layanan konsultasi gizi anak yang mudah diakses menjadi inovasi penting untuk memperluas jangkauan edukasi dan layanan gizi di Masyarakat. Trobosan ilmiah dalam artikel ini berada pada integrasi penguatan kapasitas kader sebagai konselor ASI PMBA optimalisasi pusat edukasi gizi berbasis Pendekatan ini tidak hanya pengetahuan dan keterampilan kader, tetapi juga pada pembentukan sistem layanan konsultasi yang berkelanjutan dan mudah diakses oleh masyarakat. Sinergi antara kader, masyarakat, dan diharapkan dapat menciptakan model pemberdayaan berkelanjutan yang belum banyak diangkat dalam penelitian sebelumnya(UNICEF, 2. Dengan kapasitas kader dalam deteksi status gizi dan konseling, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap pusat edukasi gizi yang efektif. Maka penguatan kapasitas kader melalui pelatihan terpadu dan pembentukan pusat edukasi gizi yang terintegrasi dapat meningkatkan status kesehatan dan gizi balita secara Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah: Meningkatkan kesehatan balita khususnya di bidang gizi anak. Meningkatkan kapabilitas kader sebagai konselor ASI eksklusif dan PMBA. Mengembangkan pusat pelayanan konsultasi anak yang mudah Vol. 9 No. Mei 2025 Membangun kepentingan dalam peningkatan gizi anak. METODE PELAKSANAAN Metode yang diimplementasikan pada kegitan pengabdian masyarakat ini adalah penyuluhan secara langsung dengan menggunakan media PPT dan leaflet, praktek konseling pemberian makan bayi dan balita, populasi atau sasaran dalam pengabdian ini adalah seluruh kader di desa wage sidoarjo berjumlah 36 dan seluruh ibu yang mempunya anak balita di desa wage Waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah bulan juni 2025 di wilayah kelurahan wage sidoarjo. Evaluasi menggunakan kuesioner, dan lembar checklist tentang praktek pemberian makan pad abayo dan balita. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisisi deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan, yaitu : persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. pada tahap persiapan ini kami pelakukan pendekatan dan penggalian informasi masalah dengan ketua kader posyandu dan bidan desa terkait permasalahan dan perencanaan pengabdian masyarakat. Kemudian penyusunan materi, tim edukasi, eim editing, dan tim evaluasi. Sebelum memberikan kuesioner pra-kegiatan kepada para keder untuk memetakan pemahaman kelompok sasaran tentnag praktek pemberian makan bayi dan Pada tahap pelaksanaan ini tim pengmas memberikan penyuluhan atau pelatihan kader dan mengadakan praktek konseling pemberian makan Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) bayi dan balita (PMBA) yang diikuti oleh 36 kader pada tanggal 11 juni 2025 di kantor desa wage sidoarjo. Dibawah Vol. 9 No. Mei 2025 Tabel 1. Pengetahuan kader Pengetahuan 1000 hari pertama kehidupan (HKP) Gizi 1000 hari kehidupan (HKP) Jenis dan tekstur makanan MPASI Responsive Waktu MPASI Pemantauan gizi Gizi ibu hamil Gizi ibu menyusui Hambatan PMBA Peran kesehatan dalam PMBA Gambar 1. Dokumentasi acara Tim beberapan materi dan melakukan praktek konseling pemberian makan bayi dan balita (PMBA) dan juga memberikan kesempatan kepada para kader yang hadir untuk melakukan sesi tanya jawab tentang pemahaman gizi ibu hamil dan ibu menyusui, pemutusan rantai permasalahan gizi pada 1000 HKP. ASI eksklusif. MPASI, dan tehknik konseling yang benar. Para kader sangat antusias selama mengikuti acara, dan ada beberapa kader menyampaikan bahwa sesi ini sangat membantu kader untuk menjadi bekal pada saat melakukan konseling, yang pada awalnya di anggap kurang penting bagi kader. Pada tahap evaluasi tim memberikan pertanyaan secara terbuka Data pengetahuan disajikan pada tabel dibawah ini: Jawaban benar Sebelum Sesudah penyuluhan penyuluha n (%) n (%) 36 . Pada tabel 1 diatas diketahuai sebagian besar yang belum difahami oleh kelompok sasaran sebelum pemahaman gizi ibu hamil dan ibu permasalahan gizi pada 1000 HKP. ASI MPASI, konseling yang benar. Setelah dilakukan penyuluhan dan pendampingan seluruh kelompok sasaran telah memahami. Tim pengmas memberikan feedback atau umpan balik kepada kelompok sasaran di sesi akhir kegiatan. Diantaranya Tim pengmas memberikan ulasan tentang cara pemberian makan bayi dan balita yang benar, cara pemberian konseling. Hal ini sangat penting karna merupakan salah satu penguatan kapasitas kader sebagai konselor ASI eksklusif dan PMBA Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) dengan optimalisasi pusat edukasi gizi berbasis komunitas. Setelah kegiatan pembekalan kader, kemudian dilanjutkan dengan praktek konseling pada 14 posyandu di desa wage sidoarjo, pada sesi ini kader membuka layanan konseling PMBA pada setiap posyandu, kemudian kader menjadi konselor tentang haal-hal yang berkaitan dengan PMBA, dengan menerapkan trategi dan tekhnik menjadi konselor yang baik dan benar, yaitu dengan gestur yang berhadap-hadapan, komunikasi dua arah, edukasi dengan alat bantu visual dan demonstrasi, teknik motivasi, monitoring dan follow-up Vol. 9 No. Mei 2025 pelatihan intensif dan edukasi yang pengetahuan dan keterampilan kader dalam memberikan konseling terkait gizi anak. ASI eksklusif, dan PMBA. Optimalisasi fungsi posyandu sebagai pusat edukasi gizi yang mudah diakses juga terbukti efektif dalam memperluas jangkauan informasi kesehatan kepada orang tua balita. Hasil pre-test dan posttest menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kader, dan kegiatan konseling yang dilakukan langsung di posyandu mempermudah masyarakat mengenai kesehatan dan gizi balita. Sinergi antara kader, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal menjadi kunci dalam menciptakan model berkelanjutan untuk menekan angka kualitas kesehatan anak. REFRENSI Anandita. , & Gustina. Pencegahan Stunting Pada Periode Golden Age Melalui Peningkatan Edukasi Pentingnya Mpasi. Ghafur: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat, 1. , 79Ae86. https://doi. org/10. 47647/alghafur. Aryani. , & Syapitri. Hubungan Pola Pemberian Makan Dengan Status Gizi Balita Di Bagan Percut. Jurnal Keperawatan Priority, 4. , 135Ae145. https://doi. org/10. 34012/jukep. Eka Oktavia. Yulia Vanda Editia, & Mahardika Primadani. FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Kejadian Stunting Pada Balita Di Indonesia Tahun Jurnal Ventilator, 2. , 158Ae https://doi. org/10. 59680/ventilator. Gambar 2 Dokumentasi posyandu dan praktek Konseling kader di kegiatan Pada kegiatan ini kader menyampaikan bahwa membuka konseling di meja posyandu itu sangat membantu warga untuk lebih mudah mendapatkan informasi tentang PMBA dan juga keberlanjutan kesehatan anak. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas kader posyandu melalui Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Erowati. , & Marlina. Room Civil Society Development Pendampingan Kader Posyandu untuk Meningkatkan Kemampuan Konseling Gizi dalam Pencegahan Stunting. Room of Civil Society Development, 4. , 543Ae https://doi. org/https://doi. org/10. 110/rcsd. Fitriani. EVALUASI PELATIHAN KONSELING PEMBERIAN MAKAN BAGI BAYI DAN ANAK (PMBA) DI BAPELKES MATARAM. JURNAL SANGKAREANG MATARAM, 9. , 1-6. Kostania. Cahyani. Rosmalawati. , & Nurmayanti. The Health Cadres Assistance Program Through the Establishment of Complementary Feeding Corners as a Preventive Effort to Address Child Nutrition Issues. ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 8. , 866Ae876. https://doi. org/10. 35568/abdimas. Kementerian Kesehatan RI. Survei Status Gizi Indonesia Dalam Angka. Meilinasari. Rahmawati. Marbun. Dumaria. Suharyati. , & Fitriyanti. Keterampilan Konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) Bagi Kader Posyandu. Jurnal Pengabdian Kesehatan Beguai Jejama, 2. Noprida. Polapa. Imroatun. Agustia. Sutini. Purwati. , & Apriliawati. Pengaruh pelatihan kader posyandu terhadap peningkatan pengetahuan tentang skrining pertumbuhan dan Vol. 9 No. Mei 2025 perkembangan balita dengan KPSP Wilayah Pasar Rebo. Jurnal Pengabdian Masyarakat Saga Komunitas, 1. , 62-68. Oktaviani. Yanti. Faidah. Muliawati. , & Adiputra. Pemberdayaan Kader Kesehatan Mendeteksi Dini Stunting Pada Balita. J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 1. , 26912698. Sukmawati. Wijaya. , & Hilmanto, . Participatory Health Cadre Model to Improve Exclusive Breastfeeding Coverage KingAos Conceptual System. Journal of Multidisciplinary Healthcare, 17(Marc. , 1857Ae1875. https://doi. org/10. 2147/JMDH. S45 UNICEF. Delivering Essential Nutrition Services Through Community Action in. In For Every Child.