SESAWI Article Histori: JURNAL TEOLOGI DAN PENDIDIKAN KRISTEN VOLUME 6. NO 2 JUNI 2025 Availble at: http://sttsabdaagung. Submited Reviewed Acepted Published : 24/01/2025 : 15/04/2025 : 04/06/2025 : 27/06/2025 RELASIONALITAS ILAHI DAN SECONDARY CAUSES: ANALISIS NARATIF-SISTEMATIK TERHADAP KETEGANGAN TEOLOGIS DALAM KITAB 2 RAJA-RAJA Refamati Gulo. Syalom Denish Imanuell Sahapudi. Debora Sekolah Tinggi Teologi Rajawali Arastamar Indonesia Batam Email Korespondensi:refamatigulo472@gmail. Abstract This study analyzes the theological tension between human free will and divine sovereignty through a systematic examination of the monarchical narrative in the book of 2 Kings. Using a qualitative-contextual approach that integrates biblical hermeneutics and systematic theology, this study examines theological paradoxes such as the change in God's decision to Hiskiah's prayer and the incongruity of Hulda's prophecy with Josiah's tragic Through narrative-systematic analysis and synthesis with the thoughts of Reformed theologians such as Calvin and Berkhof, the study found that such paradoxes do not indicate divine limitation or inconsistency, but rather reveal the relational dimension of God working through the structures of time and history without losing His eternal The results show that the monarchical system in 2 Kings, although marked by moral and spiritual failure, remains a providential instrument through which God fulfills His eternal purposes through the concepts of secondary causes and relational mutability. The study concludes that the tension between free will and divine sovereignty in Israel's monarchical narrative is not a contradiction that undermines the consistency of systematic theology, but rather a space where the complexity of God's providence is authentically manifested, affirming that God is fully sovereign over history while allowing for meaningful human participation in His plan of salvation. Keywords: Monarchy. Providence. Systematic Theology. 2 Kings Abstrak Penelitian ini menganalisis ketegangan teologis antara kehendak bebas manusia dan kedaulatan ilahi melalui telaah sistematik terhadap narasi monarki dalam kitab 2 RajaRaja. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-kontekstual yang mengintegrasikan hermeneutika biblika dan teologi sistematik, penelitian ini mengkaji paradoks-paradoks teologis seperti perubahan keputusan Allah terhadap doa Hiskia dan ketidaksesuaian nubuat Hulda dengan kematian tragis Yosia. Melalui analisis naratif-sistematik dan sintesis dengan pemikiran teolog Reformed seperti Calvin dan Berkhof, penelitian ini menemukan bahwa paradoks-paradoks tersebut tidak menunjukkan keterbatasan atau inkonsistensi ilahi, melainkan mengungkapkan dimensi relasional Allah yang berkarya melalui struktur waktu dan sejarah tanpa kehilangan atribut kekal-Nya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem monarki dalam 2 Raja-Raja, meskipun ditandai kegagalan moral dan CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. spiritual, tetap menjadi instrumen providensial di mana Allah menggenapi maksud kekalNya melalui konsep secondary causes dan relational mutability. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketegangan antara kehendak bebas dan kedaulatan ilahi dalam narasi monarki Israel bukan kontradiksi yang menggugurkan konsistensi teologi sistematik, tetapi justru menjadi ruang di mana kompleksitas providensia Allah termanifestasi secara autentik, menegaskan bahwa Allah berdaulat penuh atas sejarah sambil memungkinkan partisipasi manusia yang bermakna dalam rencana keselamatan-Nya. Kata kunci: Monarki. Providensi. Teologi Sistematika, 2 Raja-Raja PENDAHULUAN Kitab 2 Raja-Raja merupakan bagian penting dari narasi sejarah Israel dalam Alkitab Ibrani yang mendokumentasikan kemerosotan spiritual dan politik Israel dan Yehuda melalui kepemimpinan raja-raja mereka. Sebagai lanjutan dari 1 Raja-Raja, kitab ini menampilkan dinamika kekuasaan monarki yang sering kali gagal merepresentasikan ketetapan ilahi, serta mencerminkan paradoks antara kehendak bebas manusia dan kedaulatan Tuhan. Dalam bahasa Ibrani, kitab ini disebut AuMelakhimAn . aja-raj. , menunjukkan fokus naratif pada suksesi dinasti dan kekuasaan pemerintahan. Namun, di balik narasi politik ini tersembunyi dimensi teologis yang kompleks, terutama berkaitan dengan doktrin providensia dan otoritas ilahi dalam sejarah umat pilihan. Studi atas monarki Israel dalam 2 Raja-Raja tidak hanya mengungkapkan kemerosotan moral sebagian besar raja . 2 Raj. 17:7-. , tetapi juga menyiratkan realitas bahwa Tuhan tetap memegang kendali penuh dalam skenario sejarah, bahkan ketika raja-raja bertindak bertentangan dengan kehendak-Nya. Sebagaimana ditegaskan oleh Konkel, kitab ini merekam pemeliharaan Allah di tengah kekacauan politik dan spiritual 1 Dengan demikian, sistem monarki, meskipun tidak ideal . 1 Sam. menjadi sarana Allah untuk menggenapi maksud kekal-Nya. Konteks ini memperkenalkan ketegangan teologis yang telah lama menjadi objek diskusi, yaitu relasi antara kehendak bebas manusia dan kedaulatan ilahi, yang menegaskan bahwa ketegangan antara kedaulatan ilahi dan tindakan/tanggung jawab manusia adalah pusat untuk memahami narasi dalam 1 dan 2 Raja-raja serta pesannya. 2 juga Allah sebagai yang Mahakuasa secara mutlak dalam sejarah, memerintah atas Israel dan semua bangsa lain. 3 Raja-raja seharusnya menjadi pelayan Allah dan umat-Nya, namun pilihan mereka untuk tidak menaati perjanjian dan menyembah berhala membawa konsekuensi serius, yang pada akhirnya mengarah pada penghakiman Allah yang adil. Beberapa studi sebelumnya telah menyoroti aspek historis atau naratif dari kitab ini, namun belum banyak yang secara eksplisit memfokuskan pada dimensi sistematik-teologis mengenai relasi antara monarki, kehendak bebas, dan kedaulatan Allah secara terpadu. Misalnya. Barnes menekankan pentingnya kesetiaan kepada perjanjian dalam menilai Agust H. Konkel. The NIV Application Commentary: 1 & 2 Kings (Michigan: Zondervan, 2. Paul R. House. NIV The American Commentary An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture: 1, 2 Kings (B&H Publishing Group, 2. , 230, 481. House. NIV The American Commentary An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture: 1, 2 Kings, 21. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. legitimasi kepemimpinan, sebagaimana diungkapkan dalam perjanjian dan Taurat Musa. Namun, masih terdapat gap yang signifikan dalam literatur yang membahas bagaimana sistem monarki menjadi ilustrasi konkret dari ketegangan antara kehendak bebas manusia dan kehendak mutlak Allah dalam kerangka teologi sistematik. Seperti bagaimana kitab Raja-raja secara tegas menyatakan bahwa perpecahan kerajaan setelah Salomo adalah kehendak Allah itu sendiri . Raj. 12:1-. Allah membangkitkan musuh-musuh melawan Salomo . Raj. Tindakan Yerobeam dalam menetapkan tempat ibadah baru, meskipun atas nasihat penasihatnya, pada akhirnya merupakan pemenuhan firman Tuhan melalui nabi Ahia . Raj. 12:25-. paradoks berdasarkan penyataan kehendak Allah melalui Nabi Yesaya dan kehendak Allah yang berubah setelah doa Hiskia . Raj. 20:1-. Nubuat yang tidak terpenuhi seperti nubuat nabi Hulda kepada Yosia bahwa dia akan mati dengan damai . Raj. 22:18-. , namun Yosia mati terbunuh di Megido . Raj. 23:29-. Sehingga dengan demikian tanpa pemahaman yang memadai, ungkapan Barnes akan menyisihkan dan berpotensi mengundang begitu banyak pertanyaan umum mengenai iman kekristenan dan sebagai orang Kristen harus bisa mempertanggung-jawabkan hal-hal seperti ini. Dengan demikian telaah penelitian ini, penulis berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan pendekatan sistematik yang memadukan bacaan naratif terhadap kitab 2 Raja-Raja dengan pemikiran teolog-teolog besar, seperti Agustinus dan John Calvin. Dalam konteks inilah, monarki dalam 2 Raja-Raja tidak hanya menjadi catatan historis, melainkan ruang reflektif untuk menilai ulang kerangka metafisika dan sistematika teologi Kristen tentang providensia, kehendak, dan tanggung jawab. Sebagaimana dinyatakan oleh Berkhof dalam kerangka teologi Reformed, kehendak Allah meliputi segala hal, baik secara langsung maupun permisif, termasuk dalam konteks pemerintahan manusia. Dengan pendekatan ini, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi makna teologis dari institusi monarki dalam 2 Raja-Raja sebagai ekspresi ketegangan antara kehendak bebas dan kedaulatan Allah, serta untuk menunjukkan bagaimana pemahaman tersebut dapat memperdalam teologi providensia secara sistematik. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya diskursus teologi sistematik kontemporer dan membuka dialog antara narasi biblika, teologi historis, serta refleksi doktrinal dalam memahami cara Allah berkarya melalui struktur politik manusia yang rapuh. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-kontekstual yang bertumpu pada analisis teologi sistematik dengan pembacaan naratif terhadap teks-teks kunci dalam kitab 2 Raja-Raja. Fokus utama dari pendekatan ini adalah untuk menelaah bagaimana sistem monarki dalam narasi alkitabiah dapat menjadi locus teologis bagi paradoks antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Oleh karena itu, penelitian ini bersifat interdisipliner dengan mengintegrasikan elemen-elemen dari hermeneutika biblika, teologi sistematik, dan filsafat teologi. Pendekatan ini sejalan dengan panduan penelitian kualitatif Wiliam H. Barnes. Cornerstone Biblical Commentary: 1-2 Kings (Illinois: Tyndel House Publisher, 2. , 81-82. Louis Berkhof. Systematic Theology (Grand Rapids. Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1. , 181. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. sebagaimana dikemukakan oleh Creswell yang menekankan pentingnya pemahaman mendalam atas makna dibalik fenomena, yaitu penelitian kualitatif dimulai dengan asumsi dan penggunaan kerangka kerja interpretatif/teoretis yang menginformasikan studi terhadap masalah penelitian yang membahas makna yang diberikan individu atau kelompok terhadap masalah sosial atau manusia, yang tujuannya adalah untuk mempelajari masalah yang ada melalui pendekatan kualitatif yang berkembang. dan laporan akhir mencakup deskripsi dan interpretasi masalah yang kompleks melalui interaksi dengan teks,6 dan tradisi teologis. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dokumen, yang mencakup sumber primer berupa teks Kitab Suci, khususnya kitab 2 Raja-Raja serta didukung dengan referensi dari kitab-kitab terkait seperti 1 Samuel. Yesaya, dan narasinarasi relevan lainnya. Sumber sekunder terdiri dari karya-karya teolog klasik dan kontemporer, termasuk di antaranya John Calvin. Agustinus. Martin Luther. Louis Berkhof, serta teolog modern seperti John Sanders dengan pemikirannya mengenai Open Theism. Literature tambahan seperti komentar Alkitab dari Konkel. House, dan Barnes juga digunakan sebagai pijakan naratif dan kontekstual untuk memahami latar teologis dan Metode analisis data yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan teologi naratif-sistematik. Analisis dilakukan dalam beberapa tahap, dimulai dari identifikasi peristiwa-peristiwa utama dalam kitab 2 Raja-Raja yang berkaitan dengan dinamika kehendak manusia dan intervensi ilahi. dilanjutkan dengan pembandingan terhadap konstruksi teologis dari berbagai tradisi utama seperti Reformed dan Open Theism. kemudian dilakukan sintesis antara bacaan naratif dan sistematik untuk mengonstruksi pemahaman yang koheren tentang doktrin providensia dan kehendak bebas. dan akhirnya dirumuskan refleksi teologis dan implikasi doktrinal bagi kehidupan iman Kristen kontemporer, dan untuk menjamin validitas dan kredibilitas hasil penelitian, penulis melakukan triangulasi literatur dengan membandingkan dan mengkaji beragam sumber akademik yang relevan, baik yang bersifat historis maupun sistematik. Penelitian ini secara sadar menghindari penggunaan sumber-sumber populer yang berkemungkinan tidak memenuhi standar akademik seperti penggunaan website maupun Wikipedia, dan cenderung lebih mengandalkan sumber-sumber primer dan sekunder yang telah melalui proses publikasi ilmiah dan diakui secara luas di dalam studi teologi. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk memahami kompleksitas relasi antara kehendak bebas manusia dan kedaulatan Allah dalam kitab 2 Raja-Raja, diperlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat naratifdeskriptif, tetapi juga teologis-sistematik. Kitab ini bukan semata-mata catatan historis tentang kejatuhan moral dan politis Israel dan Yehuda, melainkan menekankan sebagian besar kebenaran teologis yang agung dari Kitab Suci,7 seperti locus theologicus yang mengungkapkan dinamika providensia ilahi dalam konteks sejarah manusia yang rapuh. John W. Creswell and Cheryl N. Poth. Qualitative Inquiry & Research Design, 4th ed. (London: SAGE Publication. Inc, 2. , 8, 43. House. NIV The American Commentary An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture: 1, 2 Kings, 46. Konkel. The NIV Application Commentary: 1 & 2 Kings, 89. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Ketegangan antara kebebasan manusia dan kedaulatan Allah yang muncul dalam narasi seperti doa Hiskia dan kematian Yosia membuka ruang reflektif untuk menilai kembali bagaimana Allah bekerja tidak hanya secara transenden, tetapi juga secara relasional dan partisipatif dalam sejarah seperti respon terhadap dosa,9 maupun terhadap doa yang menjadikan manusia memiliki keterlibatan di dalam strategi dan operasi kerajaan Allah. Sebagaimana ditegaskan oleh Louis Berkhof, kehendak Allah yang kekal mencakup baik peristiwa langsung maupun melalui secondary causes, termasuk keputusan-keputusan 11 Oleh karena itu, bagian ini akan membahas hasil analisis terhadap kitab 2 RajaRaja dengan menelusuri kontribusi naratifnya terhadap pemahaman sistematik mengenai providensia, legitimasi monarki, dan peran aktif manusia dalam rancangan kekal Allah. Keteguhan Naratif dan Providensia Ilahi Sebagai bagian dari sejarah Deuteronomistik, kitab ini mencatat keruntuhan moral, spiritual, dan politik Israel serta Yehuda, namun juga memperlihatkan kehadiran providensia Allah yang aktif di balik kejatuhan tersebut. Allah digambarkan sebagai penguasa tertinggi atas semua bangsa dan pemerintahan. 12 Dialah yang menentukan siapa yang naik takhta dan siapa yang jatuh. 13 Providensia Allah terwujud dalam penghakiman yang membawa kehancuran atas dosa Israel dan Yehuda, tetapi juga dalam belas kasihan yang menunda penghakiman atau memungkinkan pemulihan sementara. Kedaulatan Allah memungkinkan penghakiman yang "diperlukan". 14 Ketika para raja seperti Yerobeam. Ahab, dan Manasye gagal memenuhi perjanjian Allah, teks tetap menegaskan bahwa keputusan-keputusan mereka tidak melampaui rencana ilahi. Dalam 1 Raja-Raja 12:15 dan 2 Raja-Raja 17:7-23, misalnya, jelas bahwa kehendak Tuhan menjadi dasar dari peristiwa politik besar sekalipun. Hal ini sejalan dengan House yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar lingkup kedaulatan Allah dan hal ini buakanlah suatu 15 Allah berdaulat dalam segala sesuatu. Calvin menggambarkan providensi Allah sebagai kekuatan yang tidak hanya menggerakkan alam semesta secara umum, tetapi juga menopang, memelihara, dan memperhatikan segala sesuatu yang telah Ia ciptakan, bahkan sampai burung pipit 16 Ia memerintah . atas manusia dan makhluk lainnya, membelokkan ke mana pun Ia berkenan rencana, kehendak, upaya, dan kemampuan mereka, juga tidak ada yang Bruce A. Ware. GodAos Greater Glory: The Exalted God of Scripture and the Christian Faith (Wheaton. Illinois: Crossway Books, 2. , 28. Ware. GodAos Greater Glory: The Exalted God of Scripture and the Christian Faith, 221. John Calvin. Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill. Vol. (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 295. Berkhof. Systematic Theology, 110. Richard D. Patterson and Hermann J. Austel. The ExpositorAos Bible Commentary: 1&2 Kings (Grand Rapids. Michigan: Zondervan, 2. , 59. House. NIV The American Commentary An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture: 1, 2 Kings, 89, 107. Konkel. The NIV Application Commentary: 1 & 2 Kings, 31. House. NIV The American Commentary An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture: 1, 2 Kings, 230. John Calvin. Institutes of The Christian Religion, ed. John T. McNeill. Vol. (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 197-198. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. terjadi secara kebetulan. 17 Bahkan ketika keadaan terlihat kacau bagi manusia, itu diperintah oleh tatanan rahasia Allah. Narasi kitab 2 Raja-Raja memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembentukan kerangka teologi sistematik mengenai hubungan antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Para editor Deuteronomistik memiliki pendekatan teologis terhadap sejarah. Mereka melihat diri mereka sendiri "sebagai nabi-nabi yang menjalankan tugas berat untuk mengungkapkan pekerjaan Allah dalam sejarah bangsa itu",19 dan narasi disusun untuk menunjukkan bahwa peristiwa sejarah, termasuk pergantian raja dan perang, adalah cerminan dari kehendak dan penghakiman Allah. Bagi Barnes, kitab 2 Raja-Raja menggunakan pola dan formula yang khas untuk raja-raja Yehuda dan Israel. 20 Ini termasuk formula aksesi, ringkasan pemerintahan, catatan kematian/penguburan, dan evaluasi teologis tentang raja yang juga diiringi dengan pengulangan formula . isalnya, "melakukan apa yang jahat di mata TUHAN seperti Yerobeam anak Nebat")21 memperkuat pesan teologis tentang penyebab kejatuhan kerajaan utara. Pengulangan elemen-elemen tertentu adalah teknik yang digunakan untuk menyampaikan hal-hal penting dalam urutan peralihan kekuasaan dan untuk menekankan tema-tema. Misalnya, pengulangan pertanyaan "Siapa yang akan menjadi raja berikutnya?" menyoroti ketidakpastian suksesi di luar penunjukan ilahi. 22 Pengulangan frasa seperti "kuda dan kereta perang Israel" dalam konteks Elisa dan Elia menunjukkan bahwa kehadiran nabi lebih efektif secara militer daripada kekuatan militer raja. 23 Editor Kitab ini juga sering menjajarkan cerita-cerita yang berbeda, bahkan dari tradisi yang mungkin awalnya independen, untuk menciptakan kontras dan menekankan poin-poin teologis. Contohnya adalah penjajaran cerita-cerita Elisa yang menunjukkan kuasa Allah . an kebaikan Elis. dengan cerita-cerita yang menunjukkan kelemahan dan kegagalan raja-raja Israel atau perwira mereka. 25 Kontras antara hamba Elisa yang setia dan perwira raja yang tidak setia menyoroti pentingnya iman dan ketaatan kepada Allah. Sehingga secara keseluruhan, keteguhan naratif dalam 2 Raja-raja, yang diwujudkan melalui gaya penyuntingan yang konsisten, penggunaan formula dan pola berulang, serta penjajaran cerita-cerita, berfungsi sebagai kerangka untuk menyajikan dan menafsirkan sejarah Israel dan Yehuda melalui lensa Providensia Ilahi. Narasi tersebut tidak hanya melaporkan peristiwa-peristiwa politik, sosial, dan agama, tetapi juga secara tegas menunjukkan bagaimana Allah berdaulat atas semuanya, membawa penghakiman atas dosa, menunjukkan belas kasihan, dan memenuhi janji-janji-Nya, yang sering kali melalui cara-cara yang mengejutkan dan menggunakan agen manusia, bahkan yang jahat, untuk Calvin. Institutes of The Christian Religion, 218. Calvin. Institutes of The Christian Religion, 208. Konkel. The NIV Application Commentary: 1 & 2 Kings, 490. William H. Barnes. I-II Kings: Cornerstone Biblical Commentary (Illinois: Tyndel House Publisher, 2. , 77. Marvin A. Sweeney. I & II Kings A Commentary (London: Westminster John Knox Press, 2. Konkel. The NIV Application Commentary: 1 & 2 Kings, 82. Sweeney. I & II Kings A Commentary, 376. Sweeney. I & II Kings A Commentary, 415. Barnes. I-II Kings: Cornerstone Biblical Commentary, 578. Sweeney. I & II Kings A Commentary, 417. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. mencapai tujuan-Nya yang lebih besar. Legitimasi dan Peran Monarki dalam Skenario Allah Sebagai proposisi kedepan. Monarki dalam 2 Raja-Raja, meskipun penuh cacat, tetap menjadi instrumen providensia ilahi. Agustinus dalam City of God menegaskan bahwa Providence Ilahi sendiri yang menjelaskan pendirian kerajaan-kerajaan di antara Allah tidak membiarkan apa pun tidak teratur, yang bahkan tindakan "kebiadaban" dari penguasa duniawi berada dalam kendali-Nya. 27 Dia memerintah dan mengatur segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, dan alasan-Nya mungkin tersembunyi, tetapi tidak pernah tidak adil. Patterson dalam hal ini menegaskan bahwa kerajaan-kerajaan dalam Alkitab adalah bayang-bayang dari Kerajaan Kristus yang akan 28 Narasi dalam Kitab 2 Raja-Raja menggambarkan bahwa sistem monarki Israel tidak lahir dari inisiatif Allah secara langsung, tetapi sebagai respons terhadap desakan umat untuk menyerupai bangsa lain . Sam. 8:5-. 29 Permintaan ini ditafsirkan sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan Allah, tetapi secara paradoks diakomodasi oleh Allah dan bahkan disahkan melalui peran nabi. Dalam struktur teologi Deuteronomistik, legitimasi seorang raja tidak hanya diukur dari garis keturunan, tetapi terutama dari ketaatannya kepada hukum Tuhan dan kesetiaannya pada perjanjian. 30 Konkel sendiri menekankan bahwa relasi antara raja dan nabi menjadi indikator utama dalam menilai otoritas raja, karena nabi berperan sebagai pengawal kehendak Allah dalam politik 31 Sweeney menyebutkan bahwa dalam pandangan teologi kenegaraan Israel, hukum Allah merupakan dasar legitimasi politik, bukan kekuatan militer atau popularitas. Sehingga klasifikasi ini seharusnya menjadi dasar berdirinya seorang raja manusia yang Namun, catatan sejarah dalam 2 Raja-Raja memperlihatkan bahwa banyak raja menyalahgunakan otoritasnya dan menyimpang dari hukum Tuhan. Raja seperti Yerobeam. Ahab, dan Manasye menjadi simbol kehancuran spiritual melalui sinkretisme dan Bagi Calvin Monarki rentan terhadap tirani di dalam kasus aristokrat. 33 dan nyatanya skenario kepemimpinan setiap raja yang ada, baik di dalam kitab . -2 Samuel hingga 1-2 Raja-Raj. sebagian besar bersifat aristokrasi dan itu cukup kontras dengan konsep demokrasi. Kita bisa melihat seperti Saul yang mendapat hak istimewa untuk menjadi raja yang pertama berdasarkan pilihan umat Israel. kemudian digantikan oleh Daud yang digadang-gadang sebagai sistem pemerintahan yang mencapai legitimasi Allah. kemudian digantikan oleh Salomo dan diikuti oleh beberapa garis keturunannya yang menjadi suksesi kekaisaran dari Daud. ataupun juga kita bisa melihat garis keturunan dari Yerobeam. Rehabeam dan seterusnya ataupun juga Omri dengan garis keturunannya yang ditutup oleh Ahazia setelah melakukan konservasi dengan Elia. ataupun Ahas yang Saint Augustine. The City of God Book I-VII. Vol. (Washington D. : The Catholic University of America Press, 1. , 27. Patterson and Austel. The ExpositorAos Bible Commentary: 1&2 Kings, 95. Adi Putra. AiMonarki: Penolakan Terhadap Teokrasi,An OSF Preprints, no. July . : 1. Patterson and Austel. The ExpositorAos Bible Commentary: 1&2 Kings, 58-59. Konkel. The NIV Application Commentary: 1 & 2 Kings, 15. Sweeney. I & II Kings A Commentary, 44. John Calvin. Institutes of the Christian Religion (Edinburgh: Monergism, n. ), bk. 4 Chapter 20. Section 8. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. dilanjutkan oleh anaknya yang menjadi Raja yang cukup baik untuk mengembalikan adat dan etika hidup benar yang memandang kepada Allah dan menentang penyimpangan oleh Ahas, yaitu Raja Hizkia. Dari sini penulis maupun pembaca bisa menyadari dan menemukan juga hampir sebagian besar kepemimpinan itu merujuk kepada kekaisaran yang bersifat tirani dan memang demikian sebagaimana yang tercatat di dalam kitab 2 Raja-Raja, sebagian besar raja yang ada dalam kitab ini mementingkan apa yang menjadi keperluan dia secara pribadi dan melanggar perjanjian dengan Tuhan. Meskipun demikian. Allah tidak membatalkan sistem monarki, tetapi justru tetap bekerja di dalamnya. Hal ini dapat dilihat dalam kerangka sistematik Brueggemann yang menyatakan bahwa monarki merupakan arena dialektis di mana ketegangan antara janji Allah dan kegagalan manusia terungkap. 34 Hal ini sejalan dengan Childs yang menekankan bahwa Kitab Raja-Raja memiliki misi teologis untuk menunjukkan bahwa meskipun struktur politis dapat gagal, kehendak Tuhan tetap berjalan. Bahkan reformasi yang dilakukan Yosia . Raj . pun tidak cukup untuk membatalkan keputusan ilahi mengenai pembuangan, menunjukkan bahwa legitimasi spiritual tidak selalu paralel dengan reformasi Dengan demikian, sistem monarki dalam 2 Raja-Raja bukan hanya fenomena politis, melainkan instrumen providensial dalam narasi besar Allah. Legitimasi monarki diukur bukan dari keberhasilannya secara duniawi, tetapi dari kesesuaiannya dengan tujuan ilahi, yaitu membawa umat kepada pengenalan akan Allah yang sejati dan menyongsong kerajaan yang kekal di dalam Kristus. Titik Paradoks Teologis Di sisi lain, peran aktif manusia juga tidak diabaikan. Dalam 2 Raja-Raja 20:1-11, doa Hiskia menyebabkan perubahan keputusan Allah yang menjadi paradoks akan providensi Allah yang digambarkan konsisten. Dalam narasinya, nabi Yesaya sudah memberitahukan kepada Hizkia akan firman Tuhan bahwa tidak lama lagi jika dia akan mati karena sakit dan tidak akan sembuh . Raj. 20:1-. , namun Hizkia berpaling kedinding, berdoa dan kemudian disembuhkan, bahkan dianugerahkan hidup selama 15 tahun kedepan oleh Allah . Raj. Salah satu paradoks yang lebih tajam juga muncul dalam kisah Raja Yosia: nubuat damai dari nabi Hulda . Raj. kontras dengan kenyataan kematian Yosia di Megido ketika dalam perang . Raj. Nubuat yang ada menyiratkan bahwa Yosia akan mati dalam damai, sebelum murka Allah dijatuhkan atas Yehuda. Namun, dalam 2 Raja-Raja 23:29, realitas yang terjadi tampak bertentangan: Yosia nyatanya tewas secara tragis dalam pertempuran di Megido oleh tangan Firaun Nekho dari Mesir. Ketidaksesuaian antara janji damai dalam nubuat dan kematian Yosia yang penuh kekerasan menimbulkan pertanyaan teologis yang penting: apakah nubuat Hulda gagal? Apakah ini menunjukkan perubahan dalam kehendak Allah, atau bahkan keterbatasan dalam pengetahuan atau kuasa-Nya? Dalam narasi 2 Raja-raja masih ada juga beberapa paradoks lain. Dalam kasus mujizat Elia dan Elisa . Raj. , paradoks muncul saat Allah melakukan tindakan supranatural dalam konteks moral yang buruk tanpa membawa reformasi kolektif. Bahkan dalam reformasi besar Yosia . Raj. Allah tetap menjatuhkan hukuman atas Yehuda. Paradoks-paradoks ini menegaskan bahwa Kitab 2 Raja-Raja bukan hanya catatan sejarah, melainkan narasi teologis kompleks yang menantang teologi deterministik dan Walter Bruggemann. The Prophetic Imagination (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 28. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. mengundang pembacaan dalam kerangka open theism, middle knowledge, dan respon Reformed klasik. Tuhan berdaulat, namun bekerja secara relasional dan misterius, menyatakan kehendak-Nya melalui sejarah yang sering tampak tidak teratur namun diarahkan menuju penggenapan rencana kekal-Nya Evaluasi Pandangan Teologi Sistematik Berkaitan dengan paradoks-paradoks sebelumnya. John Sanders menjadi salah satu tokoh yang menganut pandangan teologi AiOpen TheismAn berpendapat bahwa Allah dalam Alkitab sering digambarkan sebagai merespons tindakan manusia, mengubah rencana-Nya, dan bahkan terkejut oleh keputusan manusia. Misalnya, dalam kasus doa Hiskia yang menjadi dasar sanders yang kemudian menjelaskan jika hal ini menyebabkan Allah memperpanjang hidupnya, menunjukkan bahwa kehendak Allah dapat berubah dalam interaksi dengan manusia. 35 Cassian juga terhadap kasus Hizkia, secara eksplisit menyatakan bahwa Allah karena belas kasihan dan kebaikan, memilih untuk melanggar firman-Nya . esan awal melalui Yesay. dan memperpanjang hidup Hizkia. 36 Cyril dari Yerusalem juga menjelaskan bagaimana Hizkia pada dasarnya dapat membatalkan ketetapan Allah dengan melalui doa, kerendahan hati, dan pertobatan. 37 Yang dimana penekanan dari pandangan ini ialah ketetapan Allah yang bisa berubah melalui pengaruh Sekilas memang secara manusiawi dan mungkin pemikiran awam, ungkapanugkapan sebelumnya memang terlihat masuk akal, ketika melihat penggambaran Allah yang relevan dengan situasi kondisi hati manusia. Namun hal yang perlu disadari ialah sebuah keadaan dimana ungkapan sebelumnya condong menempatkan karakterisasi dan klasifikasi entitas Allah yang hanya sejalan atau sesuai dengan hasil logis atau standarisasi ontologis manusia, yang nyatanya secara antropologis pemikiran dan hikmat manusia berada pada status terbatas dan tidak sempurna yang disebabkan oleh kejatuhan manusia. Sehingga disini penulis menemukan adanya suatu penggambaran entitas Tuhan yang terbatas terhadap kehendak manusia dan tidak konsisten terhadap ketetapannya. Sanders juga disisi lain menyatakan bahwa ini adalah bukti bahwa Allah bersedia merespons manusia secara dinamis. 38 Perspektif ini diperluas dalam open theism, yang menyatakan bahwa masa depan bersifat terbuka untuk memungkinkan relasi otentik antara Allah dan manusia sebagaimana yang dipaparkan oleh Pinnock,39 bahkan Tuhan digambarkan tidak mengetahui masa depan yang pasti secara rinci . xhaustive definite foreknowledg. karena tindakan bebas makhluk ciptaan belum menjadi kenyataan dan oleh karena itu tidak dapat diketahui dengan kepastian penuh. 40 Sebuah penggambaran entitas John Sanders. AiAn Introduction to Open Theism,An Reformed Review 60, no. : 38, https://repository. edu/pkp/index. php/rr/article/view/1586. Marco Conti and Gianluca Pilara. Ancient Christian Commentary on Scripture: 1-2 Kings, 1-2 Chronicles. Ezra. Nehemiah. Esther-Old Testament ACCS-V, ed. Thomas C. Oden (Downers Grove. IL: InterVarsity Press, 2. , 263. Conti and Gianluca Pilara. Ancient Christian Commentary on Scripture: 1-2 Kings, 1-2 Chronicles. Ezra. Nehemiah. Esther-Old Testament ACCS-V, 264. John Sanders. The God Who Risks: A Theology of Divine Providence (USA: InterVarsity Press, 2. , 12. Clark H. Pinnock. AiOpen Theism: An Answer to My Critics,An Dialog: A Journal of Theology 44, 3 . : 237. Pinnock. AiOpen Theism: An Answer to My Critics,An 238. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Allah yang benar-benar terbatas terhadap rancangannya sendiri. Namun, pandangan ini dikritik keras oleh teolog Reformed seperti Louis Berkhof dan John Calvin. Calvin menegaskan bahwa sejarah merupakan hasil dari ketetapan kekal Allah, termasuk sistem monarki yang rusak sekalipun, karena para penguasa dan raja diangkat oleh Allah itu sendiri. 41 Calvin dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak hanya mengetahui peristiwa-peristiwa masa depan, tetapi Ia mengetahui hal itu hanya karena Ia telah menetapkan . bahwa peristiwa-peristiwa itu terjadi. Ini secara langsung menolak gagasan bahwa masa depan bersifat terbuka dan tidak diketahui secara pasti oleh Allah karena kebebasan manusia. Bagi Calvin, pengetahuan Allah . bergantung pada keputusan-Nya . , bukan sebaliknya. 42 Berkhof juga menjelaskan jika Allah itu mandiri . dalam keberadaan-Nya, kebajikan-Nya, ketetapanNya, dan pekerjaan-Nya. 43 Kehendak Allah tidak dapat ditahan oleh kehendak manusia sedemikian rupa sehingga mencegah-Nya melakukan apa yang Ia kehendaki. 44 Meskipun Allah menganugerahi manusia kebebasan, kehendak-Nya mengendalikan tindakan mereka. Dalam kasus Hiskia. Cassian dan Cyril dari Yerusalem, menafsirkan perubahan ini sebagai bentuk kemurahan hati Allah yang seolah-olah "melanggar" ketetapan-Nya demi merespons kerendahan hati manusia. Namun sekali lagi, pandangan ini dapat menimbulkan kesan bahwa Allah tidak konsisten atau dapat berubah-ubah, bertentangan dengan atribut keilahian-Nya yang immutabilis . idak beruba. dan omnisapien . aha tah. Calvin mengenai hal ini, menekankan bahwa Allah memang menyampaikan peringatan melalui Yesaya, tetapi maksud-Nya adalah agar manusia bertobat. Jadi, ketika Hizkia berdoa dan Allah mengampuni, itu bukan berarti Allah mengubah rencana-Nya, tetapi doa Hizkia memang sudah termasuk dalam rencana Allah sejak awal. 45 Dengan cara pandang ini. Allah tetap sepenuhnya berdaulat dan tidak kehilangan kendali dan konsisten. Ia tetap setia pada rencana-Nya, tapi rencana itu memang melibatkan respons manusia seperti doa, pertobatan, dan iman sebagai bagian dari cara Allah bekerja di dunia. Jadi sampai pada titik ini, hal yang bisa ditemukan ialah yang berubah bukan kehendak Allah sama seperti yang dipaparkan oleh Cassian dan Cyril, melainkan situasi manusia yang berubah, dan Allah bertindak sesuai dengan perubahan itu, tanpa keluar dari kehendak-Nya yang kekal. Dengan demikian, doa Hizkia bukanlah intervensi tak terduga yang membatalkan kehendak Allah, melainkan instrumen yang telah ditentukan Allah sebagai jalan bagi realisasi rencana kasih-Nya, sehingga peristiwa tersebut tidak membuktikan bahwa Allah melanggar firman-Nya, melainkan menunjukkan bahwa firman yang disampaikan Yesaya bersifat kondisional, peringatan yang membuka ruang bagi pertobatan . irip dengan Yunus 3:4-. dan sebagaimana yang dijelaskan oleh Calvin sebelumnya. Dalam teologi Reformed, hal ini dikenal dengan konsep Aisecondary causesAn dalam providensi, di mana kehendak Allah bekerja melalui peristiwa dan keputusan manusia. 46 Lebih lanjut, teolog kontemporer seperti Bruce Ware memperkenalkan konsep "relational mutability" . emutabilitasan relasiona. , yang menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada Allah. Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1492. Calvin. Institutes of the Christian Religion, 954. Berkhof. Systematic Theology, 62. Berkhof. Systematic Theology, 113. Calvin. Institutes of The Christian Religion, 227. Calvin. Institutes of The Christian Religion, 218. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. bukan dalam sifat esensial-Nya, firman-Nya, atau janji-Nya, tetapi dalam sikap dan disposisi-Nya terhadap makhluk moral-Nya sebagai respons terhadap perubahan yang terjadi pada mereka. 47 Juga di dalam konteks doa. Frame melihatnya sebagai sarana yang ditetapkan Allah, di mana Allah melibatkan partisipasi kita dalam pekerjaan-Nya, yang meskipun Allah tidak membutuhkan doa kita untuk mencapai tujuan-Nya. Dia telah merancang dunia sedemikian rupa, sehingga beberapa hal yang ingin Dia capai hanya dapat dicapai melalui doa. 48 Doa bukanlah memberitahu Allah sesuatu yang tidak Dia ketahui, tetapi merupakan alat partisipasi yang telah ditetapkan oleh kedaulatan-Nya. Hal ini sejalan dengan pendekatan naratif Alkitab yang memperlihatkan Allah sebagai Pribadi yang terlibat, bukan pasif, dalam sejarah manusia. Dalam konteks ini, pengakuan dosa dan doa memang sejauh ini terlihat menjadi sarana efektif dalam relasi antara manusia dan Allah, tetapi bukan alat mekanis untuk mengubah kehendak Allah yang Melainkan, respons Allah terhadap doa merupakan bagian dari kehendak-Nya yang sejak semula telah mencakup ruang untuk partisipasi manusia. Sehingga apa yang ditemukan penulis ialah doa dalam hal ini dipandang bukan sebagai upaya manusia untuk mengubah pikiran Allah karena ketidakpastian-Nya, tetapi sebagai cara yang ditetapkan Allah agar manusia dapat berpartisipasi dalam kerajaan-Nya, sebuah interaksi yang dimungkinkan oleh kehadiran-Nya yang personal dan kedaulatan-Nya yang mencakup segala sesuatu, termasuk doa manusia itu sendiri. Dengan demikian, menyatakan bahwa Allah "melanggar" firman-Nya demi belas kasih adalah kesimpulan yang tidak selaras dengan prinsip teologi sistematik dan biblika. Narasi Hizkia lebih tepat dipahami sebagai contoh dari bagaimana providensi ilahi mencakup dan mengatur respons manusia dalam kerangka rencana ilahi yang lebih besar, yaitu di mana doa, pertobatan, dan belas kasih Allah berjalan secara koheren dalam satu kehendak yang tidak berubah tetapi dinamis dalam pelaksanaannya di dalam waktu. Dalam kasus Nubuat nabi Hulda terhadap Yosia. John Calvin dalam komentarnya atas teks ini, menegaskan bahwa ungkapan Aidikumpulkan dengan damaiAn harus dipahami secara spiritual dan eskatologis yakni. Yosia akan mati dalam damai dengan Tuhan, bukan berarti ia akan mengalami kematian fisik yang tenang. Kedamaian itu merujuk pada relasi Yosia dengan Allah, bukan pada kondisi eksternal kematiannya. Dalam konteks semitik, frasa seperti "dikumpulkan kepada nenek moyangmu" . Raj. seringkali merupakan idiom untuk kematian biasa, bukan pernyataan spesifik tentang proses kematian (Kej. 25:8. rasa Ibrani " . Raj. secara literal dapat diterjemahkan sebagai "engkau akan dikumpulkan ke dalam kuburmu dalam damai. Kata kerja pasif . oneesafA) berasal dari akar ('asa. , yang berarti AimengumpulkanAn atau Aidihimpun,An dan dalam konteks Alkitab sering menjadi idiom untuk kematian yang alami dan terhormat . Kej. 25:8, 35:. l-qibrotekh. secara harfiah berarti Aike dalam kuburmu,An merujuk pada tempat penguburan leluhur, sebuah ekspresi yang menandakan kematian dalam komunitas dan kelanjutan identitas dalam garis Ware. GodAos Greater Glory: The Exalted God of Scripture and the Christian Faith, 162. John M. Frame. The Doctrine of God (Phillipsburg. New Jersey: P & R Publishing Company, 2. , 633-634. Frame. The Doctrine of God, 362. Ware. GodAos Greater Glory: The Exalted God of Scripture and the Christian Faith, 216. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Terakhir, istilah . eAls. berasal dari kata dasar . , yang tidak hanya berarti AidamaiAn dalam arti bebas dari kekerasan, melainkan juga mencakup makna luas: keutuhan, kesejahteraan, harmoni relasional, dan berdamai dengan Allah. Secara linguistik, istilah . dalam konteks ini tidak sekadar menunjuk pada ketiadaan konflik atau kematian yang tenang, melainkan mencakup spektrum makna yang luas. Berdasarkan entri dalam Holladay Lexicon (HLOT, p. 371, entri 8. 50, shalom meliputi konsep keutuhan . , kelengkapan . , keberhasilan . , kesehatan . ell-bein. , hubungan damai . eaceful relationship. , dan bahkan keselamatan . Oleh karena itu, penggunaan shalom dalam janji Allah kepada Raja Yosia seharusnya dipahami secara menyeluruh sebagai ungkapan kondisi rohani dan eksistensial yang lengkap, damai, dan diberkati, meskipun secara historis Yosia mati dalam pertempuran . Raj. Makna ini memperlihatkan lapisan idiomatik dalam frasa tersebut, di mana Aidikumpulkan dalam damaiAn . e'esafta be-shalo. dapat dimengerti sebagai kematian yang menunjukkan perkenanan Allah, kematian yang bukan sebagai bentuk hukuman, melainkan bagian dari penyertaan dan anugerah ilahi yang menghindarkan Yosia dari penderitaan kolektif Yehuda . Yes. 57:1-. Frasa ini, dalam terang leksikal Holladay, berakar pada pemahaman Ibrani bahwa shalom bukan hanya keadaan statis, tetapi juga ekspresi dari relasi yang benar antara manusia dan Allah, serta kondisi eksistensial yang diperoleh melalui kesetiaan pada perjanjian. Maka, walaupun secara historis Yosia tidak mati "tanpa kekerasan," secara teologis ia mati dalam damai, dalam arti shalom sebagai totalitas kesejahteraan yang diberikan oleh Tuhan . Hak. 6:24. Yes. Dalam kerangka ini, kematian Yosia tidak dibatalkan dari kedamaian janji Tuhan karena ia tetap meninggal dalam kondisi rohani yang benar, tidak menyaksikan kehancuran Yerusalem, dan tetap dikuburkan dengan kehormatan . 2 Taw. Dengan demikian, frasa ini mengandung makna yang kompleks dan tidak boleh dipahami hanya secara permukaan, karena jika demikian maka pembawaan interpretasi akan mengarah kepada sosok Allah yang terbatas sekali lagi. Frasa sebelumnya nyatanya mengekspresikan suatu bentuk providensi personal Allah yang membedakan nasib individu yang saleh dari hukuman kolektif, sekaligus menegaskan bahwa damai yang sejati tidak bergantung pada kondisi eksternal kematian, melainkan pada status relasional seseorang di hadapan Allah. Dalam narasi ini, shalom menjadi indikator anugerah ilahi yang tetap berlaku bahkan di tengah sejarah yang penuh kehancuran, menjadikan frasa tersebut sebagai kunci hermeneutis untuk memahami ketegangan antara nubuat, kehendak Allah, dan realitas historis. Lebih dalam lagi, isu ini mencerminkan kompleksitas antara nubuat bersyarat dan providensi ilahi. Sebagaimana dijelaskan oleh Walter Brueggemann, banyak nubuat dalam Perjanjian Lama bersifat kondisional dan terbuka terhadap perubahan, tergantung pada respons manusia terhadap firman Tuhan. 51 Dengan demikian, nubuat Hulda dalam hal ini, bisa dipahami sebagai bagian dari komunikasi ilahi yang bersifat pastoral yang meneguhkan dan memberi harapan dalam konteks reformasi religius yang sedang dijalankan Yosia. Akan tetapi, keputusan Yosia untuk menghadapi Nekho secara militer . ang tidak diperintahkan Tuhan, dan bahkan bertentangan dengan peringatan dalam BibleWorks10 Bruggemann. The Prophetic Imagination, 57. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. 2 Tawarikh 35:. menunjukkan dimensi agensi manusia yang turut berperan dalam realisasi historis nubuat tersebut. Kehendak manusia yang kembali lagi menjadi patokan akan pilihan yang yang dia tempuh. Dalam kerangka teologi providensial, peristiwa ini memperlihatkan bahwa Allah dalam pengetahuan-Nya yang menyeluruh mengizinkan manusia mengambil keputusan bebas, bahkan jika keputusan itu membawa akibat tragis. Pandangan ini sejalan dengan konsep providensi partisipatif sebagaimana dirumuskan oleh Kevin Vanhoozer, di mana Allah bekerja secara dialogis dalam sejarah, tidak secara deterministik tetapi sebagai Allah yang mengundang respons aktif manusia. 52 Maka, kematian tragis Yosia bukan kegagalan nubuat atau kelemahan providensi ilahi, melainkan peristiwa yang mencerminkan kompleksitas relasi antara kehendak Allah dan kebebasan manusia dalam sejarah Dengan demikian, paradoks antara nubuat Hulda dan kematian Yosia justru menyingkapkan dimensi terdalam dari providensi ilahi yang melampaui skema sebabakibat linier. Allah tetap berdaulat dan setia pada janji-Nya, tetapi dalam pelaksanaannya. Allah bekerja melalui dinamika respons manusia dan pilihan-pilihan historis yang konkret dimensi yang memperkaya, bukan merusak, pemahaman kita akan keadilan dan kasih Allah yang aktif dalam sejarah. KESIMPULAN Analisis narasi monarki dalam kitab 2 Raja-Raja menunjukkan bahwa ketegangan antara kehendak bebas manusia dan kedaulatan ilahi bukanlah kontradiksi, melainkan cerminan kompleksitas providensia Allah yang autentik. Paradoks seperti perubahan keputusan Allah terhadap doa Hiskia dan nubuat Hulda terkait Yosia justru memperlihatkan dimensi relasional dari Allah yang kekal namun berkarya dalam waktu dan sejarah. Dalam kerangka teologi Reformed, konsep secondary causes Calvin dan relational mutability Ware memberikan landasan koheren untuk memahami bagaimana Allah tetap berdaulat sambil mengundang partisipasi manusia melalui doa, keputusan, dan tindakan. Monarki Israel yang penuh kegagalan tidak membatalkan kehendak Allah, melainkan menjadi tipologi dari Kerajaan Kristus yang sempurna, di mana legitimasi ditentukan oleh ketaatan terhadap Allah, bukan oleh kekuasaan duniawi. Kritik terhadap Open Theism menegaskan bahwa membatasi Allah oleh ketidakpastian masa depan mereduksi makna providensia menjadi reaktif. Sebaliknya, teologi Reformed mempertahankan bahwa pengetahuan Allah berasal dari ketetapan kekalNya, sehingga sejarah, termasuk kegagalan monarki, merupakan bagian dari rencana-Nya yang menyeluruh. Oleh karena itu, narasi monarki dalam 2 Raja-Raja menjadi locus theologicus yang memperlihatkan bagaimana Allah bekerja secara transenden dan imanen melalui sejarah yang konkret dan rapuh. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan eksplorasi yang lebih mendalam terhadap konsep providensia dalam kaitannya dengan genre sastra naratif Perjanjian Lama lainnya, serta studi perbandingan antara model teologi Reformed dan model teologi naratif kontemporer dalam menafsirkan dinamika kehendak ilahi dan respons manusia. Kevin J. Vanhoozer. Remythologizing Theology: Divine Action. Passion, and Authorship (New York: Cambridge University Press, 2. , 308. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. DAFTAR PUSTAKA